Sisi-Sisi Kemu’jizatan Al Quran – Tausiyah Ramadhan #15

SISI-SISI KEMU’JIZATAN AL QUR'AN

Sebagian ulama umat Islam menganggap bahwa sisi kemu’jizatan al-Quran adalah informasi (ikhbar) al-Quran tentang kisah-kisah orang terdahulu, sebagian dari kejadian-kejadian yang akan terjadi pada masa mendatang, dan kandungan al-Quran mengenai sebagian hukum alam yang tidak diketahui oleh manusia di saat turunnya al-Quran; atau yang mereka sebut dengan mu’jizat ilmiah.

Sebenarnya hal-hal yang telah disebutkan di atas tidak dapat dikategorikan sebagai mu’jizat karena dua alasan berikut:

1. Mu’jizat adalah pembuktian kelemahan manusia (itsbaatu ‘ajz al-basyar) dengan hadirnya sesuatu yang dapat melemahkan (al mu’jiz), hingga hari kiamat. Selama manusia mampu menceritakan tentang apa yang terjadi pada masa lampau ataupun memperkirakan tentang kejadian yang akan datang walaupun disertai kebohongan, serta selama ia mampu menyingkap sebagian hukum-hukum alam, niscaya mereka juga mampu menghadirkan semua perkara-perkara tersebut dan mengarang jutaan kitab tentang itu. Oleh sebab itu, keberadaan perkara-perkara seperti itu dalam al-Qur-aan al-Kariim tidaklah menunjukkan kemu’jizatan al-Quran.

2. Ayat-ayat yang mengandung cerita-cerita orang-orang terdahulu dan informasi (khabar) tentang kejadian yang akan datang, serta sebagian aturan-aturan yang terkait dengan ilmu pengetahuan alam hanyalah sebagian saja dari al-Quran. Berdasarkan akal mereka, perkara-perkara itu dianggap sebagai mu’jizat. Sedangkan, ayat-ayat dan surat-surat yang lain tidak mengandung kemu’jizatan ini. Padahal keseluruhan isi yang terdapat dalam al-Quran adalah mu’jizat. Allah telah menantang orang-orang Arab untuk mendatangkan surat yang semisal dengan apa yang ada dalam al-Quran, semisal surat al ikhlaash, al-Falaq dan al-Naas. Sedangkan ketiga surat ini sama sekali tidak mengandung persoalan-persoalan yang mereka anggap sebagai mu’jizat.

Perkara-perkara yang mereka anggap sebagai mu’jizat tersebut hanya dalil atas ilmu Allah yang meliputi segala sesuatu. Sehingga bukan termasuk ke dalam salah satu di antara sisi kemu’jizatan al-Quran.

Adapun kemu’jizatan al-Quran yang sebenarnya tercermin di dalam gaya bahasanya yang mengandung makna-makna. Kemu’jizatan al-Quran terletak pada bayan (penjelasannya) dan nazhamnya (harmonisasi)- nya. Bangsa Arab fush-haa (yang masih fasih berbahasa Arab) telah menyadari kemu’jizatan ini. Bahkan salah seorang musuh da’wah, yakni al-Walid bin al-Mughirah, telah mengakui kemu’jizatan ini dengan mengatakan, “Sesungguhnya saya telah mengenal seluruh sya’ir, Rajaznya, lagunya, sya’irnya, sempitnya, dan keluasannya. Sungguh, al-Quran bukanlah sya’ir”. Kemudian ia melanjutkan, “Sesungguhnya saya telah melihat tukang sihir dan berbagai bentuk sihir mereka. Tapi al-Quran bukanlah seperti mantera tukang sihir, dan juga bukan sihir mereka …, demi Allah, sesungguhnya perkataan Muhammad sangatlah manis. Pokoknya, penuh dengan kesejukan, sedangkan cabangnya penuh dengan bebuahan”.

Al-Khaththaabi pernah berkomentar tentang al-Quran, “Al-Quran menjadi mu’jizat karena, al-Quran hadir dengan lafazhnya yang paling fasih, dalam bentuk susunan ‘sya’ir’ yang terindah; Sehingga melahirkan makna-makna fasih berupa pengesaan terhadap Allah, pensucian sifat-sifat-Nya, seruan untuk mentaati-Nya, penjelasan tentang tata cara penghambaan kepada-Nya dalam hal-hal kehalalan dan keharaman, larangan dan kebolehan, nasehat dan petunjuk, memerintahkan kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang mungkar, serta petunjuk menuju akhlaq yang terpuji. Dan tidak ada satupun yang bisa menyamainya. Semuanya ditempatkan pada proporsinya, sehingga tidak ada yang lebih baik dari al-Quran. Di dalamnya juga termaktub cerita masa lampau serta hukuman pembalasan dari Allah terhadap orang-orang yang durhaka dan membangkang. Di dalamnya terkandung hujjah dan kritik (muhtajj), dalil-dalil dan madlul ‘alaihi (yang ditunjukkan oleh dalil).” 

Telah diketahui, bahwa kehadiran al-Quran dalam bentuk seperti itu –dengan gaya bahasa semacam itu– , terhimpunnya hal-hal yang awalnya tercerai berai hingga akhirnya tersusun sistematis dan harmonis, merupakan perkara yang bisa mematahkan (mu’jiz) ‘kekuatan’ manusia. [Abu Salman Al Khaththabi, dalam kitabnya Bayaanu I’jaaz il Qur-aan].

Sisi-sisi kemu’jizatan al-Quran hanya terbatas pada gaya bahasa (usluub) al-Quran, yakni unsur-unsur penyusun gaya bahasanya:

1. Pada lafazh (al al-faazh) dan susunannya (at taraakiib). Al-Quran hadir dengan gaya bahasa tersendiri. Tidak seorang Arab yang fasih pun, mampu membuat yang semisal dengannya. Sebagian diantara telah berusaha mencoba untuk mendatangkan yang semisal dengannya, namun mereka tidak sanggup.

2. Pada hal irama (nagham). Susunan huruf-huruf dan kata-kata pada ayat-ayat al-Quran datang dengan irama khas yang tidak terdapat pada ucapan manusia, baik di dalam sya’ir maupun prosa. Misalnya, ketika Anda mendengar firman Allah swt: 

 

falaa uqsimu bil khunnas, al jawaaril kunnas, wal layli idzaa ‘as‘as, wash shubhi idzaa tanaffas, innahuu laqawlu rasuulin kariim/

فَلَآ اُقْسِمُ بِالْخُنَّسِۙ – ١٥

الْجَوَارِ الْكُنَّسِۙ – ١٦

وَالَّيْلِ اِذَا عَسْعَسَۙ – ١٧

وَالصُّبْحِ اِذَا تَنَفَّسَۙ – ١٨

اِنَّهٗ لَقَوْلُ رَسُوْلٍ كَرِيْمٍۙ – ١٩

Maka Aku bersumpah dengan bintang-bintang, yang beredar dan yang terlindung, demi malam apabila telah pergi, demi fajar apabila telah terang, sesungguhnya al qur-aan itu adalah firman Allah yang dibawa Rasul yang mulia (QS. At Takwiir[81]: 15-19), 

 

maka Anda akan rasakan desauan huruf “sin” yang berulang-ulang dan kelembutan iramanya yang terasa serasi (harmonis) dengan makna yang dikandungnya. Di situ dibicarakan ketenangan malam dan terbitnya fajar. Misalnya lagi, ketika Anda mendengar firman Allah Ta’aala yang lain:

 

“idzaa ulquu fiihaa sami’uu lahaa syahiiqan wa hiya tafuur, takaadu tamayyazu min al ghayzhi, kullamaa ulqiya fiihaa fawjun sa-alahum khazanatuhaa alam ya-tikum nadziir/

اِذَآ اُلْقُوْا فِيْهَا سَمِعُوْا لَهَا شَهِيْقًا وَّهِيَ تَفُوْرُۙ – ٧

تَكَادُ تَمَيَّزُ مِنَ الْغَيْظِۗ كُلَّمَآ اُلْقِيَ فِيْهَا فَوْجٌ سَاَلَهُمْ خَزَنَتُهَآ اَلَمْ يَأْتِكُمْ نَذِيْرٌۙ – ٨

Apabila mereka dilemparkan ke dalamnya, mereka mendengar padanya suara yang mengerikan sedang neraka itu menggelegak, hampir (neraka) itu terpecah karena marah. Setiap kali suatu rombongan dilemparkan ke dalamnya, penjaga neraka bertanya kepada mereka, “Apakah belum pernah datang kepadamu seorang yang memberi peringatan? (QS. Al Mulk[67]: 7-8). 

 

maka akan Anda rasakan kekuatan dari kata-kata “ulquu fiihaa” (mereka dilemparkan ke dalamnya), “syahiiqan” (suara mengerikan), “tafuur” (menggelagak), “tamayyazu” (terpecah), “al-ghayzhu” (kemarahan), yang menggambarkan panorama menakutkan mengenai neraka jahannam sebagai tempat dijatuhkannya siksaan Allah kepada kita.

 

3. Lafadz-lafadz dan susunan-susunan yang terkandung di dalam Al-Quran memuat keberagaman dan kemenyeluruhan makna. Al-Quran telah memberi banyak makna meskipun lafadz-lafadznya ringkas. Sebagai contoh adalah firman Allah yang berbunyi:

وَلَكُمْ فِى الْقِصَاصِ حَيٰوةٌ يّٰٓاُولِى الْاَلْبَابِ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُوْنَ – ١٧٩

Dan bagi kalian di dalam hal qishaash itu terdapat kehidupan… (TQS. Al Baqarah[2]: 179). 

 

Walaupun lafadznya ringkas (sedikit), penggalan ayat ini memiliki banyak makna. Sebab, makna ayat tersebut adalah; apabila manusia mengetahui siapa saja yang membunuh, ia akan dibunuh balik, maka hal itu secara tidak langsung merupakan perintah, agar manusia tidak melakukan pembunuhan (irtifaa’ ul qatl) sebab, ia akan dibalas dengan pembunuhan, yaitu qishaash. Dengan demikian, irtifaa’ ul qatl (tidak melakukan pembunuhan) ini merupakan kehidupan bagi manusia yang lain. Allah swt berfirman:

وَاَوْحَيْنَآ اِلٰٓى اُمِّ مُوْسٰٓى اَنْ اَرْضِعِيْهِۚ فَاِذَا خِفْتِ عَلَيْهِ فَاَلْقِيْهِ فِى الْيَمِّ وَلَا تَخَافِيْ وَلَا تَحْزَنِيْ ۚاِنَّا رَاۤدُّوْهُ اِلَيْكِ وَجَاعِلُوْهُ مِنَ الْمُرْسَلِيْنَ – ٧

Dan telah Kami ilhamkan kepada ibu Musa, “Hendaklah engkau menyusukannya, maka apabila engkau khawatir terhadapnya, maka hanyutkanlah ke sungai dan janganlah khawatir dan bersedih hati. Sesungguhnya Kami akan mengembalikannya kepadamu dan menjadikannya salah seorang rasul (TQS. Al Qashash[28]: 7). 

 

Ibnu Arabi berkata, “Ayat ini merupakan pengungkapan kefashihan yang paling tinggi di dalam al qur-aan. Karena di dalamnya terdapat dua perintah dan larangan, serta dua informasi dan kabar gembira. Oleh karena itu, terkumpulnya makna yang sangat banyak dan beragam ini dalam lafadz-lafadz dan susunan-susunan kalimat, dalam sebuah susunan yang sangat jelas, merupakan salah satu penampakan dari kemu’jizatan al-Quran al-Karim”. (As Suyuthiy-Al Itqaan JuzII/55)