Seruan Menuju Islam – Tausiyah Ramadhan #24

SERUAN MENUJU ISLAM

Menyerukan Islam ke tengah-tengah masyarakat merupakan salah satu tugas utama yang dibebankan ke pundak umat Islam sebagai satu kesatuan. Kaum Muslim diperintahkan untuk menyebarluaskan Islam dan meninggikan Islam di antara agama-agama dan ideologi lainnya. Aktivitas dakwah ini bukanlah pekerjaan misionaris yang bersifat individual; tujuan dakwah –yakni kemuliaan Islam– juga tidak akan dapat diraih bila dilakukan hanya melalui upaya-upaya individual, tanpa melibatkan peran serta negara. Sunnah Rasulullah saw ketika berada di Madinah memperlihatkan suatu gambaran yang menyeluruh tentang metode dakwah untuk meraih tujuan tersebut.

Allah Swt berfirman dalam al-Qur’an:

 

Dialah yang telah mengutus RasulNya (yang membawa) petunjuk dan agama yang benar untuk dimenangkanNya atas segala agama, walaupun orang-orang musyrikin tidak menyukai. (TQS. at-Taubah [9]: 33)

 

Dalam salah satu haditsnya, Rasulullah saw bersabda:

 

Allah akan menghimpun seluruh dunia hingga aku bisa melihat bagian Timurnya dan bagian Baratnya. Dan Allah akan menjadikan kekuasaan umatku atas seluruh dunia. (HR. Muslim)

 

Din al-Islam diturunkan ke dunia untuk mengungguli semua pandangan hidup yang ada serta untuk menguasai seluruh dunia. Rasulullah saw telah menyelesaikan perintah Allah Swt untuk menyebarluaskan Islam dan menyampaikannya ke seluruh penjuru dunia dengan metode dan cara yang paling baik menurut ukuran manusia. Teladan yang diberikan oleh beliau saw teramat jelas. Dalam tiga belas tahun pertama masa ke-Nabiannya, beliau saw memperoleh keberhasilan dalam berdakwah secara individual –dari satu individu kepada individu lainnya– dan kemudian secara berjama’ah –dari satu kelompok kepada masyarakat yang lebih luas. Namun keberhasilan utama dakwah Islam kepada umat manusia terjadi ketika beliau saw menyerukan Islam dari sebuah negara kepada negara-negara lainnya.

Tahapan dakwah Rasulullah saw pada periode Madinah dicirikan dengan adanya keinginan Daulah Islamiyah untuk meraih kekuasaan yang lebih besar. Kita akan melihat, bagaimana Rasulullah saw berupaya mencapai tujuan ini melalui serangkaian tindakan yang konsisten. Rangkaian aktivitas tersebut beliau saw lakukan dalam kapasitas beliau sebagai pemimpin Daulah Islamiyah. Beberapa aktivitas yang menjadi kunci keberhasilan dakwah Rasulullah saw dalam periode ini adalah pengiriman pasukan bersenjata, perundingan damai, dan pengiriman misi-misi diplomatik ke negara-negara lain.

Ketika Rasulullah saw berhijrah ke Madinah, setelah tiga belas tahun berdakwah di Makkah, beliau saw mengajak serta sekitar seratus orang Muslim. Tetapi ketika beliau saw kembali untuk membebaskan kota Makkah, delapan tahun kemudian, Rasulullah saw mengajak serta sepuluh ribu orang Muslim; dan kemudian seluruh penduduk Makkah pun masuk Islam. Demikianlah contoh penyebarluasan Islam melalui dakwah, diplomasi, dan jihad. Ketiga metode inilah yang menjadi landasan bagi kita, kaum Muslimin, untuk melanjutkan tugas menyebarluaskan rahmat Islam kepada seluruh umat manusia, serta untuk mengakhiri segala bentuk kezhaliman di muka bumi.

Allah Swt berfirman:

 

Dan tiadalah Kami mengutus engkau, melainkan sebagai rahmat bagi semesta alam. (TQS. al-Anbiya [21]: 107)

 

Dan perangilah mereka itu, sehingga tidak ada fitnah lagi dan (sehingga) agama itu semata-mata untuk Allah. Jika mereka berhenti (dari memusuhi agama kamu), maka tidak ada permusuhan (lagi), kecuali terhadap orang-orang yang zalim. (TQS. al-Baqarah [2]: 193)

 

Dan perangilah mereka, supaya jangan ada fitnah dan supaya agama itu semata-mata untuk Allah. Jika mereka berhenti (dari kekafiran), maka sesungguhnya Allah Maha Melihat apa yang mereka kerjakan. (TQS. al-Anfal [8]: 39)

 

Ayat-ayat al-Qur’an di atas, dan masih banyak ayat-ayat lain yang senada, ditujukan tidak hanya kepada Rasulullah dan para sahabat, tetapi kepada seluruh kaum Muslim hingga zaman sekarang, bahkan hingga akhir zaman. Dengan ayat-ayat tersebut, Allah Swt mewajibkan seluruh kaum Muslim untuk berjuang menyampaikan risalah ini. Hanya dengan penerapan sistem Islam di tengah-tengah umat manusia, mereka akan dapat melihat dengan mata kepala mereka sendiri rahmat dan keadilan yang dibawa Islam; dan dengan demikian umat manusia diarahkan untuk menyaksikan kebenaran.

Meski tidak seorang pun boleh dipaksa untuk masuk Islam, tetapi penggunaan kekuatan fisik, peperangan, maupun konflik bersenjata memang diperintahkan Allah Swt untuk menegakkan hukum-hukum Islam, sampai umat manusia mau menerima Islam secara sukarela atau bersedia membayar jizyah –yaitu pungutan dalam jumlah tertentu bagi kaum non-Muslim yang berkemampuan. Dengan demikian mereka menjadi warganegara non-Muslim dalam Daulah Islamiyah. Berikut ini adalah sejumlah dalil yang menjadi landasan pemikiran tersebut:

 

Sesungguhnya aku diperintahkan (Allah) untuk memerangi manusia sampai mereka mengucapkan Lâ ilâha illa Allah wa anna Muhammadur Rasulullah, melaksanakan shalat, dan membayar zakat. Apabila mereka telah melakukannya (masuk Islam atau tunduk kepada aturan Islam) maka terpelihara dariku darah-darah mereka, harta-harta mereka kecuali dengan jalan yang hak. Dan hisabnya terserah kepada Allah. (HR. Bukhari)

 

Tidak ada paksaan untuk (masuk) agama (Islam). (TQS. al-Baqarah [2]: 256)

 

Perangilah orang-orang yang tidak beriman kepada Allah dan tidak (pula beriman) kepada hari kemudian, dan mereka tidak mengharamkan apa yang diharamkan oleh Allah dan Rasul-Nya dan tidak beragama dengan agama yang benar (agama Allah), (yaitu agama orang-orang) yang diberikan al-Kitab kepada mereka, sampai mereka membayar jizyah dengan patuh sedang mereka dalam keadaan tunduk. (TQS. at-Taubah [9]: 29)