Ridha Terhadap Qodho – Tausiyah Ramadhan #4

TAUSIYAH RAMADHAN #4

RIDHA TERHADAP QODHO

Setiap ada musibah yang menimpa seorang muslim maka baginya akan diberikan pahala dari Allah SWT. Yang dimaksud dengan pahala di sini adalah pahala atas keridhannya terhadap qadha dari Allah dan kesabarannya; Juga bersyukur dan tidak mengadukan musibahnya kecuali kepada Allah. Hukum menerima qodho dengan ridha adalah wajib bagi setiap muslim. 

Dalil tentang kewajiban ridha menerima qadha adalah apa yang diriwayatkan oleh Ibnu Abi Ashim dan Bukhari dalam Al-Adab Al-Mufrad, dan Al-Hakim, ia menshahihkan hadits ini. Adz-Dzahabi juga menyetujuinya, dengan lafadz hadits:

«وَأَسْأَلُكَ الرِّضَاءَ بَعْدَ الْقَضَاءِ»

Dan aku meminta kepada-Mu, ya Allah, bisa ridha setelah menerima qadha.

 

Syara’ telah memuji seorang hamba yang berserah diri terhadap qadha, sebagaimana dijelaskan dalah hadits dari Abu Hurairah. Sesungguhnya Rasulullah saw. bersabda kepadaku:

»أَلاَ أُعَلِّمُكَ أَوْ أَدُلُّكَ عَلَى كَلِمَةٍ مِنْ تَحْتِ الْعَرْشِ مِنْ كَنْزِ الْجَنَّةِ: 

لاَ حَوْلَ لاَ قُوَّةَ إِلاَّ بِاللهِ، يَقُولُ اللهُ عَزَّ وَجَلَّ أَسْلَمَ عَبْدِي وَاسْتَسْلَمَ«

Aku akan memberitahumu satu kalimat yang datang dari bawah ‘Arasy dan dari gudangnya surga, yaitu, “Tiada daya dan tidak ada kekuatan kecuali dengan (kekuasaan) Allah“. Allah berfirman, “Sungguh hamba-Ku telah tunduk dan berserah diri kepada-Ku.” (HR. Al-Hakim. Ia berkata, hadits ini shahih isnadnya, dan tidak tercatat adanya kecacatan, meski tidak ditakhrij oleh Bukhari dan Muslim. Ibnu Hajar berkata, hadits ini telah ditakhrij oleh Al-Hakim dengan sanad yang kuat)

 

Marah terhadap qadha Allah hukumnya haram. Al-Qirafi menuturkan dalam Al-Dakhirah adanya ijma (kesepakatan) atas keharaman marah terhadap qadha dari Allah. Yang dimaksud dengan ijma ini adalah ijma para Mujtahid. Lafadz ijmanya adalah “Marah terhadap qadha Allah hukumnya haram berdasarkan ijma.” Al-Qirafi telah membedakan antara qadha dan Al-Maqdhi. Beliau berkata; Jika ada seorang yang diuji dengan suatu penyakit, kemudian ia merasa sakit sebagai resiko dari tabiat suatu penyakit, maka hal seperti ini tidak dipandang sebagai sikap tidak ridha terhadap qadha, melainkan disebut tidak ridha terhadap Al-Maqdhi. Jika ia berkata, “Apa (gerangan) yang telah aku lakukan hingga aku ditimpa dengan musibah ini, dan apa dosaku. Padahal aku tidak layak mendapatkannya.” Maka yang seperti ini disebut tidak ridha terhadap qadha bukan terhadap Al-Maqdhi. 

Keharaman marah terhadap qadha ini ditunjukkan oleh hadits dari Mahmud bin Lubaid (sebagaimana telah disebutkan) bahwa Rasulullah bersabda:

»إِنَّ اللهَ إِذَا أَحَبَّ قَوْمًا ابْتَلاَهُمْ، فَمَنْ رَضِيَ، فَلَهُ الرِّضَى، وَمَنْ سَخِطَ فَلَهُ السُّخْطُ «

Sesungguhnya jika Allah akan mencintai suatu kaum, maka Dia akan memberikan ujian kepada mereka. Barangsiapa yang bersabar maka kesabaran itu bermanfaat baginya. Dan barangsiapa marah (tidak sabar) maka kemarahan itu akan kembali kepadanya. (HR. Ahmad dan AT-Tirmidzi. Ibnu Muflih berkata, Isnad hadits ini baik)

 

Ridha dan marah termasuk perbuatan manusia. Karena itu manusia akan diberi pahala atas perbuatannya dan akan disiksa atas kemarahannya. Sedangkan qadha sendiri tidak termasuk perbuatan manusia, sehingga manusia tidak akan diminta pertanggungjawaban atas terjadinya qadha, sebab bukan termasuk perbuatannya. Tetapi ia tetap akan ditanya tentang ridha dan marahnya terhadap qadha, karena hal itu termasuk perbuatannya. Allah berfirman:

وَأَنْ لَيْسَ لِلإِنْسَانِ إِلاَّ مَا سَعَى

Dan bahwasanya seorang manusia tiada memperoleh selain apa yang telah diusahakannya. (TQS. An-Najm [53]: 39)

 

Qadha dari Allah ini akan menjadi penebus atas dosa-dosa seseorang, dan sebagai sarana dihapuskannya kesalahan. Dalilnya sangat banyak, di antaranya hadits dari Abdullah, sesungguhnya Rasulullah saw. bersabda:

»…مَا مِنْ مُسْلِمٍ يُصِيبُهُ أَذَى شَوْكَةٍ فَمَا فَوْقَهَا إِلاَّ كَفَّرَ اللهُ بِهَا سَيِّئَاتِهِ كَمَا تَحُطُّ الشَّجَرَةُ وَرَقَهَا «

Seorang muslim yang diuji dengan rasa sakit karena duri atau yang lebih dari itu, maka Allah pasti akan menebus kesalahan-kesalahannya kerana musibah itu, sebagaimana suatu pohon menggugurkan daunnya. (Mutafaq ‘alaih). 

 

Hadits yang lain adalah dari ‘Aisyah, ia berkata; Rasulullah saw. bersabda:

«لاَ تُصِيبُ الْمُؤْمِنَ شَوْكَةٌ فَمَا فَوْقَهَا إِلاَّ قَصَّ اللهُ بِهَا مِنْ خَطِيئَتِهِ»

Satu duri atau yang lebih dari itu, yang menimpa seorang mukmin, maka pasti dengan duri itu Allah akan mengurangi kesalahannya. Dalam satu riwayat dikatakan “naqushshu” artinya kami akan mengurangi. (Mutafaq ‘alaih). 

Hadits dari Abu Hurairah dan Abu Sa’id, dari Nabi saw., bersabda:

»مَا يُصِيْبُ الْمُؤْمِنَ مِنْ وَصَبٍ وَلاَ نَصَبٍ وَلاَ هَمٍّ وَلاَ حَزَنٍ وَلاَ أَذًى وَلاَ غَمٍّ حَتَّى الشَّوْكَةٍ يُشَاكِهَا، إِلاَّ كَفَّرَ اللهُ مِنْ خَطَايَاهُ «

Setiap musibah yang menimpa seorang mukmin, berupa sakit yang berterusan, sakit yang biasa, kebingungan, kesedihan, kegundahan hingga duri yang menusuknya, maka pasti musibah itu akan menjadi penghapus bagi kesalahan-kesalahannya. (Mutafaq ‘alaih). 

Dalam bab ini terdapat juga hadits senada dari Saad, Muawiyah, Ibnu Abbas, Jabir, Ummu Al-Ala, Abu bakar, Abdurrahman bin Azhar, Al-Hasan, Anas, Syadad, dan Abu Ubaidah ra.; dengan sanad-sanad ada yang baik dan ada yang shahih. Semuanya sampai kepada Nabi saw. (hadits marfu), yang isinya menyatakan bahwa “setiap ujian akan menggugurnya kesalahan”.

Hadits dari ‘Aisyah ra. sesungguhnya Rasulullah saw. bersabda:

«…مَا مِنْ مُسْلِمٍ يُشَاكُ شَوْكَةً فَمَا فَوْقَهَا إِلاَّ رَفَعَهُ اللهُ بِهَا دَرَجَةً، 

وَحَطَّ عَنْهُ بِهَا خَطِيئَةً»

Seorang muslim yang tertusuk duri atau yang lebih dari itu, maka pasti Allah dengan musibah itu akan mengangkat satu derajat untuknya dan menggugurkan satu kesalahan darinya. 

Dalam riwayat lain dikatakan:

«إِلاَّ كَتَبَ اللهُ لَهُ بِهَا حَسَنَةً»

Maka pasti Allah dengan musibah itu akan mencatat satu kebaikan baginya.

Yang dimaksud dengan pahala di sini adalah pahala atas keridhannya terhadap qadha dari Allah dan kesabarannya; Juga bersyukur dan tidak mengadukan musibahnya kecuali kepada Allah. Banyak sekali hadits yang menjelaskan batasan ini, di antaranya hadits riwayat Muslim dari Shuhaib, sesungguhnya Rasulullah saw. bersabda:

«عَجَبًا ِلأَمْرِ الْمُؤْمِنِ إِنَّ أَمْرَهُ كُلَّهُ خَيْرٌ إِنْ أَصَابَتْهُ سَرَّاءُ شَكَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ وَإِنْ أَصَابَتْهُ ضَرَّاءُ صَبَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ وَلَيْسَ ذَاكَ ِلأَحَدٍ إِلاَّ لِلْمُؤْمِنِ»

Aku kagum terhadap urusan orang yang beriman, karena seluruh urusannya merupakan kebaikan baginya. Jika mendapatkan kesenangan ia bersyukur, maka syukur adalah kebaikan baginya. Jika ditimpa kesulitan ia bersabar, maka sabar itu merupakan kebaikan baginya. Hal seperti ini tidak akan didapati pada seseorang kecuali orang yang beriman. 

 

Hadits riwayat Hakim, ia menshahihkannya yang disepakati oleh Adz-Dzahabi dari Abu Darda ra., ia berkata; aku pernah mendengar Rasulullah saw. bersabda:

«إِنَّ اللهَ عَزَّ وَجَلَّ يَقُولُ يَا عِيسَى إِنِّي بَاعِثٌ مِنْ بَعْدِكَ أُمَّةً إِنْ أَصَابَهُمْ مَا يُحِبُّونَ حَمِدُوا اللهَ وَشَكَرُوا وَإِنْ أَصَابَهُمْ مَا يَكْرَهُونَ احْتَسَبُوا وَصَبَرُوا وَلاَ حِلْمَ وَلاَ عِلْمَ قَالَ يَا رَبِّ كَيْفَ هَذَا لَهُمْ وَلاَ حِلْمَ وَلاَ عِلْمَ قَالَ أُعْطِيهِمْ مِنْ حِلْمِي وَعِلْمِي»

Sesungguhnya Allah berfirman, “Wahai Isa!, sungguh aku akan mengirim suatu umat setelahmu. Jika mereka mendapatkan perkara yang disukai, pasti akan memuji kepada Allah. Jika mereka mendapatkan perkara yang tidak disukai, mereka akan ikhlas menerimanya dan bersabar menghadapinya, padahal mereka tidak memiliki kepandaian dan ilmu.” Isa berkata, “Wahai Tuhanku, bagaiman itu bisa terjadi?” Allah berfirman, “Aku memberikan kepada mereka sebagian dari kepandaian dan ilmu-Ku.” 

 

Hadits riwayat At-Thabrani dengan isnad yang sehat dari cacat, dari Ibnu Abbas ra., ia berkata; Rasulullah saw. bersabda: 

«من أصيب بمصيبة بماله أو في نفسه فكتمها ولم يشكها إلى الناس, كان حقا على الله أن يغفر له»

Siapa saja yang ditimpa musibah atas hartanya atau jiwanya, kemudian ia menyembunyikannya dan tidak mengadukan kepada manusia, maka Allah pasti akan mengampuninya. 

 

Hadits riwayat Bukhari dari Anas, ia berkata; aku pernah mendengar Rasulullah saw. bersabda:

«إِنَّ اللهَ قَالَ إِذَا ابْتَلَيْتُ عَبْدِي بِحَبِيبَتَيْهِ فَصَبَرَ عَوَّضْتُهُ مِنْهُمَا الْجَنَّةَ»

Sesungguhnya Allah Swt. berfirman, “Jika Aku menguji hambaku dengan (kematian) kekasihnya kemudian ia bersabar, maka Aku akan menggatinya dengan Surga. 

 

Hadits riwayat Bukhari dalam Al-Adab Al-Mufrad, dari Abu Hurairah, ia berkata; Rasulullah bersabda: 

«ما من مسلم يشاك شوكة فى الدنيا يحتسبها إلا قضى بها من خطاياه يوم القيامة»

Seorang muslim yang tertusuk duri di dunia, ia ikhlas menerimanya maka pasti ujian itu akan menjadi penyebab Allah melenyapkan kesalahan-kesalahnya di hari Kiamat.