Seruan Masjid

Khadimul Ummah wa Du'at

MENGATASI KRISIS PENDIDIKAN KARAKTER DI INDONESIA

MENGATASI KRISIS PENDIDIKAN KARAKTER DI INDONESIA

MENGATASI KRISIS PENDIDIKAN KARAKTER DI INDONESIA

MENGATASI KRISIS PENDIDIKAN KARAKTER DI INDONESIA

 

KHUTBAH PERTAMA

 

اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ، نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَسَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ. أَشْهَدُ أَنْ لَا اِلٰهَ اِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لَاشَرِيْكَ لَهُ، شَهَادَةَ مَنْ هُوَ خَيْرٌ مَّقَامًا وَأَحْسَنُ نَدِيًّا. وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الْمُتَّصِفُ بِالْمَكَارِمِ كِبَارًا وَصَبِيًّا.

اللهُمَّ فَصَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَانَ صَادِقَ الْوَعْدِ وَكَانَ رَسُوْلًا نَبِيًّا، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ الَّذِيْنَ يُحْسِنُوْنَ إِسْلاَمَهُمْ وَلَمْ يَفْعَلُوْا شَيْئًا فَرِيًّا. أَمَّا بَعْدُ؛ فَيَا أَيُّهَا الْحَاضِرُوْنَ رَحِمَكُمُ اللهُ، اُوْصِيْنِيْ نَفْسِيْ وَإِيَّاكُمْ بِتَقْوَى اللهِ، فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ. قَالَ اللهُ تَعَالَى:

وَمَنْ اَعْرَضَ عَنْ ذِكْرِيْ فَاِنَّ لَهٗ مَعِيْشَةً ضَنْكًا وَّنَحْشُرُهٗ يَوْمَ الْقِيٰمَةِ اَعْمٰى ۝١٢٤ ٰهٰ) 

Alhamdulillâhi Rabbil ‘Âlamin, Segala puji bagi Allah Subhânahu Wa Ta’âlâ yang telah menganugerahkan kita nikmat iman dan Islam, serta mempertemukan kita di tempat yang diberkahi ini. Shalawat dan salam semoga senantiasa tercurah kepada junjungan kita, Nabi Muhammad Shallallâhu ‘alaihi wasallam, beserta keluarga, sahabat, dan seluruh umatnya hingga akhir zaman.

Bertakwalah kepada Allah Subhânahu Wa Ta’âlâ dengan sebenar-benarnya takwa sebagaimana firman-Nya:

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا اتَّقُوا اللّٰهَ حَقَّ تُقٰىتِهٖ وَلَا تَمُوْتُنَّ اِلَّا وَاَنْتُمْ مُّسْلِمُوْنَ

“Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dengan sebenar-benar takwa kepada-Nya dan janganlah kamu mati kecuali dalam keadaan muslim.” (QS. Âli Imrân [3]: 102).

 

Sungguh takwa adalah benteng terakhir kita di tengah kehidupan akhir zaman saat ini. Dan sungguh, hanya dengan takwa kita akan selamat di dunia dan akhirat.

 

Ma’âsyiral Muslimîn rahimakumullâh,

Krisis pendidikan karakter di Indonesia semakin menunjukkan gejala yang mengkhawatirkan. Dunia pendidikan yang seharusnya menjadi wadah pembentukan generasi berilmu dan berakhlak justru kerap memunculkan potret buram perilaku moral. Fenomena hilangnya rasa hormat terhadap guru, lemahnya empati antar pelajar, dan semakin kaburnya batas antara benar dan salah menjadi tanda serius rapuhnya fondasi karakter bangsa. Baru-baru ini, seorang kepala sekolah dilaporkan ke polisi hanya karena menegur dan menampar siswa yang merokok di sekolah. Ironisnya, ratusan siswa justru membela pelaku pelanggaran dengan melakukan mogok massal dan menuntut pemecatan kepala sekolah. Di sisi lain, seorang mahasiswa Universitas Udayana bunuh diri diduga akibat perundungan, bahkan setelah meninggal tetap menjadi bahan olokan di grup WhatsApp kampus. Dua peristiwa ini menunjukkan betapa dalam krisis moral yang melanda dunia pendidikan kita.

Lebih memilukan lagi, media arus utama pun turut berperan dalam menurunkan nilai-nilai luhur tersebut. Salah satu tayangan di Trans7 bahkan menggambarkan adab santri yang menghormati guru sebagai budaya feodal yang tak pantas dipertahankan. Padahal dalam Islam, penghormatan murid kepada guru merupakan bagian dari adab mulia sebagaimana sabda Nabi :

لَيْسَ مِنَّا مَنْ لَمْ يُوَقِّرْ كَبِيرَنَا، وَيَرْحَمْ صَغِيرَنَا، وَيَعْرِفْ لِعَالِمِنَا حَقَّهُ

Bukan termasuk golongan kami orang yang tidak memuliakan yang tua, tidak menyayangi yang muda, dan tidak mengetahui hak orang alim di antara kita(Al-Qurthubi, Al-Jami’ li Ahkaam al-Qur’aan, 17/241).

Pendidikan sejati dalam Islam bukan sekadar transfer ilmu, melainkan proses pembentukan karakter dan akhlak yang berakar kuat pada akidah Islam.

 

Ma’âsyiral Muslimîn rahimakumullâh,

Akar krisis pendidikan karakter di Indonesia sejatinya terletak pada penerapan sistem pendidikan sekuler—sistem yang memisahkan agama dari kehidupan. Akibatnya, orientasi spiritual dan moral terhapus dari dunia pendidikan, menjadikan tujuan belajar semata demi mencari pekerjaan, bukan pembentukan kepribadian mulia. Tak hanya siswa, banyak guru pun terseret arus krisis moral. Kasus kekerasan, pelecehan, hingga korupsi di dunia pendidikan menunjukkan bahwa sebagian pendidik belum mampu menjadi teladan. Imam al-Qusyairi mengingatkan,

وَمَنْ لَمْ يُؤَدِّبْ نَفْسَهُ لَمْ يَتَأَدَّبْ بِهِ غَيْرُهُ

Siapa saja yang tidak bisa menanamkan adab pada dirinya, maka orang lain tidak mungkin mempelajari adab darinya” (Tafsir al-Qusyairi, 2/36). Semua ini merupakan buah dari sistem pendidikan sekuler yang berpaling dari Al-Qur’an, sebagaimana firman Allah Subhanahu wata’ala:

وَمَنْ اَعْرَضَ عَنْ ذِكْرِيْ فَاِنَّ لَهٗ مَعِيْشَةً ضَنْكًا

 Siapa saja yang berpaling dari peringatan-Ku (al-Quran), maka sesungguhnya bagi dia kehidupan yang sempit.” (QS Thâhâ [20]: 124).

Dalam pandangan Islam, pendidikan bukan sekadar mencetak manusia cerdas, tetapi membentuk insan berkepribadian Islam (syakhshiyyah islâmiyyah), yaitu pola pikir dan pola sikap yang berpijak pada akidah Islam. Hal ini ditegaskan dalam firman Allah Subhanahu wata’ala:

هُوَ الَّذِيْ بَعَثَ فِى الْاُمِّيّٖنَ رَسُوْلًا مِّنْهُمْ يَتْلُوْا عَلَيْهِمْ اٰيٰتِهٖ وَيُزَكِّيْهِمْ وَيُعَلِّمُهُمُ الْكِتٰبَ وَالْحِكْمَةَ وَاِنْ كَانُوْا مِنْ قَبْلُ لَفِيْ ضَلٰلٍ مُّبِيْنٍۙ

”Dialah (Allah) yang mengutus di tengah-tengah kaum yang ummi seorang rasul dari kalangan mereka. Dia (bertugas) membacakan kepada mereka ayat-ayat-Nya, menyucikan (jiwa/diri) mereka, serta mengajari mereka al-Quran dan hikmah; sementara mereka sebelumnya benar-benar ada dalam kesesatan yang nyata.” (QS. al-Jum’ah [62]: 2).

 

Rasulullah pun bersabda,

إِنَّمَا بُعِثْتُ لِأُتَمِّمَ مَكَارِمَ الأَخْلَاقِ

”Sesungguhnya aku diutus hanyalah untuk menyempurnakan akhlak yang mulia.” (HR al-Bazzaar dan al-Baihaqi). Dengan demikian, pendidikan dalam Islam memiliki misi utama: membina akhlak mulia dan kesucian jiwa agar manusia menjadi hamba yang taat kepada Allah Subhanahu wata’ala.

 

Sebaliknya, sistem pendidikan sekuler yang memisahkan ilmu dari iman melahirkan generasi yang mungkin cerdas secara intelektual, tetapi miskin akhlak. Karena itu, para ulama klasik menekankan pentingnya adab sebelum ilmu, sebagaimana dikatakan:

تَعَلَّمُوا الْأَدَبَ قَبْلَ أَنْ تَتَعَلَّمُوا الْعِلْمَ

Pelajarilah adab sebelum kalian mempelajari ilmu” (Ibn ‘Abd al-Barr, Jaami‘ Bayaan al-‘Ilm wa Fadlih, 1/164). Adab adalah fondasi ilmu yang membentuk generasi berilmu, beriman, dan bertakwa. Sistem pendidikan Islam menempatkan akidah sebagai asas segala ilmu, mengarahkan seluruh potensi peserta didik untuk beramal dan berkarya demi meraih ridha Allah Subhanahu wata’ala.

 

Ma’âsyiral Muslimîn rahimakumullâh,

Sejarah mencatat bahwa sistem pendidikan Islam pernah mencapai masa keemasan selama berabad-abad di bawah naungan Khilafah, khususnya pada era ‘Abbasiyah. Negara berperan aktif sebagai pelopor pendidikan dengan membangun ribuan madrasah, perpustakaan, dan pusat riset yang terbuka secara gratis bagi seluruh rakyat. Semua itu berlandaskan akidah Islam yang kokoh, menjadikan pendidikan bukan sekadar sarana ilmu, tetapi juga pembinaan iman dan akhlak. Khalifah al-Ma’mun mendirikan Baitul Hikmah di Baghdad yang menjadi pusat ilmu pengetahuan dunia pada abad ke-9 M. Dari sana lahir ilmuwan sekaligus ulama besar di berbagai bidang seperti matematika, kimia, astronomi, kedokteran, fiqih, dan tafsir. Mereka bukan hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga memiliki ketakwaan dan akhlak mulia.

Para ulama dan ilmuwan muslim kala itu menghasilkan karya monumental yang dikaji lintas generasi. Ibn Katsir mencatat bahwa dunia Islam pada masa itu “dipenuhi oleh para ulama dan pelajar” (Al-Bidaayah wa an-Nihaayah, 10/279). Sistem pendidikan di bawah Khilafah berhasil memadukan kemajuan sains dengan spiritualitas Islam, karena seluruh kebijakan pendidikan berasaskan akidah dan syariah. Ilmu dan iman berjalan seiring, melahirkan peradaban gemilang yang menyeimbangkan kemajuan intelektual dan kemuliaan moral.

Dalam pandangan Islam, negara memiliki tanggung jawab langsung untuk menyediakan pendidikan gratis dan berkualitas bagi rakyatnya. Rasulullah bersabda:

الإِمَامُ رَاعٍ وَهُوَ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ

Imam (Khalifah) adalah pemimpin dan ia bertanggung jawab atas rakyat yang ia pimpin” (HR al-Bukhari dan Muslim). Imam al-Mawardi menegaskan bahwa di antara tanggung jawab pemimpin adalah memenuhi seluruh kemaslahatan rakyat, termasuk pendidikan (Al-Ahkaam as-Sulthaaniyyah, hal.27). Karena itu, hanya sistem pemerintahan Islam yang menjadikan akidah sebagai asas dan syariah sebagai pilar utamanya yang mampu mewujudkan pendidikan berkualitas sekaligus membentuk manusia beriman, berilmu, dan berakhlak mulia. Sebaliknya, dalam sistem kapitalis-demokrasi-sekuler saat ini, pendidikan kehilangan ruh spiritualnya dan cenderung bersifat materialistik.

 

Ma’âsyiral Muslimîn rahimakumullâh,

Melihat realitas yang ada, jelas bahwa krisis pendidikan karakter di Indonesia bukan sekadar persoalan teknis atau perilaku individu, melainkan masalah sistemik yang bersumber dari akar sekularisme. Upaya seperti revisi kurikulum, pelatihan guru, atau penambahan jam pelajaran agama hanya bersifat tambal sulam, tidak menyentuh akar masalahnya. Sistem pendidikan sekuler telah gagal melahirkan manusia bertakwa karena memisahkan ilmu dari iman. Solusi sejatinya adalah mengganti sistem pendidikan sekuler dengan sistem pendidikan Islam yang berlandaskan akidah dan syariah Islam, sebagaimana diterapkan pada masa kejayaan Khilafah. Hanya dengan sistem pemerintahan Islam yang menerapkan syariah secara kaaffah, pendidikan akan kembali melahirkan generasi beriman, berilmu, dan beradab—generasi khayru ummah yang menebarkan kebaikan dan kemuliaan.

Allah Subhanahu wata’ala berfirman:

اَفَحُكْمَ الْجَاهِلِيَّةِ يَبْغُوْنَۗ وَمَنْ اَحْسَنُ مِنَ اللّٰهِ حُكْمًا لِّقَوْمٍ يُّوْقِنُوْنَ

”Apakah sistem hukum Jahiliah yang mereka kehendaki? (Hukum) siapakah yang lebih baik daripada hukum Allah bagi kaum yang yakin?” (QS. al-Ma’idah [5]: 50).

Ayat ini menegaskan bahwa hanya dengan penerapan syariah Islam secara kaaffah oleh institusi negara, pendidikan akan kembali bersinar dan menjadi sumber peradaban yang mulia. Negara Islam akan menjadi pelindung ilmu, penjaga adab, dan penegak keadilan, melahirkan generasi ulama dan mujahid yang membawa cahaya Islam ke seluruh penjuru dunia, menebarkan rahmat bagi seluruh alam. WalLâhu a’lam bi ash-shawâb. []

 

بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِى اْلقُرْآنِ اْلعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الْآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيمِ وَتَقَبَّلَ اللهُ مِنَّا وَمِنْكُمْ تِلاَوَتَهُ وَإِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ العَلِيْمُ، وَأَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا فَأسْتَغْفِرُ اللهَ العَظِيْمَ إِنَّهُ هُوَ الغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ

 

KHUTBAH KEDUA

 

اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ عَلىَ إِحْسَانِهِ، وَالشُّكْرُ لَهُ عَلَى تَوْفِيْقِهِ وَاِمْتِنَانِهِ، وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ اِلٰهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الدَّاعِى إِلَى رِضْوَانِهِ، اللّٰهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى اٰلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَسَلِّمْ تَسْلِيْمًا كَثِيْرًا. أَمَّا بَعْدُ؛ فَياَ اَيُّهَا النَّاسُ اِتَّقُواللّٰهَ فِيْمَا أَمَرَ وَانْتَهُوْا عَمَّا نَهَى وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ بَدَأَ فِيْهِ بِنَفْسِهِ وَثَـنَّى بِمَلآ ئِكَتِهِ الْمُسَبِّحَةِ بِقُدْسِهِ، وَقَالَ تَعاَلَى: إِنَّ اللهَ وَمَلآئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلىَ النَّبِى يآ اَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا. اللهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِناَ مُحَمَّدٍ، وَعَلَى اَنْبِيآئِكَ وَرُسُلِكَ وَمَلآئِكَةِ اْلمُقَرَّبِيْنَ، وَارْضَ اللّٰهُمَّ عَنِ اْلخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ، أَبِى بَكْرٍ وَعُمَرَ وَعُثْمَانَ وَعَلِي، وَعَنْ بَقِيَّةِ الصَّحَابَةِ وَالتَّابِعِيْنَ، وَتَابِعِي التَّابِعِيْنَ لَهُمْ بِاِحْسَانٍ اِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ، وَارْضَ عَنَّا مَعَهُمْ بِرَحْمَتِكَ يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ.

اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَاْلمُؤْمِنَاتِ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَاْلمُسْلِمَاتِ اَلاَحْيآءَ مِنْهُمْ وَاْلاَمْوَاتِ، اللّٰهُمَّ أَعِزَّ اْلإِسْلاَمَ وَاْلمُسْلِمِيْنَ، وَأَذِلَّ الشِّرْكَ وَاْلمُشْرِكِيْنَ، وَانْصُرْ عِبَادَكَ اْلمُوَحِّدِيْنَ، وَانْصُرْ مَنْ نَصَرَ الدِّيْنَ، وَاخْذُلْ مَنْ خَذَلَ اْلمُسْلِمِيْنَ، وَدَمِّرْ أَعْدَاءَ الدِّيْنِ، وَاعْلِ كَلِمَاتِكَ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ.

اَللّٰهُمَّ يَا مُنْـزِلَ الْكِتَابِ وَمُهْزِمَ اْلأَحْزَابِ اِهْزِمِ اْليَهُوْدَ وَاَعْوَانَهُمْ وَصَلِيْبِيِّيْنَ وَاَنْصَارَهُمْ وَرَأْسُمَالِيِّيْنَ وَاِخْوَانَهُمْ وَاِشْتِرَاكِيِّيْنَ وَشُيُوْعِيِّيْنَ وَاَشْيَاعَهُمْ. اَللّٰهُمَّ نَجِّ إِخْوَانَنَا الْمُؤْمِنِيْنَ الْمُسْتَضْعَفِيْنَ فِي فَلَسْطِيْنَ وَفِي كُلِّ مَكَانٍ. اَللّٰهُمَّ انْصُرْ إخْوَانَنَا الْمُجَاهِدِيْنَ فِي سَبِيْلِكَ عَلَى أَعْدَائِهِمْ.

اَللّٰهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ دَوْلَةَ الْخِلاَفَةِ عَلَى مِنْهَاجِ النُّبُوَّةِ تُعِزُّ بِهَا اْلإِسْلاَمَ وَاَهْلَهُ وَتُذِلُّ بِهَا الْكُفْرَ وَاَهْلَهُ، وَ اجْعَلْنَا مِنَ الْعَامِلِيْنَ الْمُخْلِصِيْنَ بِإِقَامَتِهَا بِإِذْنِكَ يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ.

اللّٰهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا الْغَلَاءَ وَاْلبَلاَءَ وَاْلوَبَاءَ وَالزَّلاَزِلَ وَاْلمِحَنَ، وَسُوْءَ اْلفِتْنَةِ وَاْلمِحَنَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ، عَنْ بَلَدِنَا اِنْدُونِيْسِيَّا خآصَّةً وَسَائِرِ بُلْدَانِ اْلمُسْلِمِيْنَ عآمَّةً يَا رَبَّ اْلعَالَمِيْنَ، رَبَّنَا آتِناَ فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِى اْلآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ، رَبَّنَا ظَلَمْنَا اَنْفُسَنَا وَإنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُوْنَنَّ مِنَ اْلخَاسِرِيْنَ.

عِبَادَ اللهِ ! إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِاْلعَدْلِ وَاْلإِحْسَانِ وَإِيْتآءِ ذِي اْلقُرْبىَ وَيَنْهَى عَنِ اْلفَحْشآءِ وَاْلمُنْكَرِ وَاْلبَغْي يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ، وَاذْكُرُوا اللهَ اْلعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ، وَاسْأَلُوْهُ مِنْ فَضْلِهِ يُعْطِكُمْ، وَاشْكُرُوْهُ عَلىَ نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ، وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرْ

PALESTINA BELUM MERDEKA

PALESTINA BELUM MERDEKA

PALESTINA BELUM MERDEKA

PALESTINA BELUM MERDEKA!

 

KHUTBAH PERTAMA

 

اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ، نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَسَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ. أَشْهَدُ أَنْ لَا اِلٰهَ اِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لَاشَرِيْكَ لَهُ، شَهَادَةَ مَنْ هُوَ خَيْرٌ مَّقَامًا وَأَحْسَنُ نَدِيًّا. وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الْمُتَّصِفُ بِالْمَكَارِمِ كِبَارًا وَصَبِيًّا.

اللهُمَّ فَصَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَانَ صَادِقَ الْوَعْدِ وَكَانَ رَسُوْلًا نَبِيًّا، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ الَّذِيْنَ يُحْسِنُوْنَ إِسْلاَمَهُمْ وَلَمْ يَفْعَلُوْا شَيْئًا فَرِيًّا. أَمَّا بَعْدُ؛ فَيَا أَيُّهَا الْحَاضِرُوْنَ رَحِمَكُمُ اللهُ، اُوْصِيْنِيْ نَفْسِيْ وَإِيَّاكُمْ بِتَقْوَى اللهِ، فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ. قَالَ اللهُ تَعَالَى:

وَلَا تَرْكَنُوْٓا اِلَى الَّذِيْنَ ظَلَمُوْا فَتَمَسَّكُمُ النَّارُۙ وَمَا لَكُمْ مِّنْ دُوْنِ اللّٰهِ مِنْ اَوْلِيَاۤءَ ثُمَّ لَا تُنْصَرُوْنَ ۝١١٣ (هُوْدٌ) 

Alhamdulillâhi Rabbil ‘Âlamin, Segala puji bagi Allah Subhânahu Wa Ta’âlâ yang telah menganugerahkan kita nikmat iman dan Islam, serta mempertemukan kita di tempat yang diberkahi ini. Shalawat dan salam semoga senantiasa tercurah kepada junjungan kita, Nabi Muhammad Shallallâhu ‘alaihi wasallam, beserta keluarga, sahabat, dan seluruh umatnya hingga akhir zaman.

Bertakwalah kepada Allah Subhânahu Wa Ta’âlâ dengan sebenar-benarnya takwa sebagaimana firman-Nya:

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا اتَّقُوا اللّٰهَ حَقَّ تُقٰىتِهٖ وَلَا تَمُوْتُنَّ اِلَّا وَاَنْتُمْ مُّسْلِمُوْنَ

“Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dengan sebenar-benar takwa kepada-Nya dan janganlah kamu mati kecuali dalam keadaan muslim.” (QS. Âli Imrân [3]: 102).

 

Sungguh takwa adalah benteng terakhir kita di tengah kehidupan akhir zaman saat ini. Dan sungguh, hanya dengan takwa kita akan selamat di dunia dan akhirat.

 

Ma’âsyiral Muslimîn rahimakumullâh,

Setelah dua tahun mengalami serangan keji Israel, harapan baru muncul di Jalur Gaza. Pada Jumat (10/10), Israel dan Hamas kembali menyepakati gencatan senjata setelah negosiasi tiga hari yang dimediasi oleh Amerika Serikat, Qatar, Mesir, dan Turki. Pimpinan Hamas, Khalil al-Hayya, menyatakan bahwa pihaknya menerima jaminan dari para mediator bahwa perang benar-benar akan berakhir. Israel pun mengonfirmasi bahwa gencatan senjata mulai berlaku dalam 24 jam setelah disetujui, dan pembebasan sandera di Gaza akan dilakukan dalam waktu 72 jam berikutnya.

Pasca gencatan senjata, bantuan kemanusiaan mulai mengalir ke Gaza melalui perbatasan Kerem Shalom. Bulan Sabit Merah Mesir menyiapkan 400 truk bantuan, sementara PBB melaporkan 170.000 ton makanan, obat-obatan, dan perlengkapan darurat siap didistribusikan—cukup untuk dua juta warga Gaza selama tiga bulan. Sebelumnya, 2,1 juta penduduk mengalami kelaparan akut akibat blokade panjang, menewaskan lebih dari 100 orang. Kini, ribuan warga kembali ke wilayah mereka yang hancur—90 persen bangunan musnah, termasuk rumah sakit, pasar, sekolah, masjid, dan gereja. Setelah lebih dari 67 ribu jiwa terbunuh dan hampir seluruh infrastruktur lumpuh akibat 200 ribu ton bom Israel, Gaza seakan berubah dari “penjara terbesar” menjadi ladang pembantaian terbesar dalam sejarah kemanusiaan.

 

Ma’âsyiral Muslimîn rahimakumullâh,

Meski gencatan senjata memberi sedikit harapan bagi warga Gaza, kenyataannya Palestina belum benar-benar merdeka. Berbagai ancaman masih membayangi kaum Muslim di sana. Pertama, tidak ada jaminan Israel akan menghentikan agresinya secara total. Hanya beberapa jam setelah gencatan senjata diumumkan, Zionis kembali menyerang Gaza Utara dan menewaskan 30 warga sipil. Israel memang dikenal kerap mengkhianati perjanjian gencatan senjata, namun tak pernah mendapat sanksi internasional yang tegas. Ironisnya, banyak pemimpin Arab justru berlomba membuka hubungan diplomatik dengan Israel.

Kedua, para pemimpin Arab dan Eropa telah menyiapkan skenario pemerintahan transisi bagi Palestina. Berdasarkan Deklarasi New York di Markas PBB (12/9), jika gencatan senjata tercapai, Gaza akan diatur oleh komite administratif transisi di bawah Otoritas Palestina. Mantan PM Inggris Tony Blair disebut akan memimpin otoritas tersebut dengan dukungan Gedung Putih. Kaum Muslim perlu waspada, sebab Blair memiliki catatan kelam sebagai salah satu arsitek invasi Irak tahun 2003 yang menewaskan lebih dari satu juta penduduk dengan dalih palsu tentang senjata pemusnah massal. Kondisi ini membuat Palestina seperti “lepas dari mulut harimau masuk ke mulut buaya.”

Ketiga, rencana perdamaian juga mengandung ancaman pelucutan senjata dan pelarangan kelompok pejuang Islam di Gaza. Amerika Serikat melalui Comprehensive Plan to End the Gaza Conflict ingin menjadikan Gaza sebagai kawasan bebas terorisme dan deradikalisasi—yang secara implisit menargetkan kelompok perlawanan seperti Hamas. Usulan ini disetujui Trump, Netanyahu, negara-negara Arab, dan Otoritas Palestina yang bahkan menuding Hamas sebagai penyebab genosida.

Keempat, negara-negara Barat dan Arab juga menyiapkan International Stabilization Force (ISF) untuk melatih dan mengendalikan polisi Gaza. Dengan demikian, keamanan Gaza akan berada di tangan kekuatan asing yang mustahil berpihak pada umat Islam.

 

Ma’âsyiral Muslimîn rahimakumullâh,

Pengakuan internasional terhadap solusi dua negara bukan jalan keadilan bagi Palestina, melainkan legalisasi perampasan—oleh karena itu umat Muslim wajib menilai kembali sikap politiknya terhadap penjajahan.

Solusi dua negara mengakui eksistensi dan penguasaan tanah yang dirampas Zionis, padahal seluruh wilayah Palestina dalam sejarahnya merupakan tanah kharaj yang masuk di bawah kekuasaan Islam sejak penaklukan di era Amirul Mukminin Umar bin al-Khaththab radhiyallahu ’anhu. Dukungan para pemimpin Arab dan dunia Islam terhadap solusi itu justru menunjukkan sikap tunduk dan mengabaikan kewajiban menolong sesama Muslim; Nabi bersabda:

مَا مِنِ ٱمْرِئٍ يَخْذُلُ ٱمْرَأً مُسْلِمًا فِيْ مَوْضِعٍ تُنْتَهَكُ فِيْهِ حُرْمَتُهُ وَيُنْتَقَصُ فِيْهِ مِنْ عِرْضِهِ، إِلَّا خَذَلَهُ ٱللَّهُ فِيْ مَوْطِنٍ يُحِبُّ فِيْهِ نَصْرَتَهُ

”Tidaklah seseorang (Muslim) menelantarkan seorang Muslim lainnya di tempat di mana kehormatannya dilanggar dan direndahkan, melainkan Allah akan menelantarkan dia di tempat di mana dia sangat ingin mendapatkan pertolongan.” (HR Abu Dawud, Ahmad, dan yang lainnya).

Pandangan Islam terhadap penjajahan di atas negeri Palestina telah jelas. Para ulama telah menyepakati kewajiban berjihad fi sabilillah untuk mengusir para penjajah. Ibnu Qudamah (w.620 H) menyatakan bahwa bila kaum kafir menduduki negeri kaum Muslim maka penduduknya wajib memerangi mereka, dan jika tidak mampu kewajiban itu meluas kepada kaum Muslim di sekitarnya (Ibnu Qudamah, Al-Mughni, 9/228). An-Nawawi (w.676 H) juga menegaskan bahwa seluruh kaum Muslim wajib berkorban jiwa demi membebaskan negeri yang dikuasai kafir (An-Nawawi, Ar-Rawdhah, 10/216). Alasan syarʿi ini diperkuat oleh firman Allah:

وَقَاتِلُوْا فِيْ سَبِيْلِ اللّٰهِ الَّذِيْنَ يُقَاتِلُوْنَكُمْ

”Perangilah di jalan Allah orang-orang yang memerangi kalian”  (QS. al-Baqarah [2]: 190).

Oleh karena itu, kasih sayang nyata terhadap penderitaan Gaza harus diwujudkan dalam bentuk jihad fi sabilillah untuk mengusir penjajah, bukan dengan mengakui eksistensi negara zionis.

 

Ma’âsyiral Muslimîn rahimakumullâh,

Ketika para penguasa Muslim mengabaikan tanggung jawab mereka dan tunduk pada keputusan Barat, umat membutuhkan kepemimpinan yang benar-benar melindungi — yaitu Khilafah Islam.

Hari ini banyak penguasa Muslim menyerahkan loyalitas kepada pihak yang terlibat dalam penderitaan Palestina, mereka memilih tunduk pada keputusan Barat, termasuk PBB. sehingga kewajiban menolong saudara kita diabaikan. Maka dari itu, wahai kaum Muslim! Kita membutuhkan kepemimpinan global yang benar-benar melindungi kita. Itulah Khilafah Islam yang telah diwajibkan oleh syariah Islam. Khilafah inilah yang bakal menjadi perisai umat Islam sedunia.

Hanya dengan Khilafah, kehormatan, harta dan jiwa umat Islam sedunia terpelihara. Khilafahlah yang akan menyatukan seluruh negeri Muslim, memimpin mereka, lalu mengibarkan jihad fi sabilillah untuk mengusir para penjajah dari negeri-negeri kaum Muslim, khususnya Palestina.

Janganlah condong kepada para pemimpin zalim yang membiarkan kezaliman berlangsung, karena Allah berfirman:

وَلَا تَرْكَنُوْٓا اِلَى الَّذِيْنَ ظَلَمُوْا فَتَمَسَّكُمُ النَّارُ

“Janganlah kalian condong kepada orang-orang yang zalim sehingga kalian nanti akan disentuh oleh api neraka” (QS. Hûd [11]: 113). WalLâhu a’lam bi ash-shawâb. []

 

بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِى اْلقُرْآنِ اْلعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الْآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيمِ وَتَقَبَّلَ اللهُ مِنَّا وَمِنْكُمْ تِلاَوَتَهُ وَإِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ العَلِيْمُ، وَأَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا فَأسْتَغْفِرُ اللهَ العَظِيْمَ إِنَّهُ هُوَ الغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ

 

KHUTBAH KEDUA

 

اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ عَلىَ إِحْسَانِهِ، وَالشُّكْرُ لَهُ عَلَى تَوْفِيْقِهِ وَاِمْتِنَانِهِ، وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ اِلٰهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الدَّاعِى إِلَى رِضْوَانِهِ، اللّٰهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى اٰلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَسَلِّمْ تَسْلِيْمًا كَثِيْرًا. أَمَّا بَعْدُ؛ فَياَ اَيُّهَا النَّاسُ اِتَّقُواللّٰهَ فِيْمَا أَمَرَ وَانْتَهُوْا عَمَّا نَهَى وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ بَدَأَ فِيْهِ بِنَفْسِهِ وَثَـنَّى بِمَلآ ئِكَتِهِ الْمُسَبِّحَةِ بِقُدْسِهِ، وَقَالَ تَعاَلَى: إِنَّ اللهَ وَمَلآئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلىَ النَّبِى يآ اَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا. اللهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِناَ مُحَمَّدٍ، وَعَلَى اَنْبِيآئِكَ وَرُسُلِكَ وَمَلآئِكَةِ اْلمُقَرَّبِيْنَ، وَارْضَ اللّٰهُمَّ عَنِ اْلخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ، أَبِى بَكْرٍ وَعُمَرَ وَعُثْمَانَ وَعَلِي، وَعَنْ بَقِيَّةِ الصَّحَابَةِ وَالتَّابِعِيْنَ، وَتَابِعِي التَّابِعِيْنَ لَهُمْ بِاِحْسَانٍ اِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ، وَارْضَ عَنَّا مَعَهُمْ بِرَحْمَتِكَ يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ.

اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَاْلمُؤْمِنَاتِ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَاْلمُسْلِمَاتِ اَلاَحْيآءَ مِنْهُمْ وَاْلاَمْوَاتِ، اللّٰهُمَّ أَعِزَّ اْلإِسْلاَمَ وَاْلمُسْلِمِيْنَ، وَأَذِلَّ الشِّرْكَ وَاْلمُشْرِكِيْنَ، وَانْصُرْ عِبَادَكَ اْلمُوَحِّدِيْنَ، وَانْصُرْ مَنْ نَصَرَ الدِّيْنَ، وَاخْذُلْ مَنْ خَذَلَ اْلمُسْلِمِيْنَ، وَدَمِّرْ أَعْدَاءَ الدِّيْنِ، وَاعْلِ كَلِمَاتِكَ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ.

اَللّٰهُمَّ يَا مُنْـزِلَ الْكِتَابِ وَمُهْزِمَ اْلأَحْزَابِ اِهْزِمِ اْليَهُوْدَ وَاَعْوَانَهُمْ وَصَلِيْبِيِّيْنَ وَاَنْصَارَهُمْ وَرَأْسُمَالِيِّيْنَ وَاِخْوَانَهُمْ وَاِشْتِرَاكِيِّيْنَ وَشُيُوْعِيِّيْنَ وَاَشْيَاعَهُمْ. اَللّٰهُمَّ نَجِّ إِخْوَانَنَا الْمُؤْمِنِيْنَ الْمُسْتَضْعَفِيْنَ فِي فَلَسْطِيْنَ وَفِي كُلِّ مَكَانٍ. اَللّٰهُمَّ انْصُرْ إخْوَانَنَا الْمُجَاهِدِيْنَ فِي سَبِيْلِكَ عَلَى أَعْدَائِهِمْ.

اَللّٰهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ دَوْلَةَ الْخِلاَفَةِ عَلَى مِنْهَاجِ النُّبُوَّةِ تُعِزُّ بِهَا اْلإِسْلاَمَ وَاَهْلَهُ وَتُذِلُّ بِهَا الْكُفْرَ وَاَهْلَهُ، وَ اجْعَلْنَا مِنَ الْعَامِلِيْنَ الْمُخْلِصِيْنَ بِإِقَامَتِهَا بِإِذْنِكَ يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ.

اللّٰهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا الْغَلَاءَ وَاْلبَلاَءَ وَاْلوَبَاءَ وَالزَّلاَزِلَ وَاْلمِحَنَ، وَسُوْءَ اْلفِتْنَةِ وَاْلمِحَنَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ، عَنْ بَلَدِنَا اِنْدُونِيْسِيَّا خآصَّةً وَسَائِرِ بُلْدَانِ اْلمُسْلِمِيْنَ عآمَّةً يَا رَبَّ اْلعَالَمِيْنَ، رَبَّنَا آتِناَ فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِى اْلآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ، رَبَّنَا ظَلَمْنَا اَنْفُسَنَا وَإنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُوْنَنَّ مِنَ اْلخَاسِرِيْنَ.

عِبَادَ اللهِ ! إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِاْلعَدْلِ وَاْلإِحْسَانِ وَإِيْتآءِ ذِي اْلقُرْبىَ وَيَنْهَى عَنِ اْلفَحْشآءِ وَاْلمُنْكَرِ وَاْلبَغْي يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ، وَاذْكُرُوا اللهَ اْلعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ، وَاسْأَلُوْهُ مِنْ فَضْلِهِ يُعْطِكُمْ، وَاشْكُرُوْهُ عَلىَ نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ، وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرْ

MENYOAL KERJASAMA DENGAN AMERIKA DI BIDANG PENDIDIKAN ISLAM

MENYOAL KERJASAMA DENGAN AMERIKA DI BIDANG PENDIDIKAN ISLAM

MENYOAL KERJASAMA DENGAN AMERIKA DI BIDANG PENDIDIKAN ISLAM

MENYOAL KERJASAMA DENGAN AMERIKA

DI BIDANG PENDIDIKAN ISLAM

 

KHUTBAH PERTAMA

 

اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ، نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَسَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ. أَشْهَدُ أَنْ لَا اِلٰهَ اِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لَاشَرِيْكَ لَهُ، شَهَادَةَ مَنْ هُوَ خَيْرٌ مَّقَامًا وَأَحْسَنُ نَدِيًّا. وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الْمُتَّصِفُ بِالْمَكَارِمِ كِبَارًا وَصَبِيًّا.

اللهُمَّ فَصَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَانَ صَادِقَ الْوَعْدِ وَكَانَ رَسُوْلًا نَبِيًّا، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ الَّذِيْنَ يُحْسِنُوْنَ إِسْلاَمَهُمْ وَلَمْ يَفْعَلُوْا شَيْئًا فَرِيًّا. أَمَّا بَعْدُ؛ فَيَا أَيُّهَا الْحَاضِرُوْنَ رَحِمَكُمُ اللهُ، اُوْصِيْنِيْ نَفْسِيْ وَإِيَّاكُمْ بِتَقْوَى اللهِ، فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ. قَالَ اللهُ تَعَالَى:

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا لَا تَتَّخِذُوا الْكٰفِرِيْنَ اَوْلِيَاۤءَ مِنْ دُوْنِ الْمُؤْمِنِيْنَۚ اَتُرِيْدُوْنَ اَنْ تَجْعَلُوْا لِلّٰهِ عَلَيْكُمْ سُلْطٰنًا مُّبِيْنًا ۝١٤٤ (اَلنِّسَاءُ) 

Alhamdulillâhi Rabbil ‘Âlamin, Segala puji bagi Allah Subhânahu Wa Ta’âlâ yang telah menganugerahkan kita nikmat iman dan Islam, serta mempertemukan kita di tempat yang diberkahi ini. Shalawat dan salam semoga senantiasa tercurah kepada junjungan kita, Nabi Muhammad Shallallâhu ‘alaihi wasallam, beserta keluarga, sahabat, dan seluruh umatnya hingga akhir zaman.

Bertakwalah kepada Allah Subhânahu Wa Ta’âlâ dengan sebenar-benarnya takwa sebagaimana firman-Nya:

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا اتَّقُوا اللّٰهَ حَقَّ تُقٰىتِهٖ وَلَا تَمُوْتُنَّ اِلَّا وَاَنْتُمْ مُّسْلِمُوْنَ

“Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dengan sebenar-benar takwa kepada-Nya dan janganlah kamu mati kecuali dalam keadaan muslim.” (QS. Âli Imrân [3]: 102).

 

Sungguh takwa adalah benteng terakhir kita di tengah kehidupan akhir zaman saat ini. Dan sungguh, hanya dengan takwa kita akan selamat di dunia dan akhirat.

 

Ma’âsyiral Muslimîn rahimakumullâh,

Dalam dinamika hubungan internasional modern, pendidikan sering dijadikan salah satu instrumen diplomasi paling efektif untuk membangun pengaruh dan memperluas jangkauan nilai-nilai suatu negara. Melalui beasiswa, pelatihan, dan kerja sama akademik, kekuatan lunak (soft power) dapat disalurkan secara halus namun strategis. Fenomena ini juga tampak dalam dunia pesantren di Indonesia, yang dalam beberapa tahun terakhir menjadi sasaran perhatian serius Amerika Serikat melalui berbagai program kerja sama, pelatihan, dan beasiswa.

Pada tahun 2025, Kementerian Agama RI menandatangani Memorandum of Understanding (MoU) dengan Kedutaan Besar AS untuk meningkatkan kapasitas sumber daya manusia di lingkungan pesantren, madrasah, dan Perguruan Tinggi Keagamaan Negeri (PTKN) dalam semangat moderasi beragama dan toleransi global. Salah satu poin utama kerja sama tersebut adalah pemberian beasiswa Fulbright bagi santri, mahasiswa, dan dosen Kemenag untuk menempuh studi di berbagai universitas di Amerika Serikat.

Program Fulbright, yang dikelola oleh U.S. Department of State’s Bureau of Educational and Cultural Affairs (ECA), secara resmi bertujuan “meningkatkan saling pengertian antara rakyat AS dan rakyat negara lain.” Namun, di balik misi ideal itu, terdapat dimensi ideologis yang tak dapat diabaikan. American Foreign Policy Council secara terbuka menyebut Fulbright sebagai bagian dari strategi soft power diplomacy Amerika Serikat—yakni upaya untuk menanamkan nilai-nilai demokrasi liberal serta memperluas pengaruh budaya Amerika, termasuk di dunia Islam.

 

Ma’âsyiral Muslimîn rahimakumullâh,

Keterlibatan Amerika Serikat dalam dunia pendidikan Islam bukanlah fenomena baru, melainkan bagian dari strategi panjang yang berkaitan dengan politik global pasca tragedi 11 September 2001. Dalam laporan The U.S. Department of State’s Bureau of Counterterrorism (2022) disebutkan bahwa Indonesia merupakan mitra penting dalam upaya AS mempromosikan “Islam moderat” sebagai tandingan terhadap radikalisme. Laporan itu menegaskan bahwa “Amerika Serikat mendukung upaya Indonesia untuk mempromosikan Islam moderat melalui keterlibatan pesantren dan para ulama.” (state.gov/reports/country-reports-on-terrorism-2022). Dukungan ini sejalan dengan kebijakan luar negeri AS yang menempatkan pendidikan Islam sebagai sarana membangun pengaruh ideologis di dunia Muslim.

Salah satu dokumen yang menjadi landasan kebijakan tersebut adalah laporan RAND Corporation berjudul “Civil Democratic Islam: Partners, Resources, and Strategies” (2003), yang merekomendasikan agar Amerika mendukung kelompok Muslim moderat, melawan kaum fundamentalis, serta mempromosikan demokrasi, pluralisme, dan hak-hak perempuan. RAND membagi umat Islam ke dalam empat kelompok: fundamentalis, tradisionalis, modernis, dan sekuleris — dengan strategi memperkuat dua kelompok terakhir sebagai mitra ideologis Barat. Karena itu, pendekatan “moderasi beragama” yang kerap disandingkan dengan program beasiswa dan kerja sama pendidikan AS di pesantren sejatinya bukan semata kegiatan akademik, melainkan bagian dari soft diplomacy untuk menanamkan nilai-nilai sekuler-liberal ke dalam tubuh pendidikan Islam di Indonesia.

 

Ma’âsyiral Muslimîn rahimakumullâh,

Dalam konteks geopolitik global, Amerika Serikat memahami bahwa pesantren adalah benteng utama Islam di Indonesia sekaligus pusat pembentukan ideologi umat. Karena itu, lembaga ini menjadi target proyek religious reform dan counter-extremism. Dalam laporan USAID (2021) disebutkan bahwa “USAID bekerjasama dengan pesantren untuk memperkuat pendidikan kewarganegaraan, mempromosikan toleransi, dan mencegah narasi radikal.” (usaid.gov/indonesia). Ini menunjukkan bahwa pesantren kini diperlakukan sebagai arena strategis pembentukan pandangan keagamaan, di mana ide-ide seperti interfaith dialogue, gender equality, human rights, dan democratic citizenship perlahan diperkenalkan—semuanya berakar pada nilai-nilai sekuler-liberal, bukan ajaran Islam.

Bahaya ideologisnya tampak jelas karena Amerika Serikat, dengan ideologi kapitalisme-sekuler, menggunakan program seperti Fulbright dan “moderasi agama” untuk menanamkan nilai-nilai liberal ke dalam pendidikan Islam. Laporan RAND Corporation berjudul “Civil Democratic Islam” (2003) menegaskan bahwa Muslim moderat adalah mereka yang mendukung demokrasi, pluralisme, mengakui hak asasi manusia versi Barat dan hukum non-Islam, serta menolak jihad. Dengan demikian, “moderasi beragama” sejatinya bukan gagasan Islam, melainkan instrumen depolitisasi yang menjauhkan umat dari penerapan syariah secara kaaffah.

Islam sendiri telah memperingatkan bahaya menjalin hubungan ideologis dengan kaum kafir. Allah Subhanahu wata’ala berfirman:

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا لَا تَتَّخِذُوا الْكٰفِرِيْنَ اَوْلِيَاۤءَ مِنْ دُوْنِ الْمُؤْمِنِيْنَۚ

”Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah kalian menjadikan kaum kafir sebagai pemimpin/teman setia dengan meninggalkan kaum Mukmin” (QS. an-Nisâ’ [4]: 144).

Dan juga:

وَلَنْ يَّجْعَلَ اللّٰهُ لِلْكٰفِرِيْنَ عَلَى الْمُؤْمِنِيْنَ سَبِيْلًا

Allah sekali-kali tidak akan memberikan jalan bagi orang kafir untuk menguasai orang Mukmin.” (QS. an-Nisâ [4]: 141).

Ayat-ayat ini menegaskan larangan bagi umat Islam menyerahkan urusan pendidikan dan pembinaan generasi kepada pihak yang secara ideologis menentang Islam.

Rasulullah pun bersabda:

مَنْ تَشَبَّهَ بِقَوْمٍ فَهُوَ مِنْهُمْ

”Siapa saja yang menyerupai suatu kaum, maka ia termasuk bagian dari mereka.” (HR. Abu Dawud).

Hadits ini menegaskan pentingnya kewaspadaan ideologis agar umat tidak terpengaruh oleh pola pikir dan gaya hidup sekuler-liberal yang bertentangan dengan ajaran Islam.

 

Ma’âsyiral Muslimîn rahimakumullâh,

Dalam menghadapi pengaruh ideologi asing, pesantren harus teguh sebagai benteng akidah dan peradaban Islam di Indonesia.

Pertama, pesantren wajib selektif terhadap tawaran kerja sama internasional dan menolak program yang membawa misi sekuler-liberal seperti moderasi, demokrasi, pluralisme, atau kesetaraan gender versi Barat.

Kedua, pesantren perlu membangun jaringan pendidikan antar-lembaga Islam, baik lokal maupun internasional, yang berlandaskan nilai-nilai Islam.

Ketiga, perkuat kurikulum berbasis ideologi Islam agar santri tidak mudah terpengaruh paham asing.

Keempat, tingkatkan literasi geopolitik di kalangan asatidz dan santri agar mampu bersikap kritis terhadap setiap bentuk soft power dari luar.

Kelima, pesantren harus meneguhkan kemandiriannya sebagai penjaga kemurnian aqidah dan benteng dari arus sekularisasi pemikiran.

Keenam, pendidikan Islam harus diarahkan kembali pada pembentukan syakhsiyyah Islamiyyah—kepribadian Islam yang bertakwa, berilmu, dan berjuang menegakkan syariah secara kaaffah.

Pesantren bukan laboratorium ideologi Barat, melainkan jantung peradaban dan pusat kebangkitan Islam. Negara pun wajib melindungi dunia pendidikan dari proyek-proyek ideologis asing dan memperkuat pendidikan Islam sebagai dasar kebangkitan bangsa yang berlandaskan akidah Islam. WalLâhu a’lam bi ash-shawâb. []

 

بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِى اْلقُرْآنِ اْلعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الْآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيمِ وَتَقَبَّلَ اللهُ مِنَّا وَمِنْكُمْ تِلاَوَتَهُ وَإِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ العَلِيْمُ، وَأَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا فَأسْتَغْفِرُ اللهَ العَظِيْمَ إِنَّهُ هُوَ الغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ

 

KHUTBAH KEDUA

 

اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ عَلىَ إِحْسَانِهِ، وَالشُّكْرُ لَهُ عَلَى تَوْفِيْقِهِ وَاِمْتِنَانِهِ، وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ اِلٰهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الدَّاعِى إِلَى رِضْوَانِهِ، اللّٰهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى اٰلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَسَلِّمْ تَسْلِيْمًا كَثِيْرًا. أَمَّا بَعْدُ؛ فَياَ اَيُّهَا النَّاسُ اِتَّقُواللّٰهَ فِيْمَا أَمَرَ وَانْتَهُوْا عَمَّا نَهَى وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ بَدَأَ فِيْهِ بِنَفْسِهِ وَثَـنَّى بِمَلآ ئِكَتِهِ الْمُسَبِّحَةِ بِقُدْسِهِ، وَقَالَ تَعاَلَى: إِنَّ اللهَ وَمَلآئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلىَ النَّبِى يآ اَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا. اللهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِناَ مُحَمَّدٍ، وَعَلَى اَنْبِيآئِكَ وَرُسُلِكَ وَمَلآئِكَةِ اْلمُقَرَّبِيْنَ، وَارْضَ اللّٰهُمَّ عَنِ اْلخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ، أَبِى بَكْرٍ وَعُمَرَ وَعُثْمَانَ وَعَلِي، وَعَنْ بَقِيَّةِ الصَّحَابَةِ وَالتَّابِعِيْنَ، وَتَابِعِي التَّابِعِيْنَ لَهُمْ بِاِحْسَانٍ اِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ، وَارْضَ عَنَّا مَعَهُمْ بِرَحْمَتِكَ يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ.

اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَاْلمُؤْمِنَاتِ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَاْلمُسْلِمَاتِ اَلاَحْيآءَ مِنْهُمْ وَاْلاَمْوَاتِ، اللّٰهُمَّ أَعِزَّ اْلإِسْلاَمَ وَاْلمُسْلِمِيْنَ، وَأَذِلَّ الشِّرْكَ وَاْلمُشْرِكِيْنَ، وَانْصُرْ عِبَادَكَ اْلمُوَحِّدِيْنَ، وَانْصُرْ مَنْ نَصَرَ الدِّيْنَ، وَاخْذُلْ مَنْ خَذَلَ اْلمُسْلِمِيْنَ، وَدَمِّرْ أَعْدَاءَ الدِّيْنِ، وَاعْلِ كَلِمَاتِكَ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ.

اَللّٰهُمَّ يَا مُنْـزِلَ الْكِتَابِ وَمُهْزِمَ اْلأَحْزَابِ اِهْزِمِ اْليَهُوْدَ وَاَعْوَانَهُمْ وَصَلِيْبِيِّيْنَ وَاَنْصَارَهُمْ وَرَأْسُمَالِيِّيْنَ وَاِخْوَانَهُمْ وَاِشْتِرَاكِيِّيْنَ وَشُيُوْعِيِّيْنَ وَاَشْيَاعَهُمْ. اَللّٰهُمَّ نَجِّ إِخْوَانَنَا الْمُؤْمِنِيْنَ الْمُسْتَضْعَفِيْنَ فِي فَلَسْطِيْنَ وَفِي كُلِّ مَكَانٍ. اَللّٰهُمَّ انْصُرْ إخْوَانَنَا الْمُجَاهِدِيْنَ فِي سَبِيْلِكَ عَلَى أَعْدَائِهِمْ.

اَللّٰهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ دَوْلَةَ الْخِلاَفَةِ عَلَى مِنْهَاجِ النُّبُوَّةِ تُعِزُّ بِهَا اْلإِسْلاَمَ وَاَهْلَهُ وَتُذِلُّ بِهَا الْكُفْرَ وَاَهْلَهُ، وَ اجْعَلْنَا مِنَ الْعَامِلِيْنَ الْمُخْلِصِيْنَ بِإِقَامَتِهَا بِإِذْنِكَ يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ.

اللّٰهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا الْغَلَاءَ وَاْلبَلاَءَ وَاْلوَبَاءَ وَالزَّلاَزِلَ وَاْلمِحَنَ، وَسُوْءَ اْلفِتْنَةِ وَاْلمِحَنَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ، عَنْ بَلَدِنَا اِنْدُونِيْسِيَّا خآصَّةً وَسَائِرِ بُلْدَانِ اْلمُسْلِمِيْنَ عآمَّةً يَا رَبَّ اْلعَالَمِيْنَ، رَبَّنَا آتِناَ فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِى اْلآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ، رَبَّنَا ظَلَمْنَا اَنْفُسَنَا وَإنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُوْنَنَّ مِنَ اْلخَاسِرِيْنَ.

عِبَادَ اللهِ ! إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِاْلعَدْلِ وَاْلإِحْسَانِ وَإِيْتآءِ ذِي اْلقُرْبىَ وَيَنْهَى عَنِ اْلفَحْشآءِ وَاْلمُنْكَرِ وَاْلبَغْي يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ، وَاذْكُرُوا اللهَ اْلعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ، وَاسْأَلُوْهُ مِنْ فَضْلِهِ يُعْطِكُمْ، وَاشْكُرُوْهُ عَلىَ نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ، وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرْ

SOLUSI DUA NEGARA:  HARAM DAN KHIANAT!

SOLUSI DUA NEGARA: HARAM DAN KHIANAT!

SOLUSI DUA NEGARA: HARAM DAN KHIANAT!

SOLUSI DUA NEGARA:

HARAM DAN KHIANAT!

 

KHUTBAH PERTAMA

 

اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ، نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَسَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ. أَشْهَدُ أَنْ لَا اِلٰهَ اِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لَاشَرِيْكَ لَهُ، شَهَادَةَ مَنْ هُوَ خَيْرٌ مَّقَامًا وَأَحْسَنُ نَدِيًّا. وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الْمُتَّصِفُ بِالْمَكَارِمِ كِبَارًا وَصَبِيًّا.

اللهُمَّ فَصَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَانَ صَادِقَ الْوَعْدِ وَكَانَ رَسُوْلًا نَبِيًّا، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ الَّذِيْنَ يُحْسِنُوْنَ إِسْلاَمَهُمْ وَلَمْ يَفْعَلُوْا شَيْئًا فَرِيًّا. أَمَّا بَعْدُ؛ فَيَا أَيُّهَا الْحَاضِرُوْنَ رَحِمَكُمُ اللهُ، اُوْصِيْنِيْ نَفْسِيْ وَإِيَّاكُمْ بِتَقْوَى اللهِ، فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ. قَالَ اللهُ تَعَالَى:

وَلَا تَرْكَنُوْٓا اِلَى الَّذِيْنَ ظَلَمُوْا فَتَمَسَّكُمُ النَّارُۙ وَمَا لَكُمْ مِّنْ دُوْنِ اللّٰهِ مِنْ اَوْلِيَاۤءَ ثُمَّ لَا تُنْصَرُوْنَ ۝١١٣ (هُوْدٌ) 

Alhamdulillâhi Rabbil ‘Âlamin, Segala puji bagi Allah Subhânahu Wa Ta’âlâ yang telah menganugerahkan kita nikmat iman dan Islam, serta mempertemukan kita di tempat yang diberkahi ini. Shalawat dan salam semoga senantiasa tercurah kepada junjungan kita, Nabi Muhammad Shallallâhu ‘alaihi wasallam, beserta keluarga, sahabat, dan seluruh umatnya hingga akhir zaman.

Bertakwalah kepada Allah Subhânahu Wa Ta’âlâ dengan sebenar-benarnya takwa sebagaimana firman-Nya:

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا اتَّقُوا اللّٰهَ حَقَّ تُقٰىتِهٖ وَلَا تَمُوْتُنَّ اِلَّا وَاَنْتُمْ مُّسْلِمُوْنَ

“Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dengan sebenar-benar takwa kepada-Nya dan janganlah kamu mati kecuali dalam keadaan muslim.” (QS. Âli Imrân [3]: 102).

 

Sungguh takwa adalah benteng terakhir kita di tengah kehidupan akhir zaman saat ini. Dan sungguh, hanya dengan takwa kita akan selamat di dunia dan akhirat.

 

Ma’âsyiral Muslimîn rahimakumullâh,

Di hadapan dunia internasional, Presiden Indonesia ke-8 Prabowo Subianto untuk pertama kalinya berpidato di Sidang Umum ke-80 Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) yang digelar di markas besar PBB, New York, pada 23 September 2025. Dalam kesempatan itu, Prabowo menyoroti krisis kemanusiaan yang masih berlangsung di Gaza. Ia mengecam segala bentuk kekerasan terhadap warga sipil yang tidak berdosa, meski tidak secara langsung menyebut tindakan genosida oleh zionis Israel. Lebih jauh, Prabowo menegaskan dukungan Indonesia terhadap solusi dua negara dengan menyatakan, “Hanya solusi dua negara yang akan membawa perdamaian. Kita harus menjamin kenegaraan Palestina. Namun, Indonesia juga menyatakan bahwa setelah Israel mengakui kemerdekaan dan kenegaraan Palestina, Indonesia akan segera mengakui negara Israel.”

Prabowo juga menambahkan, “Saya juga terang-terangan mengatakan perdamaian hanya bisa datang kalau semua orang mengakui, menghormati dan menjamin keamanan Israel. Israel harus dijamin keamanannya, baru kita bisa dapat perdamaian.” Pidato ini mendapat sambutan positif dari berbagai kalangan, termasuk dari Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu. Netanyahu menyebut pernyataan Prabowo sebagai dorongan semangat, sekaligus menilai sikap Indonesia—sebagai negara dengan penduduk Muslim terbesar di dunia—sebagai sinyal penting bagi masa depan hubungan Israel–Palestina.

 

Ma’âsyiral Muslimîn rahimakumullâh,

Isu Palestina kembali menjadi sorotan setelah pidato Presiden Prabowo Subianto di Sidang Umum ke-80 PBB di New York (23/9/2025). Dalam pidato tersebut, Prabowo menyatakan dukungan terhadap solusi dua negara serta kesiapan Indonesia mengakui Israel jika Palestina diakui kemerdekaannya. Pernyataan ini mengejutkan banyak pihak karena dinilai bertentangan dengan fakta sejarah, kondisi nyata di Palestina, bahkan prinsip Pembukaan UUD 1945 yang menegaskan bahwa penjajahan harus dihapuskan karena tidak sesuai dengan perikemanusiaan dan perikeadilan.

Pertama, keberadaan negara Israel di tanah Palestina sejak awal adalah ilegal. Israel berdiri di atas tanah rampasan melalui dukungan Inggris lewat Deklarasi Balfour 1917, diikuti perampasan, pengusiran, dan pembantaian terhadap rakyat Palestina. Peristiwa Nakba 1948 menjadi bukti jelas, ketika lebih dari 700 ribu warga Palestina terusir dan tanah serta rumah mereka dirampas. Padahal, sejak 637 M wilayah Palestina telah menjadi bagian dari negeri Muslim di bawah Kekhilafahan Umar bin al-Khaththab radhiyallahu ’anhu, sehingga kedatangan entitas Yahudi hanyalah sebagai penjajah.

Kedua, pengakuan atas Israel melalui solusi dua negara dianggap mencederai keadilan rakyat Palestina. Saat ini, rakyat Palestina hanya menempati kurang dari 22% wilayah asalnya, sementara 78% dikuasai zionis Yahudi. Dengan demikian, solusi dua negara berarti melegalkan penjarahan besar-besaran yang dilakukan Israel. Lebih ironis lagi, justru muncul seruan agar keamanan Israel dihormati, padahal mereka adalah agresor yang melakukan genosida—hingga kini diperkirakan sudah 66 ribu warga Gaza gugur dan ribuan lainnya luka-luka.

Ketiga, zionis Israel sendiri secara tegas menolak eksistensi negara Palestina. Pada Juli 2024, Parlemen Israel (Knesset) mengesahkan resolusi menolak pendirian negara Palestina, didukung 68 suara berbanding 9. Bahkan, di forum PBB, PM Benjamin Netanyahu menyebut pengakuan negara Palestina sebagai kesalahan fatal. Fakta ini menunjukkan solusi dua negara hanyalah ilusi. Sejak awal, konsep tersebut dirancang Inggris melalui Komisi Peel (1936) untuk melanggengkan eksistensi Israel di tanah rampasan. Karena itu, solusi dua negara bukanlah jalan damai, melainkan justru legalisasi penjajahan yang bisa menjadi preseden buruk bagi konflik internasional lain.

 

Ma’âsyiral Muslimîn rahimakumullâh,

Persoalan Palestina terus menjadi perhatian dunia, terlebih setelah kembali diusulkannya solusi dua negara yang merupakan bentuk pengkhianatan terhadap perjuangan rakyat Palestina. Solusi ini bukanlah keinginan penduduk Palestina, melainkan hasil rancangan penjajah sejak era kolonial Inggris. Sejarah mencatat, Palestina adalah bagian dari wilayah Islam sejak masa Khalifah Umar bin al-Khaththab radhiyallahu ’anhu. tahun 637 M. Kedatangan zionis Yahudi ke Palestina terjadi melalui fasilitasi Inggris lewat Deklarasi Balfour 1917, yang kemudian berlanjut dengan pengusiran, perampasan, hingga tragedi Nakba 1948 yang mengusir lebih dari 700 ribu warga Palestina. Dengan demikian, berdirinya Israel sejak awal adalah bentuk penjajahan yang jelas bertentangan dengan amanat UUD 1945 yang menolak segala bentuk kolonialisme.

Dari perspektif syariah Islam, solusi dua negara juga dinilai bertentangan dengan perintah Allah Subhânahu Wa Ta’âlâ untuk melawan agresi dan pengusiran. Firman-Nya:

وَاقْتُلُوْهُمْ حَيْثُ ثَقِفْتُمُوْهُمْ وَاَخْرِجُوْهُمْ مِّنْ حَيْثُ اَخْرَجُوْكُمْ

”Perangilah mereka di mana saja kalian jumpai mereka dan usirlah mereka dari tempat mereka telah mengusir kalian” (QS. al-Baqarah [2]: 191).

Allah Subhânahu Wa Ta’âlâ juga berfirman:

 فَمَنِ اعْتَدٰى عَلَيْكُمْ فَاعْتَدُوْا عَلَيْهِ بِمِثْلِ مَا اعْتَدٰى عَلَيْكُمْۖ

”Siapa saja yang menyerang kalian, maka seranglah dia seimbang dengan serangannya terhadap kalian” (QS. al-Baqarah [2]: 194).

Berdasarkan ayat di atas, jihad fi sabilillah adalah fardu ‘ain saat negeri kaum Muslim—seperti Gaza dan Palestina saat ini—diserang atau dijajah. Para Sahabat Nabi Shallallâhu ‘alaihi wasallam telah berijmak atas kewajiban kaum Muslim secara bersama-sama untuk memerangi dan mengusir musuh-musuh mereka yang menyerang dan menjajah negeri mereka.

Sejarah dan syariah Islam dengan jelas menunjukkan kewajiban kaum Muslim untuk melawan penjajahan. Imam Ibnu Qudamah al-Maqdisi (wafat 620H) menegaskan bahwa jika kaum kafir menduduki negeri kaum Muslim maka penduduknya wajib memerangi mereka, dan jika tidak mampu kewajiban itu meluas kepada kaum Muslim di sekitarnya (Al-Mughni, 9/228). Namun, perintah Allah Subhânahu Wa Ta’âlâ ini justru dicampakkan oleh para penguasa Muslim saat ini. Sebagian malah membuka hubungan diplomatik dengan entitas Yahudi, menyokong militer zionis dengan perdagangan, bahkan menerima solusi dua negara. Padahal Allah Subhânahu Wa Ta’âlâ telah berfirman:

وَلَا تَرْكَنُوْٓا اِلَى الَّذِيْنَ ظَلَمُوْا فَتَمَسَّكُمُ النَّارُۙ

”Janganlah kalian condong kepada orang-orang yang zalim sehingga kalian nanti akan disentuh api neraka” (QS. Hûd [11]: 113).

Karena itu, krisis Palestina tidak mungkin diselesaikan oleh PBB ataupun para penguasa Muslim yang lemah hari ini. Umat membutuhkan kepemimpinan Islam global (Khilafah) yang akan menjaga darah kaum Muslim, melindungi wilayah mereka, dan memimpin jihad fi sabilillah. Imam al-Mawardi (wafat 450H) menyatakan bahwa termasuk kewajiban kepemimpinan adalah menjaga benteng umat, membela kehormatan kaum Muslim, dan berjihad melawan musuh (Al-Akām as-Sulthāniyyah, hal. 27). Dengan demikian, satu-satunya jalan sahih bagi pembebasan Palestina adalah jihad fi sabilillah di bawah kepemimpinan Khilafah Islamiyah. WalLâhu a’lam bi ash-shawâb. []

 

بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِى اْلقُرْآنِ اْلعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الْآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيمِ وَتَقَبَّلَ اللهُ مِنَّا وَمِنْكُمْ تِلاَوَتَهُ وَإِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ العَلِيْمُ، وَأَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا فَأسْتَغْفِرُ اللهَ العَظِيْمَ إِنَّهُ هُوَ الغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ

 

KHUTBAH KEDUA

 

اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ عَلىَ إِحْسَانِهِ، وَالشُّكْرُ لَهُ عَلَى تَوْفِيْقِهِ وَاِمْتِنَانِهِ، وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ اِلٰهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الدَّاعِى إِلَى رِضْوَانِهِ، اللّٰهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى اٰلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَسَلِّمْ تَسْلِيْمًا كَثِيْرًا. أَمَّا بَعْدُ؛ فَياَ اَيُّهَا النَّاسُ اِتَّقُواللّٰهَ فِيْمَا أَمَرَ وَانْتَهُوْا عَمَّا نَهَى وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ بَدَأَ فِيْهِ بِنَفْسِهِ وَثَـنَّى بِمَلآ ئِكَتِهِ الْمُسَبِّحَةِ بِقُدْسِهِ، وَقَالَ تَعاَلَى: إِنَّ اللهَ وَمَلآئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلىَ النَّبِى يآ اَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا. اللهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِناَ مُحَمَّدٍ، وَعَلَى اَنْبِيآئِكَ وَرُسُلِكَ وَمَلآئِكَةِ اْلمُقَرَّبِيْنَ، وَارْضَ اللّٰهُمَّ عَنِ اْلخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ، أَبِى بَكْرٍ وَعُمَرَ وَعُثْمَانَ وَعَلِي، وَعَنْ بَقِيَّةِ الصَّحَابَةِ وَالتَّابِعِيْنَ، وَتَابِعِي التَّابِعِيْنَ لَهُمْ بِاِحْسَانٍ اِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ، وَارْضَ عَنَّا مَعَهُمْ بِرَحْمَتِكَ يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ.

اللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَاْلمُؤْمِنَاتِ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَاْلمُسْلِمَاتِ اَلاَحْيآءَ مِنْهُمْ وَاْلاَمْوَاتِ، اللّٰهُمَّ أَعِزَّ اْلإِسْلاَمَ وَاْلمُسْلِمِيْنَ، وَأَذِلَّ الشِّرْكَ وَاْلمُشْرِكِيْنَ، وَانْصُرْ عِبَادَكَ اْلمُوَحِّدِيْنَ، وَانْصُرْ مَنْ نَصَرَ الدِّيْنَ، وَاخْذُلْ مَنْ خَذَلَ اْلمُسْلِمِيْنَ، وَدَمِّرْ أَعْدَاءَ الدِّيْنِ، وَاعْلِ كَلِمَاتِكَ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ.

اللّٰهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا الْغَلَاءَ وَاْلبَلاَءَ وَاْلوَبَاءَ وَالزَّلاَزِلَ وَاْلمِحَنَ، وَسُوْءَ اْلفِتْنَةِ وَاْلمِحَنَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ، عَنْ بَلَدِنَا اِنْدُونِيْسِيَّا خآصَّةً وَسَائِرِ بُلْدَانِ اْلمُسْلِمِيْنَ عآمَّةً يَا رَبَّ اْلعَالَمِيْنَ، رَبَّنَا آتِناَ فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِى اْلآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ، رَبَّنَا ظَلَمْنَا اَنْفُسَنَا وَإنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُوْنَنَّ مِنَ اْلخَاسِرِيْنَ.

عِبَادَ اللهِ ! إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِاْلعَدْلِ وَاْلإِحْسَانِ وَإِيْتآءِ ذِي اْلقُرْبىَ وَيَنْهَى عَنِ اْلفَحْشآءِ وَاْلمُنْكَرِ وَاْلبَغْي يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ، وَاذْكُرُوا اللهَ اْلعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ، وَاسْأَلُوْهُ مِنْ فَضْلِهِ يُعْطِكُمْ، وَاشْكُرُوْهُ عَلىَ نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ، وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرْ

UPDATE INFORMASI TERBARU