MENGATASI KRISIS PENDIDIKAN KARAKTER DI INDONESIA
MENGATASI KRISIS
PENDIDIKAN KARAKTER DI INDONESIA
KHUTBAH PERTAMA
اللهُمَّ
فَصَلِّ
وَسَلِّمْ
عَلَى سَيِّدِنَا
مُحَمَّدٍ
كَانَ
صَادِقَ
الْوَعْدِ وَكَانَ
رَسُوْلًا
نَبِيًّا، وَعَلَى
آلِهِ
وَصَحْبِهِ
الَّذِيْنَ
يُحْسِنُوْنَ
إِسْلاَمَهُمْ
وَلَمْ
يَفْعَلُوْا
شَيْئًا
فَرِيًّا. أَمَّا
بَعْدُ؛
فَيَا
أَيُّهَا
الْحَاضِرُوْنَ
رَحِمَكُمُ
اللهُ،
اُوْصِيْنِيْ
نَفْسِيْ
وَإِيَّاكُمْ
بِتَقْوَى
اللهِ،
فَقَدْ فَازَ
الْمُتَّقُوْنَ.
قَالَ اللهُ
تَعَالَى:
وَمَنْ
اَعْرَضَ
عَنْ
ذِكْرِيْ
فَاِنَّ لَهٗ
مَعِيْشَةً
ضَنْكًا
وَّنَحْشُرُهٗ
يَوْمَ
الْقِيٰمَةِ
اَعْمٰى ١٢٤
(طٰهٰ)
Alhamdulillâhi
Rabbil ‘Âlamin, Segala puji bagi Allah Subhânahu Wa Ta’âlâ yang
telah menganugerahkan kita nikmat iman dan Islam, serta mempertemukan kita di
tempat yang diberkahi ini. Shalawat dan salam semoga senantiasa tercurah kepada
junjungan kita, Nabi Muhammad Shallallâhu ‘alaihi wasallam, beserta
keluarga, sahabat, dan seluruh umatnya hingga akhir zaman.
Bertakwalah kepada
Allah Subhânahu Wa Ta’âlâ dengan sebenar-benarnya takwa sebagaimana
firman-Nya:
يٰٓاَيُّهَا
الَّذِيْنَ
اٰمَنُوا
اتَّقُوا
اللّٰهَ
حَقَّ
تُقٰىتِهٖ
وَلَا
تَمُوْتُنَّ
اِلَّا
وَاَنْتُمْ
مُّسْلِمُوْنَ
“Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada
Allah dengan sebenar-benar takwa kepada-Nya dan janganlah kamu mati kecuali
dalam keadaan muslim.”
(QS. Âli
Imrân
[3]: 102).
Sungguh takwa adalah
benteng terakhir kita di tengah kehidupan akhir zaman saat ini. Dan sungguh,
hanya dengan takwa kita akan selamat di dunia dan akhirat.
Ma’âsyiral Muslimîn rahimakumullâh,
Krisis pendidikan karakter di
Indonesia semakin menunjukkan gejala yang mengkhawatirkan. Dunia pendidikan
yang seharusnya menjadi wadah pembentukan generasi berilmu dan berakhlak justru
kerap memunculkan potret buram perilaku moral. Fenomena hilangnya rasa hormat
terhadap guru, lemahnya empati antar pelajar, dan semakin kaburnya batas antara
benar dan salah menjadi tanda serius rapuhnya fondasi karakter bangsa.
Baru-baru ini, seorang kepala sekolah dilaporkan ke polisi hanya karena menegur
dan menampar siswa yang merokok di sekolah. Ironisnya, ratusan siswa justru
membela pelaku pelanggaran dengan melakukan mogok massal dan menuntut pemecatan
kepala sekolah. Di sisi lain, seorang mahasiswa Universitas Udayana bunuh diri
diduga akibat perundungan, bahkan setelah meninggal tetap menjadi bahan olokan
di grup WhatsApp kampus. Dua peristiwa ini menunjukkan betapa dalam krisis
moral yang melanda dunia pendidikan kita.
Lebih memilukan lagi, media arus
utama pun turut berperan dalam menurunkan nilai-nilai luhur tersebut. Salah
satu tayangan di Trans7 bahkan menggambarkan adab santri yang menghormati guru
sebagai budaya feodal yang tak pantas dipertahankan. Padahal dalam Islam,
penghormatan murid kepada guru merupakan bagian dari adab mulia sebagaimana
sabda Nabi ﷺ:
لَيْسَ
مِنَّا مَنْ
لَمْ
يُوَقِّرْ
كَبِيرَنَا،
وَيَرْحَمْ
صَغِيرَنَا،
وَيَعْرِفْ
لِعَالِمِنَا
حَقَّهُ
“Bukan
termasuk golongan kami orang yang tidak memuliakan yang tua, tidak menyayangi
yang muda, dan tidak mengetahui hak orang alim di antara kita” (Al-Qurthubi, Al-Jami’ li Ahkaam al-Qur’aan, 17/241).
Pendidikan sejati dalam Islam bukan
sekadar transfer ilmu, melainkan proses pembentukan karakter dan akhlak yang
berakar kuat pada akidah Islam.
Ma’âsyiral Muslimîn
rahimakumullâh,
Akar krisis pendidikan karakter di
Indonesia sejatinya terletak pada penerapan sistem pendidikan sekuler—sistem
yang memisahkan agama dari kehidupan. Akibatnya, orientasi spiritual dan moral
terhapus dari dunia pendidikan, menjadikan tujuan belajar semata demi mencari
pekerjaan, bukan pembentukan kepribadian mulia. Tak hanya siswa, banyak guru
pun terseret arus krisis moral. Kasus kekerasan, pelecehan, hingga korupsi di
dunia pendidikan menunjukkan bahwa sebagian pendidik belum mampu menjadi
teladan. Imam al-Qusyairi
mengingatkan,
وَمَنْ لَمْ
يُؤَدِّبْ
نَفْسَهُ لَمْ
يَتَأَدَّبْ
بِهِ غَيْرُهُ
“Siapa
saja yang tidak bisa menanamkan adab pada dirinya, maka orang lain tidak
mungkin mempelajari adab darinya” (Tafsir
al-Qusyairi, 2/36). Semua ini merupakan buah dari sistem pendidikan sekuler
yang berpaling dari Al-Qur’an, sebagaimana firman Allah Subhanahu wata’ala:
وَمَنْ
اَعْرَضَ
عَنْ
ذِكْرِيْ
فَاِنَّ لَهٗ
مَعِيْشَةً
ضَنْكًا
”Siapa saja yang berpaling dari
peringatan-Ku (al-Quran), maka sesungguhnya bagi dia kehidupan yang sempit.”
(QS Thâhâ [20]: 124).
Dalam pandangan Islam, pendidikan
bukan sekadar mencetak manusia cerdas, tetapi membentuk insan berkepribadian
Islam (syakhshiyyah islâmiyyah), yaitu pola pikir dan pola sikap
yang berpijak pada akidah Islam. Hal ini ditegaskan dalam firman Allah
Subhanahu wata’ala:
هُوَ
الَّذِيْ
بَعَثَ فِى
الْاُمِّيّٖنَ
رَسُوْلًا
مِّنْهُمْ
يَتْلُوْا
عَلَيْهِمْ
اٰيٰتِهٖ
وَيُزَكِّيْهِمْ
وَيُعَلِّمُهُمُ
الْكِتٰبَ
وَالْحِكْمَةَ
وَاِنْ كَانُوْا
مِنْ قَبْلُ
لَفِيْ
ضَلٰلٍ
مُّبِيْنٍۙ
”Dialah (Allah) yang mengutus
di tengah-tengah kaum yang ummi seorang rasul dari kalangan mereka. Dia
(bertugas) membacakan kepada mereka ayat-ayat-Nya, menyucikan (jiwa/diri)
mereka, serta mengajari mereka al-Quran dan hikmah; sementara mereka sebelumnya
benar-benar ada dalam kesesatan yang nyata.” (QS. al-Jum’ah [62]: 2).
Rasulullah ﷺ pun bersabda,
إِنَّمَا بُعِثْتُ لِأُتَمِّمَ مَكَارِمَ الأَخْلَاقِ
”Sesungguhnya aku diutus
hanyalah untuk menyempurnakan akhlak yang mulia.” (HR al-Bazzaar dan al-Baihaqi).
Dengan demikian, pendidikan dalam Islam memiliki misi utama: membina akhlak
mulia dan kesucian jiwa agar manusia menjadi hamba yang taat kepada Allah
Subhanahu wata’ala.
Sebaliknya, sistem pendidikan
sekuler yang memisahkan ilmu dari iman melahirkan generasi yang mungkin cerdas
secara intelektual, tetapi miskin akhlak. Karena itu, para ulama klasik
menekankan pentingnya adab sebelum ilmu, sebagaimana dikatakan:
تَعَلَّمُوا
الْأَدَبَ
قَبْلَ أَنْ
تَتَعَلَّمُوا
الْعِلْمَ
“Pelajarilah
adab sebelum kalian mempelajari ilmu” (Ibn ‘Abd al-Barr, Jaami‘ Bayaan al-‘Ilm wa
Fadlih, 1/164). Adab adalah fondasi ilmu yang membentuk generasi berilmu, beriman,
dan bertakwa. Sistem pendidikan Islam menempatkan akidah sebagai asas segala
ilmu, mengarahkan seluruh potensi peserta didik untuk beramal dan berkarya demi
meraih ridha Allah Subhanahu wata’ala.
Ma’âsyiral Muslimîn
rahimakumullâh,
Sejarah mencatat bahwa sistem
pendidikan Islam pernah mencapai masa keemasan selama berabad-abad di bawah
naungan Khilafah, khususnya pada era ‘Abbasiyah. Negara berperan aktif sebagai
pelopor pendidikan dengan membangun ribuan madrasah, perpustakaan, dan pusat
riset yang terbuka secara gratis bagi seluruh rakyat. Semua itu berlandaskan
akidah Islam yang kokoh, menjadikan pendidikan bukan sekadar sarana ilmu,
tetapi juga pembinaan iman dan akhlak. Khalifah al-Ma’mun mendirikan Baitul
Hikmah di Baghdad yang menjadi pusat ilmu pengetahuan dunia pada abad ke-9 M.
Dari sana lahir ilmuwan sekaligus ulama besar di berbagai bidang seperti
matematika, kimia, astronomi, kedokteran, fiqih, dan tafsir. Mereka bukan hanya
cerdas secara intelektual, tetapi juga memiliki ketakwaan dan akhlak mulia.
Para ulama dan ilmuwan muslim kala
itu menghasilkan karya monumental yang dikaji lintas generasi. Ibn Katsir
mencatat bahwa dunia Islam pada masa itu “dipenuhi oleh para ulama dan pelajar”
(Al-Bidaayah wa an-Nihaayah, 10/279). Sistem pendidikan di bawah
Khilafah berhasil memadukan kemajuan sains dengan spiritualitas Islam, karena
seluruh kebijakan pendidikan berasaskan akidah dan syariah. Ilmu dan iman
berjalan seiring, melahirkan peradaban gemilang yang menyeimbangkan kemajuan
intelektual dan kemuliaan moral.
Dalam pandangan Islam, negara
memiliki tanggung jawab langsung untuk menyediakan pendidikan gratis dan
berkualitas bagi rakyatnya. Rasulullah ﷺ bersabda:
الإِمَامُ
رَاعٍ وَهُوَ
مَسْئُولٌ
عَنْ رَعِيَّتِهِ
“Imam
(Khalifah) adalah pemimpin dan ia bertanggung jawab atas rakyat yang ia pimpin”
(HR al-Bukhari dan Muslim). Imam al-Mawardi menegaskan bahwa di
antara tanggung jawab pemimpin adalah memenuhi seluruh kemaslahatan rakyat,
termasuk pendidikan (Al-Ahkaam as-Sulthaaniyyah, hal.27).
Karena itu, hanya sistem pemerintahan Islam yang menjadikan akidah sebagai asas
dan syariah sebagai pilar utamanya yang mampu mewujudkan pendidikan berkualitas
sekaligus membentuk manusia beriman, berilmu, dan berakhlak mulia. Sebaliknya,
dalam sistem kapitalis-demokrasi-sekuler saat ini, pendidikan kehilangan ruh
spiritualnya dan cenderung bersifat materialistik.
Ma’âsyiral Muslimîn
rahimakumullâh,
Melihat realitas yang ada, jelas
bahwa krisis pendidikan karakter di Indonesia bukan sekadar persoalan teknis
atau perilaku individu, melainkan masalah sistemik yang bersumber dari akar
sekularisme. Upaya seperti revisi kurikulum, pelatihan guru, atau penambahan
jam pelajaran agama hanya bersifat tambal
sulam, tidak menyentuh akar masalahnya. Sistem pendidikan sekuler telah
gagal melahirkan manusia bertakwa karena memisahkan ilmu dari iman. Solusi
sejatinya adalah mengganti sistem pendidikan sekuler dengan sistem pendidikan
Islam yang berlandaskan akidah dan syariah Islam, sebagaimana diterapkan pada
masa kejayaan Khilafah. Hanya dengan sistem pemerintahan Islam yang menerapkan
syariah secara kaaffah, pendidikan akan kembali melahirkan generasi beriman, berilmu,
dan beradab—generasi khayru ummah yang menebarkan kebaikan dan kemuliaan.
Allah Subhanahu wata’ala berfirman:
اَفَحُكْمَ
الْجَاهِلِيَّةِ
يَبْغُوْنَۗ
وَمَنْ
اَحْسَنُ
مِنَ اللّٰهِ
حُكْمًا لِّقَوْمٍ
يُّوْقِنُوْنَ
”Apakah sistem hukum Jahiliah
yang mereka kehendaki? (Hukum) siapakah yang lebih baik daripada hukum Allah
bagi kaum yang yakin?” (QS. al-Ma’idah [5]: 50).
Ayat ini menegaskan bahwa
hanya dengan penerapan syariah Islam secara kaaffah oleh institusi negara,
pendidikan akan kembali bersinar dan menjadi sumber peradaban yang mulia.
Negara Islam akan menjadi pelindung ilmu, penjaga adab, dan penegak keadilan, melahirkan
generasi ulama dan mujahid yang membawa cahaya Islam ke seluruh penjuru dunia,
menebarkan rahmat bagi seluruh alam. WalLâhu a’lam bi ash-shawâb. []
بَارَكَ
اللهُ لِيْ
وَلَكُمْ فِى
اْلقُرْآنِ
اْلعَظِيْمِ،
وَنَفَعَنِيْ
وَإِيَّاكُمْ
بِمَا فِيْهِ
مِنَ
الْآيَاتِ
وَالذِّكْرِ
الْحَكِيمِ
وَتَقَبَّلَ
اللهُ مِنَّا
وَمِنْكُمْ
تِلاَوَتَهُ
وَإِنَّهُ
هُوَ
السَّمِيْعُ
العَلِيْمُ،
وَأَقُوْلُ
قَوْلِيْ
هَذَا
فَأسْتَغْفِرُ
اللهَ
العَظِيْمَ
إِنَّهُ هُوَ
الغَفُوْرُ
الرَّحِيْمُ
KHUTBAH
KEDUA
اَلْحَمْدُ
لِلّٰهِ عَلىَ
إِحْسَانِهِ،
وَالشُّكْرُ
لَهُ عَلَى
تَوْفِيْقِهِ
وَاِمْتِنَانِهِ،
وَأَشْهَدُ
أَنْ لاَ
اِلٰهَ
إِلاَّ اللهُ
وَحْدَهُ لاَ
شَرِيْكَ
لَهُ،
وَأَشْهَدُ
أنَّ سَيِّدَنَا
مُحَمَّدًا
عَبْدُهُ
وَرَسُوْلُهُ
الدَّاعِى
إِلَى
رِضْوَانِهِ،
اللّٰهُمَّ صَلِّ
عَلَى
سَيِّدِنَا
مُحَمَّدٍ
وَعَلَى
اٰلِهِ
وَأَصْحَابِهِ
وَسَلِّمْ
تَسْلِيْمًا
كَثِيْرًا. أَمَّا
بَعْدُ؛
فَياَ
اَيُّهَا
النَّاسُ اِتَّقُواللّٰهَ
فِيْمَا
أَمَرَ
وَانْتَهُوْا
عَمَّا نَهَى
وَاعْلَمُوْا
أَنَّ اللهَ
أَمَرَكُمْ
بِأَمْرٍ
بَدَأَ
فِيْهِ بِنَفْسِهِ
وَثَـنَّى
بِمَلآ
ئِكَتِهِ
الْمُسَبِّحَةِ
بِقُدْسِهِ،
وَقَالَ
تَعاَلَى:
إِنَّ اللهَ
وَمَلآئِكَتَهُ
يُصَلُّوْنَ
عَلىَ النَّبِى
يآ اَيُّهَا
الَّذِيْنَ
آمَنُوْا
صَلُّوْا
عَلَيْهِ
وَسَلِّمُوْا
تَسْلِيْمًا. اللهُمَّ
صَلِّ عَلَى
سَيِّدِنَا
مُحَمَّدٍ
وَعَلَى آلِ
سَيِّدِناَ
مُحَمَّدٍ،
وَعَلَى
اَنْبِيآئِكَ
وَرُسُلِكَ
وَمَلآئِكَةِ
اْلمُقَرَّبِيْنَ،
وَارْضَ اللّٰهُمَّ
عَنِ
اْلخُلَفَاءِ
الرَّاشِدِيْنَ،
أَبِى بَكْرٍ
وَعُمَرَ
وَعُثْمَانَ
وَعَلِي، وَعَنْ
بَقِيَّةِ
الصَّحَابَةِ
وَالتَّابِعِيْنَ،
وَتَابِعِي
التَّابِعِيْنَ
لَهُمْ
بِاِحْسَانٍ
اِلَى يَوْمِ
الدِّيْنِ،
وَارْضَ
عَنَّا
مَعَهُمْ
بِرَحْمَتِكَ
يَا أَرْحَمَ
الرَّاحِمِيْنَ.
اَللّٰهُمَّ
اغْفِرْ
لِلْمُؤْمِنِيْنَ
وَاْلمُؤْمِنَاتِ
وَاْلمُسْلِمِيْنَ
وَاْلمُسْلِمَاتِ
اَلاَحْيآءَ
مِنْهُمْ
وَاْلاَمْوَاتِ،
اللّٰهُمَّ أَعِزَّ
اْلإِسْلاَمَ
وَاْلمُسْلِمِيْنَ،
وَأَذِلَّ
الشِّرْكَ
وَاْلمُشْرِكِيْنَ،
وَانْصُرْ
عِبَادَكَ
اْلمُوَحِّدِيْنَ،
وَانْصُرْ
مَنْ نَصَرَ
الدِّيْنَ،
وَاخْذُلْ
مَنْ خَذَلَ
اْلمُسْلِمِيْنَ،
وَدَمِّرْ
أَعْدَاءَ
الدِّيْنِ،
وَاعْلِ
كَلِمَاتِكَ
إِلَى يَوْمِ
الدِّيْنِ.
اَللّٰهُمَّ
يَا
مُنْـزِلَ
الْكِتَابِ
وَمُهْزِمَ
اْلأَحْزَابِ
اِهْزِمِ
اْليَهُوْدَ
وَاَعْوَانَهُمْ
وَصَلِيْبِيِّيْنَ
وَاَنْصَارَهُمْ
وَرَأْسُمَالِيِّيْنَ
وَاِخْوَانَهُمْ
وَاِشْتِرَاكِيِّيْنَ
وَشُيُوْعِيِّيْنَ
وَاَشْيَاعَهُمْ.
اَللّٰهُمَّ
نَجِّ
إِخْوَانَنَا
الْمُؤْمِنِيْنَ
الْمُسْتَضْعَفِيْنَ
فِي
فَلَسْطِيْنَ
وَفِي كُلِّ
مَكَانٍ. اَللّٰهُمَّ
انْصُرْ
إخْوَانَنَا
الْمُجَاهِدِيْنَ
فِي
سَبِيْلِكَ
عَلَى
أَعْدَائِهِمْ.
اَللّٰهُمَّ
إِنَّا
نَسْأَلُكَ
دَوْلَةَ
الْخِلاَفَةِ
عَلَى
مِنْهَاجِ
النُّبُوَّةِ
تُعِزُّ بِهَا
اْلإِسْلاَمَ
وَاَهْلَهُ
وَتُذِلُّ بِهَا
الْكُفْرَ
وَاَهْلَهُ،
وَ اجْعَلْنَا
مِنَ
الْعَامِلِيْنَ
الْمُخْلِصِيْنَ
بِإِقَامَتِهَا
بِإِذْنِكَ
يَا أَرْحَمَ
الرَّاحِمِيْنَ.
اللّٰهُمَّ
ادْفَعْ
عَنَّا
الْغَلَاءَ
وَاْلبَلاَءَ
وَاْلوَبَاءَ
وَالزَّلاَزِلَ
وَاْلمِحَنَ،
وَسُوْءَ
اْلفِتْنَةِ
وَاْلمِحَنَ
مَا ظَهَرَ
مِنْهَا
وَمَا
بَطَنَ، عَنْ
بَلَدِنَا
اِنْدُونِيْسِيَّا
خآصَّةً
وَسَائِرِ
بُلْدَانِ
اْلمُسْلِمِيْنَ
عآمَّةً يَا رَبَّ
اْلعَالَمِيْنَ،
رَبَّنَا
آتِناَ فِى
الدُّنْيَا
حَسَنَةً
وَفِى
اْلآخِرَةِ حَسَنَةً
وَقِنَا
عَذَابَ
النَّارِ،
رَبَّنَا
ظَلَمْنَا
اَنْفُسَنَا
وَإنْ لَمْ تَغْفِرْ
لَنَا
وَتَرْحَمْنَا
لَنَكُوْنَنَّ
مِنَ
اْلخَاسِرِيْنَ.
عِبَادَ
اللهِ ! إِنَّ
اللهَ
يَأْمُرُ
بِاْلعَدْلِ
وَاْلإِحْسَانِ
وَإِيْتآءِ
ذِي
اْلقُرْبىَ
وَيَنْهَى
عَنِ اْلفَحْشآءِ
وَاْلمُنْكَرِ
وَاْلبَغْي
يَعِظُكُمْ
لَعَلَّكُمْ
تَذَكَّرُوْنَ،
وَاذْكُرُوا
اللهَ
اْلعَظِيْمَ
يَذْكُرْكُمْ،
وَاسْأَلُوْهُ
مِنْ
فَضْلِهِ
يُعْطِكُمْ،
وَاشْكُرُوْهُ
عَلىَ
نِعَمِهِ
يَزِدْكُمْ،
وَلَذِكْرُ
اللهِ
أَكْبَرْ



