Seruan Masjid

Khadimul Ummah wa Du'at

Idul Adha 1445H Dari Ibadah Haji Menuju Persatuan Sejati

Idul Adha 1445H Dari Ibadah Haji Menuju Persatuan Sejati

dmdi-site-icon

IDUL ADHA 1445 H:
DARI IBADAH HAJI MENUJU PERSATUAN SEJATI

 KHUTBAH PERTAMA

 

السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ

اَللهُ أَكْبَرُ، اَللهُ أَكْبَرُ، اَللهُ أَكْبَرُ

اَللهُ أَكْبَرُ، اَللهُ أَكْبَرُ، اَللهُ أَكْبَرُ

اَللهُ أَكْبَرُ، اَللهُ أَكْبَرُ، اَللهُ أَكْبَرُ

 

اللَّهُ أَكْبَرُ كَبِيرًا، وَالْحَمْدُ لِلَّهِ كَثِيرًا، وَسُبْحَانَ اللَّهِ بُكْرَةً وَأَصِيلاً.

 

 لاَ إِلَهَ إِلاًّ اللَّهُ وَلاَ نَعْبُدُ إِلاَّ إِيَّاهُ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ، وَلَوْ كَرِهَ الْكَافِرُونَ. لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَحْدَهُ، صَدَقَ وَعْدَهُ، وَنَصَرَ عَبْدَهُ، وَهَزَمَ الأَحْزَابَ وَحْدَهُ، لاَ إِلَهَ إِلاًّ اللَّهُ اللهُ أكْبَرُ، الله أَكْبَرُ وَللهِ الْحَمْدُ.

 

اَلْحَمْدُ ِللهِ الَّذِيْ جَعَلَ الْيَوْمَ عِيْداً لِلْمُسْلِمِيْنَ، وَوَحَّدَنَا بِعِيْدِهِ كَأُمَّةٍ وَاحِدَةٍ، مِنْ غَيْرِ الأُمَم، وَنَشْكُرُهُ عَلَى كَمَالِ إِحْسَانِهِ، وَهُوَ ذُو الْجَلاَلِ وَاْلإِكْراَمِ.

 

أَشْهَدُ اَنْ لاَ اِلَهَ اِلاَّ أَنْتَ وَحْدَكَ لاَشَرِيْكَ لَكَ. اللَّهُمَّ مَالِكَ الْمُلْكِ تُؤْتِي الْمُلْكَ مَن تَشَاء، وَتَنزِعُ الْمُلْكَ مِمَّن تَشَاء، وَتُعِزُّ مَن تَشَاء، وَتُذِلُّ مَن تَشَاء، بِيَدِكَ الْخَيْرُ. إِنَّكَ عَلَىَ كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ. وَأَشْهَدُ اَنَّ مُحَمَّداً عَبْدُكَ وَرَسُوْلُكَ.

 

الَلَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى حَبِيْبِناَ المُصْطَفَى، الَّذِّي بَلَّغَ الرِّسَالَةْ، وَأَدَّى الأَمَانَةْ، وَنَصَحَ الأُمَّةْ، وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ، وَمَنْ دَعاَ اِلَى اللهِ بِدَعْوَتِهِ، وَجاَهَدَ فِيْ اللهِ حَقَّ جِهاَدِهِ.

 

اَمَّا بَعْدُ: عِبَادَ اللهِ، أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ، فَقَدْ فَازَ المُتَّقُوْنَ !

 

اَللهُ أَكْبَرُ، اَللهُ أَكْبَرُ، اَللهُ أَكْبَرُ، وَلِلّهِ الْحَمْدُ

Ma’âsyiral Muslimîn rahimakumulLâh.

AlhamdulilLaahi Rabbil ‘aalamiin. Segala pujian hanya milik Allah, Rabb semesta alam. Shawalat dan salam semoga senantiasa tercurah kepada junjungan alam, Baginda Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Juga kepada keluarganya yang mulia, para Sahabatnya yang utama, serta siapa saja yang setia mengikuti beliau hingga akhir masa.

 

اَللهُ أَكْبَرُ، اَللهُ أَكْبَرُ، اَللهُ أَكْبَرُ، وَلِلّهِ الْحَمْدُ

Ma’âsyiral Muslimîn rahimakumulLâh.

Berbahagialah kita semua. Sebabnya, inilah hari yang penuh dengan kemuliaan, dari Allah Pencipta alam. Inilah salah satu dari dua hari terbaik untuk semua insan yang beriman.

Hari ini lebih dari tiga juta kaum Muslim dari segenap penjuru dunia berkumpul di Tanah Suci. Tentu untuk melaksanakan ibadah haji. Lisan mereka selalu basah dengan rangkaian doa dan kalimat talbiyah: “Labayk AlLaahumma labayk”. Adapun jiwa dan raga mereka tunduk kepada Rabb Ka’bah dengan pasrah.

Inilah hari yang agung. Di dalamnya Allah Subhanahu wata’ala melimpahkan kemuliaan yang luas: Yawm an-Nahr atau Yawm ’Idul Adha. Nabi Shollallohu ‘alaihi wasallam bersabda:

أَعْظَمُ الأيَّامِ عِنْدَ اللَهِ يَوْمُ النَّحْرِ

Sungguh hari yang paling agung di sisi Allah adalah hari raya kurban (HR Abu Dawud).

 

Ma’âsyiral Muslimîn rahimakumulLâh.

Sebagaimana perintah Rasulullah Shollallohu ‘alaihi wasallam, penentuan awal bulan Dzulhijjah bukanlah diputuskan berdasarkan otoritas masing-masing pemimpin negeri kaum Muslim, tetapi wajib berdasarkan pengumuman Amir Makkah. Husayn bin Harits al-Jadali telah menyatakan: Amir Makkah, al-Harits bin Hatib, telah menyampaikan khutbah kepada kami, seraya berkata:

عَهِدَ إِلَيْنَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وسَلَّمَ أَنْ ‌نَنْسُكَ ‌لِرُؤْيَتِهِ، فَإِنْ لَمْ نَرَهُ، وَشَهِدَ شَاهِدَا عَدْلٍ نَسَكْنَا بِشَهَادَتِهِمَا

Kami telah diperintahkan oleh Rasulullah Shollallohu ‘alaihi wasallam untuk mengerjakan manasik (ibadah haji) karena melihat hilal. Jika kami tidak melihat hilal, lalu ada dua orang saksi yang adil melihat hilal, maka kami pun akan mengerjakan manasik haji berdasarkan kesaksian mereka berdua (HR Abu Dawud dan ad-Daraquthni).

 

Sudah seharusnya kaum Muslim bersatu dalam pelaksanaan Idul Adha, sebagaimana mereka bersatu dalam pelaksanaan ibadah haji. Demikian seperti yang pernah terwujud pada masa Nabi Shollallohu ‘alaihi wasallam dan Khulafaur-Rasyidin. Alangkah indahnya jika persatuan umat kembali terwujud pada hari ini. Semesta akan berguncang karena gema talbiyah di segenap penjuru dunia. Di mana-mana kalimat takbir, tahlil dan tahmid berkumandang; menggambarkan teguhnya persatuan yang terikat dalam ukhuwah islamiyah yang menyatukan kaum beriman.

 

اَللهُ أَكْبَرُ، اَللهُ أَكْبَرُ، اَللهُ أَكْبَرُ، وَلِلّهِ الْحَمْدُ

Ma’âsyiral Muslimîn rahimakumulLâh.

Ibadah haji adalah panggilan Ilahi untuk kaum Mukmin. Mereka yang beriman dan mengharapkan ridha Allah Subhanahu wata’ala akan sekuat tenaga menumpahkan kerinduan kepada-Nya untuk mendatangi Baitullah. Mereka berupaya keras untuk menunaikan kewajiban ibadah haji ini dengan mengerahkan harta dan kendaraan yang mereka punya. Allah Subhanahu wata’ala berfirman:

وَاَذِّنْ فِى النَّاسِ بِالْحَجِّ يَأْتُوْكَ رِجَالًا وَّعَلٰى كُلِّ ضَامِرٍ يَّأْتِيْنَ مِنْ كُلِّ فَجٍّ عَمِيْقٍ

Serulah manusia untuk mengerjakan haji, niscaya mereka akan datang kepadamu dengan berjalan kaki atau mengendarai unta yang kurus. Mereka  datang dari segenap penjuru yang jauh (TQS al-Hajj [22]: 27).

 

Sementara itu, sebagian kaum Muslim lain mewujudkan ketaatan pada Allah Subhanahu wata’ala dengan menyembelih hewan kurban untuk kemudian mereka bagikan pada kaum dhuafa dan yang membutuhkan. Mereka menyerahkan hewan kurban terbaik dengan harapan ketaatan mereka dapat menggapai keridhaan Allah Yang Maha Menyaksikan. Allah Subhanahu wata’ala berfirman:

لَنْ يَّنَالَ اللّٰهَ لُحُوْمُهَا وَلَا دِمَاۤؤُهَا وَلٰكِنْ يَّنَالُهُ التَّقْوٰى مِنْكُمْۗ

Daging-daging unta dan darahnya itu sekali-kali tidak dapat mencapai (keridhaan) Allah. Akan tetapi, keridhaan Allah itu hanya bisa dicapai dengan ketakwaan kalian (TQS al-Hajj [20]: 37).

 

Ma’âsyiral Muslimîn rahimakumulLâh.

Ibadah haji adalah salah satu melting point atau titik lebur kaum Muslim. Semua Muslim dari berbagai penjuru dunia, dari segala suku bangsa, bahasa dan warna kulit menyatu dalam suasana penuh keharuan dan kekhusyukan di hadapan Allah Yang Maha Perkasa. Tak tampak lagi perbedaan, termasuk strata sosial dan ekonomi, dalam pelaksanaan ibadah haji. Semua berbusana kain ihram. Semua melantunkan kalimat talbiyah. Semua mengharap ridha Allah Subhanahu wata’ala. Semua sama-sama menggemakan keagungan syiar-syiar Allah Subhanahu wata’ala sebagaimana firman-Nya:  

ذٰلِكَ وَمَنْ يُّعَظِّمْ شَعَاۤىِٕرَ اللّٰهِ فَاِنَّهَا مِنْ تَقْوَى الْقُلُوْبِ

Demikianlah (perintah Allah). Siapa saja yang mengagungkan syiar-syiar Allah, sungguh itu timbul dari ketakwaan hati (TQS al-Hajj [20]: 32).

 

Syaikh Mutawalli asy-Sya’rawi, ulama dari Mesir dan seorang mufasir, mengatakan:

وَفِي جَلاَلِ هَذِهِ الْوَحْدَةِ، تَنْصَهَرُ الْأَجْنَاسُ وَالْأَلْوَانُ وَاللُّغَاتُ، فَلَا نَسَبَ اِلَّا اِلىَ الْاِسْلَامِ وَلَا حَسَبَ اِلَّا اِلَى الْاِيْمَانِ

“Di tengah-tengah persatuan (ibadah haji) ini berbagai suku bangsa, warna kulit dan bahasa manusia melebur (menjadi satu). Karena itu tak ada yang pantas untuk dijadikan atribut (identitas) selain Islam dan tidak ada yang perlu diperhitungkan kecuali iman.”

 

اَللهُ أَكْبَرُ، اَللهُ أَكْبَرُ، اَللهُ أَكْبَرُ، وَلِلّهِ الْحَمْدُ

Ma’âsyiral Muslimîn rahimakumulLâh.

Pernahkah umat manusia menyaksikan persatuan dan kesatuan umat manusia seperti umat Muslim? Adakah di dunia ini, sedari dulu sampai hari ini, ajaran atau ideologi yang dapat mempersatukan umat manusia tanpa melihat perbedaan suku bangsa, ras dan status sosial selama belasan abad?

Jawabannya adalah tidak ada. Memang tidak akan pernah ada. Tidak ada satu pun umat di dunia ini yang semisal kaum Muslim dalam persatuan dan kesatuan. Tidak ada satu pun agama dan ideologi yang sukses melebur umat manusia dalam sebuah wadah pemersatu selain Islam. Agama ini telah berhasil mengikat manusia selama belasan abad dalam sebuah ikatan mulia: ukhuwah islamiyah. Allah Subhanahu wata’ala berfirman:

اِنَّمَا الْمُؤْمِنُوْنَ اِخْوَةٌ فَاَصْلِحُوْا بَيْنَ اَخَوَيْكُمْ وَاتَّقُوا اللّٰهَ لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُوْنَ

Sungguh kaum Mukmin itu bersaudara. Sebab itu damaikanlah (perbaikilah hubungan) kedua saudara kalian itu dan takutlah kalian kepada Allah supaya kalian mendapat rahmat (TQS al-Hujurat [49]: 10).

Sungguh indah perumpamaan kebersamaan kaum Mukmin. Mereka digambarkan oleh Baginda Nabi Shollallohu ‘alaihi wasallam laksana satu tubuh. Sabda beliau:

مَثَلُ الْمُؤْمِنِينَ فِي تَوَادِّهِمْ، وَتَرَاحُمِهِمْ، وَتَعَاطُفِهِمْ مَثَلُ الْجَسَدِ إِذَا اشْتَكَى مِنْهُ عُضْوٌ تَدَاعَى لَهُ سَائِرُ الْجَسَدِ بِالسَّهَرِ وَالْحُمَّى

Perumpamaan kaum Mukmin itu dalam hal saling mengasihi, mencintai dan menyayangi bagaikan satu tubuh. Jika ada salah satu anggota tubuh yang sakit maka seluruh tubuhnya akan ikut terjaga dan demam (turut merasakan sakitnya) (HR al-Bukhari dan Muslim).

 

Di balik keindahan perumpamaan yang dinyatakan oleh Rasulullah Shollallohu ‘alaihi wasallam dalam hadis di atas juga terkandung tuntutan untuk turut merasakan rasa sakit dan penderitaan yang dialami saudara seiman. Sungguh ironi jika seorang Muslim tidak mau merasakan penderitaan yang tengah menimpa nasib sesama Muslim. Mungkinkah otak tidak merasakan apa-apa ketika sekujur tubuhnya berdarah-darah penuh luka menganga? Padahal di antara tanda keimanan seseorang adalah mencintai saudaranya seperti dia mencintai dirinya sendiri. Nabi Shollallohu ‘alaihi wasallam bersabda: 

لاَ يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى يُحِبَّ لِأَخِيْهِ مَا يُحِبُّ لِنَفْسِهِ

Tidak sempurna iman salah seorang di antara kalian hingga ia mencintai untuk saudaranya apa yang ia cintai untuk dirinya sendiri (HR Muttafaq ’alayh).

 

Ma’âsyiral Muslimîn rahimakumulLâh.

Tinta emas sejarah mencatat persaudaraan orang-orang mulia yang begitu indah. Dalam Perang Yarmuk, misalnya, tiga orang Sahabat terluka parah. Mereka adalah Al-Harits bin Hisyam, Ikrimah dan Ayyas bin Abi Rabi’ah. Setelah perang usai, pasukan Islam yang terluka mulai diobati. Ketika itu Al-Harits meminta air minum karena kehausan yang luar biasa. Dibawakanlah air untuk dia. Namun, ia mendengar Sahabatnya, Ikrimah, seakan-akan menginginkan air minum. Sahabat al-Harist meminta agar air itu diberikan saja kepada Sahabat Ikrimah. Air itu pun dibawa dan hendak diberikan kepada Sahabat Ikrimah. Namun, Ikrimah melihat Ayyash membutuhkan air minum. Lalu ia pun meminta agar air itu diberikan kepada Ayyash.

 

Air itu pun dibawa kepada Ayyash. Ketika air itu sampai kepada Sahabat Ayyash, ia ternyata sudah wafat sebagai syahid. Lalu air itu dibawa lagi kepada Ikrimah. Ternyata ia pun sudah syahid. Segera air itu dibawa kepada Al-Harits. Namun, al-Harits juga ternyata sudah mendapatkan kesyahidannya. Pada akhirnya air itu masih utuh, tak setetes pun mereka teguk, karena masing-masing mendahulukan kepentingan saudaranya. Sungguh luar biasa rasa persaudaraan yang dicontohkan oleh para Sahabat yang mulia tersebut.

 

اَللهُ أَكْبَرُ، اَللهُ أَكْبَرُ، اَللهُ أَكْبَرُ، وَلِلّهِ الْحَمْدُ

Ma’âsyiral Muslimîn rahimakumulLâh.

Patut direnungkan: Apakah umat Islam hari ini sudah semisal satu tubuh dalam persatuan mereka?  Ataukah kebersamaan dan persatuan mereka mereka semu belaka?

 

Kita menyaksikan lebih dari tiga juta Muslim dari segenap penjuru berkumpul bersama di Tanah Suci menunaikan ibadah yang sama, menuju keridhaan Tuhan yang juga sama. Namun, tatkala perhelatan ibadah haji selesai, masih tersisakah persatuan umat ini? Apakah kaum Muslim di seluruh dunia hari ini bersatu dan saling membantu saudaranya yang menderita? Sayangnya tidak.

 

Detik ini, saat kita berkumpul merayakan Hari Raya Idul Adha, saudara-saudara kita di berbagai tempat ditimpa kemalangan luar biasa. Kaum Muslim di Palestina terus berada dalam ancaman genosida zionis Yahudi. Gaza dan Rafah sudah menjadi ladang pembantaian kaum Muslim. Jenazah-jenazah bergelimpangan di jalan-jalan atau terkubur dalam reruntuhan gedung. Sebagian lagi hancur berkeping-keping. Mereka menjadi korban kebiadaban zionis Yahudi.

 

Banyak ayah kehilangan seluruh keluarganya hingga cucu-cucunya. Banyak anak yang menjadi sebatang kara karena semua keluarganya terbunuh. Banyak ibu yang merana karena ditinggal syahid semua orang yang dia cintai. Seolah menjadi pemandangan biasa di Gaza seorang Muslim memakamkan anggota keluarganya berturut-turut. Malah ada seorang anak yang berjalan memanggul karung yang berisi potongan-potongan tubuh adiknya yang malang. Inilah fakta derita di tengah Hari Raya Idul Adha.

 

Ma’âsyiral Muslimîn rahimakumulLâh.

Lebih dari 36 ribu warga Gaza tewas akibat serangan biadab militer zionis. Semua fasilitas kesehatan hancur. Penduduk Gaza terancam kelaparan yang diciptakan zionis Yahudi. Bayangkanlah, ketika nanti kita pulang makan dan minum sepuasnya bersama keluarga, hampir satu juta warga Gaza terancam kelaparan dan susah mendapatkan air bersih. Tak ada keluarga yang menyambut dan bersuka-cita pada hari raya selain langit duka yang terus menggelayuti langit Palestina.

 

Yang lebih menyedihkan lagi adalah sikap para penguasa Dunia Islam. Mereka hanya diam menyaksikan pembantaian demi pembantaian di Gaza. Sebagian dari mereka malah bersekutu dengan zionis Yahudi dengan membuka hubungan diplomatik dan perdagangan. Dunia menyaksikan bagaimana penguasa Mesir, misalnya, bukan saja menolak kehadiran pengungsi Gaza, tetapi juga menolak membuka gerbang perbatasan agar kaum Muslim bisa memberikan bantuan kepada saudara seiman. Lebih menyedihkan lagi sebagian para pemimpin Dunia Islam justru melarang aksi dukungan terhadap Palestina dan menangkapi mereka. Padahal Nabi Shollallohu ‘alaihi wasallam telah mengingatkan ancaman terhadap para pemimpin seperti itu. Sabda beliau:

مَنْ وَلِيَ مِنْ أَمْرِ النَّاسِ شَيْئًا , فَاحْتَجَبَ عَنْ أُولِي الضَّعَفَةِ وَالْحَاجَةِ , احْتَجَبَ اللَّهُ عَنْهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ

Siapa saja yang Allah takdirkan untuk menjadi pemimpin yang mengemban urusan orang banyak, lalu ia menghindar dari orang yang lemah dan yang membutuhkan, Allah pasti akan menutup diri dari dirinya pada Hari Kiamat (HR Ahmad).

 

Para pemimpin Dunia Islam rata-rata hanya berpura-pura. Di depan rakyat mendukung Palestina lewat politik retorika berupa kutukan dan kecaman. Namun, sedikit pun mereka enggan menggerakkan pasukan militer mereka untuk melindungi kaum Muslim Palestina dan menyerang kaum Yahudi. Mereka malah menyandarkan pertolongan pada Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB). Padahal mereka tahu bahwa badan internasional itu nyata berada dalam ketiak negara-negara Barat, terutama Amerika Serikat. Mereka pun tahu bahwa PBB tak akan bisa dan berani menjatuhkan sanksi atas negara Yahudi. Penipuan para pemimpin Dunia Islam kelak mendapatkan balasan keras sebagaimana diingatkan Nabi Shollallohu ‘alaihi wasallam:

مَا مِنْ عَبْدٍ يَسْتَرْعِيهِ اللَّهُ رَعِيَّةً يَمُوتُ يَوْمَ يَمُوتُ وَهُوَ غَاشٌّ لِرَعِيَّتِهِ إِلَّا حَرَّمَ اللَّهُ عَلَيْهِ الْجَنَّةَ

Tidaklah seorang yang diamanati oleh Allah memimpin rakyat itu mati, sementara ia saat hidupnya menipu rakyatnya, melainkan Allah pasti mengharamkan bagi dirinya surga (HR al-Bukhari dan Muslim).

 

Kaum Muslim juga jangan berharap Mahkamah Internasional dapat menyeret para pemimpin zionis ke pengadilan internasional dan menghukum mereka sebagai penjahat perang. Sebabnya, Mahkamah Internasional dibuat oleh negara-negara Barat demi kepentingan mereka dan akan dijegal setiap kali akan mengganggu urusan politik Barat dan sekutunya. Allah Subhanahu wata’ala telah melarang perbuatan ini. Lagi pula sebagian orang kafir adalah penolong bagi sebagian lainnya. Allah Subhanahu wata’ala berfirman:

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا لَا تَتَّخِذُوا الْيَهُوْدَ وَالنَّصٰرٰٓى اَوْلِيَاۤءَ ۘ بَعْضُهُمْ اَوْلِيَاۤءُ بَعْضٍۗ وَمَنْ يَّتَوَلَّهُمْ مِّنْكُمْ فَاِنَّهٗ مِنْهُمْ ۗ اِنَّ اللّٰهَ لَا يَهْدِى الْقَوْمَ الظّٰلِمِيْنَ

Hai orang-orang yang beriman, janganlah kalian menjadikan kaum Yahudi dan Nasrani sebagai para pemimpin (kalian). Sebagian mereka adalah pemimpin bagi sebagian lainnya. Siapa saja di antara kalian menjadikan mereka sebagai pemimpin, sungguh orang itu termasuk golongan mereka. Sungguh Allah tidak memberikan petunjuk kepada kaum yang zalim (TQS al-Maidah [5]: 51).

 

اَللهُ أَكْبَرُ، اَللهُ أَكْبَرُ، اَللهُ أَكْبَرُ، وَلِلّهِ الْحَمْدُ

Ma’âsyiral Muslimîn rahimakumulLâh.

Penyebab terkoyaknya umat hari ini adalah karena paham nasionalisme telah mengerat-ngerat persatuan kaum Muslim dan menghapuskan ukhuwah islamiyah. Setiap penguasa negeri Muslim tidak peduli dengan urusan negeri Muslim lainnya. Bahkan mereka tidak jarang saling bermusuhan satu sama lain. Pantaslah jika Rasulullah Shollallohu ‘alaihi wasallam menggolongkan kebanggaan terhadap suku, bangsa dan golongan sebagai slogan-slogan jahiliyah yang dipandang hina. Diriwayatkan dari Ubay bin Kaab ra., mengutip sabda Nabi Shollallohu ‘alaihi wasallam, bahwa ia berkata:

إِذَا الرَّجُلُ تَعَزَّى بِعَزَاءِ الْجَاهِلِيَّةِ، ‌فَأَعِضُّوهُ بِهَنِ ‌أَبِيهِ، وَلَا تَكْنُوا

“Jika ada orang membangga-banggakan kebanggaan jahiliyah maka suruhlah ia menggigit kemaluan ayahnya dan tidak usah pakai bahasa kiasan terhadapnya.” (HR Ahmad).

         

Paham nasionalisme telah menjadi penjara imajiner yang menghalangi kaum Muslim menolong saudaranya. Paham ini membelenggu tangan dan kaki umat untuk menghilangkan penderitaan yang tengah menimpa saudara seiman. Bahkan paham nasionalisme sanggup membutakan mata dan hati umat bahwa saudara seiman itu adalah bersaudara. Padahal Nabi Shollallohu ‘alaihi wasallam telah mengingatkan:

الْمُسْلِمُ أَخُو الْمُسْلِمِ لَا يَظْلِمُهُ وَلَا يُسْلِمُهُ

Seorang Muslim itu saudara bagi Muslim lainnya. Ia tidak boleh menzalimi dan tidak menelantarkan saudaranya (HR Muslim).

 

Ma’âsyiral-Muslimîn rahimakumulLâh.

Karena itu umat Islam wajib kembali bersatu dalam ikatan ukhuwah islamiyah. Hal itu tidak mungkin tercipta dalam konsep negara-bangsa dan paham nasionalisme. Ukhuwah islmiyah dan persatuan yang hakiki hanya bisa terwujud dalam wadah yang telah ditetapkan syariah Islam, yakni Khilafah Islamiyah. Dalam institusi Khilafahlah umat Islam sedunia bisa dipersatukan dari ujung timur hingga ke ujung barat. Tidak terpecah belah dan tidak terkerat-kerat. Agama ini menghendaki umat Islam berada dalam satu kepemimpinan sebagaimana sabda Nabi Shollallohu ‘alaihi wasallam:

إِذَا بُويِعَ لِخَلِيفَتَيْنِ فَاقْتُلُوا اْلآخِرَ مِنْهُمَا   

Jika dibaiat dua orang khalifah maka bunuhlah yang terakhir dari keduanya (HR Muslim).

         

Negara-bangsa dan paham nasionalisme adalah konsep yang dirancang oleh negara-negara Barat imperialis untuk memudahkan mereka menghancurkan Khilafah Islamiyah lalu menjajah negeri-negeri tersebut. Dibuatlah oleh mereka negara-negara boneka dengan para penguasa yang berada dalam kendali mereka. Termasuk dikendalikan agar jangan sampai menghapuskan negara zionis Yahudi yang sudah mereka rancang agar menjadi kanker ganas di jantung kaum Muslim.

 

Karena itu persoalan umat di Palestina, Myanmar, India, Cina dan berbagai penjuru dunia lain hanya bisa dituntaskan jika umat bersatu di bawah kepemimpinan seorang khalifah. Satu-persatu persoalan umat akan diselesaikan sesuai perintah Allah Subhanahu wata’ala dan Rasul-Nya. Khalifah akan melindungi dan menjaga semua kepentingan umat. Ini karena Khalifah berperan sebagai perisai umat, sebagaimana sabda Nabi Shollallohu ‘alaihi wasallam:

إِنَّمَا اْلإِمَامُ جُنَّةٌ يُقَاتَلُ مِنْ وَرَائِهِ وَيُتَّقَى بِهِ

Sungguh Imam (Khalifah) adalah perisai; orang-orang berperang di belakang dia dan menjadikan dirinya pelindung (HR Muslim).

                  

Tanpa Khilafah Islamiyah umat Muslim yang begitu besar jumlahnya seperti anak ayam kehilangan induknya. Tak ada perlindungan dari berbagai serangan dan gangguan. Tanpa Khilafah Islamiyah umat Muslim juga seperti unta yang mati kehausan di tengah gurun, padahal di punggungnya tersimpan air. Begitu kaya sumberdaya alam negeri-negeri Muslim, tetapi bukan mereka yang menikmati. Justru para penjajah yang menjadi kaya raya karena pengkhianatan para penguasa negeri-negeri Muslim. Hal seperti itu tak akan terjadi jika umat bersatu dan dipimpin oleh Khalifah yang akan mengurus dan menjaga mereka.

 

اَللهُ أَكْبَرُ، اَللهُ أَكْبَرُ، اَللهُ أَكْبَرُ، وَلِلّهِ الْحَمْدُ

Ma’âsyiral Muslimîn rahimakumulLâh.

Persoalan Palestina sesungguhnya tidaklah sukar untuk diselesaikan. Tentu jika umat ini memiliki kepemimpinan yang mulia dalam institusi pemerintahan Islam global, Khilafah Islamiyah. Dengan Khilafah, potensi kekuatan militer umat Islam yang sangat besar bisa disatukan sekaligus digerakkan untuk melakukan jihad (perang) terhadap Yahudi dan para pelindungnya, khususnya amerika Serikat. Dengan itu kaum Muslim dengan mudah bisa menghapuskan eksistensi kaum zionis penjajah dari atas negeri Palestina. Bukan itu saja, dengan Khilafah, kelak umat ini sanggup memimpin dunia setelah menyingkirkan dominasi negara-negara Barat, khususnya Amerika Serikat, atas dunia dan kaum Muslim. Dengan Khilafah, umat Islam pun akan sanggup menciptakan tatanan kehidupan yang harmonis di bawah syariah Islam.

 

Kaum Muslim dan umat manusia seluruhnya sudah lama menderita di bawah kepemimpinan ideologi Kapitalisme global pimpinan Amerika Serikat dan sekutu-sekutunya. Mereka mengeksploitasi negara-negara lain dan merusak tatanan kehidupan umat manusia melalui imperialisme dan ideologi kapitalismenya.

 

Karena itu sudah saatnya umat Islam sedunia mengakhiri derita ini dan mengembalikan kehidupan yang penuh berkah di bawah kepemimpinan ideologi Islam. Dengan itulah kita menyongsong janji Allah Subhanahu wata’ala:

وَلَوْ اَنَّ اَهْلَ الْقُرٰٓى اٰمَنُوْا وَاتَّقَوْا لَفَتَحْنَا عَلَيْهِمْ بَرَكٰتٍ مِّنَ السَّمَاۤءِ وَالْاَرْضِ وَلٰكِنْ كَذَّبُوْا فَاَخَذْنٰهُمْ بِمَا كَانُوْا يَكْسِبُوْنَ

Andai saja penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pasti Kami akan melimpahkan kepada mereka keberkahan dari langit dan bumi. Namun, mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu. Karena itulah Kami menyiksa mereka disebabkan perbuatan mereka tersebut (TQS al-A’raf [7]: 96).

[]

 

 

بَارَكَ الله لِي وَلَكُمْ فِى اْلقُرْآنِ اْلعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِي وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الْآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيمِ، وَتَقَبَّلَ اللهُ مِنَّا وَمِنْكُمْ تِلاَوَتَهُ، إِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ العَلِيْمُ، وَأَقُوْلُ قَوْلِي هَذَا فَأسْتَغْفِرُ اللهَ العَظِيْمَ إِنَّهُ هُوَ الغَفُوْرُ الرَّحِيْم

 

KHUTBAH KEDUA

 

اَللهُ أَكْبَرُ، اَللهُ أَكْبَرُ، اَللهُ أَكْبَرُ

اَللهُ أَكْبَرُ، اَللهُ أَكْبَرُ، اَللهُ أَكْبَرُ، اَللهُ أَكْبَرُ.

 

اللهُ أَكْبَرُ كَبِيْرًا وَالْحَمْدُ للهِ كَثِيْرًا، وَسُبْحَانَ اللهِ بُكْرَةً وَأَصِيْلاً. لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ، صَدَقَ وَعْدَهُ، وَنَصَرَ عَبْدَهُ، وَأَعَزَّ جُنْدَهُ وَهَزَمَ الأَحْزَابَ وَحْدَهُ. لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ، اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ وَللهِ الْحَمْدُ.

 

الْحَمْدُ للهِ الَّذِيْ أَرْسَلَ رَسُولَهُ بِالْهُدَىٰ وَدِينِ الْحَقِّ لِيُظْهِرَهُ عَلَى الدِّينِ كُلِّهِ وَلَوْ كَرِهَ الْمُشْرِكُوْنَ. اَلْحَمْدُ للهِ الَّذِيْ كَرَّمَ هَذهِ الْأُمَّةَ بِشَرِيْعَتِهِ الْكَامِلَةِ، وخَصَّ بِهَا بِالنُّبُوَّةِ نَبِيِّهِ الْكَرِيْمَةِ، وأَعَزَّهَا بِالْخِلاَفَةِ الرَّاشِدَةِ عَلَى مِنْهَاجِ النُّبُوَّةِ.

 

أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ اِلَّا اللّٰهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ لاَ نَبِيَ بَعْدَهُ، اَرْسَلَهُ بِرِسَالَتِهِ الْقُدْسِيَّةِ وَاَحْكَامِهِ الشَّرِيْفَةِ لِمُعَالَجَةِ كُلِّ مُشْكِلَةِ الْحَيَاةِ.

 

فَيَا أَيُّهَا الْمُؤْمِنُوْنَ، تَمَسَّكُوْا بِاْلإِسْلَامِ فِيْ كُلِّ حِيْنٍ، وَاتَّقُوْا اللّٰهَ حَقَّ تُقَاتِهِ، وَلَا تَمُوْتُنَّ إِلاَّ وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ. اَمَّا بَعْدُ:

 

AlLâhu akbar, AlLâhu akbar, AlLâhu akbar, wa lilLâhil hamdu.

Ma’âsyiral Muslimîn rahimakumulLâh.

Marilah kita berdoa, memohon dan bermunajat kepada Allah subhanahu wa ta’ala. Semoga Allah subhanahu wa ta’ala mengabulkan permohonan kita. Semoga Allah subhanahu wa ta’ala memberi kita kesabaran dan keikhlasan, menguatkan ketaatan kita, melanggengkan ketakwaan kita dan meneguhkan kita untuk tetap istiqamah di jalan-Nya.

 

قَالَ اللّٰهُ تَعَالَى فِيْ الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ: ﴿إِنَّ اللّٰهَ وَمَلاَئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّ، يَاأَيُّهَا الَّذِيْنَ ءَامَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا﴾.

 

اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِهِ وَذُرِيَّاتِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ، بِرَحْمَتِكَ يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ.

 

اَللَّهُمَّ حَمْدًا شَاكِرِيْنَ حَمْدًا نَاعِمِيْنَ حَمْدًا يُوَافِيْ نِعَامَهُ وَيُكَافِئُ مَزِيْدَهُ، يَا رَبَّنَا لَكَ الْحَمْدُ وَلَكَ الشُّكْرُ كَمَا يَنْبَغِيْ لِوَجْهِكَ الْكَرِيْمِ وَعَظِيْمِ سُلْطَانِكَ.

اللّهُمَّ اغْفِرْ لَنَا وَ لِوَالِدِيْنَا وَارْحَمْهُمْ كَمَا رَبَّوْنَ صِغَارًا. اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ وَالْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ اْلأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالأَمْوَاتِ، إِنّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدَّعَوَاتِ، فَيَا قَاضِيَ الْحَاجَاتِ، بِرَحْمَتِكَ يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ.

 

اللَّهُمَّ أَصْلِحْ لَنَا دِيْنَنَا الَّذِي هُوَ عِصْمَةُ أَمْرِنَا، وَأَصْلِحْ لَنَا دُنْيَانَا الَّتِي فِيْهَا مَعَاشُنَا، وَأَصْلِحْ لَنَا آخِرَتَنَا الَّتِي اِلَيْهَا مَعَادُنَا، وَاجْعَلِ الْحَيَاةَ زِيَادَةً لَنَا فِي كُلِّ خَيْرٍ، وَاجْعَلِ الْمَوْتَ رَاحَةً لَنَا مِنْ كُلِّ شَرٍّ.

 

اللّهُمَّ اجْعَلْ عَمَلَنَا عَمَلًا صَالِحًا مُتَقَبَّلًا، مُوَافِقًا بِأَحْكَامِكَ وَخَالِصًا لِوَجْهِكَ.

 

اَللّهُمَّ تَقَبَّلْ مِنَّا صَلاَتَنَا وَصِيَامَنَا وَقِيَامَنَا وَكُلَّ أَعْمَالِنَا الصَّالِحَاتِ، وَاغْفِرْ لَنَا ذُنُوْبَنَا وَاعْفُوْا عَنَّا تَقْصِرَاتَنَا وَارْحَمْنَا بِرَحْمَتِكَ يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ.

 

اَللَّهُمَّ اِنَّا نَسْئَلُكَ سَلَامَةً فِيْ الدِّيْنِ، وَعَافِيَةً فِيْ الْجَسَدِ، وَزِيَادَةً فِيْ الْعِلْمِ، وَبَارَكَةً فِيْ الرِّزْقِ، وَتَوْبَةً قَبْلَ الْمَوْتِ، وَرَحْمَةً عِنْدَ الْمَوْتِ، وَمَغْفِرَةً بَعْدَ الْمَوْتِ، اَللَّهُمَّ هَوِّنْ عَلَيْنَا فِيْ سَكَرَةِ الْمَوْتِ، وَنَجَاةً مِنَ النَّارِ، وَعَفْوًا عِنْدَ الْحِسَابِ.

اَللّٰهُمَّ إِنَّا نَسْتَعِيْنُكَ وَنَسْتَغْفِرُكَ وَلَا نَكْفُرُكَ، وَنُؤْمِنُ بِكَ وَنَخْلَعُ مَنْ يَفْجُرُكَ. اَللّٰهُمَّ عَذِّبِ الْكَفَرَةَ الَّذِيْنَ يَصُدُّوْنَ عَنْ سَبِيْلِكَ، وَيُكَذِّبُوْنَ رُسُلَكَ، وَيُقَاتِلُوْنَ أَوْلِيَاءَكَ.

 

اَللّٰهُمَّ يَا مُنْزِلَ الْكِتَابِ وَمُهْزِمَ اْلأَحْزَابِ، إِهْزِمِ الْيَهُوْدَ وَاَعْوَانَهُمْ وَصَلِيْبِيِّيْنَ وَاَنْصَارَهُمْ وَرَأْسَمَالِيِّيْنَ وَاَعْوَانَهُمْ وَاِشْتَرَاكِيِّيْنَ وَشُيُوْعَهُمْ.

 

اَللّٰهُمَّ أَعِزَّ اْلإِسْلاَمَ وَالْمُسْلِمِيْنَ، وَاخْذُلْ مَنْ خَذَلَ الْمُسْلِمِيْنَ، وَاقْتُلْ مَنْ قَاتَلَ وَقَتَلَ الْمُسْلِمِيْنَ.

 

اَللّٰهُمَّ أَهْلِكِ الْكَفَرَةَ وَالْمُشْرِكِيْنَ وَالْمُنَافِقِيْنَ واَلْفَاسِقِيْنَ وَدَمِّرْ أَعْدَائَكَ أَعْدَاءَ الدِّيْنَ.

 

اَللّٰهُمَّ ارْحَمْ أُمَّةَ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، اَللّٰهُمَّ أَصْلِحْ أُمَّةَ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، اَللّٰهُمَّ اجْعَلْنَا مِنْ أُمَّةِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ صَلَّى اللّٰهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ.

 

اَللّٰهُمَّ أَنْجِزْ لَنَا مَا وَعَدْتَنَا عَلَى رَسُوْلِكَ بِعَوْدَةِ دَوْلَةِ الْخِلاَفَةِ الرَّاشِدَةِ عَلَى مِنْهَاجِ النُّبُوَّةِ، تُعِزُّ بِهَا اْلإِسْلاَمَ وَاَهْلَهُ، وَتُذِلُّ بِهَا الْكُفْرَ وَاَهْلَهُ، وَاجْعَلْنَا مِنَ الْعَامِلِيْنَ الْمُخْلِصِيْنَ لِإِقَامَتِهَا، بِإِذْنِكَ يَا اَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ.

 

رَبَّنَا ظَلَمْنَا أَنْفُسَنَا واِنْ لَمْ تَغْفِرْلَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُوْنَنَّا مِنَ الْخَاسِرِيْنَ،

رَبَّنَا لَا تُؤَاخِذْنَا اِنْ نَسِيْنَا اَوْ اَخْطَأْنَا، رَبَّنَا وَلَا تَحْمِلْ عَلَيْنَا إِصْرًا كَمَا حَمَلْتَهُ عَلَى الَّذِيْنَ مِنْ قَبْلِنَا، رَبَّنَا وَلَا تُحَمِّلْنَا مَا لَا طَاقَةَ لَنَا بِهِ، وَاعْفُ عَنَّا وَاغْفِرْ لَنَا وَارْحَمْنَا اَنْتَ مَوْلٰنَا فَانْصُرْنَا عَلَى الْقَوْمِ الْكَافِرِيْنَ.

 

رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي اْلآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ، رَبَّنَا تقَبَّلْ مِنَّا وَاسْتَجِبْ دُعَائَنَا إِنَّكَ أَنْتَ السَّمِيْعُ العْلَيِمْ وَتُبْ عَلَيْنَا إِنَّكَ اَنْتَ التَّوَّابُ الرَّحِيْمُ.

 

وَسُبْحَانَكَ رَبِّ الْعِزَّةِ عَمَّا يَصِفُوْنَ، وَسَلَامٌ عَلَى الْمُرْسَلِيْنَ، وَالْحَمْدُ لِلّٰه رَبِّ الْعَالَمِيْنَ.

 

وَالسَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ.

Ibrahim dan Ismail AS: Teladan Dalam Ketaatan Tanpa Keraguan

Ibrahim dan Ismail AS: Teladan Dalam Ketaatan Tanpa Keraguan

بسم الله الرحمن الرحيم

IBRAHIM DAN ISMAIL AS.: TELADAN DALAM KETAATAN TANPA KERAGUAN

 

KHUTBAH PERTAMA

 

السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ

 

اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ وَلِلّهِ الْحَمْدُ

اللَّهُ أَكْبَرُ كَبِيرًا وَالْحَمْدُ لِلَّهِ كَثِيرًا، وَسُبْحَانَ اللَّهِ بُكْرَةً وَأَصِيلاً،

لاَ إِلَهَ إِلاًّ اللَّهُ وَلاَ نَعْبُدُ إِلاَّ إِيَّاهُ، مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ، وَلَوْ كَرِهَ الْكَافِرُونَ، لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَحْدَهُ،صَدَقَ وَعْدَهُ وَنَصَرَ عَبْدَهُ وَهَزَمَ الأَحْزَابَ وَحْدَهُ، لاَ إِلَهَ إِلاًّ اللَّهُ اللهُ أكْبَرُ، الله أكبر وَللهِ الْحَمْدُ.

 

اَلْحَمْدُ ِللهِ الَّذِيْ جَعَلَ الْيَوْمَ عِيْداً لِلْمُسْلِمِيْنَ، وَوَحَّدَنَا بِعِيْدِهِ كَأُمَّةٍ وَاحِدَةٍ، مِنْ غَيْرِ الأُمَم، وَنَشْكُرُهُ عَلَى كَمَالِ إِحْسَانِهِ، وَهُوَ ذُو الْجَلاَلِ وَاْلإِكْراَمِ.

 

أَشْهَدُ اَنْ لاَ اِلَهَ اِلاَّ أَنْتَ وَحْدَكَ لاَشَرِيْكَ لَكَ، اللَّهُمَّ مَالِكَ الْمُلْكِ تُؤْتِي الْمُلْكَ مَن تَشَاء، وَتَنزِعُ الْمُلْكَ مِمَّن تَشَاء، وَتُعِزُّ مَن تَشَاء، وَتُذِلُّ مَن تَشَاء، بِيَدِكَ الْخَيْرُ ، إِنَّكَ عَلَىَ كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ ، وَأَشْهَدُ اَنَّ مُحَمَّداً عَبْدُكَ وَرَسُوْلُكَ.

 

الَلَّهُمَّ صَلِّ وَاُسَلِّمُ عَلَى حَبِيْبِناَ المُصْطَفَى، الَّذِّي بَلَّغَ الرِّسَالَةْ، وَأَدَّى الأَمَانَةْ، وَنَصَحَ الأُمَّةْ، وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ، وَمَنْ دَعاَ اِلَى اللهِ بِدَعْوَتِهِ، وَجاَهَدَ فِيْ اللهِ حَقَّ جِهاَدِهِ.

 

اَمَّا بَعْدُ: عِبَادَ اللهِ، أُوْصِيْكُمْ وَإِيَّايَ بِتَقْوَى اللهِ فَقَدْ فَازَ المُتَّقُوْنَ!

 

اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ وَلِلّهِ الْحَمْدُ

Ma’âsyiral Muslimîn rahimakumulLâh.

Hari ini adalah momen yang penuh dengan kebahagiaan dan keberkahan. Hari ketika jutaan Muslim berkumpul di tempat yang dimuliakan dan diberkahi oleh Pencipta dan Pemilik alam semesta. Tidak lain untuk mewujudkan ketaatan dalam ibadah mulia, ibadah haji. Sepanjang pelaksanaan ibadah haji itu jutaan Muslim terus mengagungkan Zat Yang Mahaagung. Mereka pun berdoa tiada henti, seraya melantunkan kalimat talbiyah, “Labayk AlLaahumma labayk.” Mereka menjawab panggilan Allah dengan penuh kekhusyukan untuk hadir mewujudkan ketaatan kepada-Nya.

 

Merekalah dhuyuufulLaah. Tamu-tamu Allah. Mereka berhak mendapatkan kedudukan mulia di sisi-Nya, sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam:

الحُجَّاجُ وَالْعُمَّارُ وَفْدُ اللهِ، دَعَاهُمْ فَأَجَابُوْهُ، سَأَلُوْهُ فَأَعْطَاهُمْ

Para jamaah haji dan umrah adalah tamu Allah. Allah telah memanggil mereka. Mereka pun memenuhi panggilan-Nya. Mereka memohon kepada Allah. Allah pun mengabulkan permohonan mereka (HR Ibnu Majah).

 

Sementara itu, di luar Tanah Suci, ratusan juta bahkan miliaran kaum Muslim menggemakan takbîr, tahmîd, tashbîh, dan tahlîl. Mereka berbondong-bondong menunaikan shalat Id dan mendengarkan khutbah. Lalu mereka menyembelih dan membagikan hewan-hewan kurban. Gema kalimat thayyibah dan penyembelihan kurban terus berlangsung hingga Hari Tasyriq usai. Sungguh, hari-hari yang amat sakral dan memberikan nuansa ketundukkan kepada Allah subhanahu wa ta’ala.

 

Inilah Idul Adha 10 Dzulhijjah tahun 1444 H. Sebagaimana perintah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, penentuan awal bulan Dzulhijjah bukanlah ditetapkan berdasarkan otoritas penguasa negara nasional masing-masing, tetapi wajib berdasarkan pengumuman Amir Makkah. Husayn bin Harits al-Jadali telah menyatakan: Amir Makkah, al-Harits bin Hatib, telah menyampaikan khutbah kepada kami, seraya berkata:

عَهِدَ إِلَيْنَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وسَلَّمَ أَنْ ‌نَنْسُكَ ‌لِرُؤْيَتِهِ، فَإِنْ لَمْ نَرَهُ، وَشَهِدَ شَاهِدَا عَدْلٍ نَسَكْنَا بِشَهَادَتِهِمَا

Kami telah diperintahkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk mengerjakan manasik (ibadah haji) karena melihat hilal. Jika kami tidak melihat hilal, lalu ada dua orang saksi yang adil melihatnya, maka kami pun akan mengerjakan manasik berdasarkan kesaksian mereka berdua (HR Abu Dawud dan ad-Daraquthni).

 

اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ وَلِلّهِ الْحَمْدُ

Ma’âsyiral Muslimîn rahimakumulLâh.

Inilah satu dari dua hari yang disebutkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagai hari yang terbaik dibandingkan dengan semua hari raya umat lain di penjuru dunia. Setelah hijrah ke Madinah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menyaksikan orang-orang Yahudi merayakan hari raya mereka, Nairuz dan Mihrajan. Hari raya itu diikuti oleh orang-orang Madinah, termasuk kalangan Anshar. Kemudian Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam  bersabda:

قَدِمْتُ عَلَيْكُمْ وَلَكُمْ يَوْمَانِ تَلْعَبُونَ فِيهِمَا فَإِنَّ اللَّهَ قَدْ أَبْدَلَكُمْ يَوْمَيْنِ خَيْراً مِنْهُمَا يَوْمَ الْفِطْرِ وَيَوْمَ النَّحْرِ

Aku datang kepada kalian, sementara kalian mempunyai dua hari raya pada masa Jahiliyah yang kalian isi dengan bermain-main. Allah telah mengganti keduanya dengan yang lebih baik bagi kalian, yaitu Hari Raya Idul Fitri dan Idul Adha (Hari Raya Kurban) (HR an-Nasa’i dan Ahmad).

 

Sikap Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ini menjadi pertanda bagi orang-orang beriman bahwa umat Muslim adalah umat dengan agama dan syariah yang berbeda dengan umat lain. Beda dalam peribadatan, hari raya, juga dalam tatanan aturan kehidupan. Kaum Muslim telah diberi agama yang luhur yang berada di atas agama-agama lain. Tidak ada satu pun agama, ajaran atau ideologi yang dapat menandingi kemuliaan Islam. Sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam:

اْلإِسْلاَمُ يَعْلُوْ وَلاَ يُعْلَى

Islam itu tinggi dan tidak ada yang mengalahkan ketinggiannya (HR ad-Daruquthni).

 

Jika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam saja sudah menyatakan Islam itu tinggi dan terbaik, tak ada yang setinggi dan semulia agama ini, maka terasa sangat menyesakkan dada jika justru umat Muslim sendiri tidak memiliki perasaan bangga terhadap agamanya; malah memilih ajaran atau ideologi lain; menceraikan diri dari shiraatal-mustaqiim dan berjalan di atas bukan jalan Islam. Begitu pula terasa menyedihkan jika umat Muslim rela dipimpin oleh umat lain yang justru menjerumuskan mereka ke dalam jurang keterpurukan.

 

Karena itulah menjadi kemestian bagi setiap Muslim yang menginginkan kemuliaan hidup dunia dan akhirat untuk selalu berpegang teguh pada agama Allah; beriman dan menjalankan syariah Islam, mewujudkan ketaatan total dalam kehidupan. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:

وَمَنْ يُّطِعِ اللّٰهَ وَرَسُوْلَهٗ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيْمًا

Siapa saja yang menaati Allah dan Rasul-Nya,  sungguh ia mendapatkan kemenangan yang besar (TQS al-Ahzab [33]: 71).

 

اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ وَلِلّهِ الْحَمْدُ

Ma’âsyiral Muslimîn rahimakumulLâh.

Ketika membicarakan ketaatan, ada kisah teladan dalam ketaatan yang patut untuk terus diulang sepanjang Hari Raya Idul Adha, yakni kisah keteladanan ayah dan anak; Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail alayhimaa as-salaam. Kedua utusan Allah ini mengajari kita ketaatan tanpa ragu, ketaatan tanpa kata nanti dulu.

 

Ibrahim as. diuji oleh Allah untuk mengorbankan buah hati sekaligus buah cintanya yang telah lama dinanti, putranya sendiri. Adapun Nabi Ismail as. diuji oleh Allah untuk mengorbankan hidupnya agar ayahnya bisa melaksanakan perintah-Nya. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:

فَلَمَّا بَلَغَ مَعَهُ السَّعْيَ قَالَ يٰبُنَيَّ اِنِّيْٓ اَرٰى فِى الْمَنَامِ اَنِّيْٓ اَذْبَحُكَ فَانْظُرْ مَاذَا تَرٰى

Tatkala anak itu telah sampai (pada umur sanggup) berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata, “Anakku, sungguh aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelih kamu. Karena itu pikirkanlah apa pendapatmu.” (TQS ash-Shaffat [37]: 102).

 

Nabi Ibrahim as. memberikan teladan bahwa tidak ada kecintaan yang paling tinggi melebihi kecintaan kepada Allah subhanahu wa ta’ala. Kecintaan kepada Allah subhanahu wa ta’ala melebihi kecintaan kepada pasangan, anak, harta dan tahta. Kecintaan kepada Allah ‘Azza wa Jalla ini tentu harus diwujudkan dalam ketaatan menjalankan semua perintah-Nya.

 

Di sisi lain, Ismail as. juga meyakini sepenuh hati bahwa ketaatan kepada Allah subhanahu wa ta’ala di atas segalanya sekalipun harus mengorbankan jiwa dan raganya. Karena itu Ismail as. pun mengukuhkan keteguhan jiwa ayahandanya dengan mengatakan:

يٰٓاَبَتِ افْعَلْ مَا تُؤْمَرُ سَتَجِدُنِيْٓ اِنْ شَاۤءَ اللّٰهُ مِنَ الصّٰبِرِيْنَ

“Ayah, lakukanlah apa yang diperintahkan kepadamu. Insya Allah engkau akan mendapati diriku termasuk orang-orang yang sabar.” (TQS ash-Shaffat [37]: 102).

 

Para hadirin, yakinlah bahwa Allah tidak pernah menyia-nyiakan ketaatan dan pengorbanan hamba-hamba-Nya. Allah akan senantiasa memberikan pertolongan dan kemenangan kepada hamba-hamba-Nya yang taat, sebagaimana kepada Ibrahim as. dan Ismail as., saat Dia menjadikan seekor qibas sebagai pengganti pengorbanan Ismail as. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:

وَنَادَيْنٰهُ اَنْ يّٰٓاِبْرٰهِيْمُ  (١٠٤)

قَدْ صَدَّقْتَ الرُّءْيَا ۚ اِنَّا كَذٰلِكَ نَجْزِى الْمُحْسِنِيْنَ  (١٠٥)

اِنَّ هٰذَا لَهُوَ الْبَلٰۤؤُا الْمُبِيْنُ  (١٠٦)

وَفَدَيْنٰهُ بِذِبْحٍ عَظِيْمٍ  (١٠٧)

Kami memanggil dia, “Hai Ibrahim, sungguh kamu telah membenarkan mimpi itu. Sungguh, demikianlah Kami memberikan balasan kepada orang-orang yang berbuat baik. Sungguh ini benar-benar suatu ujian yang nyata. Kami menebus anak itu dengan seekor sembelihan yang besar.” (TQS ash-Shaffat [37]: 104-107).

 

Inilah keteladanan dalam ketaatan yang agung dari keluarga Ibrahim as. Sang ayah rela mengorbankan putranya, sedangkan putranya siap mengorbankan nyawanya. Keduanya melaksanakan perintah Allah tanpa setitik pun rasa ragu. Ketika ketaatan mereka telah terbukti nyata, maka Allah subhanahu wa ta’ala pun memberikan balasan kebaikan kepada mereka di dunia dan akhirat.

 

اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ وَلِلّهِ الْحَمْدُ

Ma’âsyiral Muslimîn rahimakumulLâh.

Hari ini kita menyaksikan kaum Muslim tanpa ragu melaksanakan perintah berhaji, mengorbankan harta yang terbilang besar, meninggalkan sanak famili berhari-hari, tinggal di tenda-tenda, berdesakan bersama tiga juta Muslim demi menunaikan perintah Allah. Hari ini pun kita menyaksikan kaum Muslim tanpa ragu mempersembahkan kurban terbaik di jalan Allah. Di antara mereka bahkan ada yang mengeluarkan harta hingga ratusan juta rupiah setiap tahun untuk membeli hewan kurban.

 

Namun demikian, jangan lupa, ketaatan yang diminta oleh Allah adalah ketaatan total pada semua perintah-Nya dan semua larangan-Nya. Bukan ketaatan parsial. Bukan pula ketaatan yang dipilih-pilih menurut kehendak dan kemauan hamba-Nya.

 

Ketika kaum Muslim mencurahkan ketaatan kepada Allah dalam menunaikan ibadah haji dan dalam berkurban, kemanakah ketaatan itu pergi ketika mereka diseru untuk melaksanakan syariah-Nya dalam perkara muamalah, pidana, jihad, politik dan pemerintahan? Mengapa hukum-hukum Allah itu kita abaikan? Bukankah semua itu juga perintah dari Tuhan yang sama? Tuhan yang menyerukan perintah shalat, berkurban dan berhaji? Lalu mengapa sikap kita berbeda?

 

Lebih memilukan lagi, semangat dan upaya untuk melaksanakan ketaatan kepada Allah secara kaaffah dengan melaksanakan syariah Islam justru dihadang dan dihinakan dengan sebutan utopia, kearab-araban sampai tudingan radikalisme. Padahal Allah subhanahu wa ta’ala telah berfirman:

وَمَا كَانَ لِمُؤْمِنٍ وَّلَا مُؤْمِنَةٍ اِذَا قَضَى اللّٰهُ وَرَسُوْلُهٗٓ اَمْرًا اَنْ يَّكُوْنَ لَهُمُ الْخِيَرَةُ مِنْ اَمْرِهِمْ ۗ وَمَنْ يَّعْصِ اللّٰهَ وَرَسُوْلَهٗ فَقَدْ ضَلَّ ضَلٰلًا مُّبِيْنًاۗ

Tidaklah patut bagi seorang laki-laki Mukmin dan perempuan Mukmin, jika Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan (yang lain) tentang urusan mereka. Siapa saja yang mendurhakai Allah dan Rasul-Nya, sungguh dia telah sesat dengan kesesatan yang nyata (TQS al-Ahzab [33]: 36).

 

Demikianlah harusnya sikap seorang Mukmin. Jika Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu hukum, dia tidak boleh menyelisihinya dan malah mengambil hukum yang lain. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:

فَلَا وَرَبِّكَ لَا يُؤْمِنُوْنَ حَتّٰى يُحَكِّمُوْكَ فِيْمَا شَجَرَ بَيْنَهُمْ ثُمَّ لَا يَجِدُوْا فِيْٓ اَنْفُسِهِمْ حَرَجًا مِّمَّا قَضَيْتَ وَيُسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا

Demi Tuhanmu, mereka (pada hakikatnya) tidak beriman hingga mereka menjadikan engkau (Muhammad) sebagai hakim dalam perkara yang mereka perselisihkan, kemudian mereka tidak merasakan suatu keberatan pun dalam hati mereka atas keputusan yang engkau berikan, dan mereka menerima (keputusan itu) dengan sepenuhnya (TQS an-Nisa’ [4]: 65).

 

اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ وَلِلّهِ الْحَمْدُ

Ma’âsyiral Muslimîn rahi makumulLâh.

Dengan demikian tidak sepatutnya orang yang mengaku beriman kepada Allah mencari-cari alasan untuk menolak perintah dan larangan-Nya. Apalagi memutarbalikkan ayat demi keuntungan duniawi. Mengharamkan yang halal. Menghalalkan yang haram. Padahal perintah untuk menerapkan syariah Islam sudah jelas dalam Kitabullah. Banyak ayat yang memerintahkan kaum Muslim untuk berhukum dengan hukum-hukum Allah. Allah subhanahu wa ta’ala, misalnya, berfirman:

وَمَنْ لَّمْ يَحْكُمْ بِمَآ اَنْزَلَ اللّٰهُ فَاُولٰۤىِٕكَ هُمُ الْكٰفِرُوْنَ

Siapa saja yang tidak berhukum dengan apa yang telah Allah turunkan, mereka itulah orang-orang kafir (TQS al-Maidah [5]: 44).

 

Allah subhanahu wa ta’ala juga berfirman:

فَاحْكُمْ بَيْنَهُمْ بِمَآ اَنْزَلَ اللّٰهُ وَلَا تَتَّبِعْ اَهْوَاۤءَهُمْ عَمَّا جَاۤءَكَ مِنَ الْحَقِّۗ

Putuskanlah hukum di antara mereka menurut apa yang telah Allah turunkan dan janganlah engkau mengikuti keinginan mereka dengan meninggalkan kebenaran yang telah datang kepadamu (TQS al-Maidah [5]: 48).

 

Allah subhanahu wa ta’ala pun berfirman:

وَاَنِ احْكُمْ بَيْنَهُمْ بِمَآ اَنْزَلَ اللّٰهُ وَلَا تَتَّبِعْ اَهْوَاۤءَهُمْ وَاحْذَرْهُمْ اَنْ يَّفْتِنُوْكَ عَنْۢ بَعْضِ مَآ اَنْزَلَ اللّٰهُ اِلَيْكَۗ

Hendaklah engkau memutuskan hukum di antara mereka menurut apa yang telah Allah turunkan dan janganlah engkau mengikuti keinginan mereka (TQS al-Maidah [5]: 49).

 

Demikianlah yang Allah subhanahu wa ta’ala perintahkan kepada kaum Muslim. Lalu mengapa hari ini kaum Muslim yang mengaku taat kepada Allah malah menundukkan diri pada hukum buatan Montesquieu, Piagama PBB, IMF, World Bank, dan berbagai lembaga internasional. Mengapa mereka malah berani mengabaikan hukum-hukum Allah dan menolak perintah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk berhukum dengan syariah Islam?

 

Janganlah sampai kita mengikuti sikap orang-orang munafik yang selalu mencari-cari alasan untuk menolak perintah Allah subhanahu wa ta’ala. Sebagaimana mereka menolak berangkat ke medang Perang Tabuk dengan alasan cuaca panas. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:

فَرِحَ الْمُخَلَّفُوْنَ بِمَقْعَدِهِمْ خِلٰفَ رَسُوْلِ اللّٰهِ وَكَرِهُوْٓا اَنْ يُّجَاهِدُوْا بِاَمْوَالِهِمْ وَاَنْفُسِهِمْ فِيْ سَبِيْلِ اللّٰهِ وَقَالُوْا لَا تَنْفِرُوْا فِى الْحَرِّۗ قُلْ نَارُ جَهَنَّمَ اَشَدُّ حَرًّاۗ لَوْ كَانُوْا يَفْقَهُوْنَ 

Orang-orang yang ditinggalkan (tidak ikut perang) itu merasa gembira dengan tinggalnya mereka di belakang Rasulullah. Mereka tidak suka berjihad dengan harta dan jiwa mereka di  jalan Allah. Mereka berkata, “Janganlah kamu berangkat (pergi berperang) dalam keadaan panas terik ini.” Katakanlah, “Api Neraka Jahanam itu jauh lebih panas lagi jika saja mereka tahu.” (TQS at-Taubah [9]: 81)

 

اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ وَلِلّهِ الْحَمْدُ

Ma’âsyiral Muslimîn rahimakumulLâh.

Ketaatan kepada Allah akan mengantarkan pada kemenangan dan keberkahan hidup sebagaimana janji-Nya:

وَمَنْ يَّتَّقِ اللّٰهَ يَجْعَلْ لَّهٗ مَخْرَجًا (٢) وَّيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُۗ

Siapa saja yang bertakwa kepada Allah, niscaya Allah akan memberi dia jalan keluar dan rezeki dari jalan yang tidak dia sangka-sangka (TQS ath-Thalaq [65]: 2-3).

 

Allah subhanahu wa ta’ala mengangkat derajat bangsa Arab setelah mereka beriman dan taat pada agama ini. Semula mereka hanya kaum penggembala kambing atau pedagang, suka berperang dan membunuh bayi perempuan. Lalu Allah menjadikan mereka sebagai kaum Muslim yang menguasai hampir 2/3 dunia selama lebih dari 700 tahun. Mereka melahirkan peradaban luhur, unggul dalam ilmu pengetahuan, menjadi mercusuar peradaban dan melindungi umat manusia.

 

Hal sebaliknya terjadi hari ini. Belum pernah umat Muslim mengalami kondisi seterpuruk sekarang. Ketika kaum Muslim melepaskan ketaatan dari agama ini, satu-persatu bencana datang menimpa. Terutama setelah runtuhnya Khilafah Islamiyah pada 3 Maret tahun 1924, kaum Muslim seperti anak ayam yang kehilangan induknya. Bahkan seperti hewan yang tengah disembelih. Dimana-mana menderita.

 

Hari ini tidak ada yang bisa menolong kaum Muslim yang tertindas di Suriah, Palestina, Uyghur, Myanmar, India, dan belahan bumi lain. Tentara Zionis Israel leluasa menembaki Muslim Palestina tidak pandang pria atau wanita, orang tua atau anak-anak. Sebagian pemimpin di Dunia Islam di atas panggung politik berkoar-koar mengecam Israel. Namun, secara terang-terangan mereka tetap menjalin hubungan persahabatan dengan kaum Zionis yang tangannya masih berlumur darah Muslim Palestina.

 

Pembangkangan pada hukum Allah juga membawa bencana dalam kehidupan umat. Tekanan hidup yang berat di Tanah Air sudah menyebabkan penderitaan. Di Indonesia terdapat 26,36 juta orang berada di bawah garis kemiskinan. Sekitar 10,86 juta jiwa adalah miskin ekstrem. Ada 81 juta warga milenial yang tidak punya hunian. Ada hampir 30 juta warga yang tinggal dalam hunian yang tidak layak huni. Mereka tinggal di bantaran kali, di kolong jembatan layang, di pemukiman padat dan kumuh, dengan kondisi bangunan yang tidak layak.

 

Sistem ekonomi kapitalisme yang dipraktikkan dan diterapkan saat ini telah menciptakan jurang sosial yang dalam. Ada 1 persen orang Indonesia yang menguasai 50 persen ekonomi nasional.  Ada 64 persen lahan di Indonesia dikuasai oleh 1 persen korporasi.

 

Tidak aneh jika tekanan sosial yang tinggi ini menyebabkan jutaan warga Indonesia mengalami gangguan jiwa. Perceraian juga meningkat setiap tahunnya. Pada tahun 2022 terdapat 516.334 kasus perceraian. Ironinya, jumlah perceraian akibat perselingkuhan semakin bertambah setiap saat.

 

Karena itu tidak ada jalan keluar atau obat terbaik untuk umat ini selain mewujudkan ketaatan kepada Allah subhanahu wa ta’ala  secara total, bukan parsial. Dengan ketaatan total kepada Allah, Allah akan menolong dan memuliakan umat ini, sebagaimana Allah telah menolong dan memuliakan Ibrahim dan Ismail as.

وَلَوْ اَنَّ اَهْلَ الْقُرٰٓى اٰمَنُوْا وَاتَّقَوْا لَفَتَحْنَا عَلَيْهِمْ بَرَكٰتٍ مِّنَ السَّمَاۤءِ وَالْاَرْضِ وَلٰكِنْ كَذَّبُوْا فَاَخَذْنٰهُمْ بِمَا كَانُوْا يَكْسِبُوْنَ

Jika penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi. Namun, mereka malah mendustakan (ayat-ayat Kami) itu. Karena itu Kami menyiksa mereka disebabkan oleh perbuatan mereka (TQS al-A’raf [7]: 96).

 

 

BarakalLaah lii wa lakum.

 

 

 

KHUTBAH KEDUA

 

اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ وَلِلّهِ الْحَمْدُ

 

اللَّهُ أَكْبَرُ كَبِيرًا وَالْحَمْدُ لِلَّهِ كَثِيرًا، وَسُبْحَانَ اللَّهِ بُكْرَةً وَأَصِيلاً،

لاَ إِلَهَ إِلاًّ اللَّهُ وَلاَ نَعْبُدُ إِلاَّ إِيَّاهُ، مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ، وَلَوْ كَرِهَ الْكَافِرُونَ، لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَحْدَهُ،صَدَقَ وَعْدَهُ وَنَصَرَ عَبْدَهُ وَهَزَمَ الأَحْزَابَ وَحْدَهُ، لاَ إِلَهَ إِلاًّ اللَّهُ اللهُ أكْبَرُ، الله أكبر وَللهِ الْحَمْدُ.

 

اَلْحَمْدُ ِللهِ الَّذِيْ جَعَلَ الْيَوْمَ عِيْداً لِلْمُسْلِمِيْنَ، وَوَحَّدَنَا بِعِيْدِهِ كَأُمَّةٍ وَاحِدَةٍ، مِنْ غَيْرِ الأُمَم، وَنَشْكُرُهُ عَلَى كَمَالِ إِحْسَانِهِ، وَهُوَ ذُو الْجَلاَلِ وَاْلإِكْراَمِ.

 

أَشْهَدُ اَنْ لاَ اِلَهَ اِلاَّ أَنْتَ وَحْدَكَ لاَشَرِيْكَ لَكَ، اللَّهُمَّ مَالِكَ الْمُلْكِ تُؤْتِي الْمُلْكَ مَن تَشَاء، وَتَنزِعُ الْمُلْكَ مِمَّن تَشَاء، وَتُعِزُّ مَن تَشَاء، وَتُذِلُّ مَن تَشَاء، بِيَدِكَ الْخَيْرُ ، إِنَّكَ عَلَىَ كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ ، وَأَشْهَدُ اَنَّ مُحَمَّداً عَبْدُكَ وَرَسُوْلُكَ.

 

الَلَّهُمَّ صَلِّ وَاُسَلِّمُ عَلَى حَبِيْبِناَ المُصْطَفَى، الَّذِّي بَلَّغَ الرِّسَالَةْ، وَأَدَّى الأَمَانَةْ، وَنَصَحَ الأُمَّةْ، وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ، وَمَنْ دَعاَ اِلَى اللهِ بِدَعْوَتِهِ، وَجاَهَدَ فِيْ اللهِ حَقَّ جِهاَدِهِ.

 

اَمَّا بَعْدُ: عِبَادَ اللهِ، أُوْصِيْكُمْ وَإِيَّايَ بِتَقْوَى اللهِ فَقَدْ فَازَ المُتَّقُوْنَ!

 

اَللهُ أَكْبَرُ… اَللهُ أَكْبَرُ… اَللهُ أَكْبَرُ

وَلِلّهِ الْحَمْدُ

Ma’âsyiral Muslimîn rahimakumulLâh.

Akhirnya, marilah kita memohon kepada Allah. Semoga Allah mengabulkan seluruh permohonan kita. Semoga Allah memberi kita kesabaran dan keikhlasan. Semoga Allah pun menguatkan kita untuk berperan penting dalam upaya menciptakan persatuan kaum Muslim dan ketaatan secara kaaffah pada hukum-hukum-Nya.

 

 

إِنَّ اللهَ وَمَلاَئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّ، يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا، صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا.

اَللّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِهِ وَ أَصْحَابِهِ، وَمَنْ دَعَا إِلَى اللهِ بِدَعْوَةِ اْلإِسْلاَمِ، وَمَنْ تَمَسَّكَ بِسُنَّةِ رَسُوْلِهِ، وَمَنْ تَبِعَهُ بِإِحسْاَنٍ اِلى يَوْمِ الدِّيْنِ.

 

اللّهُمَّ اغْفِرْ لَنَا وَلِوَالِدَيْنَا وَارْحَمْهُمَا كَمَا رَبَّيَانَا صِغَارًا، أَللّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ، اَلْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَاْلأَمْوَاتِ.

 

رَبَّنَا ظَلَمْنَا أَنْفُسَنَا، وَاِنْ لَمْ تَغْفِرْلَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُوْنَنَّا مِنَ الْخَاسِرِيْنَ. اَللَّهُمَّ تَقَبَّلْ مِنَّا دُعَائَنَا إِنَّكَ أَنْتَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ، وَتُبْ عَلَيْنَا اِنَّكَ اَنْتَ التَّوَّابُ الرَّحِيْمُ.

 

رَبَّنَا لاَ تُؤَاخِذْنَا اِنْ نَّسِيْنَآ أَوْ اَخْطَأْنَا، رَبَّنَا وَلاَ تَحْمِلْ عَلَيْنَآ اِصْرًا كَمَا حَمَلْتَهُ عَلَى الَّذِيْنَ مِنْ قَبْلِنَا، رَبَّنَا وَلاَ تُحَمِّلْنَا مَالاَ طَاقَةَ لَنَا بِهِ، وَاعْفُ عَنَّا وَاغْفِرْلَنَا وَارْحَمْنَا ،اَنْتَ مَوْلاَنَا، فَانْصُرْنَا عَلَى الْقَوْمِ الْكَاِفِرِيْنَ.

 

اَللَّهُمَّ يَا مُنْـزِلَ الْكِتَابِ، وَمُهْزِمَ اْلأَحْزَابِ، اِهْزِمِ اْليَهُوْدَ وَاَعْوَانَهُمْ، وَصَلِيْبِيِّيْنَ وَاَنْصَارَهُمْ، وَرَأْسُمَالِيِّيْنَ وَاِخْوَانَهُمْ، وَاِشْتِرَاكِيِّيْنَ وَشُيُوْعِيِّيْنَ وَاَشْيَاعَهُمْ.

 

اَللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ دَوْلَةَ الْخِلاَفَةِ عَلَى مِنْهَاجِ النُّبُوَّةِ، تُعِزُّ بِهَا اْلإِسْلاَمَ وَاَهْلَهُ، وَتُذِلُّ بِهَا الْكُفْرَ وَاَهْلَهُ، وَ اجْعَلْناَ مِنَ الْعَامِلِيْنَ الْمُخْلِصِيْنَ بِإِقَامَتِهَا بِإِذْنِكَ يَا اَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ.

 

رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً، وَفِي اْلآخِرَةِ حَسَنَةً، وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ. وَسُبْحَانَ رَبِّكَ رَبِّ الْعِزَّةِ عَمَّا يَصِفُوْنَ، وَسَلاَمٌ عَلَى الْمُرْسَلِيْنَ، وَالْحَمْدُ للهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ.

 

اللهُ أَكْبَرْ، اللهُ أَكْبَرْ، اللهُ أَكْبَرْ، وَللهِ الْحَمْدُ.

Menciptakan Persatuan Umat dan Ketaatan Total Pada Islam

Menciptakan Persatuan Umat dan Ketaatan Total Pada Islam

بسم الله الرحمن الرحيم

MENCIPTAKAN PERSATUAN UMAT DAN KETAATAN TOTAL PADA ISLAM

Khutbah Pertama

 

السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ

اَللهُ أَكْبَرُ، اَللهُ أَكْبَرُ ، اَللهُ أَكْبَرُ

اَللهُ أَكْبَرُ، اَللهُ أَكْبَرُ ، اَللهُ أَكْبَرُ

اَللهُ أَكْبَرُ، اَللهُ أَكْبَرُ ، اَللهُ أَكْبَرُ، اَللهُ أَكْبَرُ وَلِلّهِ الْحَمْدُ.

اللَّهُ أَكْبَرُ كَبِيرًا وَالْحَمْدُ لِلَّهِ كَثِيرًا وَسُبْحَانَ اللَّهِ بُكْرَةً وَأَصِيلاً، لاَ إِلَهَ إِلاًّ اللَّهُ وَلاَ نَعْبُدُ إِلاَّ إِيَّاهُ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ وَلَوْ كَرِهَ الْكَافِرُونَ، لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَحْدَهُ صَدَقَ وَعْدَهُ وَنَصَرَ عَبْدَهُ وَهَزَمَ الأَحْزَابَ وَحْدَهُ، لاَ إِلَهَ إِلاًّ اللَّهُ اللهُ أكْبَرُ، الله أكبر وَللهِ الْحَمْدُ.

 

اَلْحَمْدُ ِللهِ الَّذِيْ جَعَلَ الْيَوْمَ عِيْداً لِلْمُسْلِمِيْنَ، وَوَحَّدَنَا بِعِيْدِهِ كَأُمَّةٍ وَاحِدَةٍ، مِنْ غَيْرِ الأُمَم، وَنَشْكُرُهُ عَلَى كَمَالِ إِحْسَانِهِ وَهُوَ ذُو الْجَلاَلِ وَاْلإِكْراَمِ.

أَشْهَدُ اَنْ لاَ اِلَهَ اِلاَّ أَنْتَ وَحْدَكَ لاَشَرِيْكَ لَكَ، اللَّهُمَّ مَالِكَ الْمُلْكِ تُؤْتِي الْمُلْكَ مَن تَشَاء وَتَنزِعُ الْمُلْكَ مِمَّن تَشَاء وَتُعِزُّ مَن تَشَاء وَتُذِلُّ مَن تَشَاء بِيَدِكَ الْخَيْرُ إِنَّكَ عَلَىَ كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ. وَأَشْهَدُ اَنَّ مُحَمَّداً عَبْدُكَ وَرَسُوْلُكَ.

 

الَلَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى حَبِيْبِناَ المُصْطَفَى، الَّذِّي بَلَّغَ الرِّسَالَةْ، وَأَدَّى الأَمَانَةْ، وَنَصَحَ الأُمَّةْ، وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ دَعاَ اِلَى اللهِ بِدَعْوَتِهِ، وَجَاهَدَ فِيْ اللهِ حَقَّ جِهاَدِهِ.

 

فَيَا عِبَادَ اللهِ، أُوْصِيْكُمْ وَإِيَّايَ بِتَقْوَى اللهِ فَقَدْ فَازَ المُتَّقُوْنَ، قَالَ اللهُ تَعَالَى فِي كِتَابِه الْكَرِيْمِ: ﴿يَاأَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ﴾.

اَمَّا بَعْدُ:

 

 

AlLâhu akbar, AlLâhu akbar, AlLâhu akbar, wa lilLâhil hamdu.

Ma’âsyiral Muslimîn rahimakumulLâh.

AlhamdulilLaahi Rabbil ‘aalamiin. Segala pujian hanya milik Allah, Rabb semesta alam. Shawalat dan salam semoga senantiasa tercurah kepada junjungan kita, Sayiduna Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam; beserta keluarga dan para sahabat beliau serta siapa saja yang mengikuti beliau hingga Hari Kiamat.

 

AlLâhu akbar, AlLâhu akbar, AlLâhu akbar, wa lilLâhil hamdu.

Ma’âsyiral Muslimîn rahimakumulLâh.

Hari ini, tanggal 10 Dzul hijjah yang bertepatan dengan tanggal 9 Juli 2022 adalah hari yang penuh dengan kebahagiaan dan keberkahan. Hari ketika jutaan saudara kita berkumpul di Tanah Suci, menunaikan ibadah haji. Membesarkan asma Allah dan mengharapkan ridha-Nya. Mereka dimuliakan sebagai duta-duta Allah, yang berhak mendapatkan kedudukan mulia di sisi-Nya:

الحُجَّاجُ وَالْعُمَّارُ وَفْدُ اللهِ، دَعَاهُمْ فَأَجَابُوْهُ، سَأَلُوْهُ فَأَعْطَاهُمْ

Sungguh para jamaah haji dan para jamaah umrah adalah para duta Allah. Allah telah memanggil mereka. Lalu mereka memenuhi panggilan-Nya. Mereka memohon kepada Allah. Lalu Allah mengabulkan permohonan mereka (HR Ibnu Majah).

 

Pada hari agung ini pula, kaum Muslim menggemakan takbîr, tahmîd, tashbîh dan tahlîl. Mereka berbondong-bondong menunaikan shalat Id dan mendengarkan khutbah. Setelah itu mereka melakukan penyembelihan dan pembagian hewan kurban.

Sepanjang Hari Tasyriq, lantunan kalimat thayyibah itu pun masih akan terus dikumandangkan. Mereka mengagungkan Tuhan Yang Satu, Tuhan segenap manusia, Allah subhanahu wa ta’ala.

 

AlLâhu akbar, AlLâhu akbar, AlLâhu akbar, wa lilLâhil hamdu.

Ma’âsyiral Muslimîn rahimakumulLâh.

Sadarkah kita bahwa pada hari ini sesungguhnya pelaksanaan ibadah haji dan Idul Adha mempersatukan umat ini. Di Padang Arafah, Mina dan di Muzdalifah, juga di depan Ka’bah, antara Shafa dan Marwa, jutaan Muslim dari berbagai penjuru dunia berkumpul. Mereka berasal dari ragam suku bangsa, warna kulit dan bahasa. Mereka menyatu mempersembahkan ketaatan total kepada Allah subhanahu wa ta’ala dalam ibadah haji.

Di tempat lain, seperti kita pada hari ini, miliaran kaum Muslim juga berkumpul bersama merayakan Idul Adha. Mereka menunaikan shalat Id, lalu berkurban dan mengumandangkan kalimat takbir hingga Hari Tasyriq usai. 

 

Ma’âsyiral Muslimîn rahimakumulLâh.

Bukankah hal yang luar biasa bila kita, kaum Muslim, merasakan persatuan ini? Betapa indah persaudaraan ini. Kita diikat bukan karena suku bangsa, bahasa atau warna kulit. Kita diikat oleh akidah Islam. Akidah inilah yang menghapuskan sekat-sekat perbedaan suku bangsa, warna kulit dan bahasa. Akidah ini pula yang menyingkirkan perbedaan kasta dan status sosial lalu membuat manusia setara di hadapan Allah Yang Maha Pencipta.


Bayangkan pula betapa dahsyatnya kekuatan umat ini bila mereka bersatu. Ada 1,9 miliar Muslim di dunia. Tentu dengan ragam potensi dan keunggulan sumberdaya alam mereka. Andai kaum Muslim di seluruh dunia dapat bersatu, pasti mereka akan kembali menjadi umat yang disegani oleh berbagai bangsa di seluruh dunia. Mereka akan menjadi kekuatan yang menentukan arah dunia. Mereka akan mampu menciptakan tatanan kehidupan manusia yang berkeadilan dan beradab. Bukan seperti kondisi saat ini. Dunia saat ini dikuasai oleh peradaban Barat yang kapitalistik. Barat telah mengeksploitasi kekayaan alam negara-negara lain. Mereka menciptakan perbudakan modern melalui neo-imperialisme. Mereka pun mencabut nilai-nilai kemanusiaan.


Kaum Muslim telah ditetapkan oleh Allah
subhanahu wa ta’ala sebagai satu-satunya umat terbaik. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:

كُنتُم خَيرَ أُمَّةٍ أُخرِجَت لِلنَّاسِ تَأمُرُونَ بِٱلمَعرُوفِ وَتَنهَونَ عَنِ ٱلمُنكَرِ وَتُؤمِنُونَ بِٱللَّهِۗ

Kalian adalah umat terbaik yang dilahirkan untuk manusia, melakukan amar makruf nahi mungkar, dan mengimani Allah (TQS Ali Imran [3]: 110).

 

Namun, pada kenyataannya, hari ini kaum Muslim menjadi umat yang terpinggirkan di berbagai belahan dunia. Sebabnya, karena mereka tidak bersatu. Mereka hanya merasakan persatuan semu, seperti ketika melaksanakan Idul Adha atau melaksanakan ibadah haji. Usai peribadatan ini, umat lagi-lagi tercerai-berai. Mereka bahkan saling memfitnah. Sebagian mereka bahkan memerangi saudaranya yang lain. Mereka seperti tak pernah bersaudara.

 

Sebagian besar umat ini pun hanya menyaksikan derita saudara seiman di Myanmar, Uyghur, Suriah atau Palestina. Miliaran jiwa umat ini seperti buih di lautan. Mereka tak peduli dengan nasib saudaranya di belahan dunia lain! Kita seolah melupakan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam:

مَا مِنْ امْرِئٍ يَخْذُلُ امْرَأً مُسْلِمًا عِنْدَ مَوْطِنٍ تُنْتَهَكُ فِيهِ حُرْمَتُهُ وَيُنْتَقَصُ فِيهِ مِنْ عِرْضِهِ إِلاَّ خَذَلَهُ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ فِي مَوْطِنٍ يُحِبُّ فِيهِ نُصْرَتَهُ. وَمَا مِنْ امْرِئٍ يَنْصُرُ مُسْلِمًا فِي مَوْطِنٍ يُنْتَقَصُ فِيهِ مِنْ عِرْضِهِ وَيُنْتَهَكُ فِيهِ مِنْ حُرْمَتِهِ إِلاَّ نَصَرَهُ اللَّهُ فِي مَوْطِنٍ يُحِبُّ فِيهِ نُصْرَتَهُ

Tidaklah seseorang menelantarkan saudaranya sesama Muslim dalam kondisi kehormatannya sedang dilanggar dan harga dirinya direndahkan, kecuali Allah akan menelantarkan dia dalam kondisi dia ingin ditolong. Tidaklah seseorang menolong seorang Muslim pada saat harga dirinya direndahkan dan kehormatannya dilanggar, kecuali Allah akan menolong dia pada kondisi dia ingin ditolong (HR Abu Dawud).

          

Dari sudut lain kita menyaksikan sebagian Muslim justru berangkulan dengan orang-orang fasik, bahkan dengan kaum kafir imperialis, yang telah menyebabkan umat menderita. Hal itu mereka lakukan justru ketika tangan mereka tak mau terbuka menyambut saudara seiman dengan alasan perbedaan mazhab dan golongan. Seolah hilang ingatan, sampai lupa siapa saudara dan siapa kaum durjana. Mereka sibuk mengungkit-ungkit terus perbedaan, lalu saling mencaci-maki saudara seiman. Lupakah mereka dengan firman Allah subhanahu wa ta’ala:

مُّحَمَّد رَّسُولُ ٱللَّهِۚ وَٱلَّذِينَ مَعَهُۥٓ أَشِدَّاءُ عَلَى ٱلكُفَّارِ رُحَمَاءُ بَينَهُمۖ

Muhammad adalah utusan Allah dan orang-orang yang bersama dia itu keras terhadap orang-orang kafir, tetapi berkasih sayang kepada sesama mereka (TQS al-Fath [48]: 29).

 

AlLâhu akbar, AlLâhu akbar, AlLâhu akbar, wa lilLâhil hamdu.

Ma’âsyiral Muslimîn rahimakumulLâh.

Karena itu, pada momen inilah semestinya kita menguatkan kembali makna persatuan umat dalam jalinan kokoh ukhuwah islamiyah. Umat ini harus kembali bersatu, laksana satu bangunan yang kokoh. Tidak tercerai-berai.  Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:

وَٱعتَصِمُواْ بِحَبلِ ٱللَّهِ جَمِيعا وَلاَ تَفَرَّقُواْۚ

Berpeganglah kalian semuanya pada tali (agama) Allah dan janganlah kalian bercerai-berai (TQS Ali Imran [3]: 103).

 

Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda:

إِنَّ الْمُؤْمِنَ لِلْمُؤْمِنِ كَالْبُنْيَانِ، يَشُدُّ بَعْضُهُ بَعْضًا

Sungguh Mukmin dengan Mukmin yang lain itu seperti sebuah bangunan. Sebagiannya menguatkan sebagian yang lain (HR al-Bukhari).

 

Persatuan hakiki ini baru akan terlaksana manakala umat berada dalam satu naungan institusi politik dan pemerintahan Islam global. Itulah Khilafah Islamiyah. Dengan Khilafah, hilanglah segala perbedaan yang menyebabkan umat terpenjara dalam batas kebangsaan, warna kulit dan bahasa. Dalam Khilafah, kaum Muslim sedunia melebur menjadi umat yang satu.


Khilafah juga akan memelihara umat untuk tidak terpecah-belah. Tidak saling menyerang. Mereka justru akan saling tolong-menolong. Saling melindungi saudaranya. Saling membela kehormatan agama. Tidak akan ada sejengkal tanah pun yang akan dijajah oleh pihak asing. Saksikanlah bagaimana Palestina tetap terjaga dari tangan kotor dan keji Zionis Israel selama ada Khilafah. Ketika utusan Yahudi, Theodore Herzl, merayu Khalifah Sultan Abdul Hamid II dengan menawarkan uang sebanyak 20 juta lira agar melepas Palestina, Sultan Abdul Hamid II dengan tegas menolak:

 

“Aku tidak bisa melepaskan wilayah ini meskipun hanya sejengkal. Sebab tanah tersebut bukan milikku, melainkan milik umat Islam. Mereka telah berjihad untuk mendapatkan tanah ini dan menyirami tanah tersebut dengan darahnya. Karena itu hendaklah kaum Yahudi menyimpan kembali jutaan uang mereka. Andai Khilafah ini telah runtuh suatu hari nanti, silakan kaum Yahudi mengambil tanah Palestina secara gratis! Namun, selama aku masih hidup, maka tertusuknya badanku dengan pisau akan lebih ringan daripada aku harus melihat Palestina terlepas dari Negara Islam (Khilafah). Itu hal yang tidak mungkin terjadi. Sungguh aku tidak bisa menyetujui lepasnya ‘anggota tubuh kami’, sedangkan kami masih dalam keadaan hidup.”

 

Palestina baru bisa dijajah oleh Zionis Israel setelah Inggris melalui kaki tangannya seorang Yahudi bernama Mustafa Kamal at-Taturk meruntuhkan Khilafah Islamiyah terakhir di Turki.

 

Demikianlah persatuan dan keutuhan negeri-negeri Islam hanya bisa terwujud bila Khilafah Islamiyah tegak. Tanpa Khilafah, kesatuan umat hanyalah angan-angan kosong.

 

AlLâhu akbar, AlLâhu akbar, AlLâhu akbar, wa lilLâhil hamdu.

Ma’âsyiral Muslimîn rahimakumulLâh.

Ibadah haji dan kurban adalah bagian dari perwujudan ketaatan pada hukum-hukum Allah, bukan puncak dari ketaatan itu sendiri. Bila seorang hamba rela mengorbankan hartanya demi menempuh perjalanan ibadah haji dan melakukan kurban, maka seharusnya ia juga siap mengorbankan segalanya untuk taat pada syariah Allah subhanahu wa ta’ala, tanpa kecuali. Sebagaimana perintah Allah subhanahu wa ta’ala:

يَٰأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ ٱدخُلُواْ فِي ٱلسِّلمِ كَافَّةٗ وَلاَ تَتَّبِعُواْ خُطُوَٰتِ ٱلشَّيطَٰنِۚ إِنَّهُۥ لَكُم عَدُوّ مُّبِين

Hai orang-orang yang beriman, masuklah kalian ke dalam Islam secara keseluruhan, dan janganlah kalian mengikuti langkah-langkah setan. Sungguh setan itu musuh yang nyata bagi kalian (TQS al-Baqarah [2]: 208).

 

Demikianlah keimanan menuntut ketaatan secara penuh terhadap ajaran Islam. Menurut Syaikh Mahmud Syaltut, Islam menuntut penyatuan syariah dengan akidah. Masing-masing tidak bisa dipisahkan. Akidah adalah dasar yang memancarkan syariah. Syariah merupakan wujud nyata yang lahir dari akidah. Dengan kata lain, akidah adalah fondasi, sedangkan syariah adalah bangunan yang berdiri di atasnya. Karena itu akidah tanpa syariah bagaikan fondasi tanpa wujud bangunan sehingga abstrak dan sulit diukur. Sebaliknya, bangunan tanpa fondasi juga tidak mungkin karena ia akan runtuh. Karena itu pula para ulama menyatakan bahwa keimanan adalah aspek batiniah, sedangkan syariah adalah aspek lahiriah (Al-Kirmani, Jawâhir al-Bukhâri, hlm. 39).

 

Ma’âsyiral Muslimîn rahimakumulLâh.

Setiap Idul Adha kita diajari ketaatan luar biasa keluarga Nabi Ibrahim ‘alaihissalam dalam melaksanakan perintah Allah subhanahu wa ta’ala. Tanpa ragu Nabi Ibrahim ‘alaihissalam dan Nabi Ismail ‘alaihissalam mengerjakan perintah penyembelihan meskipun itu pengorbanan yang amat besar untuk keduanya. Nabi Ibrahim mengorbankan putra kesayangannya, sedangkan Nabi Ismail mengorbankan hidupnya. Keduanya dengan penuh keyakinan mengerjakan perintah Allah subhanahu wa ta’ala. Pada akhirnya Allah subhanahu wa ta’ala menolong dan memberikan kemenangan kepada mereka berdua.

 

Demikianlah seharusnya sikap seorang hamba terhadap perintah dan larangan Allah subhanahu wa ta’ala. Bukan menawar, meragukan atau mencari aturan selain hukum Allah subhanahu wa ta’ala yang menurut hawa nafsunya hal itu lebih ringan. Sikap menyelisihi hukum Allah subhanahu wa ta’ala karena tunduk pada hawa nafsu justru akan mendatangkan kebinasaan, bukan keselamatan. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:

وَلَوِ ٱتَّبَعَ ٱلحَقُّ أَهوَاءَهُم لَفَسَدَتِ ٱلسَّمَٰوَٰتُ وَٱلأَرضُ وَمَن فِيهِنَّۚ بَل أَتَينَٰهُم بِذِكرِهِم فَهُم عَن ذِكرِهِم مُّعرِضُونَ

Andaikata kebenaran itu menuruti hawa nafsu mereka, pasti binasalah langit dan bumi ini, dan semua yang ada di dalamnya. Sebenarnya Kami telah mendatangkan kepada mereka peringatan (al-Quran), tetapi mereka berpaling dari peringatan itu (TQS al-Mu’minun [23]: 71).

 

Ada Muslim yang begitu khusyuk ketika menjalankan perintah shalat, pemurah dalam bersedekah, ringan tangan menolong orang, bibirnya senantiasa basah dengan zikir dan shalawat. Namun, ketika diseru melaksanakan hukum jinayat, hukum muamalah, apalagi berhukum dalam kehidupan bernegara dan bermasyarakat dengan menggunakan syariah Allah, mereka menjadi ragu. Bahkan tak sedikit yang menolak.

 

Di antara alasan penolakan tersebut adalah karena masyarakat hari ini sudah dibangun berdasarkan kesepakatan bersama, yakni bersepakat untuk menyingkirkan hukum-hukum Allah subhanahu wa ta’ala. Hal ini menjadi pertanyaan: Sejak kapan kesepakatan manusia bisa menyingkirkan ayat-ayat Allah subhanahu wa ta’ala dan Sunnah Nabi-Nya, juga menghapus hukum-hukum Islam? Bolehkah karena kesepakatan kemudian masyarakat menghalalkan LGBT? Menghalalkan riba? Mengizinkan negara terus menerus memungut pajak yang mencekik rakyat? Bukankah Allah subhanahu wa ta’ala telah berfirman:

وَإِن تُطِع أَكثَرَ مَن فِي ٱلأَرضِ يُضِلُّوكَ عَن سَبِيلِ ٱللَّهِۚ إِن يَتَّبِعُونَ إِلاَّ ٱلظَّنَّ وَإِن هُم إِلاَّ يَخرُصُونَ

Jika kalian menuruti kebanyakan orang-orang yang ada di muka bumi ini, niscaya mereka akan menyesatkan kalian dari jalan Allah. Mereka tidak lain hanyalah mengikuti persangkaan belaka dan mereka tidak lain hanyalah berdusta (terhadap Allah) (TQS al-An’am [6]: 116).

Demikian pula halal dan haram. Keduanya adalah apa yang telah diputuskan oleh Allah dan Rasul-Nya, bukan berdasarkan kesepakatan manusia. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

مَا أَحَلَّ اللهُ فِيْ كِتَابِهِ فَهُوَ حَلاَلٌ، وَمَا حَرَّمَ فَهُوَ حَرَامٌ

Apa saja yang Allah halalkan dalam Kitab-Nya, itulah yang halal. Apa saja yang Allah haramkan, itulah yang haram (HR al-Hakim).

 

AlLâhu akbar, AlLâhu akbar, AlLâhu akbar, wa lilLâhil hamdu.

Ma’âsyiral Muslimîn rahimakumulLâh.

Bercermin pada ketundukan mereka, kita patut bertanya: Sudahkah kita memiliki ketaatan total kepada Allah subhanahu wa ta’ala dan Rasul-Nya? Tunduk dan patuh pada setiap perintah dan larangan-Nya? Ataukah sebaliknya, kita hanya mau tunduk pada sebagian syariah-Nya, namun menolak sebagian yang lain? Apakah kita tidak tahu bahwa mengimani sebagian syariah-Nya dan mengingkari sebagian lainnya dapat mengantarkan pelakunya pada kekufuran, mendapatkan kehinaan di dunia, dan siksa yang pedih di akhirat? Allah subhanahu wa ta’ala telah berfirman:

إِنَّ ٱلَّذِينَ يَكفُرُونَ بِٱللَّهِ وَرُسُلِهِۦ وَيُرِيدُونَ أَن يُفَرِّقُواْ بَينَ ٱللَّهِ وَرُسُلِهِۦ وَيَقُولُونَ نُؤمِنُ بِبَعض وَنَكفُرُ بِبَعض وَيُرِيدُونَ أَن يَتَّخِذُواْ بَينَ ذَٰلِكَ سَبِيلاً (١٥٠)

أُوْلَٰئِكَ هُمُ ٱلكَٰفِرُونَ حَقّاۚ وَأَعتَدنَا لِلكَٰفِرِينَ عَذَابا مُّهِينا  (١٥١)

Sungguh orang-orang yang kafir kepada Allah dan para rasul-Nya, bermaksud membedakan antara (keimanan kepada) Allah dan rasul-rasul-Nya, dengan mengatakan, “Kami mengimani sebagian dan mengingkari sebagian (yang lain)”, serta bermaksud (dengan perkataan itu) mengambil jalan (tengah) di antara yang demikian (iman atau kafir), merekalah orang-orang kafir yang sebenar-benarnya. Kami telah menyediakan untuk orang-orang yang kafir itu siksaan yang menghinakan (TQS an-Nisa’ [4]: 150-151).

 

Perhatikanlah, di dalam ayat tersebut Allah subhanahu wa ta’ala menyifati orang yang mengimani sebagian ajaran Islam dan mengingkari sebagian yang lain sebagai ‘orang kafir yang sebenar-benarnya’. Na’ûdzubilLâh min dzâlik.

 

Pasti, setiap Muslim tidak mau mendapatkan sebutan yang Allah dinyatakan dalam ayat di atas. Setiap Muslim, selemah apapun imannya, pasti ingin dicatat sebagai hamba yang takwa dengan sebenar-benarnya takwa. Hamba yang kelak dipanggil masuk ke dalam barisan hamba-hamba-Nya yang masuk ke dalam jannah-Nya. Mari kita berusaha untuk memastikan diri kita termasuk ke dalam barisan itu.

 

Semoga Allah subhanahu wa ta’ala senantiasa memberikan taufik dan hidayah-Nya kepada kita, menguatkan kita untuk merealisasi ketaatan kepada syariah Allah secara kaffah. Dan semoga Allah subhanahu wa ta’ala segera memberikan pertolongannya dengan diterapkannya syariah secara kaffah di bawah naungan al-Khilafah ar-Rasyidah yang mengikuti manhaj kenabian dalam waktu dekat.

بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِيْ الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الْآيَاتِ وَذِكْرِ الْحَكِيْمِ وَتَقَبَّلَ اللهُ مِنِّيْ وَمِنْكُمْ تِلَاوَتَهُ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ وَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ، أَقُوْلُ قَوْلِ هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ.

 

 

 

Khutbah Kedua

 

اَللهُ أَكْبَرُ، اَللهُ أَكْبَرُ ، اَللهُ أَكْبَرُ

اَللهُ أَكْبَرُ، اَللهُ أَكْبَرُ ، اَللهُ أَكْبَرُ، اَللهُ أَكْبَرُ

اللهُ أَكْبَرُ كَبِيْرًا وَالْحَمْدُ للهِ كَثِيْرًا، وَسُبْحَانَ اللهِ بُكْرَةً وَأَصِيْلاً.

لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ، صَدَقَ وَعْدَهُ، وَنَصَرَ عَبْدَهُ، وَأَعَزَّ جُنْدَهُ وَهَزَمَ الأَحْزَابَ وَحْدَهُ. لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ، اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ وَللهِ الْحَمْدُ.

الحمد لله الذي أَرْسَلَ رَسُولَهُ بِالْهُدَىٰ وَدِينِ الْحَقِّ لِيُظْهِرَهُ عَلَى الدِّينِ كُلِّهِ. اَلْحَمْدُ للهِ الَّذِيْ كَرَّمَ هَذهِ اِ مُةَّ بِشَريِعْتَهِ اِلكْاَملِة،ِ وخَصَّ بهِاَ بنِبُوُةِّ نَبِيِّهِ اِلْكَرِيِمَةِ،

اَشْهَدُ اَنَّ لاَ اِلَهَ اِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ اَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ لَا نَبِيَا بَعْدَهُ،

الَلَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى حَبِيْبِكَ وَرَسُوْلِكَ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُ اِلَى يَوْمِ الدِّيْنَ،

فَيَا اَيُّهاَ الْمُؤْمِنُوْنَ، تَمَسَّكوا بِاْلإِسْلاَمِ فِي كُلِّ حِيْنٍ، وَقال الله تعالى: ﴿ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَلْتَنظُرْ نَفْسٌ مَّا قَدَّمَتْ لِغَدٍ وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ﴾.

اَمَّا بَعْدُ

 

AlLâhu akbar, AlLâhu akbar, AlLâhu akbar, wa lilLâhil hamdu.

Ma’âsyiral Muslimîn rahimakumulLâh

Mari teguhkan iman kita pada agama Allah subhanahu wa ta’ala. Mari kita tundukkan diri kita dengan sebenar-benarnya pada syariah-Nya. Itulah bukti nyata iman kita kepada Allah subhanahu wa ta’ala, yang akan menyelamatkan kehidupan kita di dunia maupun di akhirat.

 

Mungkin ketaatan dan pengorbanan di jalan Allah subhanahu wa ta’ala untuk menjalankan dan memperjuangkan Islam secara kâffah amatlah berat. Mungkin kenikmatan dunia ini dirasa amat memikat. Namun ketahuilah, kenikmatan dunia dan seisinya amat kecil, bahkan hampir tak ada artinya dengan kenikmatan yang kelak Allah subhanahu wa ta’ala berikan di jannah-Nya. Rasulullah saw. bersabda:

وَاَللَّه مَا الدُّنْيَا فِي اْلآخِرَة إِلاَّ مَثَل مَا يَجْعَل أَحَدكُمْ إِصْبَعه فِي الْيَمّ، فَلْيَنْظُرْ بِمَ يَرْجِع

Demi Allah. Tak ada perbandingan dunia ini dengan akhirat kecuali seperti seseorang yang memasukkan jarinya ke samudera yang luas, maka perhatikanlah berapa yang dia dapat.

 

Akhirnya, marilah kita memohon kepada Allah subhanahu wa ta’ala. Semoga Allah subhanahu wa ta’ala mengabulkan seluruh permohonan kita. Semoga Allah subhanahu wa ta’ala memberi kita kesabaran dan keikhlasan. Semoga Allah subhanahu wa ta’ala menguatkan kita untuk berperan penting dalam upaya menciptakan persatuan kaum Muslim dan ketaatan secara kâffah terhadap hukum-hukum Allah subhanahu wa ta’ala.

 

قَالَ اللهُ تَعَالَى فِيْ الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ: ﴿إِنَّ اللهَ وَمَلاَئِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ، يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا﴾.

اَللّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِهِ وَ أَصْحَابِهِ وَمَنْ دَعَا إِلَى اللهِ بِدَعْوَةِ اْلإِسْلاَمِ، وَمَنْ تَمَسَّكَ بِسُنَّةِ رَسُوْلِهِ وَمَنْ تَبِعَهُ بِإِحسْاَنٍ اِلى يَوْمِ الدِّيْنِ.

 

اللّهُمَّ اغْفِرْ لَنَا وَلِوَالِدَيْنَا وَارْحَمْهُمَا كَمَا رَبَّيَانَا صِغَارًا، أَللّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ اَلأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَاْلأَمْوَاتِ

رَبَّنَا ظَلَمْنَا أَنْفُسَنَا وَاِنْ لَمْ تَغْفِرْلَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُوْنَنَّا مِنَ الْخَاسِرِيْنَ. اَللَّهُمَّ تَقَبَّلْ مِنَّا دُعَائَنَا إِنَّكَ أَنْتَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ وَتُبْ عَلَيْنَا اِنَّكَ اَنْتَ التَّوَّابُ الرَّحِيْمُ.

رَبَّنَا لاَ تُؤَاخِذْنَا اِنْ نَّسِيْنَآ أَوْ اَخْطَأْنَا رَبَّنَا وَلاَ تَحْمِلْ عَلَيْنَآ اِصْرًا كَمَا حَمَلْتَهُ عَلَى الَّذِيْنَ مِنْ قَبْلِنَا رَبَّنَا وَلاَ تُحَمِّلْنَا مَالاَ طَاقَةَ لَنَا بِهِ وَاعْفُ عَنَّا وَاغْفِرْلَنَا وَارْحَمْنَا اَنْتَ مَوْلاَنَا فَانْصُرْنَا عَلَى الْقَوْمِ الْكَاِفِرِيْنَ.

اَللَّهُمَّ يَا مُنْـزِلَ الْكِتَابِ وَمُهْزِمَ اْلأَحْزَابِ اِهْزِمِ اْليَهُوْدَ وَاَعْوَانَهُمْ وَصَلِيْبِيِّيْنَ وَاَنْصَارَهُمْ وَرَأْسُمَالِيِّيْنَ وَاِخْوَانَهُمْ وَاِشْتِرَاكِيِّيْنَ وَشُيُوْعِيِّيْنَ وَاَشْيَاعَهُمْ.

 اَللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ دَوْلَةَ الْخِلاَفَةِ عَلَى مِنْهَاجِ النُّبُوَّةِ تُعِزُّ بِهَا اْلإِسْلاَمَ وَاَهْلَهُ وَتُذِلُّ بِهَا الْكُفْرَ وَاَهْلَهُ، وَ اجْعَلْناَ مِنَ الْعَامِلِيْنَ الْمُخْلِصِيْنَ بِإِقَامَتِهَا بِإِذْنِكَ يَا اَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ.

رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي اْلآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ. وَسُبْحَانَ رَبِّكَ رَبِّ الْعِزَّةِ عَمَّا يَصِفُوْنَ وَسَلاَمٌ عَلَى الْمُرْسَلِيْنَ وَالْحَمْدُ للهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ، آمين.

 

اللهُ أَكْبَرْ اللهُ أَكْبَرْ اللهُ أَكْبَرْ وَللهِ الْحَمْدُ

وَالسَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ.

Ketaatan Total Pada Syariat Allah

Ketaatan Total Pada Syariat Allah

KETAATAN TOTAL PADA SYARIAT ALLAH

KHUTBAH PERTAMA

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

 

اللهُ أكْبَرُ × ٩

اللَّهُ أَكْبَرُ كَبِيرًا وَالْحَمْدُ لِلَّهِ كَثِيرًا وَسُبْحَانَ اللَّهِ بُكْرَةً وَأَصِيلاً،

 لاَ إِلَهَ إِلاًّ اللَّهُ وَلاَ نَعْبُدُ إِلاَّ إِيَّاهُ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ وَلَوْ كَرِهَ الْكَافِرُونَ، لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَحْدَهُ صَدَقَ وَعْدَهُ وَنَصَرَ عَبْدَهُ وَهَزَمَ الأَحْزَابَ وَحْدَهُ، لاَ إِلَهَ إِلاًّ اللَّهُ اللهُ أكْبَرُ، الله أكبر وَللهِ الْحَمْدُ.

اَلْحَمْدُ ِللهِ الَّذِيْ جَعَلَ الْيَوْمَ عِيْداً لِلْمُسْلِمِيْنَ، وَوَحَّدَنَا بِعِيْدِهِ كَأُمَّةٍ وَاحِدَةٍ، مِنْ غَيْرِ الأُمَم، وَنَشْكُرُهُ عَلَى كَمَالِ إِحْسَانِهِ وَهُوَ ذُو الْجَلاَلِ وَاْلإِكْراَمِ.

أَشْهَدُ اَنْ لاَ اِلَهَ اِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ، اللَّهُمَّ مَالِكَ الْمُلْكِ تُؤْتِي الْمُلْكَ مَن تَشَاء وَتَنزِعُ الْمُلْكَ مِمَّن تَشَاء وَتُعِزُّ مَن تَشَاء وَتُذِلُّ مَن تَشَاء بِيَدِكَ الْخَيْرُ إِنَّكَ عَلَىَ كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ وَأَشْهَدُ اَنَّ مُحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ.

الَلَّهُمَّ صَلِّ وَ سَلِّمْ عَلَى حَبِيْبِناَ المُصْطَفَى، مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ، الَّذِّي بَلَّغَ الرِّسَالَةْ، وَأَدَّى الأَمَانَةْ، وَنَصَحَ الأُمَّةْ، وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ دَعاَ اِلَى اللهِ بِدَعْوَتِهِ، وَجاَهَدَ فِيْ اللهِ حَقَّ جِهاَدِهِ.

أَمَّا بَعْدُ، فَيَا أَيُّهَا الْحَاضِرُوْنَ رَحِمَكُمُ اللهُ، اُوْصِيْنِيْ نَفْسِيْ وَإِيَّاكُمْ بِتَقْوَى اللهِ، فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ.

قَالَ اللهُ تَعَالَى :

أَعُوذُ بِاللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ

وَأَنِ ٱحۡكُم بَيۡنَهُم بِمَآ أَنزَلَ ٱللَّهُ وَلَا تَتَّبِعۡ أَهۡوَآءَهُمۡ وَٱحۡذَرۡهُمۡ أَن يَفۡتِنُوكَ عَنۢ بَعۡضِ مَآ أَنزَلَ ٱللَّهُ إِلَيۡكَۖ.

 

الله أكبر ×٣ ولله الحمد

Ma’âsyira al-Muslimîn rahimakumul-Lâh

Hari ini adalah hari raya bagi umat Islam. Pada hari ini pula, umat Islam dari berbagai penjuru dunia melakukan ibadah haji di Tanah Suci. Selain mereka, disyariatkan mengerjakan shalat ‘id dan menyembelih hewan kurban.

Idul Adha sekarang ini kita rayakan masih dalam kondisi pandemi yang belum berakhir. Tingkat yang terinfeksi virus makin meningkat, dan penanganan makin tidak jelas arahnya. Demikian juga dengan ketidak-kepercayaan publik yang makin tinggi akibat salah urus sejak awal. Pada level keimanan, kita wajib mengimani bahwa Allah sajalah yang kuasa menghidupkan dan mematikan manusia. Semuanya ada dalam genggaman Allah, baik sakit maupun kesembuhan, baik kebaikan maupun keburukan.

Orang beriman juga harus meyakini bahwa semua hal termasuk musibah datangnya dari Allah. Oleh karena itu, Allahlah tempat meminta segala sesuatu. Saat ditimpa musibah, setiap muslim wajib bersabar. Semua urusan ia serahkan kepada Allah. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

«مَآ أَصَابَ مِن مُّصِيبَةٍ إِلَّا بِإِذْنِ ٱللَّهِ ۗ وَمَن يُؤْمِنۢ بِٱللَّهِ يَهْدِ قَلْبَهُۥ ۚ وَٱللَّهُ بِكُلِّ شَىْءٍ عَلِيمٌ»

“Tidak ada suatu musibah pun yang menimpa seseorang kecuali dengan izin Allah; dan barang siapa yang beriman kepada Allah niscaya Dia akan memberi petunjuk kepada hatinya. Dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.” (QS. at-Taghabun: 11).

 

Pada saat ditimpa musibah, kaum muslimin harus bertobat, meningkatkan ibadah, banyak berdoa, dan melaksanakan berbagai amalan nafilah lainnya sebagai bentuk taqarrub kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Sekarang ini adalah momen untuk kembali kepada Allah dengan taubat yang sesungguhnya, baik secara personal maupun kolektif. Wujud taubat adalah dengan taat atas semua ketentuan Allah Subhanahu wa Ta’ala. Sebagaimana yang dicontohkan dalam peristiwa monumental, ketaatan Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail ‘Alaihimassalam.

 

الله أكبر ×٣ ولله الحمد

Ma’âsyira al-Muslimîn rahimakumul-Lâh

Di hari ‘Idul Adha, 10 Dzulhijjah 1442 H ini, kita mengenang kembali peristiwa agung pengorbanan Nabi Ibrahim dalam menaati perintah Allah Subhanahu wa Ta’ala untuk menyembelih putranya, Ismail. Bagi Nabi Ibrahim, Ismail adalah buah hati, harapan dan kecintaannya, yang telah lama didambakan. Namun di tengah rasa bahagia itu, turunlah perintah Allah kepadanya untuk menyembelih putra kesayangannya itu. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

«فَلَمَّا بَلَغَ مَعَهُ السَّعْيَ قَالَ يَابُنَيَّ إِنِّي أَرَى فِي الْمَنَامِ أَنِّي أَذْبَحُكَ فَانْظُرْ مَاذَا تَرَى»

“Maka tatkala anak itu telah sampai (pada umur sanggup) berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata: hai anakku, sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka pikirkanlah apa pendapatmu” (QS. ash-Shaffat: 102).

 

Terhadap perintah itu, Nabi Ibrahim mengedepankan kecintaan yang tinggi yakni kecintaan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dan menyingkirkan kecintaan yang rendah, yakni kecintaan kepada anak, harta, dan dunia.

Perintah amat berat itu pun disambut oleh Ismail ‘Alaihissalam dengan penuh kesabaran. Ismail pun mengukuhkan keteguhan jiwa ayahandanya dengan mengatakan:

«قَالَ يَا أَبَتِ افْعَلْ مَا تُؤْمَرُ سَتَجِدُنِي إِنْ شَاءَ اللَّهُ مِنَ الصَّابِرِينَ»

“Wahai Ayahanda, lakukanlah apa yang diperintahkan kepadamu, Insya Allah engkau akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar” (QS. ash-Shaffat: 102)

 

الله أكبر ×٣ ولله الحمد

Ma’âsyira al-Muslimîn rahimakumul-Lâh

Kisah Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail tersebut seharusnya menjadi teladan bagi kita saat ini. Tidak hanya teladan dalam pelaksanaan ibadah haji dan ibadah qurban, namun juga teladan dalam berjuang dan berkorban demi terwujudnya ketaatan kepada hukum-hukum Allah Subhanahu wa Ta’ala secara kaffah. Ketaatan total pada syariat Allah tanpa syarat dan tanpa tapi. Sungguh, kini banyak hukum Allah Subhanahu wa Ta’ala yang diabaikan, khususnya syariah Islam yang berkaitan dengan pengaturan kehidupan bermasyarakat dan bernegara, seperti dalam bidang pemerintahan, ekonomi, sosial, hukum pidana, pendidikan, politik luar negeri dan sebagainya.

Teladan Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail ‘Alaihimassalam itu, sungguh sangat berarti bagi kita dalam menjalankan perintah Allah untuk menerapkan syariah-Nya secara kaffah. Termasuk kewajiban memutuskan perkara dengan hukum-Nya sebagaimana ditegaskan Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam firman-Nya:

«وَأَنِ ٱحۡكُم بَيۡنَهُم بِمَآ أَنزَلَ ٱللَّهُ وَلَا تَتَّبِعۡ أَهۡوَآءَهُمۡ وَٱحۡذَرۡهُمۡ أَن يَفۡتِنُوكَ عَنۢ بَعۡضِ مَآ أَنزَلَ ٱللَّهُ إِلَيۡكَۖ»

“Hendaklah kamu memutuskan perkara di antara mereka menurut apa yang diturunkan Allah, dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu mereka. Dan berhati-hatilah kamu terhadap mereka, supaya mereka tidak memalingkan kamu dari sebagian apa yang telah diturunkan Allah kepadamu.” (QS. al-Maidah: 49)

 

Dalam ayat ini, Allah Subhanahu wa Ta’ala memerintahkan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam untuk memutuskan perkara dengan apa yang diturunkan-Nya. Perintah tersebut juga berlaku bagi kita, umat beliau Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Mafhum dari ayat ini, hendaknya umat Islam mewujudkan seorang hakim (penguasa) sepeninggal Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam untuk memutuskan perkara menurut apa yang diturunkan Allah.

 

الله أكبر ×٣ ولله الحمد

Ma’âsyira al-Muslimîn rahimakumul-Lâh

Di Indonesia, dalam kondisi pandemi Covid-19 seperti sekarang ini, rakyat makin terhimpit kemiskinan, harga-harga kebutuhan pokok terus membumbung tinggi, sembako rencana akan dikenai pajak, pendidikan mahal tapi kualitasnya rendah, layanan kesehatan makin mahal, budaya barat yang merusak semakin marak, hukum perundangan seperti UU Omnibus Law yang untungkan korporasi dilegalkan, dan korupsi kian merajalela. Termasuk korupsi Bansos Covid-19. Sungguh sangat memalukan. Korupsi ini melibatkan tiga pilar demokrasi sekaligus yakni yudikatif, legislatif, dan eksekutif. Ini bukti yang ke sekian kalinya bahwa sistem ini melahirkan korupsi.

Sungguh, pangkal keterpurukan ini bersumber pada satu hal yakni penyimpangan terhadap aturan Allah Subhanahu wa Ta’ala. Ketidaktaatan kita pada syariat Allah. Secara kolektif, umat masih berpaling dari Al-Qur’an. Keadaan itu telah diterangkan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam QS. Thaha 124:

«وَمَنْ أَعْرَضَ عَن ذِكْرِي فَإِنَّ لَهُ مَعِيشَةً ضَنكاً وَنَحْشُرُهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ أَعْمَى»

 “Siapa saja yang berpaling dari peringatan-Ku maka sesungguhnya baginya kehidupan yang sempit dan Kami akan mengumpulkan dia pada Hari Kiamat nanti dalam keadaan buta…”. (QS. Thaha: 124)

 

Menurut Imam Ibnu Katsir makna “berpaling dari peringatan-Ku” adalah: menyalahi perintah-Ku dan apa yang Aku turunkan kepada Rasul-Ku, melupakannya dan mengambil petunjuk dari selainnya (Tafsir al-Qur’an al-‘Azhim, V/323).

Sedangkan penghidupan yang sempit tidak lain adalah kehidupan yang semakin melarat, miskin, sengsara, menderita, terjajah, teraniaya, tertindas dan sebagainya, sebagaimana yang terjadi di negeri-negeri muslim sekarang.

 

الله أكبر ×٣ ولله الحمد

Ma’âsyira al-Muslimîn rahimakumul-Lâh

Kondisi tersebut tak boleh berlangsung terlalu lama lagi. Umat Islam harus mewujudkan ketaatan penuh dengan penerapan syariah Islam secara kaffah, sebagaimana yang diinginkan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala melalui firman-Nya dalam QS. Al-Baqarah: 208:

 «يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ ادْخُلُواْ فِي السِّلْمِ كَآفَّةً وَلاَ تَتَّبِعُواْ خُطُوَاتِ الشَّيْطَانِ إِنَّهُ لَكُمْ عَدُوٌّ مُّبِينٌ»

“Hai orang-orang yang beriman, masuklah kalian ke dalam Islam secara keseluruhannya, dan janganlah kalian menuruti langkah-langkah setan. Sesungguhnya setan itu musuh yang nyata bagimu”. (QS. Al-Baqarah: 208)

 

Penerapan syariat sebagai wujud ketaatan total kepada Allah Ta’ala mengharuskan adanya pemimpin yang adil yang menerapkan sistem yang adil pula, yakni sistem Islam. Kepemimpinan Islam seperti itu juga berfungsi sebagai penjaga (hâris) bagi kaum muslimin, baik agama, darah, harta, maupun kehormatan mereka. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

«وَإِنَّمَا الإِمَامُ جُنَّةٌ يُقَاتَلُ مِنْ وَرَائِهِ وَيُتَّقَى بِهِ»

“Sesungguhnya seorang pemimpin itu adalah perisai, di belakangnya orang-orang berperang, dan kepadanya orang-orang mencari perlindungan.” (HR. Bukhari-Muslim).

Imam an-Nawawi menyatakan, hadits itu bermakna bahwa Imam merupakan benteng/tameng karena ia melindungi umat dari serangan musuh terhadap kaum muslimin, memelihara hubungan kaum muslimin satu sama lain dan menjaga kekayaan kaum muslimin.

 

الله أكبر ×٣ ولله الحمد

Ma’âsyira al-Muslimîn rahimakumul-Lâh

Spirit sami’nâ wa atha’nâ sebagaimana yang ditunjukkan oleh Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail ‘Alaihimassalam jelas membutuhkan pengorbanan. Dalam konteks ini, kita patut bertanya pada diri kita sendiri: sejauh manakah pengorbanan kita dalam menjalankan ketaatan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, melaksanakan kewajiban penerapan syariah Islam, dan memutuskan perkara dengan apa yang telah Allah turunkan?

Jika kini kita bersegera, dan dengan ringan memenuhi perintah berkurban, padahal itu menurut jumhur fukaha hukumnya sunnah, maka semestinya kita lebih bersegera, dan dengan lebih ringan menerapkan syariah Allah sebagai wujud ketaatan kepada-Nya.

Semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala segera menurunkan pertolongan-Nya kepada kaum muslimin. Semoga pula kita termasuk hamba-hamba-Nya yang istiqamah, dan berkorban penuh keikhlasan dalam rangka mewujudkan kehidupan Islam. Hasbunal-Lâh wa ni’mal wakîl ni’ma al-mawlâ wa ni’ma al-nashîr, lâ haula wa lâ quwwata illa bil-Lâh.

 

[]

بَارَكَ الله لِي وَلَكُمْ فِى اْلقُرْآنِ اْلعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِي وَإِيَّاكُمْ بِمَافِيْهِ مِنَ الْآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيمِ وَتَقَبَّلَ اللهُ مِنَّا وَمِنْكُمْ تِلاَوَتَهُ وَإِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ العَلِيْمُ، وَأَقُوْلُ قَوْلِي هَذَا فَأسْتَغْفِرُ اللهَ العَظِيْمَ إِنَّهُ هُوَ الغَفُوْرُ الرَّحِيْم.

 

 

KHUTBAH KEDUA

اللهُ أكْبَرُ × ٧

اللَّهُ أَكْبَرُ كَبِيرًا وَالْحَمْدُ لِلَّهِ كَثِيرًا وَسُبْحَانَ اللَّهِ بُكْرَةً وَأَصِيلاً، لاَ إِلَهَ إِلاًّ اللَّهُ وَلاَ نَعْبُدُ إِلاَّ إِيَّاهُ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ وَلَوْ كَرِهَ الْكَافِرُونَ، لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَحْدَهُ صَدَقَ وَعْدَهُ وَنَصَرَ عَبْدَهُ وَهَزَمَ الأَحْزَابَ وَحْدَهُ،

لاَ إِلَهَ إِلاًّ اللَّهُ، اللهُ أكْبَرُ، الله أكبر وَللهِ الْحَمْدُ.

اَلْحَمْدُ للهِ عَلىَ إِحْسَانِهِ وَالشُّكْرُ لَهُ عَلىَ تَوْفِيْقِهِ وَاِمْتِنَانِهِ. وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ اِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَاللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الدَّاعِى إلىَ رِضْوَانِهِ. اللهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وِعَلَى اَلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَسَلِّمْ تَسْلِيْمًا كِثيْرًا.

 

أَمَّا بَعْدُ فَياَ اَيُّهَا النَّاسُ اِتَّقُوااللهَ فِيْمَا أَمَرَ وَانْتَهُوْا عَمَّا نَهَى وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ بَدَأَ فِيْهِ بِنَفْسِهِ وَثَـنَى بِمَلآ ئِكَتِهِ الْمُسَبِّحَةِ بِقُدْسِهِ وَقَالَ تَعاَلَى إِنَّ اللهَ وَمَلآئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلىَ النَّبِى يآ اَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا. اللهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلِّمْ وَعَلَى آلِ سَيِّدِناَ مُحَمَّدٍ وَعَلَى اَنْبِيآئِكَ وَرُسُلِكَ وَمَلآئِكَةِ اْلمُقَرَّبِيْنَ وَارْضَ اللّهُمَّ عَنِ اْلخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ أَبِى بَكْرٍ وَعُمَر وَعُثْمَان وَعَلي وَعَنْ بَقِيَّةِ الصَّحَابَةِ وَالتَّابِعِيْنَ وَتَابِعِي التَّابِعِيْنَ لَهُمْ بِاِحْسَانٍ اِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ وَارْضَ عَنَّا مَعَهُمْ بِرَحْمَتِكَ يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ.

 

اَللهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَاْلمُؤْمِنَاتِ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَاْلمُسْلِمَاتِ اَلاَحْيآء مِنْهُمْ وَاْلاَمْوَاتِ اللهُمَّ أَعِزَّ اْلإِسْلاَمَ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَأَذِلَّ الشِّرْكَ وَاْلمُشْرِكِيْنَ وَانْصُرْ عِبَادَكَ اْلمُوَحِّدِيَّةَ وَانْصُرْ مَنْ نَصَرَ الدِّيْنَ وَاخْذُلْ مَنْ خَذَلَ اْلمُسْلِمِيْنَ وَ دَمِّرْ أَعْدَاءَ الدِّيْنِ وَاعْلِ كَلِمَاتِكَ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ. اللهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا اْلبَلاَءَ وَاْلوَبَاءَ وَالزَّلاَزِلَ وَاْلمِحَنَ وَسُوْءَ اْلفِتْنَةِ وَاْلمِحَنَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ عَنْ بَلَدِنَا اِنْدُونِيْسِيَّا خآصَّةً وَسَائِرِ اْلبُلْدَانِ اْلمُسْلِمِيْنَ عآمَّةً يَا رَبَّ اْلعَالَمِيْنَ. رَبَّنَا آتِناَ فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِى اْلآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ. رَبَّنَا ظَلَمْنَا اَنْفُسَنَا وَاإنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُوْنَنَّ مِنَ اْلخَاسِرِيْنَ.

 

اَللَّهُمَّ يَا مُنْـزِلَ الْكِتَابِ وَمُهْزِمَ اْلأَحْزَابِ اِهْزِمِ اْليَهُوْدَ وَاَعْوَانَهُمْ وَصَلِيْبِيِّيْنَ وَاَنْصَارَهُمْ وَرَأْسُمَالِيِّيْنَ وَاِخْوَانَهُمْ وَاِشْتِرَاكِيِّيْنَ وَشُيُوْعِيِّيْنَ وَاَشْيَاعَهُمْ.

رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي اْلآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ، وَسُبْحَانَ رَبِّكَ رَبِّ الْعِزَّةِ عَمَّا يَصِفُوْنَ وَسَلاَمٌ عَلَى الْمُرْسَلِيْنَ وَالْحَمْدُ للهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ.

 

عِبَادَاللهِ ! إِنَّ اللهَ يَأْمُرُنَا بِاْلعَدْلِ وَاْلإِحْسَانِ وَإِيْتآءِ ذِي اْلقُرْبىَ وَيَنْهَى عَنِ اْلفَحْشآءِ وَاْلمُنْكَرِ وَاْلبَغْي يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ وَاذْكُرُوا اللهَ اْلعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوْهُ عَلىَ نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرْ.

 

اللهُ أَكْبَرْ اللهُ أَكْبَرْ اللهُ أَكْبَرْ وَللهِ الْحَمْدُ.

 

والسلام عليكم ورحمة الله وبركاته

 

 

UPDATE INFORMASI TERBARU