Ketaatan Total Kepada Allah

KETAATAN TOTAL KEPADA ALLAH

 

KHUTBAH PERTAMA

 

إنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ, نَحْمَدُهُ, وَنَسْتَعِينُهُ, وَنَسْتَغْفِرُهُ, وَنَعُوذُ بِاللَّهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا, وَسَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا

مَنْ يَهْدِهِ اللَّهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ, وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ,

أَشْهَدُ أَنْ لاَ اِلَهَ اِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لَاشَرِيْكَ لَهُ، شَهَادَةَ مَنْ هُوَ خَيْرٌ مَّقَامًا وَأَحْسَنُ نَدِيًّا.

 وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا محَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الْمُتَّصِفُ بِالْمَكَارِمِ كِبَارًا وَصَبِيًّا.

 اَللَّهُمَّ فَصَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَانَ صَادِقَ الْوَعْدِ وَكَانَ رَسُوْلاً نَبِيًّا، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ الَّذِيْنَ يُحْسِنُوْنَ إِسْلاَمَهُمْ وَلَمْ يَفْعَلُوْا شَيْئًا فَرِيًّا،

 أَمَّا بَعْدُ، فَيَا أَيُّهَا الْحَاضِرُوْنَ رَحِمَكُمُ اللهُ،

 اُوْصِيْنِيْ نَفْسِيْ وَإِيَّاكُمْ بِتَقْوَى اللهِ، فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ.

قَالَ اللهُ تَعَالَى :

 

   فَإِنْ تَوَلَّوْا فَاعْلَمْ أّنَّمَا يُرِيْدُ اللهُ أَنْ يُّصِيْبَهُمْ بِبَعْضِ ذُنُوْبِهِمْ

 

“Maka jika mereka berpaling dari hukum Allah, ketahuilah sungguh Allah hanya bermaksud menimpakan mushibah kepada mereka akibat sebagian dosa-dosa mereka.” [Qs. al-Maidah: 49]

 

 

 

Hadirin jamaah jumah rahimakumullah,

 

Bertakwalah kepada Allah. Ingatlah pesan baginda Nabi Saw:

 

اِتَّقِ اللهَ حَيْثُمَا كُنْتَ، وَأَتْبِعِ السَّيِّئَةَ الْحَسَنَةَ تَمْحُهَا، وَخَالِقِ النَّاسَ بِخُلُقٍ حَسَنٍ

“Bertakwalah kepada Allah di mana pun engkau berada. Iringilah kejelakan dengan kebaikan, niscaya kebaikan tersebut akan menghapuskannya. Dan bergaullah dengan manusia dengan akhlak yang baik.” (HR Tirmidzi )

 

Hadirin jamaah jumah rahimakumullah,

 

Esok hari, kaum Muslim dari seluruh penjuru dunia berkumpul di Padang Arafah untuk menunaikan rukun Islam yang kelima yakni ibadah haji. Mereka bersatu di tempat yang sama, dengan pakaian yang sama, dengan syiar yang sama, dengan syariah yang sama dan tujuan yang sama, yaitu mewujudkan ketaatan kepada Allah Rabbul’aalamien.

 

Dan setiap momentum haji ini kita selalu diingatkan tentang kisah keteladanan khalilullâh Ibrahim as dan putranya Ismail as yang luar biasa.  Yang Pertama, lihatlah bagaimana keluarga Nabi Ibrahim As tunduk secara total dan taat secara penuh kepada perintah Allah SWT. Tanpa ada keberatan sedikit pun di dalam diri mereka.

 

Lihatlah bagaimana ketaatan Ibrahim kepada Allah SWT yang telah memerintahkannya untuk meninggalkan istri dan putranya tercinta di lembah gersang tanpa tumbuhan [Hr. Bukhari dari Ibn ‘Abbas].. Juga ketaatan Ibrahim kepada Allah Swt yang telah memerintahkannya untuk menyembelih putra tercinta, putra yang telah dinanti sejak lama.

 

Yang Kedua, lihatlah bagaimana ketaatan istri Nabi Ibrahim As–Hajar, saat ditinggal sendiri bersama puteranya, Ismail di padang pasir tandus, tanpa siapapun yang menemani di sana. Hajar berkata:

 

ياَ إِبْرَاهِيْمُ أَيْنَ تَذْهَبُ وَتَتْرُكُنَا بِهَذَا الْوَادِيْ الَّذِيْ لَيْسَ فِيْهِ إِنْسٌ وَلاَ شَيْءٌ فَقَالَتْ لَهُ ذَلِكَ مِرَارًا وَجَعَلَ لاَ يَلْتَفِتُ إِلَيْهَا. فَقَالَتْ لَهُ: آللهُ الَّذِيْ أَمَرَكَ بِهَذَا، قَالَ: نَعَمْ. قَالَتْ: إِذَنْ لاَ يُضَيِّعُنَا

 

“Wahai [suamiku] Ibrahim, ke manakah engkau  hendak pergi, meninggalkan kami di lembah ini, yang tak ada satu orang dan apapun jua. Dia [Hajar] mengatakan itu kepadanya berkali-kali. Nabi Ibrahim pun tidak menoleh kepadanya. Lalu Hajar berkata kepadanya, “Apakah Allah yang memerintahkan ini kepadamu?” Dia [Ibrahim] menjawab, “Benar.” Dia [Hajar] berkata, “Jika itu memang perintah-Nya, pasti Dia tidak akan membiarkan kita tersia-sia.” [Hr. Bukhari]

 

Yang Ketiga, lihatlah bagaimana ketaatan Ismail yang dengan sabar dan berserah diri menerima perintah Allah, meski perintah itu akan berakibat hilangnya nyawa. Ismail berkata kepada bapaknya:

 

﴿يآ أَبَتِ افْعَلْ مَا تُؤْمَرُ سَتَجِدُنِيْ إِنْ شَاءَ اللهُ مِنَ الصَّابِرِيْنَ﴾

 

“Wahai ayah, laksanakanlah apa yang diperintahkan kepadamu. Insya Allah engkau akan menemukanku termasuk orang-orang yang bersabar.” [Qs. al-Shaffat: 102].

 

Hadirin jamaah jumah rahimakumullah,

 

Seperti itulah ketaatan seorang Muslim sejati kepada Allah. Ketaatan mutlak, ketaatan tanpa batas. Karena kita ini sejatinya adalah hamba [budak]-Nya, yang hanya tunduk dan patuh kepada-Nya:

 

﴿وَأُمِرْنَا لِنُسْلِمَ لِرَبِّ الْعَالَمِيْنَ﴾

 

“Dan kami telah diperintahkan untuk berserah diri (secara mutlak) kepada Allah Allah Tuhan semesta alam.” [Q.s. al-An’am: 71]

 

Ketaatan itu pula yang ditunjukkan oleh jamaah haji, ketika mereka menunaikan rangkaian manasik haji. Mereka tidak mempertanyakan mengapa begini, dan mengapa begitu? Semua rangkaian ibadah haji itu mereka tunaikan sebagai bentuk ketundukan dan kepatuhan kepada Allah Rabbul ‘Alamien.

 

Maka, seharusnya seperti itulah kita memperlakukan syariah Allah Swt yang lain dalam seluruh aspek kehidupan. Jika pada saat shalat dan zakat kita taat kepada Allah Swt, maka begitu juga seharusnya pada saat kita berbisnis dan bermualah. Jika pada saat puasa dan haji kita taat kepada Allah, maka begitu pula seharusnya ketika berpolitik dan bernegara.

 

Hadirin jamaah jumah rahimakumullah,

 

Seorang Muslim mesti yakin bahwa di balik ketaatan terhadap semua perintah Allah, di balik ketaatan menjalankan syariah-Nya, pasti ada kebaikan. Allah tidak akan akan menyia-nyiakan hamba-Nya yang taat menjalani perintah-Nya. Sebagaimana perkataan Hajar, istri Nabi Ibrahim:

 

إِذَنْ لاَ يُضَيِّعُنَا اللهُ

 

“Kalau begitu, pasti Allah tidak akan menyia-nyiakan kita.” [Hr. Bukhari dari Ibn]

 

Allah berfirman dalam hadits Qudsi:

 

وَإِنِّيْ إِذَا أُطِعْتُ رَضِيْتُ، فَإِذَا رَضِيْتُ بَارَكْتُ وَالْبَرَكَةُ مِنِّيْ تُدْرِكُ الْأُمَّةَ بَعْدَ الْأُمَّةِ [رواه ابن أبي حاتم]

 

“Dan sesungguhnya Aku, Jika Aku di taati Pasti Aku akan Rido. Jika aku telah Ridho pasti aku akan memberikan keberkahan. Dan keberkahan-Ku itu akan menimpa umat setaslh umat yang lain.” [Hr. Ibn Abi Hatim]

 

Jika Allah memuliakan orang taat kepada-Nya. Maka sebaliknya Dia akan menghinakan orang yang maksiat dan berbuat zhalim.

 

 وَقَدْ خَابَ مَنْ حَمَلَ ظُلْمًا

 

“Sungguh pasti akan merugi orang yang membawa kezhaliman.” [Qs. Thaha :111]

 

Karena itu, segala malapetaka, krisis multi dimensi dan berbagai keterpurukan yang kini menimpa umat Islam adalah karena umat ini tidak taat kepada Allah secara total. Musibah dan krisis yang menimpa negeri ini juga ngeri-negeri kaum Muslimin adalah karena berpalingnya kaum Muslimin dari hukum Allah. Firman Allah:

 

   فَإِنْ تَوَلَّوْا فَاعْلَمْ أّنَّمَا يُرِيْدُ اللهُ أَنْ يُّصِيْبَهُمْ بِبَعْضِ ذُنُوْبِهِمْ

 

“Maka jika mereka berpaling dari hukum Allah, ketahuilah sungguh Allah hanya bermaksud menimpakan mushibah kepada mereka akibat sebagian dosa-dosa mereka.” [Qs. al-Maidah: 49]

 

Walhasil, marilah kita tunduk dan taat kepada seluruh syariah Allah. Mari terus kita perjuangkan agar syariah Allah ini tegak di muka bumi. Semoga Allah meridhai. Aamiin

 

 []

بَارَكَ الله لِي وَلَكُمْ فِى اْلقُرْآنِ اْلعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِي وَإِيَّاكُمْ بِمَافِيْهِ مِن الآيَةِ وَذِكْرِ الْحَكِيْمِ وَتَقَبَّلَ اللهُ مِنَّا وَمِنْكُمْ تِلاَوَتَهُ وَإِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ العَلِيْمُ، وَأَقُوْلُ قَوْلِي هَذَا فَأسْتَغْفِرُ اللهَ العَظِيْمَ إِنَّهُ هُوَ الغَفُوْرُ الرَّحِيْم

 

 

 

 

 

  

Khutbah II

 

اَلْحَمْدُ للهِ عَلىَ إِحْسَانِهِ وَالشُّكْرُ لَهُ عَلىَ تَوْفِيْقِهِ وَاِمْتِنَانِهِ. وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ اِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَاللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الدَّاعِى إلىَ رِضْوَانِهِ. اللهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وِعَلَى اَلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَسَلِّمْ تَسْلِيْمًا كِثيْرًا

 

أَمَّا بَعْدُ فَياَ اَيُّهَا النَّاسُ اِتَّقُوااللهَ فِيْمَا أَمَرَ وَانْتَهُوْا عَمَّا نَهَى وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ بَدَأَ فِيْهِ بِنَفْسِهِ وَثَـنَى بِمَلآ ئِكَتِهِ الْمُسَبِّحَةِ بِقُدْسِهِ وَقَالَ تَعاَلَى إِنَّ اللهَ وَمَلآئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلىَ النَّبِى يآ اَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا. اللهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلِّمْ وَعَلَى آلِ سَيِّدِناَ مُحَمَّدٍ وَعَلَى اَنْبِيآئِكَ وَرُسُلِكَ وَمَلآئِكَةِ اْلمُقَرَّبِيْنَ وَارْضَ اللّهُمَّ عَنِ اْلخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ أَبِى بَكْرٍ وَعُمَر وَعُثْمَان وَعَلي وَعَنْ بَقِيَّةِ الصَّحَابَةِ وَالتَّابِعِيْنَ وَتَابِعِي التَّابِعِيْنَ لَهُمْ بِاِحْسَانٍ اِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ وَارْضَ عَنَّا مَعَهُمْ بِرَحْمَتِكَ يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ

 

اَللهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَاْلمُؤْمِنَاتِ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَاْلمُسْلِمَاتِ اَلاَحْيآء مِنْهُمْ وَاْلاَمْوَاتِ اللهُمَّ أَعِزَّ اْلإِسْلاَمَ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَأَذِلَّ الشِّرْكَ وَاْلمُشْرِكِيْنَ وَانْصُرْ عِبَادَكَ اْلمُوَحِّدِيَّةَ وَانْصُرْ مَنْ نَصَرَ الدِّيْنَ وَاخْذُلْ مَنْ خَذَلَ اْلمُسْلِمِيْنَ وَ دَمِّرْ أَعْدَاءَ الدِّيْنِ وَاعْلِ كَلِمَاتِكَ إِلَى يَوْمَ الدِّيْنِ. اللهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا اْلبَلاَءَ وَاْلوَبَاءَ وَالزَّلاَزِلَ وَاْلمِحَنَ وَسُوْءَ اْلفِتْنَةِ وَاْلمِحَنَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ عَنْ بَلَدِنَا اِنْدُونِيْسِيَّا خآصَّةً وَسَائِرِ اْلبُلْدَانِ اْلمُسْلِمِيْنَ عآمَّةً يَا رَبَّ اْلعَالَمِيْنَ. رَبَّنَا آتِناَ فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِى اْلآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ. رَبَّنَا ظَلَمْنَا اَنْفُسَنَا وَاإنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُوْنَنَّ مِنَ اْلخَاسِرِيْنَ.

 عِبَادَاللهِ ! إِنَّ اللهَ يَأْمُرُنَا بِاْلعَدْلِ وَاْلإِحْسَانِ وَإِيْتآءِ ذِي اْلقُرْبىَ وَيَنْهَى عَنِ اْلفَحْشآءِ وَاْلمُنْكَرِ وَاْلبَغْي يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ وَاذْكُرُوا اللهَ اْلعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوْهُ عَلىَ نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرْ