Haram Muslimah Menikah dengan Non-Muslim

Haram Muslimah Menikah dengan Non-Muslim

HARAM, MUSLIMAH MENIKAH DENGAN NON-MUSLIM

KHUTBAH PERTAMA

 

إنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ, نَحْمَدُهُ, وَنَسْتَعِينُهُ, وَنَسْتَغْفِرُهُ, وَنَعُوذُ بِاللَّهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا, وَسَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا

مَنْ يَهْدِهِ اللَّهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ, وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ,

أَشْهَدُ أَنْ لاَ اِلَهَ اِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لَاشَرِيْكَ لَهُ، شَهَادَةَ مَنْ هُوَ خَيْرٌ مَّقَامًا وَأَحْسَنُ نَدِيًّا.

 وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا محَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الْمُتَّصِفُ بِالْمَكَارِمِ كِبَارًا وَصَبِيًّا.

 اَللَّهُمَّ فَصَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَانَ صَادِقَ الْوَعْدِ وَكَانَ رَسُوْلاً نَبِيًّا، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ الَّذِيْنَ يُحْسِنُوْنَ إِسْلاَمَهُمْ وَلَمْ يَفْعَلُوْا شَيْئًا فَرِيًّا،

 أَمَّا بَعْدُ، فَيَا أَيُّهَا الْحَاضِرُوْنَ رَحِمَكُمُ اللهُ، اُوْصِيْنِيْ نَفْسِيْ وَإِيَّاكُمْ بِتَقْوَى اللهِ، فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ.

قَالَ اللهُ تَعَالَى :

أَعُوذُ بِاللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ

 وَمِنْ اٰيٰتِهٖٓ اَنْ خَلَقَ لَكُمْ مِّنْ اَنْفُسِكُمْ اَزْوَاجًا لِّتَسْكُنُوْٓا اِلَيْهَا وَجَعَلَ بَيْنَكُمْ مَّوَدَّةً وَّرَحْمَةً ۗاِنَّ فِيْ ذٰلِكَ لَاٰيٰتٍ لِّقَوْمٍ يَّتَفَكَّرُوْنَ

 (QS arRum [30]: 21).

 

Alhamdulillah, atas nikmat dan karunia-Nya, kita masih dalam iman dan Islam. Shalawat dan salam semoga senantiasa tercurah limpah kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.

 

Bertakwalah kepada Allah. Ingatlah pesan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam: “Bertakwalah kepada Allah di mana pun engkau berada; iringilah perbuatan buruk dengan perbuatan baik, maka kebaikan akan menghapuskan keburukan itu; dan pergaulilah manusia dengan akhlak yang baik.” (HR. Tirmidzi).

 

Hadirin jamaah jumah rahimakumullah,

Di zaman dulu, Muslimah yang menikah dengan orang kafir, malu. Tak ingin diketahui orang lain. Tapi sekarang, diumbar melalui media sosial. Bangga. Seolah bisa mengubah aturan tegas dalam syariah Islam. Tak sedikit pun takut dosa. Naudzubillah min dzalik…

 

Yang terbaru, seorang Muslimah Staf Khusus Kepresidenan melangsungkan pernikahan dengan pria kafir.  Para pembelanya menyebut, agama tidak boleh menghalangi cinta dan pernikahan. Ada yang menyebut, aturan Muslimah menikah dengan pria non-Muslim ini khilafiyah.

 

Hadirin jamaah jumah rahimakumullah,

Ketahuilah, ini bukan masalah khilafiyah. Pernikahan Muslimah dengan pria kafir, telah tuntas dibahas oleh para ulama. Sudah terkategori ma’lûm min ad-dîn bi adh-dhrûrah. Dasar pembahasannya adalah firman Allah subhanahu wa ta’ala:

وَلَا تَنْكِحُواْ ٱلمُشْرِكَٰتِ حَتَّىٰ يُؤْمِنَّ وَلَأَمَةٌ مُّؤْمِنَةٌ خَيرٌ مِّنْ مُّشرِكَةٍ وَلَوْ أَعجَبَتْكُم

Janganlah kalian menikahi wanita-wanita musyrik sebelum mereka beriman. Sungguh budak wanita yang beriman lebih baik dari wanita musyrik walaupun dia menarik hati kalian (TQS al-Baqarah [2]: 221).

Prof  Wahbah az-Zuhayli menjelaskan ayat ini, “Tidak halal bagi seorang pria Muslim menikahi wanita musyrik atau penyembah berhala, yakni yang menyembah selain Allah sebagai Tuhan seperti berhala, bintang, api atau binatang; yang semisalnya seperti kaum wanita ateis atau para penganut akidah materialisme yang mengimani materi (benda) dan mengingkari keberadaan Allah; juga yang tidak menganut agama samawi, seperti penganut sosialisme, kaum Baha’iyah, Ahmadiyah Qadhiyani, Budha.” (Wahbah Az-Zuhayli, Fiqh al-Islâm wa Adillatuhu, 7/152).

 

Selanjutnya Wahbah az-Zuhayli menjelaskan keharaman pernikahan seorang Muslimah dengan lelaki kafir. Ia mengatakan: Haram secara ijmak pernikahan seorang Muslimah dengan lelaki kafir berdasarkan firman Allah subhanahu wa ta’ala:

وَلَا تُنْكِحُواْ ٱلمُشْرِكِينَ حَتَّىٰ يُؤْمِنُواْ وَلَعَبدٌ مُّؤْمِنٌ خَيْرٌ مِّنْ مُّشْرِكٍ وَلَوْ أَعْجَبَكُم

Janganlah kalian menikahkan orang-orang musyrik (dengan wanita-wanita Mukmin) sebelum mereka beriman. Sungguh budak lelaki yang Mukmin lebih baik dari orang musyrik walaupun dia menarik hati kalian (TQS al-Baqarah [2]: 221).

 

Juga berdasarkan firman Allah subhanahu wa ta’ala:

يَٰأَيُّهَا ٱلَّذِيْنَ ءَامَنُواْ إِذَا جَاءَكُمُ ٱلمُؤْمِنَٰتُ مُهَٰجِرَٰت فَٱمْتَحِنُوهُنَّۖ ٱللَّهُ أَعْلَمُ بِإِيمَٰنِهِنَّۖ فَإِنْ عَلِمْتُمُوْهُنَّ مُؤمِنَٰتٍ فَلَا تَرْجِعُوهُنَّ إِلَى ٱلكُفَّارِۖ لَا هُنَّ حِلٌّ لَّهُم وَلَا هُم يَحِلُّونَ لَهُنَّۖ

Hai orang-orang yang beriman, jika datang perempuan-perempuan yang beriman berhijrah kepada kalian, hendaklah kalian uji (keimanan) mereka. Allah lebih mengetahui tentang keimanan mereka. Jika kalian telah mengetahui bahwa mereka (benar-benar) beriman maka janganlah kalian kembalikan mereka kepada (suami-suami mereka) orang-orang kafir. Mereka tiada halal bagi orang-orang kafir itu dan orang-orang kafir itu tidak halal pula bagi mereka (TQS al-Mumtahanah [60]: 10).

 

Profesor Dr. Wahbah az-Zuhayli mengatakan, meski nas tersebut menyebut larangan itu terhadap lelaki musyrik, ia berlaku umum untuk seluruh lelaki kafir (Wahbah Az-Zuhayli, Fiqh al-Islâm wa Adillatuhu, 7/152).

 

Hadirin jamaah jumah rahimakumullah,

Memang benar, sebelum ayat ini turun kaum Muslim diizinkan untuk menikah dengan orang-orang kafir, seperti putri Rasulullah Ruqayyah dan Ummu Kultsum menikah dengan putra-putra Abu Lahab yang merupakan golongan musyrik. Namun, setelah ayat-ayat di atas turun,  Islam mengharamkan pernikahan wanita Muslimah dengan lelaki kafir, baik dari golongan Ahlul Kitab—Nasrani dan Yahudi—ataupun golongan musyrik seperti penjelasan di atas.

 

Ormas-ormas Islam di negeri ini pun telah menyepakati keharaman nikah beda agama, khususnya Muslimah dengan pria kafir, tanpa ada perbedaan di antara mereka. MUI telah mengeluarkan fatwa nomor 4/MUNAS VII/MUI/8/2005 yang menetapkan perkawinan beda agama adalah haram dan tidak sah. Nahdlatul Ulama (NU) juga telah menetapkan fatwa keharaman nikah beda agama dalam Muktamar ke-28 di Yogyakarta pada akhir November 1989. Demikian pula Muhammadiyah, melalui Sekretaris Umum Pengurus Pusat (PP) Muhammadiyah Abdul Mu’ti, menegaskan pernikahan berbeda agama tidak sah menurut hukum Islam dan undang-undang (UU).

 

Dengan demikian pernikahan seorang Muslimah dengan lelaki kafir jelas batil. Tidak sah menurut syariah. Status hubungan mereka bukanlah pasangan suami-istri dalam pernikahan, tetapi perzinaan.

 

Hadirin jamaah jumah rahimakumullah,

Marak dan beraninya orang menampilkan pernikahan beda agama adalah bagian propaganda ajaran liberalisasi beragama yang tumbuh subur di alam sekularisme-demokrasi. Inilah biang masalahnya.

 

Muslim yang menolak aturan Islam tentang nikah beda agama, ditakut-takuti dengan sebutan radikal, intoleran. Kita pun didorong untuk mengubah sebutan kafir kepada kalangan non-Muslim.

 

Padahal menghalalkan perkara yang sudah jelas keharamannya bisa menjadi pembatal keimanan. Ibnu Qudamah dalam kitabnya Al-Mughni menyatakan, “Siapa yang meyakini kehalalan sesuatu, sedangkan umat telah bersepakat atas keharamannya, dan sudah jelas hukumnya di tengah kaum Muslim, tidak ada syubhat di dalamnya pada nas-nas yang mencantumkan hal tersebut seperti (keharaman) babi, zina dan yang serupa dengan hal itu dalam hal yang tidak ada perbedaan pandangan, maka dia telah kufur.” (Ibnu Qudamah, Al-Mughni, 9/11. Maktabah Syamilah).

 

Karena itu, berhati-hatilah terhadap kampanye nikah beda agama, kampanye moderasi. Jangan sampai cinta dan harta membutakan mata kita, sehingga berani melanggar syariah Allah subhanahu wa ta’ala. Ingatlah, tak mungkin terwujud keluarga sakinah, mawaddah, dan rahmah tanpa ridha Allah subhanahu wa ta’ala.

    

[]

 

 

 

بَارَكَ الله لِي وَلَكُمْ فِى اْلقُرْآنِ اْلعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِي وَإِيَّاكُمْ بِمَافِيْهِ مِنَ الْآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيمِ وَتَقَبَّلَ اللهُ مِنَّا وَمِنْكُمْ تِلاَوَتَهُ وَإِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ العَلِيْمُ، وَأَقُوْلُ قَوْلِي هَذَا فَأسْتَغْفِرُ اللهَ العَظِيْمَ إِنَّهُ هُوَ الغَفُوْرُ الرَّحِيْم

 

 

Khutbah II

اَلْحَمْدُ للهِ عَلىَ إِحْسَانِهِ وَالشُّكْرُ لَهُ عَلىَ تَوْفِيْقِهِ وَاِمْتِنَانِهِ. وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ اِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَاللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الدَّاعِى إلىَ رِضْوَانِهِ. اللهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وِعَلَى اَلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَسَلِّمْ تَسْلِيْمًا كِثيْرًا

 

أَمَّا بَعْدُ فَياَ اَيُّهَا النَّاسُ اِتَّقُوااللهَ فِيْمَا أَمَرَ وَانْتَهُوْا عَمَّا نَهَى وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ بَدَأَ فِيْهِ بِنَفْسِهِ وَثَـنَى بِمَلآ ئِكَتِهِ الْمُسَبِّحَةِ بِقُدْسِهِ وَقَالَ تَعاَلَى إِنَّ اللهَ وَمَلآئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلىَ النَّبِى يآ اَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا. اللهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلِّمْ وَعَلَى آلِ سَيِّدِناَ مُحَمَّدٍ وَعَلَى اَنْبِيآئِكَ وَرُسُلِكَ وَمَلآئِكَةِ اْلمُقَرَّبِيْنَ وَارْضَ اللّهُمَّ عَنِ اْلخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ أَبِى بَكْرٍ وَعُمَر وَعُثْمَان وَعَلي وَعَنْ بَقِيَّةِ الصَّحَابَةِ وَالتَّابِعِيْنَ وَتَابِعِي التَّابِعِيْنَ لَهُمْ بِاِحْسَانٍ اِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ وَارْضَ عَنَّا مَعَهُمْ بِرَحْمَتِكَ يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ

 

اَللهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَاْلمُؤْمِنَاتِ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَاْلمُسْلِمَاتِ اَلاَحْيآء مِنْهُمْ وَاْلاَمْوَاتِ اللهُمَّ أَعِزَّ اْلإِسْلاَمَ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَأَذِلَّ الشِّرْكَ وَاْلمُشْرِكِيْنَ وَانْصُرْ عِبَادَكَ اْلمُوَحِّدِيْنَ وَانْصُرْ مَنْ نَصَرَ الدِّيْنَ وَاخْذُلْ مَنْ خَذَلَ اْلمُسْلِمِيْنَ وَ دَمِّرْ أَعْدَاءَ الدِّيْنِ وَاعْلِ كَلِمَاتِكَ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ. اللهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا اْلبَلاَءَ وَاْلوَبَاءَ وَالزَّلاَزِلَ وَاْلمِحَنَ وَسُوْءَ اْلفِتْنَةِ وَاْلمِحَنَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ عَنْ بَلَدِنَا اِنْدُونِيْسِيَّا خآصَّةً وَسَائِرِ اْلبُلْدَانِ اْلمُسْلِمِيْنَ عآمَّةً يَا رَبَّ اْلعَالَمِيْنَ. رَبَّنَا آتِناَ فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِى اْلآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ. رَبَّنَا ظَلَمْنَا اَنْفُسَنَا وَاإنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُوْنَنَّ مِنَ اْلخَاسِرِيْنَ.

 عِبَادَاللهِ ! إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِاْلعَدْلِ وَاْلإِحْسَانِ وَإِيْتآءِ ذِي اْلقُرْبىَ وَيَنْهَى عَنِ اْلفَحْشآءِ وَاْلمُنْكَرِ وَاْلبَغْي يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ وَاذْكُرُوا اللهَ اْلعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوْهُ عَلىَ نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرْ