Berbahagialah Orang-orang yang Terasing – Tausiyah Ramadhan #29

BERBAHAGIALAH ORANG-ORANG YANG TERASING

Imam Muslim meriwayatkan dari Abu Harurairah, Rasulullah saw. bersabda: 

«بَدَأَ اْلإِسْلاَمَ غَرِيبًا وَسَيَعُودُ غَرِيبًا فَطُوبَى لِلْغُرَبَاءِ»

Islam muncul pertama kali dalam keadaan terasing dan akan kembali terasing sebagaimana mulainya, maka berbahagilah orang-orang yang terasing tersebut

 

Beberapa Sifat Orang-orang Yang Terasing

1. Senantiasa melakukan perbaikan/perubahan ketika manusia sudah rusak

Dalilnya adalah hadits yang diriwayatkan oleh Umar bin Auf bin Zaid bin Milhah Al-Mazani ra., bahwa Rasulullah saw. bersabda: 

«إِنَّ الدِّينَ لَيَأْرِزُ إِلَى الْحِجَازِ كَمَا تَأْرِزُ الْحَيَّةُ إِلَى جُحْرِهَا، وَلَيَعْقِلَنَّ الدِّينُ مِنْ الْحِجَازِ مَعْقِلَ اْلأُرْوِيَّةِ مِنْ رَأْسِ الْجَبَلِ. إِنَّ الدِّينَ بَدَأَ غَرِيبًا، وَيَرْجِعُ غَرِيبًا، فَطُوبَى لِلْغُرَبَاءِ الَّذِينَ يُصْلِحُونَ مَا أَفْسَدَ النَّاسُ مِنْ بَعْدِي مِنْ سُنَّتِي»

Sungguhnya agama ini akan merayap berjalan menuju Hijaz seperti merayapnya ular menuju lubangnya. Dan sungguh agama ini akan diikat dari Hijaz seperti diikatnya biri-biri dari puncak gunung. Sesungguhnya agama ini muncul pertama kali dalam keadaan asing dan akan kembali menjadi asing. Maka berbahagialah orang-orang yang terasing. Yaitu orang-orang yang memperbaiki sunahku yang telah dirusak oleh manusia setelahku. (Abu Issa berkata hadits ini hasan)  

 

Al-Ghuraba dalam hadits di atas bukanlah para sahabat, karena mereka datang setelah ada manusia yang merusak metode kehidupan yang dibawa oleh Rasulullah saw. Sedangkan para sahabat ra. tidak merusak metode kehidupan Rasul, dan metode tersebut belum rusak di jaman para sahabat.

 

Hadits yang diriwayatkan dari Sahal bin Saad As-Saidi ra., Rasulullah saw bersabda: 

«بَدَأَ اْلإِسْلاَمَ غَرِيبًا وَسَيَعُودُ غَرِيبًا كَمَا بَدَأَ فَطُوبَى لِلْغُرَبَاءِ، قَالُوا يَا رَسُولَ اللهِ وَمَنْ اَلْغُرَبَاءُ؟ قَالَ الَّذِيْنَ يُصْلِحُونَ عِنْدَ فَسَادِ النَّاس»

Islam muncul pertama kali dalam keadaan terasing dan akan kembali terasing sebagaimana mulainya, maka berbahagialah orang-orang yang terasing tersebut. Para sahabat berkata, “Wahai Rasulallah, siapa al-ghuraba ini?” Rasulullah saw. bersabda, “Mereka adalah orang-orang yang melakukan perbaikan ketika manusia sudah rusak.” (Hadits ini diriwayatkan oleh At-Thabrani dalam Al-Kabir). 

 

Dalam Al-Ausat dan Ash-Shagir diriwayatkan dengan lafadz : 

«يُصْلِحُونَ إِذَا فَسَدَ النَّاسُ»

Mereka malakukan perbaikan ketika manusia telah rusak. 

 

Kata idza (ketika) digunakan untuk menunjukkan masa yang akan datang. Di dalam hadits ini terdapat petunjuk bahwa kerusakan tersebut terjadi setelah masa sahabat. Al-Haitsami berkomentar tentang hadits ini, “Ath-Thabrani meriwayatkannya dalam Ats-Tsalatsah, para perawinya shahih selain Bakr bin Sulaim. Ia adalah perawi terpercaya.” 

 

2. Jumlahnya Sedikit

Ahmad dan Ath-Thabrani dari Abdullah bin Amru, ia berkata; Pada suatu hari saat matahari terbit aku berada di dekat Rasulullah saw., lalu beliau bersabda: 

«يَأْتِي قَوْمٌ يَوْمَ الْقِيَامَةِ نُورُهُمْ كَنُورِ الشَّمْسِ، قَالَ أَبُو بَكْرٍ: نَحْنُ هُمْ يَا رَسُولَ اللهِ؟ قَالَ: لاَ وَلَكُمْ خَيْرٌ كَثِيرٌ وَلَكِنَّهُمْ الْفُقَرَاءُ وَالْمُهَاجِرُونَ الَّذِينَ يُحْشَرُونَ مِنْ أَقْطَارِ اْلأَرْضِ، ثم قَالَ: طُوبَى لِلْغُرَبَاءِ، طُوبَى لِلْغُرَبَاءِ، قِيْلَ مَنْ الْغُرَبَاءُ؟ قَالَ: نَاسٌ صَالِحُونَ فِي نَاسِ سَوْءٍ كَثِيرٍ مَنْ يَعْصِيهِمْ أَكْثَرُ مِمَّنْ يُطِيعُهُمْ»

Akan datang suatu kaum kepada Allah pada hari kiamat nanti. Cahaya mereka bagaikan cahaya matahari. Abu Bakar berkata, “Apakah mereka itu kami wahai Rasulullah?” Rasulullah bersabda, “Bukan, tapi kalian mempunyai banyak kebaikan. Mereka adalah orang-orang fakir yang berhijrah. Mereka berkumpul dari berbagai penjuru bumi.” Kemudian beliau bersabda, “Kebahagian bagi orang-orang yang terasing, kebahagiaan bagi orang-orang yang terasing.” Ditanyakan kepada beliau, “Siapakah orang-orang yang terasing itu?” Beliau saw. bersabda, “Mereka adalah orang-orang shalih, yang jumlahnya sedikit di antara manusia yang buruk. Orang yang menentang mereka lebih banyak dari pada orang yang menaatinya.”  (Al-Haitsami berkata hadits ini dalam Al-Kabir mempunyai banyak sanad. Para perawinya shahih). 

 

Kami katakan, perlu diingat bahwa keistimewaan karena terasing tidaklah lebih utama dari pada keistimewaan karena persahabatan (dengan Nabi). Mereka yang terasing itu tidaklah lebih istemewa dari para sahabat. Sebagian sahabat telah mendapat keistimewaan tertentu yang bukan keistimewaan karena persahabatan, tapi tetap saja keitimewaan itu tidak menjadikannya lebih utama dari pada Abu Bakar. Uwais Al-Qarniy memiliki keistimewaan tertentu yang tidak menjadikannya lebih utama dari pada para sahabat padahal ia adalah seorang tabi’in. Begitu juga kaum terasing (yang bukan tabi’in).

 

3. Mereka adalah kaum dari campuran manusia

Al-Hakim meriwayatkan dalam Al-Mustadrak, ia berkata hadits ini shahih isnadnya, meski tidak dikeluarkan oleh Bukhari-Muslim. Dari Ibnu Umar ra., ia berkata; Rasulullah bersabda: 

»إِنَّ ِللهِ عِبَادًا لَيْسُوْا بِأَنْبِيَاءَ وَلاَ شُهَدَاءَ يَغْبَطُهُمُ الشُّهَدَاءُ وَالنَّبِيُوْنَ يَوْمَ 

الْقِيَامَةِ لِقُرْبِهِمْ مِنَ اللهِ تَعَالَى وَمَجْلِسِهِمْ مِنْهُ، فَجَثَا أَعْرَابِيُّ عَلَى 

رُكْبَتِيْهِ فَقَالَ يَا رَسُوْلَ اللهِ صِفْهُمْ لَناَ وَحَلِّهِمْ لَنَا قَالَ: قَوْمٌ مِنْ أَفْنَاءِ 

النَّاسِ مِنْ نِزَاعِ الْقَبَائِلِ، تَصَادَقُوْا فِي اللهِ وَتَحَابُّوْا فِيْهِ، يَضَعُ اللهُ عَزَّ وَجَلَّ لَهُمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ مَنَابِرَ مِنْ نُوْرٍ، يَخَافُ النَّاسُ وَلاَ يَخَافُوْنَ، هُمْ 

أَوْلِيَاءُ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ الَّذِيْنَ لاَ خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلاَ هُمْ يَحْزَنُوْنَ«

 

Sesunggunya Allah mempunyai hamba-hamba yang bukan para Nabi dan syuhada. Para Nabi dan syuhada sangat tergiur oleh mereka di hari kiamat karena kedekatan mereka dengan Allah dan kedudukan mereka di sisi Allah. Kemudian seorang Arab Baduy (yang ada di tempat nabi berbicara) duduk berlutut, seraya berkata, “Wahai Rasulullah, jelaskanlah sifat mereka dan uraikanlah keadaan mereka pada kami!” Rasulullah bersabda, “Mereka adalah sekelompok manusia yang beraneka ragam, yang terasing dari kabilahnya. Mereka berteman di jalan Allah, saling mencintai karena Allah. Allah akan membuat mimbar-mimbar dari cahaya bagi mereka di hari kiamat. Orang-orang merasa takut tapi mereka tidak takut. Mereka adalah kekasih Allah yang tidak memiliki rasa takut (pada selain Allah ) dan mereka tidak bersedih.”

 

Dalam kamus Lisânul Arab dikatakan : Kata afna sama dengan kata akhlath artinya campuran/ bermacam-macam. Kata tunggalnya adalah Finwun. Sifat ini terdapat juga dalah hadits Abi Malik al Asy’ary riwayat Ahmad dengan lafazh: 

«هُمْ نَاسٌ مِنْ أَفْنَاءِ النَّاسِ وَنَوَازِعِ الْقَبَائِلِ»

Mereka adalah manusia dari campuran manusia dan yang terasingkan dari kabilah-kabilah. 

Pada riwayat Ath-Thabrani dalam Al-Kabir diungkapkan dengan lafadz, “min buldan syattâ” artinya dari negeri-negeri yang berbeda-beda.

 

4. Mereka saling mencintai dengan ruh Allah 

Yang dimaksud adalah syariat nabi Muhammad. Maksudnya, perkara yang menjadi pengikat di antara mereka adalah ideologi (mabda`) Islam, bukan yang lainnya. Mereka tidak diikat oleh ikatan yang lain, baik ikatan nasab, ikatan kekerabatan, ikatan kemaslahatan atau kemanfaatan duniawi. 

Abu Dawud telah mengeluarkan hadits dengan para rawi yang terpercaya, dari Umar bin Al-Khathab ra., ia berkata; Rasulullah bersabda: 

«إِنَّ مِنْ عِبَادِ اللهِ َلأُنَاسًا مَا هُمْ بِأَنْبِيَاءَ وَلاَ شُهَدَاءَ يَغْبِطُهُمْ اْلأَنْبِيَاءُ وَالشُّهَدَاءُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ بِمَكَانِهِمْ مِنَ اللهِ تَعَالَى، قَالُوا يَا رَسُولَ اللهِ تُخْبِرُنَا مَنْ هُمْ، قَالَ هُمْ قَوْمٌ تَحَابُّوا بِرُوحِ اللهِ عَلَى غَيْرِ أَرْحَامٍ بَيْنَهُمْ وَلاَ أَمْوَالٍ يَتَعَاطَوْنَهَا، فَوَاللهِ إِنَّ وُجُوهَهُمْ لَنُورٌ وَإِنَّهُمْ عَلَى نُورٍ، لاَ يَخَافُونَ إِذَا خَافَ النَّاسُ، وَلاَ يَحْزَنُونَ إِذَا حَزِنَ النَّاسُ، وَقَرَأَ هَذِهِ اْلآيَةَ أَلاَ إِنَّ أَوْلِيَاءَ اللهِ لاَ خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلاَ هُمْ يَحْزَنُونَ»

Sesungguhnya di antara hamba-hamba Allah ada sekelompok manusia. Mereka bukan para nabi dan juga bukan syuhada. Tapi para nabi dan syuhada tergiur oleh mereka di hari kiamat karena kedudukan mereka di sisi Allah Swt. Para sahabat berkata, “Wahai Rasulullah, beritahukanlah kepada kami siapa mereka itu?” Rasulullah bersabda, “Mereka adalah suatu kaum yang saling mencintai dengan ruh Allah, padahal mereka tidak memiliki hubungan rahim dan tidak memiliki harta yang mereka kelola bersam-sama. Demi Allah, wajah mereka adalah cahaya. Mereka ada di atas cahaya. Mereka tidak takut ketika manusia takut. Mereka tidak bersedih ketika manusia bersedih.” Kemudian Rasulullah membacakan firman Allah, “Ingatlah sesungguhnya para kekasih Allah itu tidak mempunyai rasa takut (oleh selain Allah) dan tidak bersedih”. 

Sifat hamba-hamba Allah ini dalam riwayat Hakim dari Ibnu Umar yang telah diceritakan sebelumnya tadi dinyatakan dengan lafadz:

«تصادقوا في الله و تحابوا فيه» 

Mereka saling berteman di jalan Allah dan saling mencintai karena Allah.

 

Dalam riwayat Ahmad dari hadits Abu Malik Al-Asy’ari dinyatakan dengan lafadz : 

«لَمْ تَصِلْ بَيْنَهُمْ أَرْحَامٌ مُتَقَارِبَةٌ تَحَابُّوا فِي اللَّهِ وَتَصَافَوْا»

Tidak ada hubungan rahim serta kekerabatan di antara mereka , mereka saling mencintai karena Allah dan saling berkawan di antara mereka”. 

 

Dalam riwayat Thabrani dari hadits Abi Malik lagi dinyatakan dengan ungkapan : 

«لم يكن بينهم ارحام يتواصلون بها لله يتحابون بروح الله عز وجل»

 

Di antara mereka tidak ada rahim yang menjadi penyebab saling berhubungan karena Allah. Mereka saling mencintai dengan ikatan ruh Allah Maha Gagah Perkasa

 

Dalam hadits riwayat Ath-Thabrani dari hadits Amru bin Abasah dengan sanad yang menurut Al-Haitsami perawinya terpercaya, dan menurut Al-Mundziri saling berdekatan serta tidak bermasalah, ia berkata; aku mendengar Rasulullah bersabda: 

«هم جماع من نوازع القبائل يجتمعون على ذكر الله فينتقون أطايب الكلام كما ينتقي آكل الثمر اطايبه»

Mereka adalah kumpulan manusia yang terdiri dari orang-orang yang terasing dari kabilah-kabilah, mereka berkumpul atas dasar dzikir kepada Allah, kemudian mereka memilih perkataan yang baik-baik sebagaimana orang yang memakan buah-buahan memilih yang baik-baik. 

 

Berkumpul atas dasar dzikir kepada Allah (al-ijtima ala dzikrillah ) berbeda dengan berkumpul untuk berdzikir kepada Allah (al-ijtima lidzikrillah). Berkumpul atas dasar dzikir kepada Allah berarti dzikir itu merupakan perkara yang menjadi pengikat di antara mereka. Sama saja apakah mereka duduk bersama-sama ataukah mereka berpisah. Sedangkan yang dimaksud dengan berkumpul untuk dzikir kepada Allah adalah perkumpulan yang akan berakhir dengan selesainya dzikir.

At-Thabrani meriwayatkan dengan sanad yang dipandang hasan oleh Al-Haitsami dan Al-Mundziri dari Abu Darda, ia berkata; Rasulullah bersabda : 

«هم المتحابون في الله من قبائل شتى وبلاد شتى يجتمعون على ذكر الله»

Mereka adalah kaum yang saling mencintai karena Allah, berasal dari kabilah yang berbeda-beda dan negeri yang berbeda-beda. Mereka berkumpul atas dasar dzikir kepada Allah. 

 

Maksudnya, perkara yang menjadi pengikat di antara mereka adalah dzikir kepada Allah, yaitu Ruh Allah yang termaktub dalam hadits yang sebelumnya.

 

5. Mereka memperoleh kedudukan itu tanpa menjadi syuhada

Hal ini dikarenakan dalam hadits dikatakan para syuhada tergiur oleh mereka. Tapi, ini tidak berarti bahwa mereka lebih utama dari pada para Nabi dan syuhada. Melainkan kedudukan itu hanyalah semata-mata menunjukkan keistimewaan mereka. Keistimewaan itu tidak menjadikan mereka lebih utama dari para Nabi dan syuhada (sebagaimana telah dijelaskan sebelumnya) . 

Ath-Tabrani meriwayatkan -dalam Al-Kabir dengan sanad yang baik dan perawinya terpercaya menurut Al-Haitsami- dari Abu Malik Al-Asy’ary, ia berkata; Suatu ketika aku ada di dekat Nabi saw, kemudian turunlah firman Allah : 

يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا لاَ تَسْأَلُوا عَنْ أَشْيَاءَ إِنْ تُبْدَ لَكُمْ تَسُؤْكُمْ

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu menanyakan (kepada Nabimu) hal-hal yang jika diterangkan kepadamu, niscaya menyusahkan kamu.” (TQS. Al-Maidah [5]: 101). Abu Malik berkata, maka kami bertanya kepada Rasulullah ketika beliau bersabda:

«إن لله عبادا ليسوا بأنبياء ولا شهداء، يغبطهم النبيون والشهداء بقربهم ومقعدهم من الله عز وجل يوم القيامة»

Sesungguhnya Allah memiliki hamba-hamba yang bukan para nabi dan Syuhada. Tapi para nabi dan syuhada tergiur oleh mereka karena dekatnya kedudukan mereka dari Allah di hari Kiamat.

 

Abu Malik berkata, di antara orang-orang yang ada pada saat itu ada seorang Arab pedalaman, kemudian ia duduk berlutut dan menahan dengan kedua tangannya, seraya berkata; “Wahai Rasulullah, beritahukanlah kepada kami tentang mereka, siapa mereka itu?” Abu Malik berkata; aku melihat wajah Rasulullah menengok ke sana ke mari (mencari orang yang bertanya). Kemudian beliau bersabda:

«عِبَادٌ مِنْ عِبَادِ اللهِ، مِنْ بُلْدَانٍ شَتَّى، وَقَبَائِلَ مِنْ شُعُوْبِ أَرْحَامَ 

الْقَبَائِلِ، لَمْ يَكُنْ بَيْنَهُمْ أَرْحَامٌ يَتَوَاصَلُوا بِهَا ِللهِ، لاَ دُنْيَا يَتَبَاذَلُوْنَ بِهَا، 

يَتَحَابُّوْنَ بِرُوْحِ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ، يَجْعَلُ اللهُ وُجُوْهَهُمْ نُوْرًا، يَجَعَلُ لَهُمْ 

مَنَابِرَ قَدَامَ الرَّحْمَنِ تَعَالَى، يَفْزَعُ النَّاسُ وَلاَ يَفْزَعُوْنَ، وَيَخَافُ النَّاسُ وَلاَ يَخَافُوْنَ»

Mereka adalah hamba-hamba Allah dari negeri yang berbeda-beda, dan dari suku di antara bangsa-bangsa yang mempunyai rahim kesukuan tapi mereka tidak mempunyai hubungan rahim (senasab) yang menjadi penyebab mereka saling menyambungkannya (silaturahim) karena Allah. Mereka tidak memiliki harta untuk saling memberi. Mereka saling mencintai dengan (ikatan) ruh Allah. Allah menjadikan wajah mereka menjadi cahaya. Mereka memiliki mimbar-mimbar di hadapan Ar-Rahman. Manusia terkaget-kaget, tapi mereka tidak. Manusia merasa takut, tapi mereka tidak. 

 

Seluruh riwayat telah menyepakati bahwa mereka bukan termasuk para nabi dan syuhada. Mereka memperoleh kedudukan seperti itu semata-mata karena memiliki sifat-sifat tersebut.

Itulah sebagian sifat-sifat yang menghias mereka. Adapun kedudukan mereka sungguh sudah sangat jelas sebagaimana dijelaskan dalam hadits–hadits di atas, tidak perlu diulangi kembali. Siapa saja yang menelaahnya, maka pantas untuk bersegera meraih mimbar di hadapan Ar-Rahman Zat MahaTinggi. Semoga Allah merahmati keterasingannya dan mewujudkan segala keinginannya.