Seruan Masjid

Khadimul Ummah wa Du'at

Idul Fitri 1445H Antara Kegembiraan Penderitaan dan Harapan Akan Masa Depan Gemilang

Idul Fitri 1445H Antara Kegembiraan Penderitaan dan Harapan Akan Masa Depan Gemilang

IDUL FITRI 1445 H: ANTARA KEGEMBIRAAN, PENDERITAAN DAN HARAPAN AKAN MASA DEPAN GEMILANG

 KHUTBAH PERTAMA

 

السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ

اَللهُ أَكْبَرُ، اَللهُ أَكْبَرُ، اَللهُ أَكْبَرُ

اَللهُ أَكْبَرُ، اَللهُ أَكْبَرُ، اَللهُ أَكْبَرُ

اَللهُ أَكْبَرُ، اَللهُ أَكْبَرُ، اَللهُ أَكْبَرُ

 

اَللّٰهُ اَكْبَرُ كَبِيْرًا وَالْحَمْدُ لِلّٰهِ كَثِيْرًا وَسُبْحَانَ اللّٰهِ بُكْرَةً وَاَصِيْلاً، لَا اِلٰهَ اِلَّا اللّٰهُ وَحْدَهُ،

 

صَدَقَ وَعْدَهُ، وَنَصَرَ عَبْدَهُ، وَأَعَزَّ جُنْدَهُ، وَهَزَمَ اْلأَحْزَابَ وَحْدَهُ. لَا اِلٰهَ اِلَّا اللّٰهُ، وَاللّٰهُ اَكْبَرُ، اَللّٰهُ اَكْبَرُ وَلِلّٰهِ الْحَمْدُ.

 

اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ الَّذِيْ جَعَلَ هَذَا الْيَوْمَ عِيْداً لِلْمُسْلِمِيْنَ وَحَرَّمَ عَلَيْهِمْ فِيْهِ الصِّيَامَ، اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ الَّذِيْ نَزَّلَ الْقُرْآنَ هُدًى لِلنَّاسِ وَبَيِّنَاتٍ مِنَ الْهُدَى وَالْفُرْقَانَ، نَحْمَدُهُ وَنَشْكُرُهُ عَلَى نِعَامِهِ وكَمَالِ إِحْسَانِهِ وَهُوَ ذُو الْجَلَالِ وَاْلإِكْرَامِ.

 

أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللّٰهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ. وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ خَيْرَ اْلأَنَامِ.

اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَذُرِّيَّاتِهِ، وَمَنْ تَبِعَهُ بِإِحْسَانٍ وَدَعَا إِلَى اللّٰهِ بِدَعْوَتِهِ، وَمَنْ جَاهَدَ فِيْ سَبِيْلِ اللّٰهِ حَقًّ جِهَادِهِ اِلَى دَارِ السَّلاَمِ.

 

أَمَّا بَعْدُ: فَيَا عِبَادَ اللّٰهِ، أُوْصِيْكُمْ وَإِيَّايَ بِتَقْوَى اللّٰهِ وَطَاعَتِهِ فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ.

 

قَالَ اللّٰهُ تَعَالَى فِيْ كِتَابِهِ الْكَرِيْمِ: ﴿يَاأَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوا اتَّقُوا اللّٰهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوْتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ﴾.

AlLâhu akbar, AlLâhu akbar, AlLâhu akbar, wa lilLâhil hamdu.

Ma’âsyiral Muslimîn rahimakumulLâh.

AlhamdulilLaahi Rabbil ‘aalamiin. Segala pujian hanya milik Allah, Rabb semesta alam. Shawalat dan salam semoga senantiasa tercurah kepada junjungan alam, Baginda Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Juga kepada keluarganya yang mulia, para Sahabatnya yang utama, serta siapa saja yang setia mengikuti beliau hingga akhir masa.

 

AlLâhu akbar, AlLâhu akbar, AlLâhu akbar, wa lilLâhil hamdu.

Ma’âsyiral Muslimîn rahimakumulLâh.

Idul Fitri identik dengan Hari Kebahagiaan, terutama bagi orang-orang yang menunaikan puasa sepanjang bulan Ramadhan atas dasar iman dan dorongan mendapatkan ridha-Nya, imân[an] wa ihtisâb[an]. Mereka inilah yang pantas merayakan kebahagiaan, sebagaimana sabda Baginda Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam.

لِلصَّائِمِ ‌فَرْحَتَانِ؛ فَرْحَةٌ عِنْدَ فِطْرِهِ وَفَرْحَةٌ عِنْدَ لِقَاءِ رَبِّهِ

Bagi orang yang berpuasa ada dua kebahagiaan: kebahagia saat berbuka puasa dan kebahagiaan saat berjumpa dengan Rabb-nya. (HR al-Bukhari dan Muslim, dengan lafadz Muslim).

 

Meskipun demikian, saat ini kita tidak bisa merasakan kegembiraan secara utuh. Bagaimana kita bisa bergembira, sementara umat ini terus diselimuti oleh aneka ragam duka yang menyayat hati. Inilah yang terjadi sejak runtuhnya Khilafah dan Kapitalisme global mendominasi dunia.

 

Tengoklah kondisi Palestina, khususnya Gaza, hari ini. Lebih dari 32 ribu nyawa kaum Muslim di sana melayang akibat serangan militer entitas Yahudi. Sekitar 7.000 lainnya masih tertimbun di bawah reruntuhan bangunan. Sebagian besar dari para korban tersebut adalah anak-anak dan kaum perempuan.

 

Akibat dari serangan kaum Yahudi itu, hampir dua juta warga Gaza telah kehilangan rumah-rumah mereka. Menurut WHO, hampir 80% atau 160.000 infrastruktur hancur lebur. Ribuan rumah, ratusan rumah sakit dan sekolah, masjid, kampus, sumber air dan fasilitas sanitasi rusak parah. Diperkirakan butuh puluhan miliaran dolar AS, juga butuh lebih 70 tahun, untuk memulihkan Gaza menjadi seperti sediakala. Kini, sebagian besar mereka harus menjadi pengungsi dan tinggal di perbatasan Gaza dan Mesir yang luasnya hanya sekitar 3,5 km atau seluas 500 lapangan sepak bola.

 

Di samping terus terancam oleh serangan bom dan keganasan tentara Yahudi, mereka juga terancam kelaparan yang mengakibatkan kematian. Karena tiadanya makanan, sebagian mereka sering terpaksa makan rerumputan dan memakan pakan hewan. Karena kehausan, mereka harus minum dari air kotor yang tergenang di jalanan.

 

Penting dicatat dari tragedi di Palestina ini, baik di Gaza maupun Tepi Barat, adalah bahwa genosida ini tidak terjadi hanya saat 7 Oktober saja. Genosida telah berlangsung sejak tahun 1948. Sejak entitas Yahudi merampas dan menduduki tanah Palestina secara ilegal hingga saat ini. Sejak saat itu, selama 76 tahun, hingga hari ini, sekitar 5,9 juta warga Palestina secara keseluruhan berstatus pengungsi, dan setiap saat berada dalam ancaman kaum Yahudi.

 

Melihat mereka yang terus menderita, bagaimana kita bisa bergembira dan berbahagia?

 

AlLâhu akbar, AlLâhu akbar, AlLâhu akbar, wa lilLâhil hamdu.

Ma’âsyiral Muslimîn rahimakumulLâh.

Yang lebih menyakitkan, para penguasa di negeri-negeri Islam, khususnya para pemimpin Arab, sampai saat ini tetap bergeming. Mereka seolah tuli dan buta. Derita kaum Muslim Palestina yang begitu luar-biasa, tak sedikit pun menyentuh hati dan mengusik rasa kemanusiaan mereka.

 

Sebagian besar mereka hanya melayangkan kutukan dan kecaman. Itu pun penuh kepura-puraan dan sekadar pencitraan agar dianggap punya kepedulian. Sebagian pemimpin Muslim lainnya bahkan tetap bergandeng tangan dengan entitas Yahudi itu. Padahal tangan Yahudi durjana itu masih berlumuran darah ribuan para syuhada, juga puluhan ribu Muslim yang terluka.

 

AlLâhu akbar, AlLâhu akbar, AlLâhu akbar, wa lilLâhil hamdu.

Ma’âsyiral Muslimîn rahimakumulLâh.

Menyaksikan semua derita kaum Muslim Palestina yang amat menyakitkan ini, sepantasnya kita bertanya: Di mana ukhuwah Islamiyah yang sering disuarakan? Bukankah semua kaum Muslim bersaudara, sebagaimana firman-Nya:

اِنَّمَا الْمُؤْمِنُوْنَ اِخْوَةٌ

Sesungguhnya orang-orang mukmin itu bersaudara. (QS al-Hujurat [49]: 10).

 

Kita pun layak bertanya: Manakah hasil dari ibadah puasa kaum Muslim selama Ramadhan? Bukankah puasa Ramadhan seharusnya membuat para pelakunya menjadi orang-orang yang bertakwa? Bukankah salah satu ciri takwa tercermin dalam kecintaan dan kepedulian kepada sesama saudara?

 

Banyak nash yang menuntut setiap Muslim untuk mempedulikan dan menolong saudara-saudaranya sesama Muslim di mana pun dan kapan pun. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, misalnya, bersabda:

مَثَلُ ‌الْمُؤْمِنِينَ ‌فِي ‌تَوَادِّهِمْ وَتَرَاحُمِهِمْ وَتَعَاطُفِهِمْ مَثَلُ الْجَسَدِ، إِذَا اشْتَكَى مِنْهُ عُضْوٌ تَدَاعَى لَهُ سَائِرُ الْجَسَدِ بِالسَّهَرِ وَالْحُمَّى

Perumpamaan kaum Mukmin dalam cinta-mencintai, sayang-menyayangi dan bahu-membahu seperti satu tubuh. Jika salah satu anggota tubuhnya sakit, seluruh anggota tubuhnya yang lain ikut merasakan sakit juga, dengan tidak bisa tidur dan demam. (HR al-Bukhari dan Muslim).

 

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pun bersabda:

الْمُسْلِمُ أَخُو الْمُسْلِمِ، لَا يَظْلِمُهُ ‌وَلَا ‌يُسْلِمُهُ، ‌وَمَنْ ‌كَانَ فِي حَاجَةِ أَخِيهِ كَانَ اللهُ فِي حَاجَتِهِ، وَمَنْ فَرَّجَ عَنْ مُسْلِمٍ كُرْبَةً فَرَّجَ اللهُ عَنْهُ كُرْبَةً مِنْ كُرُبَاتِ يَوْمِ الْقِيَامَةِ، وَمَنْ سَتَرَ مُسْلِمًا سَتَرَهُ اللهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ

Seorang Muslim adalah saudara bagi Muslim lainnya. Dia tak boleh menzalimi saudaranya dan membiarkan saudaranya itu (dizalimi). Siapa saja yang memenuhi kebutuhan saudaranya. Allah akan memenuhi kebutuhannya. Siapa saja yang menghilangkan satu kesulitan saudaranya (di dunia), Allah akan menghilangkan satu kesulitan dari dirinya pada Hari Kiamat. Dan siapa yang menutupi (aib) seorang muslim maka Allah akan menutup aibnya pada hari qiyamat. (HR al-Bukhari).

 

Berdasarkan nash-nash tersebut, jelas tidak sepantasnya kaum Muslim berdiam diri dan berpangku tangan, serta tidak mempedulikan saudaranya. Termasuk saudara-saudara Muslim di Palestina yang telah lama menderita.

 

AlLâhu akbar, AlLâhu akbar, AlLâhu akbar, wa lilLâhil hamdu.

Ma’âsyiral Muslimîn rahimakumulLâh.

Umat Muslim jelas bukan minoritas di dunia ini. Mereka telah menjadi mayoritas penduduk bumi ini. Jumlah kaum Muslimin di seluruh dunia mencapai lebih dari 2 miliar jiwa. Itu berarti 25 persen dari jumlah penduduk dunia. Mereka tersebar di 53 negeri Muslim. Juga ada jutaan Muslim yang tersebar di berbagai negeri non-Muslim, seperti di benua Eropa ataupun di Amerika Serikat.

 

Berbicara kekuatan militer pun, yang seharusnya dapat digunakan melindungi kaum Muslim di berbagai belahan dunia, sejumlah negeri Muslim masuk klasifikasi negara dengan kekuatan militer terkuat di dunia. Menurut pemeringkatan oleh Global Fire Power pada tahun 2023, ada empat negeri Islam masuk dalam jajaran 20 besar yakni: Pakistan, Turki, Indonesia, Mesir dan Iran.

 

Namun, jumlah yang banyak dan pasukan yang sangat kuat, tak bisa menahan berbagai tekanan dan intimidasi dari negara-negara kafir penjajah. Faktanya, hari ini umat Muslim justru menjadi pesakitan, terintimidasi, dan teraniaya secara fisik. Bahkan sebagian terusir dari negerinya sendiri. Keadaan ini sudah diperingatkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Kata beliau, mereka ini seperti buih di lautan (HR Abu Dawud).

 

Ma’âsyiral Muslimîn rahimakumulLâh.

Keadaan umat Islam semacam ini tentu tak boleh kita biarkan. Umat Islam harus bangkit. Kaum Muslim harus kembali menjadi umat terbaik. Sebabnya, itulah jatidiri dan karakter asli umat Baginda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagaimana disebutkan dalam firman Allah subhanahu wa ta’ala:

كُنْتُمْ خَيْرَ اُمَّةٍ اُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ تَأْمُرُوْنَ بِالْمَعْرُوْفِ وَتَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَتُؤْمِنُوْنَ بِاللّٰهِ ۗ

Kamu (umat Islam) adalah umat terbaik yang dilahirkan untuk manusia (selama) kamu menyuruh (berbuat) yang makruf, mencegah dari yang mungkar, dan beriman kepada Allah. (QS Ali Imran [3]: 110).

 

Predikat umat terbaik tentu hanya dimiliki oleh kaum Muslim yang bertakwa. Takwa sendiri adalah hikmah yang semestinya terwujud pada diri setiap Muslim yang berpuasa selama Bulan Ramadhan. Demikian sebagaimana firman-Nya:

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِيْنَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُوْنَۙ

Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kalian berpuasa, sebagaimana puasa itu telah diwajibkan atas orang-orang sebelum kalian, agar kalian bertakwa. (QS al-Baqarah [2]: 183).

 

Ma’âsyiral Muslimîn rahimakumulLâh.

Ketakwaan adalah ketaatan secara total pada syariah Allah subhanahu wa ta’ala, baik menyangkut hukum-hukum yang mengatur kehidupan individu dan kehidupan privat, maupun hukum-hukum yang mengatur kehidupan publik, bermasyarakat, dan bernegara. Ketakwaan total semacam ini hanya bisa terwujud dengan adanya Khilafah atau Imamah. Sebab, hukum-hukum yang mengatur kehidupan publik, bermasyarakat, dan bernegara tidak bisa  dijalankan kecuali oleh Imam atau Khalifah.

 

Patut ditegaskan, menegakkan Khilafah dengan cara mengangkat seorang khalifah bagi kaum Muslim sedunia adalah kewajiban syariah. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

وَمَنْ ‌مَاتَ ‌وَلَيْسَ ‌فِي عُنُقِهِ بَيْعَةٌ مَاتَ مِيْتَةً جَاهِلِيَّةً

Siapa saja yang mati dan di pundaknya tidak ada bai’at, maka dia mati dengan kematian jahiliah. (HR Muslim).

 

Karena itu eksistensi Khilafah dan keberadaan seorang khalifah bagi kaum Muslim sedunia adalah wajib. Ini juga merupakan ijma’ yang telah disepakati oleh para ulama dan kaum Muslimin. Imam Nawawi rahimahuLlah berkata:

وَأَجْمَعُوا عَلَى أَنَّهُ يَجِبُ عَلَى الْمُسْلِمِينَ نَصْبُ خَلِيفَةٍ وَوُجُوبُهُ بِالشَّرْعِ لَا بِالْعَقْلِ وَأَمَّا مَا حُكِيَ عَنِ الْأَصَمِّ أَنَّهُ قَالَ لَا يَجِبُ وَعَنْ غَيْرِهِ أَنَّهُ يَجِبُ بِالْعَقْلِ لَا بِالشَّرْعِ فَبَاطِلَانِ

Dan mereka bersepakat bahwa wajib bagi kaum muslimin untuk mengangkat khalifah dan kewajibannya karena syara’ bukan karena akal. Adapun yang dikatakan oleh al Asham (orang yang tuli dalam agama) bahwa itu tidak wajib atau yang dikatakan lainnya bahwa kewajiban itu berasal dari akal bukan karena syara’, maka perkataan keduanya adalah batil. (Syarah Nawawi ala Muslim, 12/205).

 

 

Di sisi lain, Imam atau Khalifah, tidak boleh lebih dari satu bagi kaum Muslim sedunia.  Imam Ibnu Katsir (w. 774 H) menyatakan:

فَأَمَّا ‌نَصْبُ ‌إِمَامَيْنِ فِي الْأَرْضِ أَوْ أَكْثَرَ فَلَا يَجُوزُ   

Pengangkatan dua imam (khalifah) atau lebih di muka bumi itu tidak boleh terjadi. (Abu al-Fida’ Ismail bin Umar bin Katsir, Tafsîr al-Qur’ân al-Azhîm, 1/222).

 

Dengan demikian ketakwaan secara kaffah itu hanya terwujud dengan adanya Khilafah yang menerapkan dan menjalankan syariah secara kaffah dan menyatukan kaum Muslim seluruh dunia dalam satu kepemimpinan.

 

Ketika hal ini terwujud, maka kita pun layak mengharapkan janji Allah subhanahu wa ta’ala berupa diturunkannya keberkahan dan kemenangan kepada kaum Muslim atas semua penganut agama dan ideologi lain.

 

AlLâhu akbar, AlLâhu akbar, AlLâhu akbar, wa lilLâhil hamdu.

Ma’âsyiral Muslimîn rahimakumulLâh.

Itulah sebabnya keberadaan Khilafah mutlak dibutuhkan. Wajib secara hukum syariah. Mendesak secara realitas politik. Tanpa Khilafah, umat bak anak ayam kehilangan induknya. Mereka tanpa perlindungan sama sekali. Inilah yang terjadi hari ini. Salah satunya dialami oleh Muslim Palestina sejak puluhan tahun lamanya. Juga dialami oleh Muslim Xinjiang, Muslim Rohingya, Muslim India, dan lain-lain. Karena itu benarlah sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam:

إِنَّمَا ‌الْإِمَامُ ‌جُنَّةٌ، ‌يُقَاتَلُ مِنْ وَرَائِهِ وَيُتَّقَى بِهِ

Sungguh Imam/Khalifah adalah perisai; orang-orang berperang di belakang dirinya dan menjadikan dia sebagai pelindung. (HR Muslim).

 

Karena itu, satu abad lebih dunia tanpa Khilafah, bagi umat Islam ini adalah sejarah kelam. Pasalnya, sebelumnya, di era Khilafah-lah lebih 13 abad umat Islam pernah memimpin dunia. Namun, saat ini umat Islam berada dalam kondisi yang paling terpuruk. Tidak ada satu kawasan pun di belahan bumi ini di mana umat Islam tidak terpojok, terasingkan dan terdiskriminasi.

 

AlLâhu akbar, AlLâhu akbar, AlLâhu akbar, wa lilLâhil hamdu.

Ma’âsyiral Muslimîn rahimakumulLâh.

Namun demikian, sebagai Muslim yang bertakwa, kita harus tetap punya harapan. Kita harus tetap optimis menatap masa depan. Kita harus tetap yakin bahwa masa depan gemilang sesungguhnya milik Islam dan kaum Muslim. Allah subhanahu wa ta’ala tegas berfirman dalam al-Quran:

وَعَدَ اللّٰهُ الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا مِنْكُمْ وَعَمِلُوا الصّٰلِحٰتِ لَيَسْتَخْلِفَنَّهُمْ فِى الْاَرْضِ كَمَا اسْتَخْلَفَ الَّذِيْنَ مِنْ قَبْلِهِمْۖ وَلَيُمَكِّنَنَّ لَهُمْ دِيْنَهُمُ الَّذِى ارْتَضٰى لَهُمْ وَلَيُبَدِّلَنَّهُمْ مِّنْۢ بَعْدِ خَوْفِهِمْ اَمْنًاۗ

Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal-amal shalih di antara kalian, bahwa Dia sungguh-sungguh akan menjadikan mereka berkuasa di muka bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang sebelum mereka berkuasa; akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah Dia ridhai untuk mereka; dan akan menukar (keadaan) mereka, sesudah mereka dalam ketakutan, menjadi aman sentosa. (QS an-Nur [24]: 55).

 

Allah subhanahu wa ta’ala pun berfirman:

هُوَ الَّذِيْٓ اَرْسَلَ رَسُوْلَهٗ بِالْهُدٰى وَدِيْنِ الْحَقِّ لِيُظْهِرَهٗ عَلَى الدِّيْنِ كُلِّهٖۙ وَلَوْ كَرِهَ الْمُشْرِكُوْنَ

Dialah Yang telah mengutus Rasul-Nya (dengan membawa) petunjuk (al-Quran) dan agama yang benar untuk Dia menangkan atas segala agama, walaupun kaum musyrik tidak menyukai. (QS at-Taubah [9]: 33).

 

Ayat ini memastikan kemenangan Islam atas seluruh agama dan ideologi. Dan itu hanya tejadi ketika kaum muslimin memiliki kekuasaan. itulah yang disyaratkan dalam Hadits. Dari Tsauban, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

إِنَّ اللّٰهَ زَوَى لِيَ الْأَرْضَ فَرَأَيْتُ مَشَارِقَهَا وَمَغَارِبَهَا، وَإِنَّ ‌مُلْكَ ‌أُمَّتِيْ سَيَبْلُغُ مَا زُوِيَ لِيْ مِنْهَا 

Sesungguhnya Allah melipatkan bumi untukku, maka aku telah melihat bagian barat dan bagian timurnya. Sesungguhnya kekuasaan umatku akan mencapai semua bagian yang dilipatkan bagiku darinya. (HR Abu Dawud dan Ahmad).

 

Kekuasaan itu tak lain adalah Khilafah Islam, yang akan segera kembali, insya Allah, sebagaimana diberitakan dalam Hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam:

ثُمَّ تَكُوْنُ ‌خِلَافَةً ‌عَلَى ‌مِنْهَاجِ ‌نُبُوَّةٍ

Kemudian akan ada lagi Khilafah yang mengikuti manhaj Kenabian. (HR Ahmad).

 

Selain itu, Allah telah menetapkan ajal (tenggat waktu) bagi setiap umat. AS, Inggris, Prancis, Cina, Rusia, Jerman, dan lain-lain mempunyai ajal, yang tidak bisa dielakkan. Semakin ke sini, ajal mereka semakin dekat. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:

وَلِكُلِّ اُمَّةٍ اَجَلٌۚ فَاِذَا جَاۤءَ اَجَلُهُمْ لَا يَسْتَأْخِرُوْنَ سَاعَةً وَّلَا يَسْتَقْدِمُوْنَ

Tiap-tiap umat mempunyai batas waktu. Jika telah datang batas waktunya, mereka tidak dapat mengundurkan batas waktu tersebut barang sesaat pun dan tidak dapat (pula) memajukannya. (QS al-A’raf [7]: 34).

 

 

Maka dari itu, kewajiban kita adalah terus menguatkan keyakinan, dan berjuang semata-sama karena Allah, tanpa lelah. Bersabar di jalan dakwah, sebagaimana kesabaran Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para Sahabat, sampai Allah memenangkan urusan-Nya melalui tangan-tangan mereka.

[]

 

 

بَارَكَ الله لِي وَلَكُمْ فِى اْلقُرْآنِ اْلعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِي وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الْآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيمِ، وَتَقَبَّلَ اللهُ مِنَّا وَمِنْكُمْ تِلاَوَتَهُ، إِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ العَلِيْمُ، وَأَقُوْلُ قَوْلِي هَذَا فَأسْتَغْفِرُ اللهَ العَظِيْمَ إِنَّهُ هُوَ الغَفُوْرُ الرَّحِيْم

 

KHUTBAH KEDUA

 

اَللهُ أَكْبَرُ، اَللهُ أَكْبَرُ، اَللهُ أَكْبَرُ

اَللهُ أَكْبَرُ، اَللهُ أَكْبَرُ، اَللهُ أَكْبَرُ، اَللهُ أَكْبَرُ.

 

اللهُ أَكْبَرُ كَبِيْرًا وَالْحَمْدُ للهِ كَثِيْرًا، وَسُبْحَانَ اللهِ بُكْرَةً وَأَصِيْلاً. لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ، صَدَقَ وَعْدَهُ، وَنَصَرَ عَبْدَهُ، وَأَعَزَّ جُنْدَهُ وَهَزَمَ الأَحْزَابَ وَحْدَهُ. لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ، اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ وَللهِ الْحَمْدُ.

 

الْحَمْدُ للهِ الَّذِيْ أَرْسَلَ رَسُولَهُ بِالْهُدَىٰ وَدِينِ الْحَقِّ لِيُظْهِرَهُ عَلَى الدِّينِ كُلِّهِ وَلَوْ كَرِهَ الْمُشْرِكُوْنَ. اَلْحَمْدُ للهِ الَّذِيْ كَرَّمَ هَذهِ الْأُمَّةَ بِشَرِيْعَتِهِ الْكَامِلَةِ، وخَصَّ بِهَا بِالنُّبُوَّةِ نَبِيِّهِ الْكَرِيْمَةِ، وأَعَزَّهَا بِالْخِلاَفَةِ الرَّاشِدَةِ عَلَى مِنْهَاجِ النُّبُوَّةِ.

 

أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ اِلَّا اللّٰهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ لاَ نَبِيَ بَعْدَهُ، اَرْسَلَهُ بِرِسَالَتِهِ الْقُدْسِيَّةِ وَاَحْكَامِهِ الشَّرِيْفَةِ لِمُعَالَجَةِ كُلِّ مُشْكِلَةِ الْحَيَاةِ.

 

فَيَا أَيُّهَا الْمُؤْمِنُوْنَ، تَمَسَّكُوْا بِاْلإِسْلَامِ فِيْ كُلِّ حِيْنٍ، وَاتَّقُوْا اللّٰهَ حَقَّ تُقَاتِهِ، وَلَا تَمُوْتُنَّ إِلاَّ وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ. اَمَّا بَعْدُ:

 

AlLâhu akbar, AlLâhu akbar, AlLâhu akbar, wa lilLâhil hamdu.

Ma’âsyiral Muslimîn rahimakumulLâh.

Marilah kita berdoa, memohon dan bermunajat kepada Allah subhanahu wa ta’ala. Semoga Allah subhanahu wa ta’ala mengabulkan permohonan kita. Semoga Allah subhanahu wa ta’ala memberi kita kesabaran dan keikhlasan, menguatkan ketaatan kita, melanggengkan ketakwaan kita dan meneguhkan kita untuk tetap istiqamah di jalan-Nya.

 

قَالَ اللّٰهُ تَعَالَى فِيْ الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ: ﴿إِنَّ اللّٰهَ وَمَلاَئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّ، يَاأَيُّهَا الَّذِيْنَ ءَامَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا﴾.

 

اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِهِ وَذُرِيَّاتِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ، بِرَحْمَتِكَ يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ.

 

اَللَّهُمَّ حَمْدًا شَاكِرِيْنَ حَمْدًا نَاعِمِيْنَ حَمْدًا يُوَافِيْ نِعَامَهُ وَيُكَافِئُ مَزِيْدَهُ، يَا رَبَّنَا لَكَ الْحَمْدُ وَلَكَ الشُّكْرُ كَمَا يَنْبَغِيْ لِوَجْهِكَ الْكَرِيْمِ وَعَظِيْمِ سُلْطَانِكَ.

اللّهُمَّ اغْفِرْ لَنَا وَ لِوَالِدِيْنَا وَارْحَمْهُمْ كَمَا رَبَّوْنَ صِغَارًا. اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ وَالْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ اْلأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالأَمْوَاتِ، إِنّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدَّعَوَاتِ، فَيَا قَاضِيَ الْحَاجَاتِ، بِرَحْمَتِكَ يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ.

 

اللَّهُمَّ أَصْلِحْ لَنَا دِيْنَنَا الَّذِي هُوَ عِصْمَةُ أَمْرِنَا، وَأَصْلِحْ لَنَا دُنْيَانَا الَّتِي فِيْهَا مَعَاشُنَا، وَأَصْلِحْ لَنَا آخِرَتَنَا الَّتِي اِلَيْهَا مَعَادُنَا، وَاجْعَلِ الْحَيَاةَ زِيَادَةً لَنَا فِي كُلِّ خَيْرٍ، وَاجْعَلِ الْمَوْتَ رَاحَةً لَنَا مِنْ كُلِّ شَرٍّ.

 

اللّهُمَّ اجْعَلْ عَمَلَنَا عَمَلًا صَالِحًا مُتَقَبَّلًا، مُوَافِقًا بِأَحْكَامِكَ وَخَالِصًا لِوَجْهِكَ.

 

اَللّهُمَّ تَقَبَّلْ مِنَّا صَلاَتَنَا وَصِيَامَنَا وَقِيَامَنَا وَكُلَّ أَعْمَالِنَا الصَّالِحَاتِ، وَاغْفِرْ لَنَا ذُنُوْبَنَا وَاعْفُوْا عَنَّا تَقْصِرَاتَنَا وَارْحَمْنَا بِرَحْمَتِكَ يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ.

 

اَللَّهُمَّ اِنَّا نَسْئَلُكَ سَلَامَةً فِيْ الدِّيْنِ، وَعَافِيَةً فِيْ الْجَسَدِ، وَزِيَادَةً فِيْ الْعِلْمِ، وَبَارَكَةً فِيْ الرِّزْقِ، وَتَوْبَةً قَبْلَ الْمَوْتِ، وَرَحْمَةً عِنْدَ الْمَوْتِ، وَمَغْفِرَةً بَعْدَ الْمَوْتِ، اَللَّهُمَّ هَوِّنْ عَلَيْنَا فِيْ سَكَرَةِ الْمَوْتِ، وَنَجَاةً مِنَ النَّارِ، وَعَفْوًا عِنْدَ الْحِسَابِ.

اَللّٰهُمَّ إِنَّا نَسْتَعِيْنُكَ وَنَسْتَغْفِرُكَ وَلَا نَكْفُرُكَ، وَنُؤْمِنُ بِكَ وَنَخْلَعُ مَنْ يَفْجُرُكَ. اَللّٰهُمَّ عَذِّبِ الْكَفَرَةَ الَّذِيْنَ يَصُدُّوْنَ عَنْ سَبِيْلِكَ، وَيُكَذِّبُوْنَ رُسُلَكَ، وَيُقَاتِلُوْنَ أَوْلِيَاءَكَ.

 

اَللّٰهُمَّ يَا مُنْزِلَ الْكِتَابِ وَمُهْزِمَ اْلأَحْزَابِ، إِهْزِمِ الْيَهُوْدَ وَاَعْوَانَهُمْ وَصَلِيْبِيِّيْنَ وَاَنْصَارَهُمْ وَرَأْسَمَالِيِّيْنَ وَاَعْوَانَهُمْ وَاِشْتَرَاكِيِّيْنَ وَشُيُوْعَهُمْ.

 

اَللّٰهُمَّ أَعِزَّ اْلإِسْلاَمَ وَالْمُسْلِمِيْنَ، وَاخْذُلْ مَنْ خَذَلَ الْمُسْلِمِيْنَ، وَاقْتُلْ مَنْ قَاتَلَ وَقَتَلَ الْمُسْلِمِيْنَ.

 

اَللّٰهُمَّ أَهْلِكِ الْكَفَرَةَ وَالْمُشْرِكِيْنَ وَالْمُنَافِقِيْنَ واَلْفَاسِقِيْنَ وَدَمِّرْ أَعْدَائَكَ أَعْدَاءَ الدِّيْنَ.

 

اَللّٰهُمَّ ارْحَمْ أُمَّةَ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، اَللّٰهُمَّ أَصْلِحْ أُمَّةَ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، اَللّٰهُمَّ اجْعَلْنَا مِنْ أُمَّةِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ صَلَّى اللّٰهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ.

 

اَللّٰهُمَّ أَنْجِزْ لَنَا مَا وَعَدْتَنَا عَلَى رَسُوْلِكَ بِعَوْدَةِ دَوْلَةِ الْخِلاَفَةِ الرَّاشِدَةِ عَلَى مِنْهَاجِ النُّبُوَّةِ، تُعِزُّ بِهَا اْلإِسْلاَمَ وَاَهْلَهُ، وَتُذِلُّ بِهَا الْكُفْرَ وَاَهْلَهُ، وَاجْعَلْنَا مِنَ الْعَامِلِيْنَ الْمُخْلِصِيْنَ لِإِقَامَتِهَا، بِإِذْنِكَ يَا اَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ.

 

رَبَّنَا ظَلَمْنَا أَنْفُسَنَا واِنْ لَمْ تَغْفِرْلَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُوْنَنَّا مِنَ الْخَاسِرِيْنَ،

رَبَّنَا لَا تُؤَاخِذْنَا اِنْ نَسِيْنَا اَوْ اَخْطَأْنَا، رَبَّنَا وَلَا تَحْمِلْ عَلَيْنَا إِصْرًا كَمَا حَمَلْتَهُ عَلَى الَّذِيْنَ مِنْ قَبْلِنَا، رَبَّنَا وَلَا تُحَمِّلْنَا مَا لَا طَاقَةَ لَنَا بِهِ، وَاعْفُ عَنَّا وَاغْفِرْ لَنَا وَارْحَمْنَا اَنْتَ مَوْلٰنَا فَانْصُرْنَا عَلَى الْقَوْمِ الْكَافِرِيْنَ.

 

رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي اْلآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ، رَبَّنَا تقَبَّلْ مِنَّا وَاسْتَجِبْ دُعَائَنَا إِنَّكَ أَنْتَ السَّمِيْعُ العْلَيِمْ وَتُبْ عَلَيْنَا إِنَّكَ اَنْتَ التَّوَّابُ الرَّحِيْمُ.

 

وَسُبْحَانَكَ رَبِّ الْعِزَّةِ عَمَّا يَصِفُوْنَ، وَسَلَامٌ عَلَى الْمُرْسَلِيْنَ، وَالْحَمْدُ لِلّٰه رَبِّ الْعَالَمِيْنَ.

 

وَالسَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ.

Muhasabah Akhir Ramadhan

Muhasabah Akhir Ramadhan

MUHASABAH AKHIR RAMADHAN

KHUTBAH PERTAMA

إنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ، نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِينُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوذُ بِاللَّهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَسَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللَّهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ.

أَشْهَدُ أَنْ لاَ اِلَهَ اِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لَاشَرِيْكَ لَهُ، شَهَادَةَ مَنْ هُوَ خَيْرٌ مَّقَامًا وَأَحْسَنُ نَدِيًّا،

وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا محَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الْمُتَّصِفُ بِالْمَكَارِمِ كِبَارًا وَصَبِيًّا.

اَللَّهُمَّ فَصَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَانَ صَادِقَ الْوَعْدِ وَكَانَ رَسُوْلاً نَبِيًّا،

 

وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ الَّذِيْنَ يُحْسِنُوْنَ إِسْلاَمَهُمْ وَلَمْ يَفْعَلُوْا شَيْئًا فَرِيًّا.

أَمَّا بَعْدُ؛ فَيَا أَيُّهَا الْحَاضِرُوْنَ رَحِمَكُمُ اللهُ، اُوْصِيْنِيْ نَفْسِيْ وَإِيَّاكُمْ بِتَقْوَى اللهِ، فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ.

قَالَ اللهُ تَعَالَى :

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا ادْخُلُوْا فِى السِّلْمِ كَاۤفَّةً ۖوَّلَا تَتَّبِعُوْا خُطُوٰتِ الشَّيْطٰنِۗ اِنَّهٗ لَكُمْ عَدُوٌّ مُّبِيْنٌ

“Hai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam secara keseluruhannya, dan janganlah kamu turut langkah-langkah setan. Sesungguhnya setan itu musuh yang nyata bagimu”. (QS. Al-Baqarah [2]: 208)

 

Alhamdulillah, Allah masih pertemukan kita dengan akhir Ramadhan, bulan yang mulia, di hari mulia. Semoga kita mendapatkan kemuliaannya, dijadikan-Nya sebagai manusia mulia yang layak mendapat surga-Nya. Aamiin. Shalawat dan salam semoga senantiasa tercurah kepada junjungan alam Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

 

Tak henti-hentinya khatib berpesan, marilah kita senantiasa bertakwa kepada Allah. Senantiasa taat kepada Allah di mana saja, meski saat tidak ada manusia. Persis seperti kita tak berani berbuka puasa saat tidak ada orang melihatnya.

 

Hadirin jamaah jumah rahimakumullah,

Tanpa terasa, kita sudah berada di ujung Ramadhan. Satu bulan lamanya kita dididik taat, menahan hawa nafsu, dan menjauhi semua larangan Allah. Harapannya, kita akan menjadi manusia yang meningkat ketakwaannya kepada Allah subhanahu wa ta’ala, sesuai firman Allah subhanahu wa ta’ala dalam [QS. Al-Baqarah [2] 183]:

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِيْنَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُوْنَۙ

“Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa”.

 

Mari kita introspeksi, muhasabah diri, di akhir Ramadhan ini. Apakah kita benar-benar telah menjadi orang-orang bertakwa?

 

Misalnya, ketika Allah subhanahu wa ta’ala memerintahkan kita berpuasa, alhamdulillah, kita telah mampu menaati dan mengamalkan kewajiban tersebut.

 

Lalu, bagaimana sikap dan ketaatan kita terhadap perintah Allah subhanahu wa ta’ala yang lain, seperti kewajiban yang telah tertuang dalam [QS. Al-Baqarah [2] 178]:

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الْقِصَاصُ فِى الْقَتْلٰىۗ

“Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu qishaash berkenaan dengan orang-orang yang dibunuh”

 

Apakah perintah itu sudah kita laksanakan? Perhatikan, di dalamnya ada kata perintah: kutiba, sebagaimana ayat puasa.

 

Ketika Allah subhanahu wa ta’ala mengharamkan riba, apakah kita sudah benar-benar meninggalkannya? Allah subhanahu wa ta’ala berfirman dalam [QS. Al-Baqarah [2] 275]:

 …وَاَحَلَّ اللّٰهُ الْبَيْعَ وَحَرَّمَ الرِّبٰواۗ

“...padahal Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba”.

 

Lagi-lagi muncul pertanyaan, apakah kita sudah meninggalkan riba atau bunga? Padahal Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam  bersabda:

كُلُّ قَرْضٍ جَرَّ مَنْفَعَةً فَهُوَ رِبَا (بغية الحارث – ج 1 / ص 142)

“Setiap utang-piutang yang menghasilkan manfaat adalah riba”.

 

Padahal Allah subhanahu wa ta’ala mengancam bagi pemakan riba dalam [QS. Al-Baqarah [2] 278-279]:

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا اتَّقُوا اللّٰهَ وَذَرُوْا مَا بَقِيَ مِنَ الرِّبٰوٓا اِنْ كُنْتُمْ مُّؤْمِنِيْنَ (٢٧٨)

فَاِنْ لَّمْ تَفْعَلُوْا فَأْذَنُوْا بِحَرْبٍ مِّنَ اللّٰهِ وَرَسُوْلِهٖۚ… (٢٧٩)

“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan tinggalkan sisa riba, jika kamu orang-orang yang beriman” (278). “Maka jika kamu tidak mengerjakan (meninggalkan sisa riba), maka ketahuilah, bahwa Allah dan Rasul-Nya akan memerangimu,..” (279).

 

Hadirin jamaah jumah rahimakumullah,

Sungguh, kita harus mengakui, saat ini kita menyaksikan masih banyak perintah Allah subhanahu wa ta’ala yang belum diamalkan dan berbagai larangan Allah yang masih dilanggar, terutama syariah Islam yang berkaitan dengan pengaturan kehidupan bermasyarakat dan bernegara, baik dalam bidang pemerintahan, ekonomi, sosial, hukum pidana, pendidikan, politik luar negeri dan sebagainya.

 

Belum diamalkannya syariah Islam secara kaffah dalam kehidupan kita inilah yang menyebabkan kehidupan kaum muslimin saat ini terpuruk, terjajah, hancur dan tertindas. Saudara-saudara kita di Gaza dibantai oleh Zionis Yahudi, Muslim Rohingya diusir dari tempat tinggal mereka, Muslim Uighur ditekan habis-habisan oleh rezim Komunis Cina, Muslim India dizalimi tanpa henti dan sebagainya.

 

Sementara di negeri ini, kekayaan alam yang luar biasa serasa tiada karena hanya dinikmati oleh segelintir orang saja. Utang bertumpuk-tumpuk yang membebani kita dan anak cucu kita. Kaum miskin terus bertambah. Kriminalitas meningkat. Penyakit sosial: seks bebas hingga LGBT terus menunjukkan perkembangannya. Sesama anak bangsa berseteru dan bertikai seperti di hutan rimba. Dan masih banyak lagi yang lainnya.

 

Hadirin jamaah jumah rahimakumullah,

Pangkal keterpurukan ini adalah karena umat Islam telah banyak menyimpang dari aturan Allah subhanahu wa ta’ala atau berpaling dari Al-Qur’an. Keadaan itu telah diterangkan oleh Allah subhanahu wa ta’ala dalam [QS. Thaha [20] 124]:

وَمَنْ اَعْرَضَ عَنْ ذِكْرِيْ فَاِنَّ لَهٗ مَعِيْشَةً ضَنْكًا وَّنَحْشُرُهٗ يَوْمَ الْقِيٰمَةِ اَعْمٰى

“Siapa saja yang berpaling dari peringatan-Ku maka sesungguhnya baginya kehidupan yang sempit dan Kami akan mengumpulkan dia pada Hari Kiamat nanti dalam keadaan buta”.

 

Menurut Imam Ibnu Katsir makna “berpaling dari peringatan-Ku” adalah: menyalahi perintah-Ku dan apa yang Aku turunkan kepada Rasul-Ku, melupakannya dan mengambil petunjuk dari selainnya (Tafsir al-Quran al-‘Azhim, V/323).

 

Sedangkan penghidupan yang sempit tidak lain adalah kehidupan yang semakin miskin, melarat, sengsara, menderita, terjajah, teraniaya, tertindas dan sebagainya, sebagaimana yang kita saksikan dan rasakan sekarang ini di dunia Islam.

 

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menggambarkan bahwa setiap penyimpangan terhadap syariah Islam akan menyebabkan turunnya azab dari Allah subhanahu wa ta’ala.

إِذَا ظَهَرَ الزِّنَا وَالرِّبَا فِي قَرْيَةٍ ، فَقَدْ أَحَلُّوا بِأَنْفُسِهِمْ عَذابِ اللهِ

“Apabila zina dan riba telah merajalela di suatu negeri, berarti penduduk negeri tersebut telah meminta Allah untuk menurunkan azab bagi mereka” (HR. Al-Hakim).

 

Karena itu, tak ada jalan lain bagi kita semua, kecuali kembali menerapkan aturan Islam dalam seluruh aspek kehidupan. Mari kita layakkan diri menjadi umat yang bertakwa di hadapan Allah subhanahu wa ta’ala. Yakni, umat yang siap melakukan perjuangan besar, mengubah kondisi jahiliyah modern saat ini menjadi kondisi yang diridhai oleh Allah dengan penerapan  syariah Islam secara kaffah, sebagaimana yang diinginkan oleh Allah subhanahu wa ta’ala.

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا ادْخُلُوْا فِى السِّلْمِ كَاۤفَّةً ۖوَّلَا تَتَّبِعُوْا خُطُوٰتِ الشَّيْطٰنِۗ اِنَّهٗ لَكُمْ عَدُوٌّ مُّبِيْنٌ

“Hai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam secara keseluruhannya, dan janganlah kamu turut langkah-langkah setan. Sesungguhnya setan itu musuh yang nyata bagimu”. (TQS. Al-Baqarah [2]: 208)

[]

 

 

بَارَكَ الله لِي وَلَكُمْ فِى اْلقُرْآنِ اْلعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِي وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الْآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيمِ، وَتَقَبَّلَ اللهُ مِنَّا وَمِنْكُمْ تِلاَوَتَهُ، إِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ العَلِيْمُ، وَأَقُوْلُ قَوْلِي هَذَا فَأسْتَغْفِرُ اللهَ العَظِيْمَ إِنَّهُ هُوَ الغَفُوْرُ الرَّحِيْم

 

KHUTBAH II

اَلْحَمْدُ للهِ عَلىَ إِحْسَانِهِ، وَالشُّكْرُ لَهُ عَلىَ تَوْفِيْقِهِ وَاِمْتِنَانِهِ. أَشْهَدُ أَنْ لاَ اِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَاللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الدَّاعِى إلىَ رِضْوَانِهِ. اللهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ. وَعَلَى اَلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَسَلِّمْ تَسْلِيْمًا كَثِيْرًا

أَمَّا بَعْدُ؛ فَياَ اَيُّهَا النَّاسُ اِتَّقُوااللهَ فِيْمَا أَمَرَ وَانْتَهُوْا عَمَّا نَهَى وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ بَدَأَ فِيْهِ بِنَفْسِهِ وَثَـنَّى بِمَلآ ئِكَتِهِ الْمُسَبِّحَةِ بِقُدْسِهِ، وَقَالَ تَعاَلَى:

إِنَّ اللهَ وَمَلآئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلىَ النَّبِى يآ اَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا. اللهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلِّمْ وَعَلَى آلِ سَيِّدِناَ مُحَمَّدٍ، وَعَلَى اَنْبِيآئِكَ وَرُسُلِكَ وَمَلآئِكَةِ اْلمُقَرَّبِيْنَ، وَارْضَ اللّهُمَّ عَنِ اْلخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ، أَبِى بَكْرٍ وَعُمَر وَعُثْمَان وَعَلي، وَعَنْ بَقِيَّةِ الصَّحَابَةِ وَالتَّابِعِيْنَ، وَتَابِعِي التَّابِعِيْنَ لَهُمْ بِاِحْسَانٍ اِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ، وَارْضَ عَنَّا مَعَهُمْ بِرَحْمَتِكَ يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ

 

اَللهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَاْلمُؤْمِنَاتِ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَاْلمُسْلِمَاتِ اَلاَحْيآء مِنْهُمْ وَاْلاَمْوَاتِ، اللهُمَّ أَعِزَّ اْلإِسْلاَمَ وَاْلمُسْلِمِيْنَ، وَأَذِلَّ الشِّرْكَ وَاْلمُشْرِكِيْنَ، وَانْصُرْ عِبَادَكَ اْلمُوَحِّدِيْنَ، وَانْصُرْ مَنْ نَصَرَ الدِّيْنَ، وَاخْذُلْ مَنْ خَذَلَ اْلمُسْلِمِيْنَ، وَ دَمِّرْ أَعْدَاءَ الدِّيْنِ، وَاعْلِ كَلِمَاتِكَ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ. اللهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا اْلبَلاَءَ وَاْلوَبَاءَ وَالزَّلاَزِلَ وَاْلمِحَنَ وَسُوْءَ اْلفِتْنَةِ وَاْلمِحَنَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ، عَنْ بَلَدِنَا اِنْدُونِيْسِيَّا خآصَّةً وَسَائِرِ اْلبُلْدَانِ اْلمُسْلِمِيْنَ عآمَّةً يَا رَبَّ اْلعَالَمِيْنَ. رَبَّنَا آتِناَ فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِى اْلآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ. رَبَّنَا ظَلَمْنَا اَنْفُسَنَا وَاإنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُوْنَنَّ مِنَ اْلخَاسِرِيْنَ

 

عِبَادَاللهِ! إِنَّ اللهَ يَأْمُرُبِاْلعَدْلِ وَاْلإِحْسَانِ وَإِيْتآءِ ذِي اْلقُرْبىَ وَيَنْهَى عَنِ اْلفَحْشآءِ وَاْلمُنْكَرِ وَاْلبَغْي يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ، وَاذْكُرُوا اللهَ اْلعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ، وَاشْكُرُوْهُ عَلىَ نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ، وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرْ

Tobat dari Kezaliman

Tobat dari Kezaliman

TOBAT DARI KEZALIMAN

KHUTBAH PERTAMA

إنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ، نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِينُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوذُ بِاللَّهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَسَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللَّهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ.

أَشْهَدُ أَنْ لاَ اِلَهَ اِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لَاشَرِيْكَ لَهُ، شَهَادَةَ مَنْ هُوَ خَيْرٌ مَّقَامًا وَأَحْسَنُ نَدِيًّا،

وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا محَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الْمُتَّصِفُ بِالْمَكَارِمِ كِبَارًا وَصَبِيًّا.

اَللَّهُمَّ فَصَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَانَ صَادِقَ الْوَعْدِ وَكَانَ رَسُوْلاً نَبِيًّا،

 

وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ الَّذِيْنَ يُحْسِنُوْنَ إِسْلاَمَهُمْ وَلَمْ يَفْعَلُوْا شَيْئًا فَرِيًّا.

أَمَّا بَعْدُ؛ فَيَا أَيُّهَا الْحَاضِرُوْنَ رَحِمَكُمُ اللهُ، اُوْصِيْنِيْ نَفْسِيْ وَإِيَّاكُمْ بِتَقْوَى اللهِ، فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ.

قَالَ اللهُ تَعَالَى :

اِنَّ اللّٰهَ يَأْمُرُكُمْ اَنْ تُؤَدُّوا الْاَمٰنٰتِ اِلٰٓى اَهْلِهَاۙ وَاِذَا حَكَمْتُمْ بَيْنَ النَّاسِ اَنْ تَحْكُمُوْا بِالْعَدْلِ ۗ اِنَّ اللّٰهَ نِعِمَّا يَعِظُكُمْ بِهٖ ۗ اِنَّ اللّٰهَ كَانَ سَمِيْعًاۢ بَصِيْرًا

Sungguh Allah menyuruh kalian memberikan amanah kepada orang yang berhak menerimanya, Allah  pun menyuruh kalian, jika menetapkan hukum di antara manusia, agar kalian berlaku adil. Sesungguhnya Allah memberi pengajaran yang paling baik kepadamu. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Melihat. (QS an-Nisa’ [4]: 58).

 

Alhamdulillah, Allah masih pertemukan kita dengan bulan mulia, Ramadhan, di hari Jumat yang mulia, bersama dengan orang-orang yang insyaallah dimuliakan-Nya. Shalawat dan salam semoga senantiasa tercurah kepada junjungan alam Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

 

Mari terus menguatkan dan menjaga ketakwaan kita, terlebih di bulan Ramadhan ini. Harapannya, pasca Ramadhan, kita meraih derajat takwa yang tinggi.

 

Hadirin jamaah jumah rahimakumullah,

Ramadhan adalah bulan yang berlimpah keutamaan dari Allah subhanahu wa ta’ala. Selain rahmat dan pahala yang berlipat, Allah subhanahu wa ta’ala juga memberikan limpahan ampunan kepada hamba-hambaNya yang beriman dan beramal shalih. Karena itulah Ramadhan juga disebut sebagai bulan ampunan (Syahrul-Maghfirah). Sepantasnya setiap Muslim yang mengharapkan ampunan Allah subhanahu wa ta’ala bersegera melaksanakan semua perintah-Nya dan meninggalkan semua larangan-Nya agar ia mendapatkan ampunan yang sempurna. Bukankah tak ada satu pun manusia yang tidak lepas dari dosa dan kesalahan?

 

Janji pengampunan dosa selama Ramadhan disampaikan oleh Baginda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam sabda beliau:

مَنْ صَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ

Siapa saja yang berpuasa pada bulan Ramadhan semata-mata karena iman dan mengharap pahala dari Allah akan diampuni dosa-dosanya pada masa lalu (HR al-Bukhari dan Muslim).

 

Karena itu, merugilah siapa saja yang melewati bulan Ramadhan tanpa mendapatkan ampunan Allah subhanahu wa ta’ala. Hal ini sudah diperingatkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam sabda beliau:

قَالَ لِي جِبْرِيلُ: رَغِمَ أَنْفُ عَبْدٍ دَخَلَ عَلَيْهِ رَمَضَانُ فَلَمْ يُغْفَرْ لَهُ، فَقُلْتُ: آمِينَ

Jibril as. berkata kepadaku, ”Sungguh sangat merugi seseorang yang memasuki bulan Ramadhan, tetapi dosa-dosanya tidak diampuni.” Aku (Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam) pun mengucapkan, ”Ya Allah, kabulkanlah.” (HR al-Bukhari).

 

Hadirin jamaah jumah rahimakumullah,

Mengapa berpuasa tapi tidak mendapatkan ampunan Allah? Kemungkinannya ada dua. Pertama, karena masih melakukan kemaksiatan. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

مَنْ لَمْ يَدَعْ قَوْلَ الزُّورِ وَالْعَمَلَ بِهِ فَلَيْسَ لِلَّهِ حَاجَةٌ فِى أَنْ يَدَعَ طَعَامَهُ وَشَرَابَهُ

Siapa saja yang tidak meninggalkan perkataan dan perilaku dusta, Allah tidak membutuhkan upayanya dalam meninggalkan makan dan minumnya (HR al-Bukhari).

 

Kedua, masih terus melakukan dosa-dosa besar. Hal ini karena penghapusan dosa selama Bulan Ramadhan hanya berlaku pada dosa kecil, bukan dosa besar. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

الصَّلَوَاتُ الْخَمْسُ وَالْجُمْعَةُ إِلَى الْجُمْعَةِ وَرَمَضَانُ إِلَى رَمَضَانَ مُكَفِّرَاتٌ مَا بَيْنَهُنَّ إِذَا اجْتَنَبَ الْكَبَائِرَ

Shalat lima waktu, ibadah Jumat yang satu dengan ibadah jumat berikutnya dan puasa Ramadhan yang satu dengan puasa Ramadhan berikutnya, itu semua merupakan penghapus dosa di antara keduanya selama dosa-dosa besar dijauhi (HR Muslim).

 

Menurut Qadhi Iyadh dosa-dosa besar hanya dapat dihapuskan dengan tobat atau (mendapatkan) rahmat Allah dan karunia-Nya.

 

Hadirin jamaah jumah rahimakumullah,

Bagaimana dosa dihapus, jika masih berkutat dengan berbagai kemaksiatan yang tergolong dosa besar seperti memakan riba, korupsi, dan berbagai kezaliman.

 

Salah satu dosa besar yang diperingatkan dengan keras oleh Islam adalah perbuatan zalim. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:

وَكَذٰلِكَ اَخْذُ رَبِّكَ اِذَآ اَخَذَ الْقُرٰى وَهِيَ ظَالِمَةٌ ۗاِنَّ اَخْذَهٗٓ اَلِيْمٌ شَدِيْدٌ

Begitulah siksa Tuhanmu jika Dia menyiksa (penduduk) negeri-negeri yang berbuat zalim. Sungguh siksa-Nya sangat pedih dan sangat berat (TQS Hud [11]: 102).

       

Ingatlah, tak ada yang bisa lolos dari balasan Allah atas perbuatan zalim di dunia. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sampai mengingatkan bahwa hewan-hewan saja diberi kesempatan untuk membalas perlakuan buruk yang mereka terima di dunia dari sesama binatang. Sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam:

لَتُؤَدُّنَّ الْحُقُوقَ إِلَى أَهْلِهَا يَوْمَ الْقيامَةِ حَتَّى يُقَادَ للشَّاةِ الْجَلْحَاء مِنَ الشَّاةِ الْقَرْنَاء

Sungguh, pada Hari Kiamat nanti semua hak akan dikembalikan kepada pemiliknya. Bahkan kambing yang tak bertanduk diberi kesempatan untuk membalas kambing yang bertanduk (HR Muslim).

 

Karena itu manusia yang berbuat zalim selama hidupnya tidak boleh merasa aman. Mereka tidak akan dapat lolos dari hisab dan balasan Allah subhanahu wa ta’ala pada Hari Kiamat. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menyebut para pelaku kezaliman yang tidak bertobat sebagai manusia yang bangkrut. Sabda beliau: “Tahukah kalian, siapakah orang bangkrut itu?” Para Sahabat ra. menjawab, “Orang bangkrut menurut kami adalah orang yang tidak punya uang dan barang.” Beliau bersabda, “Sungguh orang bangkrut di kalangan umatku, (yaitu) orang yang datang pada Hari Kiamat dengan membawa (pahala) shalat, puasa dan zakat. Namun, dia juga mencaci maki si ini, menuduh si itu, memakan harta orang ini, menumpahkan darah orang itu dan memukul orang ini. Orang ini diberi sebagian kebaikan-kebaikannya dan orang ini diberi sebagian kebaikan-kebaikannya. Jika kebaikan-kebaikannya telah habis sebelum diselesaikan kewajibannya, kesalahan-kesalahan mereka diambil lalu ditimpakan kepada dirinya, kemudian dia dilemparkan ke dalam neraka.” (HR Muslim, no. 2581).

 

Hadirin jamaah jumah rahimakumullah,

Jika kezaliman itu dilakukan antar pribadi, tentu dampaknya tidak terlalu besar. Tapi jika kezaliman itu dilakukan penguasa atas rakyatnya, maka itu dampaknya sangat luar biasa. Padahal, kekuasaan adalah amanah yang mestinya digunakan untuk memenuhi hak-hak rakyat dan berlaku adil kepada mereka. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:

اِنَّ اللّٰهَ يَأْمُرُكُمْ اَنْ تُؤَدُّوا الْاَمٰنٰتِ اِلٰٓى اَهْلِهَاۙ وَاِذَا حَكَمْتُمْ بَيْنَ النَّاسِ اَنْ تَحْكُمُوْا بِالْعَدْلِ ۗ

Sungguh Allah menyuruh kalian memberikan amanah kepada orang yang berhak menerimanya, Allah  pun menyuruh kalian, jika menetapkan hukum di antara manusia, agar kalian berlaku adil (TQS an-Nisa’ [4]: 58).

 

Alhasil, shaum para pelaku kezaliman bisa menjadi sia-sia jika mereka tidak menghentikan kezalimannya. Ketahuilah, menggugurkan dosa-dosa kezaliman juga tidak bisa dilakukan hanya sekadar dengan istigfhar, melainkan harus bertobat dengan taubatan nashuuha. Caranya dengan mencabut semua kebijakan yang telah menzalimi rakyat, mengembalikan hak-hak rakyat yang telah teraniaya, lalu mengganti sistem yang berlaku dengan syariah Islam.

[]

 

 

بَارَكَ الله لِي وَلَكُمْ فِى اْلقُرْآنِ اْلعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِي وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الْآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيمِ، وَتَقَبَّلَ اللهُ مِنَّا وَمِنْكُمْ تِلاَوَتَهُ، إِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ العَلِيْمُ، وَأَقُوْلُ قَوْلِي هَذَا فَأسْتَغْفِرُ اللهَ العَظِيْمَ إِنَّهُ هُوَ الغَفُوْرُ الرَّحِيْم

 

KHUTBAH II

اَلْحَمْدُ للهِ عَلىَ إِحْسَانِهِ، وَالشُّكْرُ لَهُ عَلىَ تَوْفِيْقِهِ وَاِمْتِنَانِهِ. أَشْهَدُ أَنْ لاَ اِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَاللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الدَّاعِى إلىَ رِضْوَانِهِ. اللهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ. وَعَلَى اَلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَسَلِّمْ تَسْلِيْمًا كَثِيْرًا

أَمَّا بَعْدُ؛ فَياَ اَيُّهَا النَّاسُ اِتَّقُوااللهَ فِيْمَا أَمَرَ وَانْتَهُوْا عَمَّا نَهَى وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ بَدَأَ فِيْهِ بِنَفْسِهِ وَثَـنَّى بِمَلآ ئِكَتِهِ الْمُسَبِّحَةِ بِقُدْسِهِ، وَقَالَ تَعاَلَى:

إِنَّ اللهَ وَمَلآئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلىَ النَّبِى يآ اَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا. اللهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلِّمْ وَعَلَى آلِ سَيِّدِناَ مُحَمَّدٍ، وَعَلَى اَنْبِيآئِكَ وَرُسُلِكَ وَمَلآئِكَةِ اْلمُقَرَّبِيْنَ، وَارْضَ اللّهُمَّ عَنِ اْلخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ، أَبِى بَكْرٍ وَعُمَر وَعُثْمَان وَعَلي، وَعَنْ بَقِيَّةِ الصَّحَابَةِ وَالتَّابِعِيْنَ، وَتَابِعِي التَّابِعِيْنَ لَهُمْ بِاِحْسَانٍ اِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ، وَارْضَ عَنَّا مَعَهُمْ بِرَحْمَتِكَ يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ

 

اَللهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَاْلمُؤْمِنَاتِ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَاْلمُسْلِمَاتِ اَلاَحْيآء مِنْهُمْ وَاْلاَمْوَاتِ، اللهُمَّ أَعِزَّ اْلإِسْلاَمَ وَاْلمُسْلِمِيْنَ، وَأَذِلَّ الشِّرْكَ وَاْلمُشْرِكِيْنَ، وَانْصُرْ عِبَادَكَ اْلمُوَحِّدِيْنَ، وَانْصُرْ مَنْ نَصَرَ الدِّيْنَ، وَاخْذُلْ مَنْ خَذَلَ اْلمُسْلِمِيْنَ، وَ دَمِّرْ أَعْدَاءَ الدِّيْنِ، وَاعْلِ كَلِمَاتِكَ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ. اللهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا اْلبَلاَءَ وَاْلوَبَاءَ وَالزَّلاَزِلَ وَاْلمِحَنَ وَسُوْءَ اْلفِتْنَةِ وَاْلمِحَنَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ، عَنْ بَلَدِنَا اِنْدُونِيْسِيَّا خآصَّةً وَسَائِرِ اْلبُلْدَانِ اْلمُسْلِمِيْنَ عآمَّةً يَا رَبَّ اْلعَالَمِيْنَ. رَبَّنَا آتِناَ فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِى اْلآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ. رَبَّنَا ظَلَمْنَا اَنْفُسَنَا وَاإنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُوْنَنَّ مِنَ اْلخَاسِرِيْنَ

 

عِبَادَاللهِ! إِنَّ اللهَ يَأْمُرُبِاْلعَدْلِ وَاْلإِحْسَانِ وَإِيْتآءِ ذِي اْلقُرْبىَ وَيَنْهَى عَنِ اْلفَحْشآءِ وَاْلمُنْكَرِ وَاْلبَغْي يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ، وَاذْكُرُوا اللهَ اْلعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ، وَاشْكُرُوْهُ عَلىَ نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ، وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرْ

Wajib Mengamalkan Semua Isi Al-Quran

Wajib Mengamalkan Semua Isi Al-Quran

WAJIB MENGAMALKAN SEMUA ISI AL-QURAN

KHUTBAH PERTAMA

إنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ، نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِينُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوذُ بِاللَّهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَسَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللَّهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ.

أَشْهَدُ أَنْ لاَ اِلَهَ اِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لَاشَرِيْكَ لَهُ، شَهَادَةَ مَنْ هُوَ خَيْرٌ مَّقَامًا وَأَحْسَنُ نَدِيًّا،

وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا محَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الْمُتَّصِفُ بِالْمَكَارِمِ كِبَارًا وَصَبِيًّا.

اَللَّهُمَّ فَصَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَانَ صَادِقَ الْوَعْدِ وَكَانَ رَسُوْلاً نَبِيًّا،

 

وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ الَّذِيْنَ يُحْسِنُوْنَ إِسْلاَمَهُمْ وَلَمْ يَفْعَلُوْا شَيْئًا فَرِيًّا.

أَمَّا بَعْدُ؛ فَيَا أَيُّهَا الْحَاضِرُوْنَ رَحِمَكُمُ اللهُ، اُوْصِيْنِيْ نَفْسِيْ وَإِيَّاكُمْ بِتَقْوَى اللهِ، فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ.

قَالَ اللهُ تَعَالَى :

لَوْ اَنْزَلْنَا هٰذَا الْقُرْاٰنَ عَلٰى جَبَلٍ لَّرَاَيْتَهٗ خَاشِعًا مُّتَصَدِّعًا مِّنْ خَشْيَةِ اللّٰهِ ۗوَتِلْكَ الْاَمْثَالُ نَضْرِبُهَا لِلنَّاسِ لَعَلَّهُمْ يَتَفَكَّرُوْنَ

Andai al-Quran ini Kami turunkan di atas gunung, kamu (Muhammad) pasti menyaksikan gunung itu tunduk dan terbelah karena takut kepada Allah. Perumpamaan itu Kami buat untuk manusia agar mereka mau berpikir. (QS al-Hasyr [59]: 21).

 

Alhamdulillah, bersyukur kepada Allah atas nikmat dan karunia-Nya yang tak terhingga. Di bulan mulia penuh berkah ini kita masih diberi kesempatan oleh Allah untuk beramal shalih, yang pahalanya dilipatgandakan sampai tak terhingga. Shalawat dan salam semoga senantiasa tercurah kepada junjungan alam Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

 

Marilah kita terus meningkatkan derajat takwa kita. Patuhi perintah-perintah Allah subhanahu wa ta’ala dan jauhi larangan-larangan-Nya, apapun kondisi kita. Sungguh, kebaikan akan datang bagi kita yang taat kepada-Nya.

 

Hadirin jamaah jumah rahimakumullah,

Ramadhan identik dengan Bulan al-Quran. Karena itu Ramadhan sering disebut Syahr al-Qur’aan. Di bulan ini, al-Quran pertama kali diturunkan. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:

شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِيْٓ اُنْزِلَ فِيْهِ الْقُرْاٰنُ هُدًى لِّلنَّاسِ وَبَيِّنٰتٍ مِّنَ الْهُدٰى وَالْفُرْقَانِۚ

Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) al-Quran sebagai petunjuk bagi manusia, juga  sebagai penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu, dan sebagai pembeda  (TQS al-Baqarah [2]: 185).

 

Jelas sekali, al-Quran adalah petunjuk. Maka, manusia yang waras pikirannya, pasti dia akan menjadikan al-Quran sebagai tuntunan hidup, pedoman hidup.

 

Hadirin jamaah jumah rahimakumullah,

Sayangnya, saat ini al-Quran tidak diamalkan dan diterapkan secara sempurna. Masih pilih-pilih. Ayat-ayat menyangkut aspek ruhiyah (spiritual) seperti ibadah shalat, puasa, haji, dan lain-lain getol diamalkan. Tapi aspek-aspek siyasiyah (politik) seperti urusan masyarakat hingga negara diabaikan.

 

Misalnya, ayat yang mengandung kata kutiba, yang artinya diwajibkan, penyikapannya berbeda. Ayat kutiba ‘alaykum al-shiyâm (diwajibkan atas kalian berpuasa) dalam QS al-Baqarah [2]: 183—yang notabene bersifat ruhiyah—diterima dan dilaksanakan. Sebaliknya, terhadap ayat kutiba ‘alaykum al-qishâsh (diwajibkan atas kalian qishash) dalam QS al-Baqarah [2]: 178, atau kutiba ‘alaykum al-qitâl (diwajibkan atas kalian berperang) dalam QS al-Baqarah [2]: 216—yang notabene bersifat politis—muncul sikap keberatan, penolakan, bahkan penentangan dengan beragam dalih. Ini jelas sikap “diskriminatif” alias pilih-pilih. Ini berujung pada pengabaian sebagian ayat al-Quran.

 

Contoh lain, ketika ada perintah untuk berhukum pada hukum Allah subhanahu wa ta’ala sebagaimana firman-Nya:

فَلَا وَرَبِّكَ لَا يُؤْمِنُوْنَ حَتّٰى يُحَكِّمُوْكَ فِيْمَا شَجَرَ بَيْنَهُمْ ثُمَّ لَا يَجِدُوْا فِيْٓ اَنْفُسِهِمْ حَرَجًا مِّمَّا قَضَيْتَ وَيُسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا

Demi Tuhanmu. Mereka (pada hakikatnya) tidak beriman hingga mereka menjadikan kamu sebagai hakim dalam perkara yang mereka perselisihkan, kemudian mereka tidak merasa keberatan dalam hati mereka atas putusan yang kamu berikan, dan mereka menerima putusan tersebut dengan sepenuhnya (TQS an-Nisa’ [4]: 65).

 

Yang terjadi justru kita mengambil hukum orang-orang Barat. Menolak hukum-hukum al-Quran.

 

Hadirin jamaah jumah rahimakumullah,

Ketahuilah, Allah subhanahu wa ta’ala mewajibkan kita mengamalkan dan menerapkan seluruh isi al-Quran. Jika tidak, kita termasuk mengabaikan al-Quran. Padahal Allah subhanahu wa ta’ala telah berfirman:

وَقَالَ الرَّسُوْلُ يٰرَبِّ اِنَّ قَوْمِى اتَّخَذُوْا هٰذَا الْقُرْاٰنَ مَهْجُوْرًا

Berkatalah Rasul, “Tuhanku, sungguh kaumku menjadikan al-Quran ini sebagai sesuatu yang diabaikan.”  (TQS al-Furqan [25]: 30).

 

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengadu kepada Allah subhanahu wa ta’ala tentang sikap dan perilaku kaumnya yang mengabaikan al-Quran. Pengaduan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam itu terjadi saat beliau masih hidup di dunia.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengadukan perilaku kaumnya yang menjadikan al-Quran sebagai mahjûr[an] yakni ditinggalkan, diabaikan atau tidak dipedulikan.

 

Hadirin jamaah jumah rahimakumullah,

Banyak sikap dan perilaku yang oleh para mufasir dikategori hajr al-Qur’ân (meninggalkan atau mengabaikan al-Quran). Di antaranya adalah menolak untuk mengimani dan membenarkan al-Quran; tidak merenungkan dan memahami al-Quran; tidak mengamalkan dan mematuhi perintah dan larangan al-Quran; berpaling dari al-Quran, kemudian berpaling pada lainnya, baik berupa syair, nyanyian, permainan, ucapan, atau tharîqah yang diambil dari selain al-Quran, dan lain-lain (Ibn Katsir, Tafsîr al-Qur’ân al-‘Azhîm, 3/1335).

 

Ketahuilah, semua tindakan mengabaikan al-Quran tersebut termasuk perbuatan haram. Di antara dalilnya adalah ayat berikutnya:

وَكَذٰلِكَ جَعَلْنَا لِكُلِّ نَبِيٍّ عَدُوًّا مِّنَ الْمُجْرِمِيْنَۗ

Seperti itulah Kami mengadakan bagi tiap-tiap nabi musuh dari kalangan para pendosa (TQS al-Furqan [25]: 31).

 

Melalui ayat ini, tampak jelas bahwa orang-orang yang meninggalkan dan mengabaikan al-Quran disejajarkan dengan musuh para nabi dari kalangan para pendosa.

 

Hadirin jamaah jumah rahimakumullah,

Siapa yang mengkaji isi al-Quran pasti paham, mengamalkan dan menerapkan al-Quran tak bisa dan tak cukup oleh pribadi-pribadi. Butuh peran masyarakat dan terutama negara. Pasalnya, al-Quran berisi sistem kehidupan. Sebagian hukum itu hanya bisa dilakukan oleh negara, semisal hukum-hukum yang berkaitan dengan pemerintahan dan kekuasaan, ekonomi, sosial, pendidikan dan politik luar negeri. Termasuk pula hukum-hukum yang mengatur pemberian sanksi terhadap pelaku pelanggaran hukum syariah, seperti huduud (misal: hukum potong tangan bagi pencuri, hukum rajam bagi pezina, dan sebagainya), hukum qishash, dan lain-lain. Hukum-hukum seperti itu tidak boleh dikerjakan oleh pribadi-pribadi. Ia hanya sah dilakukan oleh khalifah atau yang diberi wewenang oleh khalifah.

 

Maka, berdasarkan fakta ini, keberadaan Negara Islam (Khilafah Islam) merupakan sesuatu yang dharûrî (sangat penting). Tanpa Khilafah Islam mustahil semua ayat al-Quran dapat diterapkan. Inilah yang terjadi saat ini, khususnya di Dunia Islam, termasuk negeri ini.

 

Alhasil, sudah seharusnya Ramadhan ini dijadikan momentum oleh kaum Muslim, terutama penguasa mereka, untuk mengamalkan dan menerapkan al-Quran secara keseluruhan.

[]

 

 

بَارَكَ الله لِي وَلَكُمْ فِى اْلقُرْآنِ اْلعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِي وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الْآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيمِ، وَتَقَبَّلَ اللهُ مِنَّا وَمِنْكُمْ تِلاَوَتَهُ، إِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ العَلِيْمُ، وَأَقُوْلُ قَوْلِي هَذَا فَأسْتَغْفِرُ اللهَ العَظِيْمَ إِنَّهُ هُوَ الغَفُوْرُ الرَّحِيْم

 

KHUTBAH II

اَلْحَمْدُ للهِ عَلىَ إِحْسَانِهِ، وَالشُّكْرُ لَهُ عَلىَ تَوْفِيْقِهِ وَاِمْتِنَانِهِ. أَشْهَدُ أَنْ لاَ اِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَاللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الدَّاعِى إلىَ رِضْوَانِهِ. اللهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ. وَعَلَى اَلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَسَلِّمْ تَسْلِيْمًا كَثِيْرًا

أَمَّا بَعْدُ؛ فَياَ اَيُّهَا النَّاسُ اِتَّقُوااللهَ فِيْمَا أَمَرَ وَانْتَهُوْا عَمَّا نَهَى وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ بَدَأَ فِيْهِ بِنَفْسِهِ وَثَـنَّى بِمَلآ ئِكَتِهِ الْمُسَبِّحَةِ بِقُدْسِهِ، وَقَالَ تَعاَلَى:

إِنَّ اللهَ وَمَلآئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلىَ النَّبِى يآ اَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا. اللهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلِّمْ وَعَلَى آلِ سَيِّدِناَ مُحَمَّدٍ، وَعَلَى اَنْبِيآئِكَ وَرُسُلِكَ وَمَلآئِكَةِ اْلمُقَرَّبِيْنَ، وَارْضَ اللّهُمَّ عَنِ اْلخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ، أَبِى بَكْرٍ وَعُمَر وَعُثْمَان وَعَلي، وَعَنْ بَقِيَّةِ الصَّحَابَةِ وَالتَّابِعِيْنَ، وَتَابِعِي التَّابِعِيْنَ لَهُمْ بِاِحْسَانٍ اِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ، وَارْضَ عَنَّا مَعَهُمْ بِرَحْمَتِكَ يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ

 

اَللهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَاْلمُؤْمِنَاتِ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَاْلمُسْلِمَاتِ اَلاَحْيآء مِنْهُمْ وَاْلاَمْوَاتِ، اللهُمَّ أَعِزَّ اْلإِسْلاَمَ وَاْلمُسْلِمِيْنَ، وَأَذِلَّ الشِّرْكَ وَاْلمُشْرِكِيْنَ، وَانْصُرْ عِبَادَكَ اْلمُوَحِّدِيْنَ، وَانْصُرْ مَنْ نَصَرَ الدِّيْنَ، وَاخْذُلْ مَنْ خَذَلَ اْلمُسْلِمِيْنَ، وَ دَمِّرْ أَعْدَاءَ الدِّيْنِ، وَاعْلِ كَلِمَاتِكَ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ. اللهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا اْلبَلاَءَ وَاْلوَبَاءَ وَالزَّلاَزِلَ وَاْلمِحَنَ وَسُوْءَ اْلفِتْنَةِ وَاْلمِحَنَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ، عَنْ بَلَدِنَا اِنْدُونِيْسِيَّا خآصَّةً وَسَائِرِ اْلبُلْدَانِ اْلمُسْلِمِيْنَ عآمَّةً يَا رَبَّ اْلعَالَمِيْنَ. رَبَّنَا آتِناَ فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِى اْلآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ. رَبَّنَا ظَلَمْنَا اَنْفُسَنَا وَاإنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُوْنَنَّ مِنَ اْلخَاسِرِيْنَ

 

عِبَادَاللهِ! إِنَّ اللهَ يَأْمُرُبِاْلعَدْلِ وَاْلإِحْسَانِ وَإِيْتآءِ ذِي اْلقُرْبىَ وَيَنْهَى عَنِ اْلفَحْشآءِ وَاْلمُنْكَرِ وَاْلبَغْي يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ، وَاذْكُرُوا اللهَ اْلعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ، وَاشْكُرُوْهُ عَلىَ نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ، وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرْ

UPDATE INFORMASI TERBARU