• “Sesungguhnya yang memakmurkan masjid Allah hanyalah orang-orang yang beriman kepada Allah dan hari akhir, serta (tetap) menegakkan shalat, menunaikan zakat dan tidak takut kecuali hanya kepada Allah. Maka mudah-mudahan mereka termasuk orang-orang yang mendapat petunjuk.” At-Taubah: 18
Friday, 14 June 2024

Pengelolaan Tambang Sesuai Syariah Islam

Pengelolaan Tambang Sesuai Syariah Islam
Bagikan

PENGELOLAAN TAMBANG SESUAI SYARIAH ISLAM

KHUTBAH PERTAMA

إنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ، نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِينُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوذُ بِاللَّهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَسَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللَّهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ.

أَشْهَدُ أَنْ لاَ اِلَهَ اِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لَاشَرِيْكَ لَهُ، شَهَادَةَ مَنْ هُوَ خَيْرٌ مَّقَامًا وَأَحْسَنُ نَدِيًّا،

وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا محَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الْمُتَّصِفُ بِالْمَكَارِمِ كِبَارًا وَصَبِيًّا.

اَللَّهُمَّ فَصَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَانَ صَادِقَ الْوَعْدِ وَكَانَ رَسُوْلاً نَبِيًّا،

 

وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ الَّذِيْنَ يُحْسِنُوْنَ إِسْلاَمَهُمْ وَلَمْ يَفْعَلُوْا شَيْئًا فَرِيًّا.

أَمَّا بَعْدُ؛ فَيَا أَيُّهَا الْحَاضِرُوْنَ رَحِمَكُمُ اللهُ، اُوْصِيْنِيْ نَفْسِيْ وَإِيَّاكُمْ بِتَقْوَى اللهِ، فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ.

قَالَ اللهُ تَعَالَى :

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا ادْخُلُوْا فِى السِّلْمِ كَاۤفَّةً ۖوَّلَا تَتَّبِعُوْا خُطُوٰتِ الشَّيْطٰنِۗ اِنَّهٗ لَكُمْ عَدُوٌّ مُّبِيْنٌ

Wahai orang-orang yang beriman, masuklah kalian ke dalam Islam secara menyeluruh, dan janganlah kalian mengikuti langkah-langkah setan. Sungguh setan itu musuh yang nyata bagi kalian (TQS al-Baqarah [2]: 208).

 

 

Alhamdulillahi Rabbil ‘Alamin, Segala puji bagi Allah subhanahu wa ta’ala, yang telah memberikan kita nikmat iman dan Islam, serta kesempatan untuk berkumpul di tempat yang mulia ini. Shalawat serta salam semoga selalu tercurah kepada junjungan kita, Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, beserta keluarga, sahabat, dan seluruh umatnya hingga akhir zaman.

 

Hadirin jamaah jumah rahimakumullah,

Korupsi dalam sektor pertambangan di Indonesia telah menjadi perhatian besar dalam sepuluh tahun terakhir, dengan kasus megakorupsi PT Timah senilai Rp 271 triliun sebagai contoh nyata. Perusahaan-perusahaan besar seperti PT Pertamina, PT Antam, dan PT PLN juga sering terlibat dalam kasus serupa. Korupsi ini melibatkan korporasi swasta serta pejabat tinggi kementerian, pimpinan BUMN tambang, politisi, dan kepala daerah. Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) menemukan bahwa dari sekitar 11.000 izin tambang yang ada, 3.772 izin bermasalah dan dicurigai terlibat dalam praktik korupsi, menyebabkan kerugian negara hingga ratusan triliun rupiah. Mantan Menko Polhukam Mahfud MD mengutip Abraham Samad yang menyatakan bahwa jika korupsi di sektor ini diatasi, setiap warga Indonesia bisa mendapatkan Rp 20 juta per bulan.

 

Hadirin jamaah jumah rahimakumullah,

Mengapa itu semua bisa terjadi? Akar persoalan korupsi di sektor pertambangan terletak pada sistem yang korup dan kebijakan swastanisasi serta liberalisasi atas nama investasi. Pemerintah Indonesia memberikan berbagai insentif untuk mendorong investasi swasta dan asing, termasuk konsesi lahan dalam sektor kehutanan, perkebunan, dan pertambangan. UU No. 5 Tahun 1960 dan UU No. 11/1967 tentang Ketentuan Pokok Pertambangan memberikan konsesi tambang kepada pihak swasta untuk jangka waktu panjang. Kebijakan ini berlanjut dengan revisi UU Minerba tahun 2020 yang memperpanjang usaha beberapa perusahaan batubara raksasa swasta, serta UU No. 22/2001 di sektor migas yang memberikan konsesi pengelolaan migas hingga 30 tahun, yang dapat diperpanjang hingga 20 tahun. Kebijakan ini menunjukkan permasalahan mendalam akibat sistem dan kebijakan yang tidak transparan serta terlalu mengutamakan investasi tanpa pengawasan memadai.

 

Investasi swasta dan asing melalui berbagai insentif, termasuk konsesi lahan, telah menciptakan dampak negatif.

Pertama, menciptakan ketimpangan ekonomi yang luas, dengan 92% dari 36,8 juta hektar lahan Hak Guna Usaha (HGU) diberikan kepada korporasi, sementara rakyat hanya mendapatkan 8%. Kedua, menyebabkan penguasaan sektor-sektor ekonomi, terutama pertambangan, hanya pada segelintir korporasi, mengesampingkan peran rakyat dan meminimalkan peran BUMN serta BUMD. Ketiga, keuntungan dari pengelolaan sumber daya alam lebih banyak mengalir kepada swasta/asing daripada negara. Keempat, mendorong peningkatan kerusakan lingkungan karena perusahaan swasta/asing sering mengabaikan pencemaran air, udara, dan tanah demi keuntungan maksimal. Contohnya, perusahaan tambang batubara dan timah membiarkan lubang-lubang tambang terbengkalai tanpa reklamasi, dan eksploitasi tambang nikel menyebabkan kerusakan lingkungan yang memicu banjir, air sungai dan laut menjadi keruh, serta merugikan masyarakat hingga ratusan triliun rupiah.

 

Hadirin jamaah jumah rahimakumullah,

Ketahuilah, dalam pandangan Islam, tambang yang jumlahnya berlimpah atau menguasai hajat hidup orang banyak tergolong harta milik umum (milkiyyah ‘ammah). Dasarnya adalah Hadis Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang dituturkan oleh Abyadh bin Hammal ra. Ketika Abyadh meminta konsesi tambang garam kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, Beliau awalnya memberikannya. Namun, setelah diberitahu bahwa tambang tersebut sangat berlimpah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menarik kembali konsesi itu (HR Abu Dawud dan at-Tirmidzi). Hadis ini berlaku umum untuk semua tambang yang jumlahnya berlimpah atau menguasai hajat hidup orang banyak, sesuai dengan kaidah ushul:

العِبْرَةُ بِعُمُوْمِ اللَفْظِ، لاَ بِخُصُوْصِ السَّبَبِ

(Patokan hukum itu bergantung pada keumuman redaksi nas-nya, bukan pada sebab-latar belakangnya). (Fakhruddin ar-Razi, Al-Mahshuul fii ‘Ilm Ushuul Fiqh, 3/125).

 

Berdasarkan hadis ini, tambang yang berlimpah atau vital haram dimiliki pribadi, swasta, atau asing, dan tidak boleh diklaim sebagai milik negara. Negara hanya bertugas mengelola tambang tersebut untuk kemakmuran rakyat.

 

Dengan pengelolaan berdasarkan syariah Islam, potensi pendapatan negara dari harta milik umum, khususnya sektor pertambangan, sangat besar. Perhitungannya: Minyak (Rp 183 triliun), Gas Alam (Rp 136 triliun), Batubara (Rp 2.002 triliun), Emas (Rp 29 triliun), Tembaga (Rp 159 triliun), dan Nikel (Rp 189 triliun), total mencapai Rp 5.510 triliun, dua kali lipat dari APBN yang 77% pemasukannya dari pajak. Ini belum termasuk hasil hutan dan laut.

 

Pendapatan sebesar ini hanya bisa terwujud jika negara diatur oleh syariah Islam, bukan oleh aturan kapitalisme yang memberi keleluasaan kepada swasta/asing menguasai harta milik umum. Selain itu, hukuman tegas sesuai syariah Islam terhadap koruptor wajib ditegakkan. Penerapan syariah Islam dalam pengelolaan sumber daya alam milik umum harus segera diwujudkan, sebagaimana perintah Allah subhanahu wa ta’ala dalam QS al-Baqarah [2]: 208:

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا ادْخُلُوْا فِى السِّلْمِ كَاۤفَّةً ۖوَّلَا تَتَّبِعُوْا خُطُوٰتِ الشَّيْطٰنِۗ اِنَّهٗ لَكُمْ عَدُوٌّ مُّبِيْنٌ

Wahai orang-orang yang beriman, masuklah kalian ke dalam Islam secara menyeluruh, dan janganlah kalian mengikuti langkah-langkah setan. Sungguh setan itu musuh yang nyata bagi kalian.

[]

 

 

بَارَكَ الله لِي وَلَكُمْ فِى اْلقُرْآنِ اْلعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِي وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الْآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيمِ، وَتَقَبَّلَ اللهُ مِنَّا وَمِنْكُمْ تِلاَوَتَهُ، إِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ العَلِيْمُ، وَأَقُوْلُ قَوْلِي هَذَا فَأسْتَغْفِرُ اللهَ العَظِيْمَ إِنَّهُ هُوَ الغَفُوْرُ الرَّحِيْم

 

KHUTBAH II

اَلْحَمْدُ للهِ عَلىَ إِحْسَانِهِ، وَالشُّكْرُ لَهُ عَلىَ تَوْفِيْقِهِ وَاِمْتِنَانِهِ. أَشْهَدُ أَنْ لاَ اِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَاللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الدَّاعِى إلىَ رِضْوَانِهِ. اللهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ. وَعَلَى اَلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَسَلِّمْ تَسْلِيْمًا كَثِيْرًا

أَمَّا بَعْدُ؛ فَياَ اَيُّهَا النَّاسُ اِتَّقُوااللهَ فِيْمَا أَمَرَ وَانْتَهُوْا عَمَّا نَهَى وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ بَدَأَ فِيْهِ بِنَفْسِهِ وَثَـنَّى بِمَلآ ئِكَتِهِ الْمُسَبِّحَةِ بِقُدْسِهِ، وَقَالَ تَعاَلَى:

إِنَّ اللهَ وَمَلآئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلىَ النَّبِى يآ اَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا. اللهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلِّمْ وَعَلَى آلِ سَيِّدِناَ مُحَمَّدٍ، وَعَلَى اَنْبِيآئِكَ وَرُسُلِكَ وَمَلآئِكَةِ اْلمُقَرَّبِيْنَ، وَارْضَ اللّهُمَّ عَنِ اْلخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ، أَبِى بَكْرٍ وَعُمَر وَعُثْمَان وَعَلي، وَعَنْ بَقِيَّةِ الصَّحَابَةِ وَالتَّابِعِيْنَ، وَتَابِعِي التَّابِعِيْنَ لَهُمْ بِاِحْسَانٍ اِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ، وَارْضَ عَنَّا مَعَهُمْ بِرَحْمَتِكَ يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ

 

اَللهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَاْلمُؤْمِنَاتِ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَاْلمُسْلِمَاتِ اَلاَحْيآء مِنْهُمْ وَاْلاَمْوَاتِ، اللهُمَّ أَعِزَّ اْلإِسْلاَمَ وَاْلمُسْلِمِيْنَ، وَأَذِلَّ الشِّرْكَ وَاْلمُشْرِكِيْنَ، وَانْصُرْ عِبَادَكَ اْلمُوَحِّدِيْنَ، وَانْصُرْ مَنْ نَصَرَ الدِّيْنَ، وَاخْذُلْ مَنْ خَذَلَ اْلمُسْلِمِيْنَ، وَ دَمِّرْ أَعْدَاءَ الدِّيْنِ، وَاعْلِ كَلِمَاتِكَ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ. اللهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا اْلبَلاَءَ وَاْلوَبَاءَ وَالزَّلاَزِلَ وَاْلمِحَنَ وَسُوْءَ اْلفِتْنَةِ وَاْلمِحَنَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ، عَنْ بَلَدِنَا اِنْدُونِيْسِيَّا خآصَّةً وَسَائِرِ اْلبُلْدَانِ اْلمُسْلِمِيْنَ عآمَّةً يَا رَبَّ اْلعَالَمِيْنَ. رَبَّنَا آتِناَ فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِى اْلآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ. رَبَّنَا ظَلَمْنَا اَنْفُسَنَا وَاإنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُوْنَنَّ مِنَ اْلخَاسِرِيْنَ

 

عِبَادَاللهِ! إِنَّ اللهَ يَأْمُرُبِاْلعَدْلِ وَاْلإِحْسَانِ وَإِيْتآءِ ذِي اْلقُرْبىَ وَيَنْهَى عَنِ اْلفَحْشآءِ وَاْلمُنْكَرِ وَاْلبَغْي يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ، وَاذْكُرُوا اللهَ اْلعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ، وَاشْكُرُوْهُ عَلىَ نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ، وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرْ

SebelumnyaPendidikan Kewajiban dan KebutuhanSesudahnyaRakyat Butuh Rumah, Bukan Deritanya yang Ditambah
No Comments

Tulis komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *