NEGARA WAJIB MELAYANI
RAKYATNYA
KHUTBAH PERTAMA
اللهُمَّ
فَصَلِّ
وَسَلِّمْ
عَلَى سَيِّدِنَا
مُحَمَّدٍ
كَانَ
صَادِقَ
الْوَعْدِ وَكَانَ
رَسُوْلًا
نَبِيًّا، وَعَلَى
آلِهِ
وَصَحْبِهِ
الَّذِيْنَ
يُحْسِنُوْنَ
إِسْلاَمَهُمْ
وَلَمْ
يَفْعَلُوْا
شَيْئًا
فَرِيًّا. أَمَّا
بَعْدُ؛
فَيَا
أَيُّهَا
الْحَاضِرُوْنَ
رَحِمَكُمُ
اللهُ،
اُوْصِيْنِيْ
نَفْسِيْ
وَإِيَّاكُمْ
بِتَقْوَى
اللهِ،
فَقَدْ فَازَ
الْمُتَّقُوْنَ.
قَالَ اللهُ
تَعَالَى:
وَمَا
كَانَ
لِنَبِيٍّ
اَنْ
يَّغُلَّۗ
وَمَنْ
يَّغْلُلْ
يَأْتِ بِمَا
غَلَّ يَوْمَ
الْقِيٰمَةِۚ
ثُمَّ
تُوَفّٰى
كُلُّ نَفْسٍ مَّا
كَسَبَتْ
وَهُمْ لَا
يُظْلَمُوْنَ ١٦١
(أٰلِ
عِمْرَانَ)
Alhamdulillâhi
Rabbil ‘Âlamin, Segala puji bagi Allah Subhânahu Wa Ta’âlâ yang
telah menganugerahkan kita nikmat iman dan Islam, serta mempertemukan kita di
tempat yang diberkahi ini. Shalawat dan salam semoga senantiasa tercurah kepada
junjungan kita, Nabi Muhammad Shallallâhu ‘alaihi wasallam, beserta
keluarga, sahabat, dan seluruh umatnya hingga akhir zaman.
Bertakwalah kepada
Allah Subhânahu Wa Ta’âlâ dengan sebenar-benarnya takwa sebagaimana
firman-Nya:
يٰٓاَيُّهَا
الَّذِيْنَ
اٰمَنُوا
اتَّقُوا
اللّٰهَ
حَقَّ
تُقٰىتِهٖ
وَلَا
تَمُوْتُنَّ
اِلَّا
وَاَنْتُمْ
مُّسْلِمُوْنَ
“Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada
Allah dengan sebenar-benar takwa kepada-Nya dan janganlah kamu mati kecuali
dalam keadaan muslim.”
(QS. Âli
Imrân
[3]: 102).
Sungguh takwa adalah
benteng terakhir kita di tengah kehidupan akhir zaman saat ini. Dan sungguh,
hanya dengan takwa kita akan selamat di dunia dan akhirat.
Ma’âsyiral Muslimîn rahimakumullâh,
Salah satu tugas
negara dalam pandangan Islam adalah melayani rakyat. Kekuasaan bukanlah sarana
untuk bermegah-megahan, melainkan amanah besar yang akan dimintai
pertanggungjawaban di hadapan Allah Subhânahu wa Ta‘âlâ. Seorang
pemimpin ditugaskan bukan untuk memperkaya diri atau kelompoknya, melainkan untuk
menunaikan tanggung jawab mengurus urusan rakyat. Rasulullah Shallallahu
‘alaihi wasallam bersabda:
فَالأَمِيْرُ
الَّذِيْ
عَلَى
النَّاسِ
رَاعٍ وَهُوَ
مَسْئُوْلٌ
عَنْهُمْ
“Amir (penguasa)
yang mengurus banyak orang adalah pemimpin dan akan dimintai pertanggungjawaban
atas mereka.” (HR.
al-Bukhari dan Muslim).
Ma’âsyiral
Muslimîn rahimakumullâh,
Sayangnya, banyak
pemimpin di muka bumi ini mengabaikan hal itu. Hari-hari ini kita menyaksikan,
Proyek Kereta Cepat Jakarta–Bandung (KCJB) Whoosh kembali jadi sorotan. Dugaan
mark up mulai terungkap. Mantan Menkopolhukam Mahfud MD menyebut biaya proyek ini
melonjak hingga tiga kali lipat. Dari hitungan normal di Cina sebesar USD 17–18
juta per km menjadi USD 52 juta per km di Indonesia. Bahkan seorang pengamat
menyebut ada potensi korupsi dalam proyek ini bisa mencapai 40–50 persen.
Sejak awal proyek
ini penuh kejanggalan. Biayanya tak masuk akal. Sementara pendapatannya, tak
seberapa. Sampai-sampai ada yang menyebut pengembalian biayanya bisa mencapai
ratusan tahun. Lalu siapa sebenarnya yang harus menanggung? Rakyat buntung.
Asing, dalam hal ini China, untung.
Ma’âsyiral
Muslimîn rahimakumullâh,
Ketahuilah, dalam
sistem pemerintahan Islam (Khilafah), pelayanan terhadap rakyat merupakan
kewajiban pokok negara, meliputi pemenuhan kebutuhan dasar seperti sandang,
pangan, papan, pendidikan, kesehatan, keamanan, hingga sarana transportasi
publik. Negara wajib menciptakan lapangan kerja agar rakyat dapat hidup layak,
dan menjamin kebutuhan bagi mereka yang tidak mampu.
Ada beberapa
karakter layanan publik yang harus disediakan negara sesuai dengan ketentuan
syariah Islam.
Pertama, pelayanan negara bersifat egaliter, berlaku bagi
seluruh warga tanpa membedakan agama, ras, atau status sosial.
Kedua, negara tidak boleh menjadikan pelayanan publik
sebagai sumber keuntungan. Semua layanan seperti pendidikan, kesehatan, dan
infrastruktur harus diberikan cuma-cuma. Negara haram mengomersialkan fasilitas
publik seperti jalan tol, rumah sakit, atau sekolah. Kalaupun ada pungutan,
sifatnya hanya untuk menutupi biaya operasional, misalnya pada transportasi
umum atau eksplorasi sumber daya, bukan untuk mencari laba.
Ketiga, pembangunan infrastruktur dalam Islam harus
berorientasi pada kebutuhan riil rakyat, bukan sekadar proyek pencitraan.
Pembangunan seperti IKN, Bandara Kertajati atau KCJB yang terbukti tidak
memberi manfaat besar justru menjadi beban keuangan negara.
Keempat, sumber pembiayaan negara harus berasal dari
pengelolaan kepemilikan umum seperti tambang, hutan, dan sumber daya alam
lainnya yang hasilnya dikembalikan untuk kesejahteraan umat.
Sebenarnya,
kepemilikan umum merupakan sumber kekayaan umat yang paling besar dan sangat
mencukupi untuk memenuhi kebutuhan rakyat. Jika dikelola dengan benar dan bebas
dari korupsi, hasilnya mampu menyejahterakan seluruh masyarakat tanpa perlu
bergantung pada utang luar negeri. Mantan Menkopolhukam Mahfud MD bahkan pernah
menyatakan bahwa jika korupsi di sektor pertambangan dapat diberantas, setiap
rakyat Indonesia bisa memperoleh jatah dari negara sebesar Rp 20 juta per
bulan. Karena itu, Islam dengan tegas melarang pembiayaan yang bersumber dari
pinjaman berbasis riba seperti proyek KCJB, sebab praktik semacam itu hanya
membuka jalan bagi penjajahan ekonomi oleh negara pemberi pinjaman sekaligus
menjerumuskan rakyat ke dalam kerugian yang berkelanjutan.
Ma’âsyiral
Muslimîn rahimakumullâh,
Korupsi merupakan
kejahatan besar yang menghancurkan keadilan dan kepercayaan rakyat terhadap
pemimpinnya. Islam dengan tegas mewajibkan para penyelenggara negara untuk
bersikap jujur, amanah, dan menjauhi segala bentuk kecurangan. Pejabat haram
mengambil keuntungan pribadi melalui suap, gratifikasi, atau mark up proyek.
Allah Subhânahu wa Ta‘âlâ telah memperingatkan:
وَمَنْ
يَّغْلُلْ
يَأْتِ بِمَا
غَلَّ يَوْمَ
الْقِيٰمَةِۚ
“Siapa saja yang
berbuat curang dalam suatu urusan, maka pada Hari Kiamat ia akan datang membawa
kecurangannya itu”
(QS Âli Imrân [3]: 161).
Rasulullah
Shallallahu ‘alaihi wasallam. juga bersabda:
مَا مِنْ
عَبْدٍ
يَسْتَرْعِيْهِ
اللهُ رَعِيَّةً
يَمُوْتُ
يَوْمَ
يَمُوْتُ
وَهُوَ غَاشٍّ
لِرَعِيَّتِهِ
إِلاَّ
حَرَّمَ اللهُ
عَلَيْهِ
الْجَنَّةَ
“Tidaklah mati
seorang hamba yang Allah minta untuk mengurus rakyat, sedangkan dia menipu
rakyatnya, kecuali Allah mengharamkan surga baginya” (HR. al-Bukhari dan Muslim).
Faktanya, di
Indonesia praktik korupsi telah merajalela, terutama dalam proyek-proyek
infrastruktur yang sering dijadikan ladang bancakan. Mantan Menko Maritim Rizal
Ramli pernah mengungkap bahwa mark up di tubuh BUMN bisa mencapai 30%, sebagian
besar untuk kepentingan pribadi dan politik dalam sistem demokrasi yang
berbiaya mahal.
Inilah bukti
nyata rusaknya sistem politik sekuler yang hanya melahirkan pejabat korup dan
menyengsarakan rakyat. Sudah saatnya umat menyadari bahwa solusi sejati tidak
mungkin diperoleh dari tambal sulam sistem rusak ini, melainkan kembali pada
penerapan syariah Islam secara kaffah dalam naungan Khilafah yang menjamin
keadilan dan kemuliaan bagi seluruh rakyat. WalLâhu a’lam bi ash-shawâb. []
بَارَكَ
اللهُ لِيْ
وَلَكُمْ فِى
اْلقُرْآنِ
اْلعَظِيْمِ،
وَنَفَعَنِيْ
وَإِيَّاكُمْ
بِمَا فِيْهِ
مِنَ
الْآيَاتِ
وَالذِّكْرِ
الْحَكِيمِ
وَتَقَبَّلَ
اللهُ مِنَّا
وَمِنْكُمْ
تِلاَوَتَهُ
وَإِنَّهُ
هُوَ
السَّمِيْعُ
العَلِيْمُ،
وَأَقُوْلُ
قَوْلِيْ
هَذَا
فَأسْتَغْفِرُ
اللهَ
العَظِيْمَ
إِنَّهُ هُوَ
الغَفُوْرُ
الرَّحِيْمُ
KHUTBAH
KEDUA
اَلْحَمْدُ
لِلّٰهِ عَلىَ
إِحْسَانِهِ،
وَالشُّكْرُ
لَهُ عَلَى
تَوْفِيْقِهِ
وَاِمْتِنَانِهِ،
وَأَشْهَدُ
أَنْ لاَ
اِلٰهَ
إِلاَّ اللهُ
وَحْدَهُ لاَ
شَرِيْكَ
لَهُ،
وَأَشْهَدُ
أنَّ سَيِّدَنَا
مُحَمَّدًا
عَبْدُهُ
وَرَسُوْلُهُ
الدَّاعِى
إِلَى
رِضْوَانِهِ،
اللّٰهُمَّ صَلِّ
عَلَى
سَيِّدِنَا
مُحَمَّدٍ
وَعَلَى
اٰلِهِ
وَأَصْحَابِهِ
وَسَلِّمْ
تَسْلِيْمًا
كَثِيْرًا. أَمَّا
بَعْدُ؛
فَياَ
اَيُّهَا
النَّاسُ اِتَّقُواللّٰهَ
فِيْمَا
أَمَرَ
وَانْتَهُوْا
عَمَّا نَهَى
وَاعْلَمُوْا
أَنَّ اللهَ
أَمَرَكُمْ
بِأَمْرٍ
بَدَأَ
فِيْهِ بِنَفْسِهِ
وَثَـنَّى
بِمَلآ
ئِكَتِهِ
الْمُسَبِّحَةِ
بِقُدْسِهِ،
وَقَالَ
تَعاَلَى:
إِنَّ اللهَ
وَمَلآئِكَتَهُ
يُصَلُّوْنَ
عَلىَ النَّبِى
يآ اَيُّهَا
الَّذِيْنَ
آمَنُوْا
صَلُّوْا
عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا
تَسْلِيْمًا.
اللهُمَّ
صَلِّ عَلَى
سَيِّدِنَا
مُحَمَّدٍ
وَعَلَى آلِ سَيِّدِناَ
مُحَمَّدٍ،
وَعَلَى
اَنْبِيآئِكَ
وَرُسُلِكَ
وَمَلآئِكَةِ
اْلمُقَرَّبِيْنَ،
وَارْضَ اللّٰهُمَّ
عَنِ
اْلخُلَفَاءِ
الرَّاشِدِيْنَ،
أَبِى بَكْرٍ
وَعُمَرَ
وَعُثْمَانَ
وَعَلِي، وَعَنْ
بَقِيَّةِ
الصَّحَابَةِ
وَالتَّابِعِيْنَ،
وَتَابِعِي
التَّابِعِيْنَ
لَهُمْ
بِاِحْسَانٍ
اِلَى يَوْمِ
الدِّيْنِ، وَارْضَ
عَنَّا
مَعَهُمْ
بِرَحْمَتِكَ
يَا أَرْحَمَ
الرَّاحِمِيْنَ.
اَللّٰهُمَّ
اغْفِرْ
لِلْمُؤْمِنِيْنَ
وَاْلمُؤْمِنَاتِ
وَاْلمُسْلِمِيْنَ
وَاْلمُسْلِمَاتِ
اَلاَحْيآءَ
مِنْهُمْ
وَاْلاَمْوَاتِ،
اللّٰهُمَّ أَعِزَّ
اْلإِسْلاَمَ
وَاْلمُسْلِمِيْنَ،
وَأَذِلَّ
الشِّرْكَ
وَاْلمُشْرِكِيْنَ،
وَانْصُرْ
عِبَادَكَ
اْلمُوَحِّدِيْنَ،
وَانْصُرْ
مَنْ نَصَرَ
الدِّيْنَ،
وَاخْذُلْ
مَنْ خَذَلَ
اْلمُسْلِمِيْنَ،
وَدَمِّرْ
أَعْدَاءَ
الدِّيْنِ،
وَاعْلِ كَلِمَاتِكَ
إِلَى يَوْمِ
الدِّيْنِ.
اَللّٰهُمَّ
يَا
مُنْـزِلَ
الْكِتَابِ
وَمُهْزِمَ
اْلأَحْزَابِ
اِهْزِمِ
اْليَهُوْدَ
وَاَعْوَانَهُمْ
وَصَلِيْبِيِّيْنَ
وَاَنْصَارَهُمْ
وَرَأْسُمَالِيِّيْنَ
وَاِخْوَانَهُمْ
وَاِشْتِرَاكِيِّيْنَ
وَشُيُوْعِيِّيْنَ
وَاَشْيَاعَهُمْ.
اَللّٰهُمَّ
نَجِّ
إِخْوَانَنَا
الْمُؤْمِنِيْنَ
الْمُسْتَضْعَفِيْنَ
فِي
فَلَسْطِيْنَ
وَفِي كُلِّ
مَكَانٍ. اَللّٰهُمَّ
انْصُرْ
إخْوَانَنَا
الْمُجَاهِدِيْنَ
فِي
سَبِيْلِكَ
عَلَى
أَعْدَائِهِمْ.
اَللّٰهُمَّ
إِنَّا
نَسْأَلُكَ
دَوْلَةَ
الْخِلاَفَةِ
عَلَى
مِنْهَاجِ
النُّبُوَّةِ
تُعِزُّ بِهَا
اْلإِسْلاَمَ
وَاَهْلَهُ
وَتُذِلُّ بِهَا
الْكُفْرَ
وَاَهْلَهُ،
وَ اجْعَلْنَا
مِنَ
الْعَامِلِيْنَ
الْمُخْلِصِيْنَ
بِإِقَامَتِهَا
بِإِذْنِكَ
يَا أَرْحَمَ
الرَّاحِمِيْنَ.
اللّٰهُمَّ
ادْفَعْ
عَنَّا
الْغَلَاءَ
وَاْلبَلاَءَ
وَاْلوَبَاءَ
وَالزَّلاَزِلَ
وَاْلمِحَنَ،
وَسُوْءَ
اْلفِتْنَةِ
وَاْلمِحَنَ
مَا ظَهَرَ
مِنْهَا
وَمَا
بَطَنَ، عَنْ
بَلَدِنَا
اِنْدُونِيْسِيَّا
خآصَّةً
وَسَائِرِ
بُلْدَانِ
اْلمُسْلِمِيْنَ
عآمَّةً يَا رَبَّ
اْلعَالَمِيْنَ،
رَبَّنَا
آتِناَ فِى
الدُّنْيَا
حَسَنَةً
وَفِى
اْلآخِرَةِ حَسَنَةً
وَقِنَا
عَذَابَ
النَّارِ،
رَبَّنَا
ظَلَمْنَا
اَنْفُسَنَا
وَإنْ لَمْ تَغْفِرْ
لَنَا
وَتَرْحَمْنَا
لَنَكُوْنَنَّ
مِنَ
اْلخَاسِرِيْنَ.
عِبَادَ
اللهِ ! إِنَّ
اللهَ
يَأْمُرُ
بِاْلعَدْلِ
وَاْلإِحْسَانِ
وَإِيْتآءِ
ذِي
اْلقُرْبىَ
وَيَنْهَى
عَنِ اْلفَحْشآءِ
وَاْلمُنْكَرِ
وَاْلبَغْي
يَعِظُكُمْ
لَعَلَّكُمْ
تَذَكَّرُوْنَ،
وَاذْكُرُوا
اللهَ
اْلعَظِيْمَ
يَذْكُرْكُمْ،
وَاسْأَلُوْهُ
مِنْ
فَضْلِهِ
يُعْطِكُمْ،
وَاشْكُرُوْهُ
عَلىَ
نِعَمِهِ
يَزِدْكُمْ،
وَلَذِكْرُ
اللهِ
أَكْبَرْ