NATAL BERSAMA MELANGGAR BATAS-BATAS
TOLERANSI BERAGAMA
KHUTBAH PERTAMA
اللهُمَّ
فَصَلِّ
وَسَلِّمْ
عَلَى سَيِّدِنَا
مُحَمَّدٍ
كَانَ
صَادِقَ
الْوَعْدِ وَكَانَ
رَسُوْلًا
نَبِيًّا، وَعَلَى
آلِهِ
وَصَحْبِهِ
الَّذِيْنَ
يُحْسِنُوْنَ
إِسْلاَمَهُمْ
وَلَمْ
يَفْعَلُوْا
شَيْئًا
فَرِيًّا. أَمَّا
بَعْدُ؛
فَيَا
أَيُّهَا
الْحَاضِرُوْنَ
رَحِمَكُمُ
اللهُ،
اُوْصِيْنِيْ
نَفْسِيْ
وَإِيَّاكُمْ
بِتَقْوَى
اللهِ،
فَقَدْ فَازَ
الْمُتَّقُوْنَ.
قَالَ اللهُ
تَعَالَى:
وَمَنْ
يَّبْتَغِ
غَيْرَ
الْاِسْلَامِ
دِيْنًا
فَلَنْ
يُّقْبَلَ
مِنْهُۚ
وَهُوَ فِى
الْاٰخِرَةِ
مِنَ
الْخٰسِرِيْنَ ٨٥
(آلِ
عِمْرَانَ)
Alhamdulillâhi
Rabbil ‘Âlamin, Segala puji bagi Allah Subhânahu Wa Ta’âlâ yang
telah menganugerahkan kita nikmat iman dan Islam, serta mempertemukan kita di
tempat yang diberkahi ini. Shalawat dan salam semoga senantiasa tercurah kepada
junjungan kita, Nabi Muhammad Shallallâhu ‘alaihi wasallam, beserta
keluarga, sahabat, dan seluruh umatnya hingga akhir zaman.
Sebagai penyempurna rukun khutbah, saya selaku khatib
tidak bosan-bosannya mengingatkan diri saya pribadi dan seluruh jamaah untuk
selalu mengokohkan iman serta meningkatkan ketakwaan kita kepada Allah Subhânahu Wa Ta’âlâ, sesuai dengan sabda Nabi Muhammad Shallallâhu ‘alaihi
wasallam:
اِتَّقِ
اللهَ
حَيْثُمَا
كُنْتَ،
وَأَتْبِعِ
السَّيِّئَةَ
الْحَسَنَةَ
تَمْحُهَا،
وَخَالِقِ
النَّاسَ
بِخُلُقٍ
حَسَنٍ
“Bertakwalah
kepada Allah di mana pun engkau berada. Iringilah perbuatan buruk dengan
perbuatan baik, niscaya kebaikan itu akan menghapus (kesalahan)nya. Dan
bergaullah dengan manusia dengan akhlak yang baik.” (HR. Tirmidzi).
Allah Subhânahu
Wa Ta’âlâ berfirman:
وَتَزَوَّدُوْا
فَاِنَّ
خَيْرَ
الزَّادِ التَّقْوٰىۖ
وَاتَّقُوْنِ
يٰٓاُولِى
الْاَلْبَابِ
“Dan
berbekallah kalian, dan sebaik-baik bekal adalah takwa. Bertakwalah kepada-Ku
wahai orang-orang yang berakal” (QS. Al-Baqarah [2]: 197).
Allah Subhânahu
Wa Ta’âlâ juga berfirman:
يٰٓاَيُّهَا
الَّذِيْنَ
اٰمَنُوا
اتَّقُوا
اللّٰهَ
حَقَّ
تُقٰىتِهٖ
وَلَا
تَمُوْتُنَّ
اِلَّا
وَاَنْتُمْ
مُّسْلِمُوْنَ
“Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada
Allah dengan sebenar-benar takwa kepada-Nya dan janganlah kamu mati kecuali
dalam keadaan muslim.”
(QS. Âli
Imrân
[3]: 102).
Sungguh takwa adalah
benteng terakhir kita di tengah kehidupan akhir zaman saat ini. Dan sungguh,
hanya dengan takwa kita akan selamat di dunia dan akhirat.
Ma’âsyiral Muslimîn rahimakumullâh,
Di tengah duka mendalam akibat bencana alam yang melanda
Sumatera dan sejumlah daerah lain, umat Islam dihadapkan pada bencana lain yang
tak kalah mengkhawatirkan, yakni bencana aqidah. Salah satunya adalah wacana
Perayaan Natal Bersama antara umat Islam dan umat Kristiani yang diklaim
sebagai bentuk toleransi beragama. Jika benar wacana ini—yang bahkan
disebut-sebut digagas dan diinisiasi oleh Kementerian Agama RI pada Desember
2025—maka hal tersebut jelas telah melampaui batas toleransi beragama dalam perspektif
Islam.
Lebih jauh, konsep toleransi beragama yang banyak
dipromosikan hari ini sejatinya bukan berasal dari Islam, melainkan lahir dari
sejarah traumatik Eropa Kristen yang dikenal sebagai Toleransi Liberal, akibat
konflik dan perang agama di Barat. Karena berangkat dari pengalaman dan
kerangka pemikiran yang berbeda, konsep tersebut tidak dapat begitu saja
diterapkan kepada umat Islam yang memiliki aqidah dan syariah sendiri sebagai
landasan keyakinan dan praktik beragama.
Ma’âsyiral Muslimîn rahimakumullâh,
Islam adalah agama yang adil dan penuh rahmat, yang
mengatur dengan jelas bagaimana seorang Muslim bersikap terhadap pemeluk agama
lain. Dalam pandangan Islam, toleransi berarti membiarkan pemeluk agama lain
menjalankan keyakinannya tanpa gangguan dan tanpa paksaan, sebagaimana firman
Allah Subhânahu Wa Ta’âlâ:
لَكُمْ
دِيْنُكُمْ
وَلِيَ
دِيْنِ
”Untuk kalian agama kalian dan untuk kami agama kami” (QS. al-Kâfirûn [109]:
6)
Serta firman-Nya:
لَآ
اِكْرَاهَ
فِى
الدِّيْنِ
”Tidak ada paksaan dalam agama” (QS. al-Baqarah [2]: 256).
Namun, toleransi dalam Islam tidak berarti
mencampuradukkan ajaran agama, membenarkan keyakinan yang salah, apalagi ikut
terlibat dalam ritual atau perayaan agama lain, karena hal tersebut termasuk
mencampuradukkan antara yang haq dan yang batil, yang dengan tegas dilarang
Allah Subhânahu Wa Ta’âlâ:
وَلَا
تَلْبِسُوا
الْحَقَّ
بِالْبَاطِلِ
”Janganlah kalian mencampuradukkan antara yang haq dan
yang batil” (QS. al-Baqarah
[2]: 42)
Konsep toleransi yang banyak dipromosikan saat ini,
dikenal sebagai Toleransi Liberal, lahir dari sejarah Eropa akibat konflik dan
perang agama antara Katolik dan Protestan pada abad ke-16 dan 17 M, seperti
Perang Tiga Puluh Tahun dan Pembantaian Santo Bartolomeus. Untuk meredam
konflik tersebut, berkembang gagasan sekularisme, relativisme kebenaran agama,
dan pluralisme yang menyamakan semua agama. Menurut Prof. Muhammad Ahmad Mufti,
tiga gagasan inilah fondasi Toleransi Liberal, yang mungkin wajar dalam konteks
Eropa, tetapi bertentangan secara mendasar dengan aqidah Islam yang memiliki
standar kebenaran dan aturan hidup yang jelas.
Ma’âsyiral Muslimîn rahimakumullâh,
Islam memiliki konsep toleransi sendiri yang jelas, tegas
dan berkeadilan yang berlandaskan aqidah tauhid.
Pertama, dari sisi aqidah,
Islam tidak mengenal pemisahan agama dari kehidupan. Seluruh aspek hidup diatur
oleh syariah, sebagaimana firman Allah Subhânahu Wa Ta’âlâ:
وَنَزَّلْنَا
عَلَيْكَ
الْكِتٰبَ
تِبْيَانًا
لِّكُلِّ
شَيْءٍ
”Kami turunkan al-Quran untuk menjelaskan segala sesuatu” (QS. an-Nahl [16]: 89).
Allah Subhânahu Wa Ta’âlâ juga berfirman:
يٰٓاَيُّهَا
الَّذِيْنَ
اٰمَنُوا
ادْخُلُوْا
فِى
السِّلْمِ
كَاۤفَّةًۖ
”Masuklah kalian ke dalam Islam secara menyeluruh” (QS. al-Baqarah
[2]: 208).
Kedua, dari sisi
kebenaran agama, Islam menegaskan bahwa hanya Islam yang benar di sisi Allah Subhânahu
Wa Ta’âlâ:
اِنَّ
الدِّيْنَ
عِنْدَ
اللّٰهِ
الْاِسْلَامُ
”Sesungguhnya agama (yang benar) di sisi Allah hanyalah Islam” (QS. Âli ‘Imrân
[3]: 19). Dan siapa pun yang mencari agama selain Islam tidak akan
diterima:
وَمَنْ
يَّبْتَغِ
غَيْرَ
الْاِسْلَامِ
دِيْنًا
فَلَنْ
يُّقْبَلَ
مِنْهُ
”Siapa saja yang mencari agama selain Islam tidak akan diterima” (QS. Âli ‘Imrân [3]: 85).
Allah Subhânahu Wa Ta’âlâ juga menegaskan bahwa
orang-orang kafir dari kalangan Ahlul Kitab dan kaum musyrik berada di Neraka
Jahanam dan kekal di dalamnya (QS.
al-Bayyinah [98]: 6). Penegasan ini diperkuat oleh sabda Rasulullah Shallallâhu
‘alaihi wasallam: “Demi Tuhan yang
jiwa Muhammad berada di tangan-Nya, tidaklah seseorang dari umat ini—baik
Yahudi maupun Nasrani—mendengar tentang aku lalu ia mati tanpa mengimani
risalah yang aku bawa, melainkan ia termasuk penghuni neraka” (HR Muslim). Inilah landasan aqidah yang
menjadi pijakan utama toleransi dalam Islam: bersikap adil dan damai tanpa
mengorbankan kebenaran iman.
Ma’âsyiral Muslimîn rahimakumullâh,
Islam jelas mengajarkan toleransi terhadap pemeluk agama
lain. Akan tetapi, Toleransi Islam dibatasi oleh aturan-aturan Islam. Ia
berbeda dengan Toleransi Liberal. Contohnya, antara lain:
Pertama, Islam mengharamkan
pernikahan beda agama, sebagaimana firman Allah Subhânahu Wa Ta’âlâ:
لَا هُنَّ
حِلٌّ
لَّهُمْ
وَلَا هُمْ
يَحِلُّوْنَ
لَهُنَّ
”Wanita Mukmin tidak halal bagi laki-laki kafir dan
sebaliknya” (QS.
al-Mumtahanah [60]: 10).
Kedua, salam antaragama.
Nabi Shallallâhu ‘alaihi wasallam tetap mengucapkan salam Islam kepada
orang-orang di majelis yang bercampur antara Muslim dan non-Muslim sebagaimana
hadits yang diriwayatkan dari Usamah bin Zaid radhiyallahu ’anhu.
Ketiga, Islam tidak
mentoleransi murtad. Allah Subhânahu Wa Ta’âlâ berfirman:
وَمَنْ
يَّرْتَدِدْ
مِنْكُمْ
عَنْ دِيْنِهٖ
فَيَمُتْ
وَهُوَ
كَافِرٌ
”Siapa di antara kalian yang murtad dari agamanya
(Islam), lalu dia mati dalam kekafiran” (QS. al-Baqarah [2]: 217), dan
Rasulullah Shallallâhu ‘alaihi wasallam bersabda:
مَنْ
بَدَّلَ
دِيْنَهُ
فَاقْتُلُوْهُ
”Siapa saja yang mengganti agamanya (murtad dari Islam)
maka bunuhlah” (HR. Bukhari).
Keempat, Islam mengharamkan
seorang Muslim ikut serta dalam hari raya agama lain berdasarkan firman Allah Subhânahu
Wa Ta’âlâ dalam Al Quran surah ke-25 al-Furqan ayat 72, yang ditafsirkan
Ibnu ‘Abbas sebagai hari raya kaum musyrik, serta larangan tasyabbuh bi
al-kuffâr (HR. Abu Dawud).
Kelima, Islam menolak
anggapan bahwa negara Islam (Khilafah) bertentangan dengan toleransi. Dalam
Islam, Khilafah adalah bagian dari ajaran dan wajib ditegakkan, sebagaimana
sabda Rasulullah Shallallâhu ‘alaihi wasallam yang artinya siapa saja yang mati, sedangkan tidak ada di
lehernya baiat (kepada Khalifah), maka matinya adalah mati jahiliyah (HR Muslim). Bahkan sejarah membuktikan,
justru dalam sistem Khilafahlah toleransi sejati antar pemeluk agama dapat
terwujud secara adil dan bermartabat.
Konsep toleransi yang banyak dipromosikan hari ini sejatinya adalah
Toleransi Liberal Barat, bukan toleransi Islam, karena berdiri di atas
sekularisme, relativisme, dan pluralisme. Berbeda secara mendasar dengan
Toleransi Islam—baik dari sisi aqidah, pandangan kebenaran, maupun aturan
sosial—mengikuti Toleransi Liberal merupakan bentuk penyimpangan yang telah
diperingatkan Nabi Shallallâhu ‘alaihi wasallam, karena itu, Perayaan
Natal Bersama antara Muslim dan Nasrani bukanlah toleransi islami, melainkan
praktik toleransi liberal yang bertentangan dengan aqidah dan syariah Islam. WalLâhu a’lam bi ash-shawâb.
Demikianlah yang
dapat saya sampaikan dalam khutbah Jum’at pada kesempatan kali ini. Ketahuilah
bahwa segala kesempurnaan hanya milik Allah Subhânahu wa Ta‘âlâ. Apa pun
yang benar dari apa yang saya sampaikan adalah semata-mata berkat petunjuk-Nya
melalui Rasul-Nya, maka marilah kita berpegang teguh kepadanya. Adapun segala
kekeliruan adalah berasal dari kekurangan pemahaman saya pribadi; marilah kita
tinggalkan dan semoga Anda semua berkenan melimpahkan keluasan maaf.
Sebagai penutup,
mari kita akhiri khutbah ini dengan berdoa bersama. Semoga kita semua
senantiasa dianugerahi kesehatan lahir dan batin, serta keberkahan dunia dan
akhirat. Semoga Allah memberi kita hidayah, inayah, dan kekuatan, sehingga kita
dapat menjadi bagian dari para dai yang selalu bersungguh-sungguh menegakkan
syariat Islam secara kaffah, meneladani Nabi Muhammad Shallallâhu ‘Alaihi Wasallam hingga akhir hayat dalam keadaan husnul khâtimah.
Âmîn yâ Rabbal-‘âlamîn.[]
بَارَكَ
اللهُ لِيْ
وَلَكُمْ فِى
اْلقُرْآنِ
اْلعَظِيْمِ،
وَنَفَعَنِيْ
وَإِيَّاكُمْ
بِمَا فِيْهِ
مِنَ
الْآيَاتِ
وَالذِّكْرِ
الْحَكِيمِ
وَتَقَبَّلَ
اللهُ مِنَّا
وَمِنْكُمْ
تِلاَوَتَهُ
وَإِنَّهُ
هُوَ
السَّمِيْعُ
العَلِيْمُ،
وَأَقُوْلُ
قَوْلِيْ
هَذَا
فَأسْتَغْفِرُ
اللهَ
العَظِيْمَ
إِنَّهُ هُوَ
الغَفُوْرُ
الرَّحِيْمُ
KHUTBAH
KEDUA
اَلْحَمْدُ
لِلّٰهِ عَلىَ
إِحْسَانِهِ،
وَالشُّكْرُ
لَهُ عَلَى
تَوْفِيْقِهِ
وَاِمْتِنَانِهِ،
وَأَشْهَدُ
أَنْ لاَ
اِلٰهَ
إِلاَّ اللهُ
وَحْدَهُ لاَ
شَرِيْكَ
لَهُ،
وَأَشْهَدُ
أنَّ سَيِّدَنَا
مُحَمَّدًا
عَبْدُهُ
وَرَسُوْلُهُ
الدَّاعِى
إِلَى
رِضْوَانِهِ،
اللّٰهُمَّ صَلِّ
عَلَى
سَيِّدِنَا
مُحَمَّدٍ
وَعَلَى
اٰلِهِ
وَأَصْحَابِهِ
وَسَلِّمْ
تَسْلِيْمًا
كَثِيْرًا. أَمَّا
بَعْدُ؛
فَياَ
اَيُّهَا
النَّاسُ اِتَّقُواللّٰهَ
فِيْمَا
أَمَرَ
وَانْتَهُوْا
عَمَّا نَهَى
وَاعْلَمُوْا
أَنَّ اللهَ
أَمَرَكُمْ
بِأَمْرٍ
بَدَأَ
فِيْهِ بِنَفْسِهِ
وَثَـنَّى
بِمَلآ
ئِكَتِهِ
الْمُسَبِّحَةِ
بِقُدْسِهِ،
وَقَالَ
تَعاَلَى:
إِنَّ اللهَ
وَمَلآئِكَتَهُ
يُصَلُّوْنَ
عَلىَ النَّبِى
يآ اَيُّهَا
الَّذِيْنَ
آمَنُوْا
صَلُّوْا
عَلَيْهِ
وَسَلِّمُوْا
تَسْلِيْمًا. اللهُمَّ
صَلِّ عَلَى
سَيِّدِنَا
مُحَمَّدٍ
وَعَلَى آلِ
سَيِّدِناَ
مُحَمَّدٍ،
وَعَلَى
اَنْبِيآئِكَ
وَرُسُلِكَ
وَمَلآئِكَةِ
اْلمُقَرَّبِيْنَ،
وَارْضَ اللّٰهُمَّ
عَنِ
اْلخُلَفَاءِ
الرَّاشِدِيْنَ،
أَبِى بَكْرٍ
وَعُمَرَ
وَعُثْمَانَ
وَعَلِي، وَعَنْ
بَقِيَّةِ
الصَّحَابَةِ
وَالتَّابِعِيْنَ،
وَتَابِعِي
التَّابِعِيْنَ
لَهُمْ
بِاِحْسَانٍ
اِلَى يَوْمِ
الدِّيْنِ،
وَارْضَ
عَنَّا
مَعَهُمْ
بِرَحْمَتِكَ
يَا أَرْحَمَ
الرَّاحِمِيْنَ.
اَللّٰهُمَّ
اغْفِرْ
لِلْمُؤْمِنِيْنَ
وَاْلمُؤْمِنَاتِ
وَاْلمُسْلِمِيْنَ
وَاْلمُسْلِمَاتِ
اَلاَحْيآءَ
مِنْهُمْ
وَاْلاَمْوَاتِ،
اللّٰهُمَّ أَعِزَّ
اْلإِسْلاَمَ
وَاْلمُسْلِمِيْنَ،
وَأَذِلَّ
الشِّرْكَ
وَاْلمُشْرِكِيْنَ،
وَانْصُرْ
عِبَادَكَ
اْلمُوَحِّدِيْنَ،
وَانْصُرْ
مَنْ نَصَرَ
الدِّيْنَ،
وَاخْذُلْ
مَنْ خَذَلَ
اْلمُسْلِمِيْنَ،
وَدَمِّرْ
أَعْدَاءَ
الدِّيْنِ،
وَاعْلِ كَلِمَاتِكَ
إِلَى يَوْمِ
الدِّيْنِ.
اَللّٰهُمَّ
يَا
مُنْـزِلَ
الْكِتَابِ
وَمُهْزِمَ
اْلأَحْزَابِ
اِهْزِمِ
اْليَهُوْدَ
وَاَعْوَانَهُمْ
وَصَلِيْبِيِّيْنَ
وَاَنْصَارَهُمْ
وَرَأْسُمَالِيِّيْنَ
وَاِخْوَانَهُمْ
وَاِشْتِرَاكِيِّيْنَ
وَشُيُوْعِيِّيْنَ
وَاَشْيَاعَهُمْ.
اَللّٰهُمَّ
نَجِّ
إِخْوَانَنَا
الْمُؤْمِنِيْنَ
الْمُسْتَضْعَفِيْنَ
فِي
فَلَسْطِيْنَ
وَفِي كُلِّ
مَكَانٍ. اَللّٰهُمَّ
انْصُرْ
إخْوَانَنَا
الْمُجَاهِدِيْنَ
فِي
سَبِيْلِكَ
عَلَى
أَعْدَائِهِمْ.
اَللّٰهُمَّ
إِنَّا
نَسْأَلُكَ
دَوْلَةَ
الْخِلاَفَةِ
عَلَى
مِنْهَاجِ
النُّبُوَّةِ
تُعِزُّ بِهَا
اْلإِسْلاَمَ
وَاَهْلَهُ
وَتُذِلُّ بِهَا
الْكُفْرَ
وَاَهْلَهُ،
وَ اجْعَلْنَا
مِنَ
الْعَامِلِيْنَ
الْمُخْلِصِيْنَ
بِإِقَامَتِهَا
بِإِذْنِكَ
يَا أَرْحَمَ
الرَّاحِمِيْنَ.
اللّٰهُمَّ
ادْفَعْ
عَنَّا
الْغَلَاءَ
وَاْلبَلاَءَ
وَاْلوَبَاءَ
وَالزَّلاَزِلَ
وَاْلمِحَنَ،
وَسُوْءَ
اْلفِتْنَةِ
وَاْلمِحَنَ
مَا ظَهَرَ
مِنْهَا
وَمَا
بَطَنَ، عَنْ
بَلَدِنَا
اِنْدُونِيْسِيَّا
خآصَّةً
وَسَائِرِ
بُلْدَانِ
اْلمُسْلِمِيْنَ
عآمَّةً يَا رَبَّ
اْلعَالَمِيْنَ،
رَبَّنَا
آتِناَ فِى
الدُّنْيَا
حَسَنَةً
وَفِى
اْلآخِرَةِ حَسَنَةً
وَقِنَا
عَذَابَ
النَّارِ،
رَبَّنَا
ظَلَمْنَا
اَنْفُسَنَا
وَإنْ لَمْ تَغْفِرْ
لَنَا
وَتَرْحَمْنَا
لَنَكُوْنَنَّ
مِنَ
اْلخَاسِرِيْنَ.
عِبَادَ
اللهِ ! إِنَّ
اللهَ
يَأْمُرُ
بِاْلعَدْلِ
وَاْلإِحْسَانِ
وَإِيْتآءِ
ذِي
اْلقُرْبىَ
وَيَنْهَى
عَنِ اْلفَحْشآءِ
وَاْلمُنْكَرِ
وَاْلبَغْي
يَعِظُكُمْ
لَعَلَّكُمْ
تَذَكَّرُوْنَ،
وَاذْكُرُوا
اللهَ
اْلعَظِيْمَ
يَذْكُرْكُمْ،
وَاسْأَلُوْهُ
مِنْ
فَضْلِهِ
يُعْطِكُمْ،
وَاشْكُرُوْهُ
عَلىَ
نِعَمِهِ
يَزِدْكُمْ،
وَلَذِكْرُ
اللهِ
أَكْبَرْ