MENYOAL KERJASAMA
DENGAN AMERIKA
DI BIDANG PENDIDIKAN
ISLAM
KHUTBAH PERTAMA
اللهُمَّ
فَصَلِّ
وَسَلِّمْ
عَلَى سَيِّدِنَا
مُحَمَّدٍ
كَانَ
صَادِقَ
الْوَعْدِ وَكَانَ
رَسُوْلًا
نَبِيًّا، وَعَلَى
آلِهِ
وَصَحْبِهِ
الَّذِيْنَ
يُحْسِنُوْنَ
إِسْلاَمَهُمْ
وَلَمْ
يَفْعَلُوْا
شَيْئًا
فَرِيًّا. أَمَّا
بَعْدُ؛
فَيَا
أَيُّهَا
الْحَاضِرُوْنَ
رَحِمَكُمُ
اللهُ،
اُوْصِيْنِيْ
نَفْسِيْ
وَإِيَّاكُمْ
بِتَقْوَى
اللهِ،
فَقَدْ فَازَ
الْمُتَّقُوْنَ.
قَالَ اللهُ
تَعَالَى:
يٰٓاَيُّهَا
الَّذِيْنَ
اٰمَنُوْا
لَا تَتَّخِذُوا
الْكٰفِرِيْنَ
اَوْلِيَاۤءَ
مِنْ دُوْنِ
الْمُؤْمِنِيْنَۚ
اَتُرِيْدُوْنَ
اَنْ
تَجْعَلُوْا
لِلّٰهِ
عَلَيْكُمْ
سُلْطٰنًا
مُّبِيْنًا ١٤٤
(اَلنِّسَاءُ)
Alhamdulillâhi
Rabbil ‘Âlamin, Segala puji bagi Allah Subhânahu Wa Ta’âlâ yang
telah menganugerahkan kita nikmat iman dan Islam, serta mempertemukan kita di
tempat yang diberkahi ini. Shalawat dan salam semoga senantiasa tercurah kepada
junjungan kita, Nabi Muhammad Shallallâhu ‘alaihi wasallam, beserta
keluarga, sahabat, dan seluruh umatnya hingga akhir zaman.
Bertakwalah kepada
Allah Subhânahu Wa Ta’âlâ dengan sebenar-benarnya takwa sebagaimana
firman-Nya:
يٰٓاَيُّهَا
الَّذِيْنَ
اٰمَنُوا
اتَّقُوا
اللّٰهَ
حَقَّ
تُقٰىتِهٖ
وَلَا
تَمُوْتُنَّ
اِلَّا
وَاَنْتُمْ
مُّسْلِمُوْنَ
“Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada
Allah dengan sebenar-benar takwa kepada-Nya dan janganlah kamu mati kecuali
dalam keadaan muslim.”
(QS. Âli
Imrân
[3]: 102).
Sungguh takwa adalah
benteng terakhir kita di tengah kehidupan akhir zaman saat ini. Dan sungguh,
hanya dengan takwa kita akan selamat di dunia dan akhirat.
Ma’âsyiral Muslimîn rahimakumullâh,
Dalam dinamika hubungan internasional modern, pendidikan sering dijadikan salah satu instrumen diplomasi paling efektif untuk membangun pengaruh dan memperluas jangkauan nilai-nilai suatu negara. Melalui beasiswa, pelatihan, dan kerja sama akademik, kekuatan lunak (soft power) dapat disalurkan secara halus namun strategis. Fenomena ini juga tampak dalam dunia pesantren di Indonesia, yang dalam beberapa tahun terakhir menjadi sasaran perhatian serius Amerika Serikat melalui berbagai program kerja sama, pelatihan, dan beasiswa.
Pada tahun 2025, Kementerian Agama RI menandatangani Memorandum of Understanding (MoU) dengan Kedutaan Besar AS untuk meningkatkan kapasitas sumber daya manusia di lingkungan pesantren, madrasah, dan Perguruan Tinggi Keagamaan Negeri (PTKN) dalam semangat moderasi beragama dan toleransi global. Salah satu poin utama kerja sama tersebut adalah pemberian beasiswa Fulbright bagi santri, mahasiswa, dan dosen Kemenag untuk menempuh studi di berbagai universitas di Amerika Serikat.
Program Fulbright, yang dikelola oleh U.S. Department of State’s Bureau of Educational and Cultural Affairs (ECA), secara resmi bertujuan “meningkatkan saling pengertian antara rakyat AS dan rakyat negara lain.” Namun, di balik misi ideal itu, terdapat dimensi ideologis yang tak dapat diabaikan. American Foreign Policy Council secara terbuka menyebut Fulbright sebagai bagian dari strategi soft power diplomacy Amerika Serikat—yakni upaya untuk menanamkan nilai-nilai demokrasi liberal serta memperluas pengaruh budaya Amerika, termasuk di dunia Islam.
Ma’âsyiral Muslimîn
rahimakumullâh,
Keterlibatan Amerika Serikat dalam
dunia pendidikan Islam bukanlah fenomena baru, melainkan bagian dari strategi
panjang yang berkaitan dengan politik global pasca tragedi 11 September 2001.
Dalam laporan The U.S. Department of
State’s Bureau of Counterterrorism (2022) disebutkan bahwa Indonesia
merupakan mitra penting dalam upaya AS mempromosikan “Islam moderat” sebagai
tandingan terhadap radikalisme. Laporan itu menegaskan bahwa “Amerika Serikat
mendukung upaya Indonesia untuk mempromosikan Islam moderat melalui
keterlibatan pesantren dan para ulama.” (state.gov/reports/country-reports-on-terrorism-2022).
Dukungan ini sejalan dengan kebijakan luar negeri AS yang menempatkan
pendidikan Islam sebagai sarana membangun pengaruh ideologis di dunia Muslim.
Salah satu dokumen yang menjadi
landasan kebijakan tersebut adalah laporan RAND
Corporation berjudul “Civil
Democratic Islam: Partners, Resources, and Strategies” (2003), yang
merekomendasikan agar Amerika mendukung kelompok Muslim moderat, melawan kaum
fundamentalis, serta mempromosikan demokrasi, pluralisme, dan hak-hak
perempuan. RAND membagi umat Islam ke dalam empat kelompok: fundamentalis,
tradisionalis, modernis, dan sekuleris — dengan strategi memperkuat dua
kelompok terakhir sebagai mitra ideologis Barat. Karena itu, pendekatan
“moderasi beragama” yang kerap disandingkan dengan program beasiswa dan kerja
sama pendidikan AS di pesantren sejatinya bukan semata kegiatan akademik,
melainkan bagian dari soft diplomacy
untuk menanamkan nilai-nilai sekuler-liberal ke dalam tubuh pendidikan Islam di
Indonesia.
Ma’âsyiral Muslimîn
rahimakumullâh,
Dalam konteks geopolitik global,
Amerika Serikat memahami bahwa pesantren adalah benteng utama Islam di
Indonesia sekaligus pusat pembentukan ideologi umat. Karena itu, lembaga ini
menjadi target proyek religious reform
dan counter-extremism. Dalam laporan USAID (2021) disebutkan bahwa “USAID
bekerjasama dengan pesantren untuk memperkuat pendidikan kewarganegaraan,
mempromosikan toleransi, dan mencegah narasi radikal.” (usaid.gov/indonesia). Ini menunjukkan bahwa pesantren kini
diperlakukan sebagai arena strategis pembentukan pandangan keagamaan, di mana
ide-ide seperti interfaith dialogue, gender equality, human rights, dan democratic citizenship perlahan
diperkenalkan—semuanya berakar pada nilai-nilai sekuler-liberal, bukan ajaran
Islam.
Bahaya ideologisnya tampak jelas
karena Amerika Serikat, dengan ideologi kapitalisme-sekuler, menggunakan
program seperti Fulbright dan
“moderasi agama” untuk menanamkan nilai-nilai liberal ke dalam pendidikan
Islam. Laporan RAND Corporation
berjudul “Civil Democratic Islam”
(2003) menegaskan bahwa Muslim moderat adalah mereka yang mendukung demokrasi,
pluralisme, mengakui hak asasi manusia versi Barat dan hukum non-Islam, serta
menolak jihad. Dengan demikian, “moderasi beragama” sejatinya bukan gagasan Islam,
melainkan instrumen depolitisasi yang menjauhkan umat dari penerapan syariah
secara kaaffah.
Islam sendiri telah memperingatkan
bahaya menjalin hubungan ideologis dengan kaum kafir. Allah Subhanahu wata’ala
berfirman:
يٰٓاَيُّهَا
الَّذِيْنَ
اٰمَنُوْا
لَا تَتَّخِذُوا
الْكٰفِرِيْنَ
اَوْلِيَاۤءَ
مِنْ دُوْنِ
الْمُؤْمِنِيْنَۚ
”Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah kalian menjadikan
kaum kafir sebagai pemimpin/teman setia dengan meninggalkan kaum Mukmin” (QS. an-Nisâ’ [4]: 144).
Dan juga:
وَلَنْ
يَّجْعَلَ
اللّٰهُ
لِلْكٰفِرِيْنَ
عَلَى
الْمُؤْمِنِيْنَ
سَبِيْلًا
“Allah sekali-kali tidak akan memberikan
jalan bagi orang kafir untuk menguasai orang Mukmin.” (QS. an-Nisâ’ [4]: 141).
Ayat-ayat ini menegaskan larangan
bagi umat Islam menyerahkan urusan pendidikan dan pembinaan generasi kepada
pihak yang secara ideologis menentang Islam.
Rasulullah ﷺ pun bersabda:
مَنْ
تَشَبَّهَ
بِقَوْمٍ
فَهُوَ
مِنْهُمْ
”Siapa saja yang menyerupai suatu kaum, maka ia termasuk bagian
dari mereka.” (HR. Abu Dawud).
Hadits ini menegaskan pentingnya
kewaspadaan ideologis agar umat tidak terpengaruh oleh pola pikir dan gaya
hidup sekuler-liberal yang bertentangan dengan ajaran Islam.
Ma’âsyiral Muslimîn
rahimakumullâh,
Dalam menghadapi pengaruh
ideologi asing, pesantren harus teguh sebagai benteng akidah dan peradaban
Islam di Indonesia.
Pertama, pesantren wajib selektif terhadap tawaran kerja sama internasional
dan menolak program yang membawa misi sekuler-liberal seperti moderasi,
demokrasi, pluralisme, atau kesetaraan gender versi Barat.
Kedua, pesantren perlu membangun jaringan pendidikan antar-lembaga Islam,
baik lokal maupun internasional, yang berlandaskan nilai-nilai Islam.
Ketiga, perkuat kurikulum berbasis ideologi Islam agar santri tidak mudah
terpengaruh paham asing.
Keempat, tingkatkan literasi geopolitik di kalangan asatidz dan santri agar
mampu bersikap kritis terhadap setiap bentuk soft power dari luar.
Kelima, pesantren harus meneguhkan kemandiriannya sebagai penjaga kemurnian
aqidah dan benteng dari arus sekularisasi pemikiran.
Keenam, pendidikan Islam harus diarahkan kembali pada pembentukan syakhsiyyah
Islamiyyah—kepribadian Islam yang bertakwa, berilmu, dan berjuang menegakkan
syariah secara kaaffah.
Pesantren bukan laboratorium
ideologi Barat, melainkan jantung peradaban dan pusat kebangkitan Islam. Negara
pun wajib melindungi dunia pendidikan dari proyek-proyek ideologis asing dan
memperkuat pendidikan Islam sebagai dasar kebangkitan bangsa yang berlandaskan
akidah Islam. WalLâhu a’lam bi
ash-shawâb. []
بَارَكَ
اللهُ لِيْ
وَلَكُمْ فِى
اْلقُرْآنِ
اْلعَظِيْمِ،
وَنَفَعَنِيْ
وَإِيَّاكُمْ
بِمَا فِيْهِ
مِنَ
الْآيَاتِ
وَالذِّكْرِ
الْحَكِيمِ
وَتَقَبَّلَ
اللهُ مِنَّا
وَمِنْكُمْ
تِلاَوَتَهُ
وَإِنَّهُ
هُوَ
السَّمِيْعُ
العَلِيْمُ،
وَأَقُوْلُ
قَوْلِيْ
هَذَا
فَأسْتَغْفِرُ
اللهَ
العَظِيْمَ
إِنَّهُ هُوَ
الغَفُوْرُ
الرَّحِيْمُ
KHUTBAH
KEDUA
اَلْحَمْدُ
لِلّٰهِ عَلىَ
إِحْسَانِهِ،
وَالشُّكْرُ
لَهُ عَلَى
تَوْفِيْقِهِ
وَاِمْتِنَانِهِ،
وَأَشْهَدُ
أَنْ لاَ
اِلٰهَ
إِلاَّ اللهُ
وَحْدَهُ لاَ
شَرِيْكَ
لَهُ،
وَأَشْهَدُ
أنَّ سَيِّدَنَا
مُحَمَّدًا
عَبْدُهُ
وَرَسُوْلُهُ
الدَّاعِى
إِلَى
رِضْوَانِهِ،
اللّٰهُمَّ صَلِّ
عَلَى
سَيِّدِنَا
مُحَمَّدٍ
وَعَلَى
اٰلِهِ
وَأَصْحَابِهِ
وَسَلِّمْ
تَسْلِيْمًا
كَثِيْرًا. أَمَّا
بَعْدُ؛
فَياَ
اَيُّهَا
النَّاسُ اِتَّقُواللّٰهَ
فِيْمَا
أَمَرَ
وَانْتَهُوْا
عَمَّا نَهَى
وَاعْلَمُوْا
أَنَّ اللهَ
أَمَرَكُمْ
بِأَمْرٍ
بَدَأَ
فِيْهِ بِنَفْسِهِ
وَثَـنَّى بِمَلآ
ئِكَتِهِ
الْمُسَبِّحَةِ
بِقُدْسِهِ،
وَقَالَ
تَعاَلَى:
إِنَّ اللهَ
وَمَلآئِكَتَهُ
يُصَلُّوْنَ
عَلىَ النَّبِى
يآ اَيُّهَا
الَّذِيْنَ
آمَنُوْا
صَلُّوْا
عَلَيْهِ
وَسَلِّمُوْا
تَسْلِيْمًا. اللهُمَّ
صَلِّ عَلَى
سَيِّدِنَا
مُحَمَّدٍ
وَعَلَى آلِ
سَيِّدِناَ
مُحَمَّدٍ،
وَعَلَى
اَنْبِيآئِكَ
وَرُسُلِكَ
وَمَلآئِكَةِ
اْلمُقَرَّبِيْنَ،
وَارْضَ اللّٰهُمَّ
عَنِ
اْلخُلَفَاءِ
الرَّاشِدِيْنَ،
أَبِى بَكْرٍ
وَعُمَرَ
وَعُثْمَانَ
وَعَلِي، وَعَنْ
بَقِيَّةِ
الصَّحَابَةِ
وَالتَّابِعِيْنَ،
وَتَابِعِي
التَّابِعِيْنَ
لَهُمْ
بِاِحْسَانٍ
اِلَى يَوْمِ
الدِّيْنِ،
وَارْضَ عَنَّا
مَعَهُمْ
بِرَحْمَتِكَ
يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ.
اَللّٰهُمَّ
اغْفِرْ
لِلْمُؤْمِنِيْنَ
وَاْلمُؤْمِنَاتِ
وَاْلمُسْلِمِيْنَ
وَاْلمُسْلِمَاتِ
اَلاَحْيآءَ
مِنْهُمْ
وَاْلاَمْوَاتِ،
اللّٰهُمَّ أَعِزَّ
اْلإِسْلاَمَ
وَاْلمُسْلِمِيْنَ،
وَأَذِلَّ
الشِّرْكَ
وَاْلمُشْرِكِيْنَ،
وَانْصُرْ
عِبَادَكَ
اْلمُوَحِّدِيْنَ،
وَانْصُرْ
مَنْ نَصَرَ
الدِّيْنَ،
وَاخْذُلْ
مَنْ خَذَلَ
اْلمُسْلِمِيْنَ،
وَدَمِّرْ
أَعْدَاءَ
الدِّيْنِ،
وَاعْلِ كَلِمَاتِكَ
إِلَى يَوْمِ
الدِّيْنِ.
اَللّٰهُمَّ
يَا
مُنْـزِلَ
الْكِتَابِ
وَمُهْزِمَ
اْلأَحْزَابِ
اِهْزِمِ
اْليَهُوْدَ
وَاَعْوَانَهُمْ
وَصَلِيْبِيِّيْنَ
وَاَنْصَارَهُمْ
وَرَأْسُمَالِيِّيْنَ
وَاِخْوَانَهُمْ
وَاِشْتِرَاكِيِّيْنَ
وَشُيُوْعِيِّيْنَ
وَاَشْيَاعَهُمْ.
اَللّٰهُمَّ
نَجِّ
إِخْوَانَنَا
الْمُؤْمِنِيْنَ
الْمُسْتَضْعَفِيْنَ
فِي
فَلَسْطِيْنَ
وَفِي كُلِّ
مَكَانٍ. اَللّٰهُمَّ
انْصُرْ
إخْوَانَنَا
الْمُجَاهِدِيْنَ
فِي
سَبِيْلِكَ
عَلَى
أَعْدَائِهِمْ.
اَللّٰهُمَّ
إِنَّا
نَسْأَلُكَ
دَوْلَةَ
الْخِلاَفَةِ
عَلَى
مِنْهَاجِ
النُّبُوَّةِ
تُعِزُّ بِهَا
اْلإِسْلاَمَ
وَاَهْلَهُ
وَتُذِلُّ بِهَا
الْكُفْرَ
وَاَهْلَهُ،
وَ اجْعَلْنَا
مِنَ
الْعَامِلِيْنَ
الْمُخْلِصِيْنَ
بِإِقَامَتِهَا
بِإِذْنِكَ
يَا أَرْحَمَ
الرَّاحِمِيْنَ.
اللّٰهُمَّ
ادْفَعْ
عَنَّا
الْغَلَاءَ
وَاْلبَلاَءَ
وَاْلوَبَاءَ
وَالزَّلاَزِلَ
وَاْلمِحَنَ،
وَسُوْءَ
اْلفِتْنَةِ
وَاْلمِحَنَ
مَا ظَهَرَ
مِنْهَا
وَمَا
بَطَنَ، عَنْ
بَلَدِنَا
اِنْدُونِيْسِيَّا
خآصَّةً
وَسَائِرِ
بُلْدَانِ
اْلمُسْلِمِيْنَ
عآمَّةً يَا رَبَّ
اْلعَالَمِيْنَ،
رَبَّنَا
آتِناَ فِى
الدُّنْيَا
حَسَنَةً
وَفِى
اْلآخِرَةِ حَسَنَةً
وَقِنَا
عَذَابَ
النَّارِ،
رَبَّنَا
ظَلَمْنَا
اَنْفُسَنَا
وَإنْ لَمْ تَغْفِرْ
لَنَا
وَتَرْحَمْنَا
لَنَكُوْنَنَّ
مِنَ
اْلخَاسِرِيْنَ.
عِبَادَ
اللهِ ! إِنَّ
اللهَ
يَأْمُرُ
بِاْلعَدْلِ
وَاْلإِحْسَانِ
وَإِيْتآءِ
ذِي
اْلقُرْبىَ
وَيَنْهَى
عَنِ اْلفَحْشآءِ
وَاْلمُنْكَرِ
وَاْلبَغْي
يَعِظُكُمْ
لَعَلَّكُمْ
تَذَكَّرُوْنَ،
وَاذْكُرُوا
اللهَ
اْلعَظِيْمَ
يَذْكُرْكُمْ،
وَاسْأَلُوْهُ
مِنْ
فَضْلِهِ
يُعْطِكُمْ،
وَاشْكُرُوْهُ
عَلىَ
نِعَمِهِ
يَزِدْكُمْ،
وَلَذِكْرُ
اللهِ
أَكْبَرْ