MENCEGAH DAN MENGATASI
PERUNDUNGAN DI KALANGAN REMAJA
KHUTBAH PERTAMA
اللهُمَّ
فَصَلِّ
وَسَلِّمْ
عَلَى سَيِّدِنَا
مُحَمَّدٍ
كَانَ
صَادِقَ
الْوَعْدِ وَكَانَ
رَسُوْلًا
نَبِيًّا، وَعَلَى
آلِهِ
وَصَحْبِهِ
الَّذِيْنَ
يُحْسِنُوْنَ
إِسْلاَمَهُمْ
وَلَمْ
يَفْعَلُوْا
شَيْئًا
فَرِيًّا. أَمَّا
بَعْدُ؛
فَيَا
أَيُّهَا
الْحَاضِرُوْنَ
رَحِمَكُمُ
اللهُ،
اُوْصِيْنِيْ
نَفْسِيْ
وَإِيَّاكُمْ
بِتَقْوَى
اللهِ،
فَقَدْ فَازَ
الْمُتَّقُوْنَ.
قَالَ اللهُ
تَعَالَى:
يٰٓاَيُّهَا
النَّاسُ
اِنَّا
خَلَقْنٰكُمْ
مِّنْ ذَكَرٍ
وَّاُنْثٰى
وَجَعَلْنٰكُمْ
شُعُوْبًا
وَّقَبَاۤىِٕلَ
لِتَعَارَفُوْاۚ
اِنَّ
اَكْرَمَكُمْ
عِنْدَ
اللّٰهِ اَتْقٰىكُمْۗ
اِنَّ
اللّٰهَ
عَلِيْمٌ خَبِيْرٌ ١٣
(اَلْحُجُرَاتُ)
Alhamdulillâhi
Rabbil ‘Âlamin, Segala puji bagi Allah Subhânahu Wa Ta’âlâ yang
telah menganugerahkan kita nikmat iman dan Islam, serta mempertemukan kita di
tempat yang diberkahi ini. Shalawat dan salam semoga senantiasa tercurah kepada
junjungan kita, Nabi Muhammad Shallallâhu ‘alaihi wasallam, beserta
keluarga, sahabat, dan seluruh umatnya hingga akhir zaman.
Bertakwalah kepada
Allah Subhânahu Wa Ta’âlâ dengan sebenar-benarnya takwa sebagaimana
firman-Nya:
يٰٓاَيُّهَا
الَّذِيْنَ
اٰمَنُوا
اتَّقُوا
اللّٰهَ
حَقَّ
تُقٰىتِهٖ
وَلَا
تَمُوْتُنَّ
اِلَّا
وَاَنْتُمْ
مُّسْلِمُوْنَ
“Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada
Allah dengan sebenar-benar takwa kepada-Nya dan janganlah kamu mati kecuali
dalam keadaan muslim.”
(QS. Âli
Imrân
[3]: 102).
Sungguh takwa adalah
benteng terakhir kita di tengah kehidupan akhir zaman saat ini. Dan sungguh,
hanya dengan takwa kita akan selamat di dunia dan akhirat.
Ma’âsyiral Muslimîn rahimakumullâh,
Fenomena
perundungan (bullying) kini menjadi salah satu wajah kelam kehidupan anak dan
remaja Indonesia. Di balik kemajuan teknologi dan pendidikan, justru tumbuh
budaya kekerasan yang diam-diam melukai generasi muda—baik secara fisik,
psikis, maupun digital. Banyak anak kehilangan rasa aman bahkan di ruang yang
seharusnya paling melindungi mereka: sekolah dan rumah. Data KPAI menunjukkan
sepanjang 2024 terdapat 2.057 pengaduan pelanggaran hak anak, mencakup
kekerasan fisik, psikis, dan cyberbullying, serta 25 kasus bunuh diri
anak pada 2025 yang diduga terkait depresi akibat perundungan. Di sektor
pendidikan, tercatat 1.801 pengaduan dengan 31 kasus bullying di
sekolah, sementara riset menunjukkan 26% siswa SD, 25% SMP, dan 18,75% SMA
pernah menjadi korban. FSGI melaporkan 50% kasus terjadi di jenjang SMP, dan
Asesmen Nasional Kemendikbudristek mencatat 24,4% siswa berpotensi mengalami bullying.
Bentuk perundungan didominasi fisik (55,5%), disusul verbal (29,3%), dan cyberbullying
yang melonjak lebih dari 100% pada awal 2024. Kasus-kasus viral di SMPN 8
Depok, SMP Blora, dan SMAN 72 Jakarta memperlihatkan bahwa perundungan bukan
sekadar kenakalan remaja, melainkan krisis sosial yang mengancam masa depan
anak Indonesia.
Akar masalahnya
terletak pada lingkungan sosial yang memburuk. Banyak keluarga mengalami
disharmoni; orangtua sibuk dan komunikasi menurun, membuat anak kehilangan
figur pengasuh yang penuh kasih hingga mencari pelarian di luar rumah.
Sayangnya, ruang sosial mereka kerap bersifat toxic—baik di dunia nyata
maupun media sosial—yang menormalisasi ejekan, kekerasan, dan konten
merendahkan demi perhatian publik. Nilai moral melemah, empati menurun, dan
kekerasan dianggap wajar. Regulasi serta institusi pendidikan pun sering gagal
memberi perlindungan; korban distigma “lemah”, sementara sekolah menutup-nutupi
kasus demi citra. Ketika tidak ada sanksi yang menimbulkan efek jera,
perundungan terus berulang, menggerus rasa aman dan kemanusiaan di lingkungan
anak-anak Indonesia.
Ma’âsyiral
Muslimîn rahimakumullâh,
Fenomena
perundungan (bullying) bukan hanya masalah sosial, tetapi juga persoalan
agama yang serius. Dalam Islam, merendahkan atau mengejek orang lain termasuk
dosa besar. Allah Subhanahu wata’ala berfirman:
يٰٓاَيُّهَا
الَّذِيْنَ
اٰمَنُوْا
لَا يَسْخَرْ
قَوْمٌ مِّنْ
قَوْمٍ
عَسٰٓى اَنْ
يَّكُوْنُوْا
خَيْرًا
مِّنْهُمْ
“Wahai
orang-orang yang beriman, janganlah suatu kaum mengejek kaum yang lain. Boleh
jadi yang diejek itu lebih baik daripada yang mengejek.” (QS. al-Hujurât [49]: 11).
Imam Ibnu Katsir
menjelaskan bahwa ayat ini melarang setiap bentuk penghinaan karena perbuatan
tersebut mengandung unsur merendahkan orang lain dan hukumnya haram. Dengan
demikian, segala bentuk ejekan, kekerasan verbal, fisik, maupun digital
termasuk perundungan (sukhriyyah) yang jelas dilarang dalam syariat Islam.
Pertama, keluarga sebagai madrasah pertama. Islam menempatkan
keluarga sebagai benteng utama pembentukan karakter anak. Orangtua tidak hanya
berperan sebagai pencari nafkah, tetapi juga sebagai pendidik dan pelindung.
Allah Subhanahu wata’ala berfirman:
يَا
أَيُّهَا
الَّذِيْنَ
آمَنُوْا قُوْا
أَنْفُسَكُمْ
وَأَهْلِيْكُمْ
نَارًا
“Wahai
orang-orang yang beriman, peliharalah diri kalian dan keluarga kalian dari api
neraka.” (QS.
at-Tahrîm [66]: 6).
Ali radhiyallahu
‘anhu menafsirkan ayat ini dengan perintah:
عَلِّمُوْهُمْ
وَأَدِّبُوْهُمْ
“Ajarilah dan
didiklah mereka.”
(Ibnu al-Jauzi, Zaad al-Masiir, 6/48). Rasulullah shallallahu
’alaihi wasallam bersabda:
مُرُوْا أَوْلَادَكُمْ
بِالصَّلَاةِ
وَهُمْ أَبْنَاءُ
سَبْعِ سِنِيْنَ
“Perintahkanlah
anak-anak kalian menunaikan shalat saat berumur tujuh tahun.” (HR. Abu Dawud). Dalam keluarga yang baik,
anak tumbuh dalam kasih sayang dan penghormatan, sebagaimana sabda Nabi shallallahu
’alaihi wasallam:
لَيْسَ مِنَّا
مَنْ لَمْ يَرْحَمْ
صَغِيْرَنَا،
وَيُوَقِّرْ كَبِيْرَنَا
“Bukan termasuk
golongan kami orang yang tidak menyayangi yang lebih muda dan tidak menghormati
yang lebih tua.”
(HR Ahmad dan
at-Tirmidzi).
Kedua, sekolah sebagai tempat pembentukan kepribadian
Islam. Dalam Islam, pendidikan tidak hanya bertujuan mentransfer ilmu, tetapi
membentuk syakhshiyyah Islamiyyah—kepribadian yang taat dan berakhlak
mulia. Ilmu sejati adalah yang menumbuhkan ketakwaan, sebagaimana firman Allah
Subhanahu wata’ala:
اِنَّمَا
يَخْشَى
اللّٰهَ مِنْ
عِبَادِهِ الْعُلَمٰۤؤُاۗ
“Sesungguhnya
yang paling takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya adalah para ulama.” (QS. Fâthir [35]: 28). Sekolah yang
berlandaskan nilai syariah akan menanamkan adab, menumbuhkan empati, dan menciptakan
lingkungan belajar yang bebas dari kekerasan. Guru bukan sekadar pengajar,
tetapi juga teladan yang membina siswa dengan kasih sayang dan tanggung jawab
moral.
Ketiga, negara melindungi anak dengan hukum syariah. Islam
mewajibkan negara menjaga keamanan jiwa warganya, termasuk anak-anak dari
berbagai bentuk kezaliman. Allah Subhanahu wata’ala berfirman:
وَلَا
تَقْتُلُوا
النَّفْسَ
الَّتِيْ حَرَّمَ
اللّٰهُ
“Janganlah kalian
membunuh jiwa yang telah Allah haramkan (untuk dibunuh).” (QS. al-Isrâ’ [17]: 33). Karena itu, bullying
yang menyebabkan depresi berat, bunuh diri, atau kematian korban termasuk
pelanggaran berat yang harus diberi sanksi tegas. Jika korban meninggal, pelaku
dapat dikenai qishaash sesuai hukum Islam. Negara juga wajib menegakkan
sistem pendidikan berbasis syariah, mengawasi sekolah dan keluarga, serta
membangun lingkungan sosial yang aman agar generasi muda tumbuh dalam suasana
kasih sayang dan saling menghormati.
Ma’âsyiral
Muslimîn rahimakumullâh,
Fenomena bullying
yang kian marak sejatinya bukan sekadar masalah perilaku individu, melainkan
buah dari sistem hidup sekularisme yang menyingkirkan nilai-nilai agama dari
kehidupan. Dalam sistem ini, manusia diajarkan menuhankan kebebasan dan menilai
kehormatan berdasarkan harta, popularitas, dan kekuasaan. Akibatnya, yang kuat
menindas yang lemah, yang populer merendahkan yang tidak dikenal. Padahal Islam
menegaskan bahwa kemuliaan bukan diukur dari materi, tetapi dari ketakwaan.
Allah Subhanahu wata’ala berfirman:
اِنَّ
اَكْرَمَكُمْ
عِنْدَ
اللّٰهِ
اَتْقٰىكُمْۗ
“Sesungguhnya
yang paling mulia di sisi Allah adalah yang paling bertakwa.” (QS al-Hujurât [49]: 13). Rasulullah shallallahu
’alaihi wasallam. juga bersabda:
إِنَّ اللَّهَ
عَزَّ وَجَلَّ
لا يَنْظُرُ إِلَى
أَجْسَامِكُمْ
وَلا إِلَى أَحْسَابِكُمْ
وَلا إِلَى أَمْوَالِكُمْ،
وَلَكِنْ يَنْظُرُ
إِلَى قُلُوْبِكُمْ
”Sesungguhnya
Allah ‘Azza wa Jalla tidak memandang fisik, keturunan dan harta kalian. Akan
tetapi, Allah memandang kalbu (ketakwaan) kalian.” (HR ath-Thabarani). Dengan dasar ini, Islam
menolak budaya merendahkan dan justru menanamkan nilai kasih sayang,
penghormatan, dan saling melindungi antar sesama.
Untuk
menghentikan akar masalah bullying, umat membutuhkan perlindungan
syariah Islam yang menyeluruh. Dalam sistem Islam, negara berperan menjaga
jiwa, kehormatan, dan akhlak warganya melalui pendidikan yang berlandaskan
takwa, pengawasan media dan pergaulan, serta penerapan hukum yang tegas terhadap
pelaku kekerasan. Masyarakat dibangun di atas nilai tolong-menolong dan kasih
sayang, bukan kompetisi dan penghinaan. Karena itu, solusi sejati atas krisis
moral ini adalah dengan kembali kepada syariah Islam secara kaffah, yang mampu
membentuk keluarga harmonis, sekolah berakhlak, dan negara yang benar-benar
melindungi generasi muda agar tumbuh dalam lingkungan aman, beriman, dan
berakhlak mulia. WalLâhu
a’lam bi ash-shawâb. []
بَارَكَ
اللهُ لِيْ
وَلَكُمْ فِى
اْلقُرْآنِ
اْلعَظِيْمِ،
وَنَفَعَنِيْ
وَإِيَّاكُمْ
بِمَا فِيْهِ
مِنَ
الْآيَاتِ
وَالذِّكْرِ
الْحَكِيمِ
وَتَقَبَّلَ
اللهُ مِنَّا
وَمِنْكُمْ
تِلاَوَتَهُ
وَإِنَّهُ
هُوَ
السَّمِيْعُ
العَلِيْمُ،
وَأَقُوْلُ
قَوْلِيْ
هَذَا
فَأسْتَغْفِرُ
اللهَ
العَظِيْمَ
إِنَّهُ هُوَ
الغَفُوْرُ
الرَّحِيْمُ
KHUTBAH
KEDUA
اَلْحَمْدُ
لِلّٰهِ عَلىَ
إِحْسَانِهِ،
وَالشُّكْرُ
لَهُ عَلَى
تَوْفِيْقِهِ
وَاِمْتِنَانِهِ،
وَأَشْهَدُ
أَنْ لاَ
اِلٰهَ
إِلاَّ اللهُ
وَحْدَهُ لاَ
شَرِيْكَ
لَهُ،
وَأَشْهَدُ
أنَّ سَيِّدَنَا
مُحَمَّدًا
عَبْدُهُ
وَرَسُوْلُهُ
الدَّاعِى
إِلَى
رِضْوَانِهِ،
اللّٰهُمَّ صَلِّ
عَلَى
سَيِّدِنَا
مُحَمَّدٍ
وَعَلَى
اٰلِهِ
وَأَصْحَابِهِ
وَسَلِّمْ
تَسْلِيْمًا
كَثِيْرًا. أَمَّا
بَعْدُ؛
فَياَ
اَيُّهَا
النَّاسُ اِتَّقُواللّٰهَ
فِيْمَا
أَمَرَ
وَانْتَهُوْا
عَمَّا نَهَى
وَاعْلَمُوْا
أَنَّ اللهَ
أَمَرَكُمْ
بِأَمْرٍ
بَدَأَ
فِيْهِ بِنَفْسِهِ
وَثَـنَّى
بِمَلآ
ئِكَتِهِ
الْمُسَبِّحَةِ
بِقُدْسِهِ،
وَقَالَ
تَعاَلَى:
إِنَّ اللهَ
وَمَلآئِكَتَهُ
يُصَلُّوْنَ
عَلىَ النَّبِى
يآ اَيُّهَا
الَّذِيْنَ
آمَنُوْا
صَلُّوْا
عَلَيْهِ
وَسَلِّمُوْا
تَسْلِيْمًا. اللهُمَّ
صَلِّ عَلَى
سَيِّدِنَا
مُحَمَّدٍ
وَعَلَى آلِ
سَيِّدِناَ
مُحَمَّدٍ،
وَعَلَى
اَنْبِيآئِكَ
وَرُسُلِكَ
وَمَلآئِكَةِ
اْلمُقَرَّبِيْنَ،
وَارْضَ اللّٰهُمَّ
عَنِ
اْلخُلَفَاءِ
الرَّاشِدِيْنَ،
أَبِى بَكْرٍ
وَعُمَرَ
وَعُثْمَانَ
وَعَلِي، وَعَنْ
بَقِيَّةِ
الصَّحَابَةِ
وَالتَّابِعِيْنَ،
وَتَابِعِي
التَّابِعِيْنَ
لَهُمْ
بِاِحْسَانٍ
اِلَى يَوْمِ
الدِّيْنِ،
وَارْضَ
عَنَّا
مَعَهُمْ
بِرَحْمَتِكَ
يَا أَرْحَمَ
الرَّاحِمِيْنَ.
اَللّٰهُمَّ
اغْفِرْ
لِلْمُؤْمِنِيْنَ
وَاْلمُؤْمِنَاتِ
وَاْلمُسْلِمِيْنَ
وَاْلمُسْلِمَاتِ
اَلاَحْيآءَ
مِنْهُمْ
وَاْلاَمْوَاتِ،
اللّٰهُمَّ أَعِزَّ
اْلإِسْلاَمَ
وَاْلمُسْلِمِيْنَ،
وَأَذِلَّ
الشِّرْكَ
وَاْلمُشْرِكِيْنَ،
وَانْصُرْ
عِبَادَكَ
اْلمُوَحِّدِيْنَ،
وَانْصُرْ
مَنْ نَصَرَ
الدِّيْنَ،
وَاخْذُلْ
مَنْ خَذَلَ
اْلمُسْلِمِيْنَ،
وَدَمِّرْ
أَعْدَاءَ
الدِّيْنِ،
وَاعْلِ كَلِمَاتِكَ
إِلَى يَوْمِ
الدِّيْنِ.
اَللّٰهُمَّ
يَا
مُنْـزِلَ
الْكِتَابِ
وَمُهْزِمَ
اْلأَحْزَابِ
اِهْزِمِ
اْليَهُوْدَ
وَاَعْوَانَهُمْ
وَصَلِيْبِيِّيْنَ
وَاَنْصَارَهُمْ
وَرَأْسُمَالِيِّيْنَ
وَاِخْوَانَهُمْ
وَاِشْتِرَاكِيِّيْنَ
وَشُيُوْعِيِّيْنَ
وَاَشْيَاعَهُمْ.
اَللّٰهُمَّ
نَجِّ
إِخْوَانَنَا
الْمُؤْمِنِيْنَ
الْمُسْتَضْعَفِيْنَ
فِي
فَلَسْطِيْنَ
وَفِي كُلِّ
مَكَانٍ. اَللّٰهُمَّ
انْصُرْ
إخْوَانَنَا
الْمُجَاهِدِيْنَ
فِي
سَبِيْلِكَ
عَلَى
أَعْدَائِهِمْ.
اَللّٰهُمَّ
إِنَّا
نَسْأَلُكَ
دَوْلَةَ
الْخِلاَفَةِ
عَلَى
مِنْهَاجِ
النُّبُوَّةِ
تُعِزُّ بِهَا
اْلإِسْلاَمَ
وَاَهْلَهُ
وَتُذِلُّ بِهَا
الْكُفْرَ
وَاَهْلَهُ،
وَ اجْعَلْنَا
مِنَ
الْعَامِلِيْنَ
الْمُخْلِصِيْنَ
بِإِقَامَتِهَا
بِإِذْنِكَ
يَا أَرْحَمَ
الرَّاحِمِيْنَ.
اللّٰهُمَّ
ادْفَعْ
عَنَّا
الْغَلَاءَ
وَاْلبَلاَءَ
وَاْلوَبَاءَ
وَالزَّلاَزِلَ
وَاْلمِحَنَ،
وَسُوْءَ
اْلفِتْنَةِ
وَاْلمِحَنَ
مَا ظَهَرَ
مِنْهَا
وَمَا
بَطَنَ، عَنْ
بَلَدِنَا
اِنْدُونِيْسِيَّا
خآصَّةً
وَسَائِرِ
بُلْدَانِ
اْلمُسْلِمِيْنَ
عآمَّةً يَا رَبَّ
اْلعَالَمِيْنَ،
رَبَّنَا
آتِناَ فِى
الدُّنْيَا
حَسَنَةً
وَفِى
اْلآخِرَةِ حَسَنَةً
وَقِنَا
عَذَابَ
النَّارِ،
رَبَّنَا
ظَلَمْنَا
اَنْفُسَنَا
وَإنْ لَمْ تَغْفِرْ
لَنَا
وَتَرْحَمْنَا
لَنَكُوْنَنَّ
مِنَ
اْلخَاسِرِيْنَ.
عِبَادَ
اللهِ ! إِنَّ
اللهَ
يَأْمُرُ
بِاْلعَدْلِ
وَاْلإِحْسَانِ
وَإِيْتآءِ
ذِي
اْلقُرْبىَ
وَيَنْهَى
عَنِ اْلفَحْشآءِ
وَاْلمُنْكَرِ
وَاْلبَغْي
يَعِظُكُمْ
لَعَلَّكُمْ
تَذَكَّرُوْنَ،
وَاذْكُرُوا
اللهَ
اْلعَظِيْمَ
يَذْكُرْكُمْ،
وَاسْأَلُوْهُ
مِنْ
فَضْلِهِ
يُعْطِكُمْ،
وَاشْكُرُوْهُ
عَلىَ
نِعَمِهِ
يَزِدْكُمْ،
وَلَذِكْرُ
اللهِ
أَكْبَرْ