KEPEMIMPINAN ISLAM
GLOBAL
KHUTBAH PERTAMA
اللهُمَّ
فَصَلِّ
وَسَلِّمْ
عَلَى سَيِّدِنَا
مُحَمَّدٍ
كَانَ
صَادِقَ
الْوَعْدِ وَكَانَ
رَسُوْلًا
نَبِيًّا، وَعَلَى
آلِهِ
وَصَحْبِهِ
الَّذِيْنَ
يُحْسِنُوْنَ
إِسْلاَمَهُمْ
وَلَمْ
يَفْعَلُوْا
شَيْئًا
فَرِيًّا. أَمَّا
بَعْدُ؛
فَيَا
أَيُّهَا
الْحَاضِرُوْنَ
رَحِمَكُمُ
اللهُ،
اُوْصِيْنِيْ
نَفْسِيْ
وَإِيَّاكُمْ
بِتَقْوَى
اللهِ،
فَقَدْ فَازَ
الْمُتَّقُوْنَ.
قَالَ اللهُ
تَعَالَى:
اِنَّمَا
الْمُؤْمِنُوْنَ
اِخْوَةٌ
فَاَصْلِحُوْا
بَيْنَ
اَخَوَيْكُمْ
وَاتَّقُوا
اللّٰهَ
لَعَلَّكُمْ
تُرْحَمُوْنَࣖ ١٠ (اَلْحُجُرَاتُ)
Alhamdulillâhi
Rabbil ‘Âlamin, Segala puji bagi Allah Subhânahu Wa Ta’âlâ yang
telah menganugerahkan kita nikmat iman dan Islam, serta mempertemukan kita di
tempat yang diberkahi ini. Shalawat dan salam semoga senantiasa tercurah kepada
junjungan kita, Nabi Muhammad Shallallâhu ‘alaihi wasallam, beserta
keluarga, sahabat, dan seluruh umatnya hingga akhir zaman.
Bertakwalah kepada
Allah Subhânahu Wa Ta’âlâ dengan sebenar-benarnya takwa sebagaimana
firman-Nya:
يٰٓاَيُّهَا
الَّذِيْنَ
اٰمَنُوا
اتَّقُوا
اللّٰهَ
حَقَّ
تُقٰىتِهٖ
وَلَا
تَمُوْتُنَّ
اِلَّا
وَاَنْتُمْ
مُّسْلِمُوْنَ
“Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada
Allah dengan sebenar-benar takwa kepada-Nya dan janganlah kamu mati kecuali
dalam keadaan muslim.”
(QS. Âli
Imrân
[3]: 102).
Sungguh takwa adalah
benteng terakhir kita di tengah kehidupan akhir zaman saat ini. Dan sungguh,
hanya dengan takwa kita akan selamat di dunia dan akhirat.
Ma’âsyiral Muslimîn rahimakumullâh,
Sudan kembali
menjadi sorotan dunia akibat konflik berdarah yang menewaskan ribuan warga
sipil. Perang saudara ini dipicu perebutan kekuasaan antara Jenderal Abdel
Fattah al-Burhan, pemimpin militer Sudan (SAF), dan Letjen Mohamed Hamdan
Dagalo atau Hemedti dari pasukan Rapid Support Forces (RSF). Padahal, keduanya
sebelumnya adalah sekutu yang bersama-sama menggulingkan pemerintahan transisi
pada tahun 2021. Perseteruan yang meletus pada April 2023 itu berubah menjadi
perang besar dan tragedi kemanusiaan. Di balik konflik ini, terdapat campur
tangan asing, khususnya Barat seperti Amerika Serikat dan Inggris, yang diduga
memanfaatkan situasi untuk mempertahankan hegemoni dan menguras kekayaan alam
Sudan melalui politik adu domba dan proxy.
Sebagai negeri
dengan sejarah panjang Islam, Sudan memiliki posisi penting di Afrika. Islam
masuk ke wilayah ini sejak masa Khalifah Umar bin al-Khaththab radhiyallahu
‘anhu melalui penaklukan Mesir oleh Panglima ’Amr bin al-’Ash radhiyallahu
‘anhu, lalu dilanjutkan oleh ’Uqbah bin Nafi radhiyallahu ‘anhu yang membawa
dakwah hingga Nubia—kini bagian Sudan utara. Namun, setelah kekuasaan Khilafah
Utsmaniyah melemah, negeri-negeri Afrika, termasuk Sudan, jatuh ke tangan
penjajah Barat seperti Inggris dan Prancis yang berebut sumber daya alam. Sudan
memiliki lebih dari 3 miliar barel cadangan minyak, 1.550 ton emas, getah arab
yang bernilai industri tinggi, serta cadangan uranium di Pegunungan Nuba.
Ma’âsyiral
Muslimîn rahimakumullâh,
Sejak direbut
Inggris dari tangan Khilafah Islam pada tahun 1898, Sudan menjadi arena
perebutan pengaruh dua kekuatan besar, Inggris dan Amerika Serikat. Inggris
menaklukkan Sudan untuk melemahkan Khilafah Utsmaniyah dan mengamankan
kendalinya atas Mesir dan Sungai Nil sebagai jalur perdagangan penting ke India
dan Afrika Selatan. Untuk mempertahankan kekuasaannya, Inggris menerapkan
politik divide et impera dengan memisahkan wilayah utara yang lebih “Arab” dan
maju dari wilayah selatan yang lebih “Afrika” melalui “Kebijakan Selatan”,
sekaligus membuka jalan bagi misionaris Kristen. Setelah kekuatan Inggris
melemah, Amerika mengambil alihnya. Dua kekuatan asing ini terus bersaing di
balik layar di negeri itu.
Berbagai siasat
jahat penuh intrik politik dan kepentingan ekonomi dilakukan dengan sejumlah
tujuan:
Pertama, Amerika Serikat menyokong RSF untuk membersihkan
sisa-sisa pengaruh Inggris di Sudan, terutama di wilayah Darfur.
Kedua, AS membentuk aliansi politik dengan Arab Saudi, UEA,
dan Mesir untuk mencegah intervensi pihak lain seperti PBB atau Inggris,
sebagaimana ditegaskan oleh Penasihat Senior Presiden AS, Massad Boulos, pada
25 Oktober 2025.
Ketiga, AS memelihara konflik di Sudan agar negara itu tetap
lemah dan mudah dikendalikan, sekaligus berupaya memisahkan Darfur yang kaya
emas, tembaga, batu kapur, dan tanah liat.
Keempat, baik AS maupun Inggris memiliki tujuan politik yang
sama, yaitu mencegah kebangkitan Islam di Sudan. Dengan memainkan isu terorisme
dan radikalisme, mereka terus memecah-belah rakyat, suku, dan militer Sudan
untuk memastikan negeri Muslim itu tidak bangkit melawan dominasi Barat.
Ma’âsyiral
Muslimîn rahimakumullâh,
Setelah Myanmar,
Uyghur, India, dan Gaza, kini Sudan menyusul menjadi kawasan penderitaan umat.
Tanah yang dahulu menjadi saksi kejayaan Islam kini dilumuri darah kaum Mukmin.
Pasukan sokongan negara kafir Amerika Serikat menari-nari di atas penderitaan umat,
menumpahkan darah yang suci dan merusak kehormatan banyak Muslimah. Padahal tak
ada nyawa yang lebih berharga di sisi Allah SWT selain nyawa seorang Mukmin.
Rasulullah shallallahu ’alaihi wasallam bersabda:
لَزَوَالُ
الدُّنْيَا
أَهْوَنُ
عَلَى اللَّهِ
مِنْ قَتْلِ
مُؤْمِنٍ
بِغَيْرِ
حَقٍّ
“Hancurnya dunia
ini lebih ringan bagi Allah daripada pembunuhan seorang Mukmin tanpa haq.” (HR Ibnu Majah)
Ironinya, para
pemimpin Muslim hari ini justru bersekongkol dengan negara-negara Barat
penjajah menyembelih kaum Muslim. Mereka malah menyokong tindakan jahat Amerika
Serikat di Sudan, sebagaimana yang mereka lakukan terhadap Gaza. Mereka
mengutamakan kepentingan politik dan kekuasaan pribadi di atas penderitaan
umat. Tragisnya, sebagian umat masih memuliakan para penguasa itu dan enggan
menyebut mereka sebagai pengkhianat, padahal tindakan mereka telah menyalahi
sunnah Rasulullah shallallahu ’alaihi wasallam:
الْمُسْلِمُ
أَخُو
الْمُسْلِمِ
لَا يَظْلِمُهُ
وَلَا
يُسْلِمُهُ
“Seorang Muslim
adalah saudara bagi Muslim lainnya. Ia tidak menzalimi dan tidak membiarkan
saudaranya itu (disakiti).” (HR al-Bukhari)
Ketahuilah,
sesungguhnya, akar dari seluruh penderitaan ini adalah hilangnya kepemimpinan
Islam yang menyatukan umat dan melindungi kehormatannya. Sejak runtuhnya
Khilafah Utsmaniyah pada tahun 1924, kaum Muslim tercerai-berai menjadi lebih
dari lima puluh negara kecil yang lemah dan tunduk pada pengaruh asing. Setiap
wilayah berjalan sendiri-sendiri, tanpa pemimpin yang satu, tanpa komando yang
jelas, dan tanpa kekuatan yang menakutkan musuh. Inilah yang membuat umat Islam
mudah dipecah-belah, dijajah, dan dijadikan objek eksploitasi oleh kekuatan
Barat.
Padahal, Islam
telah menegaskan bahwa kekuatan umat terletak pada persatuannya. Allah Subhanahu
wa ta’ala berfirman:
وَاعْتَصِمُوْا
بِحَبْلِ
اللّٰهِ
جَمِيْعًا
وَّلَا
تَفَرَّقُوْاۖ
“Berpeganglah
kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai-berai.” (QS. Âli ‘Imrân [3]: 103).
Ayat ini bukan
sekadar seruan ukhuwah, tetapi perintah tegas agar kaum Muslim hidup dalam satu
kepemimpinan yang menyatukan seluruh wilayah Islam. Tanpa persatuan politik di
bawah kepemimpinan seorang khalifah, umat tidak akan memiliki kekuatan untuk
menolak penjajahan dan melindungi kehormatannya.
Selain itu,
sejarah telah menunjukkan bahwa ketika Khilafah tegak, umat Islam menjadi
kekuatan dunia yang disegani. Di bawah kepemimpinan para khalifah, kaum Muslim
melindungi yang lemah, menegakkan keadilan, dan menyebarkan rahmat ke seluruh
penjuru dunia.
Khilafah adalah
junnah (perisai) yang melindungi dan menjaga umat. Rasulullah shallallahu
’alaihi wasallam bersabda:
إِنَّمَا
الإِمَامُ
جُنَّةٌ
يُقَاتَلُ مِنْ
وَرَائِهِ
وَيُتَّقَى
بِهِ
“Sesungguhnya
Imam (Khalifah) adalah perisai; orang-orang berperang di belakangnya dan
berlindung kepadanya.”
(HR al-Bukhari dan Muslim)
Saatnya kaum
Muslim bersatu dalam ukhuwah islamiyyah di bawah institusi pemerintahan Islam
global—Khilafah. Saatnya umat Islam di seluruh dunia bersama-sama membangun
kekuatan sebagaimana perintah Rasulullah shallallahu ’alaihi wasallam, dengan
mengangkat seorang khalifah yang akan melindungi umat dari ancaman dan
penjajahan. Semoga Allah subhanahu wa ta’ala menyegerakan pertolongan-Nya dan
menegakkan kembali Khilafah Islamiyah agar agama ini mulia dan umat ini terjaga
kehormatannya. WalLâhu
a’lam bi ash-shawâb. []
بَارَكَ
اللهُ لِيْ
وَلَكُمْ فِى
اْلقُرْآنِ
اْلعَظِيْمِ،
وَنَفَعَنِيْ
وَإِيَّاكُمْ
بِمَا فِيْهِ
مِنَ
الْآيَاتِ
وَالذِّكْرِ
الْحَكِيمِ
وَتَقَبَّلَ
اللهُ مِنَّا
وَمِنْكُمْ
تِلاَوَتَهُ
وَإِنَّهُ
هُوَ
السَّمِيْعُ
العَلِيْمُ،
وَأَقُوْلُ
قَوْلِيْ
هَذَا
فَأسْتَغْفِرُ
اللهَ
العَظِيْمَ
إِنَّهُ هُوَ
الغَفُوْرُ
الرَّحِيْمُ
KHUTBAH
KEDUA
اَلْحَمْدُ
لِلّٰهِ عَلىَ
إِحْسَانِهِ،
وَالشُّكْرُ
لَهُ عَلَى
تَوْفِيْقِهِ
وَاِمْتِنَانِهِ،
وَأَشْهَدُ
أَنْ لاَ
اِلٰهَ
إِلاَّ اللهُ
وَحْدَهُ لاَ
شَرِيْكَ
لَهُ،
وَأَشْهَدُ
أنَّ سَيِّدَنَا
مُحَمَّدًا
عَبْدُهُ
وَرَسُوْلُهُ
الدَّاعِى
إِلَى
رِضْوَانِهِ،
اللّٰهُمَّ صَلِّ
عَلَى
سَيِّدِنَا
مُحَمَّدٍ
وَعَلَى
اٰلِهِ
وَأَصْحَابِهِ
وَسَلِّمْ
تَسْلِيْمًا
كَثِيْرًا. أَمَّا
بَعْدُ؛
فَياَ
اَيُّهَا
النَّاسُ اِتَّقُواللّٰهَ
فِيْمَا
أَمَرَ
وَانْتَهُوْا
عَمَّا نَهَى
وَاعْلَمُوْا
أَنَّ اللهَ
أَمَرَكُمْ
بِأَمْرٍ
بَدَأَ
فِيْهِ بِنَفْسِهِ
وَثَـنَّى
بِمَلآ
ئِكَتِهِ
الْمُسَبِّحَةِ
بِقُدْسِهِ،
وَقَالَ
تَعاَلَى:
إِنَّ اللهَ
وَمَلآئِكَتَهُ
يُصَلُّوْنَ
عَلىَ النَّبِى
يآ اَيُّهَا
الَّذِيْنَ
آمَنُوْا
صَلُّوْا
عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا
تَسْلِيْمًا.
اللهُمَّ
صَلِّ عَلَى
سَيِّدِنَا
مُحَمَّدٍ
وَعَلَى آلِ سَيِّدِناَ
مُحَمَّدٍ،
وَعَلَى
اَنْبِيآئِكَ
وَرُسُلِكَ
وَمَلآئِكَةِ
اْلمُقَرَّبِيْنَ،
وَارْضَ اللّٰهُمَّ
عَنِ
اْلخُلَفَاءِ
الرَّاشِدِيْنَ،
أَبِى بَكْرٍ
وَعُمَرَ
وَعُثْمَانَ
وَعَلِي، وَعَنْ
بَقِيَّةِ
الصَّحَابَةِ
وَالتَّابِعِيْنَ،
وَتَابِعِي
التَّابِعِيْنَ
لَهُمْ
بِاِحْسَانٍ
اِلَى يَوْمِ
الدِّيْنِ، وَارْضَ
عَنَّا
مَعَهُمْ
بِرَحْمَتِكَ
يَا أَرْحَمَ
الرَّاحِمِيْنَ.
اَللّٰهُمَّ
اغْفِرْ
لِلْمُؤْمِنِيْنَ
وَاْلمُؤْمِنَاتِ
وَاْلمُسْلِمِيْنَ
وَاْلمُسْلِمَاتِ
اَلاَحْيآءَ
مِنْهُمْ
وَاْلاَمْوَاتِ،
اللّٰهُمَّ أَعِزَّ
اْلإِسْلاَمَ
وَاْلمُسْلِمِيْنَ،
وَأَذِلَّ
الشِّرْكَ
وَاْلمُشْرِكِيْنَ،
وَانْصُرْ
عِبَادَكَ
اْلمُوَحِّدِيْنَ،
وَانْصُرْ
مَنْ نَصَرَ
الدِّيْنَ،
وَاخْذُلْ
مَنْ خَذَلَ
اْلمُسْلِمِيْنَ،
وَدَمِّرْ
أَعْدَاءَ
الدِّيْنِ،
وَاعْلِ كَلِمَاتِكَ
إِلَى يَوْمِ
الدِّيْنِ.
اَللّٰهُمَّ
يَا
مُنْـزِلَ
الْكِتَابِ
وَمُهْزِمَ
اْلأَحْزَابِ
اِهْزِمِ
اْليَهُوْدَ
وَاَعْوَانَهُمْ
وَصَلِيْبِيِّيْنَ
وَاَنْصَارَهُمْ
وَرَأْسُمَالِيِّيْنَ
وَاِخْوَانَهُمْ
وَاِشْتِرَاكِيِّيْنَ
وَشُيُوْعِيِّيْنَ
وَاَشْيَاعَهُمْ.
اَللّٰهُمَّ
نَجِّ
إِخْوَانَنَا
الْمُؤْمِنِيْنَ
الْمُسْتَضْعَفِيْنَ
فِي
فَلَسْطِيْنَ
وَفِي كُلِّ
مَكَانٍ. اَللّٰهُمَّ
انْصُرْ
إخْوَانَنَا
الْمُجَاهِدِيْنَ
فِي
سَبِيْلِكَ
عَلَى
أَعْدَائِهِمْ.
اَللّٰهُمَّ
إِنَّا
نَسْأَلُكَ
دَوْلَةَ
الْخِلاَفَةِ
عَلَى
مِنْهَاجِ
النُّبُوَّةِ
تُعِزُّ بِهَا
اْلإِسْلاَمَ
وَاَهْلَهُ
وَتُذِلُّ بِهَا
الْكُفْرَ
وَاَهْلَهُ،
وَ اجْعَلْنَا
مِنَ
الْعَامِلِيْنَ
الْمُخْلِصِيْنَ
بِإِقَامَتِهَا
بِإِذْنِكَ
يَا أَرْحَمَ
الرَّاحِمِيْنَ.
اللّٰهُمَّ
ادْفَعْ
عَنَّا
الْغَلَاءَ
وَاْلبَلاَءَ
وَاْلوَبَاءَ
وَالزَّلاَزِلَ
وَاْلمِحَنَ،
وَسُوْءَ
اْلفِتْنَةِ
وَاْلمِحَنَ
مَا ظَهَرَ
مِنْهَا
وَمَا
بَطَنَ، عَنْ
بَلَدِنَا
اِنْدُونِيْسِيَّا
خآصَّةً
وَسَائِرِ
بُلْدَانِ
اْلمُسْلِمِيْنَ
عآمَّةً يَا رَبَّ
اْلعَالَمِيْنَ،
رَبَّنَا
آتِناَ فِى
الدُّنْيَا
حَسَنَةً
وَفِى
اْلآخِرَةِ حَسَنَةً
وَقِنَا
عَذَابَ
النَّارِ،
رَبَّنَا
ظَلَمْنَا
اَنْفُسَنَا
وَإنْ لَمْ تَغْفِرْ
لَنَا
وَتَرْحَمْنَا
لَنَكُوْنَنَّ
مِنَ
اْلخَاسِرِيْنَ.
عِبَادَ
اللهِ ! إِنَّ
اللهَ
يَأْمُرُ
بِاْلعَدْلِ
وَاْلإِحْسَانِ
وَإِيْتآءِ
ذِي
اْلقُرْبىَ
وَيَنْهَى
عَنِ اْلفَحْشآءِ
وَاْلمُنْكَرِ
وَاْلبَغْي
يَعِظُكُمْ
لَعَلَّكُمْ
تَذَكَّرُوْنَ،
وَاذْكُرُوا
اللهَ
اْلعَظِيْمَ
يَذْكُرْكُمْ،
وَاسْأَلُوْهُ
مِنْ
فَضْلِهِ
يُعْطِكُمْ،
وَاشْكُرُوْهُ
عَلىَ
نِعَمِهِ
يَزِدْكُمْ،
وَلَذِكْرُ
اللهِ
أَكْبَرْ