• “Sesungguhnya yang memakmurkan masjid Allah hanyalah orang-orang yang beriman kepada Allah dan hari akhir, serta (tetap) menegakkan shalat, menunaikan zakat dan tidak takut kecuali hanya kepada Allah. Maka mudah-mudahan mereka termasuk orang-orang yang mendapat petunjuk.” At-Taubah: 18
Friday, 14 June 2024

Khutbah Gerhana Matahari 1444H/2023

Khutbah Gerhana Matahari 1444H/2023
Bagikan
dmdi-logo-warna

KHUTBAH GERHANA MATAHARI 1444H/2023

KHUTBAH PERTAMA

 

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي هَدَانَا لِهَذَا وَمَا كُنَّا لِنَهْتَدِيَ لَوْلَا أَنْ هَدَانَا اللَّهُ. أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ، صَدَقَ وَعْدَهُ، وَنَصَرَ عَبْدَهُ، وَأَعَزَّ جُنْدَهُ، وَهَزَمَ اْلأَحْزَابَ وَحْدَهُ، وَهُوَ الْقَائِلُ سُبْحَانَهُ: ﴿وَمِنْ آيَاتِهِ اللَّيْلُ وَالنَّهَارُ وَالشَّمْسُ وَالْقَمَرُ ۚ لَا تَسْجُدُوا لِلشَّمْسِ وَلَا لِلْقَمَرِ وَاسْجُدُوا لِلَّهِ الَّذِي خَلَقَهُنَّ إِن كُنتُمْ إِيَّاهُ تَعْبُدُونَ﴾ [سورة فصلت: 37]، وَأَشْهَدُ أَنْ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ وَهُوَ خَيْرُ الْبَشَرِ، وَصَاحِبُ الْحَوْضِ الْكَوْثَرِ،صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ الْمُطَهَّرِ، وَعَلَى مَنْ صَاحَبَهُ وَأَزَرَهُ وَوَقَرَ، وَعَلَى التَّابِعِيْنَ لَهُمْ بِإِحْسَانٍ فِيْ كُلِّ أَثَرٍ، إِلَى يَوْمِ الْمَحْشَرِ.

أَمَّا بَعْدُ، فَيَا عِبَادَ اللهِ، أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ وَإِيَّايَ بِتَقْوَى اللهِ فَقَدْ فَازَ المُتَّقُوْنَ

 

Hadirin jamaah shalat gerhana yang dimuliakan Allah!

Hari ini, sekali lagi Allah subhanahu wa ta’ala telah menunjukkan kebesaran-Nya kepada kita, dengan terjadinya gerhana matahari. Pertanda apakah ini? Tahukah kita, bahwa di zaman Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam hanya terjadi gerhana sekali?

 

‘Aisyah RA menuturkan, bahwa pada zaman Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam hanya terjadi gerhana sekali. Itu terjadi, persis setelah wafatnya putra Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, yaitu Sayyidina Ibrahim. Orang kemudian menghubung-hubungkan wafatnya putra Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam itu dengan gerhana yang terjadi, padahal keduanya tidak ada kaitannya. Karena itu, Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

إنَّ الشَّمْسَ وَالْقَمَرَ آيَتَانِ مِنْ آيَاتِ اللهِ لاَ تنْخَسِفَانِ لِمَوتِ أَحَدٍ، وَلاَ لِحَيَاتِهِ، فَإذَا رَأَيْتُمْ ذَلِكَ فَادْعُوا اللهَ وَكَبَّرُوْا وَصَلُّوْا وَتَصَدَّقُوْا

“Sesungguhnya matahari dan bulan adalah dua tanda di antara tanda-tanda kekuasaan Allah. Gerhana ini tidak terjadi karena kematian seseorang atau lahirnya seseorang. Jika kamu melihat gerhana tersebut, maka berdo’alah kamu kepada Allah, bertakbirlah kamu, kerjakanlah shalat, dan bersedekahlah.” [HR. Bukhari]

 

Hadirin jamaah shalat gerhana yang dimuliakan Allah!

Memang benar, gerhana adalah tanda-tanda kebesaran Allah, yang ditunjukkan kepada umat manusia, agar manusia menyadari siapa dirinya, bahwa sehebat apapun dia, dengan segala kekuasaan dan apapun yang dimilikinya, dia tetaplah manusia. Hanya kepada Allah, hendaknya manusia menyembah, dan mengabdikan dirinya. Bukan kepada yang lain, baik kepada sesama manusia, maupun kepada mahatari dan bulan. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:

وَمِنْ آيَاتِهِ اللَّيْلُ وَالنَّهَارُ وَالشَّمْسُ وَالْقَمَرُ ۚ لَا تَسْجُدُوا لِلشَّمْسِ وَلَا لِلْقَمَرِ وَاسْجُدُوا لِلَّهِ الَّذِي خَلَقَهُنَّ إِن كُنتُمْ إِيَّاهُ تَعْبُدُونَ

“Di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya adalah terjadinya malam dan siang, terbitnya matahari dan bulan. Maka, janganlah kalian sujud kepada matahari dan bulan, tetapi sujudlah kepada Allah, Dzat yang Menciptakan semuanya itu, jika kalian benar-benar hanya beribadah kepada-Nya.” (TQS Fushshilat [41]: 37)

 

Matahari dan bulan mempunyai orbitnya sendiri, dan berputar, seolah-olah terjadi secara alami dengan sendirinya. Padahal, semuanya itu tidak terjadi, kecuali atas kehendak dan pengaturan dari Allah subhanahu wa ta’ala. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:

وَالشَّمْسُ تَجْرِي لِمُسْتَقَرٍّ لَّهَا ۚ ذَٰلِكَ تَقْدِيرُ الْعَزِيزِ الْعَلِيمِ

“Matahari [juga bulan] itu berjalan mengikuti tempat orbitnya. Itu merupakan ketentuan Dzat yang Maha Perkasa lagi Maha Tahu.” (TQS Yasin [36]: 38)

 

Karena itu, terjadinya gerhana matahari dan bulan, sekali lagi adalah tanda-tanda kekuasaan Allah. Dengan kata lain, jika Allah berkehendak, kapan saja Allah subhanahu wa ta’ala bisa membolak-balik peredaran matahari dan bulan, dan bahkan menghentikannya.

 

Hadirin jamaah shalat gerhana yang dimuliakan Allah!

Gerhana matahari dan bulan bukan hanya tanda-tanda kekuasaan Allah biasa, tetapi juga merupakan tanda-tanda terjadinya Hari Kiamat. Ketika Hari Kiamat tiba nanti, salah satu tandanya adalah terjadi gerhana, sebagaimana firman Allah subhanahu wa ta’ala:  

يَسْأَلُ أَيَّانَ يَوْمُ الْقِيَامَةِ، فَإِذَا بَرِقَ الْبَصَرُ، وَخَسَفَ الْقَمَرُ، وَجُمِعَ الشَّمْسُ وَالْقَمَرُ، يَقُولُ الْإِنسَانُ يَوْمَئِذٍ أَيْنَ الْمَفَرُّ، كَلَّا لَا وَزَرَ، إِلَىٰ رَبِّكَ يَوْمَئِذٍ الْمُسْتَقَرُّ

“Ia berkata, “Bilakah Hari Kiamat itu?”, maka apabila mata terbelalak (ketakutan), dan apabila bulan telah hilang cahayanya, dan ketika matahari dan bulan dikumpulkan [mengalami gerhana], pada hari itu manusia berkata, “Ke manakah tempat berlari?” Sekali-kali tidak! Tidak ada tempat berlindung! Hanya kepada Tuhanmu sajalah pada hari itu tempat kembali.” (TQS al-Qiyamah [75]: 6-12).

 

Itulah mengapa, saat terjadinya gerhana, sikap yang ditunjukkan  Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah perasaan takut, gemetar, dan bergegas, sambil mengangkat jubahnya, menuju ke rumah Allah. Seolah-olah, langit dan bumi akan digulung, dan seolah Hari Kiamat telah tiba. Dalam riwayat Imam Al-Bukhari, dari Abu Musa al-Asy’ari RA, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

فَإِذَا رَأَيْتُمْ شَيْئًا مِنْ ذَلِكَ فَافْزَعُوا إِلَى ذِكْرِهِ وَدُعَائِهِ وَاسْتِغْفَارِهِ

Jika kalian melihat sesuatu dari gerhana itu, maka bersegeralah kalian dengan gemetar [penuh rasa takut] untuk mengingat-Nya, berdoa kepada-Nya dan meminta ampun kepada-Nya.” (HR. Bukhari, Shahih al-Bukhari, Juz IV/184)

 

Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda:

وَاللَّهِ لَوْ تَعْلَمُونَ مَا أَعْلَمُ لَضَحِكْتُمْ قَلِيلاً وَلَبَكَيْتُمْ كَثِيرًا

“Demi Allah, jika kalian mengetahui yang aku ketahui, niscaya kalian akan sedikit tertawa dan banyak menangis.” (HR Bukhari, no. 1044; Muslim, no 901).

 

Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam telah ditunjukkan oleh Allah subhanahu wa ta’ala betapa dahsyatnya huru-hara Hari Kiamat nanti, karena itu Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam pun banyak menangis, meski pun Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam telah diampuni segala kesalahannya, baik yang telah, sedang maupun yang akan datang, tetapi Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam tetap memohon ampunan tak kurang dari 100 kali dalam sehari semalam. Air mata Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam pun tumpah, hingga membasahi lantai, untuk meminta ampunan dari Rabb-nya.

 

Padahal,  Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam telah mengemban risalah-Nya dengan sempurna, menunaikan amanah, memberikan nasihat kepada umatnya, berdakwah dan berjihad sepanjang hayatnya. Lalu bagaimanakah dengan kita? Apa yang sudah kita lakukan untuk umat ini?

 

Apakah kita sudah mengemban dakwah, yang merupakan risalah  Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, dengan segala tantangannya? Kalaupun sudah, apakah kita sudah pernah mengalami cercaan dan hinaan ketika mengemban dakwah seperti yang dialami oleh Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam?  Sudah pernahkah kita mengalami gangguan fisik saat kita mengemban dakwah, seperti yang dialami Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam saat beliau bergegas keluar dari Thaif kemudian orang-orang bodoh Thaif melempari beliau dengan batu? Berapa buah batukah yang sudah merajam tubuh kita saat kita mengemban dakwah?

 

Apakah kita juga sudah memberi nasihat kepada umat, termasuk para pemimpinnya seperti yang dilakukan oleh Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam?  Ataukah kita justru takut dan gentar, lalu tidak memberi nasihat kepada umat, tidak memberi nasihat kepada pemimpinnya, ketika kita menghadapi pemimpin yang zalim dan kejam seperti sekarang, yang sangat anti kepada Syariah kaffah, yang sangat tega melakukan kriminalisasi kepada para pengemban dakwah yang ikhlas?

 

Apakah kita juga sudah berjihad, sebagaimana  Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam? Apakah kita sudah pernah mengalami luka-luka dalam berjihad, seperti yang pernah dialami Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam Perang Uhud misalnya? Sungguh, Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam mengalami luka yang cukup serius di Perang Uhud ini. Gigi beliau patah, bibir bawahnya dan keningnya robek, dua mata besi telah masuk melukai pipi beliau yang mulia, yang kemudian dicabut oleh Abu Ubaidah bin Jarrah dengan giginya hingga copot karena sangat dalamnya besi tersebut menancap pada wajah beliau. Sudahkah kita pernah berjihad seperti ini? Sudahkah? Ataukah kita justru kita menjadi pengecut dan penakut ketika penguasa yang sekuler menghapuskan kurikulum jihad dari sistem pendidikan kita?

 

Sesungguhnya kita harus melakukan muhasabah terhadap kita sendiri. Mungkin saja selama ini kita kurang serius dalam mengemban dakwah dan risalah Islam. Mungkin juga kita tak pernah memberi nasihat kepada umat, termasuk para pemimpinnya, karena alasan takut rezeqi akan macet atau takut ajal kita segera sampai kalau kita menasehati pemimpin yang zalim. 

 

Apatah lagi berjihad, mungkin kita belum pernah terjun sekali pun dalam medan jihad sebagaimana Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam.

 

Sikap lalai dalam menjalankan amanah mengemban dakwah, menasehati umat, dan berjihad seperti ini, semuanya ini sungguh dapat menghalangi kita untuk dapat masuk surga-Nya, dan justru dapat menyeret kita masuk ke neraka-Nya. Betapa berat hisab kita kelak di hadapan-Nya.

 

Yang lebih parah lagi, kita mungkin belum merasa bersalah, sehingga oleh karenanya, kita belum pernah bersungguh-sungguh memohon ampunan dari-Nya, menginsafi dan menyesali kelemahan, kesalahan, dan dosa kita. Kita mungkin belum pula berkomitmen untuk tak mengulangi semua kesalahan itu.

 

Wahai kaum Muslimin, jamaah sholat gerhana yang dirahmati Allah, maka inilah saatnya!

Bersegeralah untuk mendapatkan ampunan Tuhanmu, dan menggapai surga-Nya, yang luasnya seluas langit dan bumi. Firman Allah subhanahu wa ta’ala:

وَسَارِعُوْٓا اِلٰى مَغْفِرَةٍ مِّنْ رَّبِّكُمْ وَجَنَّةٍ عَرْضُهَا السَّمٰوٰتُ وَالْاَرْضُۙ اُعِدَّتْ لِلْمُتَّقِيْنَۙ

“Dan bersegeralah kamu mencari ampunan dari Tuhanmu dan mendapatkan surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan bagi orang-orang yang bertakwa.” (TQS Ali ‘Imran [3]: 133).

 

Laksanakanlah amanah mengemban dakwah dengan sungguh-sungguh, tegakkanlah nasehat kepada umat dan kepada para pemimpin yang zalim yang menyimpang dari syariah Allah! Bersiaplah kalian untuk terjun ke dalam medan jihad fi sabililah, jika saatnya tiba kelak ketika Amirul Mukminin dalam negara Khilafah menyerukannya!

 

Segera tolonglah Allah dan Rasul-Nya. Tolonglah agama-Nya. Tolonglah para pejuang yang memperjuangkan tegaknya agama-Nya agar tegak di muka bumi ini dengan kaffah (tegak secara keseluruhan), termasuk para pejuang yang memperjuangkan tegaknya syariah dan Khilafah.

 

Dengan cara seperti itulah, Allah subhanahu wa ta’ala benar-benar akan memberikan ampunan kepada kita. Itulah yang akan meringankan hisab kita di hadapan-Nya, di suatu hari yang ketika anak, harta dan jabatan tak lagi berguna bagi kita. Fafirru ila-Llah! Berlarilah, segeralah menemui Allah! []

 

 

بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ, وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ, وَتَقَبَّلَ مِنِّيْ وَمِنْكُمْ تِلاَوَتَهُ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَاسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ فَاسْتَغْفِرُوْهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ

 

 

KHUTBAH KEDUA

الحمد لله الذي أَرْسَلَ رَسُولَهُ بِالْهُدَىٰ وَدِينِ الْحَقِّ لِيُظْهِرَهُ عَلَى الدِّينِ كُلِّهِ. اَلْحَمْدُ للهِ الَّذِيْ كَرَّمَ هَذهِ اِ مُةَّ بِشَريِعْتَهِ اِلكْاَملِة،ِ وخَصَّ بهِاَ بنِبُوُةِّ نَبِيِّهِ اِلْكَرِيِمَةِ

 

اَشْهَدُ اَنَّ لاَ اِلَهَ اِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ اَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ لاَ نَبِيَا بَعْدَهُ، اَرْسَلَهُ بِرِسَالَتِهِ الْقُدْسِيَّةِ وَاَحْكَامِهِ الشَّرِيْفَةِ لِمُعَالَجَةِ كُلِّ مُشْكِلَةِ الْحَيَاةِ

وَصَلَّى اللهُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى اَلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ

 

فَيَا اَيُّهاَ الْمُؤْمِنُوْنَ، تَمَسَّكوا بِاْلإِسْلاَمِ فِي كُلِّ حِيْنٍ، وَ اتَّقُوْا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَ لاَ تَمُوْتُنَّ إِلاَّ وَ أَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ. اَمَّا بَعْدُ: فَيَا عِبَادَ اللهِ، أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ وَإِيَّايَ بِتَقْوَى اللهِ فَقَدْ فَازَ المُتَّقُوْنَ

 

Mari kita berdoa kepada Allah subhanahu wa ta’ala:

بِسْـمِ اللهِ الرَحْمٰنِ الرَحِيْمِ، اَلحَمْدُ ِللهِ رَبِّ اْلعَالَمِيْنَ، حَمْدًا يُوَافِى نِعَمَهُ، وَيُـدَافِعُ نِقَمَهُ وَيُكَافِئ مَزِيْدَهُ يَارَبَّـنَا لَكَ الحَمْدُ كَمَا يَنْبَغِى لِجَلاَلِ وَجْهِكَ وَعَظِيْمِ سُـلْطَانِك

اللَّهُمَّ يَارَبِّ، زَلَّتْ بِنَا الأَقْدَامُ، وَغَرِقْنَا فِي لُجَجِ الْمَعَاصِي وَالآثامِ، وَإِنّا مُقِرُّونَ بِالإِسَاءَةِ عَلَى أَنْفُسِنَا، نَرْجُو عَظِيمَ عَفْوِكَ الّذِي عَفَوْتَ بِهِ عَنْ الْخَاطِئِينَ، وَها نَحْنُ بِبابِكَ وَاقِفُونَ، وَمِنْ عَذَابِكَ خَائِفُونَ، وَلِثَوابِكَ مُؤَمِّلُونَ.. قَدْ تَعَرَّضْناَ لِعَفْوِكَ وَثَوابِكَ، فَارْحَمْ خُضُوعَنا، وَاجْبُرْ قُلُوبَنا، وَاغْفِرْ ذُنُوبَنا، وَتُبْ عَلَيْنا

اللَّهُمَّ اخْتِمْ لنا بالِصّالِحاتِ أَعْمالَنا، وَعافِنا وَاعْفُ عَنّا وَسامِحْنا، وَتَجاوَزْ عَنْ سَيّئاتِنا، وَأَبْدِلْ سَيِّئاتِنا حَسَناتٍ، فَأَنْتَ وَلِّي ذَلِكَ وَالقَّادِرُ عَلَيْهِ، وَأَنْتَ أَهْلُ التَّقْوَى وَأَهْلُ الْمَغْفِرَةِ. اللَّهُمَّ قَدْ دَعَوْناكَ طالِبِينَ، وَرَجَوْناكَ رَاغِبِينَ فَلاَ تَرُدَّنا خَائِبِينَ وَلاَ مَحْرُومِينَ يا أَرْحَمَ الرَّاحِمِينَ

 

رَبّنأ اغْفِرْ لنا وَلِوَالِدَينا وَلِلْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ وَلِلْمُسْلِمِينَ وَالْمُسْلِمَاتِ الأَحْياءِ مِنْهُمْ وَالأَمْوَاتِ. اللَّهُمَّ تَقَبَّلْ مِنَّا صَالِحَ الأَعْمَالِ وَاجْعَلهَا خَالِصةً لِوَجْهِكَ الكَرِيمِ

ربَنَّاَ ظَلمَنْاَ أنَفْسُناَ، واِنْ لمْ تَغَفْرِلْنَاَ وتَرَحْمنْاَ، لَنَكُوْنَناَّ مِنَ الْخاَسِريِنَ،

رَبَّنَا لاَ تُؤَاخِذْنَا اِنْ نَسِيْنَا اَوْ اَخْطَأْنِا، رَبَّنَا وَلاَ تَحْمِلْ عَلَيْنَا اِصْرًا كَمَا حَمَلْتَهُ عَلَى الَّذِيْنَ مِنْ قَبْلِنَا، رَبَّنَا وَلاَ تُحَمِّلْنَا مَا لاَ طَاقَةَ لَنَا بِهِ، وَاعْفُوْا عَنَّا، وَاغْفِرْ لَنَا، وَارْحَمْنَا، اَنْتَ مَوْلاَنَا وَانْصُرْنَا عَلَى الْقَوْمِ الْكَافِرِيْنَ

رَبَّنَا آتِنَا فِيْ الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِيْ اْلآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ، ربنا تقَبَّلْ منِاَّ وَاسْتَجِبْ دُعَائنَاَ إِنَّكَ أَنْتَ السَّمِيْع العْلَيِمْ وَتُبْ عَلَيْنَا إِنَّكَ اَنْتَ التَّوَّابُ الرَّحِيْمُ

وَسُبْحَانَكَ رَبِّ الْعِزَّةِ عَمَّا يَصِفُوْنَ، وَسَلامٌ عَلَى الْمُرْسَلِيْنَ، وَالْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ

 

وَالسَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ

SebelumnyaKekejaman Israel Tak Bisa Dihentikan Hanya dengan KecamanSesudahnyaBuah Ramadhan: Taat Syariah
No Comments

Tulis komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *