• “Sesungguhnya yang memakmurkan masjid Allah hanyalah orang-orang yang beriman kepada Allah dan hari akhir, serta (tetap) menegakkan shalat, menunaikan zakat dan tidak takut kecuali hanya kepada Allah. Maka mudah-mudahan mereka termasuk orang-orang yang mendapat petunjuk.” At-Taubah: 18
Friday, 14 June 2024

Kembali Fitrah, Kembali ke Syariah

Kembali Fitrah, Kembali ke Syariah
Bagikan
dmdi-logo-warna

KEMBALI FITRAH, KEMBALI KE SYARIAH

KHUTBAH PERTAMA

 

إنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ, نَحْمَدُهُ, وَنَسْتَعِينُهُ, وَنَسْتَغْفِرُهُ, وَنَعُوذُ بِاللَّهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا, وَسَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا

مَنْ يَهْدِهِ اللَّهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ, وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ,

أَشْهَدُ أَنْ لاَ اِلَهَ اِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لَاشَرِيْكَ لَهُ، شَهَادَةَ مَنْ هُوَ خَيْرٌ مَّقَامًا وَأَحْسَنُ نَدِيًّا.

 وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا محَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الْمُتَّصِفُ بِالْمَكَارِمِ كِبَارًا وَصَبِيًّا.

 اَللَّهُمَّ فَصَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَانَ صَادِقَ الْوَعْدِ وَكَانَ رَسُوْلاً نَبِيًّا، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ الَّذِيْنَ يُحْسِنُوْنَ إِسْلاَمَهُمْ وَلَمْ يَفْعَلُوْا شَيْئًا فَرِيًّا،

 أَمَّا بَعْدُ، فَيَا أَيُّهَا الْحَاضِرُوْنَ رَحِمَكُمُ اللهُ، اُوْصِيْنِيْ نَفْسِيْ وَإِيَّاكُمْ بِتَقْوَى اللهِ، فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ.

قَالَ اللهُ تَعَالَى :

 ثُمَّ جَعَلْنٰكَ عَلٰى شَرِيْعَةٍ مِّنَ الْاَمْرِ فَاتَّبِعْهَا وَلَا تَتَّبِعْ اَهْوَاۤءَ الَّذِيْنَ لَا يَعْلَمُوْنَ ‏

(QS al-Jasiyah [45]: 18)

 

Alhamdulillah, puji syukur kepada Allah subhanahu wa ta’ala atas limpahan rahmat dan barakahnya sehingga di siang hari ini, hari yang mulia, kita bisa berkumpul di tempat yang mulia, bersama dengan orang-orang yang insyaallah dimuliakan oleh Allah, bisa melaksanakan kewajiban shalat Jumat berjamaah. Shalawat serta salam semoga tercurah kepada junjungan alam Nabi Akhir Zaman Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

 

Bertakwalah kepada Allah, kapan pun dan di mana pun kita berada. Hanya dengan takwa, kita akan selamat mengarungi dunia dan mendapatkan tempat yang baik di akhirat kelak

 

Hadirin jamaah jumah rahimakumullah,

Baru saja Ramadhan meninggalkan kita. Semoga kita semua bisa bertemu kembali dengan bulan yang penuh berkah itu lagi. Aamiin.

Ramadhan mengajari kita ketaatan hakiki. Tanpa mempertimbangkan manusia, kita taat kepada Allah. Puasa sejak terbit fajar hingga terbenam matahari. Kita tak berani berbuka sebelum matahari terbenam, karena kita tahu itu sebuah larangan. Haram.

 

Kita tak berani berbuat zalim, menyakiti orang lain, menggunjing, apalagi memfitnah, karena kita tahu bahwa itu adalah tindakan yang akan mengurangi bahkan bisa menghapus pahala puasa kita.

Kita begitu taat, karena kita takut kepada Allah. Kita tahu batas-batas ketentuan Allah subhanahu wa ta’ala, yang kita tak berani melanggarnya. Tak ada Muslim yang berani mengatakan bahwa puasa akan membawa kerusakan organ tubuh manusia. Sebaliknya, banyak manusia bilang banyak hikmah positif di balik pelaksanaan puasa.

 

Hadirin jamaah jumah rahimakumullah,

Muncul pertanyaan, kalau puasa kita bisa taat, tak berani melanggar batas-batas atau ketentuan Allah subhanahu wa ta’ala, kenapa di luar itu kita tak mau taat? Kita turuti hawa nafsu kita sendiri. Bahkan ada yang lancang membuat aturan hidup sendiri, di luar aturan Allah.

 

Ketahuilah, manusia itu lemah. Tak tahu banyak. Biasanya manusia menilai sesuatu dari dampaknya, apakah mendatangkan manfaat atau madarat (dharar). Jika sesuatu dinilai bermanfaat, ia akan disebut baik (khayr). Sebaliknya, jika sesuatu dinilai mendatangkan madarat, ia akan disebut buruk (syarr)

 

Bila standar sesuatu hanya atas dasar hawa nafsu manusia, maka tidak ada kebenaran yang hakiki. Bisa saja hari ini sesuatu itu baik, karena manfaatnya banyak, di masa berikutnya sesuatu itu dianggap buruk karena madaratnya lebih banyak.

 

Penggunaan standar hawa nafsu manusia untuk menilai baik-buruk sesuatu sangat berbahaya. Pasalnya, kadangkala manusia membenci sesuatu yang sejatinya baik. Sebaliknya, acapkali manusia menyukai sesuatu yang sejatinya malah buruk. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:

وَعَسٰٓى اَنْ تَكْرَهُوْا شَيْـًٔا وَّهُوَ خَيْرٌ لَّكُمْ ۚ وَعَسٰٓى اَنْ تُحِبُّوْا شَيْـًٔا وَّهُوَ شَرٌّ لَّكُمْ ۗ وَاللّٰهُ يَعْلَمُ وَاَنْتُمْ لَا تَعْلَمُوْنَ

Boleh jadi kalian membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagi kalian. Boleh jadi pula kalian menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagi kalian. Allah mengetahui, sedangkan kalian tidak mengetahui (TQS al-Baqarah [2]: 216).

 

Hadirin jamaah jumah rahimakumullah,

Sesungguhnya, manusia tidak akan bisa menilai secara hakiki dampak manfaat maupun madarat sesuatu.  Bisanya hanya mengira-ngira. Makanya ini sangat berbahaya bagi manusia dan berisiko buruk untuk kehidupan. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:

وَلَوِ اتَّبَعَ الْحَقُّ اَهْوَاۤءَهُمْ لَفَسَدَتِ السَّمٰوٰتُ وَالْاَرْضُ وَمَنْ فِيْهِنَّۗ بَلْ اَتَيْنٰهُمْ بِذِكْرِهِمْ فَهُمْ عَنْ ذِكْرِهِمْ مُّعْرِضُوْنَ ۗ

Andai kebenaran itu mengikuti hawa nafsu mereka, pasti rusaklah langit dan bumi serta siapa saja yang ada di dalamnya. Akan tetapi, Kami telah mendatangkan peringatan kepada mereka (Al-Qur’an), lalu mereka berpaling dari peringatan itu (TQS al-Mu’minun [23]: 71).

 

Hadirin jamaah jumah rahimakumullah,

Ramadhan mengajarkan kepada kita standar Allah. Standar itu bersifat pasti untuk menilai baik-buruknya sesuatu. Standar tersebut tidak lain adalah halal dan haram. Sesuatu yang menurut Islam halal, pasti baik (khayr). Sebaliknya, sesuatu yang menurut Islam haram, pasti buruk (syarr). Tanpa melihat lagi, apakah sesuatu itu bermanfaat ataukah mendatangkan madarat menurut pandangan manusia.

 

Ketahuilah, ketentuan halal dan haram ini tak hanya dalam masalah puasa. Allah turunkan Al-Qur’an untuk menjelaskan segala sesuatu. Bagaimana mungkin kita mengabaikannya sementara kita mengaku bertakwa? Padahal kita diperintahkan oleh Allah subhanahu wa ta’ala untuk mengambil semuanya, tanpa memilah dan memilihnya.

ثُمَّ جَعَلْنٰكَ عَلٰى شَرِيْعَةٍ مِّنَ الْاَمْرِ فَاتَّبِعْهَا وَلَا تَتَّبِعْ اَهْوَاۤءَ الَّذِيْنَ لَا يَعْلَمُوْنَ

Kemudian Kami menjadikan kamu berada di atas suatu syariah (peraturan) dari urusan (agama itu). Karena itulah ikutilah syariah itu dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu orang-orang yang tidak tahu (QS al-Jasiyah [45]: 18).

 

Hadirin jamaah jumah rahimakumullah,

Kita perlu merenungkan kembali siapa kita, fitrah kita. Dari mana kita? Untuk apa kita hidup di dunia ini? Dan ke mana kita setelah mati?

 

Kita adalah makhluknya Allah subhanahu wa ta’ala. Kita hidup di dunia, tempat asing dan tempat kita tinggal sementara. Allah subhanahu wa ta’ala menurunkan tuntunan bagaimana kita hidup di dunia ini, sekaligus mengutus Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk memberi contoh bagaimana menjalani dan mengatur kehidupan  dunia ini, baik secara individual, masyarakat, dan negara. Siapa yang hidup sesuai tuntutan Allah dan Rasul-Nya, mereka akan selamat di dunia dan akhirat. Sebaliknya, siapa yang ingkar dan menentang aturan-Nya, siksa akhirat layak sebagai balasannya.

 

Maka, pasca Ramadhan semestinya melahirkan orang-orang yang rindu penerapan syariah secara kaffah dalam seluruh aspek kehidupan; membentuk jiwa-jiwa yang kokoh dalam memegang Islam; dan mengobarkan semangat berjuang bagi izzul islam wal muslimin.

Ingatlah firman Allah subhanahu wa ta’ala:

اَلْحَقُّ مِنْ رَّبِّكَ فَلَا تَكُوْنَنَّ مِنَ الْمُمْتَرِيْنَ

Kebenaran itu adalah dari Tuhanmu, sebab itu jangan sekali-kali kamu termasuk orang-orang yang ragu. (QS Al Baqarah [2]: 147)

[]

 

 

 

بَارَكَ الله لِي وَلَكُمْ فِى اْلقُرْآنِ اْلعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِي وَإِيَّاكُمْ بِمَافِيْهِ مِنَ الْآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيمِ وَتَقَبَّلَ اللهُ مِنَّا وَمِنْكُمْ تِلاَوَتَهُ وَإِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ العَلِيْمُ، وَأَقُوْلُ قَوْلِي هَذَا فَأسْتَغْفِرُ اللهَ العَظِيْمَ إِنَّهُ هُوَ الغَفُوْرُ الرَّحِيْم

 

 

Khutbah II

اَلْحَمْدُ للهِ عَلىَ إِحْسَانِهِ وَالشُّكْرُ لَهُ عَلىَ تَوْفِيْقِهِ وَاِمْتِنَانِهِ. وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ اِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَاللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الدَّاعِى إلىَ رِضْوَانِهِ. اللهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وِعَلَى اَلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَسَلِّمْ تَسْلِيْمًا كِثيْرًا

 

أَمَّا بَعْدُ فَياَ اَيُّهَا النَّاسُ اِتَّقُوااللهَ فِيْمَا أَمَرَ وَانْتَهُوْا عَمَّا نَهَى وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ بَدَأَ فِيْهِ بِنَفْسِهِ وَثَـنَى بِمَلآ ئِكَتِهِ الْمُسَبِّحَةِ بِقُدْسِهِ وَقَالَ تَعاَلَى إِنَّ اللهَ وَمَلآئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلىَ النَّبِى يآ اَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا. اللهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلِّمْ وَعَلَى آلِ سَيِّدِناَ مُحَمَّدٍ وَعَلَى اَنْبِيآئِكَ وَرُسُلِكَ وَمَلآئِكَةِ اْلمُقَرَّبِيْنَ وَارْضَ اللّهُمَّ عَنِ اْلخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ أَبِى بَكْرٍ وَعُمَر وَعُثْمَان وَعَلي وَعَنْ بَقِيَّةِ الصَّحَابَةِ وَالتَّابِعِيْنَ وَتَابِعِي التَّابِعِيْنَ لَهُمْ بِاِحْسَانٍ اِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ وَارْضَ عَنَّا مَعَهُمْ بِرَحْمَتِكَ يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ

 

اَللهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَاْلمُؤْمِنَاتِ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَاْلمُسْلِمَاتِ اَلاَحْيآء مِنْهُمْ وَاْلاَمْوَاتِ اللهُمَّ أَعِزَّ اْلإِسْلاَمَ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَأَذِلَّ الشِّرْكَ وَاْلمُشْرِكِيْنَ وَانْصُرْ عِبَادَكَ اْلمُوَحِّدِيْنَ وَانْصُرْ مَنْ نَصَرَ الدِّيْنَ وَاخْذُلْ مَنْ خَذَلَ اْلمُسْلِمِيْنَ وَ دَمِّرْ أَعْدَاءَ الدِّيْنِ وَاعْلِ كَلِمَاتِكَ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ. اللهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا اْلبَلاَءَ وَاْلوَبَاءَ وَالزَّلاَزِلَ وَاْلمِحَنَ وَسُوْءَ اْلفِتْنَةِ وَاْلمِحَنَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ عَنْ بَلَدِنَا اِنْدُونِيْسِيَّا خآصَّةً وَسَائِرِ اْلبُلْدَانِ اْلمُسْلِمِيْنَ عآمَّةً يَا رَبَّ اْلعَالَمِيْنَ. رَبَّنَا آتِناَ فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِى اْلآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ. رَبَّنَا ظَلَمْنَا اَنْفُسَنَا وَاإنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُوْنَنَّ مِنَ اْلخَاسِرِيْنَ.

 عِبَادَاللهِ ! إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِاْلعَدْلِ وَاْلإِحْسَانِ وَإِيْتآءِ ذِي اْلقُرْبىَ وَيَنْهَى عَنِ اْلفَحْشآءِ وَاْلمُنْكَرِ وَاْلبَغْي يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ وَاذْكُرُوا اللهَ اْلعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوْهُ عَلىَ نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرْ

SebelumnyaIdul Fitri dan Keniscayaan Perubahan ke Arah IslamSesudahnyaMerekatkan Kembali Ukhuwah Islamiyah
No Comments

Tulis komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *