ISTIQOMAH DI JALAN DAKWAH

 

KHUTBAH PERTAMA

إنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ, نَحْمَدُهُ, وَنَسْتَعِينُهُ, وَنَسْتَغْفِرُهُ, وَنَعُوذُ بِاللَّهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا, وَسَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا

مَنْ يَهْدِهِ اللَّهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ, وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ,

أَشْهَدُ أَنْ لاَ اِلَهَ اِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لَاشَرِيْكَ لَهُ، شَهَادَةَ مَنْ هُوَ خَيْرٌ مَّقَامًا وَأَحْسَنُ نَدِيًّا.

 وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا محَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الْمُتَّصِفُ بِالْمَكَارِمِ كِبَارًا وَصَبِيًّا.

 اَللَّهُمَّ فَصَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَانَ صَادِقَ الْوَعْدِ وَكَانَ رَسُوْلاً نَبِيًّا، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ الَّذِيْنَ يُحْسِنُوْنَ إِسْلاَمَهُمْ وَلَمْ يَفْعَلُوْا شَيْئًا فَرِيًّا،

 أَمَّا بَعْدُ، فَيَا أَيُّهَا الْحَاضِرُوْنَ رَحِمَكُمُ اللهُ،

 اُوْصِيْنِيْ نَفْسِيْ وَإِيَّاكُمْ بِتَقْوَى اللهِ، فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ.

قَالَ اللهُ تَعَالَى :

فَاصْبِرْ كَمَا صَبَرَ أُولُو الْعَزْمِ مِنَ الرُّسُلِ وَلاَ تَسْتَعْجِلْ لَهُمْ

Bersabarlah kamu seperti para rasul yang mempunyai keteguhan hati dan janganlah tergesa-gesa atas mereka

 (TQS al-Ahqaf [46]: 35).

 

Ikhwani fiddin a’azzaniyallahu waiyyakum,

Bertakwalah kepada Allah dengan sebenar-benarnya ketakwaan. Dengan begitu, kita akan semakin mampu berpegang teguh dengan agama-Nya. Sehingga kita akan mendapatkan kebahagiaan di dunia maupun di akhirat kelak.

Jamaah yang dimuliakan oleh Allah ……..

Kaum Muslim di negeri ini terus saja menghadapi ujian demi ujian. Beberapa hari yang lalu, ada seorang tokoh yang berani menyebut konde lebih indah daripada cadar, dan kidung/nyanyiannya lebih bagus dari lantunan adzan.

Di Papua, saudara-saudara Muslim kita dijegal untuk membangun menara masjid, padahal pembangunan masjid beserta seluruh rencananya sudah mendapat legalitas dan memenuhi perizinan pemerintah setempat.

Peristiwa demi peristiwa ini menambah deretan ujian kesulitan umat Islam di negeri ini,  negeri yang mayoritas Muslim. Bagaimana mungkin, Muslim yang mayoritas malah terus menerus dizalimi dan dipersekusi? Umat Islam selalu ditekan, dituduh sebagai teroris, radikal, fundamentalis, sumber kerusakan, tidak beradab, barbar, anti kemajuan, anti kebhinekaan, dan sebagainya.

Jamaah yang dirahmati Allah ….

Di bulan suci Rajab ini, kita jadi teringat dengan peristiwa yang dialami Nabi SAW dan para sahabatnya sebelum peristiwa Isra’ Mi’raj. Ujian demi ujian dialami Nabi dan Sahabat karena dakwah mereka.

Karena dakwah, mereka disiksa, dipukuli, dijemur di bawah terik matahari, dilempari batu dan kotoran ternak. Di antara mereka bahkan ada yang meninggal karena siksaan. Beliau juga berhadapan dengan propaganda buruk, kampanye hitam dan pembunuhan karakter. Beliau dicap sebagai dukun, orang gila, atau tukang sihir. Risalah Islam pun dicap sebagai syair masa lalu dan jiplakan dari perkataan seorang Nasrani.

Kehidupan mereka dipersempit. Lapangan pekerjaan mereka dipersulit. Perdagangan mereka dirusak. Harta kekayaan mereka dirampas. Beliau bersama kaum Muslim dan kerabat dekat beliau dari Bani Hasyim dan Bani Abdul Muthalib bahkan diboikot. Mereka tidak bisa berjual beli. Mereka tidak disapa. Sapaan mereka tidak dijawab. Mereka tidak dinikahi dan tidak bisa menikahi. Persediaan bahan makanan menjadi sangat sulit. Kelaparan luar biasa mendera mereka.

Mereka diperlakukan seperti itu bukan karena kejahatannya. Karena mereka semua adalah orang yang dikenal baik budi pekertinya, dan tokoh-tokoh terpandang. Mereka dimusuhi oleh orang kafir karena dakwah, karena menyampaikan ajaran Islam.

Jamaah rahimakumullah …

Berbagai penderitaan dan siksaan itu dijalani oleh Rasulullah SAW dan para sahabat dengan penuh kesabaran sebagaimana yang Allah perintahkan:

فَاصْبِرْ كَمَا صَبَرَ أُولُو الْعَزْمِ مِنَ الرُّسُلِ وَلاَ تَسْتَعْجِلْ لَهُمْ

Bersabarlah kamu seperti para rasul yang mempunyai keteguhan hati dan janganlah tergesa-gesa atas mereka (TQS al-Ahqaf [46]: 35).

Rasul saw. dan para sahabat terus melanjutkan perjuangan dengan penuh kesabaran dan keyakinan, bahwa suatu saat pertolongan Allah pasti datang. Beliau tetap istiqamah. Beliau tidak kepincut untuk bersikap pragmatis meskipun penderitaan dan siksaan terus mendera.

Bahkan beliau menolak berbagai tawaran Quraisy yang sangat menggiurkan. Tawaran Quraisy untuk menjadi orang paling kaya, menjadi raja, dan tanpa persetujuan beliau Quraisy tidak akan melakukan apapun, beliau tolak.

Rasul SAW tidak bersiasat—atas nama ‘strategi’ dakwah—menerima tawaran itu demi menerapkan Islam. Beliau malah meningkatkan intensitas seruan dan perjuangannya meski konsekuensinya siksaan dan penderitaan semakin keras menimpa beliau dan para sahabat.

Begitu lepas dari pemboikotan, paman Nabi SAW, Abu Thalib, meninggal. Dua atau tiga bulan kemudian istri beliau, Khadijah, yang selama ini menjadi penunjang semangat dan dana bagi dakwah beliau, juga wafat. Beliau pun sangat berduka. Di tengah-tengah kedukaan ini, siksaan dan perilaku buruk kaum Quraisy terhadap beliau dan para sahabat justru bertambah ganas.

Lalu apakah beliau dan sahabat menyerah? Tidak. Justru beliau bertambah semangat mendakwahkan Islam, dan tak mencari muka atau berbasa-basi dengan orang kafir Quraisy, hingga akhirnya Allah menolong Nabi SAW dan sahabat. Di kondisi paling sulit inilah, Nabi di-Isra’Mi’raj-kan oleh Allah SWT. Pertolongan itu pun datang setelah peristiwa tersebut. Mulai dari baiat aqabah pertama dan kedua, di mana dakwah ini diterima oleh orang-orang Anshar.

Jamaah yang mengharap ridha Allah …

Dalam kondisi sekarang, ketika dakwah menghadapi ujian, tidak ada jalan lain bagi kita kecuali meneladani Rasul saw. dan para sahabat. yakni tetap sabar dan istiqamah di jalan dakwah. Sikap itulah yang akan mengundang datangnya pertolongan Allah SWT.

Oleh karena itu, kita harus terus menyerukan Islam kepada masyarakat. Kita harus tetap mendorong mereka menerapkan syarah Islam secara kâffah untuk mengatur kehidupan. Kita harus tetap berpegang teguh dengan ide dan metode Islam. Kita tidak boleh menoleh ke ide, metode,  solusi dan sistem selain Islam. Kita harus membuang semua yang tidak berasal dari Islam seperti sekularisme, demokrasi, HAM, liberalisme, sosialisme, dll.

Kita tidak boleh bersikap pragmatis. Pasalnya, Rasul saw. pun tidak pernah bersikap pragmatis, baik dengan alasan ‘strategi’, ‘kemaslahatan’ atau alasan apapun. Beliau tetap istiqamah berpegang pada fikrah (ide) dan tharîqah (metode) Islam.

Karena itu kita pun harus tetap istiqamah dan berpegang teguh hanya dengan Islam. Hendaklah kita selalu ingat akan peringatan Allah SWT:

فَلْيَحْذَرِ الَّذِينَ يُخَالِفُونَ عَنْ أَمْرِهِ أَنْ تُصِيبَهُمْ فِتْنَةٌ أَوْ يُصِيبَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ

Hendaklah orang-orang yang menyalahi perintah (ketentuan) Rasul takut akan ditimpa cobaan atau ditimpa azab yang pedih (TQS an-Nur [24]: 63).

Hendaklah kita harus selalu yakin, jika kita tetap sabar dan istiqamah, insya Allah—tidak lama lagi—pertolongan Allah SWT pasti datang.

[]

بَارَكَ الله لِي وَلَكُمْ فِى اْلقُرْآنِ اْلعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِي وَإِيَّاكُمْ بِمَافِيْهِ مِنْ آيَةِ وَذِكْرِ الْحَكِيْمِ وَتَقَبَّلَ اللهُ مِنَّا وَمِنْكُمْ تِلاَوَتَهُ وَإِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ العَلِيْمُ، وَأَقُوْلُ قَوْلِي هَذَا فَأسْتَغْفِرُ اللهَ العَظِيْمَ إِنَّهُ هُوَ الغَفُوْرُ الرَّحِيْم

Khutbah II

اَلْحَمْدُ للهِ عَلىَ إِحْسَانِهِ وَالشُّكْرُ لَهُ عَلىَ تَوْفِيْقِهِ وَاِمْتِنَانِهِ. وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ اِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَاللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الدَّاعِى إلىَ رِضْوَانِهِ. اللهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وِعَلَى اَلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَسَلِّمْ تَسْلِيْمًا كِثيْرًا

أَمَّا بَعْدُ فَياَ اَيُّهَا النَّاسُ اِتَّقُوااللهَ فِيْمَا أَمَرَ وَانْتَهُوْا عَمَّا نَهَى وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ بَدَأَ فِيْهِ بِنَفْسِهِ وَثَـنَى بِمَلآ ئِكَتِهِ بِقُدْسِهِ وَقَالَ تَعاَلَى إِنَّ اللهَ وَمَلآئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلىَ النَّبِى يآ اَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا. اللهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلِّمْ وَعَلَى آلِ سَيِّدِناَ مُحَمَّدٍ وَعَلَى اَنْبِيآئِكَ وَرُسُلِكَ وَمَلآئِكَةِ اْلمُقَرَّبِيْنَ وَارْضَ اللّهُمَّ عَنِ اْلخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ أَبِى بَكْرٍ وَعُمَر وَعُثْمَان وَعَلِى وَعَنْ بَقِيَّةِ الصَّحَابَةِ وَالتَّابِعِيْنَ وَتَابِعِي التَّابِعِيْنَ لَهُمْ بِاِحْسَانٍ اِلَىيَوْمِ الدِّيْنِ وَارْضَ عَنَّا مَعَهُمْ بِرَحْمَتِكَ يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ

اَللهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَاْلمُؤْمِنَاتِ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَاْلمُسْلِمَاتِ اَلاَحْيآءُ مِنْهُمْ وَاْلاَمْوَاتِ اللهُمَّ أَعِزَّ اْلإِسْلاَمَ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَأَذِلَّ الشِّرْكَ وَاْلمُشْرِكِيْنَ وَانْصُرْ عِبَادَكَ اْلمُوَحِّدِيَّةَ وَانْصُرْ مَنْ نَصَرَ الدِّيْنَ وَاخْذُلْ مَنْ خَذَلَ اْلمُسْلِمِيْنَ وَ دَمِّرْ أَعْدَاءَ الدِّيْنِ وَاعْلِ كَلِمَاتِكَ إِلَى يَوْمَ الدِّيْنِ. اللهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا اْلبَلاَءَ وَاْلوَبَاءَ وَالزَّلاَزِلَ وَاْلمِحَنَ وَسُوْءَ اْلفِتْنَةِ وَاْلمِحَنَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ عَنْ بَلَدِنَا اِنْدُونِيْسِيَّا خآصَّةً وَسَائِرِ اْلبُلْدَانِ اْلمُسْلِمِيْنَ عآمَّةً يَا رَبَّ اْلعَالَمِيْنَ. رَبَّنَا آتِناَ فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِى اْلآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ. رَبَّنَا ظَلَمْنَا اَنْفُسَنَا وَاإنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُوْنَنَّ مِنَ اْلخَاسِرِيْنَ.

 عِبَادَاللهِ ! إِنَّ اللهَ يَأْمُرُنَا بِاْلعَدْلِ وَاْلإِحْسَانِ وَإِيْتآءِ ذِي اْلقُرْبىَ وَيَنْهَى عَنِ اْلفَحْشآءِ وَاْلمُنْكَرِ وَاْلبَغْي يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ وَاذْكُرُوا اللهَ اْلعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوْهُ عَلىَ نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرْ