MENELADANI METODE
PERUBAHAN POLITIK ALA RASULULLAH ﷺ
KHUTBAH PERTAMA
اللهُمَّ
فَصَلِّ
وَسَلِّمْ
عَلَى سَيِّدِنَا
مُحَمَّدٍ
كَانَ
صَادِقَ
الْوَعْدِ وَكَانَ
رَسُوْلًا
نَبِيًّا، وَعَلَى
آلِهِ
وَصَحْبِهِ
الَّذِيْنَ
يُحْسِنُوْنَ
إِسْلاَمَهُمْ
وَلَمْ
يَفْعَلُوْا
شَيْئًا
فَرِيًّا. أَمَّا
بَعْدُ؛
فَيَا
أَيُّهَا
الْحَاضِرُوْنَ
رَحِمَكُمُ
اللهُ،
اُوْصِيْنِيْ
نَفْسِيْ
وَإِيَّاكُمْ
بِتَقْوَى
اللهِ،
فَقَدْ فَازَ
الْمُتَّقُوْنَ.
قَالَ اللهُ
تَعَالَى:
اَفَحُكْمَ
الْجَاهِلِيَّةِ
يَبْغُوْنَۗ
وَمَنْ
اَحْسَنُ
مِنَ اللّٰهِ
حُكْمًا لِّقَوْمٍ
يُّوْقِنُوْنَࣖ ٥٠ (اَلْمَائِدَةُ)
Alhamdulillâhi
Rabbil ‘Âlamin, Segala puji bagi Allah Subhânahu Wa Ta’âlâ yang
telah menganugerahkan kita nikmat iman dan Islam, serta mempertemukan kita di
tempat yang diberkahi ini. Shalawat dan salam semoga senantiasa tercurah kepada
junjungan kita, Nabi Muhammad Shallallâhu ‘alaihi wasallam, beserta
keluarga, sahabat, dan seluruh umatnya hingga akhir zaman.
Bertakwalah kepada
Allah Subhânahu Wa Ta’âlâ dengan sebenar-benarnya takwa sebagaimana
firman-Nya:
يٰٓاَيُّهَا
الَّذِيْنَ
اٰمَنُوا
اتَّقُوا
اللّٰهَ
حَقَّ
تُقٰىتِهٖ
وَلَا
تَمُوْتُنَّ
اِلَّا
وَاَنْتُمْ
مُّسْلِمُوْنَ
“Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada
Allah dengan sebenar-benar takwa kepada-Nya dan janganlah kamu mati kecuali
dalam keadaan muslim.”
(QS. Âli
Imrân
[3]: 102)
Sungguh takwa adalah
benteng terakhir kita di tengah kehidupan akhir zaman saat ini. Dan sungguh,
hanya dengan takwa kita akan selamat di dunia dan akhirat.
Ma’âsyiral Muslimîn rahimakumullâh,
Peringatan Maulid Nabi
Muhammad Shallallâhu ‘alaihi wasallam tidak hanya menjadi momen ritual
dengan lantunan shalawat dan doa, tetapi juga kesempatan untuk merenungi hikmah
besar dari kelahiran beliau. Salah satu hikmah yang sering terlupakan adalah
bagaimana kelahiran Rasulullah Shallallâhu ‘alaihi wasallam menjadi
titik balik peradaban: dari masyarakat jahiliyah yang penuh kegelapan menuju
masyarakat Islam yang mulia dan bermartabat.
Pertanyaannya, apakah kita
benar-benar siap meneladani metode beliau dalam melakukan perubahan politik
hari ini? Ataukah kita masih menaruh harapan pada metode sekuler seperti
demokrasi yang terbukti hanya melahirkan janji-janji tanpa realisasi, atau pada
people power yang sering berujung pada anarkisme dan menelan korban?
Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah,
Kitab Mawlîd al-Barzanjî karya
Syaikh Ja‘far al-Barzanji mengisahkan peristiwa besar saat Rasulullah Shallallâhu
‘alaihi wasallam lahir: cahaya menerangi istana Romawi di Syam, pilar Kisra
retak, menara runtuh, api Persia padam, danau Sawah mengering, serta Wadi
Samawah mengalirkan air. Semua fenomena itu bukan sekadar kosmik, melainkan
isyarat politik bahwa kelahiran Nabi Shallallâhu ‘alaihi wasallam adalah
ancaman nyata bagi imperium Romawi dan Persia. Beliau lahir membawa misi
perubahan global: meruntuhkan tatanan kufur dan membangun peradaban Islam.
Seruan beliau di Pasar Dzil
Majaz,
يَا أَيُّهَا
النَّاسُ قُوْلُوْا
لَا إِلَهَ إِلَّا
اللَّهُ تُفْلِحُوْا
”Hai manusia, ucapkanlah “Lâ ilâha illalLâh,” niscaya
kalian beruntung!” (HR Ahmad).
Seruan ini bukan hanya dakwah
tauhid, tetapi juga deklarasi politik bahwa perubahan sejati berawal dari
pengakuan terhadap kedaulatan Allah. Saat Perang Khandaq, Nabi Shallallâhu
‘alaihi wasallam menubuwatkan jatuhnya Syam, Persia, dan Yaman ketika
memukul batu besar. Sejarah membuktikan nubuwat itu pada masa Umar bin
al-Khaththab radhiyallahu ’anhu, ketika dua imperium besar benar-benar
ditundukkan dan Islam berdiri sebagai peradaban global.
Berbeda dengan metode
Rasulullah Shallallâhu ‘alaihi wasallam, banyak orang modern berharap
perubahan lewat people power. Indonesia pasca-1998 adalah contoh nyata: rezim
Orde Baru tumbang, tetapi sistem tetap sama. Demokrasi sekuler tetap
dipertahankan sehingga korupsi merajalela, oligarki menguat, kekayaan alam dikuasai
asing, pajak mencekik, utang meningkat, rakyat miskin, dan keadilan makin sulit
ditegakkan. Sebab yang jatuh hanya rezim, bukan sistemnya.
Padahal, akar kerusakan ada
pada demokrasi yang menempatkan kedaulatan di tangan manusia. Allah Subhânahu
Wa Ta’âlâ berfirman:
اِنِ
الْحُكْمُ
اِلَّا
لِلّٰهِ
”Otoritas membuat hukum itu ada pada Allah” (QS. Yûsuf [12]: 40).
Bahkan Allah Subhânahu Wa Ta’âlâ telah menegaskan:
وَمَنْ
لَّمْ
يَحْكُمْ
بِمَآ
اَنْزَلَ اللّٰهُ
فَاُولٰۤىِٕكَ
هُمُ
الظّٰلِمُوْنَ
”Siapa saja yang tidak berhukum dengan wahyu yang telah Allah turunkan,
mereka itulah pelaku kezaliman.” (QS. al-Mâidah [5]: 45).
Allah Subhânahu Wa Ta’âlâ
juga telah mengingatkan:
اَفَحُكْمَ
الْجَاهِلِيَّةِ
يَبْغُوْنَۗ
وَمَنْ
اَحْسَنُ
مِنَ اللّٰهِ
حُكْمًا لِّقَوْمٍ
يُّوْقِنُوْنَ
”Apakah sistem hukum jahiliyah yang
mereka kehendaki? Hukum siapakah yang lebih baik daripada hukum Allah bagi kaum
yang yakin?” (QS. al- Mâidah [5]: 50).
Jelaslah, demokrasi adalah
sistem hukum jahiliyah karena menempatkan kedaulatan (hak membuat hukum) di
tangan manusia. Karena itu, perubahan sejati hanya mungkin terwujud dengan
mengganti sistem kufur itu menuju sistem Islam yang dicontohkan Rasulullah Shallallâhu
‘alaihi wasallam.
Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah,
Islam memiliki metode
perubahan politik yang jelas sebagaimana dicontohkan Rasulullah Shallallâhu
‘alaihi wasallam Beliau tidak pernah menyerukan revolusi massa untuk
menggulingkan rezim Quraisy, melainkan menempuh tiga tahapan dakwah yang
terarah:
(1) Tatsqîf (pembinaan), yaitu membina para Sahabat
dengan fikrah Islam agar iman mereka kokoh dan siap berjuang;
(2) Tafâ‘ul ma‘a al-Ummah (interaksi dengan masyarakat), yaitu mendakwahkan Islam secara
terbuka sambil membongkar kebusukan sistem kufur hingga opini umum berpihak
pada Islam; dan (3) Thalab an-Nushrah (menggalang dukungan) dari ahlul quwwah (pemilik kekuasaan) untuk menegakkan pemerintahan
Islam.
Ketiga tahapan ini beliau
tempuh tanpa kekerasan apalagi people power yang cenderung anarkis. Melalui
tahapan terakhir, Rasulullah Shallallâhu ‘alaihi wasallam berhasil
memperoleh kekuasaan secara damai di Madinah ketika ahlul quwwah dan mayoritas
penduduknya menyerahkan kekuasaan secara sukarela. Dari situlah Daulah Islam
pertama berdiri, bukan hanya mengganti rezim, melainkan menumbangkan seluruh
sistem jahiliyah dan menggantinya dengan sistem Islam yang melahirkan peradaban
agung selama berabad-abad.
Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah,
Setiap peristiwa besar dalam
sejarah Islam selalu menyimpan pelajaran berharga, termasuk momentum Maulid
Nabi Shallallâhu ‘alaihi wasallam yang bukan sekadar perayaan lahirnya
seorang utusan, tetapi juga awal dari perubahan besar peradaban manusia. Dari
sinilah kita diajak untuk menengok kembali bagaimana Rasulullah Shallallâhu
‘alaihi wasallam menempuh jalan perjuangan politik yang agung dan penuh
hikmah.
Baiat ‘Aqabah Kedua menjadi
landasan tegaknya Daulah Islam pertama di Madinah, sebagaimana ditegaskan al-Mubarakfuri
dalam Ar-Rahīq al-Makhtūm. Perubahan yang ditempuh Rasulullah Shallallâhu ‘alaihi wasallam
bukan sebatas pergantian rezim, melainkan transformasi total dari masyarakat
jahiliyah menuju peradaban Islam yang adil. Sebaliknya, people power modern
hanya melahirkan euforia sesaat tanpa menyentuh akar persoalan, karena sistem
rusak tetap dipertahankan. Maka, jawaban atas problem umat hari ini bukanlah
demokrasi atau gerakan massa, melainkan mengikuti metode dakwah Nabi Shallallâhu
‘alaihi wasallam untuk menegakkan Islam secara kaffah melalui Khilafah ‘ala
minhaj an-nubuwwah.
Para ulama Ahlus Sunnah telah
bersepakat bahwa menegakkan Khilafah adalah kewajiban syar’i, bukan pilihan
politik. Imam al-Mawardi menegaskan bahwa Imamah ditetapkan sebagai pengganti
kenabian dalam menjaga agama dan mengatur urusan dunia (Al-Ahkâm as-Sulthâniyyah,
hal. 5). Imam an-Nawawi juga menegaskan kewajiban ini berdasarkan
syariah, bahkan menyatakan batil pandangan yang menolaknya (Syarh
an-Nawawi ‘alâ Muslim, 12/205). Karena itu, Peringatan Maulid Nabi Shallallâhu
‘alaihi wasallam seharusnya memotivasi umat untuk sungguh-sungguh
meneladani perjuangan beliau, menempuh tharîqah nabawiyyah, dan membangun
kembali sistem politik Islam. Hanya dengan cara inilah Maulid Nabi Shallallâhu
‘alaihi wasallam benar-benar bermakna sebagai momentum perubahan peradaban.
WalLâhu a’lam bi ash-shawâb. []
بَارَكَ
اللهُ لِيْ
وَلَكُمْ فِى
اْلقُرْآنِ
اْلعَظِيْمِ،
وَنَفَعَنِيْ
وَإِيَّاكُمْ
بِمَا فِيْهِ
مِنَ
الْآيَاتِ
وَالذِّكْرِ
الْحَكِيمِ
وَتَقَبَّلَ
اللهُ مِنَّا
وَمِنْكُمْ
تِلاَوَتَهُ
وَإِنَّهُ
هُوَ
السَّمِيْعُ
العَلِيْمُ،
وَأَقُوْلُ
قَوْلِيْ
هَذَا
فَأسْتَغْفِرُ
اللهَ
العَظِيْمَ
إِنَّهُ هُوَ
الغَفُوْرُ
الرَّحِيْمُ
KHUTBAH
KEDUA
اَلْحَمْدُ
لِلّٰهِ عَلىَ
إِحْسَانِهِ،
وَالشُّكْرُ
لَهُ عَلَى
تَوْفِيْقِهِ
وَاِمْتِنَانِهِ،
وَأَشْهَدُ
أَنْ لاَ
اِلٰهَ
إِلاَّ اللهُ
وَحْدَهُ لاَ
شَرِيْكَ
لَهُ،
وَأَشْهَدُ
أنَّ سَيِّدَنَا
مُحَمَّدًا
عَبْدُهُ
وَرَسُوْلُهُ
الدَّاعِى
إِلَى
رِضْوَانِهِ،
اللّٰهُمَّ صَلِّ
عَلَى
سَيِّدِنَا
مُحَمَّدٍ
وَعَلَى
اٰلِهِ
وَأَصْحَابِهِ
وَسَلِّمْ
تَسْلِيْمًا
كَثِيْرًا. أَمَّا
بَعْدُ؛
فَياَ
اَيُّهَا
النَّاسُ اِتَّقُواللّٰهَ
فِيْمَا
أَمَرَ
وَانْتَهُوْا
عَمَّا نَهَى
وَاعْلَمُوْا
أَنَّ اللهَ
أَمَرَكُمْ
بِأَمْرٍ
بَدَأَ
فِيْهِ بِنَفْسِهِ
وَثَـنَّى
بِمَلآ
ئِكَتِهِ
الْمُسَبِّحَةِ
بِقُدْسِهِ،
وَقَالَ
تَعاَلَى:
إِنَّ اللهَ
وَمَلآئِكَتَهُ
يُصَلُّوْنَ
عَلىَ النَّبِى
يآ اَيُّهَا
الَّذِيْنَ
آمَنُوْا
صَلُّوْا
عَلَيْهِ
وَسَلِّمُوْا
تَسْلِيْمًا. اللهُمَّ
صَلِّ عَلَى
سَيِّدِنَا
مُحَمَّدٍ
وَعَلَى آلِ
سَيِّدِناَ
مُحَمَّدٍ،
وَعَلَى
اَنْبِيآئِكَ
وَرُسُلِكَ
وَمَلآئِكَةِ
اْلمُقَرَّبِيْنَ،
وَارْضَ اللّٰهُمَّ
عَنِ
اْلخُلَفَاءِ
الرَّاشِدِيْنَ،
أَبِى بَكْرٍ
وَعُمَرَ
وَعُثْمَانَ
وَعَلِي، وَعَنْ
بَقِيَّةِ
الصَّحَابَةِ
وَالتَّابِعِيْنَ،
وَتَابِعِي
التَّابِعِيْنَ
لَهُمْ
بِاِحْسَانٍ
اِلَى يَوْمِ
الدِّيْنِ،
وَارْضَ
عَنَّا
مَعَهُمْ
بِرَحْمَتِكَ
يَا أَرْحَمَ
الرَّاحِمِيْنَ.
اللّٰهُمَّ
اغْفِرْ
لِلْمُؤْمِنِيْنَ
وَاْلمُؤْمِنَاتِ
وَاْلمُسْلِمِيْنَ
وَاْلمُسْلِمَاتِ
اَلاَحْيآءَ
مِنْهُمْ
وَاْلاَمْوَاتِ،
اللّٰهُمَّ أَعِزَّ
اْلإِسْلاَمَ
وَاْلمُسْلِمِيْنَ،
وَأَذِلَّ
الشِّرْكَ
وَاْلمُشْرِكِيْنَ،
وَانْصُرْ
عِبَادَكَ
اْلمُوَحِّدِيْنَ،
وَانْصُرْ
مَنْ نَصَرَ
الدِّيْنَ،
وَاخْذُلْ
مَنْ خَذَلَ
اْلمُسْلِمِيْنَ،
وَدَمِّرْ
أَعْدَاءَ
الدِّيْنِ،
وَاعْلِ كَلِمَاتِكَ
إِلَى يَوْمِ
الدِّيْنِ.
اللّٰهُمَّ
ادْفَعْ
عَنَّا
الْغَلَاءَ
وَاْلبَلاَءَ
وَاْلوَبَاءَ
وَالزَّلاَزِلَ
وَاْلمِحَنَ،
وَسُوْءَ
اْلفِتْنَةِ
وَاْلمِحَنَ
مَا ظَهَرَ
مِنْهَا
وَمَا
بَطَنَ، عَنْ
بَلَدِنَا
اِنْدُونِيْسِيَّا
خآصَّةً
وَسَائِرِ
بُلْدَانِ
اْلمُسْلِمِيْنَ
عآمَّةً يَا رَبَّ
اْلعَالَمِيْنَ،
رَبَّنَا
آتِناَ فِى
الدُّنْيَا
حَسَنَةً
وَفِى
اْلآخِرَةِ حَسَنَةً
وَقِنَا
عَذَابَ
النَّارِ،
رَبَّنَا
ظَلَمْنَا
اَنْفُسَنَا
وَإنْ لَمْ تَغْفِرْ
لَنَا
وَتَرْحَمْنَا
لَنَكُوْنَنَّ
مِنَ
اْلخَاسِرِيْنَ.
عِبَادَ
اللهِ ! إِنَّ
اللهَ
يَأْمُرُ
بِاْلعَدْلِ
وَاْلإِحْسَانِ
وَإِيْتآءِ
ذِي
اْلقُرْبىَ
وَيَنْهَى
عَنِ اْلفَحْشآءِ
وَاْلمُنْكَرِ
وَاْلبَغْي
يَعِظُكُمْ
لَعَلَّكُمْ
تَذَكَّرُوْنَ،
وَاذْكُرُوا
اللهَ
اْلعَظِيْمَ
يَذْكُرْكُمْ،
وَاسْأَلُوْهُ
مِنْ
فَضْلِهِ
يُعْطِكُمْ،
وَاشْكُرُوْهُ
عَلىَ
نِعَمِهِ
يَزِدْكُمْ،
وَلَذِكْرُ
اللهِ
أَكْبَرْ