MENDUKUNG KEZALIMAN AMERIKA
KHUTBAH PERTAMA
اللهُمَّ
فَصَلِّ
وَسَلِّمْ
عَلَى سَيِّدِنَا
مُحَمَّدٍ
كَانَ
صَادِقَ
الْوَعْدِ وَكَانَ
رَسُوْلًا
نَبِيًّا، وَعَلَى
آلِهِ
وَصَحْبِهِ
الَّذِيْنَ
يُحْسِنُوْنَ
إِسْلاَمَهُمْ
وَلَمْ
يَفْعَلُوْا
شَيْئًا
فَرِيًّا. أَمَّا
بَعْدُ؛
فَيَا
أَيُّهَا
الْحَاضِرُوْنَ
رَحِمَكُمُ
اللهُ،
اُوْصِيْنِيْ
نَفْسِيْ
وَإِيَّاكُمْ
بِتَقْوَى
اللهِ،
فَقَدْ فَازَ
الْمُتَّقُوْنَ.
قَالَ اللهُ
تَعَالَى:
Alhamdulillâhi
Rabbil ‘Âlamin, Segala puji bagi Allah Subhânahu Wa Ta’âlâ yang
telah menganugerahkan kita nikmat iman dan Islam, serta mempertemukan kita di
tempat yang diberkahi ini. Shalawat dan salam semoga senantiasa tercurah kepada
junjungan kita, Nabi Muhammad Shallallâhu ‘alaihi wasallam, beserta
keluarga, sahabat, dan seluruh umatnya hingga akhir zaman.
Sebagai penyempurna rukun khutbah, saya selaku khatib
tidak bosan-bosannya mengingatkan diri saya pribadi dan seluruh jamaah untuk
selalu mengokohkan iman serta meningkatkan ketakwaan kita kepada Allah Subhânahu Wa Ta’âlâ, sesuai dengan sabda Nabi Muhammad Shallallâhu ‘alaihi
wasallam:
اِتَّقِ
اللهَ
حَيْثُمَا
كُنْتَ،
وَأَتْبِعِ
السَّيِّئَةَ
الْحَسَنَةَ
تَمْحُهَا،
وَخَالِقِ
النَّاسَ
بِخُلُقٍ
حَسَنٍ
“Bertakwalah
kepada Allah di mana pun engkau berada. Iringilah perbuatan buruk dengan
perbuatan baik, niscaya kebaikan itu akan menghapus (kesalahan)nya. Dan
bergaullah dengan manusia dengan akhlak yang baik.” (HR. Tirmidzi).
Allah Subhânahu
Wa Ta’âlâ berfirman:
وَتَزَوَّدُوْا
فَاِنَّ
خَيْرَ
الزَّادِ التَّقْوٰىۖ
وَاتَّقُوْنِ
يٰٓاُولِى
الْاَلْبَابِ
“Dan
berbekallah kalian, dan sebaik-baik bekal adalah takwa. Bertakwalah kepada-Ku
wahai orang-orang yang berakal” (QS. Al-Baqarah [2]: 197).
Allah Subhânahu
Wa Ta’âlâ juga berfirman:
يٰٓاَيُّهَا
الَّذِيْنَ
اٰمَنُوا
اتَّقُوا
اللّٰهَ
حَقَّ
تُقٰىتِهٖ
وَلَا
تَمُوْتُنَّ
اِلَّا
وَاَنْتُمْ
مُّسْلِمُوْنَ
“Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada
Allah dengan sebenar-benar takwa kepada-Nya dan janganlah kamu mati kecuali
dalam keadaan muslim.”
(QS. Âli
Imrân
[3]: 102).
Sungguh takwa adalah
benteng terakhir kita di tengah kehidupan akhir zaman saat ini. Dan sungguh,
hanya dengan takwa kita akan selamat di dunia dan akhirat.
Ma’âsyiral Muslimîn rahimakumullâh,
Sebagai renungan, kita perlu bertanya: benarkah negara
yang paling lantang berbicara tentang demokrasi dan hak asasi manusia selalu
berjalan seiring dengan nilai-nilai yang diklaimnya? Atau justru narasi luhur
itu hanya menjadi topeng yang menutupi kepentingan kekuasaan yang lebih besar?
Amerika Serikat (AS) secara konsisten membangun citra
dirinya sebagai penjaga utama demokrasi, HAM, dan tatanan internasional melalui
diplomasi, media global, serta berbagai institusi internasional di bawah
pengaruhnya. Namun di balik klaim normatif tersebut, praktik geopolitik AS
menunjukkan kontradiksi: intervensi militer, operasi intelijen, sanksi ekonomi
sepihak, hingga rekayasa pergantian rezim di berbagai negara. Demokrasi dan HAM
kerap direduksi menjadi instrumen legitimasi untuk membenarkan agresi, bahkan
ketika harus mengorbankan ratusan ribu rakyat sipil. Situasi ini mencerminkan
apa yang disebut banyak pengamat sebagai imperial arrogance, yakni
kecongkakan kekuasaan yang lahir dari posisi dominan AS dalam sistem
internasional pasca-Perang Dunia II.
Ma’âsyiral Muslimîn rahimakumullâh,
Kejadian-kejadian besar di panggung internasional sering
kali tidak hanya soal moral atau norma, tetapi juga berkaitan dengan konflik
kepentingan kekuatan besar. Apakah semua tindakan itu benar-benar bermotif
kemanusiaan, atau justru mencerminkan dominasi terhadap negara lain?
Kebijakan luar negeri Amerika Serikat (AS) — termasuk
intervensinya di Vietnam, Irak, Afghanistan, dan Libya — sering dibungkus
dengan narasi moral seperti memerangi komunisme atau melindungi warga sipil,
tetapi dalam praktiknya meninggalkan kehancuran, instabilitas berkepanjangan,
serta jutaan korban sipil dan kerusakan struktural di negara-negara tersebut.
Contohnya, invasi AS ke Irak pada 2003 atas dasar klaim senjata pemusnah massal
tidak pernah terbukti dan justru memicu kekacauan sektarian, sementara intervensi
NATO-AS di Libya 2011 setelah menggulingkan Gaddafi berujung pada konflik
berkepanjangan dan keretakan negara tersebut. Kritik juga mengemuka terhadap
tindakan terbaru AS yang dikatakan menculik Presiden Venezuela Nicolás Maduro
pada awal 2026, yang oleh pakar hukum internasional dinilai melanggar prinsip
kedaulatan dan hukum internasional serta berpotensi menciptakan preseden
berbahaya dalam hubungan global.
Ma’âsyiral Muslimîn rahimakumullâh,
Islam mengajarkan bahwa kezaliman bukan sekadar tindakan
brutal yang tampak di permukaan, tetapi segala bentuk penyimpangan dari
kebenaran dan keadilan yang Allah Subhânahu Wa Ta’âlâ tetapkan. Karena
itu, setiap sikap membenarkan atau mendukung kezaliman, terlebih yang dilakukan
secara sistemik oleh kekuatan besar, bukanlah perkara ringan, melainkan
persoalan akidah dan tanggung jawab moral di hadapan Allah.
Dalam perspektif Islam, kezaliman (zhulm) mencakup
pelanggaran terhadap hak Allah Subhânahu Wa Ta’âlâ, hak manusia, serta
tatanan keadilan secara menyeluruh. Pelanggaran hak Allah terwujud dalam
pengingkaran terhadap hukum-hukum-Nya, sebagaimana firman-Nya:
وَمَنْ
لَّمْ
يَحْكُمْ
بِمَآ
اَنْزَلَ اللّٰهُ
فَاُولٰۤىِٕكَ
هُمُ
الظّٰلِمُوْنَ
”Siapa saja yang tidak memutuskan perkara menurut wahyu yang telah Allah
turunkan, mereka itulah para pelaku kezaliman.” (QS. al-Mâidah [5]:
45).
Pelanggaran hak manusia meliputi penindasan, perampasan
hak hidup, kebebasan, dan martabat, baik oleh individu maupun negara, sedangkan
perusakan tatanan keadilan terjadi ketika kekuasaan dipakai sewenang-wenang
hingga hukum berubah menjadi alat legitimasi kezaliman. Al-Qur’an mengecam
semua bentuk ini:
وَمَا
اللّٰهُ
يُرِيْدُ
ظُلْمًا
لِّلْعِبَادِ
”Allah tidak menghendaki kezaliman terhadap hamba-hamba-Nya.” (QS. Ghâfir
[40]: 31).
Dan Allah Subhânahu Wa Ta’âlâ juga berfirman:
وَمَا
اللّٰهُ
يُرِيْدُ
ظُلْمًا
لِّلْعٰلَمِيْنَ
”Allah tidak menghendaki kezaliman bagi seluruh alam.” (QS. Âli ‘Imrân
[3]: 108).
Bahkan sekadar condong kepada pelaku kezaliman diancam
keras:
وَلَا
تَرْكَنُوْٓا
اِلَى
الَّذِيْنَ
ظَلَمُوْا
فَتَمَسَّكُمُ
النَّارُۙ
وَمَا لَكُمْ
مِّنْ دُوْنِ
اللّٰهِ مِنْ
اَوْلِيَاۤءَ
ثُمَّ لَا
تُنْصَرُوْنَ
”Janganlah kalian cenderung kepada para pelaku kezaliman yang menyebabkan
kalian disentuh oleh api neraka. Sekali-kali kalian tidak mempunyai seorang
penolong pun selain Allah, kemudian kalian tidak akan ditolong.” (QS. Hûd [11]:
113).
Karena itu jelas haram mendukung atau membenarkan
kezaliman AS, termasuk kezaliman yang dibungkus istilah “perdamaian” seperti Board
of Peace (BoP) dengan dalih masa depan Gaza. Jejak sejarah politik AS penuh
kejahatan internasional, sehingga aneh bila masih ada pihak—terutama penguasa
Muslim, intelektual, ulama, atau ormas Islam—yang berprasangka baik terhadap
gembong penjahat kafir internasional yang culas seperti AS, seolah AS akan
berpihak kepada Palestina melalui BoP. Padahal sudah terang-benderang AS adalah
pendukung utama Zionis Yahudi selama puluhan tahun dan penyokong utama
persenjataannya untuk melakukan genosida atas Palestina. Kezaliman sendiri
adalah dosa besar yang sangat Allah benci, sebagaimana firman-Nya:
وَاللّٰهُ
لَا يُحِبُّ
الظّٰلِمِيْنَ
”Allah tidak menyukai para pelaku kezaliman.” (QS. Âli
‘Imrân [3]: 57).
Ma’âsyiral Muslimîn rahimakumullâh,
Khilafah adalah solusi ideologis dan sistemik untuk
melawan kezaliman global AS karena tidak berhenti pada kecaman moral, tetapi
menghadirkan kekuasaan nyata melalui penyatuan umat Islam sedunia yang selama
ini tercerai-berai. Penyatuan kekuatan politik, ekonomi, dan militer
negeri-negeri Muslim di bawah satu kepemimpinan Islam global akan melahirkan deterrence
power (daya gentar) untuk mencegah agresi dan intervensi AS, sesuai
perintah Allah Subhânahu Wa Ta’âlâ:
وَاعْتَصِمُوْا
بِحَبْلِ
اللّٰهِ
جَمِيْعًا
وَّلَا
تَفَرَّقُوْا
”Berpeganglah teguhlah kalian semuanya pada tali (agama) Allah dan jangan
bercerai-berai...” (QS. Âli ‘Imrân [3]: 103).
Karena itu kaum Muslim lebih layak bersatu di bawah
Khilafah daripada di bawah skema AS seperti Board of Peace. Kebijakan
luar negeri Khilafah berlandaskan keadilan dan ketundukan pada syariah, bukan
dominasi dan eksploitasi, sebagaimana sabda Rasulullah Shallallâhu ‘alaihi
wasallam:
إِنَّمَا
الإِمَامُ
جُنَّةٌ
يُقَاتَلُ
مِنْ وَرَائِهِ
وَيُتَّقَى
بِهِ
”Sesungguhnya Imam (Khalifah) itu adalah perisai; manusia berperang di
belakangnya dan berlindung dengan dirinya.” (HR.
al-Bukhari dan Muslim).
Dalam Khilafah, pembelaan terhadap kaum tertindas seperti
Palestina bukan sekadar diplomasi, tetapi amanah yang wajib dibela secara
politik, hukum, bahkan militer (jihad).
WalLâhu a’lam bi ash-shawâb.
Demikianlah yang
dapat saya sampaikan dalam khutbah Jum’at pada kesempatan kali ini. Ketahuilah
bahwa segala kesempurnaan hanya milik Allah Subhânahu wa Ta‘âlâ. Apa pun
yang benar dari apa yang saya sampaikan adalah semata-mata berkat petunjuk-Nya
melalui Rasul-Nya, maka marilah kita berpegang teguh kepadanya. Adapun segala
kekeliruan adalah berasal dari kekurangan pemahaman saya pribadi; marilah kita
tinggalkan dan semoga Anda semua berkenan melimpahkan keluasan maaf.
Sebagai penutup,
mari kita akhiri khutbah ini dengan berdoa bersama. Semoga kita semua
senantiasa dianugerahi kesehatan lahir dan batin, serta keberkahan dunia dan
akhirat. Semoga Allah memberi kita hidayah, inayah, dan kekuatan, sehingga kita
dapat menjadi bagian dari para dai yang selalu bersungguh-sungguh menegakkan
syariat Islam secara kaffah, meneladani Nabi Muhammad Shallallâhu ‘Alaihi Wasallam hingga akhir hayat dalam keadaan husnul khâtimah.
Âmîn yâ Rabbal-‘âlamîn.[]
بَارَكَ
اللهُ لِيْ
وَلَكُمْ فِى
اْلقُرْآنِ
اْلعَظِيْمِ،
وَنَفَعَنِيْ
وَإِيَّاكُمْ
بِمَا فِيْهِ
مِنَ
الْآيَاتِ
وَالذِّكْرِ
الْحَكِيمِ
وَتَقَبَّلَ
اللهُ مِنَّا
وَمِنْكُمْ
تِلاَوَتَهُ
وَإِنَّهُ
هُوَ
السَّمِيْعُ
العَلِيْمُ،
وَأَقُوْلُ
قَوْلِيْ
هَذَا
فَأسْتَغْفِرُ
اللهَ
العَظِيْمَ
إِنَّهُ هُوَ
الغَفُوْرُ
الرَّحِيْمُ
KHUTBAH
KEDUA
اَلْحَمْدُ
لِلّٰهِ عَلىَ
إِحْسَانِهِ،
وَالشُّكْرُ
لَهُ عَلَى
تَوْفِيْقِهِ
وَاِمْتِنَانِهِ،
وَأَشْهَدُ
أَنْ لاَ
اِلٰهَ
إِلاَّ اللهُ
وَحْدَهُ لاَ
شَرِيْكَ
لَهُ،
وَأَشْهَدُ
أنَّ سَيِّدَنَا
مُحَمَّدًا
عَبْدُهُ
وَرَسُوْلُهُ
الدَّاعِى
إِلَى
رِضْوَانِهِ،
اللّٰهُمَّ صَلِّ
عَلَى
سَيِّدِنَا
مُحَمَّدٍ
وَعَلَى
اٰلِهِ
وَأَصْحَابِهِ
وَسَلِّمْ
تَسْلِيْمًا
كَثِيْرًا. أَمَّا
بَعْدُ؛
فَياَ
اَيُّهَا
النَّاسُ اِتَّقُواللّٰهَ
فِيْمَا
أَمَرَ
وَانْتَهُوْا
عَمَّا نَهَى
وَاعْلَمُوْا
أَنَّ اللهَ
أَمَرَكُمْ
بِأَمْرٍ
بَدَأَ
فِيْهِ بِنَفْسِهِ
وَثَـنَّى
بِمَلآ
ئِكَتِهِ
الْمُسَبِّحَةِ
بِقُدْسِهِ،
وَقَالَ
تَعاَلَى:
إِنَّ اللهَ
وَمَلآئِكَتَهُ
يُصَلُّوْنَ
عَلىَ النَّبِى
يآ اَيُّهَا
الَّذِيْنَ
آمَنُوْا
صَلُّوْا
عَلَيْهِ
وَسَلِّمُوْا
تَسْلِيْمًا. اللهُمَّ
صَلِّ عَلَى
سَيِّدِنَا
مُحَمَّدٍ
وَعَلَى آلِ
سَيِّدِناَ
مُحَمَّدٍ،
وَعَلَى
اَنْبِيآئِكَ
وَرُسُلِكَ
وَمَلآئِكَةِ
اْلمُقَرَّبِيْنَ،
وَارْضَ اللّٰهُمَّ
عَنِ
اْلخُلَفَاءِ
الرَّاشِدِيْنَ،
أَبِى بَكْرٍ
وَعُمَرَ
وَعُثْمَانَ
وَعَلِي، وَعَنْ
بَقِيَّةِ
الصَّحَابَةِ
وَالتَّابِعِيْنَ،
وَتَابِعِي
التَّابِعِيْنَ
لَهُمْ
بِاِحْسَانٍ
اِلَى يَوْمِ
الدِّيْنِ،
وَارْضَ
عَنَّا
مَعَهُمْ
بِرَحْمَتِكَ
يَا أَرْحَمَ
الرَّاحِمِيْنَ.
اَللّٰهُمَّ
اغْفِرْ
لِلْمُؤْمِنِيْنَ
وَاْلمُؤْمِنَاتِ
وَاْلمُسْلِمِيْنَ
وَاْلمُسْلِمَاتِ
اَلاَحْيآءَ
مِنْهُمْ
وَاْلاَمْوَاتِ،
اللّٰهُمَّ أَعِزَّ
اْلإِسْلاَمَ
وَاْلمُسْلِمِيْنَ،
وَأَذِلَّ
الشِّرْكَ
وَاْلمُشْرِكِيْنَ،
وَانْصُرْ
عِبَادَكَ
اْلمُوَحِّدِيْنَ،
وَانْصُرْ
مَنْ نَصَرَ
الدِّيْنَ،
وَاخْذُلْ
مَنْ خَذَلَ
اْلمُسْلِمِيْنَ،
وَدَمِّرْ
أَعْدَاءَ
الدِّيْنِ،
وَاعْلِ كَلِمَاتِكَ
إِلَى يَوْمِ
الدِّيْنِ.
اَللّٰهُمَّ
يَا
مُنْـزِلَ
الْكِتَابِ
وَمُهْزِمَ
اْلأَحْزَابِ
اِهْزِمِ
اْليَهُوْدَ
وَاَعْوَانَهُمْ
وَصَلِيْبِيِّيْنَ
وَاَنْصَارَهُمْ
وَرَأْسُمَالِيِّيْنَ
وَاِخْوَانَهُمْ
وَاِشْتِرَاكِيِّيْنَ
وَشُيُوْعِيِّيْنَ
وَاَشْيَاعَهُمْ.
اَللّٰهُمَّ
نَجِّ
إِخْوَانَنَا
الْمُؤْمِنِيْنَ
الْمُسْتَضْعَفِيْنَ
فِي
فَلَسْطِيْنَ
وَفِي كُلِّ
مَكَانٍ. اَللّٰهُمَّ
انْصُرْ
إخْوَانَنَا
الْمُجَاهِدِيْنَ
فِي
سَبِيْلِكَ
عَلَى
أَعْدَائِهِمْ.
اَللّٰهُمَّ
إِنَّا
نَسْأَلُكَ
دَوْلَةَ
الْخِلاَفَةِ
عَلَى
مِنْهَاجِ
النُّبُوَّةِ
تُعِزُّ بِهَا
اْلإِسْلاَمَ
وَاَهْلَهُ
وَتُذِلُّ بِهَا
الْكُفْرَ
وَاَهْلَهُ،
وَ اجْعَلْنَا
مِنَ
الْعَامِلِيْنَ
الْمُخْلِصِيْنَ
بِإِقَامَتِهَا
بِإِذْنِكَ
يَا أَرْحَمَ
الرَّاحِمِيْنَ.
اللّٰهُمَّ
ادْفَعْ
عَنَّا
الْغَلَاءَ
وَاْلبَلاَءَ
وَاْلوَبَاءَ
وَالزَّلاَزِلَ
وَاْلمِحَنَ،
وَسُوْءَ
اْلفِتْنَةِ
وَاْلمِحَنَ
مَا ظَهَرَ
مِنْهَا
وَمَا
بَطَنَ، عَنْ
بَلَدِنَا
اِنْدُونِيْسِيَّا
خآصَّةً
وَسَائِرِ
بُلْدَانِ
اْلمُسْلِمِيْنَ
عآمَّةً يَا رَبَّ
اْلعَالَمِيْنَ،
رَبَّنَا
آتِناَ فِى
الدُّنْيَا
حَسَنَةً
وَفِى
اْلآخِرَةِ حَسَنَةً
وَقِنَا
عَذَابَ
النَّارِ،
رَبَّنَا
ظَلَمْنَا
اَنْفُسَنَا
وَإنْ لَمْ تَغْفِرْ
لَنَا
وَتَرْحَمْنَا
لَنَكُوْنَنَّ
مِنَ
اْلخَاسِرِيْنَ.
عِبَادَ
اللهِ ! إِنَّ
اللهَ
يَأْمُرُ
بِاْلعَدْلِ
وَاْلإِحْسَانِ
وَإِيْتآءِ
ذِي
اْلقُرْبىَ
وَيَنْهَى
عَنِ اْلفَحْشآءِ
وَاْلمُنْكَرِ
وَاْلبَغْي
يَعِظُكُمْ
لَعَلَّكُمْ
تَذَكَّرُوْنَ،
وَاذْكُرُوا
اللهَ
اْلعَظِيْمَ
يَذْكُرْكُمْ،
وَاسْأَلُوْهُ
مِنْ
فَضْلِهِ
يُعْطِكُمْ،
وَاشْكُرُوْهُ
عَلىَ
نِعَمِهِ
يَزِدْكُمْ،
وَلَذِكْرُ
اللهِ
أَكْبَرْ