EKONOMI
KUAT DAN BERDAULAT HANYA DENGAN SYARIAH
KHUTBAH PERTAMA
اللّٰهُمَّ
صَلِّ
وَسَلِّمْ
عَلَى سَيِّدِنَا
مُحَمَّدٍ
النَّبِيِّ
الْأُمِّيِّ،
الصَّادِقِ
الْأَمِيْنِ،
وَعَلَى
آلِهِ وَصَحْبِهِ
الَّذِيْنَ
حَسُنَ
إِسْلَامُهُمْ.
أَمَّا
بَعْدُ؛
فَيَا
أَيُّهَا
الْحَاضِرُوْنَ
رَحِمَكُمُ
اللهُ،
أُوْصِيْ نَفْسِيْ
وَإِيَّاكُمْ
بِتَقْوَى
اللهِ، فَقَدْ
فَازَ
الْمُتَّقُوْنَ.
قَالَ اللهُ
تَعَالَى: وَلَوْ
اَنَّ اَهْلَ
الْقُرٰٓى
اٰمَنُوْا وَاتَّقَوْا
لَفَتَحْنَا
عَلَيْهِمْ
بَرَكٰتٍ
مِّنَ
السَّمَاۤءِ
وَالْاَرْضِ
وَلٰكِنْ
كَذَّبُوْا
فَاَخَذْنٰهُمْ
بِمَا كَانُوْا
يَكْسِبُوْنَ ٩٦
(اَلأَعْرَافُ)
Alhamdulillâhi Rabbil ‘Âlamîn, segala puji bagi
Allah SWT yang telah menganugerahkan kita nikmat iman dan Islam, serta
mempertemukan kita di tempat yang diberkahi ini. Shalawat dan salam semoga
senantiasa tercurah kepada junjungan kita, Nabi Muhammad SAW, beserta keluarga,
sahabat, dan seluruh umatnya hingga akhir zaman.
Bertakwalah kepada Allah SWT dengan
sebenar-benarnya takwa sebagaimana firman-Nya:
يٰٓاَيُّهَا
الَّذِيْنَ
اٰمَنُوا
اتَّقُوا
اللّٰهَ
حَقَّ
تُقٰىتِه
وَلَا
تَمُوْتُنَّ
اِلَّا
وَاَنْتُمْ
مُّسْلِمُوْنَ
“Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dengan
sebenar-benar takwa kepada-Nya dan janganlah kamu mati kecuali dalam keadaan
muslim.” (QS. Âli Imrân [3]: 102)
Sungguh takwa adalah benteng terakhir kita di tengah
kehidupan akhir zaman saat ini. Dan sungguh, hanya dengan takwa kita akan
selamat di dunia dan akhirat.
Ma’âsyiral Muslimîn rahimakumullâh,
Rupiah terus tertekan dan kini telah menembus level Rp.18.000
per dolar AS. Pelemahan ini bukan sekadar persoalan nilai tukar, tetapi
berdampak langsung pada kehidupan masyarakat. Ketika rupiah melemah, harga
bahan baku impor dan biaya produksi meningkat sehingga harga berbagai kebutuhan
ikut naik. Akibatnya, daya beli masyarakat menurun karena pendapatan tidak
bertambah secepat kenaikan harga barang dan jasa.
Kondisi ini juga menekan dunia usaha, khususnya sektor
manufaktur yang masih bergantung pada impor. Kenaikan biaya produksi berisiko
mengurangi aktivitas usaha hingga memicu PHK. Data Bank Dunia menunjukkan bahwa
pasar kerja Indonesia masih menghadapi tantangan serius, ditandai banyaknya
pekerjaan berupah rendah dan menurunnya upah riil. Karena itu, masyarakat
berpenghasilan tetap dan kelas menengah menjadi pihak yang paling terdampak
melalui naiknya biaya hidup, turunnya daya beli, dan semakin sempitnya kesempatan
kerja.
Ma’âsyiral Muslimîn rahimakumullâh,
Lalu, apa yang menyebabkan rupiah terus melemah? Salah
satu penyebab utamanya adalah ketergantungan ekonomi Indonesia pada impor dan
modal asing. Meski kaya sumber daya alam, berbagai kebutuhan strategis seperti
bahan baku industri, mesin, teknologi, energi, dan sebagian pangan masih banyak
diimpor. Data BI dan BPS menunjukkan bahwa impor bahan baku dan barang modal
masih mendominasi struktur impor nasional. Di sisi lain, ketergantungan pada
investasi asing membuat rupiah rentan terhadap gejolak ekonomi global, terutama
ketika investor menarik modalnya dari Indonesia.
Selain itu, meningkatnya utang negara juga menjadi faktor
penting. Pada tahun 2026, Pemerintah menghadapi jatuh tempo utang sekitar Rp.833,96
triliun atau yang dikenal sebagai debt wall (tembok utang). Besarnya
kebutuhan pembiayaan ini dapat meningkatkan persepsi risiko di mata investor.
Ditambah dominasi dolar AS dalam sistem keuangan global, terutama saat suku
bunga Amerika Serikat naik, tekanan terhadap rupiah semakin besar. Karena itu,
ketergantungan pada impor, modal asing, utang, dan dominasi dolar menjadi
faktor utama yang melemahkan nilai rupiah.
Ma’âsyiral Muslimîn rahimakumullâh,
Bagaimana Islam memandang persoalan ini? Dari perspektif
Islam, pelemahan rupiah bukan sekadar masalah kurs atau moneter, melainkan
gejala dari ketergantungan struktural yang lahir dari sistem ekonomi
kapitalisme sekuler. Karena itu, krisis ekonomi dan hilangnya keberkahan tidak
semata-mata disebabkan oleh faktor teknis-ekonomis, tetapi juga oleh jauhnya
kehidupan dari petunjuk wahyu. Allah SWT berfirman:
وَلَوْ
اَنَّ اَهْلَ
الْقُرٰٓى
اٰمَنُوْا وَاتَّقَوْا
لَفَتَحْنَا
عَلَيْهِمْ
بَرَكٰتٍ
مِّنَ
السَّمَاۤءِ
وَالْاَرْضِ
وَلٰكِنْ
كَذَّبُوْا
فَاَخَذْنٰهُمْ
بِمَا كَانُوْا
يَكْسِبُوْنَ
”Sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pasti Kami akan
melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi. Akan tetapi, mereka
mendustakan (ayat-ayat Kami). Karena itu Kami menyiksa mereka disebabkan
perbuatan mereka itu” (QS. al-A’râf [7]: 96).
Islam juga memandang sistem ribawi sebagai salah satu
sumber utama persoalan ekonomi modern. Padahal Allah SWT telah menegaskan:
وَأَحَلَّ
اللَّهُ
الْبَيْعَ
وَحَرَّمَ
الرِّبَا
”Allah telah menghalalkan jual-beli dan mengharamkan riba” (QS. al-Baqarah [2]:
275) bahkan mengumumkan perang terhadap pelaku riba:
فَأْذَنُوْا
بِحَرْبٍ
مِّنَ
اللّٰهِ وَرَسُوْلِهٖ
”Karena itu umumkanlah perang dari Allah dan Rasul-Nya” (QS. al-Baqarah [2]:
279).
Karena itu, pertama, negeri ini wajib meninggalkan
seluruh instrumen pembiayaan berbasis riba, termasuk utang berbunga dan
obligasi ribawi, serta menggantinya dengan sumber-sumber pendapatan syar'i.
Kedua, pengelolaan sumber
daya alam harus dikembalikan sesuai syariah, yakni dikelola negara untuk
kepentingan rakyat, bukan diserahkan kepada swasta atau asing. Rasulullah SAW
bersabda:
الْمُسْلِمُونَ
شُرَكَاءُ
فِي ثَلَاثٍ
فِي الْمَاءِ
وَالْكَلَإِ
وَالنَّارِ
وَثَمَنُهُ
حَرَامٌ
“Kaum Muslim berserikat dalam tiga perkara: air, padang rumput, dan api; dan harganya adalah haram” (HR. Ibnu Majah).
Dengan pengelolaan SDA yang benar, negara memiliki sumber pemasukan besar
sehingga tidak bergantung pada utang dan modal asing.
Ketiga, negeri ini perlu
beralih kepada sistem moneter berbasis dinar dan dirham agar terlepas dari
dominasi dolar AS, sehingga nilai mata uang lebih stabil dan inflasi lebih
terkendali.
Keempat, negara harus
mewujudkan kemandirian ekonomi dengan membangun kekuatan produksi dalam negeri
pada sektor pertanian, industri, energi, pertambangan, teknologi, dan sektor
strategis lainnya agar tidak bergantung pada impor.
Kelima, negara harus
membangun sistem keuangan yang mandiri melalui institusi Baitul Mal, dengan
pemasukan yang bersumber dari pos-pos syar'i seperti kharaj, jizyah, fai’,
ghanimah, ‘usyur, harta milik negara, dan hasil pengelolaan kepemilikan umum.
Dengan penerapan syariah secara menyeluruh dalam pengelolaan ekonomi, negara
diyakini mampu mewujudkan kemandirian ekonomi, stabilitas moneter, dan
kesejahteraan rakyat tanpa bergantung pada utang maupun dominasi ekonomi asing.
Ma’âsyiral Muslimîn rahimakumullâh,
Seluruh solusi tersebut tidak akan dapat diwujudkan
secara sempurna kecuali dengan penerapan syariah Islam secara kaaffah.
Sebab, Islam tidak memandang persoalan ekonomi hanya sebagai masalah teknis,
melainkan sebagai bagian dari sistem kehidupan yang harus diatur berdasarkan
wahyu Allah SWT. Allah SWT berfirman:
اَفَحُكْمَ
الْجَاهِلِيَّةِ
يَبْغُوْنَۗ
وَمَنْ
اَحْسَنُ
مِنَ اللّٰهِ
حُكْمًا لِّقَوْمٍ
يُّوْقِنُوْنَ
”Apakah sistem hukum jahiliah yang mereka kehendaki? Siapakah yang lebih
baik hukumnya daripada Allah bagi kaum yang meyakini?” (QS. al-Mâ’idah
[5]: 50).
Karena itu, solusi mendasar untuk mewujudkan mata uang
yang kuat dan ekonomi yang berdaulat adalah penerapan syariah Islam secara
menyeluruh dalam sistem pemerintahan Islam (Khilafah). Dengan menerapkan
hukum-hukum Allah dalam bidang politik, ekonomi, moneter, keuangan,
perdagangan, industri, dan pengelolaan sumber daya alam, kemandirian ekonomi,
keadilan distribusi kekayaan, serta stabilitas moneter diyakini dapat terwujud
secara berkelanjutan. Wallâhu a‘lam bish-shawâb.[]
بَارَكَ
اللهُ لِيْ
وَلَكُمْ فِى
الْقُرْآنِ
الْعَظِيْمِ،
وَنَفَعَنِيْ
وَإِيَّاكُمْ
بِمَا فِيْهِ
مِنَ
الْآيَاتِ
وَالذِّكْرِ
الْحَكِيْمِ،
وَتَقَبَّلَ
مِنَّا
وَمِنْكُمْ
تِلَاوَتَهُ
وَإِنَّهُ
هُوَ
السَّمِيْعُ
الْعَلِيْمُ.
أَقُوْلُ
قَوْلِيْ
هَذَا،
وَأَسْتَغْفِرُ
اللهَ
الْعَظِيْمَ
لِيْ
وَلَكُمْ،
إِنَّهُ هُوَ
الْغَفُوْرُ
الرَّحِيْمُ
KHUTBAH
KEDUA
اَلْحَمْدُ
لِلّٰهِ
عَلَى
إِحْسَانِهِ،
وَالشُّكْرُ
لَهُ عَلَى
تَوْفِيْقِهِ
وَامْتِنَانِهِ.
وَأَشْهَدُ
أَنْ لَا
إِلٰهَ إِلَّا
اللهُ
وَحْدَهُ لَا
شَرِيْكَ
لَهُ، وَأَشْهَدُ
أنَّ
سَيِّدَنَا
مُحَمَّدًا
عَبْدُهُ
وَرَسُوْلُهُ
الدَّاعِى
إِلَى رِضْوَانِهِ.
اللّٰهُمَّ
صَلِّ عَلَى
سَيِّدِنَا
مُحَمَّدٍ
وَعَلَى
آلِهِ
وَأَصْحَابِهِ
وَسَلِّمْ
تَسْلِيْمًا
كَثِيْرًا.
أَمَّا
بَعْدُ؛
فَياَ
أَيُّهَا
النَّاسُ اتَّقُوا
اللّٰهَ
فِيْمَا
أَمَرَ
وَانْتَهُوْا
عَمَّا
نَهَى،
وَاعْلَمُوْا
أَنَّ اللهَ
أَمَرَكُمْ
بِأَمْرٍ
بَدَأَ
فِيْهِ بِنَفْسِهِ
وَثَنَّى
بِمَلَائِكَتِهِ
الْمُسَبِّحَةِ
بِقُدْسِهِ،
وَقَالَ
تَعاَلَى:
إِنَّ اللهَ
وَمَلَائِكَتَهُ
يُصَلُّوْنَ
عَلَى
النَّبِيِّ
يَا أَيُّهَا
الَّذِيْنَ
آمَنُوْا
صَلُّوْا
عَلَيْهِ
وَسَلِّمُوْا
تَسْلِيْمًا.
اللّٰهُمَّ
صَلِّ عَلَى
سَيِّدِنَا
مُحَمَّدٍ
وَعَلَى آلِ
سَيِّدِناَ
مُحَمَّدٍ، وَعَلَى
أَنْبِيَائِكَ
وَرُسُلِكَ
وَمَلَائِكَتِكَ
الْمُقَرَّبِيْنَ،
وَارْضَ اللّٰهُمَّ
عَنِ
الْخُلَفَاءِ
الرَّاشِدِيْنَ،
أَبِى بَكْرٍ
وَعُمَرَ
وَعُثْمَانَ
وَعَلِيٍّ،
وَعَنْ
بَقِيَّةِ
الصَّحَابَةِ
وَالتَّابِعِيْنَ،
وَالتَّابِعِيْنَ
لَهُمْ
بِإِحْسَانٍ
اِلَى يَوْمِ
الدِّيْنِ،
وَارْضَ
عَنَّا
مَعَهُمْ
بِرَحْمَتِكَ
يَا أَرْحَمَ
الرَّاحِمِيْنَ.
اَللّٰهُمَّ
اغْفِرْ
لِلْمُؤْمِنِيْنَ
وَالْمُؤْمِنَاتِ
وَالْمُسْلِمِيْنَ
وَالْمُسْلِمَاتِ
الْأَحْيَاءِ
مِنْهُمْ
وَالْأَمْوَاتِ.
اللّٰهُمَّ
أَعِزَّ
الْإِسْلَامَ
وَالْمُسْلِمِيْنَ،
وَأَذِلَّ
الشِّرْكَ وَالْمُشْرِكِيْنَ،
وَانْصُرْ
مَنْ نَصَرَ الدِّيْنَ،
وَاخْذُلْ
مَنْ خَذَلَ
الْمُسْلِمِيْنَ،
وَدَمِّرْ
أَعْدَاءَ
الدِّيْنِ،
وَأَعْلِ
كَلِمَاتِكَ
إِلَى يَوْمِ
الدِّيْنِ.
اَللّٰهُمَّ
إِنَّا
نَسْأَلُكَ
دَوْلَةَ الْخِلاَفَةِ
عَلَى
مِنْهَاجِ
النُّبُوَّةِ
تُعِزُّ
بِهَا
الْإِسْلَامَ
وَاَهْلَهُ
وَتُذِلُّ
بِهَا
الْكُفْرَ
وَاَهْلَهُ،
وَاجْعَلْنَا
مِنَ
الْعَامِلِيْنَ
الْمُخْلِصِيْنَ
لِإِقَامَتِهَا
بِإِذْنِكَ يَا
أَرْحَمَ
الرَّاحِمِيْنَ.
اللّٰهُمَّ
ادْفَعْ
عَنَّا
الْغَلَاءَ
وَالْبَلاَءَ
وَالْوَبَاءَ
وَالزَّلَازِلَ
وَالْمِحَنَ،
وَسُوْءَ
الْفِتَنِ
مَا ظَهَرَ
مِنْهَا
وَمَا
بَطَنَ، عَنْ
بَلَدِنَا إِنْدُوْنِيْسِيَا
خَاصَّةً
وَسَائِرِ بُلْدَانِ
الْمُسْلِمِيْنَ
عَامَّةً يَا
رَبَّ
الْعَالَمِيْنَ.
رَبَّنَا
آتِنَا فِى الدُّنْيَا
حَسَنَةً
وَفِى
الْآخِرَةِ
حَسَنَةً
وَقِنَا
عَذَابَ
النَّارِ.
عِبَادَ
اللهِ! إِنَّ
اللهَ
يَأْمُرُ
بِالْعَدْلِ
وَالْإِحْسَانِ
وَإِيْتآءِ
ذِي الْقُرْبَى
وَيَنْهَى
عَنِ
الْفَحْشآءِ
وَالْمُنْكَرِ
وَالْبَغْيِ
يَعِظُكُمْ
لَعَلَّكُمْ
تَذَكَّرُوْنَ،
وَاذْكُرُوا
اللهَ
الْعَظِيْمَ
يَذْكُرْكُمْ،
وَاسْأَلُوْهُ
مِنْ
فَضْلِهِ
يُعْطِكُمْ،
وَاشْكُرُوْهُ
عَلَى
نِعَمِهِ
يَزِدْكُمْ،
وَلَذِكْرُ
اللهِ
أَكْبَرْ.