DARI
IBADAH HAJI
MENUJU
PERSATUAN UMAT
DAN
KEJAYAAN ISLAM
KHUTBAH PERTAMA
اَلسَّلَامُ
عَلَيْكُمْ
وَرَحْمَةُ
اللهِ
وَبَرَكَاتُهُ
اَللهُ
أَكْبَرُ،
اَللهُ
أَكْبَرُ،
اَللهُ
أَكْبَرُ
اَللهُ
أَكْبَرُ،
اَللهُ
أَكْبَرُ،
اَللهُ
أَكْبَرُ
اَللهُ
أَكْبَرُ،
اَللهُ
أَكْبَرُ،
اَللهُ
أَكْبَرُ
اَللهُ
اَكْبَرُ
كَبِيْرًا
وَالْحَمْدُ
ِللهِ
كَثِيْرًا
وَسُبْحَانَ
اللهِ بُكْرَةً
وَاَصِيْلاً،
لاَ إِلٰهَ
اِلاَّ اللهُ وَلاَ
نَعْبُدُ
إِلاَّ
إِيَّاهُ
مُخْلِصِيْنَ
لَهُ الدِّيْنَ
وَلَوْ
كَرِهَ
الْكَافِرُوْنَ،
لاَ إِلٰهَ
إِلاَّ اللهُ
وَحْدَهُ،
صَدَقَ
وَعْدَهُ،
وَنَصَرَ عَبْدَهُ،
وَهَزَمَ
الأَحْزَابَ
وَحْدَهُ، لاَ
إِلٰهَ
إِلاَّ اللهُ،
اللهُ
أكْبَرُ،
الله
اَكْبَرُ وَللهِ
الْحَمْدُ.
اَلْحَمْدُ
ِللهِ
الَّذِيْ
جَعَلَ
الْيَوْمَ
عِيْداً
لِلْمُسْلِمِيْنَ،
وَوَحَّدَنَا
بِعِيْدِهِ
كَأُمَّةٍ
وَاحِدَةٍ،
مِنْ غَيْرِ
الأُمَمِ،
وَنَشْكُرُهُ
عَلَى
كَمَالِ
إِحْسَانِهِ،
وَهُوَ ذُو
الْجَلاَلِ
وَاْلإِكْراَمِ.
أَشْهَدُ
اَنْ لاَ إِلٰهَ
اِلاَّ
أَنْتَ
وَحْدَكَ
لاَشَرِيْكَ
لَكَ، اَللّٰهُمَّ مَالِكَ
الْمُلْكِ
تُؤْتِي
الْمُلْكَ
مَن تَشَاءُ،
وَتَنْزِِعُ
الْمُلْكَ
مِمَّنْ
تَشَاءُ،
وَتُعِزُّ
مَنْ تَشَاءُ،
وَتُذِلُّ
مَنْ تَشَاءُ،
بِيَدِكَ
الْخَيْرُ،
إِنَّكَ
عَلَى كُلِّ
شَيْءٍ قَدِيْرٌ،
وَأَشْهَدُ
اَنَّ
مُحَمَّداً
عَبْدُكَ
وَرَسُوْلُكَ.
اَللّٰهُمَّ صَلِّ
وَسَلِّمْ
عَلَى
حَبِيْبِناَ
المُصْطَفَى،
الَّذِّي
بَلَّغَ
الرِّسَالَةَ،
وَأَدَّى
الأَمَانَةَ،
وَنَصَحَ
الأُمَّةَ،
وَعَلَى
آلِهِ
وَأَصْحَابِهِ
وَمَنْ دَعاَ
اِلَى اللهِ
بِدَعْوَتِهِ،
وَجاَهَدَ
فِيْ اللهِ
حَقَّ
جِهاَدِهِ.
اَمَّا بَعْدُ:
عِبَادَ
اللهِ،
أُوْصِيْكُمْ
وَإِيَّايَ
بِتَقْوَى
اللهِ فَقَدْ
فَازَ
المُتَّقُوْنَ
AlLaahu
akbar 3x walilLaahil hamd.
Ma’aasyiral Muslimiin, Jama’ah
Shalat Idul Adha rahimakumulLaah.
Segenap pujian hanya milik Allah SWT. Tuhan alam semesta. Dialah
Tuhan
Yang Mahakuasa. Dialah Tuhan Yang dengan kehendak-Nya telah memberi kita kesempatan
untuk bisa merasakan
kembali kehadiran hari istimewa. Hari Raya Idul Adha.
Gema takbir, tahlil dan tahmid berkumandang di mana-mana.
Di seantero penjuru dunia. Inilah salah satu tanda kesyukuran sekaligus syiar Islam
dan kesatuan visi keimanan.
Shalawat dan salam semoga senantiasa
Allah SWT curahkan kepada
Rasul-Nya, Muhammad saw. Beliaulah yang telah menjadi wasilah Islam
sampai kepada kita semua. Beliaulah teladan dalam segala aspek kehidupan manusia. Baik dalam kehidupan pribadi maupun keluarga. Baik
dalam kehidupan masyarakat maupun dalam kepemimpinan negara.
AlLaahu
akbar 3x walilLaahil hamd.
Ma’aasyiral Muslimiin, Jama’ah Shalat Idul Adha rahimakumulLaah.
Setiap
kali datang Hari Raya Idul Adha, kita selalu diingatkan dengan dua sosok agung
dan istimewa; Nabi Ibrahim as. dan Nabi Ismail as.. Dari kedua utusan Allah ini
kita juga diingatkan dengan dua peristiwa besar dalam Islam. Itulah ibadah haji
dan ibadah kurban. Keduanya juga diperintahkan oleh Allah untuk membangun
Ka’bah. Dengan penuh ketaatan, keduanya membangun Ka’bah seraya berdoa kepada
Allah. Peristiwa ini diabadikan dalam firman-Nya:
وَاِذْ
يَرْفَعُ
اِبْرٰهٖمُ الْقَوَاعِدَ
مِنَ الْبَيْتِ
وَاِسْمٰعِيْلُۗ
رَبَّنَا تَقَبَّلْ
مِنَّاۗ اِنَّكَ
اَنْتَ السَّمِيْعُ
الْعَلِيْمُ
“(Ingatlah) ketika Ibrahim meninggikan
fondasi Baitullah bersama Ismail (seraya berdoa), “Ya Tuhan kami, terimalah (amal)
dari kami. Sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui." (QS al-Baqarah
[2]: 127).
Ibadah
haji adalah bagian dari rukun Islam yang hukumnya wajib bagi Muslim yang
memiliki kemampuan. Ibadah haji juga menjadi simbol tentang ketaatan kepada
Allah SWT, pengorbanan, sekaligus persatuan kaum Muslim dari seluruh penjuru
dunia. Demikian sebagaimana dinyatakan dalam firman-Nya:
وَاَذِّنْ
فِى النَّاسِ
بِالْحَجِّ
يَأْتُوْكَ
رِجَالًا
وَّعَلٰى
كُلِّ
ضَامِرٍ يَّأْتِيْنَ
مِنْ كُلِّ
فَجٍّ
عَمِيْقٍ
“(Wahai Ibrahim, serulah manusia untuk
(mengerjakan) haji, niscaya mereka akan datang kepadamu dengan berjalan kaki
dan mengendarai unta kurus yang datang dari segenap penjuru yang jauh.” (QS al-Hajj [22]:
27).
AlLaahu
akbar 3x walilLaahil hamd.
Ma’aasyiral Muslimiin, Jama’ah
Shalat Idul Adha rahimakumulLaah.
Ibadah
haji merupakan salah satu syariah agung yang mengandung makna mendalam tentang
ketaatan seorang hamba kepada Allah SWT. Seluruh rangkaian ibadah haji
mengajarkan bahwa seorang Muslim harus tunduk sepenuhnya pada perintah Allah
SWT.
Kisah
Nabi Ibrahim as., Siti Hajar dan Nabi Ismail as. menjadi fondasi spiritual
ibadah haji yang menunjukkan puncak ketaatan kepada Allah SWT. Nabi Ibrahim as.
rela meninggalkan keluarganya di padang tandus Makkah. Ia bahkan bersedia
mengorbankan putranya semata-mata karena ketaatan pada perintah Allah SWT. Dari
sini haji mengajarkan bahwa keimanan sejati menuntut kepasrahan total pada
kehendak Ilahi. Demikian sebagaimana dinyatakan dalam firman-Nya:
وَاَتِمُّوا
الْحَجَّ
وَالْعُمْرَةَ
لِلّٰهِ
“Sempurnakanlah oleh kalian ibadah haji dan
umrah semata-mata karena Allah”
(QS al-Baqarah [2]: 196).
AlLaahu
akbar 3x walilLaahil hamd.
Ma’aasyiral Muslimiin, Jama’ah
Shalat Idul Adha rahimakumulLaah.
Selain
simbol ketaatan, ibadah haji juga merupakan simbol pengorbanan. Seorang Muslim
yang berhaji harus mengorbankan harta, tenaga, waktu dan kenyamanan demi
memenuhi panggilan Allah SWT. Pakaian ihram yang sederhana mengajarkan
pelepasan atribut duniawi seperti status sosial, kekayaan dan kebanggaan diri.
Semua Jama’ah tampil setara di hadapan Allah SWT. Tak tampak perbedaan jabatan,
ras maupun kebangsaan.
Nilai
pengorbanan ini juga mengingatkan manusia bahwa kehidupan dunia tidak boleh
menjadikan seseorang sombong dan lalai dari tujuan akhirat. Rasulullah saw.
bersabda:
مَنْ
حَجَّ
لِلَّهِ
فَلَمْ
يَرْفُثْ
وَلَمْ
يَفْسُقْ،
رَجَعَ
كَيَوْمِ
وَلَدَتْهُ أُمُّهُ
”Siapa saja
yang menunaikan ibadah haji semata-mata ikhlas karena Allah, lalu tidak berkata
kotor dan tidak berbuat fasik, maka ia kembali seperti hari dilahirkan oleh
ibunya.” (HR al-Bukhari dan Muslim).
Hadits ini menunjukkan bahwa ibadah haji bukan sekadar perjalanan
fisik. Ia juga merupakan
proses penyucian jiwa
melalui pengorbanan dan keikhlasan.
AlLaahu
akbar 3x walilLaahil hamd.
Ma’aasyiral Muslimiin, Jama’ah
Shalat Idul Adha rahimakumulLaah.
Ibadah haji juga menjadi simbol
persatuan umat Islam sedunia. Jutaan Muslim dari berbagai negara, bahasa, warna kulit berkumpul di Masjidil Haram.
Semuanya memiliki tujuan
yang sama, yaitu beribadah kepada Allah SWT.
Karena itu ibadah haji juga harus dipahami sebagai melting point
(titik lebur) kaum Muslim dari berbagai penjuru dunia. Mereka melebur menjadi
satu. Tak tampak lagi suku, bangsa, warna kulit, bahasa maupun status sosial
dan ekonomi. Semua menghamba hanya kepada Rabb Yang Satu, Allah SWT.
Mereka
menghadap kiblat yang sama, pakaian yang sama, melaksanakan ritual yang sama.
Momentum ini menunjukkan bahwa Islam adalah agama persaudaraan. Islam menyatukan
umat Muslim di seluruh dunia di atas dasar tauhid. Allah SWT berfirman:
اِنَّمَا
الْمُؤْمِنُوْنَ
اِخْوَةٌ
فَاَصْلِحُوْا
بَيْنَ
اَخَوَيْكُمْ
وَاتَّقُوا
اللّٰهَ
لَعَلَّكُمْ
تُرْحَمُوْنَ
”Sesungguhnya
kaum Mukmin itu bersaudara. Sebab itu, damaikanlah di antara sesama saudara
kalian itu, dan takutlah kepada Allah, supaya kalian mendapat rahmat.” (QS. al-Hujurât [49]: 10).
AlLaahu
akbar 3x walilLaahil hamd.
Ma’aasyiral Muslimiin, Jama’ah
Shalat Idul Adha rahimakumulLaah.
Spirit ketaatan, pengorbanan dan persatuan yang terkandung dalam
ibadah haji seharusnya tidak berhenti
pada dimensi ritual individual semata.
Ibadah haji juga seharusnya melahirkan
kesadaran kolektif umat Islam dalam aspek sosial, politik dan peradaban.
Ibadah haji mempertemukan jutaan kaum Muslim dari berbagai bangsa, bahasa dan mazhab dalam satu kiblat dan satu tujuan penghambaan
hanya kepada Allah SWT. Momentum ini menunjukkan bahwa Islam memiliki fondasi persatuan Muslim seluruh dunia yang melampaui
batas etnis maupun nasionalisme sempit.
Dalam sejarah, semangat persatuan ini pernah menjadi kekuatan besar yang melahirkan solidaritas politik dan peradaban Dunia
Islam. Marshall Hodgson dalam The Venture
of Islam menjelaskan bahwa
salah satu kekuatan utama peradaban Islam klasik adalah kesadaran kolektif umat sebagai satu komunitas global (ummah).
Mereka terhubung oleh akidah, hukum dan budaya intelektual yang sama. Kekuatan utama peradaban Islam yang menyatukan negeri-negeri Muslim itulah
Khilafah Islamiyah.
AlLaahu
akbar 3x walilLaahil hamd.
Ma’aasyiral Muslimiin, Jama’ah
Shalat Idul Adha rahimakumulLaah.
Akan tetapi, realitas Dunia Islam kontemporer menunjukkan kondisi
yang berlawanan. Persatuan umat melemah akibat
konflik politik, nasionalisme, sektarianisme dan kepentingan geopolitik global. Krisis kemanusiaan di Gaza
Palestina menjadi salah satu contoh
nyata lemahnya solidaritas politik Dunia Islam.
Meski sudah jelas derita muslim
di Gaza, namun para penguasa negeri-negeri Muslim
hanya memainkan retorika politik atau sekedar bantuan kemanusiaan. Pada saat yang sama,
mereka tetap membiarkan Zionis Yahudi tetap leluasa melakukan genosida atas saudara-saudara kita di Gaza.
Kondisi ini memperlihatkan adanya jurang
antara simbol persatuan umat dalam ibadah
dengan realitas politik
Dunia Islam yang masih terpecah-belah
dan terjajah.
AlLaahu
akbar 3x walilLaahil hamd.
Ma’aasyiral Muslimiin, Jama’ah
Shalat Idul Adha rahimakumulLaah.
Ketegangan geopolitik di kawasan Timur Tengah juga memperlihatkan
kompleksitas hubungan antarnegara Muslim. Konflik yang melibatkan Iran, Israel dan Amerika Serikat
di tahun 2026 ini sering dipengaruhi oleh kepentingan politik regional maupun global. Dalam situasi tersebut, sebagian negara Arab memiliki hanya memikirkan kepentingan nasional
masing-masing.
Padahal
secara historis, Iran memiliki
hubungan panjang dengan peradaban Islam sejak masa penaklukan Persia pada era Khalifah Umar bin al-Khaththab ra. Wilayah Persia
kemudian menjadi salah satu pusat
penting perkembangan ilmu pengetahuan,
filsafat, kedokteran dan peradaban Islam. Tokoh-tokoh
besar seperti Imam al-Ghazali, Ibnu Sina dan al-Farabi lahir
dari tradisi intelektual Dunia Islam yang berkembang
di kawasan tersebut. Selain
mayoritas penduduk Muslim,
Iran juga memiliki jutaan
Muslim Sunni yang hidup berdampingan
dengan komunitas Syiah.
Jama’ah Muslim Iran pun setiap
tahun melaksanakan ibadah haji ke Masjidil Haram
sebagaimana kaum Muslim dari
negara lain. Karena itu dalam perspektif
sejarah dan sosiologis,
Iran tetap merupakan bagian dari
Dunia Islam. Perbedaan politik dan mazhab seharusnya tidak menghapus kesadaran bahwa umat Islam memiliki ikatan akidah dan tanggung jawab iman
untuk membangun solidaritas,
persaudaraan dan persatuan
di tengah berbagai konflik global saat ini.
Di sisi lain, di negeri ini khususnya,
umat Islam di tingkat akar rumput sering terpecah oleh sentimen mazhab dan sektarianisme sehingga solidaritas kemanusiaan melemah. Padahal
Islam mengajarkan pentingnya
ukhuwah dan keadilan, bahkan kepada kelompok
yang berbeda pandangan. Perbedaan mazhab
tidak boleh menjadi alasan untuk menghancurkan
persatuan umat atau mengabaikan penderitaan sesama Muslim yang hanya menguntungkan
kekuatan eksternal yang ingin mempertahankan
fragmentasi Dunia Islam.
AlLaahu
akbar 3x walilLaahil hamd.
Ma’aasyiral Muslimiin, Jama’ah
Shalat Idul Adha rahimakumulLaah.
Ibadah haji seharusnya tidak hanya dipahami
sebagai ritual spiritual tahunan. Ibadah haji juga
harus dipahami sebagai momentum pembuktian
ketaatan dan persatuan umat Islam sedunia. Jika umat dengan populasi lebih dari dua miliar jiwa bersatu sesungguhnya
akan menjadi kekuatan demografis
terbesar di dunia. Apalagi
bila potensi tersebut disatukan dalam satu kepemimpinan politik, umat Islam dapat menjadi kekuatan peradaban
yang disegani dunia, yakni
di bawah Khilafah Islamiyyah. Sungguh
Allah SWT telah berfirman:
وَاعْتَصِمُوْا
بِحَبْلِ
اللّٰهِ
جَمِيْعًا
وَّلَا
تَفَرَّقُوْا
”Berpegang teguhlah kalian semuanya pada tali (agama)
Allah dan janganlah bercerai-berai” (QS. Âli
‘Imrân [3]: 103).
Selain memiliki jumlah penduduk yang
besar, Dunia Islam juga dianugerahi sumberdaya alam dan posisi geopolitik yang sangat strategis.
Sejarah sudah menunjukkan bahwa
peradaban Islam pernah menjadi kekuatan besar dunia
ketika umat bersatu dalam visi dan kepemimpinan yang kuat, yakni Khilafah Islamiyah, di
bawah kepemimpinan seorang
khalifah.
Demikian pula di tanah air. Kaum
Muslim harus menjaga persatuan
dan memelihara ukhuwah islamiyah di tengah berbagai perbedaan politik, organisasi maupun mazhab. Persatuan umat sangat penting agar masyarakat
tidak mudah dipecah-belah oleh kepentingan
sempit yang dapat melemahkan
kekuatan mereka. Ingatlah sabda Rasulullah saw.:
مَثَلُ
الْمُؤْمِنِينَ
فِي
تَوَادِّهِمْ
وَتَرَاحُمِهِمْ
وَتَعَاطُفِهِمْ
مَثَلُ
الْجَسَدِ
الْوَاحِدِ،
إِذَا
اشْتَكَى مِنْهُ
عُضْوٌ
تَدَاعَى
لَهُ سَائِرُ
الْجَسَدِ
بِالسَّهَرِ
وَالْحُمَّى
“Perumpamaan kaum Mukmin dalam hal saling mencintai,
mengasihi dan menyayangi
seperti satu tubuh. Jika satu anggota tubuh
sakit, seluruh tubuh tak tidur dan demam.” (HR. al-Bukhari dan Muslim).
Semoga Allah SWT senantiasa menolong
dan meridhai perjuangan umat Islam di seluruh dunia untuk menegakkan kembali
kejayaan peradaban Islam di bawah naungan Khilafah Islamiyah. Kepemimpinan yang
akan melindungi dan menjaga umat dari segala kezaliman.
اِذَا
جَاۤءَ
نَصْرُ
اللّٰهِ
وَالْفَتْحُۙ ١
وَرَاَيْتَ
النَّاسَ
يَدْخُلُوْنَ
فِيْ دِيْنِ
اللّٰهِ
اَفْوَاجًاۙ ٢
فَسَبِّحْ بِحَمْدِ
رَبِّكَ
وَاسْتَغْفِرْهُۗ
اِنَّهٗ كَانَ
تَوَّابًاࣖ ٣
“Jika
telah datang pertolongan Allah dan kemenangan, dan kamu lihat manusia masuk
agama Allah dengan berbondong-bondong, maka bertasbihlah dengan memuji Tuhanmu,
dan mohonlah ampun kepada-Nya. Sesungguhnya Dia adalah Maha Penerima tobat.” (QS. an-Nashr
[110]: 1-3).
KHUTBAH 2
اَللهُ
أَكْبَرُ،
اَللهُ
أَكْبَرُ،
اَللهُ
أَكْبَرُ
اَللهُ
أَكْبَرُ،
اَللهُ
أَكْبَرُ،
اَللهُ
أَكْبَرُ،
اَللهُ
أَكْبَرُ
اَللهُ
اَكْبَرُ
كَبِيْرًا
وَالْحَمْدُ
ِللهِ
كَثِيْرًا
وَسُبْحَانَ
اللهِ بُكْرَةً
وَاَصِيْلاً،
لاَ إِلٰهَ اِلَّا
اللهُ وَلاَ
نَعْبُدُ
إِلاَّ
إِيَّاهُ مُخْلِصِيْنَ
لَهُ الدِّيْنَ
وَلَوْ
كَرِهَ
الْكَافِرُوْنَ،
لاَ إِلٰهَ إِلاَّ
اللَّهُ
وَحْدَهُ،
صَدَقَ
وَعْدَهُ،
وَنَصَرَ
عَبْدَهُ،
وَهَزَمَ
الأَحْزَابَ
وَحْدَهُ،
لاَ إِلٰهَ إِلَّا
اللَّهُ،
اللهُ
أكْبَرُ،
الله
اَكْبَرُ وَللهِ
الْحَمْدُ.
أَشْهَدُ أَنْ
لَا إِلٰهَ إِلَّا
اللهُ
وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ
لَهُ،
وأَشْهَدُ
أنَّ
مُحَمَّدًا
عَبْدُهُ
وَرَسُوْلُهُ
لَا نَبِيَ
بَعْدَهُ. اَللّٰهُمَّ
صَلِّ
وَسَلِّمْ
عَلَى
سَيِّدِنَا
مُحَمَّدٍ
وَعَلى
أَلِهِ
وَأَصْحَابِهِ
وَمَنْ كَانَ
لَهُمْ
مِنَ
التَّابِعِيْنَ،
صَلَاةً دَائِمَةً
بِدَوَامِ
السَّمَوَاتِ
وَالْأَرْضِيْنَ.
أَمَّا
بَعْدُ: فَيَا
أَيُّهَا
الْحَاضِرُوْنَ
اتَّقُوا
اللَّهَ
حَقَّ
تُقَاتِهِ وَذَرُوْا
الْفَوَاحِشَ
مَا ظَهَرَ
مِنْهَا وَمَا
بَطَنَ.
AlLaahu
akbar 3x walilLaahil hamd.
Ma’aasyiral Muslimiin, Jama’ah
Shalat Idul Adha rahimakumulLaah.
Pada khutbah
yang kedua ini, marilah kita sama-sama
berdoa kepada Allah SWT. Semoga Allah SWT mengabulkan doa-doa kita. Aamiin
yaa Rabbal ‘aalamiin.
اَللّٰهُمَّ صَلِّ
عَلَى
مُحَمَّدٍ
وَعَلَى آلِ
مُحَمَّدٍ،
كَمَا
صَلَّيْتَ
عَلَى
إِبْرَاهِيْمَ
وَعَلَى آلِ
إِبْرَاهِيْمَ،
فِي الْعَالَمِيْنَ
إنَّكَ
حَمِيْدٌ
مَجِيْدٌ.
اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ
لِلْمُسْلِمِيْنَ
وَالْمُسْلِمَاتِ،
وَالْمُؤْمِنِيْنَ
وَالْمُؤْمِنَاتِ
اَْلأَحْيَاءِ
مِنْهُمْ
وَاْلأَمْوَاتِ.
رَبَّنَا
ظَلَمْنَا
أَنْفُسَنَا،
وَاِنْ لَمْ
تَغْفِرْلَنَا
وَتَرْحَمْنَا،
لَنَكُوْنَنَّا
مِنَ
الْخَاسِرِيْنَ،
اَللّٰهُمَّ تَقَبَّلْ
مِنَّا
دُعَائَنَا،
إِنَّكَ أَنْتَ
السَّمِيْعُ
الْعَلِيْمُ،
وَتُبْ عَلَيْنَا
اِنَّكَ
اَنْتَ
التَّوَّابُ
الرَّحِيْمُ.
Ya
Allah, Tuhan Yang Maha Melihat. Saksikanlah pertemuan kami hari ini. Jadikan
kami sebagai saksi-saksi perjuangan menegakkan kemuliaan Islam di muka bumi ini
melalui lisan kami, pikiran kami, tenaga kami, harta kami bahkan jiwa kami.
Jadikanlah anak dan keturunan kami para pejuang dan imam bagi orang-orang
bertakwa.
Ya
Allah, yaa Rahmaan yaa Rahiim. Cintai dan sayangi kami, orangtua kami,
keturunan kami dan seluruh kaum Muslim; sebagaimana Engkau mencintai dan
menyayangi para nabi dan rasul kekasih-Mu. Limpahkanlah rahmat dan karunia-Mu
dalam setiap jengkal kehidupan kami.
Ya
Allah, Tuhan Yang Mahaperkasa. Limpahkanlah kekuatan kepada kami untuk terus
menapaki jalan dakwah dan perjuangan ini hingga kami bisa menyaksikan fajar
kemenangan Islam. Jadikanlah kami hamba-hamba-Mu yang terbaik, yang mampu
menjadikan perjuangan Islam ini menjadi poros kehidupan kami. Jadikanlah sepercik ilmu yang kami miliki dapat
memberikan andil dalam membangun kembali peradaban Islam yang mulia.
Yaa Rabbi, Penguasa alam semesta. Sungguh telah banyak
teguran yang telah engkau timpakan kepada kami. Semuanya untuk mengingatkan
agar manusia kembali kepada-Mu, ya Allah. Semoga Engkau memberkahi dan meridhai
kami semua untuk menjadi agen perubahan dan kesadaran bagi umat Islam yang
masih lalai.
اَللّٰهُمَّ يَا
مُنْـزِلَ
الْكِتَابِ،
وَمُهْزِمَ
اْلأَحْزَابِ،
اِهْزِمِ
اْليَهُوْدَ
وَاَعْوَانَهُمْ،
وَصَلِيْبِيِّيْنَ
وَاَنْصَارَهُمْ،
وَرَأْسُمَالِيِّيْنَ
وَاِخْوَانَهُمْ،
وَاِشْتِرَاكِيِّيْنَ
وَشُيُوْعِيِّيْنَ
وَاَشْيَاعَهُمْ.
اَللّٰهُمَّ إِنَّا
نَسْأَلُكَ
دَوْلَةَ
الْخِلاَفَةِ
عَلَى
مِنْهَاجِ
النُّبُوَّةِ،
تُعِزُّ بِهَا
اْلإِسْلاَمَ
وَاَهْلَهُ،
وَتُذِلُّ
بِهَا
الْكُفْرَ
وَاَهْلَهُ،
وَ اجْعَلْناَ
مِنَ
الْعَامِلِيْنَ
الْمُخْلِصِيْنَ
بِإِقَامَتِهَا
بِإِذْنِكَ،
يَا اَرْحَمَ
الرَّاحِمِيْنَ.
رَبَّنَا
لاَ
تُؤَاخِذْنَا
اِنْ
نَّسِيْنَآ
أَوْ
اَخْطَأْنَا،
رَبَّنَا
وَلاَ تَحْمِلْ
عَلَيْنَآ
اِصْرًا
كَمَا
حَمَلْتَهُ عَلَى
الَّذِيْنَ
مِنْ
قَبْلِنَا،
رَبَّنَا
وَلاَ
تُحَمِّلْنَا
مَالاَ
طَاقَةَ لَنَا
بِهِ،
وَاعْفُ
عَنَّا،
وَاغْفِرْلَنَا،
وَارْحَمْنَا،
اَنْتَ
مَوْلاَنَا،
فَانْصُرْنَا
عَلَى
الْقَوْمِ
الْكَاِفِرِيْنَ.
رَبَّنَا
آتِنَا فِي
الدُّنْيَا
حَسَنَةً،
وَفِي
اْلآخِرَةِ
حَسَنَةً،
وَقِنَا عَذَابَ
النَّارِ،
وَسُبْحَانَ
رَبِّكَ رَبِّ
الْعِزَّةِ
عَمَّا
يَصِفُوْنَ،
وَسَلاَمٌ
عَلَى
الْمُرْسَلِيْنَ،
وَالْحَمْدُ
للهِ رَبِّ
الْعَالَمِيْنَ.
اللهُ
أَكْبَرْ
اللهُ،
أَكْبَرْ
اللهُ أَكْبَرْ،
وَلِلَّهِ
الْحَمْدُ.
وَالسَّلَامُ
عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ
اللهِ وَبَرَكَاتُهُ