MENGATASI KEMISKINAN
KHUTBAH PERTAMA
الْحَمْدُ
لِلّٰهِ
رَبِّ
الْعَالَمِيْنَ،
اَلْحَمْدُ
لِلّٰهِ
الَّذِيْ
أَرْسَلَ رَسُوْلَهُ
بِالْهُدَى
وَدِيْنِ
الْحَـقِّ لِيُظْهِرَهُ
عَلَى
الدِّيْنِ
كُلِّهِ وَلَوْ
كَرِهَ
الْمُشْرِكُوْنَ،
أَشْهَدُ أَنْ
لَا اِلٰهَ إِلَّا
اللّٰه
وَأَشْهَدُ
أَنَّ
مُحَمَّدًا
رَسُوْلُ
اللّٰه،
اَللّٰهُـمَّ
صَلِّ عَلَى
سَيِّدِنَا
مُحَمَّدٍ
وَعَلَى
اٰلِهِ وَأَصْحَابِهِ
أَجْمَعِيْنَ،
أَمَّا
بَعْدُ.
فَيَا
عِبَادَ
اللّٰه،
أُوْصِيْنِيِ
نَفْسِيْ
وَإِيَّاكُمْ
بِتَقْوَى
اللهِ، فَقَدْ
فَازَ الْمُتَّقُوْنَ.
قَالَ اللهُ
تَعَالَى: وَفِيْٓ
اَمْوَالِهِمْ
حَقٌّ
لِّلسَّاۤىِٕلِ
وَالْمَحْرُوْمِ
١٩ (اَلذَّارِيَاتُ)
Alhamdulillah, kita masih dipertemukan oleh Allah di
hari mulia, hari Jumat. Di tempat yang dimuliakan, masjid. Bersama orang-orang
yang insya Allah dimuliakan, orang-orang bertakwa. Shalawat serta salam semoga
senantiasa tercurah kepada junjungan alam Nabi Besar Muhammad saw.
Pertama dan paling utama, mari tingkatkan takwa kita
kepada Allah. Taati perintah-Nya dan jauhi larangan-Nya. Allah Swt.
berfirman:
يٰٓاَيُّهَا
الَّذِيْنَ
اٰمَنُوا
اتَّقُوا
اللّٰهَ
حَقَّ
تُقٰىتِهٖ
وَلَا
تَمُوْتُنَّ
اِلَّا
وَاَنْتُمْ
مُّسْلِمُوْنَ
“Wahai orang-orang yang beriman,
bertakwalah kepada Allah dengan sebenar-benar takwa kepada-Nya dan janganlah
kamu mati kecuali dalam keadaan muslim.” (QS. Âli ‘Imrân [3]: 102).
Ma’âsyiral Muslimîn rahimakumullâh,
Ketika angka menentukan siapa yang berhak mendapat
bantuan dan siapa yang tidak, kesalahan satu angka saja bisa mengubah nasib
sebuah keluarga. Pemerintah membagi masyarakat menjadi 10 desil ekonomi. Desil
1–4 mendapat bantuan, sedangkan desil 5–10 dianggap mandiri. Namun, kekacauan
data membuat warga miskin ada yang masuk desil atas sehingga bantuan
dihentikan, sementara orang kaya, bahkan anggota DPR, ada yang masuk desil
bawah. Desil ini juga direncanakan menjadi dasar pembatasan subsidi Pertalite
dan LPG 3 kg bagi desil 9–10.
Jamaah Jum’at rahimakumullah, perbedaan juga terlihat
pada angka kemiskinan. Pemerintah mencatat 23,85 juta orang miskin pada Maret
2025 dengan garis kemiskinan Rp609.160 per bulan atau Rp20.305 per hari.
Sementara Bank Dunia menggunakan standar Rp52.500 per hari, sehingga
menghasilkan angka sekitar 68,4% penduduk atau 194,6 juta jiwa. Begitu pula
pengangguran: pedagang kecil, pekerja serabutan, dan pekerja paruh waktu tetap
dianggap bekerja meski penghasilannya tidak mencukupi. Inilah persoalannya:
dalam sistem Kapitalisme, ukuran kemiskinan bersifat relatif dan angka
statistik dapat berubah sesuai standar yang digunakan, bahkan berpotensi
dipakai untuk menampilkan seolah-olah kondisi rakyat lebih baik daripada
kenyataannya.
Ma’âsyiral Muslimîn rahimakumullâh,
Kemiskinan rakyat bukan selalu karena mereka malas
berusaha, tetapi bisa karena sistem yang membuat mereka sulit keluar dari
kemiskinan. Rakyat miskin sulit mendapatkan pendidikan tinggi, modal usaha, dan
pekerjaan layak, sementara kelompok kaya, terutama kapitalis-oligarki, lebih
mudah memperoleh modal, menguasai sumber daya alam, serta mendapatkan akses
kekuasaan. Akibatnya, ketimpangan semakin besar.
Pada 2025, INDEF mencatat 10% kelompok terkaya menguasai
60,2% kesejahteraan nasional, sementara pada 2026 kekayaan 50 orang terkaya
mencapai Rp4.651 triliun, hampir dua kali lipat dibanding 2019 berdasarkan data
Forbes yang diolah Celios. Kondisi ini merupakan dampak dari penerapan
Kapitalisme dengan prinsip kebebasan kepemilikan, sementara rakyat dibiarkan
bersaing dengan prinsip survival of the fittest dan negara lebih banyak
berperan sebagai regulator. Bahkan berbagai bantuan seperti BPJS dan beasiswa pada
dasarnya juga bersumber dari pajak yang dibayar rakyat.
Ma’âsyiral Muslimîn rahimakumullâh,
Jika kemiskinan adalah masalah kehidupan manusia, maka
Islam tidak hanya menjelaskan siapa yang disebut miskin, tetapi juga menetapkan
bagaimana kemiskinan itu harus diselesaikan.
Dalam Islam, ukuran kemiskinan bersifat jelas: seseorang
disebut miskin ketika kebutuhan pokoknya—sandang, pangan, dan papan—tidak
terpenuhi secara menyeluruh. Islam mewajibkan setiap laki-laki dewasa menafkahi
dirinya dan keluarganya. Allah Swt. berfirman:
وَعَلَى
الْمَوْلُوْدِ
لَهٗ
رِزْقُهُنَّ وَكِسْوَتُهُنَّ
بِالْمَعْرُوْفِۗ
“Kewajiban
ayah menanggung makan dan pakaian mereka dengan cara yang patut” (QS. al-Baqarah
[2]: 233).
Allah juga berfirman:
اَسْكِنُوْهُنَّ
مِنْ حَيْثُ
سَكَنْتُمْ مِّنْ
وُّجْدِكُمْ
“Tempatkanlah mereka (para istri) di mana saja kalian
(para suami) bertempat tinggal menurut kemampuan kalian” (QS. ath-Thalâq
[65]: 6).
Jika seseorang tidak mampu memenuhi kebutuhan
keluarganya, kewajiban berpindah kepada kerabat terdekat yang mampu. Jika tidak
ada kerabat yang mampu, maka negara wajib menanggung kebutuhan pokoknya.
Rasulullah saw. bersabda:
مَنْ
تَرَكَ
مَالًا
فَلِوَرَثَتِهِ
وَمَنْ
تَرَكَ
كَلًّا
فَإِلَيْنَا
”Siapa saja yang mati meninggalkan harta maka hartanya
untuk ahli warisnya. Siapa saja yang mati meninggalkan keluarga yang miskin
maka mereka menjadi tanggungan kami.” (HR. al-Bukhari).
Dengan demikian, dalam Islam pemenuhan kebutuhan pokok
rakyat miskin bukan sekadar bantuan sukarela, tetapi merupakan kewajiban yang
harus dijamin.
Untuk menjalankan kewajiban tersebut, negara memiliki
Baitul Mal yang mengelola berbagai sumber pemasukan, termasuk zakat dan
pengelolaan kepemilikan umum seperti sumber daya alam. Jika dana tidak
mencukupi, negara dapat mengenakan dhariibah secara terbatas kepada
Muslim yang mampu, dan dihentikan ketika kebutuhan telah terpenuhi. Rasulullah
saw. mengingatkan:
وَأَيُّمَا
أَهْلُ
عَرْصَة
أَصْبَحَ
فِيهِمْ
امْرُؤٌ جَائِعٌ
فَقَدْ
بَرِئَتْ
مِنْهُمْ
ذِمَّةُ الله
تَعَالَى
“Penduduk negeri mana pun yang pada pagi hari di
tengah-tengah mereka ada orang yang kelaparan, maka jaminan Allah telah lepas
dari mereka.” (HR Ahmad, al-Hakim dan Abu Ya’la).
Ini menunjukkan bahwa Islam menempatkan pemenuhan
kebutuhan dasar rakyat sebagai tanggung jawab yang wajib diperhatikan oleh
negara dan masyarakat.
Ma’âsyiral Muslimîn rahimakumullâh,
Jika kita ingin mengentaskan kemiskinan sampai ke akar
masalahnya, maka yang perlu dibenahi bukan hanya orang miskinnya, tetapi juga
sistem yang mengatur kepemilikan dan distribusi kekayaan. Dalam konsep Khilafah
dengan penerapan syariah secara kaaffah, harta milik umum seperti
tambang dan hutan dikelola negara untuk kemaslahatan rakyat, bukan dikuasai
segelintir individu atau korporasi. Selain itu, Islam melarang penumpukan harta
(kanzul maal) sebagaimana firman Allah Swt. dalam QS at-Taubah [9]: 34,
sehingga harta tidak hanya berputar di kalangan orang kaya, tetapi didorong
menjadi harta produktif melalui usaha, konsumsi, infak, hibah, dan wakaf.
Jama’ah Jumat rahimakumullah, inilah gambaran bagaimana
Islam menangani kemiskinan bukan hanya pada gejalanya, tetapi hingga faktor
penyebabnya. Namun, konsep tersebut membutuhkan penerapan syariah Islam secara kaaffah
melalui sistem pemerintahan Khilafah, sehingga tidak dapat diwujudkan secara
utuh dalam sistem Kapitalisme yang berlaku saat ini. Semoga Allah Swt. memberi
kita pemahaman terhadap syariat-Nya dan menunjukkan jalan yang diridai-Nya. Wallâhu
a‘lam bish-shawâb.[]
بَارَكَ
اللهُ لِيْ
وَلَكُمْ فِى
الْقُرْآنِ
الْعَظِيْمِ،
وَنَفَعَنِيْ
وَإِيَّاكُمْ
بِمَا فِيْهِ
مِنَ
الْآيَاتِ
وَالذِّكْرِ
الْحَكِيْمِ،
وَتَقَبَّلَ
مِنَّا
وَمِنْكُمْ
تِلَاوَتَهُ
وَإِنَّهُ
هُوَ
السَّمِيْعُ
الْعَلِيْمُ.
أَقُوْلُ
قَوْلِيْ
هَذَا،
وَأَسْتَغْفِرُ
اللهَ
الْعَظِيْمَ
لِيْ
وَلَكُمْ،
إِنَّهُ هُوَ
الْغَفُوْرُ
الرَّحِيْمُ
KHUTBAH KEDUA
اَلْحَمْدُ
لِلّٰهِ
عَلَى
إِحْسَانِهِ،
وَالشُّكْرُ
لَهُ عَلَى
تَوْفِيْقِهِ
وَامْتِنَانِهِ.
وَأَشْهَدُ
أَنْ لَا
إِلٰهَ إِلَّا
اللهُ
وَحْدَهُ لَا
شَرِيْكَ
لَهُ، وَأَشْهَدُ
أنَّ
سَيِّدَنَا
مُحَمَّدًا
عَبْدُهُ
وَرَسُوْلُهُ
الدَّاعِى
إِلَى رِضْوَانِهِ.
اللّٰهُمَّ
صَلِّ عَلَى
سَيِّدِنَا
مُحَمَّدٍ
وَعَلَى
آلِهِ
وَأَصْحَابِهِ
وَسَلِّمْ
تَسْلِيْمًا
كَثِيْرًا.
أَمَّا
بَعْدُ؛
فَياَ
أَيُّهَا
النَّاسُ اتَّقُوا
اللّٰهَ
فِيْمَا
أَمَرَ وَانْتَهُوْا
عَمَّا
نَهَى،
وَاعْلَمُوْا
أَنَّ اللهَ
أَمَرَكُمْ
بِأَمْرٍ
بَدَأَ فِيْهِ
بِنَفْسِهِ
وَثَنَّى
بِمَلَائِكَتِهِ
الْمُسَبِّحَةِ
بِقُدْسِهِ،
وَقَالَ
تَعاَلَى: إِنَّ
اللهَ
وَمَلَائِكَتَهُ
يُصَلُّوْنَ
عَلَى
النَّبِيِّ
يَا أَيُّهَا
الَّذِيْنَ
آمَنُوْا
صَلُّوْا
عَلَيْهِ
وَسَلِّمُوْا
تَسْلِيْمًا.
اللّٰهُمَّ
صَلِّ عَلَى
سَيِّدِنَا
مُحَمَّدٍ وَعَلَى
آلِ
سَيِّدِناَ
مُحَمَّدٍ،
وَعَلَى
أَنْبِيَائِكَ
وَرُسُلِكَ
وَمَلَائِكَتِكَ
الْمُقَرَّبِيْنَ،
وَارْضَ
اللّٰهُمَّ
عَنِ
الْخُلَفَاءِ
الرَّاشِدِيْنَ،
أَبِى بَكْرٍ
وَعُمَرَ
وَعُثْمَانَ
وَعَلِيٍّ،
وَعَنْ بَقِيَّةِ
الصَّحَابَةِ
وَالتَّابِعِيْنَ،
وَالتَّابِعِيْنَ
لَهُمْ
بِإِحْسَانٍ
اِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ،
وَارْضَ
عَنَّا
مَعَهُمْ
بِرَحْمَتِكَ
يَا أَرْحَمَ
الرَّاحِمِيْنَ.
اَللّٰهُمَّ
اغْفِرْ
لِلْمُؤْمِنِيْنَ
وَالْمُؤْمِنَاتِ
وَالْمُسْلِمِيْنَ
وَالْمُسْلِمَاتِ
الْأَحْيَاءِ
مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ.
اللّٰهُمَّ أَعِزَّ
الْإِسْلَامَ
وَالْمُسْلِمِيْنَ،
وَأَذِلَّ
الشِّرْكَ
وَالْمُشْرِكِيْنَ،
وَانْصُرْ
مَنْ نَصَرَ
الدِّيْنَ،
وَاخْذُلْ
مَنْ خَذَلَ
الْمُسْلِمِيْنَ،
وَدَمِّرْ
أَعْدَاءَ
الدِّيْنِ،
وَأَعْلِ
كَلِمَاتِكَ
إِلَى يَوْمِ
الدِّيْنِ.
اَللّٰهُمَّ
إِنَّا
نَسْأَلُكَ دَوْلَةَ
الْخِلاَفَةِ
عَلَى
مِنْهَاجِ النُّبُوَّةِ
تُعِزُّ
بِهَا
الْإِسْلَامَ
وَاَهْلَهُ
وَتُذِلُّ
بِهَا
الْكُفْرَ وَاَهْلَهُ،
وَاجْعَلْنَا
مِنَ
الْعَامِلِيْنَ
الْمُخْلِصِيْنَ
لِإِقَامَتِهَا
بِإِذْنِكَ
يَا أَرْحَمَ
الرَّاحِمِيْنَ.
اللّٰهُمَّ
ادْفَعْ
عَنَّا
الْغَلَاءَ
وَالْبَلاَءَ
وَالْوَبَاءَ
وَالزَّلَازِلَ
وَالْمِحَنَ،
وَسُوْءَ الْفِتَنِ
مَا ظَهَرَ
مِنْهَا
وَمَا
بَطَنَ، عَنْ
بَلَدِنَا
إِنْدُوْنِيْسِيَا
خَاصَّةً
وَسَائِرِ
بُلْدَانِ
الْمُسْلِمِيْنَ
عَامَّةً يَا رَبَّ
الْعَالَمِيْنَ.
رَبَّنَا
آتِنَا فِى
الدُّنْيَا
حَسَنَةً
وَفِى
الْآخِرَةِ
حَسَنَةً
وَقِنَا
عَذَابَ
النَّارِ.
عِبَادَ
اللهِ! إِنَّ
اللهَ
يَأْمُرُ
بِالْعَدْلِ
وَالْإِحْسَانِ
وَإِيْتآءِ
ذِي الْقُرْبَى
وَيَنْهَى
عَنِ
الْفَحْشآءِ
وَالْمُنْكَرِ
وَالْبَغْيِ
يَعِظُكُمْ
لَعَلَّكُمْ
تَذَكَّرُوْنَ،
وَاذْكُرُوا
اللهَ
الْعَظِيْمَ
يَذْكُرْكُمْ،
وَاسْأَلُوْهُ
مِنْ
فَضْلِهِ
يُعْطِكُمْ،
وَاشْكُرُوْهُ
عَلَى
نِعَمِهِ
يَزِدْكُمْ، وَلَذِكْرُ
اللهِ
أَكْبَرْ.