Seruan Masjid

Khadimul Ummah wa Du'at

Memahami Makna Tawakal – Tausiyah Ramadhan #9

MEMAHAMI MAKNA TAWAKAL

Hadits tentang tawakal yaitu  “ ikatlah dan bertawakallah kepada Allah” sebenarnya merupakan objek, pengambilan sebab dan musabab. Hadits tersebut adalah pengajaran kepada seorang a’robi (orang arab pedalaman) ketika dia memahami bahwa tawakal berarti tidak mengambil sebab dan musabab. Kemudian Rasulullah saw mengajarinya bahwa tawakal tidak berarti tidak mengkaitkan sebab dan musabab, hadits tersebut tidak menghapus tentang wajibnya mengkaitkan sebab dengan musabab. Tetapi hadits tersebut merupakan perkara lain selain dalil-dalil tersebut. Rasul menyuruh si a’robi untuk mengambil sebab dan musabab disertai dengan bertawakal. Dalam hadits tersebut dikatakan bahwa :”Ada seorang laki-laki kepada Nabi saw, dia ingin meninggalkan untanya kemudian dia berkata, “Aku akan melepaskan untuaku, dan akan bertawakalkepada Allah”, maka Nabi bersabda kepadanya “Ikatlah untamu dan bertawakkallah kepada Allah”. 

Hadits tersebut pertama mengajarkan terhadap si A’robi agar mengikat untanya, kedua, memberikan pemahaman kepadanya bahwa bertawakal tidaklah berarti meninggalkan sebab musabab. Dan ketiga, memerintahkan supaya mengkaitkan antara sebab dengan musabab dan bertawakal. Karena itu hadits tersebut bukan merupakan pembatasan terhadap dalil-dalil tawakal, bagaimanapun keadaannya. Dengan demikian bertawakal kepada Allah, wajib tanpa memandang sebab dan musabab. 

Masalah sebab musabab bukanlah pembatasan terhadap tawakal dan penjelasan tentang hukumnya. Karena dalil-dalil tentang tawakal datang dengan bentuk mutlak tidak dibtasi dengan nash apapun. Juga karena dalil-dalil tawakal tidak bersifat global sehingga memerlukan penjelasan. Masalah pengkaitan sebab dan musabab adalah masalah lain selain masalah tawakal, dalil-dalilnya pun bukan merupakan dalil tawakal, karena itu tidak benar apabila digabungkan dengan tawakal atau dijadikan pembatas terhadap tawakal. Sebagaimana umat Islam wajib mengambil sebab musabab yang telah dijelaskan  dan ditetapkan dengan dalil-dalil syara’. Begitu juga umat Islam wajib bertawakal yang telah ditetapkan dengan dalil syara’. Juga salah satu dari keduanya tidak menjadi pembatas dan syarat bagi yang lainnya.  

Wawu yang ada pada hadits ..i’qilha wa tawakkal…mengandung arti mutlak berkumpul (mutlaq al jami’), tidak memberikan arti urutan (tartib) dan  ta’qib juga bersama-sama (ma’iyyah) seperti dalam ungkapan  Zaid dan Amar datang (jaa’a zaid wa amar) ‘athaf yang ada pada ungkapan I’qilha adalah ‘athaf mughoyyaroh ( ‘athaf yang memberikan arti bahwa ma’thuf  tidak sama dengan ma’thuf ‘alaih, -pent.), bukan ‘athaf tafsir (‘athof  yang memberikan ma’thuf –yang ada setelah wawu- sama dengan ma’thuf ‘alaih –yaitu yang sebelum wawu-. –pent.). Sebagaimana   dalam etimologi kata wawu tidak memberikan arti tartib dan ta’kib, karena huruf itu sudah tentu yaitu  fa, tsumma,  dan hatta. Maka apabila Rasulullah saw yang paling fasih dan paling tahu tentang bahasa, bermaksud mentertibkan tawakal terhadap usaha yaitu mengikat unta, tentu saja Rasul akan menggunakan kata yang memberikan arti tertib yaitu Rasul akan berkata  tsumma tawakkal (kemudian bertawakkallah) atau  fatawakkal (terus bertawakallah) atau yang semakna dengannya. Dengan demikian maka makna hadits tersebut adalah: bertawakkallah kepad Allah, kemudian ikatlah untamu” karena bertawakal itu adanya sebebelum berusaha bukan setelahnya. Allah berfirman “Apabila engkau telah membulatkan tekad maka bertawakallah kepada Allah”. Ayat ini menjelaskan bahwa ketika kita telah membulatkan tekad terhadap suatu urusan, atau akan mengerjakan suatu amal, kta harus bertawakal kepada Allah. Allah mengurutkan tawakal terhadab ‘azzam dengan menggunakan fa,  pada kata fatawakkal yang memberikan arti urutan, seperti ungkapan, Zaid berdiri, kemudian Amar, (qooma zaid fa amar). Allah tidak mengurutkan tawakal terhadap amal yaitu mengambil sebab, tetapi Allah menertibkan terhadap dimulainya pekerjaan yaitu ketika membulatkan tekad untuk melaksanakan amal.

Syura dan Demokrasi – Tausiyah Ramadhan #8

SYURA DAN DEMOKRASI

Demokrasi adalah bagian dari Islam. Itu menurut sebagian orang. Pernyataan ini terlontar karena mereka menganggap syura (di dalam Islam) itu sama dengan Demokrasi. Apakah benar syura itu sama dengan Demokrasi?

Sebelum menyinggung benar tidaknya syura sama dengan demokrasi, ada baiknya kita mengupas lebih dahulu apa itu demokrasi dan apa itu syura. Setelah itu baru bisa ditarik persamaan-persamaannya (jika ada) dan perbedaan-perbedaannya.

Demokrasi adalah istilah yang menggambarkan sistem pemerintahan dari rakyat, oleh rakyat dan untuk rakyat. Rakyat dianggap sebagai penguasa mutlak dan pemilik kedaulatan. Rakyat berhak mengatur sendiri urusannya serta melaksanakan dan menjalankan sendiri kehendaknya. Rakyat tidak bertanggung jawab pada kekuasaan siapa pun selain kepada dirinya sendiri. Rakyat berhak membuat sendiri perturan dan undang-undang –karena mereka adalah pemilik kedaulatan- melalui para wakil mereka yang mereka pilih. Rakyat berhak pula menerapkan peraturan dan undang-undang yang telah mereka buat melalui tangan para penguasa dan hakim yang mereka pilih. Keduanya mengambilalih kekuasaan dari rakyat karena rakyat adalah sumber kekuasaan. Setiap individu rakyat, sebagaimana individu lainnya, berhak menyelenggarakan pemerintahan negara, mengangkat penguasa, serta membuat peraturan dan undang-undang. Dengan kata lain, dalam sistem demokrasi, rakyat bertindak selaku musyarri’ (pembuat hukum) karena posisinya sebagai pemilik kedaulatan, sekaligus berperan sebagai munaffidz (pelaksana hukum) karena posisinya sebagai sumber kekuasaan.

Demokrasi adalah sistem pemerintahan yang bersandar pada suara mayoritas. Penetapan/pembuatan peraturan dan undang-undang dilakukan oleh ‘wakil-wakil rakyat’ berdasarkan suara mayoritas. Suara mayoritas pula yang dilakukan untuk memilih wakil-wakil rakyat, memilih kepala negara, menjatuhkan pemerintahan dengan penggunaan mosi tidak percaya. Artinya, suara mayoritas merupakan salah satu ciri yang sangat menonjol dalam sistem demokrasi, dan mewakili pencerminan suara rakyat.

Pendek kata, demokrasi itu sangat tampak ciri-cirinya dalam hal:

1. Demokrasi itu adalah produk dari akal manusia, bukan berasal dari Allah Swt. Demokrasi tidak didasarkan pada wahyu, bahkan tidak ada hubungannya sama sekali dengan wahyu.

2. Demokrasi lahir dari akidah sekularisme (pemisahan agama dari kehidupan atau pemisahan urusan politik/negara dengan agama).

3. Demokrasi mengusung konsep: kedaulatan berada di tangan rakyat; rakyat adalah sumber kekuasaan.

4. Demokrasi merupakan sistem pemerintahan yang bersandar pada mekanisme suara mayoritas, sebagai pencerminan keinginan rakyat.

5. Demokrasi menjamin pelaksanaan dan pemeliharaan tentang: (1) kebebasan beragama/berkeyakinan, (2) kebebasan berpendapat, (3) kebebasan pemilikan, dan (4) kebebasan bertingkah laku.

 

Berdasarkan hal ini, demokrasi merupakan suatu pandangan hidup dan di dalamnya terangkum sekumpulan ketentuan yang berkaitan dengan peraturan, undang-undang dan mekanisme dalam suatu sistem pemerintahan.

Sedangkan syura memiliki arti meminta pendapat (thalab ar-ra’yi). Kata syura tercantum di dalam al-Quran, seperti:

وَشَاوِرْهُمْ فِي اْلأَمْرِ فَإِذَا عَزَمْتَ فَتَوَكَّلْ عَلَى اللهِ إِنَّ اللهَ يُحِبُّ الْمُتَوَكِّلِينَ

Dan bermusyawarahlah dengan mereka dalam urusan itu. Kemudian, apabila kamu telah membulatkan tekad, maka bertawakallah kepada Allah. (TQS. Ali Imran [3]: 159)

 

Ayat tersebut mengungkapkan realitas mengenai tuntutan untuk meminta pendapat. Meskipun demikian tidak bisa dimaknai begitu saja bahwa syura itu adalah wajib. Untuk memastikan bahwa syura itu bisa dimaknai wajib, sunnah, atau mubah diperlukan indikasi-indikasi (qarinah).

Pada prakteknya, syura dilakukan oleh para pengambil kebijakan sebelum memutuskan suatu perkara. Dalam sistem pemerintahan Islam, syura dipraktekkan oleh Khalifah terhadap anggota-anggota majlis umat (majlis syura) dalam menentukan kebijakan pemerintahannya. Permintaan pendapat (syura) di dalam Islam itu mencakup perkara-perkara:

Pertama, untuk perkara-perkara yang telah ditentukan status hukumnya oleh syariat (berdasarkan teks nash-nash syara), tidak diperlukan lagi adanya pengambilan keputusan berdasarkan suara mayoritas atau pun suara minoritas. Khalifah, anggota-anggota majlis umat (majlis syura) maupun masyarakat wajib terikat dengan ketetapan Syâri, dan ketetapan tersebut wajib dilaksanakan oleh mereka seluruhnya. Jadi, ketetapan haramnya riba, haramnya zina, haramnya wanita sebagai kepala negara (Khalifah), wajibnya penerapan sistem hukum Islam secara total, wajibnya jihad fi sabilillah, dan lain-lain; semua itu tidak akan gugur meskipun mayoritas atau bahkan seluruh kaum Muslim menghendaki pembatalannya.

Contoh nyata bahwa Rasulullah saw menyelisihi pendapat mayoritas para sahabat adalah peristiwa disetujuinya oleh beliau klausul-klausul yang ada pada perjanjian Hudaibiyah. Karena disepakatinya perjanjian itu berdasarkan perintah Allah Swt, bukan berdasarkan pendapat mayoritas atau pun minoritas para sahabat. Dalam perkara ini Rasulullah saw tidak meminta pendapat kepada kaum Muslim Terhadap sahabat-sahabat beliau yang keberatan dengan klausul perjanjian itu beliau bersabda:

إني عبد الله ورسوله ولن أخالف أمره

Sesungguhnya aku ini adalah hamba Allah dan utusan-Nya. Dan sekali-kali aku tidak akan menyalahi perintah-Nya. (HR. Bukhari dan Muslim)

 

Kedua, untuk perkara-perkara yang berhubungan dengan ide, definisi, pemikiran, keahlian atau profesi, dan sejenisnya; maka yang dirujuk adalah kebenaran dan ketepatannya; bukan berdasarkan pertimbangan suara mayoritas atau minoritas. setiap perkara yang tergolong kriteria ini harus merujuk kepada ahlinya, karena mereka adalah orang-orang yang memiliki kemampuan dalam perkara-perkara tersebut.

Pendapat yang terkait dengan senjata nuklir –misalnya- yang harus dirujuk adalah pendapat pakar senjata nuklir, bukan senjata biologi. Pendapat yang terkait dengan bahasa Arab –misalnya- maka harus merujuk pada ahli bahasa Arab, bukan ahli bahasa Melayu. Pendapat yang menyangkut teori-teori sains maupun prinsip-prinsip dasar teknologi, harus merujuk pada insinyur-insinyur yang bersangkutan, bukan kepada yang lain! Pendapat seorang ahli kedokteran jauh lebih diutamakan dan layak dijadikan rujukan dari pada suara mayoritas masyarakat yang awam tentang kedokteran. Demikianlah, Rasulullah saw pernah mempraktekkan pengambilan pendapat semacam ini dalam peristiwa penentuan tempat di medan Badar. Hubab bin Mundzir bin Jamuh berkata: ‘Wahai Rasulullah, apakah penentuan tempat (yang dijadikan basis perkemahan/pertahanan) ini ditetapkan (berdasarkan keputusan) Allah sehingga kita tidak boleh mendahului dan mengakhirkan (yakni menetapi dengan sebenar-benarnya-pen), ataukah (penentuan tempat ini) berdasarkan pendapat yang terkait dengan perang dan strategi (tipu daya)nya? Jawab Rasulullah saw: ‘(Penentuan tempat ini) berdasarkan pendapat yang terkait dengan perang dan strategi (tipu daya)nya’. Kemudian Hubab mengusulkan tempat lain yang lebih baik dari sisi ketersediaan logistik (kecukupan air minum) sekaligus menimbun sumber-sumber air yang bisa dimanfaatkan oleh musuh. Dan Rasulullah pun menerimanya.

Ketiga, untuk perkara-perkara yang menyangkut amal/perbuatan praktis dan tidak terkait dengan pemikiran-pemikiran dasar dan mendalam, pengambilan pendapat bisa berdasarkan mekanisme voting (suara terbanyak). Misalnya, sikap Rasulullah saw yang mengikuti suara mayoritas (yang didukung para pemuda) untuk menghadapi musuh di luar kota Madinah pada peristiwa perang Uhud. Meski beliau sendiri cenderung untuk bertahan dan menghadapi musuh di kota Madinah, tetapi beliau akhirnya mengambil pendapat mayoritas yang dilontarkan kaum Muslim. Ini menyangkut masalah praktis, tidak terkait dengan ide dan tidak akan merubah (mengganggu gugat ide dasar). Pemikiran (ide dasarnya) adalah bahwa musuh harus dihadapi oleh kaum Muslim. Adapun menghadapinya ada dua cara, yaitu, dihadapi dengan bertahan di kota Madinah, atau menyongsong musuh di luar kota Madinah. Jadi, tidak berhubungan dengan ide (yaitu apakah musuh harus dihadapi atau tidak), melainkan langsung berhubungan dengan cara-cara praktis menghadapi musuh. Seandainya yang dipilih adalah bertahan (menghadapi) musuh di kota Madinah, hal itu tidak melalaikan (membatalkan) perintah jihad fi sabilillah. Dalam perkara semacam ini mekanisme voting (berdasarkan suara mayoritas) bisa diambil.

Dari paparan tersebut tampak jelas bahwa demokrasi dengan syura itu sangat berbeda dan tidak layak dibandingkan, karena obyeknya berbeda. Syura itu hanya mekanisme pengambilan pendapat, sedangkan demokrasi merupakan visi (pandangan) hidup yang menyangkut aspek dasar (ideologis), termasuk di dalamnya pengambilan suara mayoritas di dalam parlemen.

Perbedaan lain yang mencolok adalah, syura merupakan hak kaum Muslim, yang digunakan oleh Khalifah untuk meminta pendapat tentang perkara-perkara yang menyangkut urusan kaum Muslim. Orang-orang kafir (dzimmi) tidak diperkenankan terlibat di dalam proses syura. Sedangkan suara mayoritas dalam sistem demokrasi tidak mempedulikan lagi apakah mereka itu muslim atau kafir.

Pebedaan syura dan demokrasi ibarat perbedaan antara siang dan malam. Dengan demikian, apanya yang bisa disamakan antara syura dan demokrasi?

Berpikir Tentang Tujuan dan Target – Tausiyah Ramadhan #7

BERPIKIR TENTANG TUJUAN DAN TARGET

Berpikir adalah bentuk kerja dari pemikiran, dan definisi pemikiran (fikr), akal (‘aql), atau kesadaran (al-idrâk) adalah pemindahan penginderaan terhadap fakta melalui panca indera ke dalam otak yang disertai adanya informasi-informasi terdahulu yang akan digunakan untuk menafsirkan fakta tersebut.  Aktifitas berpikir tentang tujuan dan target adalah salahsatu aktifitas berpikir yang sangat dibutuhkan oleh setiap manusia yang ingin menjalankan hidupnya dengan benar, terlebih lagi bagi setiap muslim dan para pengemban dakwah. 

Yang harus dilakukan pertama kali dalam berpikir tentang tujuan (ghayat, objectives) dan target (ahdaf, aims) adalah menentukan apa yang diinginkan, yakni menentukan target. Penentuan ini adalah suatu keharusan agar proses berpikir membuahkan hasil. Namun menentukan apa yang diinginkan bukanlah hal yang mudah, karena umat dan bangsa yang merosot tidak mengetahui apa yang mereka inginkan. Jarang sekali mereka mampu mengetahui apa yang mereka inginkan. Demikian pula individu-individu yang merosot taraf pemikirannya –bahkan banyak orang yang tinggi taraf pemikirannya– tidak mengetahui apa yang mereka inginkan. Bahkan di antara mereka ada yang tidak mampu menentukan apa yang mereka inginkan. 

Adapun bangsa dan umat, dikarenakan adanya penampakan (manifestasi) dari kehendak untuk berkumpul bersama –atau menurut bahasa mereka, naluri untuk berkumpul bersama (gharizah al-qathi`, instinct to flock together) yang terlihat dengan jelas dan menjadi pembentuk masyarakat– mereka menjadi didominasi oleh sikap taklid (meniru yang lain). Mereka juga didominasi oleh sikap tidak meneliti berbagai pemikiran dengan seksama. Karena itu, terbentuklah pada diri mereka pemikiran-pemikiran yang salah dan informasi-informasi yang tidak benar. Mereka terdorong untuk melakukan aktivitas tanpa menentukan tujuan, atau tanpa bermaksud menentukan tujuan. Karena itu mereka didominasi oleh sikap tidak menentukan tujuan. 

Adapun individu-individu, dikarenakan mereka tidak menentukan tujuan, mereka pun tidak mempedulikan tujuan dan target untuk diri mereka. Karenanya, mereka melakukan proses berpikir tanpa ada suatu tujuan. Proses berpikir ini akhirnya tidak mendatangkan hasil dan mereka pun tidak mengarah pada suatu tujuan tertentu. Padahal menentukan tujuan dan target dalam berpikir adalah suatu keharusan agar proses berpikir membuahkan hasil. Sebab, berpikir atau berbuat tiada lain adalah untuk mewujudkan sesuatu yang tertentu, yaitu mewujudkan tujuan tertentu. Karena itulah Anda akan melihat bahwa setiap manusia adalah pemikir tetapi tidak setiap manusia mampu merealisasikan target-targetnya. 

Tujuan dan target berbeda-beda sesuai dengan perbedaan manusia. Sebagai contoh, umat yang merosot tujuannya adalah untuk bangkit. Umat yang maju tujuannya adalah merealisasikan seluruh jenis pemuasan kebutuhannya. Sebuah bangsa primitif tujuannya adalah ingin terus menjaga situasi tempat hidupnya. Bangsa yang maju tujuannya adalah memperbaiki keadaannya dan ingin memunculkan perubahan. Individu yang taraf pemikirannya merosot tujuannya adalah memuaskan daya kehidupannya (ath-thaqah al-hayawiyah, life energy). Satu bangsa yang taraf pemikirannya tinggi tujuannya adalah memperbaiki tipe pemuasan kebutuhan mereka. Demikianlah, tujuan dan target akan berbeda-beda sesuai perbedaan manusia dan taraf berpikirnya. 

Apa pun tujuan dan target dari suatu bangsa dan individu, kesabaran untuk merealisasikan tujuan dan usaha keras yang terus menerus untuk mencapainya hanya akan terwujud pada tujuan yang dekat dan target yang mudah. Sebagai contoh, pemuasan kebutuhan-kebutuhan –dilihat semata sebagai suatu pemuasan– merupakan tujuan yang mudah, bahkan andaikata ia bukan tujuan yang dekat. Oleh karena itu kemampuan untuk bersabar dalam hal tersebut hampir ada pada seluruh manusia meskipun kemampuan mereka berbeda-beda tingkatannya. Jika Anda berusaha untuk mendapatkan makanan, berusaha memberi makan keluarga, berusaha memiliki sesuatu, mencari keamanan, dan yang semisalnya, maka kemampuan merealisasikan tujuan-tujuan seperti ini dapat dijumpai pada mayoritas manusia. Adapun jika Anda berusaha untuk bangkit, atau membangkitkan bangsa Anda, atau meninggikan kedudukan Anda atau kedudukan bangsa dan umat Anda, maka ini adalah tujuan-tujuan yang membutuhkan kesabaran dan kesungguhan yang terus menerus. Tidak setiap orang mempunyai kemampuan untuk melakukannya. Bisa jadi Anda sudah mulai berusaha, tapi mungkin saja Anda gagal merealisasikan tujuan karena Anda merasa capai atau kehilangan kesabaran. Mungkin saja Anda sudah mulai berusaha tapi Anda tidak serius memulainya. Anda lalu melangkah secara tidak serius, dan tetap terus saja melangkah. Anda pasti tidak akan bisa merealisasikan tujuan. Padahal Anda tidak merasa capai dan tidak kehilangan kesabaran. Itu karena Anda memang tidak sungguh-sungguh menjalankan usaha tersebut. Padahal merealisasikan tujuan-tujuan yang jauh dan sulit seperti itu yang dibutuhkan pertama kali adalah keseriusan, lalu kesabaran, dan berikutnya usaha yang terus menerus. 

Individu lebih mampu bersabar daripada kelompok (bangsa dan umat). Ini dikarenakan pandangan individu lebih jelas dan lebih kuat daripada pandangan kelompok, mengingat berkumpulnya manusia akan melemahkan proses berpikir dan melemahkan pandangan mereka. Maka dari itu, pandangan satu orang akan lebih kuat daripada pandangan dua orang. Setiap kali bilangan semakin besar, akan semakin lemah pandangan. 

Karena itu tidak benar meletakkan tujuan-tujuan yang jauh bagi suatu bangsa karena mereka tidak akan berusaha untuk merealisasikannya. Jika pun mereka berusaha merealisasikannya, mereka tidak akan berusaha dengan serius dan tidak akan sampai pada tujuan. Dari sinilah, maka tujuan yang diletakkan untuk suatu bangsa haruslah merupakan tujuan yang dekat dan mungkin untuk direalisasikan. Ini harus dilakukan meskipun harus menetapkan tujuan-tujuan yang dekat sebagai satu tahapan dari beberapa tahapan. Dengan demikian, bila mereka telah mampu merealisasilkan satu tahapan, mereka akan bertolak untuk merealisasikan tahapan selanjutnya. Demikianlah seterusnya. Hal ini dikarenakan kelompok lebih dekat untuk melihat apa yang mungkin dilakukan daripada individu. Kelompok juga mempunyai kemampuan yang lebih rendah dalam menanggung kesulitan besar daripada individu. Maka sesuatu yang mungkin untuk diwujudkan secara rasional, tidak dapat dijadikan sebagai tujuan bagi suatu bangsa. Tapi sesuatu yang mungkin untuk diwujudkan secara faktual, adalah sesuatu yang dapat mereka lihat dan mereka usahakan untuk direalisasikan. Adapun individu, secara umum mereka mampu untuk melihat, bahwa apa yang mungkin secara rasional adalah mungkin secara faktual. Individu juga mampu melihat sesuatu yang jauh. Individu lebih bersabar untuk menanggung kesulitan, lebih mampu menghadapi hambatan, serta lebih mampu untuk berjalan pada tahapan yang jauh. 

Hanya saja, tujuan dan target yang diletakkan baik untuk suatu umat dan bangsa maupun untuk individu, realisasinya tidak boleh membutuhkan waktu bergenerasi-generasi, kemampuan di luar kemampuan manusia, dan sarana-sarana yang tidak ada atau tidak mungkin diadakan. Sebaliknya tujuan harus mungkin direalisasikan oleh generasi yang sedang berusaha merealisasikannya, harus mungkin direalisasikan dengan upaya manusia biasa, dan sarana-sarananya pun telah ada atau mungkin untuk diadakan. 

Itu karena, tujuan adalah suatu target yang akan diusahakan oleh pihak yang berusaha itu sendiri. Padahal dia tidak akan berusaha merealisasikannya jika target itu jelas-jelas tidak akan pernah bisa direalisasikan. Dan selama manusia ingin berusaha untuk mewujudkan tujuan, pasti dia membutuhkan sarana-sarana yang akan menjadi perantara untuk merealisasikannya. Jika dia tidak mempunyai sarana maka dia tidak akan pernah bisa mengusahakannya, walaupun dia berpura-pura berusaha atau menipu dirinya bahwa dia sedang berusaha. Manusia juga akan berusaha dengan kekuatannya sebagai manusia. Jika kekuatan tersebut tidak cukup untuk berusaha, dia tidak akan pernah berusaha sama sekali, sebab manusia memang tidak akan sanggup diberi beban di luar kemampuannya. Bahkan manusia tidak akan mampu beraktivitas di luar kemampuannya. Karena itu bagaimana pun jauhnya, haruslah suatu tujuan itu termasuk sesuatu yang mungkin untuk diwujudkan oleh orang yang sedang berusaha, dengan kemampuannya yang biasa, dan dengan sarana-sarana yang ada padanya.

Jadi tujuan dari proses berpikir harus ditentukan, sebagaimana tujuan dari suatu aktivitas juga harus ditentukan. Tujuan tersebut harus bisa dilihat oleh mata kepala atau mata hati (akal), dan harus memungkinkan untuk diwujudkan baik terwujud menurut pertimbangan akal maupun pertimbangan fakta. Jika tidak demikian, ia tidak bisa lagi disebut tujuan. Dan jika proses berpikir dan aktivitas individu harus mempunyai tujuan, maka bangsa dan umat pun harus mempunyai tujuan, atau beberapa tujuan. Namun tujuan suatu bangsa dan umat tidak bisa berupa tujuan yang jauh, melainkan harus berupa tujuan yang dekat. Semakin dekat suatu tujuan dan semakin banyak yang bisa diwujudkan, akan semakin baik dan semakin dekat membuahkan hasil. Tujuan yang demikian juga akan lebih mungkin untuk dipikirkan dan dilaksanakan. Memang benar, suatu bangsa dan umat tidak terbayangkan akan membuat sendiri tujuan-tujuannya atau terlibat semuanya dalam menetapkan target-target. Akan tetapi di tengah bangsa dan umat tersebut tersebar berbagai pemikiran. Mereka pun telah mengambil berbagai opini dan meyakini berbagai keyakinan. Maka pemikiran-pemikiran tersebut menjadi pemikiran mereka, opini-opini tersebut menjadi opini mereka, dan keyakinan-keyakinan tersebut menjadi keyakinan mereka. Demikian juga mereka telah didominasi oleh tujuan-tujuan tertentu, yang mungkin terbentuk akibat berbagai pemikiran, opini dan keyakinan tersebut, atau akibat pengalaman-pengalaman hidup, atau akibat adanya hambatan memperoleh hak-hak atau pemuasan kebutuhan yang kurang. Kemudian terbentuklah pada bangsa atau umat tersebut tujuan-tujuan, yang mungkin berupa penghilangan hambatan memperoleh hak-hak, atau perbaikan pemuasan kebutuhan. Jadi bangsa atau umat sebenarnya mempunyai tujuan-tujuan, meskipun keseluruhannya tidak mampu menetapkan tujuan-tujuan. Hanya saja semua tujuan tersebut tentu termasuk tipe tujuan yang mungkin untuk direalisasikan secara nyata (faktual), bukan termasuk tipe tujuan yang mungkin direalisasikan secara akal (rasional) dan tidak bisa disaksikan secara nyata sebagai tujuan yang mungkin direalisasikan secara faktual.

Satu hal yang perlu diperhatikan adalah membedakan antara tujuan dengan cita-cita tertinggi (al-matsalul a’la, ideal). Cita-cita tertinggi adalah tujuan dari segala tujuan. Pada cita-cita tertinggi itu hanya disyaratkan adanya usaha untuk meraih dan mewujudkannya. Jadi tidak disyaratkan harus berupa sesuatu yang mungkin diwujudkan secara nyata. Tetapi disyaratkan harus berupa sesuatu yang mungkin diwujudkan secara akal. Cita-cita tertinggi bukanlah tujuan, meskipun ia sendiri adalah suatu tujuan. Perbedaannya dengan tujuan adalah bahwa tujuan harus diketahui sebelum pelaksanaan aktivitas dan harus selalu diketahui selama pelaksanaan aktivitas. Tujuan juga harus diusahakan dengan sungguh-sungguh dan terus menerus untuk direalisasikan sampai betul-betul terwujud. Adapun cita-cita tertinggi, cukup hanya diperhatikan keberadaannya selama kita berpikir dan beraktivitas. Dan seluruh pemikiran dan aktivitas yang ada dimaksudkan untuk mewujudkan cita-cita tertinggi tersebut. Sebagai contoh, menggapai ridha Allah, adalah cita-cita tertinggi kaum Muslim. Meski ada sebagian kaum Muslim yang menjadikan masuk surga sebagai cita-cita tertinggi. Atau selamat dari neraka sebagai cita-cita tertinggi. Tetapi kedua hal tersebut dan yang sejenisnya meskipun bisa dijadikan tujuan dari segala tujuan, tidak bisa disebut cita-cita tertinggi. Dua tujuan tersebut merupakan tujuan dari tujuan-tujuan sebelumnya. Tetapi setelah itu masih ada tujuan lain. Adapun cita-cita tertinggi, meskipun ia termasuk tujuan dari segala tujuan, tetapi setelah itu tidak terdapat tujuan lagi. Tujuan dari segala tujuan yang tidak ada lagi tujuan setelahnya, adalah menggapai keridhaan Allah. Karena itu, cita-cita tertinggi bagi seorang muslim adalah menggapai keridhaan Allah. 

Maka dari itu, kadang dilantunkan ungkapan berikut tentang orang-orang yang takwa lagi saleh: “Hamba [Allah] yang paling baik adalah Suhaib. Kalau sekiranya dia tidak takut kepada Allah, niscaya dia tidak akan berbuat maksiat kepada Allah.” Dikatakan demikian, karena tujuan Suhaib tidak berbuat maksiat bukanlah takut kepada Allah, yakni bahwa Allah akan mengazabnya karena berbuat maksiat. Tetapi tujuannya adalah mencapai ridha Allah. Maka kalau sekiranya pada dirinya tidak terdapat rasa takut kepada Allah, dia tidak akan berbuat maksiat. Karena dia tidak berbuat maksiat adalah karena ingin mencari ridha Allah, bukan karena takut pada azab Allah. Dengan demikian, cita-cita tertinggi bagi kaum muslimin adalah ridha Allah, bukan masuk surga dan bukan pula selamat dari neraka. 

Walhasil, meskipun cita-cita tertinggi merupakan suatu tujuan –sebagai tujuan dari segala tujuan– tetapi ia berbeda dengan tujuan dan target. Maka apa yang dikatakan tentang berpikir dan beraktivitas –bahwa tujuannya harus ditentukan—tujuan di sini maksudnya bukanlah cita-cita tertinggi. Maksudnya adalah tujuan yang bisa terwujud secara nyata, meskipun di belakangnya masih ada tujuan atau bahkan tujuan-tujuan lain. Jadi, tujuan haruslah ditentukan dan harus berupa sesuatu yang mungkin diwujudkan oleh orang yang sedang berusaha mewujudkannya, bukan oleh generasi-generasi yang akan datang. Sarana-sarananya harus bisa didapatkan dengan mudah atau kemungkinan bisa didapatkan dengan mudah secara praktis dan nyata. Tujuan bukanlah cita-cita tertinggi, melainkan target yang hendak dicapai. Karena itu, berpikir tentang tujuan haruslah merupakan pemikiran yang bersifat nyata dan praktis. Maksudnya, suatu tujuan haruslah berupa sesuatu yang mungkin diwujudkan oleh orang yang sedang mengusahakannya.

Memahami Makna Rezeki – Tausiyah Ramadhan #6

MEMAHAMI MAKNA REZEKI

Rezeki  berbeda dengan pemilikan, karena rezeki itu adalah suatu pemberian, maka dalam bahasa arab, razaqa berarti a’thaa (telah memberi sesuatu). Adapun yang dinamakan dengan pemilikan adalah penguasaan terhadap sesuatu dengan cara-cara yang diperbolehkan syara’ untuk mendapatkan harta, jadi rezki itu ada yang halal dan ada pula yang haram, semuanya dikatakan rezki.
Banyak orang yang menyangka bahwa merekalah yang memberikan rezeki atas dirinya sendiri, mereka menganggap keadaan (usaha) yang membuat mereka bisa menghimpun kekayaan — maksudnya harta atau manfaat — sebagai sebab untuk mendapatkan rezki, meskipun mereka telah berkata melalui lidahnya bahwa rezki itu dari Allah.
Pada hakikatnya keadaan-keadaan (usaha) tersebut merupakan kondisi-kondisi mendatangkan rezki bukan sebab-sebab mendatangkannya. Kalau seandainya dianggap sebagai sebab tentu akan ditemukan kerancuan, dimana dapat disaksikan secara inderawi justru ditemukan sebaliknya, kadang-kadang keadaan (usaha) nya ada namun tidak mendatangkan rezeki, dan terkadang pula rezeki itu datang tanpa ada keadaan (usaha) apapun.
Kadang-kadang seorang pegawai bekerja sepanjang bulanan kemudian menahan diri untuk melunasi hutang terdahulu, atau untuk pembelanjaan atas apa yang wajib ia nafqahkan, atau untuk melunasi pajak-pajak, maka dalam keadaan semacam ini ia mendapatkan kondisi yang bisa mendatangkan rezeki dimana ia seorang pegawai, namun ia tidak mendapatkan rezeki karena ia tidak mengambil upahnya.
Dapat ditambah lagi bahwa tidak mungkin segala kondisi/cara/usaha yang dapat mendatangkan rezki ketika kondisi/cara/usaha ada dianggap sebagai sebab untuk mendatangkan rezki, sekaligus tidaklah mungkin dianggap kalau seseorang melakukan usaha bahwa dialah yang mendatangkan rezki untuk dirinya sendiri berdasarkan perantaraan usaha tersebut, karena hal yang demikian itu bertentangan dengan nash al qur’an yang qath’i tsubut dan qath’i dilalah. Karena itu maka hakikat yang wajib diterima oleh seorang muslim adalah pernyataan rezeki berasal dari Allah dan bukan dari manusia.
Banyak ayat-ayat yang menunjukkan dengan jelas tidak menerima penta’wilan, bahwasanya rezki jelas dari Allah Swt semata bukan dari manusia. Dan hal ini menjadikan kita harus  memastikan terhadap apa yang kita saksikan berupa wasilah-wasilah dan cara-cara untuk mendatangkan rezeki, melainkan ia hanya kondisi-kondisi yang bisa mendatangkan rezeki.Allah Swt berfirman :

كُلُوا مِمَّا رَزَقَكُمُ اللهُ

“Makanlah dari rezki yang telah diberikan Allah kepadamu”. (Al An’am, 142)

Dan firman Allah :

الَّذِي خَلَقَكُمْ ثُمَّ رَزَقَكُمْ

“yang menciptakan kamu, kemudian memberimu rezki”. (Ar Rum, 40)

Kemudian firman Allah :

أَنْفِقُوا مِمَّا رَزَقَكُمُ اللهُ

“Nafkahkanlah sebahagian dari rezki yang diberikan Allah kepadamu”. (Yasin, 47)

Selanjutnya firman Allah :

إِنَّ اللهَ يَرْزُقُ مَنْ يَشَاءُ

“Sesungguhnya Allah memberi rezki kepada siapa yang dikehendaki-Nya”.(Ali ‘imran, 37)

Seterusnya Allah berfirman :

اللهُ يَرْزُقُهَا وَإِيَّاكُمْ

“Allah-lah yang memberi rezki kepadanya dan kepadamu”. (Al Ankabut, 60)

يَبْسُطُ الرِّزْقَ لِمَنْ يَشَاءُ

“meluaskan rezki bagi siapa yang Dia kehendaki”. (Al ra’d, 26)

Kemudian :

فَابْتَغُوا عِنْدَ اللهِ الرِّزْقَ

“maka mintalah rezki itu di sisi Allah”. (Al Ankabut, 17)

Dan firman Allah :

وَمَا مِنْ دَابَّةٍ فِي اْلأَرْضِ إِلاَّ عَلَى اللهِ رِزْقُهَا

“Dan tidak ada suatu binatang melatapun di bumi melainkan Allah-lah yang memberi rezkinya”.(Hud, 6)

Maka ayat-ayat ini dan yang lainnya masih banyak merupakan ayat-ayat qath’i tsubut dan qath’i dilalah, tidak mengandung makna lain kecuali hanya satu makna sekaligus tidak menerima penta’wilan, dimana rezeki tersebut berasal dari Allah semata tidak berasal dari selainNya. Sesungguhnya Allahlah yang memberi rezeki, maka rezeki itu berada ditangan Allah semata.
Hanya saja Allah memerintah hamba-hambaNya untuk melakukan pekerjaan yang menjadikan mereka mampu untuk memilih dengan  melangsungkan usaha-usaha yang dapat menghasilkan rezeki, maka merekalah yang melakukan secara langsung usaha-usaha yang bisa mendatangkan rezeki tersebut berdasarkan ikhtiyar yang mereka miliki, akan tetapi bukanlah segala usaha yang dibentuk dijadikan sebagai sebab menghasilkan rezeki, dan bukan pula mereka yang mendatangnya sebagaimana tertera dalam nash ayat-ayat, melainkan Allahlah yang memberikan kepada mereka rezeki dalam kondisi/usaha tersebut, terlepas dari apakah yang diperolehnya halal atau haram, apakah bentuk usahanya diwajibkan oleh Allah atau diharamkanNya atau dibolehkan oleh Allah, dan terlepas pula apakah melalui usaha-usaha tersebut mendatangkan rezeki atau tidak.
Islam telah menjelaskan cara-cara yang diperbolehkan  bagi seorang muslim untuk melangsungkan usaha yang akan mendatangkan rezeki, sekaligus cara-cara yang tidak diperbolehkannya untuk melangsungkan usaha yang dapat menghasilkan rezeki tersebut. Islam telah menjelaskan sebab-sebab pemilikan bukan sebab-sebab mendatangkan rezeki, pemilikan ini dibatasi oleh sebab-sebab, maka tidak seorangpun yang boleh memiliki rezeki kecuali dengan sebab syar’i, karena rezeki yang dimiliki dengan sebab syar’i itu merupakan rezki yang halal, dan rezeki yang dimilikinya dengan sebab-sebab yang tidak syar’i maka rezki tersebut bukan rezeki yang halal, walaupun semua katagori rezeki ada yang halal dan ada pula yang haram, namun semuanya berasal dari Allah Swt.
Maka tinggallah satu permasalahan lagi yaitu : apakah yang disebut rezeki seseorang itu adalah segala apa yang di kumpulkan tetapi tidak bisa diambil manfaatnya atau rezeki itu yang bisa diambil manfaatnya saja ? Jawaban mengenai hal tersebut diterangkan dalam al qur’an bahwa sesungguhnya rezeki yang dikumpulkan manusia mencakup manfaat yang dapat diambil atau manfaat yang tidak dapat diambil. Firman Allah Swt :

لِيَذْكُرُوا اسْمَ اللهِ عَلَى مَا رَزَقَهُمْ مِنْ بَهِيمَةِ اْلأَنْعَامِ

“supaya mereka menyebut nama Allah terhadap binatang ternak yang telah direzkikan Allah kepada mereka”.(Al Hajj, 34)

اللهُ يَبْسُطُ الرِّزْقَ لِمَنْ يَشَاءُ وَيَقْدِرُ

“Allah meluaskan rezki dan menyempitkannya bagi siapa yang Dia kehendaki”. (Ar Ra’d, 26)

Selanjutnya firman Allah :

وَمَنْ قُدِرَ عَلَيْهِ رِزْقُهُ

“Dan orang yang disempitkan rezkinya”.(Al Thalaq, 7)

أَنْفِقُوا مِمَّا رَزَقَكُمُ اللهُ

“Nafkahkanlah sebahagian dari rezki yang diberikan Allah kepadamu”.(Yasin, 47)
Setelahnya firman Allah :

كُلُوا مِنْ طَيِّبَاتِ مَا رَزَقْنَاكُمْ

“Makanlah dari makanan yang baik-baik yang telah Kami berikan kepadamu”.(Al baqarah 57)

وَارْزُقُوهُمْ فِيهَا وَاكْسُوهُمْ

“Berilah mereka belanja dan pakaian (dari hasil harta itu)”. (An Nisa’, 5 )

وَارْزُقْ أَهْلَهُ مِنَ الثَّمَرَاتِ

“dan berikanlah rezki dari buah-buahan kepada penduduknya”. (Al Baqarah, 126)

Selanjutnya :

كُلُوا وَاشْرَبُوا مِنْ رِزْقِ اللهِ

“Makan dan minumlah rezki (yang diberikan) Allah”. (Al Baqarah, 60)

Bahwasanya ayat-ayat diatas jelas dalam menyebutkan nama rezeki, yaitu segala yang dikumpulkan, tentunya ia dipergunakan untuk semua yang bemanfaat, akan tetapi tidak tersebut dalam ayat-ayat tadi pengkhususan rezeki berupa yang bermanfaat saja, karena ayat-ayat-tersebut bersifat umum, maka penunjukannya pun bersifat umum pula. Dan tidak dikatakan manakala seseorang mengambil harta kamu dengan cara mencuri atau merampok ataupun dengan jalan korupsi bahwa ia telah mengambil rezeki kamu, akan tetapi dikatakan bahwa dia telah mengambil rezekinya dari tanganmu. Seorang manusia takkala ia mengumpulkan harta maka ia telah mengambil rezekinya, dan takkala hartanya diambil oleh orang lain maka tidaklah berarti rezekinya telah diambil orang, melainkan barangsiapa yang mengumpulkan harta maka ia telah mengambil rezekinya dari orang lain, oleh karena itu tidaklah seseorang mengambil rezeki orang lain, akan tetapi seseorang mengambil rezekinya sendiri dari orang lain.

Akhlak dan Kebangkitan Umat – Tausiyah Ramadhan #5

AKHLAK DAN KEBANGKITAN UMAT

Rasulullah saw. bersabda: 

«إِنَّمَا بُعِثْتُ ِلأُتَمِّمَ صَالِحَ اْلأَخْلاَقِ» 

Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan akhlak. (HR Ahmad).

 

Dari hadits di atas, kita bisa memahamikan bahwa akhlak adalah karakter ciptaan (fabricated), bukan karakter bawaan (khîm). Karena Rasulullah saw dengan syariat yang dibawanya mampu merubah akhlak buruk menjadi baik pada manusia yang mengikuti ajarannya. Akhlak seorang Muslim berbeda dengan akhlak non-Muslim. Akhlak seorang Muslim dibentuk berdasarkan al-Quran (akidah dan syariat-Nya). Sebaliknya, akhlak non-Muslim dibentuk berdasarkan prinsip-prinsip non- Islam. Untuk itu, meskipun sama-sama jujur, kita tidak bisa menyatakan bahwa seorang kapitalis dan seorang Muslim sama-sama memiliki akhlak yang baik. Sebab, proses pembentukkan karakter dirinya tidaklah sama. Kejujuran seorang Muslim selalu didasarkan pada akidah dan syariat Islam. Dengan kata lain, kejujurannya adalah buah dari pelaksanaan ajaran-ajaran Islam, tidak dibentuk semata-mata karena jujur itu adalah nilai-nilai universal atau karena bermanfaat. 

Berbeda dengan kapitalis maupun sosialis. Kejujurannya tidak didasarkan pada prinsip-prinsip Islam, tetapi hanya didasarkan pada prinsip manfaat dan kemanusiaan belaka. Kejujurannya sama sekali tidak dibangun di atas prinsip ketakwaan kepada Allah Swt. Walhasil, akhlak seorang Muslim berbeda dengan akhlak orang kafir, meskipun penampakannya sama. 

Akhlak seorang Muslim merupakan refleksi dari pelaksanaan dirinya terhadap hukum-hukum syariat. Seseorang tidak disebut berakhlak Islam ketika nilai-nilai akhlak tersebut dilekatkan pada perbuatan-perbuatan yang diharamkan Allah Swt. Misalnya, pegawai bank yang senantiasa terlibat dalam transaksi ribawi tidak disebut berakhlak Islam meskipun ia terkenal jujur, disiplin, dan sopan. Sebab, ia telah melekatkan sifat-sifat akhlak pada perbuatan yang diharamkan Allah Swt. Anggota parlemen yang suka membuat aturan-aturan kufur juga tidak bisa disebut memiliki akhlak Islam meskipun ia terkenal jujur, amanah, dan seterusnya. Sebab, nilai-nilai akhlaknya telah melekat pada perbuatan haram. Walhasil, akhlak seorang Muslim harus dibentuk berdasarkan al-Quran al-Karim. Dengan kata lain, akhlak seorang Muslim adalah refleksi dari pelaksanaan hukum-hukum Allah Swt. 

 

Posisi Akhlak Dalam Syariah 

Ada sebagian kaum Muslim yang memahami, bahwa kebangkitan umat harus dimulai dari kebangkitan akhlak. Mereka mengajukan sebuah asumsi, “Jika setiap individu memiliki akhlak yang baik maka masyarakat pun akan menjadi baik. Kemunduran dan kebangkitan suatu masyarakat sangat ditentukan oleh kebangkitan dan kemunduran akhlaknya.” 

Mereka juga mengetengahkan dalil-dalil syariat untuk membangun argumentasi mereka. Dari al-Quran, mereka mengetengahkan surat al-Qalam ayat 4, sebagaimana dinukil di atas dan nash-nash yang senada. Dari as-Sunnah mereka juga berhujah dengan hadis yang berbicara tentang akhlak, sebagaimana yang juga dinukil di atas. 

Benar, akhlak merupakan salah satu bagian dari ajaran Islam. Namun demikian, kita tidak boleh memahami, bahwa akhlak yang dimaksud di sini sekadar sebagai nilai-nilai universal, yang terlepas sama sekali dengan konteks hukum syariat. Kejujuran, amanah, disiplin, rasa hormat, dan lain-lain merupakan nilai akhlak yang mulia. Semuanya adalah nilai-nilai yang dijunjung tinggi oleh umat manusia tanpa memperhatikan agama, ras, suku dan jenis kelamin. Kaum Kristen, Budha, Yahudi, Konghucu, dan kaum kapitalis pun sangat menjunjung tinggi nilai-nilai itu; bahkan berusaha untuk menerapkannya. Kaum Muslim juga menjunjung tinggi dan berusaha menerapkan nilai-nilai tersebut di dalam kehidupannya. 

Namun demikian, seorang Muslim tatkala hendak menerapkan nilai-nilai yang sangat mulia itu, bukan didorong oleh sebuah motivasi bahwa nilai-nilai tersebut adalah nilai universal, tetapi karena hal itu diperintahkan oleh Allah Swt. Seorang Muslim bersikap jujur, karena ia memang diperintahkan oleh Allah Swt., bukan karena jujur itu bermanfaat atau nilai universal. Dengan kata lain, akhlak seorang Muslim adalah refleksi dari pelaksanaan syariat-Nya. Sebab, seluruh perbuatan seorang Muslim wajib bersandar pada syariat Islam. Di sisi lain, seorang Muslim harus memahami, kapan ia jujur, dan kapan ia tidak boleh jujur. Tatkala melakukan jual-beli dengan orang lain, ia harus jujur dan amanah. Sebaliknya, ketika dalam peperangan melawan kaum kafir, ia tidak diperbolehkan jujur membeberkan kekuatan kaum Muslim. 

Kenyataan di atas menunjukkan bahwa akhlak merupakan bagian dari syariat Islam. Menurut pandangan Islam, akhlak bukan sekadar nilai universal yang berlaku di tengah-tengah manusia, tetapi sifat yang wajib dimiliki seorang Muslim, berdasarkan perintah dari Allah Swt. Dengan kata lain, akhlak adalah syariat Islam yang mengatur hubungan manusia dengan dirinya sendiri.

 

Benarkah Akhlak Sebagai Pembangkit Umat?

Bantahan atas pendapat yang menyatakan bahwa kebangkitan umat atau persoalan mendasar umat adalah bagaimana membangkitkan akhlaknya dapat diperinci sebagai berikut:

Pertama, sebenarnya konteks yang hendak dikaji adalah kebangkitan umat atau kebangkitan masyarakat, bukan kebangkitan individu. Individu berbeda dengan masyarakat dari sisi karakter maupun penyusunnya. Atas dasar itu, cara membangkitkan individu berbeda dengan cara membangkitkan masyarakat atau umat. Akhlak adalah hukum syariat yang mengatur hubungan manusia dengan dirinya sendiri. Oleh karena itu, akhlak adalah salah satu variabel penting untuk membangkitkan individu. 

Berbeda dengan konteks kebangkitan masyarakat. Untuk membahas kebangkitan masyarakat, kita harus memahami unsur-unsur penyusun masyarakat dan cara untuk mengubahnya. Begitu pula jika kita hendak mengubah individu, kita mesti memahami terlebih dulu unsur-unsur penyusun individu dan bagaimana cara membangkitkannya. 

Masyarakat sendiri tersusun atas manusia, pemikiran, perasaan,dan aturan yang diberlakukan di tengah-tengah masyarakat. Benar, manusia merupakan salah satu faktor penyusun masyarakat. Namun demikian, perubahan manusia tidak secara otomatis menghasilkan perubahan masyarakat maupun warna masyarakat. Sebab, masyarakat tidak hanya tersusun dari manusia belaka, tetapi juga tersusun oleh pemikiran, perasaan, dan aturan. Selain itu, faktor yang menentukan corak dan warna masyarakat bukanlah manusia sebagai individu, melainkan pemikiran dan aturan yang diterapkan. 

Para penganut agama Budha terkenal sebagai orang-orang yang menjunjung nilai-nilai akhlak, bahkan memiliki sifat-sifat akhlak yang mulia. Namun demikian, warna masyarakat yang tersusun dari orang-orang Budha dan agama Budha adalah masyarakat kufur, bukan masyarakat Islam. Ini menunjukkan, bahwa faktor yang menentukan corak dan warna masyarakat adalah pemikiran dan aturan yang diterapkan di dalamnya, bukan akhlak individunya. 

Masyarakat di negeri-negeri yang berpenduduk mayoritas Muslim yang terkenal jujur, amanah, dan berbudi pekerti luhur, disebut masyarakat yang tidak islami jika sistem aturan yang diberlakukan di negeri-negeri Islam tersebut adalah sistem aturan kufur. Negeri Baghdad ketika dikuasai bangsa Mongol tidak lagi disebut negara Islam, karena sistem yang diberlakukan setelah itu bukan lagi sistem Islam. Ini semua menunjukkan, bahwa perubahan akhlak individu tidak secara otomatis mengubah warna masyarakat. Bahkan, perubahan akhlak—sebagai nilai-nilai universal—sama sekali tidak berhubungan dengan perubahan warna masyarakat. 

Masyarakat Jahiliah sebelum Islam juga menjunjung nilai-nilai akhlak yang tinggi—menghargai tamu, perwira, dan sebagainya. Sifat-sifat akhlak ini tidak berubah ketika mereka berubah menjadi masyarakat Islam. Ini menunjukkan bahwa akhlak tidak berhubungan dengan perubahan warna masyarakat. 

Walhasil, jika konteks pembicaraan kita adalah mengubah warna atau corak masyarakat maka aktivitas perubahannya tidak boleh difokuskan hanya pada perubahan individunya belaka, namun harus difokuskan pada perubahan pemikiran dan aturan yang ada di tengah-tengah masyarakat. 

Di sisi yang lain, nilai-nilai akhlak—sebagai nilai universal—bukanlah nilai yang berdiri sendiri. Akan tetapi, ia selalu melekat pada perbuatan tertentu. Jujur adalah nilai akhlak. Namun, Anda tidak bisa mengetahui apakah seseorang itu jujur atau tidak, kecuali ketika ia melakukan suatu aktivitas tertentu. Jujur bisa melekat pada perbuatan apapun, halal maupun haram. Jujur bisa melekat pada seorang pegawai bank yang mengkonsumsi ribawi. Jujur juga bisa melekat pada anggota parlemen yang suka menelorkan aturan-aturan kufur. Namun demikian, jujur yang melekat pada perbuatan-perbuatan haram tersebut tidak memiliki nilai sama sekali. Bahkan, kita tidak boleh menyatakan bahwa orang tersebut berakhlak. Sebab, kejujurannya telah melekat pada perbuatan haram. 

Dedikasi yang tinggi, disiplin, dan amanah bisa saja melekat pada diri anggota pasukan perang yang menjadi pembela sistem kufur. Akan tetapi, kita tidak mungkin menyatakan orang-orang ini menjunjung tinggi nilai-nilai Islam. Bahkan, akhlak yang menempel pada sistem kufur semacam ini tidak memiliki arti sedikitpun dalam timbangan Islam. Yang terpenting adalah mengubah pemikiran dan sistem aturan yang berlaku di tengah-tengah masyarakat. Sedangkan akhlak hanyalah sekadar bagian dari aturan-aturan Allah Swt. yang mengatur hubungan manusia dengan dirinya sendiri. Perubahan akhlak sama sekali tidak berkaitan dengan perubahan warna masyarakat.

Kedua, pernyataan di atas tidak berarti bahwa kita boleh meremehkan akhlak, atau menganggap bahwa akhlak bukanlah perkara penting jika dibandingkan dengan perkara-perkara yang lain. Al-Quran sendiri tidak menyebut kata khuluq di banyak tempat, kecuali pada surat al-Qalam ayat 4 dan asy-Syu’ara ayat 137. Selain itu, para fuqaha hanya mengkaji masalah-masalah yang berhubungan dengan hukum syariat. Mereka tidak pernah mengkaji akhlak dalam bab fikih tersendiri. Ini menunjukkan bahwa akhlak adalah bagian dari syariat Islam yang mengatur hubungan manusia dengan dirinya sendiri. 

Ketiga, seandainya kita mencermati bangsa-bangsa yang saat ini mengalami kemajuan, kita bisa menyimpulkan, bahwa akhlak yang dimiliki oleh kaum Muslim tetap lebih tinggi dibandingkan dengan bangsa-bangsa lain. Namun demikian, kaum Muslim tetap saja dalam posisi mundur. Mereka tertinggal jauh dengan bangsa-bangsa yang akhlaknya lebih rendah dibandingkan dengan mereka. 

Keempat, fakta juga telah menunjukkan bahwa propaganda-propaganda, seruan-seruan maupun buku-buku, selebaran, poster, dan lain-lain yang menyerukan akhlak sama sekali tidak memberikan pengaruh bagi kebangkitan kaum kaum Muslim. Umat Islam tetap mundur dari sisi ekonomi, politik, dan hukum. Ini juga membuktikan bahwa akhlak bukanlah asas atau dasar dari perubahan masyarakat. Ia juga bukan masalah utama bagi kaum Muslim.

Seluruh penjelasan di atas tidak boleh dipahami, bahwa tulisan ini meremehkan akhlak atau tidak menganggap penting masalah akhlak. Namun, di sini hanya ingin menjelaskan, bahwa akhlak bukanlah persoalan utama kaum Muslim, dan juga bukan asas dan dasar kebangkitan umat.

Ridha Terhadap Qodho – Tausiyah Ramadhan #4

TAUSIYAH RAMADHAN #4

RIDHA TERHADAP QODHO

Setiap ada musibah yang menimpa seorang muslim maka baginya akan diberikan pahala dari Allah SWT. Yang dimaksud dengan pahala di sini adalah pahala atas keridhannya terhadap qadha dari Allah dan kesabarannya; Juga bersyukur dan tidak mengadukan musibahnya kecuali kepada Allah. Hukum menerima qodho dengan ridha adalah wajib bagi setiap muslim. 

Dalil tentang kewajiban ridha menerima qadha adalah apa yang diriwayatkan oleh Ibnu Abi Ashim dan Bukhari dalam Al-Adab Al-Mufrad, dan Al-Hakim, ia menshahihkan hadits ini. Adz-Dzahabi juga menyetujuinya, dengan lafadz hadits:

«وَأَسْأَلُكَ الرِّضَاءَ بَعْدَ الْقَضَاءِ»

Dan aku meminta kepada-Mu, ya Allah, bisa ridha setelah menerima qadha.

 

Syara’ telah memuji seorang hamba yang berserah diri terhadap qadha, sebagaimana dijelaskan dalah hadits dari Abu Hurairah. Sesungguhnya Rasulullah saw. bersabda kepadaku:

»أَلاَ أُعَلِّمُكَ أَوْ أَدُلُّكَ عَلَى كَلِمَةٍ مِنْ تَحْتِ الْعَرْشِ مِنْ كَنْزِ الْجَنَّةِ: 

لاَ حَوْلَ لاَ قُوَّةَ إِلاَّ بِاللهِ، يَقُولُ اللهُ عَزَّ وَجَلَّ أَسْلَمَ عَبْدِي وَاسْتَسْلَمَ«

Aku akan memberitahumu satu kalimat yang datang dari bawah ‘Arasy dan dari gudangnya surga, yaitu, “Tiada daya dan tidak ada kekuatan kecuali dengan (kekuasaan) Allah“. Allah berfirman, “Sungguh hamba-Ku telah tunduk dan berserah diri kepada-Ku.” (HR. Al-Hakim. Ia berkata, hadits ini shahih isnadnya, dan tidak tercatat adanya kecacatan, meski tidak ditakhrij oleh Bukhari dan Muslim. Ibnu Hajar berkata, hadits ini telah ditakhrij oleh Al-Hakim dengan sanad yang kuat)

 

Marah terhadap qadha Allah hukumnya haram. Al-Qirafi menuturkan dalam Al-Dakhirah adanya ijma (kesepakatan) atas keharaman marah terhadap qadha dari Allah. Yang dimaksud dengan ijma ini adalah ijma para Mujtahid. Lafadz ijmanya adalah “Marah terhadap qadha Allah hukumnya haram berdasarkan ijma.” Al-Qirafi telah membedakan antara qadha dan Al-Maqdhi. Beliau berkata; Jika ada seorang yang diuji dengan suatu penyakit, kemudian ia merasa sakit sebagai resiko dari tabiat suatu penyakit, maka hal seperti ini tidak dipandang sebagai sikap tidak ridha terhadap qadha, melainkan disebut tidak ridha terhadap Al-Maqdhi. Jika ia berkata, “Apa (gerangan) yang telah aku lakukan hingga aku ditimpa dengan musibah ini, dan apa dosaku. Padahal aku tidak layak mendapatkannya.” Maka yang seperti ini disebut tidak ridha terhadap qadha bukan terhadap Al-Maqdhi. 

Keharaman marah terhadap qadha ini ditunjukkan oleh hadits dari Mahmud bin Lubaid (sebagaimana telah disebutkan) bahwa Rasulullah bersabda:

»إِنَّ اللهَ إِذَا أَحَبَّ قَوْمًا ابْتَلاَهُمْ، فَمَنْ رَضِيَ، فَلَهُ الرِّضَى، وَمَنْ سَخِطَ فَلَهُ السُّخْطُ «

Sesungguhnya jika Allah akan mencintai suatu kaum, maka Dia akan memberikan ujian kepada mereka. Barangsiapa yang bersabar maka kesabaran itu bermanfaat baginya. Dan barangsiapa marah (tidak sabar) maka kemarahan itu akan kembali kepadanya. (HR. Ahmad dan AT-Tirmidzi. Ibnu Muflih berkata, Isnad hadits ini baik)

 

Ridha dan marah termasuk perbuatan manusia. Karena itu manusia akan diberi pahala atas perbuatannya dan akan disiksa atas kemarahannya. Sedangkan qadha sendiri tidak termasuk perbuatan manusia, sehingga manusia tidak akan diminta pertanggungjawaban atas terjadinya qadha, sebab bukan termasuk perbuatannya. Tetapi ia tetap akan ditanya tentang ridha dan marahnya terhadap qadha, karena hal itu termasuk perbuatannya. Allah berfirman:

وَأَنْ لَيْسَ لِلإِنْسَانِ إِلاَّ مَا سَعَى

Dan bahwasanya seorang manusia tiada memperoleh selain apa yang telah diusahakannya. (TQS. An-Najm [53]: 39)

 

Qadha dari Allah ini akan menjadi penebus atas dosa-dosa seseorang, dan sebagai sarana dihapuskannya kesalahan. Dalilnya sangat banyak, di antaranya hadits dari Abdullah, sesungguhnya Rasulullah saw. bersabda:

»…مَا مِنْ مُسْلِمٍ يُصِيبُهُ أَذَى شَوْكَةٍ فَمَا فَوْقَهَا إِلاَّ كَفَّرَ اللهُ بِهَا سَيِّئَاتِهِ كَمَا تَحُطُّ الشَّجَرَةُ وَرَقَهَا «

Seorang muslim yang diuji dengan rasa sakit karena duri atau yang lebih dari itu, maka Allah pasti akan menebus kesalahan-kesalahannya kerana musibah itu, sebagaimana suatu pohon menggugurkan daunnya. (Mutafaq ‘alaih). 

 

Hadits yang lain adalah dari ‘Aisyah, ia berkata; Rasulullah saw. bersabda:

«لاَ تُصِيبُ الْمُؤْمِنَ شَوْكَةٌ فَمَا فَوْقَهَا إِلاَّ قَصَّ اللهُ بِهَا مِنْ خَطِيئَتِهِ»

Satu duri atau yang lebih dari itu, yang menimpa seorang mukmin, maka pasti dengan duri itu Allah akan mengurangi kesalahannya. Dalam satu riwayat dikatakan “naqushshu” artinya kami akan mengurangi. (Mutafaq ‘alaih). 

Hadits dari Abu Hurairah dan Abu Sa’id, dari Nabi saw., bersabda:

»مَا يُصِيْبُ الْمُؤْمِنَ مِنْ وَصَبٍ وَلاَ نَصَبٍ وَلاَ هَمٍّ وَلاَ حَزَنٍ وَلاَ أَذًى وَلاَ غَمٍّ حَتَّى الشَّوْكَةٍ يُشَاكِهَا، إِلاَّ كَفَّرَ اللهُ مِنْ خَطَايَاهُ «

Setiap musibah yang menimpa seorang mukmin, berupa sakit yang berterusan, sakit yang biasa, kebingungan, kesedihan, kegundahan hingga duri yang menusuknya, maka pasti musibah itu akan menjadi penghapus bagi kesalahan-kesalahannya. (Mutafaq ‘alaih). 

Dalam bab ini terdapat juga hadits senada dari Saad, Muawiyah, Ibnu Abbas, Jabir, Ummu Al-Ala, Abu bakar, Abdurrahman bin Azhar, Al-Hasan, Anas, Syadad, dan Abu Ubaidah ra.; dengan sanad-sanad ada yang baik dan ada yang shahih. Semuanya sampai kepada Nabi saw. (hadits marfu), yang isinya menyatakan bahwa “setiap ujian akan menggugurnya kesalahan”.

Hadits dari ‘Aisyah ra. sesungguhnya Rasulullah saw. bersabda:

«…مَا مِنْ مُسْلِمٍ يُشَاكُ شَوْكَةً فَمَا فَوْقَهَا إِلاَّ رَفَعَهُ اللهُ بِهَا دَرَجَةً، 

وَحَطَّ عَنْهُ بِهَا خَطِيئَةً»

Seorang muslim yang tertusuk duri atau yang lebih dari itu, maka pasti Allah dengan musibah itu akan mengangkat satu derajat untuknya dan menggugurkan satu kesalahan darinya. 

Dalam riwayat lain dikatakan:

«إِلاَّ كَتَبَ اللهُ لَهُ بِهَا حَسَنَةً»

Maka pasti Allah dengan musibah itu akan mencatat satu kebaikan baginya.

Yang dimaksud dengan pahala di sini adalah pahala atas keridhannya terhadap qadha dari Allah dan kesabarannya; Juga bersyukur dan tidak mengadukan musibahnya kecuali kepada Allah. Banyak sekali hadits yang menjelaskan batasan ini, di antaranya hadits riwayat Muslim dari Shuhaib, sesungguhnya Rasulullah saw. bersabda:

«عَجَبًا ِلأَمْرِ الْمُؤْمِنِ إِنَّ أَمْرَهُ كُلَّهُ خَيْرٌ إِنْ أَصَابَتْهُ سَرَّاءُ شَكَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ وَإِنْ أَصَابَتْهُ ضَرَّاءُ صَبَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ وَلَيْسَ ذَاكَ ِلأَحَدٍ إِلاَّ لِلْمُؤْمِنِ»

Aku kagum terhadap urusan orang yang beriman, karena seluruh urusannya merupakan kebaikan baginya. Jika mendapatkan kesenangan ia bersyukur, maka syukur adalah kebaikan baginya. Jika ditimpa kesulitan ia bersabar, maka sabar itu merupakan kebaikan baginya. Hal seperti ini tidak akan didapati pada seseorang kecuali orang yang beriman. 

 

Hadits riwayat Hakim, ia menshahihkannya yang disepakati oleh Adz-Dzahabi dari Abu Darda ra., ia berkata; aku pernah mendengar Rasulullah saw. bersabda:

«إِنَّ اللهَ عَزَّ وَجَلَّ يَقُولُ يَا عِيسَى إِنِّي بَاعِثٌ مِنْ بَعْدِكَ أُمَّةً إِنْ أَصَابَهُمْ مَا يُحِبُّونَ حَمِدُوا اللهَ وَشَكَرُوا وَإِنْ أَصَابَهُمْ مَا يَكْرَهُونَ احْتَسَبُوا وَصَبَرُوا وَلاَ حِلْمَ وَلاَ عِلْمَ قَالَ يَا رَبِّ كَيْفَ هَذَا لَهُمْ وَلاَ حِلْمَ وَلاَ عِلْمَ قَالَ أُعْطِيهِمْ مِنْ حِلْمِي وَعِلْمِي»

Sesungguhnya Allah berfirman, “Wahai Isa!, sungguh aku akan mengirim suatu umat setelahmu. Jika mereka mendapatkan perkara yang disukai, pasti akan memuji kepada Allah. Jika mereka mendapatkan perkara yang tidak disukai, mereka akan ikhlas menerimanya dan bersabar menghadapinya, padahal mereka tidak memiliki kepandaian dan ilmu.” Isa berkata, “Wahai Tuhanku, bagaiman itu bisa terjadi?” Allah berfirman, “Aku memberikan kepada mereka sebagian dari kepandaian dan ilmu-Ku.” 

 

Hadits riwayat At-Thabrani dengan isnad yang sehat dari cacat, dari Ibnu Abbas ra., ia berkata; Rasulullah saw. bersabda: 

«من أصيب بمصيبة بماله أو في نفسه فكتمها ولم يشكها إلى الناس, كان حقا على الله أن يغفر له»

Siapa saja yang ditimpa musibah atas hartanya atau jiwanya, kemudian ia menyembunyikannya dan tidak mengadukan kepada manusia, maka Allah pasti akan mengampuninya. 

 

Hadits riwayat Bukhari dari Anas, ia berkata; aku pernah mendengar Rasulullah saw. bersabda:

«إِنَّ اللهَ قَالَ إِذَا ابْتَلَيْتُ عَبْدِي بِحَبِيبَتَيْهِ فَصَبَرَ عَوَّضْتُهُ مِنْهُمَا الْجَنَّةَ»

Sesungguhnya Allah Swt. berfirman, “Jika Aku menguji hambaku dengan (kematian) kekasihnya kemudian ia bersabar, maka Aku akan menggatinya dengan Surga. 

 

Hadits riwayat Bukhari dalam Al-Adab Al-Mufrad, dari Abu Hurairah, ia berkata; Rasulullah bersabda: 

«ما من مسلم يشاك شوكة فى الدنيا يحتسبها إلا قضى بها من خطاياه يوم القيامة»

Seorang muslim yang tertusuk duri di dunia, ia ikhlas menerimanya maka pasti ujian itu akan menjadi penyebab Allah melenyapkan kesalahan-kesalahnya di hari Kiamat.

Menguatkan Kesabaran – Tausiyah Ramadhan #3

TAUSIYAH RAMADHAN #3

MENGUATKAN KESABARAN

Allah berfirman:

وَلَنَبْلُوَنَّكُمْ بِشَيْءٍ مِنَ الْخَوْفِ وَالْجُوعِ وَنَقْصٍ مِنَ الأَمْوَالِ وَالأَنْفُسِ وَالثَّمَرَاتِ وَبَشِّرِ الصَّابِرِينَ الَّذِينَ إِذَا أَصَابَتْهُمْ مُصِيبَةٌ قَالُوا إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُونَ أُولَئِكَ عَلَيْهِمْ صَلَوَاتٌ مِنْ رَبِّهِمْ وَرَحْمَةٌ وَأُولَئِكَ هُمُ الْمُهْتَدُونَ

Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar, (yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan, “Innaa lillaahi wa innaa ilaihi raaji`uun.” Mereka itulah yang mendapat keberkatan yang sempurna dan rahmat dari Tuhan mereka, dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk. (TQS. Al-Baqarah [2]: 155-157)

يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا اسْتَعِينُوا بِالصَّبْرِ وَالصَّلاَةِ إِنَّ اللهَ مَعَ الصَّابِرِينَ

Hai orang-orang yang beriman, mintalah pertolongan (kepada Allah) dengan sabar dan (mengerjakan) shalat, sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar. (TQS. Al-Baqarah [2]: 153)

 

• Rasulullah saw. bersabda:

«إِنَّ اللهَ عَزَّ وَجَلَّ إِذَا أَحَبَّ قَوْمًا ابْتَلاَهُمْ فَمَنْ صَبَرَ فَلَهُ الصَّبْرُ وَمَنْ جَزِعَ فَلَهُ الْجَزَعُ»

Sesungguhnya Allah Azza wajalla jika mencintai suatu kaum, maka Allah akan memberikan cobaan kepada mereka. Barangsiapa yang sabar, maka kesabaran itu bermanfaat baginya. Dan barangsiapa marah, maka kemarahan itu akan kembali kepadanya. (Telah ditakhrij oleh Imam Ahmad dari jalan Mahmud bin Labid)

 

• Dari Abu Malik Al-Asy’ari ra., ia berkata; Rasulullah saw. bersabda:

«…وَالصَّبْرُ ضِيَاءٌ…»

…Sabar adalah cahaya… (HR. Muslim)

 

• Dari Abu Said Al-Khudri ra., sesungguhnya Rasulullah saw bersabda:

«…وَمَنْ يَتَصَبَّرْ يُصَبِّرْهُ اللهُ وَمَا أُعْطِيَ أَحَدٌ عَطَاءً خَيْرًا وَأَوْسَعَ مِنْ الصَّبْرِ»

Barangsiapa yang berusaha untuk sabar, maka Allah akan menjadikannya mampu bersabar. Tidak ada pemberian yang diberikan kepada seseorang yang lebih baik dan lebih luas daripada kesabaran. (Mutafaq ‘alaih)

• Dari ‘Aisyah ra., ia bekata; aku bertanya kepada Rasulullah saw. tentang penyakit thaun. Kemudian Rasulullah saw. memberitahukan kepadanya:

»أَنَّهُ كَانَ عَذَابًا يَبْعَثُهُ اللهُ عَلَى مَنْ يَشَاءُ، فَجَعَلَهُ اللهُ رَحْمَةً 

لِلْمُؤْمِنِينَ، فَلَيْسَ مِنْ عَبْدٍ يَقَعُ الطَّاعُونُ، فَيَمْكُثُ فِي بَلَدِهِ صَابِرًا 

مُحْتَسِباً يَعْلَمُ أَنَّهُ لاَ يُصِيبُهُ إِلاَّ مَا كَتَبَ اللهُ لَهُ، إِلاَّ كَانَ لَهُ مِثْلُ أَجْرِ الشَّهِيدِ «

Sesungguhnya thaun itu adalah siksa yang dikirim Allah kepada orang yang dikehendaki-Nya. Kemudian Allah menjadikannya rahmat bagi orang-orang yang beriman. Karena seorang hamba yang tinggal di negerinya yang tengah terjangkit thaun, lalu ia bersabar dan mengharap ridha Allah; ia meyakini bahwa tidak akan ada yang menimpanya kecuali perkara yang telah ditetapkan Allah, maka ia akan mendapatkan seperti pahala orang yang syahid. (HR. Bukhari)

 

 

Itulah sebagian dalil-dalil tentang keharusan bersabar ketika mendapat ujian. Akan tetapi kita perlu menelaah kesabaran lebih dalam lagi, untuk menghilangkan kesalahpahaman pada sebagaian kaum Muslim tentang fakta dan makna sabar. 

Ada yang beranggapan, jika seseorang membatasi diri dan menjauhkan diri dari manusia, meninggalkan kemunkaran dan para pelakunya; ia melihat keharaman sudah merajalela, hukum-hukum Allah tidak diamalkan, dan jihad telah ditinggalkan; pada kondisi seperti ini ia tidak mengambil sikap untuk menghadapinya, melainkan ia hanya beribadah ritual kepada Allah dan meninggalkan aktifitas nahi munkar; maka yang seperti ini oleh sebagian orang dianggap sebagai orang yang bersabar.

Atau mereka memahami sabar sekadar menolak penindasan atas dirinya saja. Ia menghindari hal-hal yang mengakibatkan akan ditangkap oleh musuh-musuh Allah, sehingga ia tidak berani mengatakan kebenaran, tidak berani beramal untuk menggapai ridha Allah. Bahkan ia tetap diam, mengurung diri di tempat ibadah. Ia berkata tentang dirinya, “Aku adalah orang yang bersabar.”

Sabar seperti itu bukanlah sabar yang pelakunya dijajikan surga oleh Allah Swt. seperti dalam firman-Nya:

إِنَّمَا يُوَفَّى الصَّابِرُونَ أَجْرَهُمْ بِغَيْرِ حِسَابٍ

Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas. (TQS. Az-Zumar [39]: 10)

 

Sikap seperti itu adalah kelemahan. Rasulullah saw. telah meminta perlindungan kepada Allah dari sifat tersebut. Beliau bersabda:

«أَعُوذُ بِالله مِنْ الْعَجْزِ وَالْكَسَلِ وَالْجُبْنِ وَالْبُخْلِ وَالْهَمِّ وَالْخَزَنِ وَغَلَبَةِ الدَّيْنِ وَقَهْرِ الرِّجَالِ»

وَأَعُوذُ بِكَ مِنْ الْجُبْنِ وَالْبُخْلِ وَأَعُوذُ بِكَ مِنْ غَلَبَةِ الدَّيْنِ وَقَهْرِ الرِّجَالِ قَالَ فَفَعَلْتُ ذَلِكَ فَأَذْهَبَ اللهُ عَزَّ وَجَلَّ هَمِّي وَقَضَى عَنِّي دَيْنِي»

Aku berlindung kepada Allah dari sifat lemah, dan malas; dari sifat kikir, bingung, kesedihan, dilanda hutang, dan dari paksaan orang-orang kuat.

 

Sabar yang sebenarnya adalah ketika kita mengatakan yang hak dan melaksanakannya. Siap menanggung resiko penderitaan di jalan Allah karena mengatakan dan mengamalkan kebenaran, tanpa berpaling, bersikap lemah, atau lunak sedikit pun.

Sabar yang sebenarnya adalah sabar yang telah dijadikan Allah sebagai buah dari ketakwaan. Allah berfirman: 

إِنَّهُ مَنْ يَتَّقِ وَيَصْبِرْ فَإِنَّ اللهَ لاَ يُضِيعُ أَجْرَ الْمُحْسِنِينَ

Sesungguhnya barangsiapa yang bertakwa dan bersabar, maka sesungguhnya Allah tidak menyia-nyiakan pahala orang-orang yang berbuat baik. (TQS. Yusuf [12]: 90)

 

Sabar yang sebenarnya adalah mereka yang disertakan oleh Allah dengan para Mujahid. Allah berfirman: 

وَكَأَيِّنْ مِنْ نَبِيٍّ قَاتَلَ مَعَهُ رِبِّيُّونَ كَثِيرٌ فَمَا وَهَنُوا لِمَا أَصَابَهُمْ فِي سَبِيلِ اللهِ وَمَا ضَعُفُوا وَمَا اسْتَكَانُوا وَاللهُ يُحِبُّ الصَّابِرِينَ

Dan berapa banyak nabi yang berperang bersama-sama mereka sejumlah besar dari pengikut (nya) yang bertakwa. Mereka tidak menjadi lemah karena bencana yang menimpa mereka di jalan Allah, dan tidak lesu dan tidak (pula) menyerah (kepada musuh). Allah menyukai orang-orang yang sabar. (TQS. Ali ‘Imran [3]: 146)

 

Sabar terhadap cobaan dan qadha adalah sesuatu yang akan menuntun menuju sikap konsisten, bukan sikap yang labil. Sabar yang akan mendorong untuk senantiasa berpegang teguh pada Kitab Allah, bukan melemparkannya dengan dalih beratnya cobaan. Sabar seperti ini adalah sabar yang akan semakin menambah kedekatan seorang hamba kepada Rabnya, bukan semakin jauh. Allah berfirman: 

فَنَادَى فِي الظُّلُمَاتِ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ أَنْتَ سُبْحَانَكَ إِنِّي كُنْتُ مِنَ الظَّالِمِينَ

Maka ia menyeru dalam keadaan yang sangat gelap: “Bahwa tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Engkau. Maha Suci Engkau, sesungguhnya aku adalah termasuk orang-orang yang zalim.” (TQS. Al-Anbiya [21]: 87)

 

Kesabaran yang sebenarnya adalah kesabaran yang akan semakin memperkuat cita-cita dan akan mendekatkan ke jalan menuju Surga, yaitu seperti kesabaran Bilal bin Rabah, Khabab, dan keluarga Yasir. Sebagiamana sabda Rasul saw.: 

»صَبْرًا آلَ يَاسِرْ إِنَّ مَوْعِدَكُمُ الْجَنَّةُ «

Sabarlah wahai keluarga Yasir, sesungguhnya yang dijanjikan bagi kalian adalah Surga.

 

Juga seperti kesabaran Khubaiab dan Zaid. Ia berkata: 

«والله لا أرضى أن يصاب محمد بشوكة وأنا سالم بأهلى»

Demi Allah, aku tidak suka Muhammad saw. ditimpa musibah walau hanya dengan duri, sementara aku selamat dengan keluargaku.

 

Juga seperti kesabaran orang-orang yang menghentikan orang yang dzalim tanpa merasa takut, di jalan Allah, terhadap cacian orang yang suka mencaci. Rasulullah saw. bersabda: 

«كلا والله لتأخذنا على يد الظالم وتأطرنه على الحق أطرا ولتقصرنه على الحق قصرا أوليضربن الله قلوب بعضكم ببعض وليلعنكم كما لعن بني إسرائيل»

Tidak, demi Allah, kalian harus menghentikan orang yang dzalim, kalian harus membelokan mereka (dari kedzaliman) menuju kebenaran, dan kalian harus menahan mereka dalam kebaikan atau Allah akan mengunci hati sebagian dari kalian disebabkan oleh sebagian yang lainnya dan Allah akan melaknat kalian sebagaimana telah melaknat Bani Israil. 

Juga seperti kesabaran para sahabat yang diberkati, juga kesabaran para sahabat yang diboikot, dan para sahabat yang hijrah ke Habsyah; dan kesabaran para sahabat yang ditangkap karena berpegang pada perkataan mereka: ”Tuhan kami adalah Allah”. 

Kesabaran yang hakiki juga harus seperti kesabaran kaum Muhajirin dan Anshar pada saat memerangi kaum Musyrik, bangsa Persia, dan Romawi. Seperti kesabaran sahabat yang ditawan, yaitu kelompok Abdullah bin Abi Hudzafah…; juga kesabaran para mujahidin yang berani dan jujur.

Kesabaran yang sebenarnya adalah kesabaran pada saat melaksanakan amar makruf nahi munkar, dan tidak lemah meskipun dihadapkan kepada berbagai penindasan di jalan Allah. 

Kesabaran yang sebenarnya adalah kesabaran pada saat menjadi tentara bersama pasukan kaum Muslim yang siap memerangi musuh-musuh Allah. 

Sabar yang sebenarnya adalah kesabaran yang sesuai dengan firman Allah: 

لَتُبْلَوُنَّ فِي أَمْوَالِكُمْ وَأَنْفُسِكُمْ وَلَتَسْمَعُنَّ مِنَ الَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ مِنْ قَبْلِكُمْ وَمِنَ الَّذِينَ أَشْرَكُوا أَذًى كَثِيرًا وَإِنْ تَصْبِرُوا وَتَتَّقُوا فَإِنَّ ذَلِكَ مِنْ عَزْمِ الأُمُورِ

Kamu sungguh-sungguh akan diuji terhadap hartamu dan dirimu. Dan (juga) kamu sungguh-sungguh akan mendengar dari orang-orang yang diberi Kitab sebelum kamu dan dari orang-orang yang mempersekutukan Allah, gangguan yang banyak yang menyakitkan hati. Jika kamu bersabar dan bertakwa, maka sesungguhnya yang demikian itu termasuk urusan yang patut diutamakan. (TQS. Ali ‘Imran [3]: 186)

 

وَلَنَبْلُوَنَّكُمْ حَتَّى نَعْلَمَ الْمُجَاهِدِينَ مِنْكُمْ وَالصَّابِرِينَ وَنَبْلُوَ أَخْبَارَكُمْ

Dan sesungguhnya Kami benar-benar akan menguji kamu agar Kami mengetahui orang-orang yang berjihad dan bersabar di antara kamu; dan agar Kami menyatakan (baik buruknya) hal ihwalmu. (TQS. Muhammad [47]: 31)

 

وَلَنَبْلُوَنَّكُمْ بِشَيْءٍ مِنَ الْخَوْفِ وَالْجُوعِ وَنَقْصٍ مِنَ الأَمْوَالِ وَالأَنْفُسِ وَالثَّمَرَاتِ وَبَشِّرِ الصَّابِرِينَ الَّذِينَ إِذَا أَصَابَتْهُمْ مُصِيبَةٌ قَالُوا إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُونَ أُولَئِكَ عَلَيْهِمْ صَلَوَاتٌ مِنْ رَبِّهِمْ وَرَحْمَةٌ وَأُولَئِكَ هُمُ الْمُهْتَدُونَ

Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar, (yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan, “Innaa lillaahi wa innaa ilaihi raaji`uun”. Mereka itulah yang mendapat keberkatan yang sempurna dan rahmat dari Tuhan mereka, dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk. (TQS. Al-Baqarah [2]: 155-157)

Ramadhan Bulan Alquran- Tausiyah Ramadhan #2

TAUSIYAH RAMADHAN #2
RAMADHAN BULAN AL QUR’AN

Tidak boleh dilupakan bahwa bulan Ramadhan adalah bulan diturunkannya Al Qur’an. Al Qur’an adalah kitab suci yang berasal dari Allah SWT yang diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW yang menjadi petunjuk, penjelas dan pembeda yang baik dan buruk dalam kehidupan manusia. Oleh karenanya sudah selayaknya Al-Quran menjadi penyiram hati bagi kaum Muslim umumnya, dan bagi para pengemban dakwah khususnya. Al-Quran selayaknya juga menjadi pengiring setiap langkah mereka. Mereka seharusnya dipimpin oleh Al-Quran menuju setiap kebaikan. Al-Quran pun akan mengangkat kedudukan mereka lebih tinggi dan lebih tinggi lagi. Mereka harus senantiasa memperhatikan Al-Quran di tengah malam dan di waktu penghujung siang; senantiasa membacanya, menghafalnya serta mengamalkannya. Sehingga mereka akan menjadi sebaik-baiknya pengikut dari generasi salaf (terdahulu) maupun generasi khalaf (belakangan).

Di bulan Ramadhan ini ramai kaum muslim membaca Al-Qur’an, mereka membacanya dalam setiap waktu kesempatan di bulan Ramadhan ini. Mereka di bulan ini sangat akrab dengan Al-Qur’an, mereka mendalami pelajaran tentang turunnya Al-Quran, tentang jaminan terpeliharanya, tentang petunjuknya, dan tentang keutamaan membacanya, serta tentang segala kebaikan yang sangat banyak kandungannya: 

Allah SWT berfirman :

 

إِنَّا نَحْنُ نَزَّلْنَا الذِّكْرَ وَإِنَّا لَهُ لَحَافِظُونَ

Sesunguhnya Kami telah menurunkan Al-Quran dan Kami pasti akan menjaganya. (TQS. Al-Hijr [15]: 9)

 

لاَ يَأْتِيهِ الْبَاطِلُ مِنْ بَيْنِ يَدَيْهِ وَلاَ مِنْ خَلْفِهِ تَنْزِيلٌ مِنْ حَكِيمٍ حَمِيدٍ

Tidak datang padanya kebatilan dari sebelum dan sesudahnya, diturunkan dari Dzat yang Maha Bijak dan Terpuji.. (TQS. Fush Shilat [41]: 42)

 

إِنَّ هَذَا الْقُرْءَانَ يَهْدِي لِلَّتِي هِيَ أَقْوَمُ وَيُبَشِّرُ الْمُؤْمِنِينَ الَّذِينَ يَعْمَلُونَ الصَّالِحَاتِ أَنَّ لَهُمْ أَجْرًا كَبِيرًا

Sesungguhnya Al-Quran ini memberikan petunjuk kepada jalan yang lebih lurus dan memberi kabar gembira kepada orang-orang mukmin yang mengerjakan amal shaleh bahwa bagi mereka ada pahala yang besar. (TQS. Al-Isra [17]: 9)

 

كِتَابٌ أَنْزَلْنَاهُ إِلَيْكَ لِتُخْرِجَ النَّاسَ مِنَ الظُّلُمَاتِ إِلَى النُّورِ بِإِذْنِ رَبِّهِمْ إِلَى صِرَاطِ الْعَزِيزِ الْحَمِيدِ

(Ini adalah) Kitab yang Kami turunkan kepadamu supaya kamu mengeluarkan manusia dari gelap gulita kepada cahaya terang benderang dengan izin Tuhan mereka, (yaitu) menuju jalan Tuhan Yang Maha Perkasa lagi Maha Terpuji. (TQS. Ibrahim [14]: 1)

 

أَلاَ بِذِكْرِ اللهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ

Ingatlah, hanya dengan mengingati Allah-lah hati menjadi tenteram. (TQS. Ar Ra’d [13]: 28)

 

أَفَلاَ يَتَدَبَّرُونَ الْقُرْءَانَ وَلَوْ كَانَ مِنْ عِنْدِ غَيْرِ اللَّهِ لَوَجَدُوا فِيهِ اخْتِلاَفًا كَثِيرًا

Maka apakah mereka tidak memperhatikan Al-Quran? Kalau kiranya Al-Quran itu bukan dari sisi Allah, tentulah mereka mendapat pertentangan yang banyak di dalamnya. (TQS. An Nisa [4]: 82)

 

Rasulullah saw. bersabda : 

«خَيْرُكُمْ مَنْ تَعَلَّمَ الْقُرْآنَ وَعَلَّمَهُ»

Orang yang terbaik diantara kalian adalah orang yang mempelajari Al-Quran dan mengajarkannya. (HR. Bukhari dari Utsman bin Affan r.a)

 

«مَنْ قَرَأَ حَرْفًا مِنْ كِتَابِ اللهِ فَلَهُ بِهِ حَسَنَةٌ وَالْحَسَنَةُ بِعَشْرِ أَمْثَالِهَا لاَ أَقُولُ الم حَرْفٌ وَلَكِنْ أَلِفٌ حَرْفٌ وَلاَمٌ حَرْفٌ وَمِيمٌ حَرْفٌ»

Barang siapa membaca satu huruf dari kitab Allah maka dia akan mendapat satu kebaikan. Sedangkan satu kebaikan akan dibalas dengan sepuluh kali lipat. Aku tidak mengatakan bahwa ألم (alif lam mim) adalah satu huruf. Akan tetapi Alif adalah satu huruf, Lam satu huruf, dan Mim juga satu huruf. (HR. At-Tirmidzi dari Abdullah bin Mas’ud, dan ini hadits shahih)

 

«الْمَاهِرُ بِالْقُرْآنِ مَعَ السَّفَرَةِ الْكِرَامِ الْبَرَرَةِ وَالَّذِي يَقْرَأُ الْقُرْآنَ وَيَتَتَعْتَعُ فِيهِ وَهُوَ عَلَيْهِ شَاقٌّ لَهُ أَجْرَانِ»

Orang yang mahir dengan Al-Quran akan bersam-sama dengan malaikat Safarah yang mulia dan senantiasa berbuat baik. Dan orang yang membaca Al-Quran tapi terbata-bata dan sangat berat baginya, ia akan mendapatkan dua pahala. (HR. Muslim dari ‘Aisyah, Ummul Mukminin. r.a)

 

 

»إِنَّ الَّذِي لَيْسَ فِي جَوْفِهِ شَيْءٌ مِنَ اْلقُرْآنِ كَالْبَيْتِ الْخَرِبِ «

 

Sesungguhnya orang yang dalam hatinya tidak ada Al-Quran sedikitpun bagaikan rumah yang akan roboh. (HR. At-Tirmudzi, Ia menshahihkannya. Dan ini adalah hadits shahih).

 

«اقْرَءُوا الْقُرْآنَ فَإِنَّهُ يَأْتِي يَوْمَ الْقِيَامَةِ شَفِيعًا لِصَاحِبِهِ»

Bacalah Al-Quran, karena Al-Quran akan datang pada hari Kiamat kelak memberi syafa’at (pembelaan) bagi ahlinya. (HR. Muslim dalam kitab shahihnya. Dari Abu Umamah Al-Bahili ra.)

 

»الْقُرْآنُ شَافِعٌ مُشَفِّعٌ، وَمَاحِلٌ مُصَدَّقٌ، مَنْ جَعَلَهُ أَمَامَهُ قَادَهُ إِلَى 

الْجَنَّةِ وَمَنْ جَعَلَهُ خَلْفَهُ سَاقَهُ إِلَى النَّارِ «

 

Al-Quran adalah kitab yang menjadi pembela dan bisa diminta pembelaan, ia adalah kitab yang Maahil dan Mushaddaq. 1 Siapa saja yang menjadikan Al-Quran ada di depannya2 maka ia akan menuntunnya ke surga. Tapi siapa saja yang menjadikan Al-Quran di belakangnya3 maka ia akan menggiringnya ke neraka. (HR. Ibnu Hibban dalam kitab shihnya dari Jabir bin Abdullah ra. Dan riwayat imam Baihaqi dalam kitab Sya’bul Iman dari Jabir dari Ibnu Mas’ud ra. Ini adalah hadits Shahih)

 

«إِنَّ اللهَ يَرْفَعُ بِهَذَا الْكِتَابِ أَقْوَامًا وَيَضَعُ بِهِ آخَرِينَ»

Sesungguhnya Allah akan mengangkat (menuju kemuliaan, penj.) dengan Al-Quran ini kepada suatu kaum dan dengannya pula Allah akan menjatuhkan (menuju kehinaan, penj.) kepada kaum yang lain. (HR. Muslim)

 

Abu Dawud dan At-Tirmidzi telah mentakhrij hadits yang sahih bahwa Rasulullah bersabda : 

«يُقَالُ لِصَاحِبِ الْقُرْآنِ اقْرَأْ وَارْتَقِ وَرَتِّلْ كَمَا كُنْتَ تُرَتِّلُ فِي الدُّنْيَا فَإِنَّ مَنْزِلَتَكَ عِنْدَ آخِرِ آيَةٍ تَقْرَأُ بِهَا»

Kelak (di akhirat) akan dikatakan kepada Shahibul Quran (orang yang senantiasa bersama-sama dengan Al-Quran, penj.) bacalah, naiklah terus dan bacalah dengan perlahan-lahan (tartil) sebagaimana engakau telah membaca Al-Quran dengan tartil di dunia. Sesungguhnya tempatmu adalah pada akhir ayat yang engkau baca. 4

 

«اقْرَءُوا الْقُرْآنَ وَاعْمَلُوْا بِهِ وَلاَ تَجْفُوا عَنْهُ وَلاَ تَغْلُوا فِيهِ وَلاَ تَأْكُلُوا وَلاَ تَسْتَكْثِرُوا بِهِ»

Bacalah Al-Quran dan amalkanlah isinya, janganlah kalian menolaknya, janganlah berlebih-lebihan di dalamnya (membaca dan mengamalkan). Janganlah makan (dari Al-Quran) dan janganlah menumpuk-numpuk harta dengannya. (HR. Ahmad, At-Thabrany, dan yang lainnya dari Abdurrahman bin Syibli ra. Ini adalah hadits shahih).

Meraih Keutamaan Ramadhan – Tausiyah Ramadhan #1

TAUSIYAH RAMADHAN #1
MERAIH KEUTAMAAN RAMADHAN

Ramadhan kali ini sangat berbeda dengan Ramadhan-Ramadhan sebelumnya. Kita menjalankan puasa di tengah wabah atau pandemi Corona. Ini menjadi hal istimewa, karena ujiannya tidak seperti biasa. Tidak hanya lapar dan haus, tapi kita harus lebih banyak diam di rumah untuk waktu yang belum diketahui batasnya. Sebagian orang harus kehilangan pekerjaan. Hingga ada kekurangan makan.

 

Namun, kondisi ini tak boleh menyurutkan kita untuk melewatkan begitu saja momentum Ramadhan kali ini. Kondisi ini tak boleh kita mengurangi semangat kita mengisi Ramadhan. Justru, seharusnya Ramadhan ini menjadi ajang kita untuk mendekat kepada Allah lebih dari Ramadhan sebelumnya.  

 

Ingatlah kata Nabi SAW: 

وَرَغِمَ أَنْفُ رَجُلٍ دَخَلَ عَلَيْهِ رَمَضَانُ ثُمَّ انْسَلَخَ قَبْلَ أَنْ يُغْفَرَ لَهُ

 

Sungguh rugi seseorang yang bertemu dengan Ramadhan, lalu Ramadhan berlalu dari dirinya sebelum dosa-dosanya diampuni (HR at-Tirmidzi, Ahmad, Ibnu Khuzaimah dan al-Hakim).

 

Ampunan Allah SWT tidak datang begitu saja. Harus ada perjuangan meraihnya. Maka kita harus menunaikan puasa sebaik-baiknya, mengetahui batasan-batasannya dan menjaga diri dari apa saja yang seharusnya dijaga. Rasul SAW pernah bersabda: 

 

«مَنْ صَامَ رَمَضَانَ وَعَرَفَ حُدُوْدَهُ وَتَحَفَّظَ مِمَّا كَانَ يَنْبَغِي لَهُ أَنْ يَتَحَفَّظَ فِيهِ كَفَّرَ مَا كَانَ قَبْلَهُ»

Siapa saja yang berpuasa Ramadhan, mengetahui ketentuan-ketentuannya dan menjaga apa saja yang harus ia jaga selama Ramadhan, akan dihapus dosa-dosanya yang telah lalu (HR Ahmad).

 

Rasul SAW juga bersabda:

 

«مَنْ صَامَ رَمَضَانَ إِيْمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ وَمَنْ قَامَ لَيْلَةَ الْقَدْرِ إِيْمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ»

Siapa saja yang berpuasa Ramadhan karena iman dan semata-mata mengharap ridha Allah, diampuni dosa-dosanya yang telah lalu. Siapa saja yang menghidupkan Lailatul Qadar karena iman dan semata-mata mengharap ridha Allah, diampuni dosa-dosanya yang telah lalu  (HR. Muslim, Abu Dawud, Tirmidzi dan Ahmad).

Perlu diingat, agar kita sukses menjalani puasa dan amal lainnya di bulan Ramadhan, ada syarat yang harus dipenuhi, yakni meninggalkan segala perkara yang haram atau sia-sia; lebih khusus lagi meninggalkan apa saja yang membatalkan puasa dan apa saja yang bisa menggagalkan pahala puasa. Ingatlah sabda Rasul SAW:

 

«الصِّيَامُ جُنَّةٌ فَلاَ يَرْفُثْ وَلاَ يَجْهَلْ. وَإِنِ امْرُؤٌ قَاتَلَهُ أَوْ شَاتَمَهُ فَلْيَقُلْ إِنِّى صَائِمٌ مَرَّتَيْنِ. وَالَّذِى نَفْسِى بِيَدِهِ لَخُلُوفُ فَمِ الصَّائِمِ أَطْيَبُ عِنْدَ اللَّهِ تَعَالَى مِنْ رِيحِ الْمِسْكِ، يَتْرُكُ طَعَامَهُ وَشَرَابَهُ وَشَهْوَتَهُ مِنْ أَجْلِى. الصِّيَامُ لِى وَأَنَا أَجْزِى بِهِ وَالْحَسَنَةُ بِعَشْرِ أَمْثَالِهَا»

Puasa itu perisai. Karena itu janganlah seseorang berkata keji dan jahil. Jika ada seseorang yang menyerang atau mencaci, katakanlah, “Sungguh aku sedang berpuasa,” sebanyak dua kali. Demi jiwaku yang berada dalam genggaman-Nya, bau mulut orang berpuasa lebih baik di sisi Allah ketimbang wangi kesturi; ia meninggalkan makanannya, minumannya dan syahwatnya demi Diri-Ku. Puasa itu milik-Ku. Akulah yang membalasnya. Kebaikan (selama bulan puasa) dilipatgandakan sepuluh kali dari yang semisalnya (HR al-Bukhari). 

 

Yang tak kalah penting, mari maksimalkan beramal shalih, meski mungkin sebagian dari kita mengalami keterbatasan karena kondisi wabah. Mari laksanakan amalan yang memungkinkan dengan maksimal. Perbanyak tadarus al-Quran; shalat sunnah; membayar zakat dan meningkatkan sedekah; iktikaf jika masih memungkinan, qiyamul lail, amar makruf nahi mungkar; dan amal-amal taqarrub lainnya. Jangan lupa bantu saudara dan tetangga kita yang mungkin kekurangan. 

 

Namun demikian, amal shalih yang paling utama di sisi Allah SWT adalah apa saja yang Dia wajibkan. Dalam sebuah hadis Qudsi Allah SWT berfirman:

 

مَا تَقَرَّبَ إِلَيَّ عَبْدِي بِمِثْلِ مَا افْتَرَضْتُ عَلَيْهِ، وَمَا يَزَالُ عَبْدِي يَتَقَرَّبُ إِلَيَّ بِالنَّوَافِلِ حَتَّى أُحِبَّهُ

Tidaklah hamba-Ku bertaqarub kepada-Ku dengan sesuatu yang lebih utama daripada apa yang Aku fardhukan atas dirinya. Hamba-Ku terus bertaqarrub kepada-Ku dengan amal-amal nawafil hingga Aku mencintai dirinya (HR al-Bukhari, Ibnu Hibban dan al-Baihaqi).

 

Karena itu amal-amal fardhu tentu harus diprioritaskan sebelum amal-amal sunnah. Ibn Hajar al-‘Ashqalani menyatakan di dalam Fath al-Bârî, sebagian ulama besar mengatakan, “Siapa saja yang fardhunya lebih menyibukkan dia dari nâfilah-nya maka dia dimaafkan. Sebaliknya, siapa yang nâfilah-nya menyibukkan dia dari amal fardhunya maka dia telah tertipu.”

 

Insyaallah dengan itu semua, kita bisa meraih hikmah puasa yakni takwa. Takwa yang terwujud dalam pribadi, masyarakat, dan negara. Sungguh dengan ketakwaan maka Allah akan bukakan keberkahan dari langit dan bumi.

 

Semoga  Allah mengampuni dosa-dosa kita dan menjadikan kita hamba-Nya yang bertakwa. Aamiin

UPDATE INFORMASI TERBARU