Seruan Masjid

Khadimul Ummah wa Du'at

Memundurkan Demokrasi ? – Tausiyah Ramadhan #19

MEMUNDURKAN DEMOKRASI ?

Bagus tidaknya tatanan semua aspek dalam kehidupan bermasyarakat dan bernegara tergantung pada dua faktor utama, yakni sistem dan manusia yang menjalankan sistem itu. Sistem terlahir dari sebuah ideologi yang dianut. Untuk sederhananya, ideologi dunia saat ini, setelah runtuhnya ideologi komunis, tinggal dua: Islam dan sekularisme (kapitalisme).

         Tatanan kehidupan masyarakat akan berjalan dengan sangat baik bila sistem yang dianutnya adalah sistem yang benar serta dijalankan oleh orang yang baik. Bagaimana bila orangnya buruk, korup, totaliter, bermoral rendah dan sebagainya? Hasilnya tentu akan buruk. Dan akan lebih buruk lagi bila orang seperti itu memerintah di sebuah negara yang menganut sistem yang juga buruk. Yang terjadi adalah tatanan yang sangat buruk. Indonesia, dengan berat hati harus dikatakan, adalah yang termasuk di dalamnya. Sistem yang dianutnya adalah sistem yang buruk, yakni sistem sekuler. Agama Islam yang dianut oleh mayoritas penduduknya hanya ditempatkan dalam kehidupan individual, itupun lebih sering sebatas kegiatan ritual. Adanya kementrian agama dalam satu negara lebih menegaskan kesekulerannya. 

       Masyarakat tidak boleh lupa. Tidak hanya di Indonesia yang saat ini tengah menghadapi problema rendahnya kualitas pelaksana negara, sistem yang digunakan adalah sistem yang buruk. Bahkan sebenarnya, buruknya birokrat lebih merupakan akibat dari sistem yang buruk itu. Maka, siapapun yang memerintah di negeri kaum muslimin lebih lagi di negeri ini, tidak otomatis menyelesaikan masalah. Karena masalahnya bukan hanya terletak di situ. Pangkal masalahnya justru terletak pada sistem salah dan buruk.

        Sistem yang buruk itu bernama demokrasi yang diwariskan oleh penjajahan. Tokoh-tokoh demokrasi yang mengawali berdirinya suatu negara di negeri kaum muslimin (pemerintahan demokrasi) adalah para kader yang secara riil dibina oleh kafir penjajah, mendapatkan pendidikan mereka, atau paling tidak terpengaruh oleh berbagai pemikiran demokrasi yang beredar di kalangan bangsa Eropa, baik yang bercorak kapitalis (demokrasi liberal) maupun yang bercorak sosialis (demokrasi rakyat).

Para penganut demokrasi warisan penjajah itu terus berupaya melestarikan sistem tersebut sehingga muncullah berbagai penderitaan dan kesengsaraan rakyat dari perjalanan seluruh rezim demokrasi di negeri-negri kaum muslim. Rakyatnya yang mayoritasnya adalah kaum muslimin hidup menderita dengan berbagai beban pajak dan pungutan lainnya. Hak-hak mereka tidak diberikan. Sedangkan para penguasa dan kroni-kroninya, baik di lembaga-lembaga politik dan pemerintahan maupun di lembaga-lembaga ekonomi menarik keuntungan. Rakyat dibius dan diadu domba dalam pemilu yang mereka sebut sebagai sebuah pesta demokrasi, pesta rakyat. Padahal banyak rakyat yang luka dan terbunuh, sementara para elit politik bersalaman, berangkulan, dan bagi-bagi uang.

        Disamping itu, para penguasa tetap menjalin hubungan dengan negara-negara kafir gembong demokrasi seperti AS dan Eropa. Negara-negara imperialis itulah yang sejak hari kemerdekaan hingga hari ini yang menarik keuntungan yang sebesar-besarnya dari pelaksanaan sistem demokrasi. Silih bergantinya penguasa tidak mengubah peruntungan mereka. Sebab merekalah yang mendikte dan mendominasi, merekalah yang berkuasa secara riil. 

        Oleh karena itu, bila ingin benar-benar terbebas dari krisis, tidak bisa tidak harus berusaha sungguh-sungguh untuk secara bersama-sama mengubah sistem demokrasi buruk yang ada saat ini menjadi sistem Islam. Adakah sistem yang lebih baik daripada sistem Islam? Allah adalah dzat Yang Maha Tahu, maka dia pulalah yang paling tahu bagaimana mengatur kehidupan masyarakat. Lima puluh tahun Indonesia hidup dalam sistem sekuler, dulu di bawah orde lama, lalu tiga puluh tahun di bawah orde baru, sekarang orde reformasi, keadaannya tidak berubah: terpuruk! Tidak cukupkah itu semua menjadi pelajaran untuk menyadarkan kita semua tentang buruknya sistem demokrasi yang sekuler itu? Masihkah kita mau menanggung keburukan itu lebih lama lagi? Bukankah Allah SWT berfirman:

“Apakah hukum Jahiliyyah yang mereka kehendaki, dan (hukum) siapakah yang lebih baik daripada (hukum) Allah bagi orang-orang yang yakin?” (QS. Al Maidah 50).

       Khatimah

Umat Islam di Dunia juga di Indonesia harus merapatkan barisan. Pertama, menyatukan pandangan, bahwa problematika utama umat di negeri ini adalah dicabutnya sistem Islam sejak zaman penjajahan.

Kedua, menyelaraskan gerak perjuangan seluruh komponen umat untuk melaksanakan agenda bersama umat: mengubah sistem demokrasi sekuler menjadi sistem Islam dengan menegakkan daulah Khilafah Islamiyah.

        Inilah amanat perjuangan yang diperintahkan Rasulullah saw. tatkala beliau mengubah sistem jahiliyah menjadi sistem Islam. Maka hendaklah sadar siapa saja di antara umat ini yang menyeleweng dari perintah Rasul. Allah SWT berfirman:

“Maka hendaklah orang-orang yang menyalahi perintahnya (Rasul) takut akan ditimpa cobaan atau ditimpa adzab yang pedih” (QS. An Nuur 63).

Islam dan Negara Tak Bisa Dipisahkan – Tausiyah Ramadhan #18

ISLAM DAN NEGARA TAK BISA DIPISAHKAN

Sejak pertama kali risalah Islam diwahyukan oleh Allah SWT kepada Rasulullah Muhammad saw, sasaran risalah ini adalah seluruh umat manusia tanpa kecuali. Firman Allah SWT: 

“Katakanlah “’Hai manusia sesungguhnya aku adalah utusan Allah kepadamu (manusia) semua … ” (QS. Al A’raaf : 158).

Kelengkapan Dinul Islam memantapkan Islam sebagai satu-satunya sistem hidup yang berasal dari Allah SWT, Pencipta seluruh makhluk, Yang Maha Adil dan Maha Mengetahui. Ajarannya yang rinci, lengkap, dan mampu menjawab seluruh problematika umat manusia sepanjang zaman telah dijamin sendiri oleh Allah SWT :

“Dan Kami turunkan kepadamu al Kitab (Al Quran) untuk menjelaskan segala sesuatu dan petunjuk serta rahmat dan kabar gembira bagi orang-orang yang berserah diri.” (QS An Nahl : 89).

Ayat ini menegaskan bahwa salah satu fungsi Al Quran adalah menjelaskan (menjawab) segala problematika yang ada di hadapan manusia, di manapun dan kapanpun. Sebaliknya bila manusia (termasuk kaum muslimin) mengabaikan peringatan-peringatan dan hukum-hukum Al Quran maka yang diperolehnya hanyalah kesempitan hidup, kesengsaraan dan kehinaan. Allah SWT berfirman:

“Dan barangsiapa berpaling dari peringatan-Ku (berupa sistem hukum Islam), maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit …”(QS. Thahaa : 124).

Di sisi lain, Al Quran dan Sunnah Nabi memuat hukum-hukum yang lengkap tentang ibadah, berpakaian, makanan, minuman, hukum-hukum tentang ekonomi-perdagangan, harta, distribusi harta, ghanimah, fa’i, jizyah, kharaj, tentang peradilan tindakan kriminal, hudud, ta’zir, persaksian, pembuktian (bayyinaat), mahkamah, hingga ke perkara jihad, gencatan senjata, mobilisasi, perjanjian damai, utusan/delegasi. Belum lagi perkara-perkara yang menyangkut pendidikan, aturan sosial, keluarga/rumah tangga dan seterusnya. Semua itu berupa sistem hukum yang cakupannya meliputi seluruh bentuk perbuatan manusia, baik antara manusia satu dengan yang lain, antara rakyat dan negara, antara negara Islam dengan negara lain, antara muslim dan non muslim, antara hamba dengan Allah SWT sebagai Al Khalik. Para ulama dan fuqaha terdahulu maupun sekarang senantiasa memenuhi kitab-kitab hukum/fiqih karangan mereka dengan seluruh pembahasan-pembahasan tadi. Dimulai dari bab Thaharah, sampai bab Peradilan, Jihad atau Imamah (Ulil Amri).

Jika demikian halnya, atas dasar apa bagi yang mengatakan bahwa Islam harusnya dibiarkan menjadi milik pribadi, dan tidak perlu dijadikan ajaran negara? Dan mengapa ia sampai berani mengatakan bahwa jika Islam dibiarkan menjadi milik pribadi akan tercipta kehidupan yang rukun di dalam masyarakat?

Dan untuk menguji benar salahnya pernyataan tersebut sebenarnya mudah saja. Marilah sejenak kita renungkan berbagai kerusuhan yang ada di negeri ini, baik kerusuhan antar umat beragama seperti di Pontianak, Maluku, dan Poso, Kupang, dan Timtim, Tolikara,antar penduduk kampung yang merebak di mana-mana bahkan di ibukota tawuran antar pelajar yang merebak dimana-mana, dan lain sebagainya. Cobalah kita jawab pertanyaan berikut: apakah berbagai fenomena konflik yang menunjukkan tidak rukunnya warga masyarakat itu semua, merupakan hasil dari pemerintah menjadikan Islam sebagai ajaran negara dan menerapkan semua hukum-hukumnya ataukan hasil dari pemerintah menerapkan hukum selain Islam (yakni hukum kufur) warisan penjajah dan memojokkan Islam sebagai milik individu?

Siapapun yang mau jujur pasti mudah sekali menjawab pertanyaan tersebut.

 

Islam dan Negara tak dapat Dipisahkan

Al Quran adalah Kalamullah SWT, yang dipresentasikan dalam bentuk amal perbuatan melalui tindak tanduk Rasulullah saw, baik itu diamnya beliau, ucapannya maupun perbuatannya. Apa saja yang dilakukan, diucapkan dan didiamkan oleh Rasulullah saw. adalah hukum, yang berlaku untuk seluruh kaum muslimin. Pengecualiannya hanya pada beberapa perbuatan yang memang ditujukan khusus bagi beliau saja, itupun –tentu- dengan dalil yang menunjukkannya.

Oleh karena itu, siapapun dari kaum muslimin yang ingin mencontoh dan mengamalkan ajaran Islam secara sempurna, tidak keliru, dan tidak sepotong-sepotong wajib menjadikan perbuatan Rasulullah sebagai rujukan. Firman Allah SWT :

“Apa yang diberikan Rasul kepadamu (berupa sistem hukum Islam) maka terimalah dia. Dan apa yang dilarangnya bagimu maka tinggalkanlah” (QS. Al Hasyr : 7)

Rasulullah saw bersabda :

“Barangsiapa yang berbuat suatu amal perbuatan yang bukan berasal dariku, maka amal perbuatannya itu tertolak” (HR. Muslim)

Kenyataan dari sirah (biografi) Rasulullah saw telah menunjukkan bahwa ajaran Islam sama sekali tidak dibatasi pada pribadi-pribadi pemeluknya. Bahkan beliau saw menjadikannya sebagai asas negara Islam. Hal ini tercantum dalam piagam Madinah (watsiqoh Madinah) yang dijadikan peraturan umum antara kaum muslimin dan non muslim di kota Madinah :

“Bahwasanya apabila di antara orang-orang yang mengakui perjanjian ini terjadi suatu perselisihan yang dikuatirkan akan menimbulkan kerusakan, maka tempat kembalinya adalah kepada Allah dan kepada Muhammad Rasulullah –saw- dan bahwasanya Allah bersama orang yang teguh dan setia memegang perjanjian ini.”

Disamping itu, bagaimana mungkin ajaran Islam sampai ke berbagai penjuru negeri (termasuk Indonesia) apabila ajaran ini dibatasi dan hanya dimiliki oleh pribadi-pribadi? Bukankah itu berarti memasung kewajiban dakwah Islam kepada umat manusia dan jihad fi sabilillah. Lagi pula Rasulullah bersabda :

“Aku telah diperintah (oleh Allah) untuk memerangi manusia, hingga mereka bersaksi bahwasanya tiada tuhan selain Allah, dan Muhammad itu adalah Rasulullah. Barangsiapa yang bersaksi (seperti itu), maka terpeliharalah darah mereka, harta mereka dan jiwa mereka, kecuali ada tuntutan (haq) atas perkara tadi.”

 

Islamophobia dan Sekularisme merugikan masyarakat

Masyarakat Islam adalah masyarakat yang bertumpu pada aqidah dan kekhasan ideologi Islam. Ia adalah masyarakat yang menjadikan Islam sebagai konsep hidupnya, konstitusi pemerintahannya, sumber hukumnya serta penentu arahnya, dalam seluruh urusan kehidupan, baik hubungan individual, komunal, regional maupun internasional. 

Meskipun demikian bukan berarti masyarakat Islam memvonis mati segala unsur lain yang ada di dalamnya yang memeluk agama selain Islam. Sebab realitas di masa Rasulullah saw yang beliau sebut sendiri sebagai kurun terbaik –khoirul qurun- dimana hukum-hukum Islam diterapkan secara sempurna, ternyata yang hidup di dalam masyarakat Islam saat itu tidak hanya orang Islam, yakni terdapat para pemeluk non muslim, baik itu Yahudi, Nasrani, maupun Majusi. Dan hal ini berlanjut terus hingga masa kekhilafahan yang mencapai 13 abad.

Seorang muslim akan menerima hukum-hukum syariat sebagai bagian dari ajaran Islam yang dilaksanakannya secara praktis dalam rangka memenuhi perintah-perintah Allah dan menjauhkan segala laranganNya. Sementara bagi orang-orang non muslim menerima hal ini sebagai undang-undang negara yang wajib mereka patuhi secara disiplin demi menjaga hak dan kewajiban warga negara. 

Kalau di masa pemerintahan Nabi Muhammad saw. dan para khalifah penerusnya selama lebih dari seribu tahun orang-orang non muslim bisa hidup sejahtera di bawah naungan Islam, kenapa orang-orang non muslim sekarang diprovokasi untuk merasa tidak aman hidup di bawah naungan Islam? 

Rasulullah saw bersabda :

“Barangsiapa mengganggu seorang dzimmi (non muslim yang menjadi warganegara Daulah Islamiyah), sungguh (berarti) ia telah menggangguku. Dan barangsiapa yang menggangguku, sungguh ia telah mengganggu Allah.” (HR. Thabrani). 

Dan dimasa pemerintahan Khalifah Umar bin Khaththab, beliau menjatuhkan hukum qishas (pembalasan setimpal) kepada anak pejabat Gubernur Mesir yang mencambuk seorang anak Nasrani dari suku Qibthi. Pertanyaan kita, adakah di negara yang tidak menerapkan hukum syari’at Islam, anak pejabat yang sedang berkuasa dibalas cambuk oleh warga minoritas yang lemah dan terzhalimi? Sungguh kerugian besar bagi warga non muslim yang lemah lantaran tidak diterapkannya hukum Islam di negeri ini. 

 

Khatimah

Kini kita tahu bahwa yang menolak dijadikannya Islam sebagai ajaran negara untuk mengatur kehidupan masyarakat sejatinya bukanlah orang-orang non muslim yang membutuhkan perlindungan dan kepastian hukum. Dan bukan pula umumnya kaum muslimin yang selama ini paling banyak dirugikan lantaran tidak diterapkannya syri’at Islam oleh negara. Yang menolak adalah negara kafir adidaya yang memang berideologi sekularisme kapitalisme, dengan tujuan melestarikan kepentingan dan dominasi mereka di seluruh negeri-negeri Islam agar mereka bisa mengeksploitir seluruh penduduk negeri itu dan merampok kekayaannya. 

Kalau ada sekelompok orang muslim yang bersikap sama dengan mereka itu sekedar ikut-ikutan. Namun bagi orang yang beriman dan berfikir jernih, mereka pasti akan lebih memilih mengikuti Allah dan Rasul-Nya (daripada mengikuti orang kafir sekuler dan para pengikutnya) jika ingin hidup mulia di muka bumi. Firman Allah SWT :

“Katakanlah: “Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu.” Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang” (QS. Ali Imran 31).

Syari’at Islam Langgeng dan Konstan – Tausiyah Ramadhan #17

SYARI’AT ISLAM LANGGENG DAN KONSTAN

Kerinduan umat Islam pada penerapan hukum Allah SWT semakin tampak. Semaraknya kegiatan ke-Islaman, dan mengkristalnya sikap kaum muslimin untuk hanya taat kepada aturan Islam menunjukkan hal ini. 

Namun, kaum kafirin dan antek-anteknya di negeri Islam berupaya menutup-nutupi cahaya Islam. Mereka mengatakan syari’at Islam itu cocok untuk masa lalu. Sedangkan kini, kata mereka, realitas, bentuk interaksi, dan kondisi masyarakat jauh berbeda. Jadi, menurut mereka, perlu penambahan dan pengurangan atau modifikasi sesuai kebutuhan.

Tausiyah kali ini menepis anggapan tersebut dengan menjelaskan beberapa perkara yang secara hakiki justru menjamin keadaan hukum syari’at Islam itu langgeng dan konstan hingga hari kiamat, tak berubah, tak bertambah ataupun berkurang.

Kesempurnaan dan terpeliharanya wahyu 

Allah SWT telah menyempurnakan syari’at Islam (QS. Al Maidah 3) dan menjaga kesempurnaan itu. Dia berfirman:

“Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan Al Quran dan sesungguhnya Kami benar-benar memeliharanya” (QS. Al Hijr 9).

Allah memelihara Al Quran dari penambahan maupun pengurangan. Dia berfirman:

“Yang tidak datang kepadanya (Al Quran) kebathilan, baik dari depan maupun dari belakangnya, yang diturunkan dari Dzat Yang Maha Bijaksana lagi Maha Terpuji,” (QS. Fushshilat 42). 

Al Quran juga terhalang dari penyimpangan dan kerusakan. Allah berfirman:

“Alif lam raa, inilah suatu kitab yang ayat-ayatnya di-ihkamkan serta dijelaskan secara terperinci, yang diturunkan dari sisi Allah Yang Maha Bijaksana lagi Maha Tahu” (QS. Huud 1). 

Dalam kamus Lisanul Arab, “Ihkam” berarti terjaga dan tercegah dari kerusakan. Jadi, Allah SWT menjaga dan mencegahnya dari kerusakan, penyimpangan, masukan, dan kebathilan. Demikian Qatadah menafsirkan ayat tersebut yang dinukil Imam Ath Thabari dalam tafsirnya.

Hakikat Al Khaliq dan makhluk serta terputusnya wahyu 

Syari’ah adalah hukum-hukum syara’ yang telah disyariatkan Allah SWT kepada hamba-Nya serta diturunkan sebagai wahyu kepada Rasulullah saw dengan tujuan memberikan petunjuk kepada manusia tentang tata cara yang benar lagi diterima oleh Pencipta alam semesta, manusia dan kehidupan. Dan dengan penerapan syariat tersebut terpenuhilah kebutuhan jasmani maupun gharizah manusia. Pemenuhan tersebut menentukan apakah manusia kembali kepada kehidupan kekal di akhirat akan mendapatkan kenikmatan abadi langgeng ataukah siksaan kekal. Dengan kata lain bahagia dan tidaknya manusia tergantung kepada masa hidupnya di dunia yang mana tolok ukur keuntungan dan kerugiannya adalah keterikatan terhadap keseluruhan hukum-hukum syara’ dengan landasan aqidah Islamiyah. Allah SWT berfirman:

“Kami berfirman : Turunlah kamu semua dari surga itu ! Kemudian jika datang petunjuk-Ku kepadamu, maka barangsiapa yang mengikuti petunjuk-Ku, niscaya tidak ada kekhawatiran atas mereka,dan tidak pula mereka bersedih hati” (Al Baqarah : 38). 

Gamblang sekali kita berada di hadapan timbangan dan tolok ukur yang telah difardhukan oleh Allah SWT, pencipta alam semesta, manusia dan kehidupan. Tolok ukur tersebut adalah tolok ukur bagi jenis manusia dengan sifatnya manusiawinya. Dan sifat dasar manusia dari dulu hingga sekarang tetap sama, yaitu lemah, serba kurang dan serba membutuhkan. Sementara Allah SWT pun tetap, yaitu Maha Pencipta, Pengatur Kehidupan, Pemberi Rizki, Maha Gagah, Yang Menghidupkan dan Mematikan. Dia yang dulu ataupun Dia yang sekarang itu-itu juga, yaitu tempat kembalinya manusia yang kalimat-kalimatnya tidak mungkin ada yang dapat mengubah, dan hukumnya tidak ada yang dapat mengganti. Fakta bahwa manusia dulu dan sampai kapan pun sama dalam karakternya sebagai manusia dan Allah SWT juga sama baik dulu maupun sampai kapan pun semua ini memastikan secara akal bahwa setelah terputusnya wahyu yang merupakan jalan turunnya hukum-hukum Allah SWT pastilah syariat Islamiyyah langgeng dan konstan selamanya sampai hari kiamat. Jadi kelanggengan syariat Islamiyyah dipastikan oleh adanya tetapnya tabiat manusia, tetapnya hakikat pencipta serta tetapnya kalimat (sunnah dan hukum) Allah SWT.

Hakikat realitas dan tabiat benda 

Dengan memahami fakta yang ada di tengah-tengah manusia tampak nyata realitas dan hakikat benda itu tetap. Misalnya aktivitas mencuri. Dalam pandangan Islam mencuri merupakan aktivitas mengambil barang secara sembunyi-sembunyi dari pemiliknya atau yang mewakilinya dengan syarat telah mencapai ukuran yang mengharuskan potong tangan. Hukum perbuatan mencuri adalah haram. Sanksinya adalah potong tangan. Hal ini sesuai dengan firman Allah SWT: 

“Laki-laki yang mencuri dan perempuan yang mencuri, potonglah tangan keduanya sebagai pembalasan bagi apa yang mereka kerjakan dan sebagai siksaan dari Allah. Dan Allah Maha Perkasa dan Bijaksana.”(QS. Al Ma’idah : 38)

Diriwayatkan dari Aisyah ra. bahwa Rasulullah bersabda: 

“Potong tangan diterapkan pada pencurian seperempat dinar atau lebih”( HR. Imam Bukhori). 

Kini berkembang sarana-sarana dan teknik pencurian, demikian pula untuk memelihara harta diperlukan alat-alat penjagaan yang ketat termasuk peralatan elektronik, sehingga pencurian pun menjadi aktivitas yang memerlukan kesungguhan berfikir dan pengalaman. Namun, apakah perubahan dalam cara dan teknik seperti ini mengubah hakikat pencurian dan realitasnya seperti yang dijelaskan oleh hukum syara’? Jawabannya tentu saja tidak. Bila demikian, sementara Al Quran itu tetap Al Quran dan Hadits pun tetap Hadits, bagaimana mungkin berfikir untuk mengubah hukum? Bukankah hukum ini merupakan pemecahan yang benar yang telah ditetapkan oleh Allah sebagai Pemilik Pahala dan Siksa, serta Pencipta alam semesta, manusia dan kehidupan?

Contoh lain hakikat khamer. Sekalipun penamaannya beraneka ragam, metode pembuatannya bermacam-macam, dan kemasannya juga berbeda-beda seperti whisky, bir, sampagne, sake dan sebagainya, hakikatnya tetap khamer, yakni minuman yang memabukkan dan merusak akal yang hukumnya haram itu. Allah SWT berfirman:

“Wahai orang-orang yang beriman,sesungguhnya khamer, judi, undian nasib dan berhala merupakan najis dan perbuatan syetan, maka jauhilah oleh kalian agar kalian beruntung” (QS. Al Maidah 90).

Bila hakikat benda tersebut tetap tidak berubah, mungkinkah orang berakal mengatakan bahwa hukum Allah dalam hal tersebut harus berubah?

Siapa pun yang mengelaborasi hakikat perbuatan dan benda-benda adalah tetap dari dulu sampai sekarang sesuai dengan batasan-batasan hukum syara’. Memang, terjadi perubahan. Hanya saja perubahan tersebut pada perkara teknis, cara ataupun bentuknya semata. Sedangkan hakikatnya adalah sama saja. Jadi tetapnya hakikat perbuatan dan benda disertai dengan terjaganya syariat Islam menunjukkan pula bahwa syariat Islam itu bersifat langgeng sampai hari kiamat.

Peranan para sahabat 

Para sahabat radhiallahuanhum yang sikap dan perilaku hidup mereka diridlai Allah dan kesepakatan mereka menjadi dalil syar’i amat berjasa dalam menjaga syari’at Islam agar tetap langgeng dan konstan. Ter kadang mereka meninggalkan perkara yang sunnah (mandub) karena khawatir masyarakat memahami perkara-perkara tersebut wajib. Abu Suraihah Al Ghifariy meriwayatkan: “Aku melihat Abu Bakar dan Umar bin Khatthab ra. kadang-kadang tidak menyembelih kurban karena khawatir orang-orang mencontoh keduanya (menganggap wajib bila terus menerus melakukan).”

Imam Syathibi mengatakan bahwa perkara-perkara mubah hakikatnya tidak boleh disamakan dengan mandub maupun makruh. Sebagai contoh, ketika Rasulullah saw disuguhi daging dhob (biawak). Beliau tidak memakannya, seraya berkata: “Di tempat kaumku tidak ada makanan seperti ini sehingga aku merasa jijik terhadapnya”. Sahabat pun makan hidangan tersebut dan Rasulullah membiarkannya. Ini menjelaskan bahwa makan biawak boleh, sehingga beliau tidak menyamakan antara mubah tersebut dengan haram maupun makruh. 

Umar bin Abdul Aziz ra. berkata: ” Ingatlah sesungguhnya halal itu adalah apa yang dihalalkan oleh Allah dalam kitab-Nya melalui lisan nabi-Nya dan itu halal sampai hari kiamat. Ingat pula perkara haram yang diharamkan oleh Allah dalam kitab-Nya melalui lisan nabi-Nya adalah haram sampai hari kiamat”.

Khatimah

Wahai kaum muslimin, sudah jelas bahwa syari’at Islam adalah hukum Allah SWT –bukan hukum karangan umat Islam– yang langgeng dan kostan. Tinggal kita mau tunduk kepada-Nya ataukah kepada hawa nafsu kita dan tipuan syaithan serta orang-orang kafir. Mari kita renungkan makna fiman Allah SWT : 

“Katakanlah: Bahwasanya aku hanya seorang manusia seperti kamu, diwahyukan kepadaku bahwasannya ilah kamu adalah ilah yang satu, maka tetaplah pada jalan yang lurus menuju kepada-Nya dan mohonlah ampun kepada-Nya. Dan kecelakaan yang besarlah bagi orang-orang yangmempersekutukannya (QS. Fushilat 6).

Amalkanlah Al Quran – Tausiyah Ramadhan #16

AMALKANLAH AL QUR'AN

Marilah kita tingkatkan takwa kita kepada Allah, terlebih lagi di bulan takwa, bulan Ramadhan.  Takwalah yang menentukan derajat manusia di sisi Allah.  Makin tinggi derajat takwa seseorang, maka makin tinggi pula derajatnya di sisi Allah. 

إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ

Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling taqwa di antara kamu. (TQS Al Hujurat: 13)

Ada satu hari istimewa di bulan ini, yakni hari diturunkannya Al Qur’an. Kita sering mengenalnya dengan istilah Nuzulul Qur’an.  Sering kita memperingatinya, tapi sayang Al Qur’an belum diterapkan di muka bumi ini secara nyata.

Padahal, mencampakkan Al Qur’an (Hajr al-Qur’an) adalah dosa besar. Allah SWT mencela orang-orang yang berperilaku demikian. 

Lalu apa saja perilaku yang termasuk mencampakkan Al Qur’an? Beberapa di antaranya adalah tidak meyakini kebenaran Al Qur’an. Tidak mau mendengarkan dan tidak memperhatikan Al Qur’an. Mengimani Al Qur’an, tetapi tidak mau mempelajarinya. Mempelajari kandungan Al Qur’an, tetapi jarang sekali membacanya. Sering membaca Al Qur’an, tetapi tidak men-tadabburi-nya. Kadang merenungi makna dan memahami ayat-ayat Al Qur’an, tetapi enggan mengamalkannya. Tidak menghalalkan apa yang telah dihalalkan Al Qur’an. Tidak mengharamkan apa yang diharamkan Al Qur’an. Tidak menjadikan Al Qur’an sebagai sumber aturan dan hukum untuk mengatur kehidupan. Mencari ketenangan dan penyelesaian masalah bukan dari Al Qur’an. Semua itu adalah perilaku Hajr al-Qur’an (mencampakkan Al Qur’an).

Al-Hafizh Ibn Katsir mengatakan bahwa Allah  SWT telah mengabarkan tentang keluhan Rasul-Nya atas perilaku kaumnya:

 وَقَالَ الرَّسُولُ يَا رَبِّ إِنَّ قَوْمِي اتَّخَذُوا هَذَا الْقُرْآنَ مَهْجُورًا 

Tuhanku, sungguh kaumku telah menjadikan Al Qur’an ini sebagai sesuatu yang dicampakkan (QS al-Furqan [25]: 30).

Keluhan itu terucap karena perilaku umatnya yang tidak mau memperhatikan dan mendengarkan Al Qur’an. Allah SWT berfirman: 

وَقَالَ الَّذِينَ كَفَرُوا لَا تَسْمَعُوا لِهَذَا الْقُرْآنِ وَالْغَوْا فِيهِ لَعَلَّكُمْ تَغْلِبُونَ

Orang-orang kafir berkata, “Janganlah kalian mendengarkan Al Qur’an dan buatlah hiruk-pikuk terhadapnya agar kalian menang.” (QS Fushshilat [41]: 26).

Jika Al Qur’an dibacakan, mereka merasa risih. Mereka lalu membuat gaduh atau perkataan lain yang secara sengaja dilakukan agar Al Qur’an tidak didengar. Perbuatan ini termasuk dalam kategori Hajr al-Qur’an (mencampakkan Al Qur’an).

Demikian pula tidak mengamalkan Al Qur’an. Tidak melaksanakan perintah-perintah Al Qur’an. Tidak menjauhi larangan-larangan Al Qur’an. Berpaling dari Al Qur’an ke hal lain (seperti lebih senang dan tenang mendengar dan melantunkan syair, musik, lagu atau nyanyian) selain Al Qur’an. Sibuk mempelajari perkataan, permainan, pembicaraan atau tuntunan yang diambil dari selain Al Qur’an. Semua itu, menurut Ibnu Katsir, termasuk perilaku mencampakkan Al Qur’an (Lihat: Ibn Katsîr, Tafsir al-Qur’an al-‘Azhim, 6/108). 

Sebaliknya, ada kewajiban untuk mengamalkan Al Qur’an. Ibnul Qayyim dalam Zâd al-Ma’âd berkata, “Sebagian salafush shalih mengatakan, sesungguhnya Al Qur’an diturunkan untuk diamalkan. Karena itu jadikanlah aktivitas membaca Al Qur’an sebagai wujud pengamalannya. Ahlul Quran adalah orang yang memahami dan mengamalkan Al Qur’an walaupun ia tidak menghafalkannya. Sebaliknya, orang yang menghapal Al Qur’an, namun tidak memahami dan mengamalkan kandungannya  (meskipun dia sangat perhatian dalam pengucapan huruf-hurufnya), tidak layak menyandang predikat sebagai Ahlul Quran (Ibnu al-Qayyim, Zâd al-Ma’âd, I/338).

Karena itu, Ramadhan ini seharusnya menjadi momentum kita untuk menerapkan Al Qur’an, kembali membumikan Al Qur’an. Caranya tentu dengan mengamalkan seluruh isi Al Qur’an sekaligus berhukum pada Al Qur’an. Jika Ramadhan saja bisa mulia karena Al Qur’an turun di dalamnya, apalagi manusia. Manusia akan mulia jika semua aktivitas kehidupan mereka diatur dengan hukum-hukum Al Qur’an. 

Karena itu berhukum pada Al Qur’an adalah sebuah keniscayaan. Tidak boleh tidak. Umat Islam secara keseluruhan wajib berhukum pada Al Qur’an. Berhukum pada Al Qur’an adalah wujud nyata ketakwaan kepada Allah SWT. Jika puasa Ramadhan benar-benar menghasilkan ketakwaan kepada pelakunya, sejatinya mereka akan berhukum pada Al Qur’an. Ketakwaan—tentu dengan mengamalkan Al Qur’an dan berhukum pada Al Qur’an—pasti akan menghasilkan rahmat dan kerbekahan dari Allah SWT. Allah SWT berfirman: 

وَلَوْ أَنَّ أَهْلَ الْقُرَى آمَنُوا وَاتَّقَوْا لَفَتَحْنَا عَلَيْهِمْ بَرَكَاتٍ مِنَ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ وَلَكِنْ كَذَّبُوا فَأَخَذْنَاهُمْ بِمَا كَانُوا يَكْسِبُونَ

Andai penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pasti Kami akan menurunkan kepada mereka keberkahan dari langit dan bumi. Akan tetapi, mereka mendustakan (ayat-ayat Kami). Karena itu Kami menyiksa mereka karena apa yang mereka perbuat itu (TQS al-A’raf [7]: 96).

Sisi-Sisi Kemu’jizatan Al Quran – Tausiyah Ramadhan #15

SISI-SISI KEMU’JIZATAN AL QUR'AN

Sebagian ulama umat Islam menganggap bahwa sisi kemu’jizatan al-Quran adalah informasi (ikhbar) al-Quran tentang kisah-kisah orang terdahulu, sebagian dari kejadian-kejadian yang akan terjadi pada masa mendatang, dan kandungan al-Quran mengenai sebagian hukum alam yang tidak diketahui oleh manusia di saat turunnya al-Quran; atau yang mereka sebut dengan mu’jizat ilmiah.

Sebenarnya hal-hal yang telah disebutkan di atas tidak dapat dikategorikan sebagai mu’jizat karena dua alasan berikut:

1. Mu’jizat adalah pembuktian kelemahan manusia (itsbaatu ‘ajz al-basyar) dengan hadirnya sesuatu yang dapat melemahkan (al mu’jiz), hingga hari kiamat. Selama manusia mampu menceritakan tentang apa yang terjadi pada masa lampau ataupun memperkirakan tentang kejadian yang akan datang walaupun disertai kebohongan, serta selama ia mampu menyingkap sebagian hukum-hukum alam, niscaya mereka juga mampu menghadirkan semua perkara-perkara tersebut dan mengarang jutaan kitab tentang itu. Oleh sebab itu, keberadaan perkara-perkara seperti itu dalam al-Qur-aan al-Kariim tidaklah menunjukkan kemu’jizatan al-Quran.

2. Ayat-ayat yang mengandung cerita-cerita orang-orang terdahulu dan informasi (khabar) tentang kejadian yang akan datang, serta sebagian aturan-aturan yang terkait dengan ilmu pengetahuan alam hanyalah sebagian saja dari al-Quran. Berdasarkan akal mereka, perkara-perkara itu dianggap sebagai mu’jizat. Sedangkan, ayat-ayat dan surat-surat yang lain tidak mengandung kemu’jizatan ini. Padahal keseluruhan isi yang terdapat dalam al-Quran adalah mu’jizat. Allah telah menantang orang-orang Arab untuk mendatangkan surat yang semisal dengan apa yang ada dalam al-Quran, semisal surat al ikhlaash, al-Falaq dan al-Naas. Sedangkan ketiga surat ini sama sekali tidak mengandung persoalan-persoalan yang mereka anggap sebagai mu’jizat.

Perkara-perkara yang mereka anggap sebagai mu’jizat tersebut hanya dalil atas ilmu Allah yang meliputi segala sesuatu. Sehingga bukan termasuk ke dalam salah satu di antara sisi kemu’jizatan al-Quran.

Adapun kemu’jizatan al-Quran yang sebenarnya tercermin di dalam gaya bahasanya yang mengandung makna-makna. Kemu’jizatan al-Quran terletak pada bayan (penjelasannya) dan nazhamnya (harmonisasi)- nya. Bangsa Arab fush-haa (yang masih fasih berbahasa Arab) telah menyadari kemu’jizatan ini. Bahkan salah seorang musuh da’wah, yakni al-Walid bin al-Mughirah, telah mengakui kemu’jizatan ini dengan mengatakan, “Sesungguhnya saya telah mengenal seluruh sya’ir, Rajaznya, lagunya, sya’irnya, sempitnya, dan keluasannya. Sungguh, al-Quran bukanlah sya’ir”. Kemudian ia melanjutkan, “Sesungguhnya saya telah melihat tukang sihir dan berbagai bentuk sihir mereka. Tapi al-Quran bukanlah seperti mantera tukang sihir, dan juga bukan sihir mereka …, demi Allah, sesungguhnya perkataan Muhammad sangatlah manis. Pokoknya, penuh dengan kesejukan, sedangkan cabangnya penuh dengan bebuahan”.

Al-Khaththaabi pernah berkomentar tentang al-Quran, “Al-Quran menjadi mu’jizat karena, al-Quran hadir dengan lafazhnya yang paling fasih, dalam bentuk susunan ‘sya’ir’ yang terindah; Sehingga melahirkan makna-makna fasih berupa pengesaan terhadap Allah, pensucian sifat-sifat-Nya, seruan untuk mentaati-Nya, penjelasan tentang tata cara penghambaan kepada-Nya dalam hal-hal kehalalan dan keharaman, larangan dan kebolehan, nasehat dan petunjuk, memerintahkan kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang mungkar, serta petunjuk menuju akhlaq yang terpuji. Dan tidak ada satupun yang bisa menyamainya. Semuanya ditempatkan pada proporsinya, sehingga tidak ada yang lebih baik dari al-Quran. Di dalamnya juga termaktub cerita masa lampau serta hukuman pembalasan dari Allah terhadap orang-orang yang durhaka dan membangkang. Di dalamnya terkandung hujjah dan kritik (muhtajj), dalil-dalil dan madlul ‘alaihi (yang ditunjukkan oleh dalil).” 

Telah diketahui, bahwa kehadiran al-Quran dalam bentuk seperti itu –dengan gaya bahasa semacam itu– , terhimpunnya hal-hal yang awalnya tercerai berai hingga akhirnya tersusun sistematis dan harmonis, merupakan perkara yang bisa mematahkan (mu’jiz) ‘kekuatan’ manusia. [Abu Salman Al Khaththabi, dalam kitabnya Bayaanu I’jaaz il Qur-aan].

Sisi-sisi kemu’jizatan al-Quran hanya terbatas pada gaya bahasa (usluub) al-Quran, yakni unsur-unsur penyusun gaya bahasanya:

1. Pada lafazh (al al-faazh) dan susunannya (at taraakiib). Al-Quran hadir dengan gaya bahasa tersendiri. Tidak seorang Arab yang fasih pun, mampu membuat yang semisal dengannya. Sebagian diantara telah berusaha mencoba untuk mendatangkan yang semisal dengannya, namun mereka tidak sanggup.

2. Pada hal irama (nagham). Susunan huruf-huruf dan kata-kata pada ayat-ayat al-Quran datang dengan irama khas yang tidak terdapat pada ucapan manusia, baik di dalam sya’ir maupun prosa. Misalnya, ketika Anda mendengar firman Allah swt: 

 

falaa uqsimu bil khunnas, al jawaaril kunnas, wal layli idzaa ‘as‘as, wash shubhi idzaa tanaffas, innahuu laqawlu rasuulin kariim/

فَلَآ اُقْسِمُ بِالْخُنَّسِۙ – ١٥

الْجَوَارِ الْكُنَّسِۙ – ١٦

وَالَّيْلِ اِذَا عَسْعَسَۙ – ١٧

وَالصُّبْحِ اِذَا تَنَفَّسَۙ – ١٨

اِنَّهٗ لَقَوْلُ رَسُوْلٍ كَرِيْمٍۙ – ١٩

Maka Aku bersumpah dengan bintang-bintang, yang beredar dan yang terlindung, demi malam apabila telah pergi, demi fajar apabila telah terang, sesungguhnya al qur-aan itu adalah firman Allah yang dibawa Rasul yang mulia (QS. At Takwiir[81]: 15-19), 

 

maka Anda akan rasakan desauan huruf “sin” yang berulang-ulang dan kelembutan iramanya yang terasa serasi (harmonis) dengan makna yang dikandungnya. Di situ dibicarakan ketenangan malam dan terbitnya fajar. Misalnya lagi, ketika Anda mendengar firman Allah Ta’aala yang lain:

 

“idzaa ulquu fiihaa sami’uu lahaa syahiiqan wa hiya tafuur, takaadu tamayyazu min al ghayzhi, kullamaa ulqiya fiihaa fawjun sa-alahum khazanatuhaa alam ya-tikum nadziir/

اِذَآ اُلْقُوْا فِيْهَا سَمِعُوْا لَهَا شَهِيْقًا وَّهِيَ تَفُوْرُۙ – ٧

تَكَادُ تَمَيَّزُ مِنَ الْغَيْظِۗ كُلَّمَآ اُلْقِيَ فِيْهَا فَوْجٌ سَاَلَهُمْ خَزَنَتُهَآ اَلَمْ يَأْتِكُمْ نَذِيْرٌۙ – ٨

Apabila mereka dilemparkan ke dalamnya, mereka mendengar padanya suara yang mengerikan sedang neraka itu menggelegak, hampir (neraka) itu terpecah karena marah. Setiap kali suatu rombongan dilemparkan ke dalamnya, penjaga neraka bertanya kepada mereka, “Apakah belum pernah datang kepadamu seorang yang memberi peringatan? (QS. Al Mulk[67]: 7-8). 

 

maka akan Anda rasakan kekuatan dari kata-kata “ulquu fiihaa” (mereka dilemparkan ke dalamnya), “syahiiqan” (suara mengerikan), “tafuur” (menggelagak), “tamayyazu” (terpecah), “al-ghayzhu” (kemarahan), yang menggambarkan panorama menakutkan mengenai neraka jahannam sebagai tempat dijatuhkannya siksaan Allah kepada kita.

 

3. Lafadz-lafadz dan susunan-susunan yang terkandung di dalam Al-Quran memuat keberagaman dan kemenyeluruhan makna. Al-Quran telah memberi banyak makna meskipun lafadz-lafadznya ringkas. Sebagai contoh adalah firman Allah yang berbunyi:

وَلَكُمْ فِى الْقِصَاصِ حَيٰوةٌ يّٰٓاُولِى الْاَلْبَابِ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُوْنَ – ١٧٩

Dan bagi kalian di dalam hal qishaash itu terdapat kehidupan… (TQS. Al Baqarah[2]: 179). 

 

Walaupun lafadznya ringkas (sedikit), penggalan ayat ini memiliki banyak makna. Sebab, makna ayat tersebut adalah; apabila manusia mengetahui siapa saja yang membunuh, ia akan dibunuh balik, maka hal itu secara tidak langsung merupakan perintah, agar manusia tidak melakukan pembunuhan (irtifaa’ ul qatl) sebab, ia akan dibalas dengan pembunuhan, yaitu qishaash. Dengan demikian, irtifaa’ ul qatl (tidak melakukan pembunuhan) ini merupakan kehidupan bagi manusia yang lain. Allah swt berfirman:

وَاَوْحَيْنَآ اِلٰٓى اُمِّ مُوْسٰٓى اَنْ اَرْضِعِيْهِۚ فَاِذَا خِفْتِ عَلَيْهِ فَاَلْقِيْهِ فِى الْيَمِّ وَلَا تَخَافِيْ وَلَا تَحْزَنِيْ ۚاِنَّا رَاۤدُّوْهُ اِلَيْكِ وَجَاعِلُوْهُ مِنَ الْمُرْسَلِيْنَ – ٧

Dan telah Kami ilhamkan kepada ibu Musa, “Hendaklah engkau menyusukannya, maka apabila engkau khawatir terhadapnya, maka hanyutkanlah ke sungai dan janganlah khawatir dan bersedih hati. Sesungguhnya Kami akan mengembalikannya kepadamu dan menjadikannya salah seorang rasul (TQS. Al Qashash[28]: 7). 

 

Ibnu Arabi berkata, “Ayat ini merupakan pengungkapan kefashihan yang paling tinggi di dalam al qur-aan. Karena di dalamnya terdapat dua perintah dan larangan, serta dua informasi dan kabar gembira. Oleh karena itu, terkumpulnya makna yang sangat banyak dan beragam ini dalam lafadz-lafadz dan susunan-susunan kalimat, dalam sebuah susunan yang sangat jelas, merupakan salah satu penampakan dari kemu’jizatan al-Quran al-Karim”. (As Suyuthiy-Al Itqaan JuzII/55)

Mu’jizat – Tausiyah Ramadhan #14

MU’JIZAT

Allah swt mengutus Nabi Musa as. kepada kaumnya dan kepada pemimpin mereka, yaitu Fir’aun yang mengklaim diri sebagai tuhan. Di sekeliling Fir’aun terdapat para tukang sihir yang selalu diminta bantuan oleh Fir’aun demi menegaskan keberadaannya sebagai tuhan. Mereka (tukang sihir) menipu orang-orang dengan sihir mereka, bahwa mereka mampu untuk mengubah tali dan tongkat menjadi ular. Maka Allah memberi mu‘jizat berupa tongkat kepada Nabi Musa as. yang akhirnya mampu mengalahkan sihir mereka. Selanjutnya, para penyihir tersebut justru menjadi orang-orang yang pertama kali beriman kepada Allah swt dan kenabian Musa as. Hal ini disebabkan karena, sesungguhnya mereka telah menyadari hakikat dari apa-apa yang mereka kerjakan selama ini (sebagai penyihir, penerj.). Selain itu, mereka akhirnya bisa membedakan antara sihir dengan hakikat dari suatu mu’jizat. Dalam hal lain, mu’jizat nabi Isa as, adalah kemampuan menghidupkan orang yang mati pada masa di mana ilmu kedokteran belum maju.

Mengenai Nabi Muhamad saw, Allah swt telah mengutus Beliau kepada kaum yang memiliki ‘pasar-pasar’ , di mana, di dalamnya mereka saling menonjolkan kefasihan (fashaahah) dan kejelasan (balaaghah) sya’ir-sya’ir mereka. Sya’ir yang menang akan ditulis dengan tinta emas dan digantungkan di Ka’bah (sebagai markaz atau pusat kediaman tuhan-tuhan mereka sekaligus tempat tersuci bagi mereka). Sya’ir yang menang akan selalu menjadi bahan perbincangan, dan kabilah yang menang akan berbangga-bangga dengan pujian. Namun kemudian Allah swt memberikan mu’jizat kepada Nabi saw, berupa ungkapan berbahasa Arab, serupa dengan sya’ir-sya’ir yang dibanggakan oleh orang Arab. Bahkan, mu’jizat itu menggunakan huruf-huruf dan lafazh-lafazh yang juga dipakai dalam sya’ir-sya’ir orang Arab. Mu’jizat tersebut adalah al-Quran, kalam Allah yang sangat menakjubkan.

 

Apa Itu Mu’jizat?

Mu’jizat adalah pembuktian akan kelemahan (itsbaat ul ‘ajzi), yaitu perbuatan menyimpang dari adat kebiasaan, dan menyalahi sunnatullah (anzhimat ul wujuud) yang telah difahami oleh manusia. Misalnya, menghidupkan orang mati, dicabutnya khasiat dari suatu benda; semisal tercabutnya khasiat api yang bisa membakar pada kisah Nabi Ibrahim as, dan tercabutnya air yang bisa menenggelamkan pada orang-orang yang beriman kepada Nabi Musa as.

 

Tujuan Mu’jizat

Tujuan mu’jizat adalah agar manusia menyaksikan bahwa orang yang diberi mu’jizat adalah Rasul Allah dan meyakinkan orang-orang bahwa apa-apa yang dikatakan olehnya adalah wahyu Allah.

 

Mu’jizat Al-Quran

Al-Quran telah menantang bangsa Arab dan seluruh manusia untuk membuat yang semisal al-Quran. Firman Allah swt : 

أَمْ يَقُولُونَ افْتَرَاهُ قُلْ فَأْتُوا بِسُورَةٍ مِثْلِهِ وَادْعُوا مَنِ اسْتَطَعْتُمْ مِنْ دُونِ اللهِ إِنْ كُنْتُمْ صَادِقِينَ

Atau mereka berkata, “Dia (Muhammad) yang mengada-adakannya.” Katakanlah, “Datangkanlah satu surat yang semisal dengannya dan panggillah orang yang sanggup (membantumu) selain Allah, jika memang kamu orang-orang yang benar. (TQS. Yunus[10]: 38)

 

قُلْ لَئِنِ اجْتَمَعَتِ اْلإِنْسُ وَالْجِنُّ عَلَى أَنْ يَأْتُوا بِمِثْلِ هَذَا الْقُرْءَانِ لاَ يَأْتُونَ بِمِثْلِهِ وَلَوْ كَانَ بَعْضُهُمْ لِبَعْضٍ ظَهِيرًا

Katakanlah, “Kalau sekiranya berkumpul manusia dan jin untuk mendatangkan yang serupa dengan al qur-aan ini, mereka tidak akan sanggup mendatangkan yang serupa dengannya walaupun sebagian mereka dengan sebagian yang lain saling tolong-menolong. (TQS. Al Israa[17]: 88). 

 

Demikianlah, mukjizat al-Quran ditujukan untuk seluruh manusia dan berlaku pada setiap masa.

Islam dan Konsep Kecantikan – Tausiyah Ramadhan #13

ISLAM DAN KONSEP KECANTIKAN

Jati diri Islam berkebalikan dengan jati diri orang-orang Barat yang menjadikan akal dan hawa nafsu manusia sebagai standar untuk menentukan bagaimana manusia menjalani kehidupan, jati diri Islam berlandaskan pada keyakinan bahwa Sang Pencipta manusia dan alam semesta adalah satu-satunya Zat yang mempunyai kedaulatan dan otoritas untuk menentukan bagaimana umat manusia menjalani kehidupannya. Lebih dari itu, Dia-lah satu-satunya Zat yang menciptakan manusia, berikut naluri dan kebutuhan fisik yang dimilikinya, dan bahwa Dia-lah yang paling tahu bagaimana cara terbaik untuk mengatur mereka.

Pandangan hidup sekuler Barat mengemban konsep kebebasan pribadi yang menetapkan bahwa kaum laki-laki dan perempuan memiliki kebebasan untuk menentukan bagaimana mereka berbusana, bagaimana mereka berpenampilan, bagaimana semestinya mereka memandang lawan jenisnya, bagaimana model pergaulan di antara mereka, apa peran mereka dalam kehidupan rumah tangga dan di tengah-tengah masyarakat, serta bagaimana seharusnya mereka bertingkah laku. Sebaliknya, kaum Muslim, baik laki-laki maupun perempuan, menjalani kehidupan mereka atas dasar keyakinan bahwa mereka harus mempertanggungjawabkan setiap perbuatan mereka di dunia kepada Sang Khaliq. Oleh karena itu, kaum Muslim paham bahwa mereka harus mengembalikan setiap permasalahan pada hukum dan aturan, serta pada standar halal dan haram yang telah ditetapkan oleh Sang Khaliq. Oleh karena itu, kaum Muslimah tidak menjadikan akal pikiran dan hawa nafsunya sebagai penentu bagaimana mereka mendefinisikan kecantikan, penampilannya, atau bagaimana mereka menilai dirinya; tetapi mereka mengembalikan semua permasalahan tersebut kepada al-Qur’an dan as-Sunnah. Bagi kaum Muslim, hawa nafsu tidak boleh menjadi standar dalam menentukan bagaimana mereka melihat dan memperlakukan kaum perempuan; tetapi mereka menjadikan al-Qur’an dan as-Sunnah sebagai standar. Allah Swt berfirman dalam Surat al-Ahzab:

وَمَا كَانَ لِمُؤْمِنٍ وَلاَ مُؤْمِنَةٍ إِذَا قَضَى اللهُ وَرَسُولُهُ أَمْرًا 

أَنْ يَكُونَ لَهُمُ الْخِيَرَةُ مِنْ أَمْرِهِمْ وَمَنْ يَعْصِ اللهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ ضَلَّ ضَلاَلاً مُبِينًا

Dan tidaklah patut bagi laki-laki yang mu’min dan tidak (pula) bagi perempuan yang mu’min, apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan (yang lain) tentang urusan mereka. Dan barangsiapa mendurhakai Allah dan Rasul-Nya maka sungguhlah dia telah sesat, sesat yang nyata. (TQS. al-Ahzab [33]: 36)

 

Islam tidak menentukan konsep yang pasti mengenai kriteria “Wanita Cantik”, dan juga tidak menentukan bagaimana penampilan seorang perempuan agar nampak kecantikannya. Oleh karena itu, dalam Islam tidak terdapat harapan-harapan yang tidak wajar yang mesti diraih oleh perempuan, maupun diharapkan oleh kaum laki-laki. Namun demikian, Islam memang membahas konsep tentang bagaimana seorang Muslimah harus berpenampilan pada berbagai kesempatan, dan kepada siapa saja ia dapat sepenuhnya menunjukkan kecantikannya.

Di depan laki-laki yang bukan mahramnya, atau kalangan yang boleh menikah dengannya, seorang Muslimah diwajibkan berpenampilan sesuai dengan syariat, yaitu menutup seluruh bagian tubuhnya kecuali wajah dan kedua telapak tangannya. Selain itu, busana yang dikenakannya tidak boleh terlalu tipis sehingga kulitnya bisa kelihatan, dan juga tidak boleh terlalu ketat sehingga tampak bentuk tubuhnya. Dengan demikian, seluruh bagian tubuh perempuan, termasuk lehernya, kakinya, dan rambutnya (meski hanya sehelai saja) –selain wajah dan kedua telapak tangannya– merupakan aurat, yang haram ditampakkan di depan laki-laki yang bukan mahramnya. Segala bentuk pengecualian atas ketentuan ini harus ditetapkan melalui nash-nash al-Qur’an dan as-Sunnah, bukan akal manusia.

Dalam satu hadits yang diriwayatkan ‘Aisyah ra, beliau berkata bahwa Asma’ binti Abu Bakar telah memasuki rumah Rasulullah saw dengan memakai busana yang tipis, maka Rasulullah saw pun berpaling seraya berkata:

«يَا أَسْمَاءَ إِنَّ الْمَرْأَةَ إِذَا بَلَّغَتْ المَحِيْضَ لَمْ يَصْلُحْ أَنْ يُرَى مِنْهَا إِلاَّ هَذَا وَهَذَا، وَأَشَارَ إِلَى وَجْهِهِ وَكَفَّيِهِ»

 

Wahai Asma ’, sesungguhnya perempuan itu jika telah baligh tidak pantas untuk ditampakkan dari tubuhnya kecuali ini dan ini – sambil menunjuk telapak tangan dan wajahnya.

 

Dalam surat an-Nur, Allah Swt berfirman:

 

وَقُلْ لِلْمُؤْمِنَاتِ يَغْضُضْنَ مِنْ أَبْصَارِهِنَّ وَيَحْفَظْنَ فُرُوجَهُنَّ وَلاَ يُبْدِينَ زِينَتَهُنَّ إِلاَّ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَلْيَضْرِبْنَ بِخُمُرِهِنَّ عَلَى جُيُوبِهِنَّ وَلاَ يُبْدِينَ زِينَتَهُنَّ إِلاَّ لِبُعُولَتِهِنَّ أَوْ ءَابَائِهِنَّ أَوْ ءَابَاءِ بُعُولَتِهِنَّ أَوْ أَبْنَائِهِنَّ أَوْ أَبْنَاءِ بُعُولَتِهِنَّ أَوْ إِخْوَانِهِنَّ أَوْ بَنِي إِخْوَانِهِنَّ أَوْ بَنِي أَخَوَاتِهِنَّ أَوْ نِسَائِهِنَّ أَوْ مَا مَلَكَتْ أَيْمَانُهُنَّ أَوِ التَّابِعِينَ أَوِ التَّابِعِينَ غَيْرِ أُولِي اْلإِرْبَةِ مِنَ الرِّجَالِ أَوِ الطِّفْلِ الَّذِينَ لَمْ يَظْهَرُوا عَلَى عَوْرَاتِ النِّسَاءِ وَلاَ يَضْرِبْنَ بِأَرْجُلِهِنَّ لِيُعْلَمَ مَا يُخْفِينَ مِنْ زِينَتِهِنّ

Katakanlah kepada wanita yang beriman: “Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak dari padanya. Dan hendaklah mereka menutupkan kain kerudung ke dadanya, dan janganlah menampakkan perhiasannya kecuali kepada suami mereka, atau ayah mereka, atau ayah suami mereka, atau putera-putera mereka, atau putera-putera suami mereka, atau saudara-saudara laki-laki mereka, atau putera-putera saudara lelaki mereka, atau putera-putera saudara perempuan mereka, atau wanita-wanita Islam, atau budak-budak yang mereka miliki, atau pelayan-pelayan laki-laki yang tidak mempunyai keinginan (terhadap perempuan) atau anak-anak yang belum mengerti tentang aurat wanita. Dan janganlah mereka memukulkan kakinya agar diketahui perhiasan yang mereka sembunyikan. (TQS. an-Nur [24]: 31)

 

Ibnu Abbas menafsirkan kalimat “yang (biasa) nampak daripadanya” sebagai wajah dan kedua telapak tangan.

Selain itu, di depan laki-laki yang bukan mahramnya, seorang perempuan juga tidak boleh memakai pakaian, perhiasan, dan menggunakan dandanan yang akan menarik perhatian laki-laki atas kecantikannya (tabarruj). Sebagaimana firman Allah Swt dalam surat al-Ahzab:

وَلاَ تَبَرَّجْنَ تَبَرُّجَ الْجَاهِلِيَّةِ اْلأُولَى

Dan janganlah kamu berhias dan bertingkah laku seperti orang-orang Jahiliyah yang dahulu. (TQS. al-Ahzab [33]: 33)

 

Kemudian, apabila seorang perempuan keluar rumah dan memasuki kehidupan umum (ruang publik), penampilan atau pakaian yang diwajibkan baginya adalah khimar, yakni penutup kepala yang menutup seluruh bagian kepala, leher, dan bagian bahu seputar dada; serta jilbab, yaitu kain panjang yang menutup pakaian kesehariannya dan diulurkan sampai ke bagian bawah. Apabila seorang perempuan keluar rumah tanpa kedua macam pakaian ini maka ia memperoleh dosa, karena telah mengabaikan perintah Sang Khaliq Swt. Dalilnya sangat jelas, sebagaimana tersebut dalam ayat berikut ini yang memerintahkan pemakaian khimar:

وَلْيَضْرِبْنَ بِخُمُرِهِنَّ عَلَى جُيُوبِهِنَّ

Dan hendaklah mereka menutupkan kain kerudung ke dadanya. (TQS. an-Nur [24]: 31)

 

Sementara itu, dalam surat al-Ahzab, Allah Swt mewajibkan jilbab:

يَاأَيُّهَا النَّبِيُّ قُلْ ِلأَزْوَاجِكَ وَبَنَاتِكَ وَنِسَاءِ الْمُؤْمِنِينَ يُدْنِينَ عَلَيْهِنَّ مِنْ جَلاَبِيبِهِنَّ

Hai Nabi, katakanlah kepada isteri-isterimu, anak-anak perempuanmu dan isteri-isteri orang mu’min: “Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka”. (TQS. al-Ahzab [33]: 59)

 

Selain itu, dalam salah satu hadits yang diriwayatkan oleh Ummu ‘Athiyah, bahwa ia berkata:

«أَمَرَنَا رَسُوْلُ اللهِ  أَنْ نُخْرِجَهُنَّ فِي اْلفِطْرِ وِاْلأَضْحَى، الْعَوَاتِقُ وَاْلحَيْضُ وَذَوَاتِ الْخُدُوْرِ، فَأَمَّا الْحَيْضُ فَيَعْتَزِلْنَ الصَّلاَةَ وَيَشْهَدْنَ الْخَيْرَ وَدَعْوَةَ الْمُسْلِمِيْنَ. قُلْتُ: يَا رَسُوْلَ اللهِ إِحْدَانَا لاَ يَكُوْنُ لَهَا جِلْبَابٌ. قاَلَ: لِتُلْبِسَهَا أُخْتُهَا 

مِنْ جِلْبَابِهَا»

 

Rasulullah saw memerintahkan kami, baik ia budak perempuan, perempuan haid, ataupun anak-anak perawan agar keluar (menuju lapangan) pada hari raya Idul Fitri dan Idul Adha. Bagi perempuan yang sedang haid diperintahkan untuk menjauh dari tempat shalat, tetapi tetap menyaksikan kebaikan dan seruan atas kaum Muslimin. Aku lantas berkata, ‘Ya Rasulullah, salah seorang di antara kami tidak memiliki jilbab’. Maka Rasulullah pun menjawab, ‘Hendaklah saudaranya meminjamkan jilbab kepadanya.’

 

Bagi Muslimah, yang dimaksud dengan kecantikan (kebaikan) adalah manakala ia mengikuti hukum-hukum dan aturan Allah Swt, sedangkan keburukan adalah tatkala ia mengesampingkan aturan tersebut dan menuruti hawa nafsunya. Ia tidak boleh mengikuti ketentuan-ketentuan yang ditetapkan oleh manusia. Upaya untuk mendapatkan penampilan dan perilaku yang ditentukan Allah Swt tersebut jelas masih berada dalam batas-batas kemampuan setiap perempuan, dan pasti tidak akan menimbulkan berbagai macam permasalahan, seperti gangguan pola makan yang diakibatkan karena harapan-harapan yang tidak wajar untuk memperoleh penampilan, ukuran tubuh, dan bentuk tubuh tertentu yang harus dipenuhi oleh kaum perempuan Barat.

Sekalipun Islam tidak memiliki konsep yang pasti tentang kriteria “wajah atau bentuk tubuh yang cantik”, namun kaum Muslimah didorong untuk melakukan tindakan-tindakan tertentu yang membuat penampilannya menarik hati suaminya, seperti berdandan untuk suaminya serta berpenampilan yang rapi dan bersih. Kaum Muslimah tahu bahwa tindakan seperti itu akan mendatangkan ridla Allah Swt. Namun ketika melakukan upaya mempercantik diri tersebut –seperti memperindah bentuk tubuh atau memutihkan wajahnya– kaum Muslimah harus menyadari bahwa itu semua sama sekali bukan dimaksudkan untuk menyesuaikan diri dengan norma-norma yang berlaku di tengah-tengah masyarakat, namun semata-mata untuk menuruti batas-batas yang ditentukan Allah Swt baginya. Demikian pula para suami Muslim, ketika menentukan apa yang disukai dan apa yang dibenci, mereka harus dapat memastikan bahwa sikap mereka itu bukan semata-mata karena menuruti harapan-harapan yang tidak wajar dari masyarakat Barat.

Bagaimana Membangkitkan Umat Islam Saat Ini – Tausiyah Ramadhan #12

BAGAIMANA MEMBANGKITKAN UMAT ISLAM SAAT INI

Kebangkitan adalah meningkatnya taraf pemikiran. Sedangkan –makna klebangkitan yang diartikan sebagai- meningkatkan taraf perekonomian tidak termasuk kebangkitan. Alasannya, Kuwait, yang perekonoimiannya maju dan berkembang sebagaimana halnya negara-negara Eropa, seperti Swedia, Belanda, Belgia, akan tetapi negara-negara Swedia, Belanda dan Belgia mampu bangkit, sementara Kuwait tidak mampu bangkit. Begitu pula meningkatnya perilaku akhlak tidak dapat digolongkan bangkit. Alasannya, kota Madinah saja yang saat ini termasuk kota-kota di dunia yang perilaku akhlaknya tinggi, akan tetapi tidak bangkit. Alasan lainnya, kota Paris yang terkenal perilaku akhlaknya yang rendah, akan tetapi mampu bangkit. Oleh karena itu kebangkitan itu adalah meningkatnya taraf pemikiran.

  Kebangkitan itu bisa benar (shahih), bisa juga keliru. Amerika, Eropa, dan Rusia –misalnya- adalah negara-negara yang mengalami kebangkitan, tetapi kebangkitannya tidak benar. Karena kebangkitannya tidak didasari oleh asas yang bersifat ruhiy. Kebangkitan yang benar (shahih) adalah meningkatnya taraf berpikir yang didasarkan pada asas ruhiy. Jika kebangkitan itu tidak didasarkan pada asas ruhiy, memang mampu bangkit, tetapi kebangkitannya tidak termasuk kebangkitan yang benar. Dan kebangkitan apapun macamnya, tetap tidak dapat disebut kebangkitan yang benar selama tidak didasarkan pada asas pemikiran Islam. Jadi, kebangkitan yang shahih itu hanya kebangkitan Islam. Karena hanya Islam sajalah yang berdasarkan asas ruhiy.

Metode untuk mencapai kebangkitan itu adalah dengan menegakkan pemerintahan yang di dasarkan pada pemikiran. Bukan didasarkan pada peraturan, perundangan ataupun hukum. Penegakkan negara yang berdasarkan pada perundangan dan hukum, tidak mungkin mencapai kebangkitan. Malah sebaliknya, jika itu yang terjadi sangat membahayakan kebangkitan itu sendiri. Jadi, tidak mungkin kebangkitan itu diraih melainkan dengan menegakkan pemerintahan dan kekuasaan atas dasar pemikiran.

Dari pemikiran inilah muncul pemecahan-pemecahan praktis untuk menanggulangi segala persoalan kehidupan. Dengan kata lain, dari pemikiran tersebut keluar segala bentuk peraturan, perundangan dan hukum. Eropa tatkala mengalami kebangkitan, kebangkitannya didasarkan pada suatu pemikiran. Yaitu pemisahan urusan agama dengan negara (sekularisme), dan kebebasan. Begitu pula Amerika, tatkala mengalami kebangkitan, kebangkitannya di dasarkan pada suatu pemikiran, yaitu sekularisme dan kebebasan. Rusia, tatkala mengalami kebangkitan, kebangkitannya didasarkan pada suatu pemikiran, yaitu materi dan perubahan/evolusi materi. Yakni perubahan sesuatu dengan sendirinya dari suatu keadaan, ke keadaan lain yang lebih baik. Rusia menegakkan pemerintahannya pada tahun 1917 M yang di dasarkan pada pemikiran semacam ini. Jadilah Rusia bangkit. Negeri Arab tatkala mengalami kebangkitan, kebangkitannya didasarkan pada pemikiran Islam. Hal ini tampak tatkala diutusnya Rasulullah saw dengan membawa risalah dari Allah. Di atas landasan ini ditegakkan pemerintahan dan kekuasaan. negeri Arabpun bangkit tatkala mereka meyakini dan berpegang teguh pada pemikiran Islam, dan di atasnya di bangun pemerintahan dan kekuasaan.

Semua ini merupakan argumen yang pasti, bahwa metode untuk mencapai kebangkitan adalah dengan menegakkan pemerintahan di atas suatu pemikiran. Bukti lain yang menunjukkan bahwa menegakkan pemerintahan di atas dasar peraturan, perundangan dan hukum tidak mampu mencapai kebangkitan, adalah apa yang dilakukan Mustafa Kamal di Turki. Ia menegakkan pemerintahan di atas dasar peraturan dan perundangan-undangan untuk meraih kebangkitan. Seraya mengambil peraturan-peraturan dan perundang-undangan Barat. Kemudian di atasnya dibangun pemerintahan. Ia menjalankannya sekuat tenaga secara praktis, melalui tangan besi. Meskipun demikian, tetap saja tidak mampu meraih kebangkitan. Turiki tetap tidak mampu bangkit, malah mengalami kemunduran. Jadilah Turki salah satu negeri yang mundur Padahal Lenin yang muncul hampir bersamaan dengan Mustafa Kamal. Namun, Lenin mampu membangkitkan Rusia menjadi negara yang kuat. Bahkan sekarang ini tergolong negara yang terkuat. Sebabnya tiada lain, karena Lenin mendirikan pemerintahan di atas landasan suatu pemikiran, yaitu pemikiran Komunisme. Dari pemikiran ini muncul pemecahan-pemecahan terhadap problematika kehidupan sehari-hari, berupa peraturan dan perundang-undangan yang dijadikan solusi terhadap segala bentuk problematika –dalam bentuk hukum yang bersandar pada pemikiran tersebut-. Dengan kata lain, dari pemikiran ini dibangunlah pemerintahan. Oleh karena itu mampu meraih kebangkitan. Pada tahun 1917 M, Lenin membangun pemerintahan Rusia di atas landasan suatu pemikiran. Rusiapun bangkit. Sementara pada tahun 1924 M, Mustafa Kamal membangun pemerintahan di atas landasan peraturan dan perundang-undangan untuk membangkitkan Turki, akan tetapi tidak mampu. Malah Turki menjadi terbelakang, disebabkan pemerintahan dibangun di atas landasan peraturan dan perundang-undangan. Ini adalah faktor yang tidak berhasil membangkitkan Turki, bahkan membahayakan. Perubahan yang terjadi tetap tidak mampu membangkitkannya. Karena pemerintahannya dibangun di atas landasan peraturan dan perundang-undangan. Yang mampu membangkitkan hanyalah pemerintahan yang dibangun berlandaskan pada suatu pemikiran.

Walaupun demikian, bukan berarti bahwa menegakkan pemerintahan di atas dasar suatu pemikran, dilakukan dengan kudeta militer, mengambil alih pemerintahan dan dibangun di atas landasan suatu pemikiran. Hal ini tidak akan mampu membangkitkan, dan pemerintahan seperti itu tidak mungkin bertahan lama. Yang harus dilakukan adalah mendidik/memahamkan umat, atau mendidik/memahamkan kelompok terkuat di masyarakat dengan pemikiran yang ditujukan untuk membangkitkan umat. Mengadopsi pemikiran tersebut dalam kehidupan, dan arah perjalanan kehidupan di dasarkan pada pemikiran ini. Pada saat yang sama dibangun pemerintahan melalui umat, yang berdasarkan pada pemikiran tersebut. Jika ini dilakukan akan tercapailah kebangkitan yang pasti. Jadi, pada dasarnya kebangkitan itu bukan bertumpu pada mengambil alih pemerintahannya, tetapi menyatukan umat dengan suatu pemikiran. Menjadikan pemikiran tersebut sebagai arah kehidupannya. Kemudian menguasai pemerintahan dan dibangun di atas landasan pemikiran tersebut. Dengan demikian, pengambilalihan kekuasaan bukan tujuan. Dan hal ini tidak boleh dijadikan sebagai tujuan. Ia hanya layak dijadikan sebagai metode (thariqah) untuk mencapai kebangkitan. Selama pendiriannya di dasarkan pada suatu pemikiran, maka kebangkitan akan dapat diraih.

Contoh yang paling gamblang adalah apa yang telah dilakukan oleh Rasulullah saw. Tatkala Allah membangkitkannya dengan risalah Islam, beliau menyeru umat manusia kepada akidah Islam. Ini tidak lain berarti menyeru kepada suatu pemikiran. Dan tatkala penduduk kota Madinah dari kalangan kabilah Aus dan Khadzraj dapat disatukan dengan akidah Islam –yaitu dengan suatu pemikiran-, maka jadilah mereka memiliki arah yang menuntun kehidupan mereka. Kemudian pemerintahan Madinah pun diambil alih, dan didirikan di atas dasar akidah Islam. Demikianlah Rasulullah saw bersabda:

»اُمِرْتُ اَنْ اُقَاتِلَ النَّاسَ حَتَّى يَقُوْلُوْا لاَ اِلَهَ اِلاَّ اللهُ مُحَمَّدٌ رَسُوْلُ اللهُ فَاِذَا قَالُوْهاَ عَصَمُوْا مِنِّي دِماَءَهُمْ وَاَمْوَالَهُمْ اِلاَّ بِحَقِّهَا«

Aku diperintahkan untuk memerangi manusia, sampai mereka mengatakan ‘laa ilaha illallah Muhammad Rasulullah’, Apabila mereka mengucapkannya, maka terpeliharalah darahnya, hartanya, kecuali –ditumpahkan dan diambil-dengan cara yang hak.

 

Hadits ini menyeru pada suatu pemikiran. Maka kebangkitanpun dapat diraih di kota Madinah, yang menjalar ke kawasan Arab, lalu melebar kepada bangsa-bangsa yang memeluk Islam. Yaitu meyakini pemikiran tersebut. Dan para penguasanya mengatur dan mengurus urusan rakyat dengan berpijak pada pemikiran tersebut.

Tidak diragukan lagi, umat Islam di seluruh pelosok negeri saat ini mengalami kemerosotan. Umat sudah berusaha bangkit sejak lebih dari 100 tahun lalu. Namun kebangkitan tidak juga kunjung berhasil hingga saat ini. Sebabnya adalah, pemerintahan yang ada berdiri di atas dasar peraturan dan perundang-undangan. Pemerintahan itu –baik berdiri di atas landasan peraturan dan perundang-undangan selain Islan (peraturan kufur) seperti yang terjadi pada kebanyakan negera Muslim saat ini, atau berdiri di atas landasan peraturan dan perundang-undangan Islam dan hukum-hukum syara’, seperti yang dilakukan di sedikit negeri Muslim seperti Yaman sebelum revolusi Salal- semuanya mengalami kemunduran. Tidak mampu bangkit. Karena memang pemerintahannya dibangun di atas peraturan, tidak dibangun di atas suatu pemikiran. Meskipun pemerintahan itu dibangun di atas landasan peraturan Islam maupun hukum-hukum syara’, tetap tidak akan mampu bangkit. Yang mampu membangkitkannya hanyalah jika pemerintahan itu dibangun di atas landasan pemikiran Islam, yaitu akidah Islam. Negara yang dibangun di atas landasan Laa ilaha illallah Muhammad Rasulullah, negara seperti itulah yang mampu bangkit. Jika suatu negara dibangun berlandaskan pada madzhab Abu Hanifah, atau bersandar pada buku karangan Thahthawi, atau berdasarkan pada hukum-hukum syara’, maka negara tersebut sama sekali tidak akan mampu bangkit. Karena sandaran-sandaran tersebut layaknya peraturan dan perundang-undangan, yang tidak mendatangkan kebangkitan sedikitpun. Jadi, negara harus berdiri di atas landasan Laa ilaha illallah Muhammad Rasulullah. Setelah itu barulah mengambil hukum-hukum syara’ dengan anggapan hal itu adalah perintah Allah. Lalu diterapkan. Itupun karena mengikuti perintah dan larangan Allah. Jadi, bukan karena adanya kelayakan, bermanfaat, atau ada maslahat, atau alasan-alasan lainnya. Semua itu harus dianggap sebagai sesuatu yang datang dan berasal dari wahyu Allah. Dan diambil dari makna Laa ilaha illallah Muhammad Rasulullah. Jika demikian halnya, maka kebangkitan dapat diraih.

Umat Islam saat ini, jika mereka menghendaki kebangkitan mau tidak mau harus menjadikan akidah Islam sebagai asas yang menjadi arahan kehidupan mereka. Di atasnya dibangun pemerintahan dan kekuasaan. Kemudian menyelesaikan seluruh problematika keseharian mereka dengan hukum-hukum yang terpancar dari akidah tadi. Yaitu dengan hukum-hukum syara’, sebagai bagian dari perintah dan larangan Allah. Bukan dengan anggapan lainnya. Jika ini yang dijalankan, maka kebangkitan pasti akan muncul. Bahkan kebangkitan yang shahih, bukan sekedar bangkit. Umat Islam pun mampu menggapai puncak kegemilangannya lagi, meraih kembali kepemimpinan internasional untuk yang kedua kalinya.

Demikianlah tata cara membangkitkan umat Islam saat ini dengan kebangkitan yang shahih. Wahai kaum muslimin, dari sinilah kita mulai.

Ishrof dan Tabdzir – Tausiyah Ramadhan #11

ISHROF DAN TABDZIR

Allah SWT berfirman:

وَاٰتِ ذَا الْقُرْبٰى حَقَّهٗ وَالْمِسْكِيْنَ وَابْنَ السَّبِيْلِ وَلَا تُبَذِّرْ تَبْذِيْرًا – ٢٦

اِنَّ الْمُبَذِّرِيْنَ كَانُوْٓا اِخْوَانَ الشَّيٰطِيْنِ ۗوَكَانَ الشَّيْطٰنُ لِرَبِّهٖ كَفُوْرًا – ٢٧

“Dan berikan kepada keluarga-keluarga terdekat akan haknya, kepada orang miskin dan orang yang berada dalam perjalanan, dan janganlah kamu menghambur-hamburkan harta-hartamu secara boros. Sesunggunya pemboros-pemboros itu adalah saudara-saudara syaitan.” (QS : Al Isro’: 26-27).

Dan firman Allah :

يٰبَنِيْٓ اٰدَمَ خُذُوْا زِيْنَتَكُمْ عِنْدَ كُلِّ مَسْجِدٍ وَّكُلُوْا وَاشْرَبُوْا وَلَا تُسْرِفُوْاۚ اِنَّهٗ لَا يُحِبُّ الْمُسْرِفِيْنَ ࣖ – ٣١

قُلْ مَنْ حَرَّمَ زِيْنَةَ اللّٰهِ الَّتِيْٓ اَخْرَجَ لِعِبَادِهٖ وَالطَّيِّبٰتِ مِنَ الرِّزْقِۗ قُلْ هِيَ لِلَّذِيْنَ اٰمَنُوْا فِى الْحَيٰوةِ الدُّنْيَا خَالِصَةً يَّوْمَ الْقِيٰمَةِۗ كَذٰلِكَ نُفَصِّلُ الْاٰيٰتِ لِقَوْمٍ يَّعْلَمُوْنَ – ٣٢

“Hai anak Adam, pakailah pakaianmu yang indah di setiap (memasuki) masjid, makan dan minumlah, dan janganlah berle¬bih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak suka orang-orang yang berlebih-lebihan. Katakanlah : “Siapakah yang mengharamkan perhiasan dari Allah yang telah dikeluarkan-Nya untuk hambah-hambah-Nya dan siapa pulakah yang mengharamkan rizki yang baik?” (Al A’raf: 31 – 32).

 

وَالَّذِينَ إِذَا أَنفَقُوا لَمْ يُسْرِفُوا وَلَمْ يَقْتُرُوا وَكَانَ بَيْنَ ذَلِكَ قَوَامًا

Dan juga mereka (yang diredhai Allah itu ialah) yang apabila membelanjakan hartanya, tiadalah melampaui batas dan tiada bakhil kedekut; dan (sebaliknya) perbelanjaan mereka adalah betul sederhana di antara kedua-dua cara (boros dan bakhil) itu.

 

وَلاَ تَجْعَلْ يَدَكَ مَغْلُولَةً إِلَى عُنُقِكَ وَلاَ تَبْسُطْهَا كُلَّ الْبَسْطِ فَتَقْعُدَ مَلُومًا مَحْسُورًا

 

Sebagian orang menjadikan ayat-ayat di atas sebagai dalil untuk mangharamkan infaq dalam jumlah banyak sekalipun untuk persoalan-persoalan mubah. Mereka menyatakan, bahwa israf (berlebih-lebihan) dan tabdzir (penghambur-hamburan) dalam segala hal hukumnya haram. Sampai-sampai saat seseorang berwudhu dengan air yang berlebihan adalah perbuatan haram, karena dijumpai larangannya. Kekeliruan pendapat ini hingga mengharamkan hal-hal yang halal disebabkan ketidakmampuan untuk membedakan antara kata israf dan tabdzir menurut makna bahasa dengan makna syara’. Perlu diketahui bahwa kedua kata yaitu israf dan tabdzir memiliki makna bahasa dan syara’. Adapun makna kata saraf dan israf tersebut menurut makna bahasa adalah melampaui batas serta i’tidal lawan dari kata qashdu. Sedangkan kata tabdzir dipergunakan dalam kalimat: Badzara Al Mal Tabdziran (Menghamburkan-hamburkan harta) satu akar kata maknanya dengan israfan dan badzratan. Keduanya, kata israf dan tabdzir menurut makna syara’ berarti menafkahkan harta untuk hal-hal yang telah dilarang Allah. Sedangkan untuk hal-hal yang diperintahkan, baik sedikit maupun banyak bukan termasuk israf maupun bukan tabdzir. Setiap bentuk nafkah (pengeluaran) untuk hal-hal yang dilarang Allah, baik sedikit maupun banyak adalah israf dan tabdzir (menurut makna syara’). 

Imam Az Zuhri meriwayatkan bahwa tatkala beliau menyatakan firman Allah:

وَلَا تَجْعَلْ يَدَكَ مَغْلُوْلَةً اِلٰى عُنُقِكَ وَلَا تَبْسُطْهَا كُلَّ الْبَسْطِ فَتَقْعُدَ مَلُوْمًا مَّحْسُوْرًا

“Dan janganlah kamu menjadikan tanganmu terbelenggu di atas lehermu, dan janganlah membukanya lebar-lebar”. (Al Isro’: 29) 

 

Beliau berkomentar: 

 

“Janganlah kamu mencegah tanganmu dari kebajikan, serta jangan dipergunakan memberikan nafkah untuk kebatilan.

 

Kata isrof termaktub dalam Al Qur’an:

وَالَّذِيْنَ اِذَآ اَنْفَقُوْا لَمْ يُسْرِفُوْا وَلَمْ يَقْتُرُوْا وَكَانَ بَيْنَ ذٰلِكَ قَوَامًا

“Dan orang-orang yang apa bila membelanjakan (harta) mereka tidak berlebih-lebihan dan tidak (pula) kikir, dan adalah (pembelanjaan) itu di tengah-tengah antara yang demikian”. ( Al furqon: 67)

Isrof yang dimaksud dalam ayat ini semata-mata menafkahkan harta untuk kema’siyatan. Adapun untuk mendekatkan diri kepada Allah, maka tidak tergolong israf. Ayat tersebut artinya: “Janganlah kalian menafkahkan harta-harta kalian untuk kemaksiatan, dan jangalah kalian bakhil (bakhil) terhadap sesuatu yang mubah. Bahkan nafkahkanlah harta tersebut dalam perkara mubah yaitu keta’atan sebanyak-banyaknya. 

Dengan demikian menafkahkan (harta) untuk selain perkara mubah adalah tindakan tercela, dan bakhil (kikir) dalam perkara mubah juga tercela. Yang terpuji adalah memberikan nafah untuk perkara mubah dan keta’atan. Allah berfirman:

وَلَا تُسْرِفُوْا ۗاِنَّهٗ لَا يُحِبُّ الْمُسْرِفِيْنَۙ

“Dan janganlah kamu berlebih-lebihan, sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan” ( Al An’am: 141) 

Dalam ayat ini Allah mencela tindakan isrof, yaitu infaq untuk kema’siatan. Kata isrof dalam ayat-ayat tersebut maknanya adalah infaq (memberikan harta) untuk hal-hal maksiyat. Kata isrof dan musrifin disebutkan dalam Al Qur’an dalam banyak arti. Namun apabila kata israf disebut bersamaan dengan kata infaq, maknanya adalah memberikan harta untuk tindakan maksiat. Al Qur’an menyatakan kata musrifin dengan makna mu’ridhin ‘an dzikrillah (melalaikan dzikir kepada Allah). Allah berfirman:

 

كَذٰلِكَ زُيِّنَ لِلْمُسْرِفِيْنَ مَا كَانُوْا يَعْمَلُوْنَ

“Begitulah orang-orang yang lalai (kepada Allah) itu memandang baik apa yang selalu mereka kerjakan” (Yunus : 12)

Kata musrifin bermakna kadang-kadang berarti orang yang keburukannya melebihi kebaikannya. Allah berfirman:

مَا تَسْبِقُ مِنْ اُمَّةٍ اَجَلَهَا وَمَا يَسْتَأْخِرُوْنَ

“Dan sesungguhnya orang-orang yang melampaui batas, mereka itulah penghuni neraka.” (Al Mu’min: 43) 

Kata musrifin juga diartikan dengan mufsidin (yang membuat kerusakan), sebagaimana firman Allah:

وَلَا تُطِيْعُوْٓا اَمْرَ الْمُسْرِفِيْنَ ۙ – ١٥١

الَّذِيْنَ يُفْسِدُوْنَ فِى الْاَرْضِ وَلَا يُصْلِحُوْنَ – ١٥٢

“Dan janganlah kamu perintah orang-orang yang melampaui batas, yang membuat kerusakan di muka bumi.” (Asy Syu’aro: 151 -152)

Jadi kata israf dan musrifin memiliki beberapa makna syara’. Oleh karena itu, penafsiran menurut makna bahasa tidak diperbolehkan. Bahkan, harus dibatasi hanya dengan makan syara’ saja. Dengan meneliti kata musrifin, israf, mubadzirin dan tabdzir dalam Al Qur’an yang ada semata-mata hanya satu makna yaitu menafkahkan harta dalam perkara yang haram. 

Israf dalam praktek wudhu, maknanya adalah melebihi tiga kali (guyuran air), karena hal ini telah melampaui apa yang telah diperintahkan oleh syara’. Praktek tersebut jelas-jelas tergolong israf, jadi maknanya bukan israf (berlebih-lebihan) dalam pemakaian air. Seperti halnya menjadikan sholat sunah subuh lebih dari dua rakaat, padahal sunnahnya dua rakaat. Sama halnya menjadikan bacaan tasbih sebanyak tiga puluh lima kali, padahal sunahnya tiga puluh tiga kali.

Berdasarkan hal itu, sebenarnya seorang muslim bisa saja menafkahkan hartanya untuk perkara mubah dan keta’atan sekehendak hatinya, tanpa syarat-syarat mengikat apapun. Baik karena ia butuhkah, ataupun karena semata-mata pemberian saja, semuanya adalah mubah. Dan bukan dianggap israf. Penyataan yang menyatakan bahwa hal itu tergolong israf yang diharamkan adalah tidak benar, sebab itu berarti mengharamkan sesuatu yang dimubahkan. Sedangkan menyatakan sesuatu yang tidak dinyatakan oleh syara’ termasuk perbuatan dusta atas nama Allah. 

Ayat-ayat yang menyatakan tentang israf dan tabdzir amat jelas. Bahwa kesemuanya memiliki arti membelanjakan harta untuk perbuatan (perkara) yang haram. Padahal, disamp¬ing itu Allah juga tidak mengharamkan idha’atul mal (melenyapkan harta kekayaan) tanpa ada sebab apapun. Lalu bagai¬mana mungkin infaq dalam jumlah banyak untuk perkara yang tergolong mubah diharamkan?

Rasulullah saw. bersabda:

»حَرَّمَ عَلَيْكُمْ عُقُوْقَ اْلاُمَّهاَتِ وَوَأْدُ الْبَنَاتِ وَمَنَعَ وَهاَتِ 

وَكَرِهَ لَكُمْ قِيْلَ وَقاَلَ وَكَثْرَةُ السُّؤَالِ وَاِضَاعَةً«

“Kalian diharamkan berbuat durhaka kepada ibu-ibu kalian, mengubur hidup-hidup anak perempuan, dan dilarang menghimpit 9di tanah), serta makruh bagi kalian mengatakan ‘begini’ dan ‘begitu’ serta banyak bertanya dan melenyapkan harta”.

Idha’atul mal adalah makruh, dan bukan haram. Makruh di sini berarti, tidak ada dosa di hadapan. Disamping itu, makna kata israf menurut arti bahasa adalah melampaui batas. Maka, bila seseorang ingin menafsirkan ayat-ayat dengan makna tersebut, pertanyaannya adalah apa batasannya sehingga dianggap hal itu melampaui batas? Apakah menurut batas kebutuhan hidup masyarakat Yaman, atau masyarakat Syam, atau para fukara’ (fakir), atau orang-orang kaya atau orang-orang yang sederhana hidupnya?

Jadi melampaui batas harus memiliki batasan tertentu. Sedangkan yang dapat menentukan batasan tersebut adalah syara’, bukan akal, adat, kebiasaan, begitu juga bukan kesederhanaan yang menjadi standar hidup. Syara’ sebenarnya telah menjelaskan bahwa batasannya adalah sesuatu yang dihalalkan Allah. Maka, disebut melampaui batas, apabila ia melakukan sesuatu yang tidak dihalalkan Allah atau yang diharamkannya. 

Seandainya seseorang ingin mengatakan dan menetapkan batas-batas (ukuran) tersebut maka untuk menafsirkan kata israf menurut arti bahasa tadi dalam ayat-ayat Al Qur’an; jelas hal-hal ini tidak mungkin, karena harus kembali kepada makna syara’. Walhasil penafsiran israf dan tabdzir, menurut makna bahasa tidak dapat dibenarkan. Dan haram bagi siapun untuk menafsirkan dengan konteks tersebut. Sebab, hal itu tidak termaktub di dalamnya. Bahkan harus ditafsirkan berdasarkan makna syara’ yang ada dalam nas-nas Al Qur’an.

Tauhidullah – Tausiyah Ramadhan #10

TAUHIDULLAH

Allah berfirman:

وَاُوْحِيَ اِلَيَّ هٰذَا الْقُرْاٰنُ لِاُنْذِرَكُمْ بِهٖ وَمَنْۢ بَلَغَ ۗ اَىِٕنَّكُمْ لَتَشْهَدُوْنَ اَنَّ مَعَ اللّٰهِ اٰلِهَةً اُخْرٰىۗ قُلْ لَّآ اَشْهَدُ ۚ قُلْ اِنَّمَا هُوَ اِلٰهٌ وَّاحِدٌ وَّاِنَّنِيْ بَرِيْۤءٌ مِّمَّا تُشْرِكُوْنَ

“Dan Al Qur’an ini telah diwahyukan kepadaku seraya dengannya aku menjelaskan kepada kalian dan kepada orang-orang yang yang sampai Al Qur’an (kepadanya). Apakah kalian mengakui ada tuhan-tuhan lain selain Allah? Katakanlah: “Aku tidak mengakui”. Katakanlah: “Sesungguhnya Dia Tuhan Yang Maha Esa dan sesungguhnya aku berlepas diri dari apa yang kamu persekutukan (dengan Allah)” (Al An’am: 19).

Allah berfirman:

اِتَّخَذُوْٓا اَحْبَارَهُمْ وَرُهْبَانَهُمْ اَرْبَابًا مِّنْ دُوْنِ اللّٰهِ وَالْمَسِيْحَ ابْنَ مَرْيَمَۚ وَمَآ اُمِرُوْٓا اِلَّا لِيَعْبُدُوْٓا اِلٰهًا وَّاحِدًاۚ لَآ اِلٰهَ اِلَّا هُوَۗ سُبْحٰنَهٗ عَمَّا يُشْرِكُوْنَ

“Mereka menjadikan pendeta-pendeta dan rahib-rahib mereka sebagai tuhan-tuhan selain Allah dan (juga mereka mempertuhankan) Al Masih Putra Maryam; padahal mereka hanya disuruh menyembah Tuhan Yang Maha Esa, tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Dia. Maha Suci Allah dari apa yang mereka persekutukan” (At Taubah: 31).

Allah berfirman:

وَلَا تَقُوْلُوْا ثَلٰثَةٌ ۗاِنْتَهُوْا خَيْرًا لَّكُمْ ۗ اِنَّمَا اللّٰهُ اِلٰهٌ وَّاحِدٌ ۗ سُبْحٰنَهٗٓ اَنْ يَّكُوْنَ لَهٗ وَلَدٌ

“Janganlah kalian mengatakan: ‘(Tuhan itu) tiga’, berhentilah (dari ucapan itu). (Itu) lebih baik bagimu. Sesungguhnya Allah Tuhan Yang Maha Esa, Maha Suci Allah dari mempunyai anak.” (An Nisa: 171)

Allah SWT berfirman:

“Apakah mereka mengambil Tuhan-tuhan dari bumi, yang dapat menghidupkan (orang-orang mati)? Sekiranya ada di langit dan di bumi tuhan-tuhan selain Allah, tentulah kedua¬nya itu telah rusak binasa. Maka Maha Suci Allah yang mem¬punyai Arsy dari pada apa yang mereka sifatkan. Dia tidak ditanya tentang apa yang diperbuat-Nya, dan mereka-lah yang akan ditanyai. Apakah mereka mengambil Tuhan-tuhan selain-Nya? Katakanlah: ‘Tunjukkanlah hujjahmu! Al Qur’an ini adalah peringatan bagi orang-orang yang bersamaku, dan peringatan bagi orang-orang sebelumku’ Sebenarnya kebanyakan mereka tidak mengetahui yang hak, karena itu mereka berpal¬ing. Dan kami mengutus seorang rasul pun sebelum kamu, melainkan kami wahyukan kepadanya: ‘Bahwasanya tidak ada Tuhan (yang hak) melainkan Aku, maka sembahlah Aku olehmu sekalian” (TQS Al Anbiya’: 21-25).

Imam Bukhari meriwayatkan dari Ibnu Abbas ra. bahwa Nabi saw. mengutus Mu’adz Bin Jabal ke Yaman, dan dari Umaiyah Bin Yahya bahwa dia mendengar Abu Ma’bad Musa Bin Abbas berkata: ‘Aku mendengar Ibnu Abbas berkata: ‘Ketika Nabi mengutus Mu’adz ke Yaman beliau bersabda kepadany: 

»اِنَّكَ تَقَدَّمَ عَلَى قَوْمٍ مِنْ اَهْلِ الْكِتاَبِ فَلْيَكُنْ اَوَّلُ مَا تَدْعُوْهُمْ اِلَى أَنْ يُوَحِّدُوْا اللهُ تَعَالَى فَاِذَا عَرَفُوْا ذَلِكَ فَاخْبِرْهُمْ اِنَّ اللهَ فَرَضَ عَلَيْهِمْ خَمْسَ صَلَوَاتٍ…«

“Kamu akan mendatangi suatu kaum, dari ahli kitab. Maka, yang pertama kali harus kamu serukan kepada mereka adalah agar mereka mengesakan Allah SWT.. Bila mereka sudah menger¬ti hal itu, beritahukanlah kepada mereka bahwa Allah mewa¬jibkan mereka mengerjakan sholat lima waktu..” 

 

Dengan dalil ini jelaslah, bahwa kewajiban pertama yang harus dilakukan seorang muslim dalam mengemban dakwah Islam adalah mengajak kepada ‘tauhidullah’ (pengesaan Allah). Setelah itu baru mengajak kepada hukum-hukum Allah. Adalah juga jelas, bahwa pernyataan yang mengatakan Allah mempunyai anak adalah tindakan penyekutuan kepada Allah, sebagaimana pernyataan bahwa ada Tuhan lain selain Allah. Juga merupakan kepastian, bahwa argumentasi tentang pengesaan Allah adalah argumentasi aqli, bukan argumentasi sam’i (naqli). Adapun dalil-dalil sam’i dalam Kitab dan Sunah tentang pengesaan Allah adalah pengukuhan terhadap dalil yang telah ditetapkan oleh akal. Sekaligus menjelaskan makna pengesaan Allah tersebut. Juga meskipun Islam adalah agama tauhid, sedangkan agama-agama yang lain tidak. Sebab, Yahudi menyatakan: “Uzair anak Allah”, itu jelas syirik. Dan Nasrani menyata¬kan: “Al Masih anak Allah”, itu pun jelas syirik. Sedangkan agama-agama paganisme lain nampak jelas kesyirikannya tidak berarti bahwa ‘tauhid’ tersebut hanya diturunkan kepada Nabi Muhammad, dan tidak kepada nabi-nabi yang lain. Ajaran ‘tauhid’ tersebut diturunkan kepada semua nabi. Dan tidak satu pun nabi, melainkan membawa ketauhidan. Firman Allah:

وَمَآ اَرْسَلْنَا مِنْ قَبْلِكَ مِنْ رَّسُوْلٍ اِلَّا نُوْحِيْٓ اِلَيْهِ اَنَّهٗ لَآ اِلٰهَ اِلَّآ اَنَا۠ فَاعْبُدُوْنِ

“Dan kami tidak mengutus seorang rasul pun sebelum kamu, melainkan kami wahyukan kepadanya: “Bahwasanya tidak ada Tuhan (yang hak) melainkan aku.” (Al Anbiya’: 25)

شَرَعَ لَكُمْ مِّنَ الدِّيْنِ مَا وَصّٰى بِهٖ نُوْحًا وَّالَّذِيْٓ اَوْحَيْنَآ اِلَيْكَ وَمَا وَصَّيْنَا بِهٖٓ اِبْرٰهِيْمَ وَمُوْسٰى وَعِيْسٰٓى

“Dan telah disyari’atkan kepadamu agama, yang juga telah diwasiatkan kepada Nuh dan apa yang telah kami wahyu¬kan kepadamu, dan apa yang telah kami wasiatkan kepada Ibrahim, Musa dan Isa.” (As Syuura: 13)

Yaitu berupa ajaran tauhid. Buktinya, kelanjutan ayat terse¬but adalah: 

اَنْ اَقِيْمُوا الدِّيْنَ وَلَا تَتَفَرَّقُوْا فِيْهِۗ كَبُرَ عَلَى الْمُشْرِكِيْنَ مَا تَدْعُوْهُمْ اِلَيْهِۗ

“Tegakkanlah agama (tauhid itu), dan janganlah berpecah belah tentangnya. Amat berat bagi orang musyrik (agama) yang kamu seru kepada mereka.” (As Syura: 13)

Yaitu barupa ajatan tauhid.

Banyak ayat yang datang (ketika itu) tentang tauhid, karena ketika Rasulullah SAW/ diutus praktek kesyirikan tersebar luas ke semua persada bumi. Maka, merupakan sebuah keharusan untuk membuka telinga orang-orang itu dalam banyak ayat tersebut dengan ketauhidan. 

Sedangkan keyakinan adanya Allah, sesungguhnya merupa¬kan keyakinan fitri yang ada dalam diri manusia. Dan akal pikiran akan dengan sendirinya mendapatkan petunjuk tentang adanya Allah tadi dari adanya benda-benda. Karena itu, kita tidak banyak menemukan ayat-ayat Al Qur’an membahas tentang adanya Allah. Kebanyakan ayat-ayat itu adalah yang mengajak memperhatikan captaan-ciptaan Allah:

فَلْيَنْظُرِ الْاِنْسَانُ مِمَّ خُلِقَ – ٥

خُلِقَ مِنْ مَّاۤءٍ دَافِقٍۙ – ٦

“Maka, hendaklah manusia itu memperhatikan dari apa yang ia diciptakan. Dia diciptakan dari air yang memancar.” ( At Thariq: 5-6)

اَفَلَا يَنْظُرُوْنَ اِلَى الْاِبِلِ كَيْفَ خُلِقَتْۗ – ١٧

وَاِلَى السَّمَاۤءِ كَيْفَ رُفِعَتْۗ – ١٨

وَاِلَى الْجِبَالِ كَيْفَ نُصِبَتْۗ – ١٩

وَاِلَى الْاَرْضِ كَيْفَ سُطِحَتْۗ – ٢٠ 

“Tidakkah mereka melihat bagaimana unta itu diciptakan. Kepada langit, bagaimana ia ditinggikan. Kepada gunung-gunung bagaimana ia ditancapkan. Kepada bumi, bagaimana ia dihamparkan.” (Al Ghosyiyah: 17-20)

Namun, kebanyakan ayat-ayat tauhid dalam banyak surat mempergunakan argumentasi logik (burhan aqli):

اَمِ اتَّخَذُوْٓا اٰلِهَةً مِّنَ الْاَرْضِ هُمْ يُنْشِرُوْنَ

“Kalau seandainya, di langit dan bumi ada Tuhan selain Allah, niscaya keduanya akan binasa”. (Al Anbiya’: 21)

وَلَىِٕنْ سَاَلْتَهُمْ مَّنْ خَلَقَ السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضَ لَيَقُوْلُنَّ اللّٰهُ 

“Bila mereka kamu tanya: ‘Siapa yang menciptakan langit dan bumi, Yang menundukkan matahari dan bulan?’, pasti mereka akan menjawab: ‘Allah’.” (Luqman: 25)

وَلَىِٕنْ سَاَلْتَهُمْ مَّنْ نَّزَّلَ مِنَ السَّمَاۤءِ مَاۤءً فَاَحْيَا بِهِ الْاَرْضَ مِنْۢ بَعْدِ مَوْتِهَا لَيَقُوْلُنَّ اللّٰهُ

“Bila mereka kamu tanya: ‘Siapa yang menurunkan air dari langit, kemudian dengan hujan itu Dia menghidupkan bumi setelah ia mati’. Pasti mereka akan mengatakan: ‘Allah’.” (Al Ankabut: 63)

وَلَىِٕنْ سَاَلْتَهُمْ مَّنْ خَلَقَهُمْ لَيَقُوْلُنَّ اللّٰهُ فَاَنّٰى يُؤْفَكُوْنَۙ

“Bila kamu bertanya kepada mereka: ‘Siapa yang mencip¬takan mereka’. Pasti mereka akan mengatakan: ‘Allah’.” (Az Zukhruf: 87)

Al Qur’an memberikan perhatian yang penuh terhadap tauhid, sebab kesyirikan kepada Allah merupakan masalah umum yang menjalar ke semua umat manusia. Juga karena bahaya syirik kepada Allah senantiasa ada setiap saat. Manusia telah dihadapkan kepada kesyirikan setiap waktu, sebab akal memang memahami adanya Allah secara inderawi namun akal pun tidak kuasa menyibak dzat-Nya. Maka, manusia selalu beriman kepada Allah dus juga beriman, bahwa dia mustahil menjangkau dzat-Nya. Bila kemudian ia sanggup menjangkau dzat-Nya, niscaya itu bukanlah Tuhan.

Hanya saja kebanyakan orang tidak sanggup menjangkau ‘ruhiyah’ dan ‘maknawiyah’ tersebut dengan bukti inderawi (untuk meyakini) adanya ‘ruhiyah’ dan ‘maknawiyah’ tadi kemudian mencoba menggambarkan dengan bentuk tertentu agar bisa mengenalinya. Mereka kemudian menggambarkan bentuk Tuhan tadi dengan benda fisik yang bisa mereka indera, maka dengan begitu dia telah jatuh dalam kesyirikan. Inilah yang selalu muncul dalam benak manusia setiap saat. Terutama, bila keyakinanya tidak dibangun dengan argumentasi inderawi. Namun hanya beriman dengan melalui perasaan. 

Karena itu, Islam mengukuhkan ketauhidan tersebut dengan pengukuhan yang gamblang hingga anda tidak melangkah kemudian jatuh tersungkur dalam kesyirikan. Manusia tahu, bahwa Allah itulah satu-satunya yang harus disembah. Sebab Dialah satu-satunya sang Pencipta. Sementara itu, anda pun menemukan orang yang beriman kepada Allah tetapi tetap menyembah api, lembu, dan menyembah berhala. Padahal mereka mengakui adanya Allah, namun mereka menyekutukannya dengan Allah dalam beribadah. Dia juga tahu, bahwa do’a agar semua kebutuhan itu terkabul hanya kepada Allah, namun ternyata dia meminta kepada orang-orang yang diyakini sebagai orang yang paling bertakwa dan ta”at. Padahal dia juga tahu, bahwa mereka yang dia pinta itu adalah manusia, hamba Allah juga. Dia juga tahu, bahwa Allah-lah Yang memberi kesembuhan dari penyakit. Dia jua-lah Yang bisa menolak kegaiban serta melindugi dari keburukan. Tetapi, tetap saja dia menjadikan nadzarnya kepada manusia, bila Allah menyembuhkan penyakit¬nya, atau menolak kegaiban (yang merasukinya), atau keluar¬ganya selamat dari musuhnya. Demikianlah, semuanya ini dan sebagainya adalah praktek kesyirikan kepada Allah dalam beribadah, do’a, atau niat memenuhi kebutuhan-kebutuhan dan sebagainya. Bila perbuatan tersebut merupakan perbuatan yang tak perlu ditakwilkan bahwa ia adalah ibadah misalnya shalat, maka (bila dilaku¬kan) merupakan syirik yang pelakunya telah menjadi kufur. Namun, bila masih memerlukan penakwilan, seperti nadzar kepada selain Allah, sedangkan pelakunya tidak yakin terha¬dap pengaruh orang yang dinadzari, maka perbuatan itu tidak menjadikan pelakunya kufur. Namun itu tetap haram yang tidak boleh dilakukan seorang muslim.

Karena itu, bahaya syirik senantiasa ada setiap saat. Untuk menangkalnya tauhid tersebut harus senantiasa diperku¬kuh terus-menerus. Hendaknya kaum muslimin memperhatikan keyakinan-keyakinan dan tindakan-tindakan mereka agar tidak terasuki sedikit pun oleh kesyirikan. Juga agar mereka memurnikan ketauhidan mereka semata-mata hanya kepada Allah SWT. Dan seyogyanya mereka tahu, bahwa makna ‘LAILAHA ILLA ALLAH’ adalah tidak ada Sang Pencipta, Pemberi rizki, Yang Maha Menghidupkan, Mematikan, Memuliakan, serta Menghinakan selain Allah. Hendaknya mereka senantiasa berhati-hari terhadap kemauan hawa nafsu mereka yang mendorong melakukan syirik kepada Alalh dalam tindakan-tindakan mereka. Sehingga mereka tidak terkena firman Allah:

اَفَرَءَيْتَ مَنِ اتَّخَذَ اِلٰهَهٗ هَوٰىهُ وَاَضَلَّهُ اللّٰهُ عَلٰى عِلْمٍ

“Apakah kamu melihat orang yang menjadikan kemauannya sebagai Tuhan, lalu Allah membiarkan tersesat dengan ilmu-Nya.” (Al Jasiyah: 23)

UPDATE INFORMASI TERBARU