ISLAM ALA RASULULLAH ﷺ
KHUTBAH PERTAMA
الْحَمْدُ
لِلّٰهِ
رَبِّ
الْعَالَمِيْنَ،
اَلْحَمْدُ
لِلّٰهِ
الَّذِيْ
أَرْسَلَ رَسُوْلَهُ
بِالْهُدَى
وَدِيْنِ
الْحَـقِّ لِيُظْهِرَهُ
عَلَى
الدِّيْنِ
كُلِّهِ وَلَوْ
كَرِهَ
الْمُشْرِكُوْنَ،
أَشْهَدُ أَنْ
لَا اِلٰهَ إِلَّا
اللّٰه
وَأَشْهَدُ
أَنَّ
مُحَمَّدًا
رَسُوْلُ
اللّٰه،
اَللّٰهُـمَّ
صَلِّ عَلَى
سَيِّدِنَا
مُحَمَّدٍ
وَعَلَى
اٰلِهِ وَأَصْحَابِهِ
أَجْمَعِيْنَ،
أَمَّا
بَعْدُ.
فَيَا
عِبَادَ
اللّٰه،
أُوْصِيْنِيِ
نَفْسِيْ
وَإِيَّاكُمْ
بِتَقْوَى
اللهِ، فَقَدْ
فَازَ الْمُتَّقُوْنَ.
قَالَ اللهُ
تَعَالَى: قُلْ
اِنْ
كُنْتُمْ
تُحِبُّوْنَ
اللّٰهَ فَاتَّبِعُوْنِيْ
يُحْبِبْكُمُ
اللّٰهُ وَيَغْفِرْ
لَكُمْ
ذُنُوْبَكُمْۗ
وَاللّٰهُ
غَفُوْرٌ
رَّحِيْمٌ
٣١ (اٰلِ
عِمْرَانَ)
Alhamdulillah, kita masih dipertemukan oleh Allah di
hari mulia, hari Jumat. Di tempat yang dimuliakan, masjid. Bersama orang-orang
yang insya Allah dimuliakan, orang-orang bertakwa. Shalawat serta salam semoga
senantiasa tercurah kepada junjungan alam Nabi Besar Muhammad saw.
Pertama dan paling utama, mari tingkatkan takwa kita
kepada Allah. Taati perintah-Nya dan jauhi larangan-Nya. Allah Swt.
berfirman:
يٰٓاَيُّهَا
الَّذِيْنَ
اٰمَنُوا
اتَّقُوا
اللّٰهَ
حَقَّ
تُقٰىتِهٖ
وَلَا
تَمُوْتُنَّ
اِلَّا
وَاَنْتُمْ
مُّسْلِمُوْنَ
“Wahai orang-orang yang beriman,
bertakwalah kepada Allah dengan sebenar-benar takwa kepada-Nya dan janganlah
kamu mati kecuali dalam keadaan muslim.” (QS. Âli ‘Imrân [3]: 102).
Ma’âsyiral Muslimîn rahimakumullâh,
Sejak kapan Islam boleh diberi nama sesuai nama seorang
penguasa? Pertanyaan ini mencuat setelah MUI dan Baznas meluncurkan buku Islam
Ala Prabowo pada 26 Agustus 2025 dalam rangkaian Rapat Koordinasi Nasional
Baznas di Jakarta. Setahun kemudian, buku setebal 346 halaman itu ramai
diperbincangkan dan diperdebatkan, terutama karena judulnya dinilai berlebihan
dan membingungkan. Buku ini memuat kumpulan tulisan tentang sisi “keislaman” Presiden
Prabowo Subianto, mulai dari kehidupan pribadi, karier militer hingga
kepemimpinannya sebagai kepala negara. Ditulis oleh 21 tokoh agama, akademisi,
diplomat, dan politisi, buku tersebut juga menuai persoalan karena beberapa
tokoh yang namanya tercantum sebagai penulis mengaku tidak pernah menulis untuk
buku itu.
Yang menjadi persoalan utama bukanlah siapa presidennya,
siapa saja yang menulis, atau seberapa banyak tokoh agama yang terlibat.
Masalahnya terletak pada kesan bahwa Islam dapat dilekatkan pada sosok penguasa
hingga melahirkan sebuah “versi” Islam. Padahal, Islam bukan milik pribadi,
bukan pula identitas yang berubah mengikuti siapa yang sedang memegang
kekuasaan—apalagi dalam sistem negara sekuler. Karena itu, penggunaan nama
seorang penguasa sebagai bagian dari identitas Islam patut dipertanyakan secara
serius.
Ma’âsyiral Muslimîn rahimakumullâh,
Kalau Islam benar-benar sempurna, lalu siapa yang berhak
menjadi ukuran Islam: wahyu atau manusia? Kita mengenal kepemimpinan istimewa
Khalifah Umar bin al-Khaththab, jihad yang sangat heroik Shalahuddin al-Ayyubi
atau penaklukan agung Muhammad al-Fatih. Namun, tidak pernah ada istilah “Islam
ala Umar”, “Islam ala Shalahuddin”, atau “Islam ala Muhammad al-Fatih”. Sehebat
apa pun keislaman seorang Muslim, termasuk pemimpin atau ulama, tetap tidak
menjadikannya ukuran bagi Islam. Tolok ukur kebenaran adalah wahyu Allah Swt.,
yakni al-Quran dan as-Sunnah. Allah Swt. berfirman:
اَلْيَوْمَ
اَكْمَلْتُ
لَكُمْ
دِيْنَكُمْ
وَاَتْمَمْتُ
عَلَيْكُمْ
نِعْمَتِيْ
وَرَضِيْتُ
لَكُمُ
الْاِسْلَامَ
دِيْنًا
“Pada hari ini telah Aku sempurnakan bagi kalian agama
kalian, telah Aku cukupkan nikmat-Ku untuk kalian dan telah Aku ridhai Islam
sebagai agama kalian.” (QS. al-Mâidah [5]: 3). Karena itu, kesalahan
seorang Muslim adalah penyimpangan dari Islam, bukan bagian dari ajaran Islam.
Islamlah yang menjadi standar untuk menilai penguasa,
bukan penguasa yang menjadi standar untuk menentukan Islam. Islam tidak boleh
dipersonifikasikan atau ditundukkan pada kepentingan penguasa. Setiap Muslim,
termasuk rakyat, ulama, ilmuwan, maupun kepala negara, wajib tunduk kepada
syariah dan tidak berwenang menentukan isinya. Bahkan ketaatan kepada ulil amri
tetap berada di bawah ketaatan kepada Allah dan Rasul-Nya. Allah Swt.
berfirman:
يَٰٓأَيُّهَا
ٱلَّذِينَ
ءَامَنُوٓاْ
أَطِيعُواْ ٱللَّهَ
وَأَطِيعُواْ
ٱلرَّسُولَ
وَأُوْلِي ٱلۡأَمۡرِ
مِنكُمۡۖ
فَإِن
تَنَٰزَعۡتُمۡ
فِي شَيۡءٖ فَرُدُّوهُ
إِلَى ٱللَّهِ
وَٱلرَّسُولِ
إِن كُنتُمۡ
تُؤۡمِنُونَ
بِٱللَّهِ وَٱلۡيَوۡمِ
ٱلۡأٓخِرِۚ
ذَٰلِكَ
خَيۡر
وَأَحۡسَنُ
تَأۡوِيلًا
“Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan
taatilah Rasul-Nya, serta ulil amri di antara kalian. Kemudian jika kalian
berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah dan
Rasul-Nya jika kalian benar-benar mengimani Allah dan Hari Akhir. Yang demikian
itu lebih utama dan lebih baik akibatnya.” (QS. an-Nisâ’
[4]: 59).
Islam tidak membutuhkan legitimasi dari figur mana pun.
Sebaliknya, manusialah yang dinilai berdasarkan sejauh mana pikiran, ucapan,
dan perbuatannya sesuai dengan Islam. Kebenaran Islam tidak bergantung pada
kharisma atau kekuasaan seseorang, karena Islam adalah agama wahyu yang
universal. Rasulullah saw. bersabda:
مَنْ
أَطَاعَنِيْ
فَقَدْ
أَطَاعَ
اللَّهَ،
وَمَنْ
عَصَانِيْ
فَقَدْ عَصَى
اللَّهَ
“Siapa saja yang menaati aku, sungguh ia telah menaati
Allah. Siapa saja yang mendurhakai aku, sungguh ia telah mendurhakai Allah.” (HR. al-Bukhari dan
Muslim).
Dengan demikian, siapa pun kedudukannya, seorang Muslim
wajib menjadikan Islam sebagai ukuran dalam berpikir dan bertindak, bukan
menjadikan dirinya sebagai ukuran Islam.
Ma’âsyiral Muslimîn rahimakumullâh,
Islam bukan ditentukan oleh siapa tokohnya, tetapi oleh
siapa yang menjadi sumber kebenarannya. Islam bersumber dari wahyu Allah Swt.,
yakni al-Quran dan as-Sunnah, bukan dari penguasa, ulama, atau cendekiawan.
Karena itu, Islam tidak boleh dinisbatkan kepada figur, apalagi dijadikan alat
kepentingan politik. Kaum Muslim wajib menjadikan Rasulullah saw. sebagai
teladan dalam berislam (QS. al-Ahzâb [33]: 21).
Allah juga berfirman:
قُلْ
اِنْ
كُنْتُمْ
تُحِبُّوْنَ
اللّٰهَ فَاتَّبِعُوْنِيْ
يُحْبِبْكُمُ
اللّٰهُ وَيَغْفِرْ
لَكُمْ
ذُنُوْبَكُمْۗ
وَاللّٰهُ
غَفُوْرٌ
رَّحِيْمٌ
“Katakanlah, ‘Jika kalian benar-benar mencintai Allah,
ikutilah aku (Muhammad), niscaya Allah mencintai kalian dan mengampuni
dosa-dosa kalian. Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.’” (QS. Âli ’Imrân
[3]: 31).
Dalam perspektif fiqih siyasah, pemimpin tertinggi (Imam
atau Khalifah) pun wajib meneladani kepemimpinan Rasulullah saw. sebagai kepala
negara di Madinah, dengan menjalankan syariah dan mewujudkan keadilan serta
menjaga agama, jiwa, akal, harta, dan kehormatan masyarakat. Allah Swt.
berfirman:
ثُمَّ
جَعَلْنٰكَ
عَلٰى
شَرِيْعَةٍ
مِّنَ الْاَمْرِ
فَاتَّبِعْهَا
وَلَا
تَتَّبِعْ
اَهْوَاۤءَ
الَّذِيْنَ
لَا
يَعْلَمُوْنَ
“Kemudian Kami menjadikan kamu berada di atas suatu
syariah dari urusan (agama itu). Karena itu ikutilah syariah itu dan janganlah
kamu mengikuti hawa nafsu orang-orang yang tidak mengetahui.” (QS. al-Jâtsiyah
[45]: 18).
Karena itu, Islam tidak cukup hanya dijadikan identitas
pribadi, tetapi wajib diterapkan secara kaaffah dalam kehidupan
sebagaimana dicontohkan Rasulullah saw. dan Khulafaur Rasyidin. Makna firman
Allah Swt. dalam QS. al-Baqarah [2]: 208 adalah perintah kepada orang-orang
beriman untuk menjalankan Islam secara menyeluruh dan tidak mengikuti
langkah-langkah setan.
Jika kita benar-benar menginginkan kehidupan yang penuh
keberkahan, jangan menjadikan manusia sebagai ukuran Islam dan jangan pula
menundukkan Islam pada kepentingan kekuasaan. Kembalikan Islam kepada
sumbernya: al-Quran dan as-Sunnah, lalu wujudkan ajarannya secara kaaffah
dalam kehidupan. Sebab Allah Swt. telah menjanjikan:
وَلَوْ
اَنَّ اَهْلَ
الْقُرٰٓى
اٰمَنُوْا وَاتَّقَوْا
لَفَتَحْنَا
عَلَيْهِمْ
بَرَكٰتٍ
مِّنَ
السَّمَاۤءِ
وَالْاَرْضِ
وَلٰكِنْ
كَذَّبُوْا
فَاَخَذْنٰهُمْ
بِمَا كَانُوْا
يَكْسِبُوْنَ
“Sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa,
pasti Kami akan melimpahkan kepada mereka keberkahan dari langit dan bumi.” (QS. al-A’râf
[7]: 96).
Maka, sudah saatnya kita menempatkan Islam di atas segala
kepentingan manusia dan menjadikan syariah Allah sebagai pedoman dalam seluruh
aspek kehidupan. Wallâhu a‘lam bish-shawâb.[]
بَارَكَ
اللهُ لِيْ
وَلَكُمْ فِى
الْقُرْآنِ
الْعَظِيْمِ،
وَنَفَعَنِيْ
وَإِيَّاكُمْ
بِمَا فِيْهِ
مِنَ
الْآيَاتِ
وَالذِّكْرِ
الْحَكِيْمِ،
وَتَقَبَّلَ
مِنَّا
وَمِنْكُمْ
تِلَاوَتَهُ
وَإِنَّهُ
هُوَ
السَّمِيْعُ
الْعَلِيْمُ.
أَقُوْلُ
قَوْلِيْ
هَذَا،
وَأَسْتَغْفِرُ
اللهَ
الْعَظِيْمَ
لِيْ
وَلَكُمْ،
إِنَّهُ هُوَ
الْغَفُوْرُ
الرَّحِيْمُ
KHUTBAH KEDUA
اَلْحَمْدُ
لِلّٰهِ
عَلَى
إِحْسَانِهِ،
وَالشُّكْرُ
لَهُ عَلَى
تَوْفِيْقِهِ
وَامْتِنَانِهِ.
وَأَشْهَدُ
أَنْ لَا
إِلٰهَ إِلَّا
اللهُ
وَحْدَهُ لَا
شَرِيْكَ
لَهُ، وَأَشْهَدُ
أنَّ
سَيِّدَنَا
مُحَمَّدًا
عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ
الدَّاعِى
إِلَى
رِضْوَانِهِ.
اللّٰهُمَّ
صَلِّ عَلَى
سَيِّدِنَا
مُحَمَّدٍ
وَعَلَى
آلِهِ
وَأَصْحَابِهِ
وَسَلِّمْ
تَسْلِيْمًا
كَثِيْرًا.
أَمَّا
بَعْدُ؛
فَياَ
أَيُّهَا
النَّاسُ اتَّقُوا
اللّٰهَ
فِيْمَا
أَمَرَ وَانْتَهُوْا
عَمَّا
نَهَى،
وَاعْلَمُوْا
أَنَّ اللهَ
أَمَرَكُمْ
بِأَمْرٍ
بَدَأَ
فِيْهِ
بِنَفْسِهِ
وَثَنَّى
بِمَلَائِكَتِهِ
الْمُسَبِّحَةِ
بِقُدْسِهِ،
وَقَالَ
تَعاَلَى:
إِنَّ اللهَ
وَمَلَائِكَتَهُ
يُصَلُّوْنَ
عَلَى
النَّبِيِّ
يَا أَيُّهَا
الَّذِيْنَ
آمَنُوْا صَلُّوْا
عَلَيْهِ
وَسَلِّمُوْا
تَسْلِيْمًا.
اللّٰهُمَّ
صَلِّ عَلَى
سَيِّدِنَا
مُحَمَّدٍ
وَعَلَى آلِ
سَيِّدِناَ
مُحَمَّدٍ، وَعَلَى
أَنْبِيَائِكَ
وَرُسُلِكَ
وَمَلَائِكَتِكَ
الْمُقَرَّبِيْنَ،
وَارْضَ اللّٰهُمَّ
عَنِ
الْخُلَفَاءِ
الرَّاشِدِيْنَ،
أَبِى بَكْرٍ
وَعُمَرَ
وَعُثْمَانَ
وَعَلِيٍّ،
وَعَنْ بَقِيَّةِ
الصَّحَابَةِ
وَالتَّابِعِيْنَ،
وَالتَّابِعِيْنَ
لَهُمْ بِإِحْسَانٍ
اِلَى يَوْمِ
الدِّيْنِ،
وَارْضَ عَنَّا
مَعَهُمْ
بِرَحْمَتِكَ
يَا أَرْحَمَ
الرَّاحِمِيْنَ.
اَللّٰهُمَّ
اغْفِرْ
لِلْمُؤْمِنِيْنَ
وَالْمُؤْمِنَاتِ
وَالْمُسْلِمِيْنَ
وَالْمُسْلِمَاتِ
الْأَحْيَاءِ
مِنْهُمْ
وَالْأَمْوَاتِ.
اللّٰهُمَّ
أَعِزَّ
الْإِسْلَامَ
وَالْمُسْلِمِيْنَ،
وَأَذِلَّ
الشِّرْكَ
وَالْمُشْرِكِيْنَ،
وَانْصُرْ
مَنْ نَصَرَ
الدِّيْنَ،
وَاخْذُلْ
مَنْ خَذَلَ
الْمُسْلِمِيْنَ،
وَدَمِّرْ
أَعْدَاءَ
الدِّيْنِ،
وَأَعْلِ
كَلِمَاتِكَ
إِلَى يَوْمِ
الدِّيْنِ.
اَللّٰهُمَّ
إِنَّا
نَسْأَلُكَ
دَوْلَةَ
الْخِلاَفَةِ
عَلَى
مِنْهَاجِ
النُّبُوَّةِ
تُعِزُّ بِهَا
الْإِسْلَامَ
وَاَهْلَهُ
وَتُذِلُّ بِهَا
الْكُفْرَ
وَاَهْلَهُ،
وَاجْعَلْنَا
مِنَ
الْعَامِلِيْنَ
الْمُخْلِصِيْنَ
لِإِقَامَتِهَا
بِإِذْنِكَ
يَا أَرْحَمَ
الرَّاحِمِيْنَ.
اللّٰهُمَّ
ادْفَعْ
عَنَّا
الْغَلَاءَ
وَالْبَلاَءَ
وَالْوَبَاءَ
وَالزَّلَازِلَ
وَالْمِحَنَ،
وَسُوْءَ
الْفِتَنِ
مَا ظَهَرَ
مِنْهَا
وَمَا
بَطَنَ، عَنْ
بَلَدِنَا إِنْدُوْنِيْسِيَا
خَاصَّةً
وَسَائِرِ
بُلْدَانِ
الْمُسْلِمِيْنَ
عَامَّةً يَا رَبَّ
الْعَالَمِيْنَ.
رَبَّنَا
آتِنَا فِى
الدُّنْيَا
حَسَنَةً
وَفِى الْآخِرَةِ
حَسَنَةً
وَقِنَا
عَذَابَ النَّارِ.
عِبَادَ
اللهِ! إِنَّ
اللهَ
يَأْمُرُ
بِالْعَدْلِ
وَالْإِحْسَانِ
وَإِيْتآءِ
ذِي الْقُرْبَى
وَيَنْهَى عَنِ
الْفَحْشآءِ
وَالْمُنْكَرِ
وَالْبَغْيِ
يَعِظُكُمْ
لَعَلَّكُمْ
تَذَكَّرُوْنَ،
وَاذْكُرُوا
اللهَ
الْعَظِيْمَ
يَذْكُرْكُمْ،
وَاسْأَلُوْهُ
مِنْ
فَضْلِهِ يُعْطِكُمْ،
وَاشْكُرُوْهُ
عَلَى
نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ،
وَلَذِكْرُ
اللهِ
أَكْبَرْ.



