BOARD OF PEACE: JALAN
“DAMAI” YANG MELANGGENGKAN PENJAJAHAN PALESTINA
KHUTBAH PERTAMA
اَلْحَمْدُ
لِلّٰهِ،
نَحْمَدُهُ
وَنَسْتَعِيْنُهُ
وَنَسْتَغْفِرُهُ،
وَنَعُوْذُ
بِاللهِ مِنْ
شُرُوْرِ
أَنْفُسِنَا
وَسَيِّئَاتِ
أَعْمَالِنَا،
مَنْ
يَهْدِهِ اللهُ
فَلَا
مُضِلَّ
لَهُ، وَمَنْ
يُضْلِلْ فَلَا
هَادِيَ لَهُ.
أَشْهَدُ
أَنْ لَا
اِلٰهَ
اِلاَّ اللهُ
وَحْدَهُ
لَاشَرِيْكَ
لَهُ،
شَهَادَةَ
مَنْ هُوَ خَيْرٌ
مَّقَامًا
وَأَحْسَنُ
نَدِيًّا. وَأَشْهَدُ
أَنَّ
سَيِّدَنَا
مُحَمَّدًا عَبْدُهُ
وَرَسُوْلُهُ
الْمُتَّصِفُ
بِالْمَكَارِمِ
كِبَارًا
وَصَبِيًّا.
اللهُمَّ
فَصَلِّ
وَسَلِّمْ
عَلَى سَيِّدِنَا
مُحَمَّدٍ
كَانَ
صَادِقَ
الْوَعْدِ وَكَانَ
رَسُوْلًا
نَبِيًّا، وَعَلَى
آلِهِ
وَصَحْبِهِ
الَّذِيْنَ
يُحْسِنُوْنَ
إِسْلاَمَهُمْ
وَلَمْ
يَفْعَلُوْا
شَيْئًا
فَرِيًّا. أَمَّا
بَعْدُ؛
فَيَا
أَيُّهَا
الْحَاضِرُوْنَ
رَحِمَكُمُ
اللهُ،
اُوْصِيْنِيْ
نَفْسِيْ
وَإِيَّاكُمْ
بِتَقْوَى
اللهِ،
فَقَدْ فَازَ
الْمُتَّقُوْنَ.
قَالَ اللهُ
تَعَالَى:
يٰٓاَيُّهَا
الَّذِيْنَ
اٰمَنُوْا
لَا تَتَّخِذُوا
الْيَهُوْدَ
وَالنَّصٰرٰٓى
اَوْلِيَاۤءَۘ
بَعْضُهُمْ
اَوْلِيَاۤءُ
بَعْضٍۗ
وَمَنْ
يَّتَوَلَّهُمْ
مِّنْكُمْ فَاِنَّهٗ
مِنْهُمْۗ
اِنَّ
اللّٰهَ لَا
يَهْدِى
الْقَوْمَ
الظّٰلِمِيْنَ ٥١
(اَلْمَائِدَةُ)
Alhamdulillâhi
Rabbil ‘Âlamin, Segala puji bagi Allah Subhânahu Wa Ta’âlâ yang
telah menganugerahkan kita nikmat iman dan Islam, serta mempertemukan kita di
tempat yang diberkahi ini. Shalawat dan salam semoga senantiasa tercurah kepada
junjungan kita, Nabi Muhammad Shallallâhu ‘alaihi wasallam, beserta
keluarga, sahabat, dan seluruh umatnya hingga akhir zaman.
Sebagai penyempurna rukun khutbah, saya selaku khatib
tidak bosan-bosannya mengingatkan diri saya pribadi dan seluruh jamaah untuk
selalu mengokohkan iman serta meningkatkan ketakwaan kita kepada Allah Subhânahu Wa Ta’âlâ, sesuai dengan sabda Nabi Muhammad Shallallâhu ‘alaihi wasallam:
اِتَّقِ
اللهَ
حَيْثُمَا
كُنْتَ،
وَأَتْبِعِ
السَّيِّئَةَ
الْحَسَنَةَ
تَمْحُهَا،
وَخَالِقِ
النَّاسَ
بِخُلُقٍ
حَسَنٍ
“Bertakwalah
kepada Allah di mana pun engkau berada. Iringilah perbuatan buruk dengan
perbuatan baik, niscaya kebaikan itu akan menghapus (kesalahan)nya. Dan
bergaullah dengan manusia dengan akhlak yang baik.” (HR. Tirmidzi).
Allah Subhânahu
Wa Ta’âlâ berfirman:
وَتَزَوَّدُوْا
فَاِنَّ
خَيْرَ
الزَّادِ التَّقْوٰىۖ
وَاتَّقُوْنِ
يٰٓاُولِى
الْاَلْبَابِ
“Dan
berbekallah kalian, dan sebaik-baik bekal adalah takwa. Bertakwalah kepada-Ku
wahai orang-orang yang berakal” (QS. Al-Baqarah [2]: 197).
Allah Subhânahu
Wa Ta’âlâ juga berfirman:
يٰٓاَيُّهَا
الَّذِيْنَ
اٰمَنُوا
اتَّقُوا
اللّٰهَ
حَقَّ
تُقٰىتِهٖ
وَلَا
تَمُوْتُنَّ
اِلَّا
وَاَنْتُمْ
مُّسْلِمُوْنَ
“Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada
Allah dengan sebenar-benar takwa kepada-Nya dan janganlah kamu mati kecuali
dalam keadaan muslim.”
(QS. Âli
Imrân
[3]: 102).
Sungguh takwa adalah
benteng terakhir kita di tengah kehidupan akhir zaman saat ini. Dan sungguh,
hanya dengan takwa kita akan selamat di dunia dan akhirat.
Ma’âsyiral Muslimîn rahimakumullâh,
Tidak setiap jalan yang diberi nama “damai” benar-benar
menuju keadilan. Sejarah menunjukkan, penjajahan kerap dibungkus dengan
istilah-istilah indah agar ketidakadilan tampak dapat diterima. Dalam konteks
ini, umat Islam kembali dikejutkan oleh gagasan “Board of Peace (BoP)”
atau Dewan Perdamaian yang dipromosikan Amerika Serikat sebagai solusi konflik
Gaza, diinisiasi dan dipimpin Amerika di bawah Donald Trump. Meski berlabel “peace”,
istilah perdamaian, stabilisasi, dan rekonstruksi sering menjadi kedok proyek
penjajahan gaya baru, sebagaimana yang terjadi di Palestina.
Ironisnya, Indonesia dikabarkan menjadi anggota Dewan
itu. Keterlibatan ini berpotensi menyeret Indonesia ikut menjamin skema
penjajahan tersebut. Netralitas semu dan diplomasi tanpa prinsip justru
berisiko memperpanjang penderitaan rakyat Palestina serta menjadikan Indonesia
stempel legitimasi bagi agenda yang merugikan umat Islam sendiri.
Ma’âsyiral Muslimîn rahimakumullâh,
Sejarah kerap berulang dengan wajah baru, ketika penjajah
tampil sebagai “penjaga perdamaian” untuk melanggengkan kezaliman. Board of
Peace (BoP) digagas dan dipimpin oleh Amerika Serikat (AS), negara dengan
rekam jejak panjang invasi, kudeta, dan penghancuran negeri-negeri Muslim
seperti Afganistan, Irak, Libya, Suriah, dan Sudan.
Meski diklaim bertujuan mengelola transisi Gaza pasca
konflik, menjaga stabilitas, dan mencegah kekerasan berulang, struktur serta
kewenangan Dewan bentukan Amerika itu justru mengarah pada pengambilalihan
kendali Gaza oleh pihak asing—sebuah ironi besar bagi Dunia Islam, ketika
penjajah berperan sebagai juru damai, padahal Allah Subhânahu Wa Ta’âlâ telah
mengingatkan,
وَلَنْ
يَّجْعَلَ
اللّٰهُ
لِلْكٰفِرِيْنَ
عَلَى
الْمُؤْمِنِيْنَ
سَبِيْلًا
”Allah sekali-kali tidak akan pernah memberikan jalan bagi kafir untuk
menguasai kaum Mukmin.” (QS. an-Nisâ’ [4]: 141).
Sejak awal Dewan itu dikendalikan negara-negara penjajah,
sementara negara Muslim hanya dijadikan legitimasi. Tentu ada sejumlah catatan
kritikal terhadap Dewan ini.
Pertama, Dewan ini merampas
hak rakyat Gaza dengan membentuk Dewan Eksekutif yang menyingkirkan kedaulatan
Palestina—ini penjajahan gaya baru.
Kedua, Dewan ini mendorong
pelucutan senjata rakyat Gaza, termasuk Hamas, sementara penjajah tetap
bersenjata; keamanan Muslim pun diserahkan kepada musuhnya sendiri,
bertentangan dengan legitimasi syar’i pembelaan diri sebagaimana sabda
Rasulullah Shallallâhu ‘alaihi wasallam tentang kemuliaan syahid bagi
yang terbunuh membela harta, keluarga, jiwa, dan agama:
مَنْ
قُتلَ دُونَ
مالِهِ
فَهُوَ
شَهيدٌ، وَمنْ
قُتِلَ دُونَ
دِينِهِ
فَهُوَ
شَهيدٌ، وَمَن
قُتِلَ دُونَ
دَمِهِ
فَهُوَ
شَهيدٌ، وَمَنْ
قُتِل دونَ
أهلِهِ
فَهُوَ
شَهِيدٌ
“Barangsiapa yang terbunuh karena membela hartanya maka
dia syahid, siapa yang terbunuh karena membela agamanya termasuk syahid, siapa
yang mati terbunuh karena membela dirinya termasuk syahid, orang yang terbunuh
membela keluarganya termasuk syahid.” (HR. at-Tirmidzi).
Ketiga, Dewan ini tidak
melibatkan rakyat Palestina, tetapi justru memasukkan Zionis Yahudi sebagai
anggota.
Keempat, Dewan ini
mempertahankan eksistensi Israel tanpa tuntutan pembongkaran negara penjajah
atau pengembalian tanah Palestina.
Kelima, keterlibatan
pemimpin Muslim dalam Dewan ini merupakan pengkhianatan terhadap Palestina,
karena duduk bersama penjajah yang mengamankan kezaliman, padahal Allah Subhânahu
Wa Ta’âlâ berfirman;
يٰٓاَيُّهَا
الَّذِيْنَ
اٰمَنُوْا
لَا تَتَّخِذُوا
الْيَهُوْدَ
وَالنَّصٰرٰٓى
اَوْلِيَاۤءَۘ
”Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kalian menjadikan Yahudi dan
Nasrani sebagai pemimpin” (QS. al-Mâidah
[5]: 51).
Ma’âsyiral Muslimîn rahimakumullâh,
Sepanjang sejarah, penjajahan tidak pernah runtuh oleh
perundingan yang timpang. Ketika keadilan dikendalikan oleh pihak penindas,
maka “solusi damai” sering kali hanya menjadi cara baru untuk melanggengkan
penjajahan itu sendiri.
Penjajahan di Palestina tidak akan berakhir melalui meja
negosiasi internasional yang dikuasai penjajah. Solusi satu-satunya adalah
dengan mengusir Zionis Yahudi dari Palestina dengan jihad. Jihad inilah yang
telah Allah Subhânahu Wa Ta’âlâ perintahkan:
وَاقْتُلُوْهُمْ
حَيْثُ
ثَقِفْتُمُوْهُمْ
وَاَخْرِجُوْهُمْ
مِّنْ حَيْثُ
اَخْرَجُوْكُمْ
”Perangilah kaum kafir itu di mana saja kalian temui mereka dan usirlah
mereka dari tempat mana saja mereka telah mengusir kalian...” (QS al-Baqarah
[2]: 191).
Pada ujung ayat ini Allah Subhânahu Wa Ta’âlâ lalu
menegaskan:
فَاِنْ
قٰتَلُوْكُمْ
فَاقْتُلُوْهُمْۗ
كَذٰلِكَ
جَزَاۤءُ
الْكٰفِرِيْنَ
”Jika mereka memerangi kalian maka perangilah mereka. Demikianlah balasan
setimpal bagi kaum kafir.” (QS. al-Baqarah [2]: 191).
Cukup dengan mengerahkan ratusan ribu tentara Muslim dari
negara-negara Arab saja, tentu sangat mudah berjihad untuk menumpas sekaligus
mengusir Zionis Yahudi dari Bumi Palestina.
Lemahnya posisi umat hari ini disebabkan ketiadaan
institusi pemersatu global. Dalam politik Islam, peran itu dijalankan oleh
Khilafah. Rasulullah Shallallâhu ‘alaihi wasallam bersabda;
إِنَّمَا
الْإِمَامُ
جُنَّةٌ
”Imam (Khalifah) adalah perisai (pelindung)...” (HR al-Bukhari
dan Muslim).
Imam an-Nawawi menjelaskan: (Imam/Khalifah itu) seperti
pelindung. Sebabnya, ia menghalangi musuh untuk menyakiti kaum Muslim serta
melindungi kemuliaan Islam Islam (An-Nawawi, Syarh an-Nawawi ‘alaa Muslim,
6/315).
Sejarah mencatat bahwa kekuatan umat terjaga ketika ada
kepemimpinan yang tegas dan melindungi kehormatan Islam.
Faktanya, sepanjang sejarah, kemuliaan Islam serta darah
dan kehormatan kaum Muslim benar-benar terjaga pada era Khilafah. Pada masa
Khalifah Harun ar-Rasyid, ketegasan ditunjukkan ketika Kaisar Bizantium
Nikephoros I meremehkan dan menolak membayar jizyah; sang Khalifah membalas
dengan surat keras dan segera memimpin pasukan hingga Romawi kembali tunduk (Al-Khathib
al-Baghdadi; Ibnu Katsir).
Keteladanan serupa tampak pada Khalifah al-Mu‘taṣim Billah yang
merespons penderitaan seorang Muslimah di Amuriyah dengan mengerahkan pasukan
besar, menaklukkan wilayah tersebut, dan membebaskan kaum Muslim (Ath-Thabari;
Ibnu Katsir).
Pada era Khilafah Utsmaniyah, Sultan Abdul Hamid II
menunjukkan keteguhan dengan menolak tawaran Theodor Herzl untuk menyerahkan
tanah Palestina, menegaskan bahwa Palestina adalah milik umat Islam (Muhammad
Harb).
Ketegasan ini juga tampak saat beliau mengancam
penghentian pementasan drama yang menghina Nabi saw. di Prancis hingga rencana
itu dibatalkan (Stanford J. Shaw). Bahkan, pada abad ke-18, Amerika
tercatat membayar jizyah kepada Khilafah Utsmaniyah agar kapal-kapalnya aman
melintas di Afrika Utara, sebagaimana diakui dalam Treaty of Tripoli (1796) (Frank
Lambert).
Ma’âsyiral Muslimîn rahimakumullâh,
Fakta-fakta ini membuktikan satu hal: Khilafah bukan
sekadar simbol. Ia adalah institusi pemerintahan Islam global. Sepanjang
sejarahnya, Khilafah mampu memelihara
kemuliaan Islam serta melindungi kehormatan dan darah kaum Muslim.
Alhasil, di tengah ancaman global AS dan Barat yang makin
meningkat atas Dunia Islam saat ini, juga di tengah kegagalan para pemimpin
Muslim selama 78 tahun untuk membebaskan Palestina hingga hari ini, cita-cita
untuk mendirikan kembali Khilafah adalah pilihan rasional. Apalagi Khilafah
adalah bagian penting dari syariah Islam.
WalLâhu a’lam bi ash-shawâb.
Demikianlah yang
dapat saya sampaikan dalam khutbah Jum’at pada kesempatan kali ini. Ketahuilah
bahwa segala kesempurnaan hanya milik Allah Subhânahu wa Ta‘âlâ. Apa pun
yang benar dari apa yang saya sampaikan adalah semata-mata berkat petunjuk-Nya
melalui Rasul-Nya, maka marilah kita berpegang teguh kepadanya. Adapun segala
kekeliruan adalah berasal dari kekurangan pemahaman saya pribadi; marilah kita
tinggalkan dan semoga Anda semua berkenan melimpahkan keluasan maaf.
Sebagai penutup,
mari kita akhiri khutbah ini dengan berdoa bersama. Semoga kita semua
senantiasa dianugerahi kesehatan lahir dan batin, serta keberkahan dunia dan
akhirat. Semoga Allah memberi kita hidayah, inayah, dan kekuatan, sehingga kita
dapat menjadi bagian dari para dai yang selalu bersungguh-sungguh menegakkan
syariat Islam secara kaffah, meneladani Nabi Muhammad Shallallâhu ‘Alaihi Wasallam hingga akhir hayat dalam keadaan husnul khâtimah.
Âmîn yâ Rabbal-‘âlamîn.[]
بَارَكَ
اللهُ لِيْ
وَلَكُمْ فِى
اْلقُرْآنِ
اْلعَظِيْمِ،
وَنَفَعَنِيْ
وَإِيَّاكُمْ
بِمَا فِيْهِ
مِنَ
الْآيَاتِ
وَالذِّكْرِ
الْحَكِيمِ
وَتَقَبَّلَ
اللهُ مِنَّا
وَمِنْكُمْ
تِلاَوَتَهُ
وَإِنَّهُ
هُوَ
السَّمِيْعُ
العَلِيْمُ،
وَأَقُوْلُ
قَوْلِيْ
هَذَا
فَأسْتَغْفِرُ
اللهَ
العَظِيْمَ
إِنَّهُ هُوَ
الغَفُوْرُ
الرَّحِيْمُ
KHUTBAH
KEDUA
اَلْحَمْدُ
لِلّٰهِ عَلىَ
إِحْسَانِهِ،
وَالشُّكْرُ
لَهُ عَلَى
تَوْفِيْقِهِ
وَاِمْتِنَانِهِ،
وَأَشْهَدُ
أَنْ لاَ
اِلٰهَ
إِلاَّ اللهُ
وَحْدَهُ لاَ
شَرِيْكَ
لَهُ،
وَأَشْهَدُ
أنَّ سَيِّدَنَا
مُحَمَّدًا
عَبْدُهُ
وَرَسُوْلُهُ
الدَّاعِى
إِلَى
رِضْوَانِهِ،
اللّٰهُمَّ صَلِّ
عَلَى
سَيِّدِنَا
مُحَمَّدٍ
وَعَلَى
اٰلِهِ
وَأَصْحَابِهِ
وَسَلِّمْ
تَسْلِيْمًا
كَثِيْرًا. أَمَّا
بَعْدُ؛
فَياَ
اَيُّهَا
النَّاسُ اِتَّقُواللّٰهَ
فِيْمَا
أَمَرَ
وَانْتَهُوْا
عَمَّا نَهَى
وَاعْلَمُوْا
أَنَّ اللهَ
أَمَرَكُمْ
بِأَمْرٍ
بَدَأَ
فِيْهِ بِنَفْسِهِ
وَثَـنَّى
بِمَلآ
ئِكَتِهِ
الْمُسَبِّحَةِ
بِقُدْسِهِ،
وَقَالَ
تَعاَلَى:
إِنَّ اللهَ
وَمَلآئِكَتَهُ
يُصَلُّوْنَ
عَلىَ النَّبِى
يآ اَيُّهَا
الَّذِيْنَ
آمَنُوْا
صَلُّوْا
عَلَيْهِ
وَسَلِّمُوْا
تَسْلِيْمًا. اللهُمَّ
صَلِّ عَلَى
سَيِّدِنَا
مُحَمَّدٍ
وَعَلَى آلِ
سَيِّدِناَ
مُحَمَّدٍ،
وَعَلَى
اَنْبِيآئِكَ
وَرُسُلِكَ
وَمَلآئِكَةِ
اْلمُقَرَّبِيْنَ،
وَارْضَ اللّٰهُمَّ
عَنِ
اْلخُلَفَاءِ
الرَّاشِدِيْنَ،
أَبِى بَكْرٍ
وَعُمَرَ
وَعُثْمَانَ
وَعَلِي، وَعَنْ
بَقِيَّةِ
الصَّحَابَةِ
وَالتَّابِعِيْنَ،
وَتَابِعِي
التَّابِعِيْنَ
لَهُمْ
بِاِحْسَانٍ
اِلَى يَوْمِ
الدِّيْنِ،
وَارْضَ
عَنَّا
مَعَهُمْ
بِرَحْمَتِكَ
يَا أَرْحَمَ
الرَّاحِمِيْنَ.
اَللّٰهُمَّ
اغْفِرْ
لِلْمُؤْمِنِيْنَ
وَاْلمُؤْمِنَاتِ
وَاْلمُسْلِمِيْنَ
وَاْلمُسْلِمَاتِ
اَلاَحْيآءَ
مِنْهُمْ
وَاْلاَمْوَاتِ،
اللّٰهُمَّ أَعِزَّ
اْلإِسْلاَمَ
وَاْلمُسْلِمِيْنَ،
وَأَذِلَّ
الشِّرْكَ
وَاْلمُشْرِكِيْنَ،
وَانْصُرْ
عِبَادَكَ
اْلمُوَحِّدِيْنَ،
وَانْصُرْ
مَنْ نَصَرَ
الدِّيْنَ،
وَاخْذُلْ
مَنْ خَذَلَ
اْلمُسْلِمِيْنَ،
وَدَمِّرْ
أَعْدَاءَ
الدِّيْنِ،
وَاعْلِ كَلِمَاتِكَ
إِلَى يَوْمِ
الدِّيْنِ.
اَللّٰهُمَّ
يَا
مُنْـزِلَ
الْكِتَابِ
وَمُهْزِمَ
اْلأَحْزَابِ
اِهْزِمِ
اْليَهُوْدَ
وَاَعْوَانَهُمْ
وَصَلِيْبِيِّيْنَ
وَاَنْصَارَهُمْ
وَرَأْسُمَالِيِّيْنَ
وَاِخْوَانَهُمْ
وَاِشْتِرَاكِيِّيْنَ
وَشُيُوْعِيِّيْنَ
وَاَشْيَاعَهُمْ.
اَللّٰهُمَّ
نَجِّ
إِخْوَانَنَا
الْمُؤْمِنِيْنَ
الْمُسْتَضْعَفِيْنَ
فِي
فَلَسْطِيْنَ
وَفِي كُلِّ
مَكَانٍ. اَللّٰهُمَّ
انْصُرْ
إخْوَانَنَا
الْمُجَاهِدِيْنَ
فِي
سَبِيْلِكَ
عَلَى
أَعْدَائِهِمْ.
اَللّٰهُمَّ
إِنَّا
نَسْأَلُكَ
دَوْلَةَ
الْخِلاَفَةِ
عَلَى
مِنْهَاجِ
النُّبُوَّةِ
تُعِزُّ بِهَا
اْلإِسْلاَمَ
وَاَهْلَهُ
وَتُذِلُّ بِهَا
الْكُفْرَ
وَاَهْلَهُ،
وَ اجْعَلْنَا
مِنَ
الْعَامِلِيْنَ
الْمُخْلِصِيْنَ
بِإِقَامَتِهَا
بِإِذْنِكَ
يَا أَرْحَمَ
الرَّاحِمِيْنَ.
اللّٰهُمَّ
ادْفَعْ
عَنَّا
الْغَلَاءَ
وَاْلبَلاَءَ
وَاْلوَبَاءَ
وَالزَّلاَزِلَ
وَاْلمِحَنَ،
وَسُوْءَ
اْلفِتْنَةِ
وَاْلمِحَنَ
مَا ظَهَرَ
مِنْهَا
وَمَا
بَطَنَ، عَنْ
بَلَدِنَا
اِنْدُونِيْسِيَّا
خآصَّةً
وَسَائِرِ
بُلْدَانِ
اْلمُسْلِمِيْنَ
عآمَّةً يَا رَبَّ
اْلعَالَمِيْنَ،
رَبَّنَا
آتِناَ فِى
الدُّنْيَا
حَسَنَةً
وَفِى
اْلآخِرَةِ حَسَنَةً
وَقِنَا
عَذَابَ
النَّارِ،
رَبَّنَا
ظَلَمْنَا
اَنْفُسَنَا
وَإنْ لَمْ تَغْفِرْ
لَنَا
وَتَرْحَمْنَا
لَنَكُوْنَنَّ
مِنَ
اْلخَاسِرِيْنَ.
عِبَادَ
اللهِ ! إِنَّ
اللهَ
يَأْمُرُ
بِاْلعَدْلِ
وَاْلإِحْسَانِ
وَإِيْتآءِ
ذِي
اْلقُرْبىَ
وَيَنْهَى
عَنِ اْلفَحْشآءِ
وَاْلمُنْكَرِ
وَاْلبَغْي
يَعِظُكُمْ
لَعَلَّكُمْ
تَذَكَّرُوْنَ،
وَاذْكُرُوا
اللهَ
اْلعَظِيْمَ
يَذْكُرْكُمْ،
وَاسْأَلُوْهُ
مِنْ
فَضْلِهِ
يُعْطِكُمْ،
وَاشْكُرُوْهُ
عَلىَ
نِعَمِهِ
يَزِدْكُمْ،
وَلَذِكْرُ
اللهِ
أَكْبَرْ
BOARD OF PEACE: JALAN
“DAMAI” YANG MELANGGENGKAN PENJAJAHAN PALESTINA
KHUTBAH PERTAMA
اَلْحَمْدُ
لِلّٰهِ،
نَحْمَدُهُ
وَنَسْتَعِيْنُهُ
وَنَسْتَغْفِرُهُ،
وَنَعُوْذُ
بِاللهِ مِنْ
شُرُوْرِ
أَنْفُسِنَا
وَسَيِّئَاتِ
أَعْمَالِنَا،
مَنْ
يَهْدِهِ اللهُ
فَلَا
مُضِلَّ
لَهُ، وَمَنْ
يُضْلِلْ فَلَا
هَادِيَ لَهُ.
أَشْهَدُ
أَنْ لَا
اِلٰهَ
اِلاَّ اللهُ
وَحْدَهُ
لَاشَرِيْكَ
لَهُ،
شَهَادَةَ
مَنْ هُوَ خَيْرٌ
مَّقَامًا
وَأَحْسَنُ
نَدِيًّا. وَأَشْهَدُ
أَنَّ
سَيِّدَنَا
مُحَمَّدًا عَبْدُهُ
وَرَسُوْلُهُ
الْمُتَّصِفُ
بِالْمَكَارِمِ
كِبَارًا
وَصَبِيًّا.
اللهُمَّ
فَصَلِّ
وَسَلِّمْ
عَلَى سَيِّدِنَا
مُحَمَّدٍ
كَانَ
صَادِقَ
الْوَعْدِ وَكَانَ
رَسُوْلًا
نَبِيًّا، وَعَلَى
آلِهِ
وَصَحْبِهِ
الَّذِيْنَ
يُحْسِنُوْنَ
إِسْلاَمَهُمْ
وَلَمْ
يَفْعَلُوْا
شَيْئًا
فَرِيًّا. أَمَّا
بَعْدُ؛
فَيَا
أَيُّهَا
الْحَاضِرُوْنَ
رَحِمَكُمُ
اللهُ،
اُوْصِيْنِيْ
نَفْسِيْ
وَإِيَّاكُمْ
بِتَقْوَى
اللهِ،
فَقَدْ فَازَ
الْمُتَّقُوْنَ.
قَالَ اللهُ
تَعَالَى:
يٰٓاَيُّهَا
الَّذِيْنَ
اٰمَنُوْا
لَا تَتَّخِذُوا
الْيَهُوْدَ
وَالنَّصٰرٰٓى
اَوْلِيَاۤءَۘ
بَعْضُهُمْ
اَوْلِيَاۤءُ
بَعْضٍۗ
وَمَنْ
يَّتَوَلَّهُمْ
مِّنْكُمْ فَاِنَّهٗ
مِنْهُمْۗ
اِنَّ
اللّٰهَ لَا
يَهْدِى
الْقَوْمَ
الظّٰلِمِيْنَ ٥١
(اَلْمَائِدَةُ)
Alhamdulillâhi
Rabbil ‘Âlamin, Segala puji bagi Allah Subhânahu Wa Ta’âlâ yang
telah menganugerahkan kita nikmat iman dan Islam, serta mempertemukan kita di
tempat yang diberkahi ini. Shalawat dan salam semoga senantiasa tercurah kepada
junjungan kita, Nabi Muhammad Shallallâhu ‘alaihi wasallam, beserta
keluarga, sahabat, dan seluruh umatnya hingga akhir zaman.
Sebagai penyempurna rukun khutbah, saya selaku khatib
tidak bosan-bosannya mengingatkan diri saya pribadi dan seluruh jamaah untuk
selalu mengokohkan iman serta meningkatkan ketakwaan kita kepada Allah Subhânahu Wa Ta’âlâ, sesuai dengan sabda Nabi Muhammad Shallallâhu ‘alaihi wasallam:
اِتَّقِ
اللهَ
حَيْثُمَا
كُنْتَ،
وَأَتْبِعِ
السَّيِّئَةَ
الْحَسَنَةَ
تَمْحُهَا،
وَخَالِقِ
النَّاسَ
بِخُلُقٍ
حَسَنٍ
“Bertakwalah
kepada Allah di mana pun engkau berada. Iringilah perbuatan buruk dengan
perbuatan baik, niscaya kebaikan itu akan menghapus (kesalahan)nya. Dan
bergaullah dengan manusia dengan akhlak yang baik.” (HR. Tirmidzi).
Allah Subhânahu
Wa Ta’âlâ berfirman:
وَتَزَوَّدُوْا
فَاِنَّ
خَيْرَ
الزَّادِ التَّقْوٰىۖ
وَاتَّقُوْنِ
يٰٓاُولِى
الْاَلْبَابِ
“Dan
berbekallah kalian, dan sebaik-baik bekal adalah takwa. Bertakwalah kepada-Ku
wahai orang-orang yang berakal” (QS. Al-Baqarah [2]: 197).
Allah Subhânahu
Wa Ta’âlâ juga berfirman:
يٰٓاَيُّهَا
الَّذِيْنَ
اٰمَنُوا
اتَّقُوا
اللّٰهَ
حَقَّ
تُقٰىتِهٖ
وَلَا
تَمُوْتُنَّ
اِلَّا
وَاَنْتُمْ
مُّسْلِمُوْنَ
“Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada
Allah dengan sebenar-benar takwa kepada-Nya dan janganlah kamu mati kecuali
dalam keadaan muslim.”
(QS. Âli
Imrân
[3]: 102).
Sungguh takwa adalah
benteng terakhir kita di tengah kehidupan akhir zaman saat ini. Dan sungguh,
hanya dengan takwa kita akan selamat di dunia dan akhirat.
Ma’âsyiral Muslimîn rahimakumullâh,
Tidak setiap jalan yang diberi nama “damai” benar-benar
menuju keadilan. Sejarah menunjukkan, penjajahan kerap dibungkus dengan
istilah-istilah indah agar ketidakadilan tampak dapat diterima. Dalam konteks
ini, umat Islam kembali dikejutkan oleh gagasan “Board of Peace (BoP)”
atau Dewan Perdamaian yang dipromosikan Amerika Serikat sebagai solusi konflik
Gaza, diinisiasi dan dipimpin Amerika di bawah Donald Trump. Meski berlabel “peace”,
istilah perdamaian, stabilisasi, dan rekonstruksi sering menjadi kedok proyek
penjajahan gaya baru, sebagaimana yang terjadi di Palestina.
Ironisnya, Indonesia dikabarkan menjadi anggota Dewan
itu. Keterlibatan ini berpotensi menyeret Indonesia ikut menjamin skema
penjajahan tersebut. Netralitas semu dan diplomasi tanpa prinsip justru
berisiko memperpanjang penderitaan rakyat Palestina serta menjadikan Indonesia
stempel legitimasi bagi agenda yang merugikan umat Islam sendiri.
Ma’âsyiral Muslimîn rahimakumullâh,
Sejarah kerap berulang dengan wajah baru, ketika penjajah
tampil sebagai “penjaga perdamaian” untuk melanggengkan kezaliman. Board of
Peace (BoP) digagas dan dipimpin oleh Amerika Serikat (AS), negara dengan
rekam jejak panjang invasi, kudeta, dan penghancuran negeri-negeri Muslim
seperti Afganistan, Irak, Libya, Suriah, dan Sudan.
Meski diklaim bertujuan mengelola transisi Gaza pasca
konflik, menjaga stabilitas, dan mencegah kekerasan berulang, struktur serta
kewenangan Dewan bentukan Amerika itu justru mengarah pada pengambilalihan
kendali Gaza oleh pihak asing—sebuah ironi besar bagi Dunia Islam, ketika
penjajah berperan sebagai juru damai, padahal Allah Subhânahu Wa Ta’âlâ telah
mengingatkan,
وَلَنْ
يَّجْعَلَ
اللّٰهُ
لِلْكٰفِرِيْنَ
عَلَى
الْمُؤْمِنِيْنَ
سَبِيْلًا
”Allah sekali-kali tidak akan pernah memberikan jalan bagi kafir untuk
menguasai kaum Mukmin.” (QS. an-Nisâ’ [4]: 141).
Sejak awal Dewan itu dikendalikan negara-negara penjajah,
sementara negara Muslim hanya dijadikan legitimasi. Tentu ada sejumlah catatan
kritikal terhadap Dewan ini.
Pertama, Dewan ini merampas
hak rakyat Gaza dengan membentuk Dewan Eksekutif yang menyingkirkan kedaulatan
Palestina—ini penjajahan gaya baru.
Kedua, Dewan ini mendorong
pelucutan senjata rakyat Gaza, termasuk Hamas, sementara penjajah tetap
bersenjata; keamanan Muslim pun diserahkan kepada musuhnya sendiri,
bertentangan dengan legitimasi syar’i pembelaan diri sebagaimana sabda
Rasulullah Shallallâhu ‘alaihi wasallam tentang kemuliaan syahid bagi
yang terbunuh membela harta, keluarga, jiwa, dan agama:
مَنْ
قُتلَ دُونَ
مالِهِ
فَهُوَ
شَهيدٌ، وَمنْ
قُتِلَ دُونَ
دِينِهِ
فَهُوَ
شَهيدٌ، وَمَن
قُتِلَ دُونَ
دَمِهِ
فَهُوَ
شَهيدٌ، وَمَنْ
قُتِل دونَ
أهلِهِ
فَهُوَ
شَهِيدٌ
“Barangsiapa yang terbunuh karena membela hartanya maka
dia syahid, siapa yang terbunuh karena membela agamanya termasuk syahid, siapa
yang mati terbunuh karena membela dirinya termasuk syahid, orang yang terbunuh
membela keluarganya termasuk syahid.” (HR. at-Tirmidzi).
Ketiga, Dewan ini tidak
melibatkan rakyat Palestina, tetapi justru memasukkan Zionis Yahudi sebagai
anggota.
Keempat, Dewan ini
mempertahankan eksistensi Israel tanpa tuntutan pembongkaran negara penjajah
atau pengembalian tanah Palestina.
Kelima, keterlibatan
pemimpin Muslim dalam Dewan ini merupakan pengkhianatan terhadap Palestina,
karena duduk bersama penjajah yang mengamankan kezaliman, padahal Allah Subhânahu
Wa Ta’âlâ berfirman;
يٰٓاَيُّهَا
الَّذِيْنَ
اٰمَنُوْا
لَا تَتَّخِذُوا
الْيَهُوْدَ
وَالنَّصٰرٰٓى
اَوْلِيَاۤءَۘ
”Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kalian menjadikan Yahudi dan
Nasrani sebagai pemimpin” (QS. al-Mâidah
[5]: 51).
Ma’âsyiral Muslimîn rahimakumullâh,
Sepanjang sejarah, penjajahan tidak pernah runtuh oleh
perundingan yang timpang. Ketika keadilan dikendalikan oleh pihak penindas,
maka “solusi damai” sering kali hanya menjadi cara baru untuk melanggengkan
penjajahan itu sendiri.
Penjajahan di Palestina tidak akan berakhir melalui meja
negosiasi internasional yang dikuasai penjajah. Solusi satu-satunya adalah
dengan mengusir Zionis Yahudi dari Palestina dengan jihad. Jihad inilah yang
telah Allah Subhânahu Wa Ta’âlâ perintahkan:
وَاقْتُلُوْهُمْ
حَيْثُ
ثَقِفْتُمُوْهُمْ
وَاَخْرِجُوْهُمْ
مِّنْ حَيْثُ
اَخْرَجُوْكُمْ
”Perangilah kaum kafir itu di mana saja kalian temui mereka dan usirlah
mereka dari tempat mana saja mereka telah mengusir kalian...” (QS al-Baqarah
[2]: 191).
Pada ujung ayat ini Allah Subhânahu Wa Ta’âlâ lalu
menegaskan:
فَاِنْ
قٰتَلُوْكُمْ
فَاقْتُلُوْهُمْۗ
كَذٰلِكَ
جَزَاۤءُ
الْكٰفِرِيْنَ
”Jika mereka memerangi kalian maka perangilah mereka. Demikianlah balasan
setimpal bagi kaum kafir.” (QS. al-Baqarah [2]: 191).
Cukup dengan mengerahkan ratusan ribu tentara Muslim dari
negara-negara Arab saja, tentu sangat mudah berjihad untuk menumpas sekaligus
mengusir Zionis Yahudi dari Bumi Palestina.
Lemahnya posisi umat hari ini disebabkan ketiadaan
institusi pemersatu global. Dalam politik Islam, peran itu dijalankan oleh
Khilafah. Rasulullah Shallallâhu ‘alaihi wasallam bersabda;
إِنَّمَا
الْإِمَامُ
جُنَّةٌ
”Imam (Khalifah) adalah perisai (pelindung)...” (HR al-Bukhari
dan Muslim).
Imam an-Nawawi menjelaskan: (Imam/Khalifah itu) seperti
pelindung. Sebabnya, ia menghalangi musuh untuk menyakiti kaum Muslim serta
melindungi kemuliaan Islam Islam (An-Nawawi, Syarh an-Nawawi ‘alaa Muslim,
6/315).
Sejarah mencatat bahwa kekuatan umat terjaga ketika ada
kepemimpinan yang tegas dan melindungi kehormatan Islam.
Faktanya, sepanjang sejarah, kemuliaan Islam serta darah
dan kehormatan kaum Muslim benar-benar terjaga pada era Khilafah. Pada masa
Khalifah Harun ar-Rasyid, ketegasan ditunjukkan ketika Kaisar Bizantium
Nikephoros I meremehkan dan menolak membayar jizyah; sang Khalifah membalas
dengan surat keras dan segera memimpin pasukan hingga Romawi kembali tunduk (Al-Khathib
al-Baghdadi; Ibnu Katsir).
Keteladanan serupa tampak pada Khalifah al-Mu‘taṣim Billah yang
merespons penderitaan seorang Muslimah di Amuriyah dengan mengerahkan pasukan
besar, menaklukkan wilayah tersebut, dan membebaskan kaum Muslim (Ath-Thabari;
Ibnu Katsir).
Pada era Khilafah Utsmaniyah, Sultan Abdul Hamid II
menunjukkan keteguhan dengan menolak tawaran Theodor Herzl untuk menyerahkan
tanah Palestina, menegaskan bahwa Palestina adalah milik umat Islam (Muhammad
Harb).
Ketegasan ini juga tampak saat beliau mengancam
penghentian pementasan drama yang menghina Nabi saw. di Prancis hingga rencana
itu dibatalkan (Stanford J. Shaw). Bahkan, pada abad ke-18, Amerika
tercatat membayar jizyah kepada Khilafah Utsmaniyah agar kapal-kapalnya aman
melintas di Afrika Utara, sebagaimana diakui dalam Treaty of Tripoli (1796) (Frank
Lambert).
Ma’âsyiral Muslimîn rahimakumullâh,
Fakta-fakta ini membuktikan satu hal: Khilafah bukan
sekadar simbol. Ia adalah institusi pemerintahan Islam global. Sepanjang
sejarahnya, Khilafah mampu memelihara
kemuliaan Islam serta melindungi kehormatan dan darah kaum Muslim.
Alhasil, di tengah ancaman global AS dan Barat yang makin
meningkat atas Dunia Islam saat ini, juga di tengah kegagalan para pemimpin
Muslim selama 78 tahun untuk membebaskan Palestina hingga hari ini, cita-cita
untuk mendirikan kembali Khilafah adalah pilihan rasional. Apalagi Khilafah
adalah bagian penting dari syariah Islam.
WalLâhu a’lam bi ash-shawâb.
Demikianlah yang
dapat saya sampaikan dalam khutbah Jum’at pada kesempatan kali ini. Ketahuilah
bahwa segala kesempurnaan hanya milik Allah Subhânahu wa Ta‘âlâ. Apa pun
yang benar dari apa yang saya sampaikan adalah semata-mata berkat petunjuk-Nya
melalui Rasul-Nya, maka marilah kita berpegang teguh kepadanya. Adapun segala
kekeliruan adalah berasal dari kekurangan pemahaman saya pribadi; marilah kita
tinggalkan dan semoga Anda semua berkenan melimpahkan keluasan maaf.
Sebagai penutup,
mari kita akhiri khutbah ini dengan berdoa bersama. Semoga kita semua
senantiasa dianugerahi kesehatan lahir dan batin, serta keberkahan dunia dan
akhirat. Semoga Allah memberi kita hidayah, inayah, dan kekuatan, sehingga kita
dapat menjadi bagian dari para dai yang selalu bersungguh-sungguh menegakkan
syariat Islam secara kaffah, meneladani Nabi Muhammad Shallallâhu ‘Alaihi Wasallam hingga akhir hayat dalam keadaan husnul khâtimah.
Âmîn yâ Rabbal-‘âlamîn.[]
بَارَكَ
اللهُ لِيْ
وَلَكُمْ فِى
اْلقُرْآنِ
اْلعَظِيْمِ،
وَنَفَعَنِيْ
وَإِيَّاكُمْ
بِمَا فِيْهِ
مِنَ
الْآيَاتِ
وَالذِّكْرِ
الْحَكِيمِ
وَتَقَبَّلَ
اللهُ مِنَّا
وَمِنْكُمْ
تِلاَوَتَهُ
وَإِنَّهُ
هُوَ
السَّمِيْعُ
العَلِيْمُ،
وَأَقُوْلُ
قَوْلِيْ
هَذَا
فَأسْتَغْفِرُ
اللهَ
العَظِيْمَ
إِنَّهُ هُوَ
الغَفُوْرُ
الرَّحِيْمُ
KHUTBAH
KEDUA
اَلْحَمْدُ
لِلّٰهِ عَلىَ
إِحْسَانِهِ،
وَالشُّكْرُ
لَهُ عَلَى
تَوْفِيْقِهِ
وَاِمْتِنَانِهِ،
وَأَشْهَدُ
أَنْ لاَ
اِلٰهَ
إِلاَّ اللهُ
وَحْدَهُ لاَ
شَرِيْكَ
لَهُ،
وَأَشْهَدُ
أنَّ سَيِّدَنَا
مُحَمَّدًا
عَبْدُهُ
وَرَسُوْلُهُ
الدَّاعِى
إِلَى
رِضْوَانِهِ،
اللّٰهُمَّ صَلِّ
عَلَى
سَيِّدِنَا
مُحَمَّدٍ
وَعَلَى
اٰلِهِ
وَأَصْحَابِهِ
وَسَلِّمْ
تَسْلِيْمًا
كَثِيْرًا. أَمَّا
بَعْدُ؛
فَياَ
اَيُّهَا
النَّاسُ اِتَّقُواللّٰهَ
فِيْمَا
أَمَرَ
وَانْتَهُوْا
عَمَّا نَهَى
وَاعْلَمُوْا
أَنَّ اللهَ
أَمَرَكُمْ
بِأَمْرٍ
بَدَأَ
فِيْهِ بِنَفْسِهِ
وَثَـنَّى
بِمَلآ
ئِكَتِهِ
الْمُسَبِّحَةِ
بِقُدْسِهِ،
وَقَالَ
تَعاَلَى:
إِنَّ اللهَ
وَمَلآئِكَتَهُ
يُصَلُّوْنَ
عَلىَ النَّبِى
يآ اَيُّهَا
الَّذِيْنَ
آمَنُوْا
صَلُّوْا
عَلَيْهِ
وَسَلِّمُوْا
تَسْلِيْمًا. اللهُمَّ
صَلِّ عَلَى
سَيِّدِنَا
مُحَمَّدٍ
وَعَلَى آلِ
سَيِّدِناَ
مُحَمَّدٍ،
وَعَلَى
اَنْبِيآئِكَ
وَرُسُلِكَ
وَمَلآئِكَةِ
اْلمُقَرَّبِيْنَ،
وَارْضَ اللّٰهُمَّ
عَنِ
اْلخُلَفَاءِ
الرَّاشِدِيْنَ،
أَبِى بَكْرٍ
وَعُمَرَ
وَعُثْمَانَ
وَعَلِي، وَعَنْ
بَقِيَّةِ
الصَّحَابَةِ
وَالتَّابِعِيْنَ،
وَتَابِعِي
التَّابِعِيْنَ
لَهُمْ
بِاِحْسَانٍ
اِلَى يَوْمِ
الدِّيْنِ،
وَارْضَ
عَنَّا
مَعَهُمْ
بِرَحْمَتِكَ
يَا أَرْحَمَ
الرَّاحِمِيْنَ.
اَللّٰهُمَّ
اغْفِرْ
لِلْمُؤْمِنِيْنَ
وَاْلمُؤْمِنَاتِ
وَاْلمُسْلِمِيْنَ
وَاْلمُسْلِمَاتِ
اَلاَحْيآءَ
مِنْهُمْ
وَاْلاَمْوَاتِ،
اللّٰهُمَّ أَعِزَّ
اْلإِسْلاَمَ
وَاْلمُسْلِمِيْنَ،
وَأَذِلَّ
الشِّرْكَ
وَاْلمُشْرِكِيْنَ،
وَانْصُرْ
عِبَادَكَ
اْلمُوَحِّدِيْنَ،
وَانْصُرْ
مَنْ نَصَرَ
الدِّيْنَ،
وَاخْذُلْ
مَنْ خَذَلَ
اْلمُسْلِمِيْنَ،
وَدَمِّرْ
أَعْدَاءَ
الدِّيْنِ،
وَاعْلِ كَلِمَاتِكَ
إِلَى يَوْمِ
الدِّيْنِ.
اَللّٰهُمَّ
يَا
مُنْـزِلَ
الْكِتَابِ
وَمُهْزِمَ
اْلأَحْزَابِ
اِهْزِمِ
اْليَهُوْدَ
وَاَعْوَانَهُمْ
وَصَلِيْبِيِّيْنَ
وَاَنْصَارَهُمْ
وَرَأْسُمَالِيِّيْنَ
وَاِخْوَانَهُمْ
وَاِشْتِرَاكِيِّيْنَ
وَشُيُوْعِيِّيْنَ
وَاَشْيَاعَهُمْ.
اَللّٰهُمَّ
نَجِّ
إِخْوَانَنَا
الْمُؤْمِنِيْنَ
الْمُسْتَضْعَفِيْنَ
فِي
فَلَسْطِيْنَ
وَفِي كُلِّ
مَكَانٍ. اَللّٰهُمَّ
انْصُرْ
إخْوَانَنَا
الْمُجَاهِدِيْنَ
فِي
سَبِيْلِكَ
عَلَى
أَعْدَائِهِمْ.
اَللّٰهُمَّ
إِنَّا
نَسْأَلُكَ
دَوْلَةَ
الْخِلاَفَةِ
عَلَى
مِنْهَاجِ
النُّبُوَّةِ
تُعِزُّ بِهَا
اْلإِسْلاَمَ
وَاَهْلَهُ
وَتُذِلُّ بِهَا
الْكُفْرَ
وَاَهْلَهُ،
وَ اجْعَلْنَا
مِنَ
الْعَامِلِيْنَ
الْمُخْلِصِيْنَ
بِإِقَامَتِهَا
بِإِذْنِكَ
يَا أَرْحَمَ
الرَّاحِمِيْنَ.
اللّٰهُمَّ
ادْفَعْ
عَنَّا
الْغَلَاءَ
وَاْلبَلاَءَ
وَاْلوَبَاءَ
وَالزَّلاَزِلَ
وَاْلمِحَنَ،
وَسُوْءَ
اْلفِتْنَةِ
وَاْلمِحَنَ
مَا ظَهَرَ
مِنْهَا
وَمَا
بَطَنَ، عَنْ
بَلَدِنَا
اِنْدُونِيْسِيَّا
خآصَّةً
وَسَائِرِ
بُلْدَانِ
اْلمُسْلِمِيْنَ
عآمَّةً يَا رَبَّ
اْلعَالَمِيْنَ،
رَبَّنَا
آتِناَ فِى
الدُّنْيَا
حَسَنَةً
وَفِى
اْلآخِرَةِ حَسَنَةً
وَقِنَا
عَذَابَ
النَّارِ،
رَبَّنَا
ظَلَمْنَا
اَنْفُسَنَا
وَإنْ لَمْ تَغْفِرْ
لَنَا
وَتَرْحَمْنَا
لَنَكُوْنَنَّ
مِنَ
اْلخَاسِرِيْنَ.
عِبَادَ
اللهِ ! إِنَّ
اللهَ
يَأْمُرُ
بِاْلعَدْلِ
وَاْلإِحْسَانِ
وَإِيْتآءِ
ذِي
اْلقُرْبىَ
وَيَنْهَى
عَنِ اْلفَحْشآءِ
وَاْلمُنْكَرِ
وَاْلبَغْي
يَعِظُكُمْ
لَعَلَّكُمْ
تَذَكَّرُوْنَ،
وَاذْكُرُوا
اللهَ
اْلعَظِيْمَ
يَذْكُرْكُمْ،
وَاسْأَلُوْهُ
مِنْ
فَضْلِهِ
يُعْطِكُمْ،
وَاشْكُرُوْهُ
عَلىَ
نِعَمِهِ
يَزِدْكُمْ،
وَلَذِكْرُ
اللهِ
أَكْبَرْ