KHUTBAH PERTAMA
اللّٰهُمَّ
صَلِّ
وَسَلِّمْ
عَلَى سَيِّدِنَا
مُحَمَّدٍ
النَّبِيِّ
الْأُمِّيِّ،
الصَّادِقِ
الْأَمِيْنِ،
وَعَلَى
آلِهِ وَصَحْبِهِ
الَّذِيْنَ
حَسُنَ
إِسْلَامُهُمْ.
أَمَّا
بَعْدُ؛
فَيَا
أَيُّهَا
الْحَاضِرُوْنَ
رَحِمَكُمُ
اللهُ،
أُوْصِيْ نَفْسِيْ
وَإِيَّاكُمْ
بِتَقْوَى
اللهِ، فَقَدْ
فَازَ
الْمُتَّقُوْنَ.
قَالَ اللهُ
تَعَالَى: وَاِنْ
تُطِعْ
اَكْثَرَ
مَنْ فِى
الْاَرْضِ
يُضِلُّوْكَ
عَنْ
سَبِيْلِ
اللّٰهِۗ اِنْ
يَّتَّبِعُوْنَ
اِلَّا
الظَّنَّ
وَاِنْ هُمْ
اِلَّا
يَخْرُصُوْنَ ١١٦
(اَلْأنْعَامُ)
Alhamdulillâhi Rabbil ‘Âlamîn, segala puji bagi
Allah Subhânahu Wa Ta’âlâ yang telah menganugerahkan kita nikmat iman
dan Islam, serta mempertemukan kita di tempat yang diberkahi ini. Shalawat dan
salam semoga senantiasa tercurah kepada junjungan kita, Nabi Muhammad Shallallâhu
‘alaihi wasallam, beserta keluarga, sahabat, dan seluruh umatnya hingga
akhir zaman.
Bertakwalah kepada Allah Subhânahu Wa Ta’âlâ
dengan sebenar-benarnya takwa sebagaimana firman-Nya:
يٰٓاَيُّهَا
الَّذِيْنَ
اٰمَنُوا
اتَّقُوا
اللّٰهَ
حَقَّ
تُقٰىتِه
وَلَا
تَمُوْتُنَّ
اِلَّا
وَاَنْتُمْ
مُّسْلِمُوْنَ
“Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dengan
sebenar-benar takwa kepada-Nya dan janganlah kamu mati kecuali dalam keadaan muslim.” (QS. Âli Imrân
[3]: 102)
Sungguh takwa adalah benteng terakhir kita di tengah
kehidupan akhir zaman saat ini. Dan sungguh, hanya dengan takwa kita akan
selamat di dunia dan akhirat.
Ma’âsyiral Muslimîn rahimakumullâh,
Di tengah derasnya arus informasi dan media sosial,
masyarakat kini lebih mudah terpengaruh oleh opini yang viral daripada fakta.
Menteri Agama Nasaruddin Umar menyatakan bahwa menjadi tokoh agama di era
post-truth, yakni ketika opini dan perasaan lebih dipercaya daripada fakta,
tidaklah mudah. Menurutnya, jika dulu masyarakat cenderung mengikuti nasihat
tokoh agama, kini pengaruh opini publik, media, dan berbagai sumber informasi
lain sering lebih dominan. Karena itu, para intelektual dan tokoh agama dituntut
memiliki kemampuan tambahan agar tetap relevan di tengah masyarakat yang
semakin rasional dan liberal (Tribunnews.com, 31/5/2026).
Pandangan tersebut muncul karena perkembangan teknologi
informasi dan media sosial telah mengubah cara masyarakat memperoleh informasi.
Dalam era post-truth, sesuatu yang viral sering dianggap benar meskipun
belum tentu didukung fakta yang kuat. Emosi, persepsi, dan opini kerap lebih
mempengaruhi masyarakat daripada kebenaran objektif. Karena itu, banyak orang
lebih percaya pada konten media sosial, influencer, atau opini yang sedang tren
daripada pendapat ulama. Namun, meskipun kemampuan komunikasi publik penting,
persoalan umat hari ini tidak cukup dijelaskan hanya sebagai masalah komunikasi
karena hal itu belum menyentuh akar persoalan yang sebenarnya.
Ma’âsyiral Muslimîn rahimakumullâh,
Lalu, bagaimana Islam memandang fenomena post-truth
yang banyak dibicarakan saat ini?
Al-Qur'an telah mengingatkan bahwa mengikuti pendapat
mayoritas tanpa dasar yang benar dapat menyesatkan manusia dari jalan Allah Subhanahu
wata’ala:
وَاِنْ
تُطِعْ
اَكْثَرَ
مَنْ فِى
الْاَرْضِ
يُضِلُّوْكَ
عَنْ
سَبِيْلِ
اللّٰهِۗ اِنْ
يَّتَّبِعُوْنَ
اِلَّا
الظَّنَّ
"Jika kamu
mengikuti kebanyakan manusia di muka bumi, niscaya mereka akan menyesatkan kamu
dari jalan Allah. Mereka tidak mengikuti kecuali hanya prasangka saja" (QS. al-An'âm [6]: 116).
Allah Subhanahu wata’ala juga memerintahkan kaum beriman
untuk meneliti setiap berita yang datang kepada mereka. Firman-Nya:
يٰٓاَيُّهَا
الَّذِيْنَ
اٰمَنُوْٓا
اِنْ جَاۤءَكُمْ
فَاسِقٌۢ
بِنَبَاٍ
فَتَبَيَّنُوْٓا
“Wahai orang-orang yang beriman, jika datang kepada kalian seorang fasik
membawa berita, maka telitilah terlebih dulu” (QS. al-Hujurât
[49]: 6).
Karena itu, solusi terhadap fenomena post-truth
bukan sekadar meningkatkan kemampuan komunikasi, tetapi membangun masyarakat
yang menjadikan wahyu sebagai standar kebenaran. Dengan demikian, benar dan
salah tidak diukur oleh banyaknya like, share, atau view, juga
bukan oleh suara mayoritas, melainkan oleh al-Qur'an dan as-Sunnah.
Al-Qur'an merupakan satu-satunya standar kebenaran karena
merupakan wahyu Allah Subhanahu wata’ala yang diturunkan sebagai petunjuk hidup
manusia (QS. al-Baqarah [2]: 2), dijamin keasliannya oleh Allah Subhanahu
wata’ala:
اِنَّا
نَحْنُ
نَزَّلْنَا
الذِّكْرَ
وَاِنَّا
لَهٗ
لَحٰفِظُوْنَ
“Sesungguhnya
Kamilah yang menurunkan Al-Qur’an dan pasti Kami (pula) yang memeliharanya” (QS. al-Hijr
[15]: 9), serta menjelaskan seluruh kebutuhan hidup manusia:
وَنَزَّلْنَا
عَلَيْكَ
الْكِتٰبَ
تِبْيَانًا
لِّكُلِّ
شَيْءٍ
“Kami turunkan
Kitab (Al-Qur’an) kepadamu untuk menjelaskan segala sesuatu“ (QS. an-Nahl
[16]: 89).
Karena itu, siapa saja yang mengikuti petunjuk Allah
tidak akan sesat dan celaka, sedangkan orang yang berpaling dari al-Qur'an akan
menjalani kehidupan yang sempit sebagaimana firman-nya:
فَمَنِ
اتَّبَعَ
هُدَايَ
فَلَا
يَضِلُّ وَلَا
يَشْقٰى وَمَنْ
اَعْرَضَ
عَنْ
ذِكْرِيْ
فَاِنَّ لَهٗ
مَعِيْشَةً
ضَنْكًا
“Siapa saja yang mengikuti petunjuk-Ku maka dia tidak akan sesat dan tidak
akan celaka. Sebaliknya, siapa saja yang berpaling dari peringatan-Ku (Al-Qur’an)
maka sungguh bagi dia kehidupan yang sempit” (QS. Thâhâ [20]:
123–124).
Namun, sangat disayangkan, saat ini umat Islam, terutama
para penguasanya, justru semakin jauh dari petunjuk al-Qur'an.
Ma’âsyiral Muslimîn rahimakumullâh,
Akar persoalan umat hari ini tidak dapat dilepaskan dari
sistem kehidupan yang membentuk cara berpikir, perasaan, dan perilaku
masyarakat. Syaikh Taqiyuddin an-Nabhani menjelaskan bahwa masyarakat dibangun
oleh tiga unsur: pemikiran (afkaar), perasaan (masyaa'ir), dan
aturan kehidupan (anzhimah). Ketika ketiga unsur tersebut bersumber dari
Islam, lahirlah masyarakat Islam. Sebaliknya, jika bersumber dari Kapitalisme
yang berasaskan sekularisme, lahirlah masyarakat kapitalistik meskipun
mayoritas penduduknya Muslim. Karena itu, tidak mengherankan jika opini media
sosial sering lebih dipercaya daripada nasihat ulama, sebab masyarakat setiap
hari dibentuk oleh sistem kehidupan kapitalis-sekuler.
Karena itu, dakwah kepada masyarakat tetap wajib
dilakukan. Allah Subhanahu wata’ala berfirman:
وَلْتَكُنْ
مِّنْكُمْ
اُمَّةٌ
يَّدْعُوْنَ
اِلَى
الْخَيْرِ
وَيَأْمُرُوْنَ
بِالْمَعْرُوْفِ
وَيَنْهَوْنَ
عَنِ
الْمُنْكَرِۗ
وَاُولٰۤىِٕكَ
هُمُ
الْمُفْلِحُوْنَ
“Hendaklah ada segolongan umat yang menyerukan kebajikan (Islam) dan
melakukan amar makruf nahi mungkar. Merekalah kaum yang beruntung” (QS. Âli Imrân
[3]: 104).
Rasulullah ﷺ juga bersabda:
مَنْ
رَأَى
مِنْكُمْ
مُنْكَرًا
فَلْيُغَيِّرْهُ
بِيَدِهِ
فَإِنْ لَمْ
يَسْتَطِعْ فَبِلِسَانِهِ
“Siapa saja di antara kalian melihat kemungkaran, hendaklah ia mengubah
(kemungkaran itu) dengan tangannya. Jika tidak mampu maka (ubahlah kemungkaran
itu) dengan lisannya” (HR. Muslim).
Namun, dakwah kepada individu saja tidak cukup jika
sistem yang mengatur kehidupan tetap mempertahankan Kapitalisme-sekuler. Ibarat
membersihkan air di hilir sungai, sementara dari hulunya terus mengalir limbah
dan kotoran.
Karena itulah Rasulullah ﷺ tidak hanya membina individu-individu di Makkah,
tetapi juga menegakkan Negara Islam di Madinah agar syariah Islam dapat
diterapkan secara sempurna. Para ulama pun mewajibkan adanya kekuasaan yang
menjaga dan menerapkan ajaran Islam. Imam al-Ghazali menegaskan,
الدِّينُ
أُسٌّ
وَالسُّلْطَانُ
حَارِسٌ، وَمَا
لَا أُسَّ
لَهُ
فَمَهْدُومٌ،
وَمَا لَا
حَارِسَ لَهُ
فَضَائِعٌ
“Agama adalah fondasi dan kekuasaan adalah penjaganya. Apa saja yang tidak
memiliki fondasi akan runtuh dan apa saja yang tidak memiliki penjaga akan
binasa.” (Al-Iqtishaad
fii al-I’tiqaad, 1/76). Pernyataan ini
relevan dengan kondisi saat ini, ketika dakwah harus berhadapan dengan sistem
pendidikan, media, ekonomi, hukum, dan kebijakan negara yang membentuk
masyarakat setiap hari.
Karena itu, solusi hakiki atas krisis umat adalah
mengembalikan al-Qur'an sebagai pemimpin kehidupan. Ketika al-Qur'an memimpin
pemikiran, perasaan, dan aturan hidup manusia, akan lahir masyarakat yang
menjadikan ridha Allah Subhanahu wata’ala sebagai tujuan hidupnya. Sebaliknya,
selama Kapitalisme-sekuler tetap menjadi dasar kehidupan, pemikiran dan
perilaku masyarakat akan terus dibentuk oleh ideologi tersebut. Inilah sebabnya
umat harus dipimpin oleh wahyu Allah Subhanahu wata’ala, bukan oleh hawa nafsu atau
ideologi buatan manusia, karena hanya wahyu-Nya yang mampu membimbing manusia
menuju kebahagiaan di dunia dan keselamatan di akhirat. Wallâhu a‘lam
bish-shawâb.[]
بَارَكَ
اللهُ لِيْ
وَلَكُمْ فِى
الْقُرْآنِ
الْعَظِيْمِ،
وَنَفَعَنِيْ
وَإِيَّاكُمْ
بِمَا فِيْهِ
مِنَ
الْآيَاتِ
وَالذِّكْرِ
الْحَكِيْمِ،
وَتَقَبَّلَ
مِنَّا
وَمِنْكُمْ
تِلَاوَتَهُ
وَإِنَّهُ
هُوَ
السَّمِيْعُ
الْعَلِيْمُ.
أَقُوْلُ
قَوْلِيْ
هَذَا،
وَأَسْتَغْفِرُ
اللهَ
الْعَظِيْمَ
لِيْ
وَلَكُمْ،
إِنَّهُ هُوَ
الْغَفُوْرُ
الرَّحِيْمُ
KHUTBAH
KEDUA
اَلْحَمْدُ
لِلّٰهِ
عَلَى
إِحْسَانِهِ،
وَالشُّكْرُ
لَهُ عَلَى
تَوْفِيْقِهِ
وَامْتِنَانِهِ.
وَأَشْهَدُ
أَنْ لَا
إِلٰهَ إِلَّا
اللهُ
وَحْدَهُ لَا
شَرِيْكَ
لَهُ، وَأَشْهَدُ
أنَّ
سَيِّدَنَا
مُحَمَّدًا
عَبْدُهُ
وَرَسُوْلُهُ
الدَّاعِى
إِلَى رِضْوَانِهِ.
اللّٰهُمَّ
صَلِّ عَلَى
سَيِّدِنَا
مُحَمَّدٍ
وَعَلَى
آلِهِ
وَأَصْحَابِهِ
وَسَلِّمْ
تَسْلِيْمًا
كَثِيْرًا.
أَمَّا
بَعْدُ؛
فَياَ
أَيُّهَا
النَّاسُ اتَّقُوا
اللّٰهَ
فِيْمَا
أَمَرَ
وَانْتَهُوْا
عَمَّا
نَهَى،
وَاعْلَمُوْا
أَنَّ اللهَ
أَمَرَكُمْ
بِأَمْرٍ
بَدَأَ
فِيْهِ بِنَفْسِهِ
وَثَنَّى
بِمَلَائِكَتِهِ
الْمُسَبِّحَةِ
بِقُدْسِهِ،
وَقَالَ
تَعاَلَى:
إِنَّ اللهَ
وَمَلَائِكَتَهُ
يُصَلُّوْنَ
عَلَى
النَّبِيِّ
يَا أَيُّهَا
الَّذِيْنَ
آمَنُوْا
صَلُّوْا
عَلَيْهِ
وَسَلِّمُوْا
تَسْلِيْمًا.
اللّٰهُمَّ
صَلِّ عَلَى
سَيِّدِنَا
مُحَمَّدٍ
وَعَلَى آلِ
سَيِّدِناَ
مُحَمَّدٍ، وَعَلَى
أَنْبِيَائِكَ
وَرُسُلِكَ
وَمَلَائِكَتِكَ
الْمُقَرَّبِيْنَ،
وَارْضَ اللّٰهُمَّ
عَنِ
الْخُلَفَاءِ
الرَّاشِدِيْنَ،
أَبِى بَكْرٍ
وَعُمَرَ
وَعُثْمَانَ
وَعَلِيٍّ،
وَعَنْ
بَقِيَّةِ
الصَّحَابَةِ
وَالتَّابِعِيْنَ،
وَالتَّابِعِيْنَ
لَهُمْ
بِإِحْسَانٍ
اِلَى يَوْمِ
الدِّيْنِ،
وَارْضَ
عَنَّا
مَعَهُمْ
بِرَحْمَتِكَ
يَا أَرْحَمَ
الرَّاحِمِيْنَ.
اَللّٰهُمَّ
اغْفِرْ
لِلْمُؤْمِنِيْنَ
وَالْمُؤْمِنَاتِ
وَالْمُسْلِمِيْنَ
وَالْمُسْلِمَاتِ
الْأَحْيَاءِ
مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ.
اللّٰهُمَّ
أَعِزَّ
الْإِسْلَامَ
وَالْمُسْلِمِيْنَ،
وَأَذِلَّ
الشِّرْكَ
وَالْمُشْرِكِيْنَ،
وَانْصُرْ مَنْ
نَصَرَ
الدِّيْنَ،
وَاخْذُلْ
مَنْ خَذَلَ
الْمُسْلِمِيْنَ،
وَدَمِّرْ
أَعْدَاءَ
الدِّيْنِ،
وَأَعْلِ
كَلِمَاتِكَ
إِلَى يَوْمِ
الدِّيْنِ.
اَللّٰهُمَّ
إِنَّا
نَسْأَلُكَ
دَوْلَةَ الْخِلاَفَةِ
عَلَى
مِنْهَاجِ
النُّبُوَّةِ
تُعِزُّ
بِهَا
الْإِسْلَامَ
وَاَهْلَهُ
وَتُذِلُّ
بِهَا
الْكُفْرَ
وَاَهْلَهُ،
وَاجْعَلْنَا
مِنَ
الْعَامِلِيْنَ
الْمُخْلِصِيْنَ
لِإِقَامَتِهَا
بِإِذْنِكَ يَا
أَرْحَمَ
الرَّاحِمِيْنَ.
اللّٰهُمَّ
ادْفَعْ
عَنَّا
الْغَلَاءَ
وَالْبَلاَءَ
وَالْوَبَاءَ
وَالزَّلَازِلَ
وَالْمِحَنَ،
وَسُوْءَ
الْفِتَنِ
مَا ظَهَرَ
مِنْهَا
وَمَا
بَطَنَ، عَنْ
بَلَدِنَا إِنْدُوْنِيْسِيَا
خَاصَّةً
وَسَائِرِ بُلْدَانِ
الْمُسْلِمِيْنَ
عَامَّةً يَا
رَبَّ
الْعَالَمِيْنَ.
رَبَّنَا
آتِنَا فِى الدُّنْيَا
حَسَنَةً
وَفِى
الْآخِرَةِ
حَسَنَةً
وَقِنَا
عَذَابَ
النَّارِ.
عِبَادَ
اللهِ! إِنَّ
اللهَ
يَأْمُرُ
بِالْعَدْلِ
وَالْإِحْسَانِ
وَإِيْتآءِ
ذِي الْقُرْبَى
وَيَنْهَى
عَنِ
الْفَحْشآءِ
وَالْمُنْكَرِ
وَالْبَغْيِ
يَعِظُكُمْ
لَعَلَّكُمْ
تَذَكَّرُوْنَ،
وَاذْكُرُوا
اللهَ
الْعَظِيْمَ
يَذْكُرْكُمْ،
وَاسْأَلُوْهُ
مِنْ
فَضْلِهِ
يُعْطِكُمْ،
وَاشْكُرُوْهُ
عَلَى
نِعَمِهِ
يَزِدْكُمْ،
وَلَذِكْرُ
اللهِ
أَكْبَرْ.



