Seruan Masjid

Khadimul Ummah wa Du'at

UMAT HARUS DIPIMPIN AL-QUR’AN

UMAT HARUS DIPIMPIN AL-QUR’AN

UMAT HARUS DIPIMPIN AL-QUR’AN

UMAT HARUS DIPIMPIN AL-QUR’AN

 

KHUTBAH PERTAMA

 

إِنَّ الْحَمْدَ لِلّٰهِ، نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَسَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، شَهَادَةً تُنْجِيْ قَائِلَهَا مِنَ النَّارِ. وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الْمُتَّصِفُ بِالْمَكَارِمِ كَبِيْرًا وَصَبِيًّا.

اللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ النَّبِيِّ الْأُمِّيِّ، الصَّادِقِ الْأَمِيْنِ، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ الَّذِيْنَ حَسُنَ إِسْلَامُهُمْ. أَمَّا بَعْدُ؛ فَيَا أَيُّهَا الْحَاضِرُوْنَ رَحِمَكُمُ اللهُ، أُوْصِيْ نَفْسِيْ وَإِيَّاكُمْ بِتَقْوَى اللهِ، فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ. قَالَ اللهُ تَعَالَى:  وَاِنْ تُطِعْ اَكْثَرَ مَنْ فِى الْاَرْضِ يُضِلُّوْكَ عَنْ سَبِيْلِ اللّٰهِۗ اِنْ يَّتَّبِعُوْنَ اِلَّا الظَّنَّ وَاِنْ هُمْ اِلَّا يَخْرُصُوْنَ ۝١١٦ (اَلْأنْعَامُ) 

Alhamdulillâhi Rabbil ‘Âlamîn, segala puji bagi Allah Subhânahu Wa Ta’âlâ yang telah menganugerahkan kita nikmat iman dan Islam, serta mempertemukan kita di tempat yang diberkahi ini. Shalawat dan salam semoga senantiasa tercurah kepada junjungan kita, Nabi Muhammad Shallallâhu ‘alaihi wasallam, beserta keluarga, sahabat, dan seluruh umatnya hingga akhir zaman.

Bertakwalah kepada Allah Subhânahu Wa Ta’âlâ dengan sebenar-benarnya takwa sebagaimana firman-Nya:

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا اتَّقُوا اللّٰهَ حَقَّ تُقٰىتِه وَلَا تَمُوْتُنَّ اِلَّا وَاَنْتُمْ مُّسْلِمُوْنَ

“Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dengan sebenar-benar takwa kepada-Nya dan janganlah kamu mati kecuali dalam keadaan muslim.” (QS. Âli Imrân [3]: 102)

Sungguh takwa adalah benteng terakhir kita di tengah kehidupan akhir zaman saat ini. Dan sungguh, hanya dengan takwa kita akan selamat di dunia dan akhirat.

 

Ma’âsyiral Muslimîn rahimakumullâh,

Di tengah derasnya arus informasi dan media sosial, masyarakat kini lebih mudah terpengaruh oleh opini yang viral daripada fakta. Menteri Agama Nasaruddin Umar menyatakan bahwa menjadi tokoh agama di era post-truth, yakni ketika opini dan perasaan lebih dipercaya daripada fakta, tidaklah mudah. Menurutnya, jika dulu masyarakat cenderung mengikuti nasihat tokoh agama, kini pengaruh opini publik, media, dan berbagai sumber informasi lain sering lebih dominan. Karena itu, para intelektual dan tokoh agama dituntut memiliki kemampuan tambahan agar tetap relevan di tengah masyarakat yang semakin rasional dan liberal (Tribunnews.com, 31/5/2026).

Pandangan tersebut muncul karena perkembangan teknologi informasi dan media sosial telah mengubah cara masyarakat memperoleh informasi. Dalam era post-truth, sesuatu yang viral sering dianggap benar meskipun belum tentu didukung fakta yang kuat. Emosi, persepsi, dan opini kerap lebih mempengaruhi masyarakat daripada kebenaran objektif. Karena itu, banyak orang lebih percaya pada konten media sosial, influencer, atau opini yang sedang tren daripada pendapat ulama. Namun, meskipun kemampuan komunikasi publik penting, persoalan umat hari ini tidak cukup dijelaskan hanya sebagai masalah komunikasi karena hal itu belum menyentuh akar persoalan yang sebenarnya.

 

Ma’âsyiral Muslimîn rahimakumullâh,

Lalu, bagaimana Islam memandang fenomena post-truth yang banyak dibicarakan saat ini?

Al-Qur'an telah mengingatkan bahwa mengikuti pendapat mayoritas tanpa dasar yang benar dapat menyesatkan manusia dari jalan Allah Subhanahu wata’ala:

وَاِنْ تُطِعْ اَكْثَرَ مَنْ فِى الْاَرْضِ يُضِلُّوْكَ عَنْ سَبِيْلِ اللّٰهِۗ اِنْ يَّتَّبِعُوْنَ اِلَّا الظَّنَّ

"Jika kamu mengikuti kebanyakan manusia di muka bumi, niscaya mereka akan menyesatkan kamu dari jalan Allah. Mereka tidak mengikuti kecuali hanya prasangka saja" (QS. al-An'âm [6]: 116).

Allah Subhanahu wata’ala juga memerintahkan kaum beriman untuk meneliti setiap berita yang datang kepada mereka. Firman-Nya:

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْٓا اِنْ جَاۤءَكُمْ فَاسِقٌۢ بِنَبَاٍ فَتَبَيَّنُوْٓا

“Wahai orang-orang yang beriman, jika datang kepada kalian seorang fasik membawa berita, maka telitilah terlebih dulu” (QS. al-Hujurât [49]: 6).

Karena itu, solusi terhadap fenomena post-truth bukan sekadar meningkatkan kemampuan komunikasi, tetapi membangun masyarakat yang menjadikan wahyu sebagai standar kebenaran. Dengan demikian, benar dan salah tidak diukur oleh banyaknya like, share, atau view, juga bukan oleh suara mayoritas, melainkan oleh al-Qur'an dan as-Sunnah.

Al-Qur'an merupakan satu-satunya standar kebenaran karena merupakan wahyu Allah Subhanahu wata’ala yang diturunkan sebagai petunjuk hidup manusia (QS. al-Baqarah [2]: 2), dijamin keasliannya oleh Allah Subhanahu wata’ala:

اِنَّا نَحْنُ نَزَّلْنَا الذِّكْرَ وَاِنَّا لَهٗ لَحٰفِظُوْنَ

Sesungguhnya Kamilah yang menurunkan Al-Qur’an dan pasti Kami (pula) yang memeliharanya (QS. al-Hijr [15]: 9), serta menjelaskan seluruh kebutuhan hidup manusia:

وَنَزَّلْنَا عَلَيْكَ الْكِتٰبَ تِبْيَانًا لِّكُلِّ شَيْءٍ

Kami turunkan Kitab (Al-Qur’an) kepadamu untuk menjelaskan segala sesuatu (QS. an-Nahl [16]: 89).

Karena itu, siapa saja yang mengikuti petunjuk Allah tidak akan sesat dan celaka, sedangkan orang yang berpaling dari al-Qur'an akan menjalani kehidupan yang sempit sebagaimana firman-nya:

فَمَنِ اتَّبَعَ هُدَايَ فَلَا يَضِلُّ وَلَا يَشْقٰى ۝ وَمَنْ اَعْرَضَ عَنْ ذِكْرِيْ فَاِنَّ لَهٗ مَعِيْشَةً ضَنْكًا

“Siapa saja yang mengikuti petunjuk-Ku maka dia tidak akan sesat dan tidak akan celaka. Sebaliknya, siapa saja yang berpaling dari peringatan-Ku (Al-Qur’an) maka sungguh bagi dia kehidupan yang sempit” (QS. Thâhâ [20]: 123–124).

Namun, sangat disayangkan, saat ini umat Islam, terutama para penguasanya, justru semakin jauh dari petunjuk al-Qur'an.

 

Ma’âsyiral Muslimîn rahimakumullâh,

Akar persoalan umat hari ini tidak dapat dilepaskan dari sistem kehidupan yang membentuk cara berpikir, perasaan, dan perilaku masyarakat. Syaikh Taqiyuddin an-Nabhani menjelaskan bahwa masyarakat dibangun oleh tiga unsur: pemikiran (afkaar), perasaan (masyaa'ir), dan aturan kehidupan (anzhimah). Ketika ketiga unsur tersebut bersumber dari Islam, lahirlah masyarakat Islam. Sebaliknya, jika bersumber dari Kapitalisme yang berasaskan sekularisme, lahirlah masyarakat kapitalistik meskipun mayoritas penduduknya Muslim. Karena itu, tidak mengherankan jika opini media sosial sering lebih dipercaya daripada nasihat ulama, sebab masyarakat setiap hari dibentuk oleh sistem kehidupan kapitalis-sekuler.

Karena itu, dakwah kepada masyarakat tetap wajib dilakukan. Allah Subhanahu wata’ala berfirman:

وَلْتَكُنْ مِّنْكُمْ اُمَّةٌ يَّدْعُوْنَ اِلَى الْخَيْرِ وَيَأْمُرُوْنَ بِالْمَعْرُوْفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِۗ وَاُولٰۤىِٕكَ هُمُ الْمُفْلِحُوْنَ

“Hendaklah ada segolongan umat yang menyerukan kebajikan (Islam) dan melakukan amar makruf nahi mungkar. Merekalah kaum yang beruntung” (QS. Âli Imrân [3]: 104).

Rasulullah juga bersabda:

مَنْ رَأَى مِنْكُمْ مُنْكَرًا فَلْيُغَيِّرْهُ بِيَدِهِ فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِلِسَانِهِ

“Siapa saja di antara kalian melihat kemungkaran, hendaklah ia mengubah (kemungkaran itu) dengan tangannya. Jika tidak mampu maka (ubahlah kemungkaran itu) dengan lisannya” (HR. Muslim).

Namun, dakwah kepada individu saja tidak cukup jika sistem yang mengatur kehidupan tetap mempertahankan Kapitalisme-sekuler. Ibarat membersihkan air di hilir sungai, sementara dari hulunya terus mengalir limbah dan kotoran.

Karena itulah Rasulullah tidak hanya membina individu-individu di Makkah, tetapi juga menegakkan Negara Islam di Madinah agar syariah Islam dapat diterapkan secara sempurna. Para ulama pun mewajibkan adanya kekuasaan yang menjaga dan menerapkan ajaran Islam. Imam al-Ghazali menegaskan,

الدِّينُ أُسٌّ وَالسُّلْطَانُ حَارِسٌ، وَمَا لَا أُسَّ لَهُ فَمَهْدُومٌ، وَمَا لَا حَارِسَ لَهُ فَضَائِعٌ

“Agama adalah fondasi dan kekuasaan adalah penjaganya. Apa saja yang tidak memiliki fondasi akan runtuh dan apa saja yang tidak memiliki penjaga akan binasa.” (Al-Iqtishaad fii al-I’tiqaad, 1/76). Pernyataan ini relevan dengan kondisi saat ini, ketika dakwah harus berhadapan dengan sistem pendidikan, media, ekonomi, hukum, dan kebijakan negara yang membentuk masyarakat setiap hari.

Karena itu, solusi hakiki atas krisis umat adalah mengembalikan al-Qur'an sebagai pemimpin kehidupan. Ketika al-Qur'an memimpin pemikiran, perasaan, dan aturan hidup manusia, akan lahir masyarakat yang menjadikan ridha Allah Subhanahu wata’ala sebagai tujuan hidupnya. Sebaliknya, selama Kapitalisme-sekuler tetap menjadi dasar kehidupan, pemikiran dan perilaku masyarakat akan terus dibentuk oleh ideologi tersebut. Inilah sebabnya umat harus dipimpin oleh wahyu Allah Subhanahu wata’ala, bukan oleh hawa nafsu atau ideologi buatan manusia, karena hanya wahyu-Nya yang mampu membimbing manusia menuju kebahagiaan di dunia dan keselamatan di akhirat. Wallâhu a‘lam bish-shawâb.[]

 

بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِى الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الْآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ، وَتَقَبَّلَ مِنَّا وَمِنْكُمْ تِلَاوَتَهُ وَإِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا، وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ

 

KHUTBAH KEDUA

 

اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ عَلَى إِحْسَانِهِ، وَالشُّكْرُ لَهُ عَلَى تَوْفِيْقِهِ وَامْتِنَانِهِ. وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الدَّاعِى إِلَى رِضْوَانِهِ. اللّٰهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَسَلِّمْ تَسْلِيْمًا كَثِيْرًا.

أَمَّا بَعْدُ؛ فَياَ أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا اللّٰهَ فِيْمَا أَمَرَ وَانْتَهُوْا عَمَّا نَهَى، وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ بَدَأَ فِيْهِ بِنَفْسِهِ وَثَنَّى بِمَلَائِكَتِهِ الْمُسَبِّحَةِ بِقُدْسِهِ، وَقَالَ تَعاَلَى: إِنَّ اللهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا.

اللّٰهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِناَ مُحَمَّدٍ، وَعَلَى أَنْبِيَائِكَ وَرُسُلِكَ وَمَلَائِكَتِكَ الْمُقَرَّبِيْنَ، وَارْضَ اللّٰهُمَّ عَنِ الْخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ، أَبِى بَكْرٍ وَعُمَرَ وَعُثْمَانَ وَعَلِيٍّ، وَعَنْ بَقِيَّةِ الصَّحَابَةِ وَالتَّابِعِيْنَ، وَالتَّابِعِيْنَ لَهُمْ بِإِحْسَانٍ اِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ، وَارْضَ عَنَّا مَعَهُمْ بِرَحْمَتِكَ يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ.

اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ وَالْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ. اللّٰهُمَّ أَعِزَّ الْإِسْلَامَ وَالْمُسْلِمِيْنَ، وَأَذِلَّ الشِّرْكَ وَالْمُشْرِكِيْنَ، وَانْصُرْ مَنْ نَصَرَ الدِّيْنَ، وَاخْذُلْ مَنْ خَذَلَ الْمُسْلِمِيْنَ، وَدَمِّرْ أَعْدَاءَ الدِّيْنِ، وَأَعْلِ كَلِمَاتِكَ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ.

اَللّٰهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ دَوْلَةَ الْخِلاَفَةِ عَلَى مِنْهَاجِ النُّبُوَّةِ تُعِزُّ بِهَا الْإِسْلَامَ وَاَهْلَهُ وَتُذِلُّ بِهَا الْكُفْرَ وَاَهْلَهُ، وَاجْعَلْنَا مِنَ الْعَامِلِيْنَ الْمُخْلِصِيْنَ لِإِقَامَتِهَا بِإِذْنِكَ يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ.

اللّٰهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا الْغَلَاءَ وَالْبَلاَءَ وَالْوَبَاءَ وَالزَّلَازِلَ وَالْمِحَنَ، وَسُوْءَ الْفِتَنِ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ، عَنْ بَلَدِنَا إِنْدُوْنِيْسِيَا خَاصَّةً وَسَائِرِ بُلْدَانِ الْمُسْلِمِيْنَ عَامَّةً يَا رَبَّ الْعَالَمِيْنَ. رَبَّنَا آتِنَا فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِى الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.

عِبَادَ اللهِ! إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيْتآءِ ذِي الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشآءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ، وَاذْكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ، وَاسْأَلُوْهُ مِنْ فَضْلِهِ يُعْطِكُمْ، وَاشْكُرُوْهُ عَلَى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ، وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرْ.

Bahasa Daerah

Naskah Khutbah untuk bahasa lain di Indonesia
TALBIYAH MENUJU TEGAKNYA ISLAM KAAFFAH

TALBIYAH MENUJU TEGAKNYA ISLAM KAAFFAH

TALBIYAH MENUJU TEGAKNYA ISLAM KAAFFAH

TALBIYAH MENUJU

TEGAKNYA ISLAM KAAFFAH

 

KHUTBAH PERTAMA

 

إِنَّ الْحَمْدَ لِلّٰهِ، نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَسَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، شَهَادَةً تُنْجِيْ قَائِلَهَا مِنَ النَّارِ. وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الْمُتَّصِفُ بِالْمَكَارِمِ كَبِيْرًا وَصَبِيًّا.

اللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ النَّبِيِّ الْأُمِّيِّ، الصَّادِقِ الْأَمِيْنِ، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ الَّذِيْنَ حَسُنَ إِسْلَامُهُمْ. أَمَّا بَعْدُ؛ فَيَا أَيُّهَا الْحَاضِرُوْنَ رَحِمَكُمُ اللهُ، أُوْصِيْ نَفْسِيْ وَإِيَّاكُمْ بِتَقْوَى اللهِ، فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ. قَالَ اللهُ تَعَالَى:  قُلْ اِنَّمَآ اَنَا۠ بَشَرٌ مِّثْلُكُمْ يُوْحٰٓى اِلَيَّ اَنَّمَآ اِلٰهُكُمْ اِلٰهٌ وَّاحِدٌۚ فَمَنْ كَانَ يَرْجُوْا لِقَاۤءَ رَبِّهٖ فَلْيَعْمَلْ عَمَلًا صَالِحًا وَّلَا يُشْرِكْ بِعِبَادَةِ رَبِّهٖٓ اَحَدًا ۝١١٠ (اَلْكَهْفُ) 

Alhamdulillâhi Rabbil ‘Âlamîn, segala puji bagi Allah Subhânahu Wa Ta’âlâ yang telah menganugerahkan kita nikmat iman dan Islam, serta mempertemukan kita di tempat yang diberkahi ini. Shalawat dan salam semoga senantiasa tercurah kepada junjungan kita, Nabi Muhammad Shallallâhu ‘alaihi wasallam, beserta keluarga, sahabat, dan seluruh umatnya hingga akhir zaman.

Bertakwalah kepada Allah Subhânahu Wa Ta’âlâ dengan sebenar-benarnya takwa sebagaimana firman-Nya:

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا اتَّقُوا اللّٰهَ حَقَّ تُقٰىتِه وَلَا تَمُوْتُنَّ اِلَّا وَاَنْتُمْ مُّسْلِمُوْنَ

“Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dengan sebenar-benar takwa kepada-Nya dan janganlah kamu mati kecuali dalam keadaan muslim.” (QS. Âli Imrân [3]: 102)

Sungguh takwa adalah benteng terakhir kita di tengah kehidupan akhir zaman saat ini. Dan sungguh, hanya dengan takwa kita akan selamat di dunia dan akhirat.

 

Ma’âsyiral Muslimîn rahimakumullâh,

Ibadah haji bukan sekadar perjalanan jauh ke Tanah Suci, tetapi juga perjalanan hati untuk mendekat kepada Allah Subhânahu wa Ta‘âlâ. Dalam ibadah ini, seseorang rela mengorbankan harta, tenaga, waktu, dan kenyamanan demi menjalankan perintah-Nya. Karena itu, para jemaah haji disebut sebagai tamu-tamu Allah (duyuuf ar-Rahmaan) dan dijanjikan ampunan dosa. Harapan terbesar setiap Muslim tentu adalah meraih haji mabrur. Rasulullah bersabda:

وَالْحَجُّ الْمَبْرُوْرُ لَيْسَ لَهُ جَزَاءٌ إِلاَّ الْجَنَّةُ

”Haji mabrûr tidak lain pahalanya adalah surga” (HR al-Bukhari).

Haji mabrur hanya bisa diraih dengan niat yang ikhlas dan ketaatan kepada Allah selama menjalankan seluruh rangkaian ibadah haji. Tujuannya harus mencari ridha Allah, bukan mencari gelar, pujian, atau sekadar pamer kepada manusia. Allah Subhânahu wa Ta‘âlâ berfirman:

وَاَتِمُّوا الْحَجَّ وَالْعُمْرَةَ لِلّٰهِ

”Sempurnakanlah oleh kalian ibadah haji dan umrah semata-mata karena Allah” (QS. al-Baqarah [2]: 196).

Karena itu, sangat rugi jika ibadah haji dicampuri riya atau kepentingan duniawi. Dalam Hadits Qudsi, Allah berfirman:

أَنَا أَغْنَى الشُّرَكَاءِ عَنِ الشِّرْكِ، مَنْ عَمِلَ عَمَلاً أَشْرَكَ فِيْهِ مَعِيْ غَيْرِيْ، تَرَكْتُهُ وَ شِرْكَهُ

”Aku adalah Tuhan Yang paling tidak membutuhkan sekutu dari segala bentuk kesyirikan. Siapa saja yang mengerjakan suatu amal yang dicampuri dengan perbuatan syirik kepada Diri-Ku, maka Aku tinggalkan dia bersama kesyirikannya” (HR. Muslim).

Ma’âsyiral Muslimîn rahimakumullâh,

Terkadang kita melihat seseorang begitu khusyuk saat berhaji, menangis di depan Ka’bah dan bersungguh-sungguh beribadah. Namun, sepulang dari Tanah Suci, semangat taat itu perlahan hilang. Padahal haji mabrur bukan hanya terlihat saat di Makkah, tetapi juga dari perubahan sikap setelah kembali ke kehidupan sehari-hari.

Haji mabrur bukan hanya tentang khusyuk saat berada di Tanah Suci, tetapi juga tentang ketaatan setelah pulang ke tanah air. Imam Hasan al-Bashri berkata bahwa Haji mabrur ialah ketika pelakunya pulang dalam keadaan zuhud terhadap dunia dan mencintai akhirat. Imam al-Ghazali juga menjelaskan bahwa tanda haji mabrur ialah ia pulang dalam keadaan zuhud terhadap dunia, mencintai akhirat dan bersiap bertemu Pemilik Ka‘bah setelah berjumpa dengan Ka‘bah.

Karena itu, orang yang mendapat predikat haji mabrur adalah mereka yang tetap taat kepada Allah, menjaga diri dari larangan-Nya, dan menjalankan ajaran Islam dalam kehidupan sehari-hari. Rasulullah bersabda:

مَنْ أَطَاعَنِي فَقَدْ أَطَاعَ اللَّهَ وَمَنْ عَصَانِي فَقَدْ عَصَى اللَّهَ

“Siapa saja yang mentaati aku berarti ia mentaati Allah. Siapa saja yang membangkang kepada diriku berarti ia membangkang kepada Allah” (HR. al-Bukhari).

Ibadah haji juga seharusnya menjadi momentum untuk membangun semangat perjuangan umat. Saat berhaji, kaum Muslim bertemu saudara seiman dari berbagai negara dan dapat melihat berbagai penderitaan umat Islam di dunia. Dalam sejarah Indonesia, banyak tokoh yang pulang haji lalu menjadi pelopor perjuangan melawan penjajahan, seperti KH. Wasyid, Haji Agus Salim, KH. Ahmad Dahlan, dan KH. Hasyim Asy’ari. Bahkan pemerintah kolonial Belanda dahulu sangat khawatir terhadap pengaruh para haji karena mereka dianggap membawa semangat perjuangan Islam yang dapat melawan penjajahan.

Sayangnya, saat ini ibadah haji sering hanya dipahami sebagai ritual semata tanpa menghadirkan perubahan sikap dan kepedulian terhadap umat. Akibatnya, masih ada orang yang sudah berhaji tetapi tetap berbuat zalim, korupsi, atau menjauh dari ajaran Islam. Karena itu Abdullah bin Umar radhiyallahu ’anhu pernah berkata, “Memang banyak yang berangkat haji, namun sedikit yang benar-benar berhaji.” Maksudnya, banyak orang menjalankan ibadah haji, tetapi hanya sedikit yang benar-benar menjiwai makna ketaatan dan perubahan diri setelahnya.

 

Ma’âsyiral Muslimîn rahimakumullâh,

Ibadah haji sejatinya mengajarkan seorang Muslim untuk tunduk dan taat sepenuhnya kepada Allah Subhânahu wa Ta‘âlâ, bukan hanya saat berada di Tanah Suci, tetapi juga dalam seluruh aspek kehidupan setelah kembali ke tanah air.

Kalimat talbiyah yang terus dikumandangkan saat haji — ”Labbayk Allaahumma labbayk, labbayka laa syariika laka labbayk, innal-hamda wan-ni‘mata laka wal-mulk, laa syariika lak” — adalah bentuk jawaban atas panggilan Allah sekaligus bukti ketundukan dan kepasrahan kepada-Nya. Seorang Muslim yang memahami makna talbiyah akan berusaha menaati seluruh perintah Allah dan menjauhi segala bentuk kesyirikan. Allah Subhânahu wa Ta‘âlâ berfirman:

فَمَنْ كَانَ يَرْجُوْا لِقَاۤءَ رَبِّهٖ فَلْيَعْمَلْ عَمَلًا صَالِحًا وَّلَا يُشْرِكْ بِعِبَادَةِ رَبِّهٖٓ اَحَدًا 

”Siapa saja yang mengharap perjumpaan dengan Tuhannya, maka hendaklah ia mengerjakan amal shalih dan janganlah ia mempersekutukan seorang pun dalam beribadah kepada Tuhannya” (QS. al-Kahfi [24]: 110).

Karena itu, ketaatan kepada Allah tidak boleh hanya dilakukan saat berhaji, tetapi harus terus dijaga dalam kehidupan sehari-hari.

Jiwa yang benar-benar taat kepada Allah tentu tidak akan tenang melihat ajaran Islam disingkirkan, sementara paham sekulerisme dan liberalisme lebih diagungkan dalam kehidupan. Saat berhaji, kaum Muslim begitu patuh menjalankan seluruh perintah Allah seperti ihram, thawaf, dan tahallul. Karena itu, sepulang dari Tanah Suci mereka juga seharusnya tetap berani menjaga ketaatan kepada Allah, membina keluarga agar taat kepada-Nya, serta mengajak umat menjadikan syariah Islam sebagai pedoman hidup dan penjaga kemuliaan umat Islam. Wallâhu a‘lam bish-shawâb.[]

 

بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِى الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الْآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ، وَتَقَبَّلَ مِنَّا وَمِنْكُمْ تِلَاوَتَهُ وَإِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا، وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ

 

KHUTBAH KEDUA

 

اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ عَلَى إِحْسَانِهِ، وَالشُّكْرُ لَهُ عَلَى تَوْفِيْقِهِ وَامْتِنَانِهِ. وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الدَّاعِى إِلَى رِضْوَانِهِ. اللّٰهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَسَلِّمْ تَسْلِيْمًا كَثِيْرًا.

أَمَّا بَعْدُ؛ فَياَ أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا اللّٰهَ فِيْمَا أَمَرَ وَانْتَهُوْا عَمَّا نَهَى، وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ بَدَأَ فِيْهِ بِنَفْسِهِ وَثَنَّى بِمَلَائِكَتِهِ الْمُسَبِّحَةِ بِقُدْسِهِ، وَقَالَ تَعاَلَى: إِنَّ اللهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا.

اللّٰهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِناَ مُحَمَّدٍ، وَعَلَى أَنْبِيَائِكَ وَرُسُلِكَ وَمَلَائِكَتِكَ الْمُقَرَّبِيْنَ، وَارْضَ اللّٰهُمَّ عَنِ الْخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ، أَبِى بَكْرٍ وَعُمَرَ وَعُثْمَانَ وَعَلِيٍّ، وَعَنْ بَقِيَّةِ الصَّحَابَةِ وَالتَّابِعِيْنَ، وَالتَّابِعِيْنَ لَهُمْ بِإِحْسَانٍ اِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ، وَارْضَ عَنَّا مَعَهُمْ بِرَحْمَتِكَ يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ.

اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ وَالْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ. اللّٰهُمَّ أَعِزَّ الْإِسْلَامَ وَالْمُسْلِمِيْنَ، وَأَذِلَّ الشِّرْكَ وَالْمُشْرِكِيْنَ، وَانْصُرْ مَنْ نَصَرَ الدِّيْنَ، وَاخْذُلْ مَنْ خَذَلَ الْمُسْلِمِيْنَ، وَدَمِّرْ أَعْدَاءَ الدِّيْنِ، وَأَعْلِ كَلِمَاتِكَ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ.

اَللّٰهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ دَوْلَةَ الْخِلاَفَةِ عَلَى مِنْهَاجِ النُّبُوَّةِ تُعِزُّ بِهَا الْإِسْلَامَ وَاَهْلَهُ وَتُذِلُّ بِهَا الْكُفْرَ وَاَهْلَهُ، وَاجْعَلْنَا مِنَ الْعَامِلِيْنَ الْمُخْلِصِيْنَ لِإِقَامَتِهَا بِإِذْنِكَ يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ.

اللّٰهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا الْغَلَاءَ وَالْبَلاَءَ وَالْوَبَاءَ وَالزَّلَازِلَ وَالْمِحَنَ، وَسُوْءَ الْفِتَنِ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ، عَنْ بَلَدِنَا إِنْدُوْنِيْسِيَا خَاصَّةً وَسَائِرِ بُلْدَانِ الْمُسْلِمِيْنَ عَامَّةً يَا رَبَّ الْعَالَمِيْنَ. رَبَّنَا آتِنَا فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِى الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.

عِبَادَ اللهِ! إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيْتآءِ ذِي الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشآءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ، وَاذْكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ، وَاسْأَلُوْهُ مِنْ فَضْلِهِ يُعْطِكُمْ، وَاشْكُرُوْهُ عَلَى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ، وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرْ.

Bahasa Daerah

Naskah Khutbah untuk bahasa lain di Indonesia
DARI IBADAH HAJI MENUJU PERSATUAN UMAT DAN KEJAYAAN ISLAM

DARI IBADAH HAJI MENUJU PERSATUAN UMAT DAN KEJAYAAN ISLAM

DARI IBADAH HAJI MENUJU PERSATUAN UMAT DAN KEJAYAAN ISLAM

DARI IBADAH HAJI

MENUJU PERSATUAN UMAT

DAN KEJAYAAN ISLAM

 

KHUTBAH PERTAMA

 

اَلسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ

اَللهُ أَكْبَرُ، اَللهُ أَكْبَرُ، اَللهُ أَكْبَرُ

اَللهُ أَكْبَرُ، اَللهُ أَكْبَرُ، اَللهُ أَكْبَرُ

اَللهُ أَكْبَرُ، اَللهُ أَكْبَرُ، اَللهُ أَكْبَرُ

 اَللهُ اَكْبَرُ كَبِيْرًا وَالْحَمْدُ ِللهِ كَثِيْرًا وَسُبْحَانَ اللهِ بُكْرَةً وَاَصِيْلاً، لاَ إِلٰهَ اِلاَّ اللهُ وَلاَ نَعْبُدُ إِلاَّ إِيَّاهُ مُخْلِصِيْنَ لَهُ الدِّيْنَ وَلَوْ كَرِهَ الْكَافِرُوْنَ، لاَ إِلٰهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ، صَدَقَ وَعْدَهُ، وَنَصَرَ عَبْدَهُ، وَهَزَمَ الأَحْزَابَ وَحْدَهُ، لاَ إِلٰهَ إِلاَّ اللهُ، اللهُ أكْبَرُ، الله اَكْبَرُ  وَللهِ الْحَمْدُ.

اَلْحَمْدُ ِللهِ الَّذِيْ جَعَلَ الْيَوْمَ عِيْداً لِلْمُسْلِمِيْنَ، وَوَحَّدَنَا بِعِيْدِهِ كَأُمَّةٍ وَاحِدَةٍ، مِنْ غَيْرِ الأُمَمِ، وَنَشْكُرُهُ عَلَى كَمَالِ إِحْسَانِهِ، وَهُوَ ذُو الْجَلاَلِ وَاْلإِكْراَمِ.

 أَشْهَدُ اَنْ لاَ إِلٰهَ اِلاَّ أَنْتَ وَحْدَكَ لاَشَرِيْكَ لَكَ، اَللّٰهُمَّ مَالِكَ الْمُلْكِ تُؤْتِي الْمُلْكَ مَن تَشَاءُ، وَتَنْزِِعُ الْمُلْكَ مِمَّنْ تَشَاءُ، وَتُعِزُّ مَنْ تَشَاءُ، وَتُذِلُّ مَنْ تَشَاءُ، بِيَدِكَ الْخَيْرُ، إِنَّكَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ، وَأَشْهَدُ اَنَّ مُحَمَّداً عَبْدُكَ وَرَسُوْلُكَ.

اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى حَبِيْبِناَ المُصْطَفَى، الَّذِّي بَلَّغَ الرِّسَالَةَ، وَأَدَّى الأَمَانَةَ، وَنَصَحَ الأُمَّةَ، وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ دَعاَ اِلَى اللهِ بِدَعْوَتِهِ، وَجاَهَدَ فِيْ اللهِ حَقَّ جِهاَدِهِ. اَمَّا بَعْدُ: عِبَادَ اللهِ، أُوْصِيْكُمْ وَإِيَّايَ بِتَقْوَى اللهِ فَقَدْ فَازَ المُتَّقُوْنَ

 

 

 

 

 

AlLaahu akbar 3x walilLaahil hamd.

Ma’aasyiral Muslimiin, Jama’ah Shalat Idul Adha rahimakumulLaah.

 

Segenap pujian hanya milik Allah SWT. Tuhan alam semesta. Dialah Tuhan Yang Mahakuasa. Dialah Tuhan Yang dengan kehendak-Nya telah memberi kita kesempatan untuk bisa merasakan kembali kehadiran hari istimewa. Hari Raya Idul Adha.

 

Gema takbir, tahlil dan tahmid berkumandang di mana-mana. Di seantero penjuru dunia. Inilah salah satu tanda kesyukuran sekaligus syiar Islam dan kesatuan visi keimanan.

 

Shalawat dan salam semoga senantiasa Allah SWT curahkan kepada Rasul-Nya, Muhammad saw. Beliaulah yang telah menjadi wasilah Islam sampai kepada kita semua. Beliaulah teladan dalam segala aspek kehidupan manusia. Baik dalam kehidupan pribadi maupun keluarga. Baik dalam kehidupan masyarakat maupun dalam kepemimpinan negara.

 

AlLaahu akbar 3x walilLaahil hamd.

Ma’aasyiral Muslimiin, Jamaah Shalat Idul Adha rahimakumulLaah.

 

Setiap kali datang Hari Raya Idul Adha, kita selalu diingatkan dengan dua sosok agung dan istimewa; Nabi Ibrahim as. dan Nabi Ismail as.. Dari kedua utusan Allah ini kita juga diingatkan dengan dua peristiwa besar dalam Islam. Itulah ibadah haji dan ibadah kurban. Keduanya juga diperintahkan oleh Allah untuk membangun Ka’bah. Dengan penuh ketaatan, keduanya membangun Ka’bah seraya berdoa kepada Allah. Peristiwa ini diabadikan dalam firman-Nya:

وَاِذْ يَرْفَعُ اِبْرٰهٖمُ الْقَوَاعِدَ مِنَ الْبَيْتِ وَاِسْمٰعِيْلُۗ رَبَّنَا تَقَبَّلْ مِنَّاۗ اِنَّكَ اَنْتَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ

“(Ingatlah) ketika Ibrahim meninggikan fondasi Baitullah bersama Ismail (seraya berdoa), “Ya Tuhan kami, terimalah (amal) dari kami. Sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui." (QS al-Baqarah [2]: 127).

 

Ibadah haji adalah bagian dari rukun Islam yang hukumnya wajib bagi Muslim yang memiliki kemampuan. Ibadah haji juga menjadi simbol tentang ketaatan kepada Allah SWT, pengorbanan, sekaligus persatuan kaum Muslim dari seluruh penjuru dunia. Demikian sebagaimana dinyatakan dalam firman-Nya:

وَاَذِّنْ فِى النَّاسِ بِالْحَجِّ يَأْتُوْكَ رِجَالًا وَّعَلٰى كُلِّ ضَامِرٍ يَّأْتِيْنَ مِنْ كُلِّ فَجٍّ عَمِيْقٍ

“(Wahai Ibrahim, serulah manusia untuk (mengerjakan) haji, niscaya mereka akan datang kepadamu dengan berjalan kaki dan mengendarai unta kurus yang datang dari segenap penjuru yang jauh.” (QS al-Hajj [22]: 27).

 

AlLaahu akbar 3x walilLaahil hamd.

Ma’aasyiral Muslimiin, Jama’ah Shalat Idul Adha rahimakumulLaah.

 

Ibadah haji merupakan salah satu syariah agung yang mengandung makna mendalam tentang ketaatan seorang hamba kepada Allah SWT. Seluruh rangkaian ibadah haji mengajarkan bahwa seorang Muslim harus tunduk sepenuhnya pada perintah Allah SWT.

 

Kisah Nabi Ibrahim as., Siti Hajar dan Nabi Ismail as. menjadi fondasi spiritual ibadah haji yang menunjukkan puncak ketaatan kepada Allah SWT. Nabi Ibrahim as. rela meninggalkan keluarganya di padang tandus Makkah. Ia bahkan bersedia mengorbankan putranya semata-mata karena ketaatan pada perintah Allah SWT. Dari sini haji mengajarkan bahwa keimanan sejati menuntut kepasrahan total pada kehendak Ilahi. Demikian sebagaimana dinyatakan dalam firman-Nya:

وَاَتِمُّوا الْحَجَّ وَالْعُمْرَةَ لِلّٰهِ

“Sempurnakanlah oleh kalian ibadah haji dan umrah semata-mata karena Allah” (QS al-Baqarah [2]: 196).

 

AlLaahu akbar 3x walilLaahil hamd.

Ma’aasyiral Muslimiin, Jama’ah Shalat Idul Adha rahimakumulLaah.

 

Selain simbol ketaatan, ibadah haji juga merupakan simbol pengorbanan. Seorang Muslim yang berhaji harus mengorbankan harta, tenaga, waktu dan kenyamanan demi memenuhi panggilan Allah SWT. Pakaian ihram yang sederhana mengajarkan pelepasan atribut duniawi seperti status sosial, kekayaan dan kebanggaan diri. Semua Jama’ah tampil setara di hadapan Allah SWT. Tak tampak perbedaan jabatan, ras maupun kebangsaan.

 

Nilai pengorbanan ini juga mengingatkan manusia bahwa kehidupan dunia tidak boleh menjadikan seseorang sombong dan lalai dari tujuan akhirat. Rasulullah saw. bersabda:

مَنْ حَجَّ لِلَّهِ فَلَمْ يَرْفُثْ وَلَمْ يَفْسُقْ، رَجَعَ كَيَوْمِ وَلَدَتْهُ أُمُّهُ

”Siapa saja yang menunaikan ibadah haji semata-mata ikhlas karena Allah, lalu tidak berkata kotor dan tidak berbuat fasik, maka ia kembali seperti hari dilahirkan oleh ibunya.” (HR al-Bukhari dan Muslim).

 

Hadits ini menunjukkan bahwa ibadah haji bukan sekadar perjalanan fisik. Ia juga merupakan proses penyucian jiwa melalui pengorbanan dan keikhlasan.

 

AlLaahu akbar 3x walilLaahil hamd.

Ma’aasyiral Muslimiin, Jama’ah Shalat Idul Adha rahimakumulLaah.

 

Ibadah haji juga menjadi simbol persatuan umat Islam sedunia. Jutaan Muslim dari berbagai negara, bahasa, warna kulit berkumpul di Masjidil Haram. Semuanya memiliki tujuan yang sama, yaitu beribadah kepada Allah SWT.

 

Karena itu ibadah haji juga harus dipahami sebagai melting point (titik lebur) kaum Muslim dari berbagai penjuru dunia. Mereka melebur menjadi satu. Tak tampak lagi suku, bangsa, warna kulit, bahasa maupun status sosial dan ekonomi. Semua menghamba hanya kepada Rabb Yang Satu, Allah SWT.

 

Mereka menghadap kiblat yang sama, pakaian yang sama, melaksanakan ritual yang sama. Momentum ini menunjukkan bahwa Islam adalah agama persaudaraan. Islam menyatukan umat Muslim di seluruh dunia di atas dasar tauhid. Allah SWT berfirman:

اِنَّمَا الْمُؤْمِنُوْنَ اِخْوَةٌ فَاَصْلِحُوْا بَيْنَ اَخَوَيْكُمْ وَاتَّقُوا اللّٰهَ لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُوْنَ

”Sesungguhnya kaum Mukmin itu bersaudara. Sebab itu, damaikanlah di antara sesama saudara kalian itu, dan takutlah kepada Allah, supaya kalian mendapat rahmat.” (QS. al-Hujurât [49]: 10).

 

AlLaahu akbar 3x walilLaahil hamd.

Ma’aasyiral Muslimiin, Jama’ah Shalat Idul Adha rahimakumulLaah.

 

Spirit ketaatan, pengorbanan dan persatuan yang terkandung dalam ibadah haji seharusnya tidak berhenti pada dimensi ritual individual semata. Ibadah haji juga seharusnya melahirkan kesadaran kolektif umat Islam dalam aspek sosial, politik dan peradaban.

 

Ibadah haji mempertemukan jutaan kaum Muslim dari berbagai bangsa, bahasa dan mazhab dalam satu kiblat dan satu tujuan penghambaan hanya kepada Allah SWT. Momentum ini menunjukkan bahwa Islam memiliki fondasi persatuan Muslim seluruh dunia yang melampaui batas etnis maupun nasionalisme sempit.

 

Dalam sejarah, semangat persatuan ini pernah menjadi kekuatan besar yang melahirkan solidaritas politik dan peradaban Dunia Islam. Marshall Hodgson dalam The Venture of Islam menjelaskan bahwa salah satu kekuatan utama peradaban Islam klasik adalah kesadaran kolektif umat sebagai satu komunitas global (ummah). Mereka terhubung oleh akidah, hukum dan budaya intelektual yang sama. Kekuatan utama peradaban Islam yang menyatukan negeri-negeri Muslim itulah Khilafah Islamiyah.

 

AlLaahu akbar 3x walilLaahil hamd.

Ma’aasyiral Muslimiin, Jama’ah Shalat Idul Adha rahimakumulLaah.

 

Akan tetapi, realitas Dunia Islam kontemporer menunjukkan kondisi yang berlawanan. Persatuan umat melemah akibat konflik politik, nasionalisme, sektarianisme dan kepentingan geopolitik global. Krisis kemanusiaan di Gaza Palestina menjadi salah satu contoh nyata lemahnya solidaritas politik Dunia Islam.

 

Meski sudah jelas derita muslim di Gaza, namun para penguasa negeri-negeri Muslim hanya memainkan retorika politik atau sekedar bantuan kemanusiaan. Pada saat yang sama, mereka tetap membiarkan Zionis Yahudi tetap leluasa melakukan genosida atas saudara-saudara kita di Gaza. Kondisi ini memperlihatkan adanya jurang antara simbol persatuan umat dalam ibadah dengan realitas politik Dunia Islam yang masih terpecah-belah dan terjajah.

 

AlLaahu akbar 3x walilLaahil hamd.

Ma’aasyiral Muslimiin, Jama’ah Shalat Idul Adha rahimakumulLaah.

 

Ketegangan geopolitik di kawasan Timur Tengah juga memperlihatkan kompleksitas hubungan antarnegara Muslim. Konflik yang melibatkan Iran, Israel dan Amerika Serikat di tahun 2026 ini sering dipengaruhi oleh kepentingan politik regional maupun global. Dalam situasi tersebut, sebagian negara Arab memiliki hanya memikirkan kepentingan nasional masing-masing.

 

Padahal secara historis, Iran memiliki hubungan panjang dengan peradaban Islam sejak masa penaklukan Persia pada era Khalifah Umar bin al-Khaththab ra. Wilayah Persia kemudian menjadi salah satu pusat penting perkembangan ilmu pengetahuan, filsafat, kedokteran dan peradaban Islam. Tokoh-tokoh besar seperti Imam al-Ghazali, Ibnu Sina dan al-Farabi lahir dari tradisi intelektual Dunia Islam yang berkembang di kawasan tersebut. Selain mayoritas penduduk Muslim, Iran juga memiliki jutaan Muslim Sunni yang hidup berdampingan dengan komunitas Syiah.

 

Jama’ah Muslim Iran pun setiap tahun melaksanakan ibadah haji ke Masjidil Haram sebagaimana kaum Muslim dari negara lain. Karena itu dalam perspektif sejarah dan sosiologis, Iran tetap merupakan bagian dari Dunia Islam. Perbedaan politik dan mazhab seharusnya tidak menghapus kesadaran bahwa umat Islam memiliki ikatan akidah dan tanggung jawab iman untuk membangun solidaritas, persaudaraan dan persatuan di tengah berbagai konflik global saat ini.

 

Di sisi lain, di negeri ini khususnya, umat Islam di tingkat akar rumput sering terpecah oleh sentimen mazhab dan sektarianisme sehingga solidaritas kemanusiaan melemah. Padahal Islam mengajarkan pentingnya ukhuwah dan keadilan, bahkan kepada kelompok yang berbeda pandangan. Perbedaan mazhab tidak boleh menjadi alasan untuk menghancurkan persatuan umat atau mengabaikan penderitaan sesama Muslim yang hanya menguntungkan kekuatan eksternal yang ingin mempertahankan fragmentasi Dunia Islam.

 

AlLaahu akbar 3x walilLaahil hamd.

Ma’aasyiral Muslimiin, Jama’ah Shalat Idul Adha rahimakumulLaah.

 

Ibadah haji seharusnya tidak hanya dipahami sebagai ritual spiritual tahunan. Ibadah haji juga harus dipahami sebagai momentum pembuktian ketaatan dan persatuan umat Islam sedunia. Jika umat dengan populasi lebih dari dua miliar jiwa bersatu sesungguhnya akan menjadi kekuatan demografis terbesar di dunia. Apalagi bila potensi tersebut disatukan dalam satu kepemimpinan politik, umat Islam dapat menjadi kekuatan peradaban yang disegani dunia, yakni di bawah Khilafah Islamiyyah. Sungguh Allah SWT telah berfirman:

وَاعْتَصِمُوْا بِحَبْلِ اللّٰهِ جَمِيْعًا وَّلَا تَفَرَّقُوْا

”Berpegang teguhlah kalian semuanya pada tali (agama) Allah dan janganlah bercerai-berai” (QS. Âli ‘Imrân [3]: 103).

 

Selain memiliki jumlah penduduk yang besar, Dunia Islam juga dianugerahi sumberdaya alam dan posisi geopolitik yang sangat strategis. Sejarah sudah menunjukkan bahwa peradaban Islam pernah menjadi kekuatan besar dunia ketika umat bersatu dalam visi dan kepemimpinan yang kuat, yakni Khilafah Islamiyah, di bawah kepemimpinan seorang khalifah.

 

Demikian pula di tanah air. Kaum Muslim harus menjaga persatuan dan memelihara ukhuwah islamiyah di tengah berbagai perbedaan politik, organisasi maupun mazhab. Persatuan umat sangat penting agar masyarakat tidak mudah dipecah-belah oleh kepentingan sempit yang dapat melemahkan kekuatan mereka. Ingatlah sabda Rasulullah saw.:

مَثَلُ الْمُؤْمِنِينَ فِي تَوَادِّهِمْ وَتَرَاحُمِهِمْ وَتَعَاطُفِهِمْ مَثَلُ الْجَسَدِ الْوَاحِدِ، إِذَا اشْتَكَى مِنْهُ عُضْوٌ تَدَاعَى لَهُ سَائِرُ الْجَسَدِ بِالسَّهَرِ وَالْحُمَّى

Perumpamaan kaum Mukmin dalam hal saling mencintai, mengasihi dan menyayangi seperti satu tubuh. Jika satu anggota tubuh sakit, seluruh tubuh tak tidur dan demam.” (HR. al-Bukhari dan Muslim).

 

Semoga Allah SWT senantiasa menolong dan meridhai perjuangan umat Islam di seluruh dunia untuk menegakkan kembali kejayaan peradaban Islam di bawah naungan Khilafah Islamiyah. Kepemimpinan yang akan melindungi dan menjaga umat dari segala kezaliman.

اِذَا جَاۤءَ نَصْرُ اللّٰهِ وَالْفَتْحُۙ ۝١ وَرَاَيْتَ النَّاسَ يَدْخُلُوْنَ فِيْ دِيْنِ اللّٰهِ اَفْوَاجًاۙ ۝٢ فَسَبِّحْ بِحَمْدِ رَبِّكَ وَاسْتَغْفِرْهُۗ اِنَّهٗ كَانَ تَوَّابًا ۝٣

“Jika telah datang pertolongan Allah dan kemenangan, dan kamu lihat manusia masuk agama Allah dengan berbondong-bondong, maka bertasbihlah dengan memuji Tuhanmu, dan mohonlah ampun kepada-Nya. Sesungguhnya Dia adalah Maha Penerima tobat.” (QS. an-Nashr [110]: 1-3).

 

 

KHUTBAH 2

اَللهُ أَكْبَرُ، اَللهُ أَكْبَرُ، اَللهُ أَكْبَرُ

اَللهُ أَكْبَرُ، اَللهُ أَكْبَرُ، اَللهُ أَكْبَرُ، اَللهُ أَكْبَرُ

اَللهُ اَكْبَرُ كَبِيْرًا وَالْحَمْدُ ِللهِ كَثِيْرًا وَسُبْحَانَ اللهِ بُكْرَةً وَاَصِيْلاً، لاَ إِلٰهَ اِلَّا اللهُ وَلاَ نَعْبُدُ إِلاَّ إِيَّاهُ مُخْلِصِيْنَ لَهُ الدِّيْنَ وَلَوْ كَرِهَ الْكَافِرُوْنَ، لاَ إِلٰهَ إِلاَّ اللَّهُ وَحْدَهُ، صَدَقَ وَعْدَهُ، وَنَصَرَ عَبْدَهُ، وَهَزَمَ الأَحْزَابَ وَحْدَهُ، لاَ إِلٰهَ إِلَّا اللَّهُ، اللهُ أكْبَرُ، الله اَكْبَرُ  وَللهِ الْحَمْدُ.

أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وأَشْهَدُ أنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ لَا نَبِيَ بَعْدَهُ. اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلى أَلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ كَانَ لَهُمْ مِنَ التَّابِعِيْنَ، صَلَاةً دَائِمَةً بِدَوَامِ السَّمَوَاتِ وَالْأَرْضِيْنَ. أَمَّا بَعْدُ: فَيَا أَيُّهَا الْحَاضِرُوْنَ اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَذَرُوْا الْفَوَاحِشَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ.

 

AlLaahu akbar 3x walilLaahil hamd.

Ma’aasyiral Muslimiin, Jama’ah Shalat Idul Adha rahimakumulLaah.

Pada khutbah yang kedua ini, marilah kita sama-sama berdoa kepada Allah SWT. Semoga Allah SWT mengabulkan doa-doa kita. Aamiin yaa Rabbalaalamiin.

اَللّٰهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ، كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، فِي الْعَالَمِيْنَ إنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ.

اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ اَْلأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَاْلأَمْوَاتِ. رَبَّنَا ظَلَمْنَا أَنْفُسَنَا، وَاِنْ لَمْ تَغْفِرْلَنَا وَتَرْحَمْنَا، لَنَكُوْنَنَّا مِنَ الْخَاسِرِيْنَ، اَللّٰهُمَّ تَقَبَّلْ مِنَّا دُعَائَنَا، إِنَّكَ أَنْتَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ، وَتُبْ عَلَيْنَا اِنَّكَ اَنْتَ التَّوَّابُ الرَّحِيْمُ.

Ya Allah, Tuhan Yang Maha Melihat. Saksikanlah pertemuan kami hari ini. Jadikan kami sebagai saksi-saksi perjuangan menegakkan kemuliaan Islam di muka bumi ini melalui lisan kami, pikiran kami, tenaga kami, harta kami bahkan jiwa kami. Jadikanlah anak dan keturunan kami para pejuang dan imam bagi orang-orang bertakwa.

 

Ya Allah, yaa Rahmaan yaa Rahiim. Cintai dan sayangi kami, orangtua kami, keturunan kami dan seluruh kaum Muslim; sebagaimana Engkau mencintai dan menyayangi para nabi dan rasul kekasih-Mu. Limpahkanlah rahmat dan karunia-Mu dalam setiap jengkal kehidupan kami.

 

Ya Allah, Tuhan Yang Mahaperkasa. Limpahkanlah kekuatan kepada kami untuk terus menapaki jalan dakwah dan perjuangan ini hingga kami bisa menyaksikan fajar kemenangan Islam. Jadikanlah kami hamba-hamba-Mu yang terbaik, yang mampu menjadikan perjuangan Islam ini menjadi poros kehidupan kami. Jadikanlah sepercik ilmu yang kami miliki dapat memberikan andil dalam membangun kembali peradaban Islam yang mulia.

 

Yaa Rabbi, Penguasa alam semesta. Sungguh telah banyak teguran yang telah engkau timpakan kepada kami. Semuanya untuk mengingatkan agar manusia kembali kepada-Mu, ya Allah. Semoga Engkau memberkahi dan meridhai kami semua untuk menjadi agen perubahan dan kesadaran bagi umat Islam yang masih lalai.

 

اَللّٰهُمَّ يَا مُنْـزِلَ الْكِتَابِ، وَمُهْزِمَ اْلأَحْزَابِ، اِهْزِمِ اْليَهُوْدَ وَاَعْوَانَهُمْ، وَصَلِيْبِيِّيْنَ وَاَنْصَارَهُمْ، وَرَأْسُمَالِيِّيْنَ وَاِخْوَانَهُمْ، وَاِشْتِرَاكِيِّيْنَ وَشُيُوْعِيِّيْنَ وَاَشْيَاعَهُمْ.

اَللّٰهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ دَوْلَةَ الْخِلاَفَةِ عَلَى مِنْهَاجِ النُّبُوَّةِ، تُعِزُّ بِهَا اْلإِسْلاَمَ وَاَهْلَهُ، وَتُذِلُّ بِهَا الْكُفْرَ وَاَهْلَهُ، وَ اجْعَلْناَ مِنَ الْعَامِلِيْنَ الْمُخْلِصِيْنَ بِإِقَامَتِهَا بِإِذْنِكَ، يَا اَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ.

رَبَّنَا لاَ تُؤَاخِذْنَا اِنْ نَّسِيْنَآ أَوْ اَخْطَأْنَا، رَبَّنَا وَلاَ تَحْمِلْ عَلَيْنَآ اِصْرًا كَمَا حَمَلْتَهُ عَلَى الَّذِيْنَ مِنْ قَبْلِنَا، رَبَّنَا وَلاَ تُحَمِّلْنَا مَالاَ طَاقَةَ لَنَا بِهِ، وَاعْفُ عَنَّا، وَاغْفِرْلَنَا، وَارْحَمْنَا، اَنْتَ مَوْلاَنَا، فَانْصُرْنَا عَلَى الْقَوْمِ الْكَاِفِرِيْنَ.

رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً، وَفِي اْلآخِرَةِ حَسَنَةً، وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ، وَسُبْحَانَ رَبِّكَ رَبِّ الْعِزَّةِ عَمَّا يَصِفُوْنَ، وَسَلاَمٌ عَلَى الْمُرْسَلِيْنَ، وَالْحَمْدُ للهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ.

اللهُ أَكْبَرْ اللهُ، أَكْبَرْ اللهُ أَكْبَرْ، وَلِلَّهِ الْحَمْدُ.

وَالسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ

Bahasa Daerah

Naskah Khutbah untuk bahasa lain di Indonesia
HAJI, PERSATUAN UMAT, DAN KEJAYAAN ISLAM

HAJI, PERSATUAN UMAT, DAN KEJAYAAN ISLAM

HAJI, PERSATUAN UMAT, DAN KEJAYAAN ISLAM

HAJI, PERSATUAN UMAT, DAN KEJAYAAN ISLAM

 

KHUTBAH PERTAMA

 

إِنَّ الْحَمْدَ لِلّٰهِ، نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَسَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، شَهَادَةً تُنْجِيْ قَائِلَهَا مِنَ النَّارِ. وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الْمُتَّصِفُ بِالْمَكَارِمِ كَبِيْرًا وَصَبِيًّا.

اللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ النَّبِيِّ الْأُمِّيِّ، الصَّادِقِ الْأَمِيْنِ، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ الَّذِيْنَ حَسُنَ إِسْلَامُهُمْ. أَمَّا بَعْدُ؛ فَيَا أَيُّهَا الْحَاضِرُوْنَ رَحِمَكُمُ اللهُ، أُوْصِيْ نَفْسِيْ وَإِيَّاكُمْ بِتَقْوَى اللهِ، فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ. قَالَ اللهُ تَعَالَى:

اِنَّمَا الْمُؤْمِنُوْنَ اِخْوَةٌ فَاَصْلِحُوْا بَيْنَ اَخَوَيْكُمْ وَاتَّقُوا اللّٰهَ لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُوْنَ ۝١٠ (اَلْحُجُرَاتُ) 

Alhamdulillâhi Rabbil ‘Âlamîn, segala puji bagi Allah Subhânahu Wa Ta’âlâ yang telah menganugerahkan kita nikmat iman dan Islam, serta mempertemukan kita di tempat yang diberkahi ini. Shalawat dan salam semoga senantiasa tercurah kepada junjungan kita, Nabi Muhammad Shallallâhu ‘alaihi wasallam, beserta keluarga, sahabat, dan seluruh umatnya hingga akhir zaman.

Bertakwalah kepada Allah Subhânahu Wa Ta’âlâ dengan sebenar-benarnya takwa sebagaimana firman-Nya:

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا اتَّقُوا اللّٰهَ حَقَّ تُقٰىتِه وَلَا تَمُوْتُنَّ اِلَّا وَاَنْتُمْ مُّسْلِمُوْنَ

“Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dengan sebenar-benar takwa kepada-Nya dan janganlah kamu mati kecuali dalam keadaan muslim.” (QS. Âli Imrân [3]: 102)

Sungguh takwa adalah benteng terakhir kita di tengah kehidupan akhir zaman saat ini. Dan sungguh, hanya dengan takwa kita akan selamat di dunia dan akhirat.

 

Ma’âsyiral Muslimîn rahimakumullâh,

Sekarang kita berada di bulan suci Dzulhijjah 1447 Hijriyah. Kaum Muslim dari berbagai penjuru dunia sesaat lagi akan melaksanakan puncak ibadah haji, dengan wukuf di Arafah pada 9 Dzulhijjah mendatang.

Ibadah haji mengandung makna mendalam tentang ketaatan seorang hamba kepada Allah Subhanahu wata’ala. Seluruh rangkaian ibadah haji mengajarkan bahwa seorang Muslim harus tunduk sepenuhnya pada perintah Allah Subhanahu wata’ala.

Kisah Nabi Ibrahim ’alaihissalam, Siti Hajar, dan Nabi Ismail ’alaihissalam menjadi fondasi spiritual ibadah haji yang menunjukkan puncak ketaatan kepada Allah Subhanahu wata’ala. Nabi Ibrahim ’alaihissalam rela meninggalkan keluarganya di padang tandus Makkah. Ia bahkan bersedia mengorbankan putranya karena ketaatan pada perintah Allah Subhanahu wata’ala. Dari sinilah ibadah haji  mengajarkan bahwa keimanan sejati menuntut kepasrahan total pada kehendak Ilahi. Hal ini sebagaimana firman Allah Subhanahu wata’ala:

وَاَتِمُّوا الْحَجَّ وَالْعُمْرَةَ لِلّٰهِ

”Sempurnakanlah oleh kalian ibadah haji dan umrah semata-mata karena Allah” (QS. al-Baqarah [2]: 196).

 

Ma’âsyiral Muslimîn rahimakumullâh,

Selain simbol ketaatan, Ibadah haji juga merupakan simbol pengorbanan. Seorang Muslim yang berhaji harus mengorbankan harta, tenaga, waktu dan kenyamanan demi memenuhi panggilan Allah Subhanahu wata’ala. Pakaian ihram yang sederhana mengajarkan pelepasan atribut duniawi seperti status sosial, kekayaan dan kebanggaan diri. Semua jamaah tampil setara di hadapan Allah Subhanahu wata’ala. Nilai pengorbanan ini juga mengingatkan manusia bahwa kehidupan dunia tidak boleh menjadikan seseorang sombong dan lalai dari tujuan akhirat. Rasulullah Shallallahu ’alaihi wasallam bersabda:

 مَنْ حَجَّ لِلَّهِ فَلَمْ يَرْفُثْ وَلَمْ يَفْسُقْ، رَجَعَ كَيَوْمِ وَلَدَتْهُ أُمُّهُ

”Siapa saja yang menunaikan ibadah haji semata-mata ikhlas karena Allah, lalu tidak berkata kotor dan tidak berbuat fasik, maka ia kembali seperti hari dilahirkan oleh ibunya.” (HR al-Bukhari dan Muslim).

Hadits ini menunjukkan bahwa haji bukan sekadar perjalanan fisik, tetapi juga proses penyucian jiwa melalui pengorbanan dan keikhlasan.

 

Ma’âsyiral Muslimîn rahimakumullâh,

Ibadah haji juga menjadi simbol persatuan umat Islam sedunia. Jutaan Muslim dari berbagai negara, dengan ragam bahasa dan warna kulit, berkumpul di Masjidil Haram dengan tujuan yang sama, yaitu beribadah kepada Allah Subhanahu wata’ala.

Dengan demikian ibadah haji juga harus dipahami sebagai melting point (titik lebur) kaum Muslim dari berbagai penjuru dunia. Mereka melebur menjadi satu tanpa lagi melihat suku bangsa, warna kulit, bahasa serta status ekonomi dan sosialnya. Semua menghamba hanya pada Rabb Yang Satu, Allah Subhanahu wata’ala.

Mereka menghadap kiblat yang sama. Mereka mengenakan pakaian ihram yang sama. Mereka melaksanakan ritual yang sama. Tanpa membedakan status sosial maupun kebangsaan. 

Momentum ini menunjukkan bahwa Islam adalah agama persaudaraan yang menyatukan umat Muslim di seluruh dunia di atas dasar tauhid. Dalam hal ini, Allah Subhanahu wata’ala berfirman:

اِنَّمَا الْمُؤْمِنُوْنَ اِخْوَةٌ فَاَصْلِحُوْا بَيْنَ اَخَوَيْكُمْ وَاتَّقُوا اللّٰهَ لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُوْنَ

”Sesungguhnya kaum Mukmin itu bersaudara. Sebab itu, damaikanlah di antara sesama saudara kalian itu, dan takutlah kepada Allah, supaya kalian mendapat rahmat.” (QS. al-Hujurât [49]: 10).

Dengan demikian spirit ketaatan, pengorbanan, dan persatuan yang terkandung dalam ibadah haji seharusnya tidak berhenti pada dimensi ritual individual semata. Ia seharusnya juga melahirkan kesadaran kolektif umat Islam dalam aspek sosial, politik dan peradaban. Momentum ini menunjukkan bahwa Islam adalah fondasi persatuan Muslim seluruh dunia yang melampaui batas etnis maupun nasionalisme sempit.

Marshall Hodgson dalam The Venture of Islam menjelaskan bahwa salah satu kekuatan utama peradaban Islam klasik adalah kesadaran kolektif umat sebagai satu komunitas global (ummah), yang terhubung oleh akidah, hukum dan budaya intelektual yang sama. Kekuatan utama peradaban Islam yang menyatukan negeri-negeri Muslim itulah Khilafah Islamiyah.

 

Ma’âsyiral Muslimîn rahimakumullâh,

        Sayang, kenyataan hari ini menunjukkan hal yang sebaliknya. Persatuan umat Islam belum jadi kenyataan. Umat terpecah belah. Derita umat terus berkepanjangan.

Karena itu ibadah haji seharusnya menjadi titik tolak persatuan itu. Dengan jumlah populasi lebih dari dua miliar jiwa, umat Islam sesungguhnya merupakan salah satu kekuatan demografis terbesar di dunia. Umat ini juga hidup di tanah dengan kekayaan alam yang luar biasa dan letak geopolitik yang strategis. Jika potensi tersebut disatukan dalam satu kepemimpinan politik, maka umat Islam dapat menjadi kekuatan peradaban yang disegani dunia. Allah Subhanahu wata’ala berfirman:

وَاعْتَصِمُوْا بِحَبْلِ اللّٰهِ جَمِيْعًا وَّلَا تَفَرَّقُوْا

”Berpegang teguhlah kalian semuanya pada tali (agama) Allah dan janganlah bercerai-berai” (QS. Âli ‘Imrân [3]: 103).

Persatuan menjadi kuncinya. Maka, mari jaga persatuan dan ukhuwah di tengah berbagai perbedaan politik, organisasi, maupun mazhab. Ingat,  perjuangan memperbaiki kondisi negeri harus dilakukan dengan semangat persaudaraan, dakwah, pendidikan, dan kesadaran politik Islam. Hanya dengan itu benih-benih kejayaan Islam akan tumbuh dan berkembang. Wallâhu a‘lam bish-shawâb.[]

 

بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِى الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الْآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ، وَتَقَبَّلَ مِنَّا وَمِنْكُمْ تِلَاوَتَهُ وَإِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا، وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ

 

KHUTBAH KEDUA

 

اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ عَلَى إِحْسَانِهِ، وَالشُّكْرُ لَهُ عَلَى تَوْفِيْقِهِ وَامْتِنَانِهِ. وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الدَّاعِى إِلَى رِضْوَانِهِ. اللّٰهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَسَلِّمْ تَسْلِيْمًا كَثِيْرًا.

أَمَّا بَعْدُ؛ فَياَ أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا اللّٰهَ فِيْمَا أَمَرَ وَانْتَهُوْا عَمَّا نَهَى، وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ بَدَأَ فِيْهِ بِنَفْسِهِ وَثَنَّى بِمَلَائِكَتِهِ الْمُسَبِّحَةِ بِقُدْسِهِ، وَقَالَ تَعاَلَى: إِنَّ اللهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا.

اللّٰهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِناَ مُحَمَّدٍ، وَعَلَى أَنْبِيَائِكَ وَرُسُلِكَ وَمَلَائِكَتِكَ الْمُقَرَّبِيْنَ، وَارْضَ اللّٰهُمَّ عَنِ الْخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ، أَبِى بَكْرٍ وَعُمَرَ وَعُثْمَانَ وَعَلِيٍّ، وَعَنْ بَقِيَّةِ الصَّحَابَةِ وَالتَّابِعِيْنَ، وَالتَّابِعِيْنَ لَهُمْ بِإِحْسَانٍ اِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ، وَارْضَ عَنَّا مَعَهُمْ بِرَحْمَتِكَ يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ.

اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ وَالْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ. اللّٰهُمَّ أَعِزَّ الْإِسْلَامَ وَالْمُسْلِمِيْنَ، وَأَذِلَّ الشِّرْكَ وَالْمُشْرِكِيْنَ، وَانْصُرْ مَنْ نَصَرَ الدِّيْنَ، وَاخْذُلْ مَنْ خَذَلَ الْمُسْلِمِيْنَ، وَدَمِّرْ أَعْدَاءَ الدِّيْنِ، وَأَعْلِ كَلِمَاتِكَ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ.

اَللّٰهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ دَوْلَةَ الْخِلاَفَةِ عَلَى مِنْهَاجِ النُّبُوَّةِ تُعِزُّ بِهَا الْإِسْلَامَ وَاَهْلَهُ وَتُذِلُّ بِهَا الْكُفْرَ وَاَهْلَهُ، وَاجْعَلْنَا مِنَ الْعَامِلِيْنَ الْمُخْلِصِيْنَ لِإِقَامَتِهَا بِإِذْنِكَ يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ.

اللّٰهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا الْغَلَاءَ وَالْبَلاَءَ وَالْوَبَاءَ وَالزَّلَازِلَ وَالْمِحَنَ، وَسُوْءَ الْفِتَنِ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ، عَنْ بَلَدِنَا إِنْدُوْنِيْسِيَا خَاصَّةً وَسَائِرِ بُلْدَانِ الْمُسْلِمِيْنَ عَامَّةً يَا رَبَّ الْعَالَمِيْنَ. رَبَّنَا آتِنَا فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِى الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.

عِبَادَ اللهِ! إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيْتآءِ ذِي الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشآءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ، وَاذْكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ، وَاسْأَلُوْهُ مِنْ فَضْلِهِ يُعْطِكُمْ، وَاشْكُرُوْهُ عَلَى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ، وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرْ.

Bahasa Daerah

Naskah Khutbah untuk bahasa lain di Indonesia

UPDATE INFORMASI TERBARU