ISRA MIKRAJ, KEWAJIBAN SHALAT DAN PENERAPAN SYARIAH SECARA KAFFAH

ISRA MIKRAJ, KEWAJIBAN SHALAT DAN PENERAPAN SYARIAH SECARA KAFFAH

Peristiwa Isra dan Mikraj Nabi Muhammad saw. sangat sarat dengan makna, mengandung banyak sekali hikmah dan memberikan banyak hukum. Di antaranya, dalam Isra Mikraj itulah disyariatkan kewajiban shalat lima waktu.

Shalat: Amal yang Utama

Imam Ibnu Katsir rahimahulLâh menjelaskan, “Pada malam Isra Mikraj (sekira) satu setengah tahun sebelum hijrah, Allah SWT memfardhukan kepada Rasul-Nya saw. shalat lima waktu. Setelah itu Allah SWT merinci syarat-syarat dan rukun-rukunnya serta apa saja yang berkaitan dengan shalat, secara berangsur-angsur…” (Ibnu Katsir, Tafsîr al-Qur`ân al-Azhîm, 7/164).

Rasulullah saw. menceritakan secara detil peristiwa Isra Mikraj dalam hadis yang panjang. Anas bin Malik dan Ibnu Hazm menuturkan bahwa Rasul saw. telah bersabda: “…Allah memfardhukan atas umatku 50 shalat. Aku kembali dengan perintah itu sampai aku melewati Nabi Musa. Lalu ia bertanya, “Apa yang Allah wajibkan kepada umatmu?” Aku jawab, “Allah mewajibkan 50 shalat.” Musa berkata, “Kembalilah kepada Rabb-mu karena umatmu tidak akan kuat menunaikan perintah itu.” Lalu aku kembali dan Allah menghapuskan separuhnya. Aku pun kembali kepada Musa dan berkata, “Allah telah menghapuskan separuhnya.” Musa berkata lagi, “Kembalilah kepada Rabb-mu karena umatmu tidak akan kuat menunaikan perintah itu.” Lalu aku kembali dan Allah menghapuskan separuhnya lagi. Aku pun kembali kepada Musa. Musa berkata lagi, “Kembalilah kepada Rabb-mu karena umatmu tidak akan kuat menunaikan perintah itu.” Lalu aku kembali dan Allah berkata, “Shalat itu lima (waktu) dan dinilai lima puluh (pahalanya) dan perkataan-Ku tidak akan berganti.” Aku kembali lagi kepada Musa. Musa berkata lagi, “Kembalilah kepada Rabb-mu.” Namun, aku berkata, “Aku sudah malu kepada Rabb-ku.” (HR al-Bukhari dan Muslim).

Rincian tersebut juga diriwayatkan oleh Anas bi Malik dari Malik bin Shashaah (Lihat: Al-Bukhari no. 3887, an-Nasai no. 447, Ahmad no. 17987, 17989 dan lainnya).

Allah SWT memposisikan kewajiban shalat lima waktu secara khusus. Allah SWT menurunkan kewajiban itu pada malam saat mikraj Nabi saw. Allah SWT pun menempatkan shalat sebagai amal yang dihisab paling awal. Jika shalat fardhu seseorang ada kekurangan maka akan dilengkapi dengan pahala shalat sunnahnya hingga sempurna. Amal-amal lainnya dihisab menurut kaidah ini. Hal itu sesuai dengan apa yang dituturkan oleh Abu Hurairah ra. dari Nabi saw., seperti yang diriwayatkan oleh Ashhâb as-Sunan.

Bahkan, sebagaimana penuturan Anas bin Malik, Rasul saw. menjelaskan:

«أَوَّلُ مَا يُحَاسَبُ بِهِ الْعَبْدُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ الصَّلَاةُ، فَإِنْ صَلَحَتْ صَلَحَ لَهُ سَائِرُ عَمَلِهِ، وَإِنْ فَسَدَتْ فَسَدَ سَائِرُ عَمَلِهِ»
Yang pertama dihisab dari hamba Allah pada Hari Kiamat adalah shalat. Jika shalatnya baik maka baik pula seluruh amalnya. Jika shalatnya rusak maka rusak pula seluruh amalnya (HR ath-Thabarani).

Shalat Mencegah Perbuatan Keji dan Mungkar

Baik-buruknya shalat seseorang bisa mempengaruhi baik-buruknya amal-amal lainnya. Pasalnya, di antara hikmah pelaksanaan shalat lima waktu adalah mencegah pelakunya dari perbuatan al-fahsyâ` dan al-munkar. Al-Fahsyâ` adalah sesuatu yang sangat dicela oleh syariat. Al-Munkar adalah apa yang tidak dimakrufkan oleh syariah, artinya sesuatu itu diingkari oleh syariah. Bisa juga dimaknai, al-fahsyâ` adalah dosa-dosa besar, sedangkan al-munkar adalah segala bentuk kemungkaran, yakni segala bentuk kemaksiatan secara umum.

Allah SWT berfirman:

﴿…وَأَقِمِ الصَّلَاةَ إِنَّ الصَّلَاةَ تَنْهَىٰ عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنكَرِ وَلَذِكْرُ اللَّهِ أَكْبَرُ وَاللَّهُ يَعْلَمُ مَا تَصْنَعُونَ﴾
…Dirikanlah shalat. Sungguh shalat itu mencegah dari perbuatan-perbuatan keji dan mungkar. Sungguh mengingat Allah (shalat) adalah lebih besar (keutamaannya dari ibadat-ibadat yang lain). Allah mengetahui apa yang kalian kerjakan (TQS al-Ankabut [29]: 45).

Imam asy-Syaukani dalam Fath al-Qadîr menjelaskan, “Maknanya, tegakkanlah shalat dan terus tunaikan shalat itu seperti yang diperintahkan… Lalu dinyatakan: Sungguh shalat itu mencegah dari al-fahsyâ` dan al-munkar. Ini merupakan alasan untuk perintah sebelumnya. Al-Fahsyâ` adalah amal yang dicela. Al-Munkar adalah apa yang tidak dimakrufkan dalam syariah, yakni perkara yang dilarang oleh syariah berupa kemaksiatan kepada Allah. Dalam hal ini, shalat menjauhkan semua itu. Mencegah perbuatan keji dan mungkar bermakna bahwa pelaksanaan shalat itulah yang menjadi sebabnya. Yang dimaksud di sini adalah shalat-shalat fardhu.”

Imam al-Baihaqi mengatakan, “Shalat mencegah dari al-fahsyâ` dan al-munkar. Tercegah dari al-fahsyâ` dan al-munkar itu merupakan bagian dari takwa. Hal ini karena siapa saja yang Allah jadikan shalat itu dia cintai, Allah beri dia taufik serta Allah tundukkan anggota-anggota tubuhnya dan lahiriahnya, maka dia akan tercegah dari kekejian dan kemungkaran.” (Al-Baihaqi, Syuab al-Iman, 3/287).

Imam al-Badhawi di dalam Anwâr at-Tanîl wa Asrâru at-Ta`wîl menjelaskan, shalat itu menjadi sebab bagi pelakunya untuk berhenti (tercegah) dari kemaksiatan manakala ia menyibukkan diri dengan shalat. Hal ini karena shalat mengingatkan pelakunya kepada Allah dan mewariskan pada jiwanya rasa takut dari (azab)-Nya.

Dengan demikian shalat itu harus bisa menyuruh kemakrufan kepada pelakunya dan mencegah dia dari kemungkaran. Dalam hal ini Ibnu Abbas dan Ibnu Masud ra. mengingatkan:

مَنْ لَمْ تَأْمُرْهُ صَلاتُهُ بِالْمَعْرُوفِ وَتَنْهَهُ عَنِ الْمُنْكَرِ لَمْ يَزْدَدْ مِنَ اللَّهِ إِلا بُعْدًا
Siapa yang shalatnya tidak menyuruh kemakrufan kepada pelakunya dan tidak mencegah dia dari kemungkaran maka tidak menambah bagi dirinya kecuali semakin jauh dari Allah (HR Ibnu Jarir dalam Tafsîr-nya, ath-Thabarani dalam Mujam al-Kabîr, al-Baihaqi dalam Syuab al-Iman).

Dengan demikian shalat yang ditunaikan dengan baik sesuai dengan ketentuan syariah akan membuat Muslim yang menunaikannya menjadi sosok yang menaati syariah-Nya. Dia akan bersegera melaksanakan apa yang Allah perintahkan serta menjauhi kemaksiatan dan kemungkaran. Dia akan gemar memerintahkan yang makruf dan mencegah yang mungkar. Dia pun akan membenci kemungkaran. Bahkan dia senantiasa berusaha menghilangkan dan mengubah kemungkaran itu sesuai dengan kemampuannya.

Sebaliknya, jika seseorang shalat secara lahiriah, tetapi justru dia suka bermaksiat, tidak melakukan amar makruf nahi mungkar, malah melakukan amar mungkar nahi makruf (menyerukan kemungkaran dan melarang kemakrufan), berarti dia memiliki karakter orang-orang munafik.

Kemakrufan dan Kemungkaran Terbesar

Bentuk-bentuk kemakrufan tentu sangat banyak dan berbeda-beda tingkatannya. Di antara kemakrufan yang paling agung setelah keimanan adalah kewajiban penerapan syariah secara kâffah. Pasalnya, penerapan syariah secara kâffah menjadi kunci bagi perwujudan berbagai kewajiban syari dan ragam kemakrufan lainnya.

Bentuk kemungkaran juga banyak dan berbeda tingkatannya. Di antara kemungkaran paling besar setelah syirik dan kekafiran adalah mengabaikan penerapan syariah secara kâffah apalagi menolaknya. Sebabnya, hilangnya penerapan syariah secara kâffah menjadi pintu bagi penyebaran berbagai kemungkaran dan kemaksiatan lainnya di masyarakat.

Penerapan syariah secara kâffah tidak akan terwujud kecuali dengan pengangkatan seorang imam atau khalifah, yakni dengan tegaknya Khilafah. Hilangnya Khilafah, dengan begitu, termasuk kemungkaran paling besar. Bahkan hilangnya Khilafah—yang mengakibatkan hilangya penerapan syariah secara kâffah—oleh para ulama disebut sebagai ummul jarâ`im (induk kejahatan) dan menjadi bencana terbesar yang menimpa umat Islam.

Yang menyedihkan, kemungkaran paling besar dan ummul jarâ`im itu benar-benar terjadi pada 28 Rajab 1342 H. Saat itu Mushthafa Kamal lanatulLah alayh memecat dan mengusir Khalifah. Dia lalu menghapus Khilafah Utsmani dan mendeklarasikan negara Turki sekular. Hal itu dia lakukan demi memenuhi perintah kaum kafir. Menteri Luar Negeri Inggris yang sekaligus merupakan koordiator delegasi Inggris, Italia dan Perancis, Lord Curzon, dalam Konferensi Lausanne 1922, menyatakan empat syarat bagi pengakuan atas kemerdekaan Turki yaitu: penghapusan total Khilafah, pengusiran Khalifah, perampasan hartanya dan deklarasi sekularisme negara.

Khatimah

Karena itu dalam momen memaknai Isra Mikraj sekaligus kewajiban shalat lima waktu yang diperintahkan pada malam Isra Mikraj itu, semestinya setiap Muslim bersegera melaksanakan ketaatan, merealisasi dan memerintahkan kemakrufan serta mencegah dan menghilangkan kemungkaran. Hendaklah setiap Muslim mengakhiri kemungkaran paling besar, yaitu hilangnya penerapan syariah secara kâffah serta tidak adanya khalifah dan Khilafah. Caranya adalah dengan berupaya secara sungguh-sungguh menyerukan penerapan syariah secara kâffah, pengangkatan seorang khalifah dan penegakan Khilafah yang termasuk kemakrufan dan kewajiban paling agung. Hendaknya seorang Muslim tidak melakukan hal sebaliknya: menolak penerapan syariah secara kâffah dan penegakan khilafah, apalagi menghalangi dan merintanginya. Pasalnya, tindakan demikian, selain bisa membuat dia dekat dengan karakter orang munafik, juga—seperti ungkapan Ibnu Abbas dan Ibnu Masud ra.—justru akan bisa menambah dirinya jauh dari Allah SWT.

WalLâh alam bi ash-shawâb. []

Hikmah:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا ادْخُلُوا فِي السِّلْمِ كَافَّةً وَلَا تَتَّبِعُوا خُطُوَاتِ الشَّيْطَانِ إِنَّهُ لَكُمْ عَدُوٌّ مُبِينٌ
Hai orang-orang beriman, masuklah kalian ke dalam Islam secara keseluruhan, dan janganlah kalian mengikuti langkah-langkah setan karena sungguh setan itu musuh yang nyata bagi kalian (TQS al-Baqarah [2]: 208). []

ISRA MIKRAJ DAN ISYARAT DATANGNYA PERTOLONGAN ALLAH SWT

ISRA MIKRAJ DAN ISYARAT DATANGNYA PERTOLONGAN ALLAH SWT

Bulan Rajab tak bisa dipisahkan dengan Isra Mikraj. Peristiwa Isra Mikraj, yang terjadi pada bulan Rajab, sungguh sarat makna. Tentu peristiwa ini tidak boleh dibaca sebagai peristiwa yang terpisah dengan rangkaian sirah Rasulullah saw.

Peristiwa Isra Mikraj terjadi setelah Rasul saw. bersama para sahabat beliau menempuh waktu sebelas tahun perjalanan dakwah di tengah-tengah masyarakat.

Pada tiga tahun pertama kenabian, Rasul saw. membina para sahabat agar memiliki kepribadian islami dan keimanan yang kokoh; agar mampu memikul beban dakwah; juga sanggup mengorbankan apapun untuk menyerukan Islam dan menjadikan Islam sebagai sistem yang mengatur kehidupan umat manusia.

Tahun-tahun berikutnya, Rasul saw. bersama para sahabat berinteraksi di tengah-tengah masyarakat dengan membawa risalah agung ini, Islam. Pertama: Beliau melakukan pergolakan pemikiran dengan menyerang akidah dan pemikiran rusak seraya menjelaskan kerusakan dan keburukannya. Kemudian beliau menjelaskan akidah Islam yang lurus dan jernih sekaligus manusiawi. Beliau mendorong umat agar hanya mengambil akidah dan pemikiran Islam itu sebagai solusi bagi semua permasalahan kehidupan mereka.

Kedua: Beliau melakukan perjuangan politik dengan menentang segala bentuk penjajahan, kezaliman para penguasa, serta kekufuran sistem mereka. Beliau menyingkap kejahatan, makar dan tipudaya busuk mereka. Beliau menjelaskan kepada umat hakikat para penguasa yang justru mengekploitasi umat demi keuntungan pribadi.

Namun demikian, sebagai konsekuensinya, Rasul saw. dan para sahabat dipersekusi. Mereka disiksa, dipukuli, dijemur di bawah terik matahari, dilempari batu dan kotoran ternak. Di antara mereka bahkan ada yang meninggal karena siksaan. Beliau juga berhadapan dengan propaganda buruk, kampanye hitam dan pembunuhan karakter. Beliau dicap sebagai dukun, orang gila, atau tukang sihir. Risalah Islam pun dicap sebagai syair masa lalu dan jiplakan dari perkataan seorang Nasrani.

Kehidupan mereka dipersempit. Lapangan pekerjaan mereka dipersulit. Perdagangan mereka dirusak. Harta kekayaan mereka dirampas. Beliau bersama kaum Muslim dan kerabat dekat beliau dari Bani Hasyim dan Bani Abdul Muthalib bahkan diboikot. Mereka tidak bisa berjual beli. Mereka tidak disapa. Sapaan mereka tidak dijawab. Mereka tidak dinikahi dan tidak bisa menikahi. Persediaan bahan makanan menjadi sangat sulit. Kelaparan luar biasa mendera mereka.

Namun demikian, berbagai penderitaan dan siksaan itu dijalani oleh Rasul saw. dan para sahabat dengan penuh kesabaran sebagaimana yang Allah perintahkan:

فَاصْبِرْ كَمَا صَبَرَ أُولُو الْعَزْمِ مِنَ الرُّسُلِ وَلاَ تَسْتَعْجِلْ لَهُمْ
Bersabarlah kamu seperti para rasul yang mempunyai keteguhan hati dan janganlah tergesa-gesa atas mereka (TQS al-Ahqaf [46]: 35).

Rasul saw. dan para sahabat terus melanjutkan perjuangan dengan penuh kesabaran dan keyakinan, bahwa suatu saat pertolongan Allah pasti datang. Beliau tetap istiqamah. Beliau tidak kepincut untuk bersikap pragmatis meskipun penderitaan dan siksaan terus mendera. Bahkan beliau menolak berbagai tawaran Quraisy yang sangat menggiurkan. Tawaran Quraisy untuk menjadi orang paling kaya, menjadi raja, dan tanpa persetujuan beliau Quraisy tidak akan melakukan apapun, beliau tolak. Rasul saw. tidak bersiasat—atas nama strategi dakwah—menerima tawaran itu demi menerapkan Islam. Beliau malah meningkatkan intensitas seruan dan perjuangannya meski konsekuensinya siksaan dan penderitaan semakin keras menimpa beliau dan para sahabat.

Begitu lepas dari pemboikotan, paman Rasul saw., Abu Thalib, meninggal. Dua atau tiga bulan kemudian istri beliau, Khadijah, yang selama ini menjadi penunjang semangat dan dana bagi dakwah beliau, juga wafat. Beliau pun sangat berduka. Di tengah-tengah kedukaan ini, siksaan dan perilaku buruk kaum Quraisy terhadap beliau dan para sahabat justru bertambah ganas.

Setelah itu Rasul saw. diperintah oleh Allah SWT untuk menawarkan diri kepada kabilah-kabilah Arab lain. Hal itu beliau awali dengan pergi ke Bani Tsaqif di Thaif. Beliau mendapat jawaban yang buruk. Beliau diusir dan dilempari batu oleh orang awam dan anak-anak Thaif akibat hasutan pemuka mereka. Beliau pun berdarah-darah.

Sepulang dari Thaif, Rasul saw. melanjutkan upaya mencari nushrah (pertolongan) dengan mendatangi kabilah-kabilah Arab, yaitu Bani Amir bin Shashaah, Bani Hanifah, Bani Muharib bin Khashafah, Bani Fazarah, Bani Ghassan, Bani Murrah, Bani Sulaim, Bani Abs, Bani Nadhar, Bani al-Baka, Bani Kindah, Bani Kalb, Bani al-Harits bin Kaab, Bani Udzrah, Bani Hadhramah, Bani Syaiban dan Bani Hamdan. Sayang, semuanya menolak seruan beliau.

Semua itu menjadikan Rasul saw. merasa sangat sempit. Seolah tidak ada harapan keislaman dari Quraisy. Sikap Quraisy malah semakin bengis dan ganas. Kabilah selain Quraisy pun menolak seruan beliau. Mereka hanya menonton apa yang dilakukan Quraisy kepada beliau dan para sahabat.

Dalam kondisi inilah Allah SWT menghendaki untuk meng-Isra Mikraj-kan beliau dalam rangka menunjukkan kepada beliau tanda-tanda kekuasaan-Nya:

سُبْحَانَ الَّذِي أَسْرَى بِعَبْدِهِ لَيْلاً مِنَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ إِلَى الْمَسْجِدِ اْلأَقْصَى الَّذِي بَارَكْنَا حَوْلَهُ لِنُرِيَهُ مِنْ ءَايَاتِنَا إِنَّه هُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ
Mahasuci Allah Yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Masjid al-Haram ke Masjid al-Aqsha yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami memperlihatkan kepada dia sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sungguh Dia adalah Maha Mendengar lagi Maha Melihat (TQS al-Isra [17]:1).

Peristiwa Isra Mikraj ini menjadi berita gembira yang membesarkan hati Rasul saw. dan kaum Muslim. Di dalamnya, selain diturunkan kewajiban shalat lima waktu, juga sarat dengan isyarat Allah SWT, bahwa tidak lama lagi pertolongan (nushrah)-Nya akan datang. Faktanya, tidak lama setelah itu enam orang penduduk Yatsrib masuk Islam. Mereka lalu mendakwahkan Islam di Madinah. Setahun berikutnya, sejumlah 12 orang Madinah datang dan melaksanakan Baiat Aqabah I. Mereka kembali disertai Mushab bin Umair untuk bersama-sama mereka mendakwahkan Islam di Madinah.

Setahun berikutnya, sebanyak 75 orang dari mereka, sebagai wakil penduduk Madinah, datang berhaji dan melaksanakan Baiat Aqabah II, baiat penyerahan kekuasaan kepada Rasul saw. Tiga bulan kemudian beliau hijrah ke Madinah. Segera setelah itu berdirilah Daulah Islam. Negara Islam ini—yang pasca wafat Nabi saw. disebut dengan Khilafah—kemudian terus meluas. Tidak lama kemudian Khilafah—yang dipimpin oleh Khulafaur Rasyidin dan para khalifah setelah mereka—menjadi negara adidaya, yang menebarkan rahmat dan menyebarkan risalah Islam ke seluruh dunia selama tidak kurang dari 13 abad lamanya.

Renungan untuk Masa Kini

Umat Islam saat ini telah lama mengalami berbagai macam kesulitan. Mereka terperangkap dalam kemunduran dan keterpurukan. Mereka juga diekpsloitasi dan dizalimi. Mereka selalu ditekan dan dijajah. Mereka dituduh sebagai teroris, sumber kerusakan, tidak beradab, barbar, anti kemajuan, dan sebagainya. Para aktivis dakwahnya banyak yang dipersekusi. Mereka diawasi, disiksa secara fisik, dipersempit kehidupannya, dipotong sumber penghidupannya, dipenjarakan, diasingkan, dan lain-lain. Kondisi ini tidak berbeda dengan kondisi Rasul saw. dan para sahabat pada masa lalu.

Menghadapi semua itu, tidak lain kita harus meneladani Rasul saw. dan para sahabat. yakni tetap sabar dan istiqamah di jalan dakwah. Sikap itulah yang akan mengundang datangnya pertolongan Allah SWT.

Oleh karena itu, kita harus terus menyerukan Islam kepada masyarakat. Kita harus tetap mendorong mereka menerapkan syarah Islam secara kâffah untuk mengatur kehidupan. Kita harus tetap berpegang teguh dengan ide dan metode Islam. Kita tidak boleh menoleh ke idea, metode, solusi dan sistem selain Islam. Kita harus membuang semua yang tidak berasal dari Islam seperti sekularisme, demokrasi, HAM, liberalisme, sosialisme, dll.

Kita tidak boleh bersikap pragmatis. Pasalnya, Rasul saw. pun tidak pernah bersikap pragmatis, baik dengan alasan strategi, kemaslahatan atau alasan apapun. Beliau tetap istiqamah berpegang pada fikrah (ide) dan tharîqah (metode) Islam.

Karena itu kita pun harus tetap istiqamah dan berpegang teguh hanya dengan Islam. Hendaklah kita selalu ingat akan peringatan Allah SWT:

فَلْيَحْذَرِ الَّذِينَ يُخَالِفُونَ عَنْ أَمْرِهِ أَنْ تُصِيبَهُمْ فِتْنَةٌ أَوْ يُصِيبَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ
Hendaklah orang-orang yang menyalahi perintah (ketentuan) Rasul takut akan ditimpa cobaan atau ditimpa azab yang pedih (TQS an-Nur [24]: 63).

Hendaklah kita harus selalu yakin, jika kita tetap sabar dan istiqamah, insya Allah—tidak lama lagi—pertolongan Allah SWT pasti datang. []

Hikmah:

وَعَدَ اللهُ الَّذِينَ ءَامَنُوا مِنْكُمْ وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ لَيَسْتَخْلِفَنَّهُمْ فِي اْلأَرْضِ كَمَا اسْتَخْلَفَ الَّذِينَ مِنْ قَبْلِهِمْ وَلَيُمَكِّنَنَّ لَهُمْ دِينَهُمُ الَّذِي ارْتَضَى لَهُمْ وَلَيُبَدِّلَنَّهُمْ مِنْ بَعْدِ خَوْفِهِمْ أَمْنًا
Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman dan beramal salih di antara kalian, bahwa Dia sungguh-sungguh akan menjadikan mereka berkuasa di bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang sebelum mereka berkuasa; akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah diridhai-Nya untuk mereka; dan akan menukar keadaan mereka—sesudah mereka berada dalam ketakutan—dengan rasa aman (TQS an-Nur [24]: 55). 

MEMULIAKAN BULAN RAJAB

Allah SWT telah menetapkan bulan-bulan tertentu sebagai bulan haram, yakni bulan suci yang wajib dimuliakan dan dihormati. Allah SWT berfirman:

﴿إِنَّ عِدَّةَ الشُّهُورِ عِنْدَ اللَّهِ اثْنَا عَشَرَ شَهْرًا فِي كِتَابِ اللَّهِ يَوْمَ خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالأَرْضَ مِنْهَا أَرْبَعَةٌ حُرُمٌ ذَلِكَ الدِّينُ الْقَيِّمُ فَلَا تَظْلِمُوا فِيهِنَّ أَنْفُسَكُمْ﴾
Sungguh bilangan bulan menurut Allah SWT ada dua belas bulan dalam catatan Allah pada hari ketika Allah SWT menciptakan langit dan bumi. Di antaranya terdapat empat bulan haram [suci]. Itulah agama yang lurus. Karena itu janganlah kalian menzalimi diri kalian pada bulan-bulan itu (TQS at-Taubah [9]: 36).


Nabi saw. menjelaskan empat bulan suci dalam ayat tersebut:

«إنَّ الزَّماَنَ قَدْ اِسْتَدَارَ كَهَيْئَتِهِ يَوْمَ خَلَقَ اللهُ السَّمَوَاتِ وَالأَرْضَ، السَّنَةُ اِثْنَا عَشَرَ شَهْرًا، مِنْهَا أَرْبَعَةٌ حُرُمٌ، ثَلاَثٌ مُتَوَالِيَاتٌ: ذُوْ الْقَعْدَةِ، وَذُوْ الْحِجَّةِ، وَالْمُحَرَّمُ، وَرَجَبُ شَهْرُ مُضَرّ الَّذِيْ بَيْنَ جُمَادِى وَشَعْبَانَ»
Sungguh waktu itu telah diputar sebagaimana keadaannya ketika Allah SWT menciptakan langit dan bumi. Tahun itu ada dua belas bulan, di antaranya ada empat bulan haram (suci). Tiga berurutan, yaitu Dzulqa’dah, Dzulhijjah dan Muharram; serta Rajab bulan Mudharr yang terdapat di antara Jumadi dan Sya’ban (HR Muslim).

Allah SWT menetapkan bulan-bulan tertentu sebagai bulan haram (suci). Maknanya, Allah SWT menetapkan kemuliaan dan kehormatan yang ada di dalamnya wajib dijaga. Karena itu dalam khutbah Haji Wada’- Nabi saw. bersabda:

«إنَّ أَمْوَالَكُمْ وَدِمَاءَكُمْ وَأَعْرَاضَكُمْ حَرَامٌ عَلَيْكُمْ كَحُرْمَةِ يَوْمِكُمْ هَذَا، فِي شَهْرِكُمْ هَذَا وَفِي بَلَدِكُمْ هَذَا»
Sesungguhnya harta kalian, darah kalian dan kehormatan kalian adalah haram (mulia) bagi kalian sebagaimana kemuliaan hari kalian ini, pada bulan kalian ini dan di negeri kalian ini (HR Muslim).


Dalam ayat di atas Allah SWT dengan tegas melarang kita melakukan kezaliman terhadap diri kita pada bulan-bulan tersebut. Jika melakukan kezaliman pada bulan-bulan lain dilarang, maka penegasan Allah SWT atas larangan melakukan kezaliman pada bulan haram ini menunjukkan larangan tersebut lebih besar lagi dosanya. Begitu juga saat kita dilarang menzalimi diri sendiri maka larangan menzalimi orang lain tentu dosanya lebih besar lagi.

Karena itu Imam al-Baihaqi menyatakan bahwa Allah SWT telah menjadikan dosa yang dilakukan pada bulan-bulan (haram) tersebut lebih besar. Amal shalih dan pahalanya (pada bulan-bulan haram tersebut) pun sangat besar (Al-Baihaqi, Syu’ab al-Îmân, III/370).

Dulu kaum Muslim menolak untuk mengeksekusi hukuman qishâsh pada bulan haram ini (‘Abdu ar-Razzaq, Al-Mushannaf, IX/303).

Bahkan Imam Syafii rahimahulLâh telah melipatgandakan diyat (uang tebusan) pembunuhan karena salah (qatlu al-khatha’) yang dilakukan pada bulan haram. Beliau bersandar pada riwayat dari Ibnu Umar dan Ibnu ‘Abbas. Inilah kemuliaan bulan haram, termasuk bulan Rajab.

Begitu sekelumit kemuliaan dan kehormatan bulan haram, termasuk bulan Rajab, juga bagaimana kaum Muslim terdahulu mengagungkan bulan-bulan haram itu dan menghormati kemuliaan dan kesuciannya.

Sayang, tak sedikit dari kaum Muslim yang tidak paham kemuliaan, kesucian dan kehormatan bulan haram. termasuk bulan Rajab ini. Akibatnya, mereka menyia-nyiakan bahkan menodai kemuliaan, kesucian dan kehormatannya.


Memuliakan Bulan Rajab

Allah SWT telah menetapkan Rajab termasuk bulan suci. Allah SWT pun telah memilih Rajab sebagai momen hijrah kaum Muslim yang pertama ke Habasyah, tahun ke-5 kenabian. Allah SWT juga menjadikan Rajab sebagai momen untuk meng-isra’mikraj-kan hamba-Nya pada tahun ke-10 kenabian. Isra’ dan Mikraj adalah momen istimewa. Pasalnya, tidak saja dalam peristiwa itu Nabi saw. menerima titah kewajiban shalat, tetapi juga menerima pengukuhan beliau sebagai pemimpin bagi seluruh umat manusia. Itulah saat beliau dititahkan menjadi imam para nabi dan rasul sebelumnya di Baitul Maqdis.

Pada bulan Rajab juga Allah SWT menetapkan momen pertemuan pertama kali Nabi saw. dengan kaum Anshar yang mempunyai kemuliaan. Melalui tangan merekalah Negara Islam pertama tegak di Madinah. Dengan itu kesucian darah, harta dan jiwa pun bisa terjaga. Jabir bin ‘Abdillah ra. menuturkan: Rasulullah saw. pernah menawarkan dakwah kepada khalayak…Baginda mengatakan, “Apakah ada seseorang yang bisa membawaku kepada kaumnya karena kaum Quraisy telah menghalangiku untuk menyampaikan firman Tuhanku?” Jabir berkata: Seorang laki-laki dari Bani Hamdan lalu mendatangi beliau. Dia berkata, “Saya.” Baginda bertanya, “Apakah kaummu mempunyai kekuatan (yang bisa melindungi)?” Dia menjawab, “Iya.” Lalu Rasul saw. bertanya lagi kepada dia, “Dari mana asalnya?” Dia menjawab, “Dari Bani Hamdan.” Pada saat berikutnya, dia pun krmbali mendatangi Rasulullah saw. seraya berkata, “Saya telah mendatangi kaumku. Saya telah memberitahu mereka. Kemudian saya akan menemui Anda tahun depan.” Baginda menjawab, “Baik.” Dia pun pergi. Lalu delegasi Anshar pun tiba pada bulan Rajab (HR al-Hakim an-Nisaburi, Al-Mustadrak, IX/497).

Rajab juga telah dijadikan oleh Allah SWT momen istimewa peralihan kiblat kaum Muslim, dari Masjidil Aqsa ke Masjidil Haram (Ibnu Katsir, al-Bidâyah wa an-Nihâyah, III/252-253).

Rasul saw. pun menjadikan Rajab sebagai momen pengiriman desatemen Abdullah bin Jahsy, yang kemudian menjadi pemicu terjadinya Perang Badar (Ibnu Katsir, al-Bidâyah wa an-Nihâyah, III/248-249).

Bahkan Perang Tabuk, peperangan yang sangat sulit sehingga tentaranya disebut “Jaisy ‘Usyrah”, juga dilakukan pada bulan Rajab, tahun 9 H (Ibn Hisyam, As-Sîrah an-Nabawiyyah, V/195).

Rajab juga telah dijadikan momen penting bagi generasi berikutnya. Kota Damaskus (Syam) dibebaskan oleh kaum Muslim di bawah Panglima Abu ‘Ubaidah bin al-Jarrah dan Khalid bin al-Walid radhiyalLâhu ‘anhuma pada bulan Rajab tahun 14 H/635 M. Setelah itu Perang Yarmuk, yang dipimpin oleh Khalid bin al-Walid menghadapi Romawi, terjadi pada hari Senin, bulan Rajab, tahun 15 H/636 M (Ibnu Katsir, An-Bidâyah wa an-Nihâyah, VII/4).

Berikutnya Khalid bin al-Walid membebaskan Hirah, Irak, juga pada bulan Rajab (Ibnu Katsir, Al-Bidâyah wa an-Nihâyah, VI/343). Setelah menaklukkan Irak ini, Khalid kemudian melakukan Shalat Fath.

Baitul Maqdis juga berhasil direbut kembali oleh kaum Muslim pada bulan Rajab, tepatnya 28 Rajab 583 H/2 Oktober 1187 M di bawah kepemimpinan Shalahuddin al-Ayyubi setelah mereka mengalahkan pasukan salib dalam Perang Hittin. Azan dan shalat Jumat kembali dikumandangkan dan dilaksanakan di Masjid al-Aqsha, setelah 88 tahun diduduki tentara Salib.

Begitulah kemuliaan Rajab di mata Islam dan kaum Muslim, dari dulu, kini hingga Hari Kiamat. Kaum Muslim dulu telah begitu rupa memuliakan dan menjaga kehormatan bulan haram termasuk Rajab dengan mempersembahkan amal-amal mulia, amal-amal spektakuler dan prestasi monumental yang dicatat dengan tinta emas sejarah untuk kemuliaan Islam dan kaum Muslim.

Sayang, kini kemuliaan Rajab yang begitu luar biasa itu telah hilang. Ini seiring dengan redup bahkan hilangnya pemahaman dan kesadaran umat akan kemuliaan bulan ini, terutama setelah Islam telah dibuang dari kehidupan. Ini terjadi setelah terjadi malapetaka besar atas umat ini. Mushtafa Kemal bersama komplotannya—la’natulLâh ‘alayhim—bersekongkol dengan Inggris dan Perancis, menghancurkan Khilafah Utsmani pada 28 Rajab 1351 H/4 Maret 1924 M. Akibat lenyapnya Khilafah, junnah (pelindung) Islam dan umat Islam, umat Islam pun dirundung malapetaka demi malapetaka hingga sekarang seolah tak berkesudahan.

Namun demikian, yakinlah dengan izin dan pertolongan Allah, semua itu akan segera berakhir. Allah SWT telah berjanji bahwa penerapan syariah Islam akan kembali terwujud. Allah SWT telah menjanjikan, Khilafah Rasyidah yang mengikuti manhaj kenabian akan kembali tegak menerapkan syariah, melindungi umat, menjaga kemuliaan Islam serta menebarkan petunjuk dan keadilan ke seluruh dunia. Itu merupakan urusan Allah SWT dan Dia pasti akan memenangkan urusan-Nya.

Atas izin Allah SWT, selalu ada jamaah (thâ`ifah) di antara umat Nabi-Nya yang terus-menerus berjuang siang dan malam. Mereka berjuang dan melipatgandakan perjuangannya untuk mewujudkan penerapan syariah Islam, menegakkan kembali Khilafah ‘ala minhaj an-nubuwwah serta menjaga kemuliaan Islam dan kaum Muslim. Hal itu, selain dilandasi oleh kesadaran bahwa itu merupakan kewajiban syar’i dari Allah SWT, juga dilandasi kesadaran akan kondisi umat ini, bagaimana penderitaan yang mereka alami, serta solusi apa yang seharusnya direalisasikan.

Karena itu hendaklah kita memastikan diri menjadi bagian dari barisan orang-orang yang mendapat kemuliaan dari Allah SWT itu. Caranya dengan meneguhkan dan mengokohkan tekad serta menggelorakan semangat dan berpartisipasi semaksimal mungkin sesuai potensi dan kemampuan kita dalam perjuangan untuk menerapkan syariah dan merealisasi janji Allah akan tegaknya Khilafah ‘ala minhaj an-nubuwwah. Apalagi pada bulan Rajab, bulan haram ini, yang di dalamnya pahala amal shalih dilipatgandakan.

WalLâh a’lam bi ash-shawâb. []

Hikmah:


Allah SWT berfirman:

﴿وَقُلِ اعْمَلُوا فَسَيَرَى اللَّهُ عَمَلَكُمْ وَرَسُولُهُ وَالْمُؤْمِنُونَ وَسَتُرَدُّونَ إِلَىٰ عَالِمِ الْغَيْبِ وَالشَّهَادَةِ فَيُنَبِّئُكُم بِمَا كُنتُمْ تَعْمَلُونَ﴾
Katakanlah, “Bekerjalah kalian, maka Allah dan Rasul-Nya serta kaum Mukmin akan melihat pekerjaan kalian itu, dan kalian akan dikembalikan kepada (Allah) Yang mengetahui perkara yang gaib dan yang nyata, lalu Dia memberitakan kepada kalian apa saja yang telah kalian kerjakan.” (TQS at-Taubah [9]: 105)

HARAM MENJEGAL DAKWAH

Dakwah dan para pengembannya akan selalu diuji oleh Allah SWT dengan hadangan orang-orang yang hasad dan membenci kalimatulLâh. Para penghadang inilah yang disebut oleh Allah SWT sebagai syayâthîn. Mereka bukan saja menghadang, tetapi juga melemparkan tudingan-tudingan keji terhadap dakwah dan para pengembannya untuk menyesatkan umat. Allah SWT berfirman:

 

وَكَذَلِكَ جَعَلْنَا لِكُلِّ نَبِيٍّ عَدُوًّا شَيَاطِينَ الْإِنْسِ وَالْجِنِّ…

Demikianlah Kami telah menjadikan bagi tiap-tiap nabi itu musuh, yaitu setan-setan (dari jenis) manusia dan jin… (TQS al-An’am [6]: 112).

 

 

Imam Jarir ath-Thabari dalam tafsirnya mengatakan bahwa ujian yang disebutkan Allah SWT dalam ayat ini tidak hanya menimpa Rasulullah saw., tetap juga berlaku umum bagi orang-orang yang mengikuti beliau dalam dakwah.

 

 

Beragam Cara Menjegal Dakwah

 

Di antara upaya menjegal dan menjagal dakwah itu adalah dengan berbagai propaganda atau pemberian stigma negatif baik pada Islam maupun kepada para pejuangnya. Rasulullah saw. dan para sahabat telah mengalami kondisi demikian. Bahkan Rasulullah saw. yang mulia pernah disebut sebagai orang gila (QS al-Hijr [15]: 6), tukang sihir (QS Shad [38]: 4), penyair gila (QS Shaffat [37]: 37), pemecah-belah persatuan kaumnya, dsb.

 

Ajaran Islam juga tak lepas dari berbagai cacian. Al-Quran, misalnya, disebut sebagai ayat-ayat sihir (QS al-Muddatsir [74]: 24), kumpulan dongeng (QS al-Muthaffifin [83]: 13); juga dituding sebagai karya orang ‘ajam (non Arab), bukan kalamullah (QS an-Nahl [16]: 103).

 

Kaum Muslim yang mengikuti Rasulullah saw. pun senantiasa diejek dan disebut sebagai orang-orang tersesat. Allah SWT berfirman:

 

وَإِذَا رَأَوْهُمْ قَالُوا إِنَّ هَؤُلَاءِ لَضَالُّونَ

Jika mereka melihat orang-orang Mukmin, mereka berkata, “Sungguh mereka itu benar-benar sesat.” (TQS al-Muthaffifin [83]: 32).

 

Para tokoh musyrik Quraisy seperti Abu Jahal, Abu Lahab dan Walid bin Mughirah bekerja keras siang-malam untuk menjegal dakwah Rasulullah saw.  Abu Lahab bahkan selalu membuntuti dakwah Nabi saw. dan memprovokasi orang-orang untuk meninggalkan beliau. Abu Lahab menyebut perkataan Nabi saw. sebagai sihir, memecah-belah keluarga dan kabilah serta menghina agama nenek moyang mereka.

 

Para penentang dakwah ini pun melakukan penganiayaan secara fisik kepada Rasulullah saw. dan kaum Muslim. Mereka mengembargo kegiatan sosial dan ekonomi Nabi saw. dan para sahabat beliau. Mereka pun mengucilkan Nabi saw. dan para sahabat beliau ke lembah tandus selama tiga tahun. Sebagian sahabat, terutama yang dhu’afa, ditangkap, disiksa dan bahkan ada yang dibunuh. Yasir dan Sumayyah ra. adalah pasangan suami-istri yang menjadi syuhada pertama dalam perjuangan dakwah.

 

Rasulullah saw. pun tak lepas dari penyerangan secara fisik. Abu Lahab dan istrinya pernah menaburkan duri-duri di depan rumah Nabi saw. Abu Lahab pernah menaburkan isi perut unta ke atas kepala beliau. Abu Lahab bahkan pernah mencekik dan hampir membunuh beliau.

 

Kaum kafir Quraisy juga mengerahkan para pemudanya untuk mengepung rumah Nabi saw.. Mereka siap membunuh beliau. Namun demikian, Allah SWT menyelamatkan beliau hingga beliau bisa hijrah ke Madinah.

 

 

Tantangan Dakwah Kini

 

Tantangan para pengemban dakwah hari ini pun tak berbeda dengan apa yang pernah dialami oleh Rasulullah saw. dan para sahabat. Berbagai upaya dilakukan untuk menjegal dan membungkam dakwah, antara lain dengan cara: Pertama, mengkriminalisasi para da’i tuduhan sebagai kaum radikal, mengancam kebhinekaan, membawa ajaran yang tidak sesuai budaya lokal, dll. Tujuannya adalah agar mereka dijauhi oleh masyarakat.

 

Kedua, menangkap para pegiat dakwah juga mulai dilakukan. Sejumlah aktifis dakwah dibui dengan tuduhan melakukan ujaran kebencian dan menyebarkan hoax di media sosial. Sebaliknya, berbagai akun medsos yang terang-terangan menghina tokoh Islam, menyerang ormas Islam, juga menghina ajaran Islam lamban diproses bahkan mayoritas tak kunjung ditindak.

 

Ketiga, mengkriminalisasi ajaran Islam, terutama syariah dan khilafah. Para penentang dakwah melakukan framing terhadap dakwah penegakan syariah dan khilafah sebagai ancaman terorisme. Mantan ketua BNPT Ansyad Mbai, dalam persidangan administrasi PTUN tentang pembubaran HTI, mem-framing opini bahwa dakwah menegakkan khilafah adalah radikal dan menjadi benih terorisme.

 

Ansyad menegaskan bahwa terorisme adalah anak kandung radikalisme. Bahkan kata dia, radikalisme lebih berbahaya dari terorisme. “Seorang teroris akan dimotivasi oleh ideologinya yang radikal dan mengatasnamakan agama,” katanya. Kata dia pula, “Negara kita menghadapi darurat radikalisme apalagi dengan masuknya paham khilafah ke Indonesia,” ujar Mbai (Kriminologi.id, 1/3/2018).

 

Kriminalisasi ajaran Islam—khususnya syariah dan khilafah—dan para pengembannya, apalagi dikaitkan dengan terorisme, adalah cara berpikir yang kacau. Pasalnya, metode dakwah untuk menegakkan khilafah telah ditentukan dalam syariah Islam, yakni tidak boleh dilakukan dengan kekerasan apalagi membunuh warga tak bersalah meski atas nama dakwah. Bahkan Allah SWT berfirman:

 

…مَنْ قَتَلَ نَفْسًا بِغَيْرِ نَفْسٍ أَوْ فَسَادٍ فِي الْأَرْضِ فَكَأَنَّمَا قَتَلَ النَّاسَ جَمِيعًا…

…Siapa saja yang membunuh seseorang bukan karena orang itu membunuh orang lain, atau bukan karena dia membuat kerusakan di muka bumi, maka seakan-akan dia telah membunuh seluruh manusia… (TQS al-Maidah [5]: 32).

 

 

Dakwah Pasti Mendatangkan Berkah

 

Islam adalah agama yang menebarkan kebaikan dan keberkahan bagi masyarakat. Setiap Muslim wajib mengimani bahwa keberkahan hidup dunia dan akhirat hanya bisa diraih dengan mengamalkan dan menerapkan hukum-hukum Allah SWT, bukan hukum-hukum buatan manusia. Islam datang untuk mengeluarkan manusia dari keterpurukan hidup menuju keberkahan dan rahmat Allah SWT (Lihat: QS al-Hadid [57]: 9; QS al-Anbiya’ [21]: 107).

 

Karena itu mendakwahkan Islam—termasuk di dalamnya syariah dan khilafah—pasti bakal mendatangkan berkah dan rahmat Allah SWT. Gambaran penerapan Islam—termasuk di dalamnya syariah dan khilafah—yang mendatangkan berkah dan rahmat Allah SWT bisa dilihat dari kepemimpinan Rasulullah saw. dan Khulafaur-Rasyidin. Dua masa inilah yang seharusnya dijadikan pedoman oleh kaum Muslim dalam melihat realita kehidupan Islam yang sebenarnya,  bukan praktik keliru yang terjadi di banyak negeri kaum Muslim, apalagi yang diperagakan oleh ISIS. Nabi saw. telah bersabda:

 

فَعَلَيْكُمْ بِسُنَّتِى وَسُنَّةِ الْخُلَفَاءِ الرَّاشِدِينَ الْمَهْدِيِّينَ عَضُّوا عَلَيْهَا بِالنَّوَاجِذِ

Wajib atas kalian berpegang pada Sunnahku dan sunnah Khulafaur-Rasyidin yang mendapatkan petunjuk. Gigitlah ia dengan gigi geraham (HR Ibnu Majah).

 

Syariah dan khilafah memperlakukan semua warganya—pria-wanita, miskin-kaya, Muslim-non-Muslim—sama di hadapan syariah Islam. Kalangan non-Muslim juga berhak mendapatkan pelayanan Khilafah sebagaimana kaum Muslim. Di ruang pengadilan mereka duduk sama rendah dan berdiri sama tinggi dengan kaum Muslim. Mereka sama-sama diproses dengan hukum yang juga sama. Terjagalah harta, jiwa dan kehormatan mereka. Karena itu tak ada alasan takut pada syariah dan khilafah, apalagi menuding keduanya sebagai pemicu terorisme.

 

Haram Menjegal Dakwah

 

Meninggalkan dakwah adalah kerugian besar bagi seorang Muslim. Pasalnya, Rasulullah saw.  telah bersabda:

 

لَتَأْمُرُنَّ بِالْمَعْرُوفِ، وَلَتَنْهَوُنَّ عَنِ الْمُنْكَرِ، أَوْ لَيُسَلِّطَنَّ اللَّهُ عَلَيْكُمْ شِرَارَكُمْ، ثُمَّ يَدْعُو خِيَارُكُمْ فَلا يُسْتَجَابُ لَكُمْ

Kalian sungguh-sungguh menyerukan kemakrufan dan mencegah yang munkar atau Allah benar-benar akan memberikan kekuasaan kepada orang-orang buruk di antara kalian, lalu orang-orang baik di antara kalian berdoa, tetapi tidak dikabulkan oleh Allah (HR Ibnu Hibban).

 

 

Berdasarkan hadis di atas, meninggalkan dakwah jelas haram, apalagi menjegal dakwah, jelas haram pula. Menjegal dakwah sama artinya menghalangi negeri ini keluar dari penderitaannya dan melestarikan kesengsaraan bagi seluruh rakyat. Ini merupakan dosa besar di sisi Allah SWT, sebagaimana firman-Nya:

 

إِنَّ الَّذِينَ فَتَنُوا الْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ ثُمَّ لَمْ يَتُوبُوا فَلَهُمْ عَذَابُ جَهَنَّمَ وَلَهُمْ عَذَابُ الْحَرِيقِ

Sungguh orang-orang yang menimpakan fitnah kepada kaum Mukmin laki-laki dan perempuan, kemudian mereka tidak bertobat, maka bagi mereka azab Jahanam dan bagi mereka azab (neraka) yang membakar (TQS al-Buruj [85]: 10).

 

Menjegal dakwah sama artinya membiarkan kemungkaran terus merajalela. Manakala kemungkaran merajalela itu artinya pintu bencana terbuka bagi semua orang, termasuk orang-orang salih. Dalam hal ini, Ummu Salamah, istri Nabi saw., pernah bertutur: Aku pernah mendengar Rasulullah saw. bersabda:

 

إِذَا ظَهَرَتِ الْمَعَاصِي فِي أُمَّتِي، عَمَّهم اللَّهُ بِعَذَابٍ مِنْ عِنْدِهِ. فَقُلْتُ: يَا رَسُولَ اللَّهِ، أَمَا فِيهِمْ أُنَاسٌ صَالِحُونَ؟ قَالَ: بَلَى

Jika ragam kemaksiatan di tengah umatku telah nyata, Allah pasti akan menimpakan azab-Nya kepada mereka secara merata.” Aku (Ummu Salamah), bertanya, “Wahai Rasulullah, bukankah di tengah mereka itu ada orang-orang yang salih?” Beliau menjawab, “Benar.” (HR Ahmad). []

 

Hikmah:

 

﴿إِنَّ الَّذِينَ كَفَرُوا يُنْفِقُونَ أَمْوَالَهُمْ لِيَصُدُّوا عَنْ سَبِيلِ اللَّهِ فَسَيُنْفِقُونَهَا ثُمَّ تَكُونُ عَلَيْهِمْ حَسْرَةً ثُمَّ يُغْلَبُونَ وَالَّذِينَ كَفَرُوا إِلَى جَهَنَّمَ يُحْشَرُونَ﴾

Sungguh orang-orang kafir menafkahkan harta mereka untuk menghalangi (manusia) dari jalan Allah. Mereka akan menafkahkan harta itu, kemudian menjadi sesalan bagi mereka dan mereka akan dikalahkan. Ke dalam Jahanamlah orang-orang kafir itu dikumpulkan (QS al-Anfal [8]: 36). []

[Buletin Kaffah_31_24 Jumada ats-Tsaniyah 1439 H- 9 Maret 2018 M]

 

GHOUTA BERDUKA, DUNIA PURA-PURA BUTA

Lebih dari 500 warga sipil terbunuh. Ribuan orang lainnya terluka parah. Di antara mereka adalah ratusan bayi, anak-anak kecil, juga para wanita. Tak terhitung rumah, rumah sakit, masjid, madrasah dan bangunan lainnya luluh-lantak. Itu terjadi di Ghouta Timur, Suriah, baru-baru ini. Semua adalah akibat pengeboman besar-besaran dan membabi-buta oleh rezim Bassar Asad sejak akhir pekan lalu. Pengeboman yang amat keji itu didukung penuh oleh aliansi jahat Rusia dan Amerika, juga Iran. 

 

Sebagaimana dilansir oleh Mediaumat.news, media resmi dan situs media sosial melaporkan foto-foto mengerikan akibat  pemborbardiran, pembakaran dan pembasmian lebih dari 400.000 Muslim di Ghouta Timur. Hadi al-Abdullah, seorang aktivis Suriah, mengatakan di akun Facebook-nya: “Mereka tidak dapat menghitung jumlah syuhada. Dalam dua hari saja, lebih dari 200 syuhada telah terbunuh.”

 

Menurut Observatorium Suriah untuk Hak Asasi Manusia (SOHR), jumlah korban tewas dalam serangan keji selama tujuh hari itu meningkat menjadi 520 jiwa pada Sabtu (24/2) waktu setempat. Warga sipil yang terluka mencapai lebih dari 2.500 orang. Di antara korban tewas terdapat 127 anak-anak dan 75 perempuan.

 

Adapun yang masih hidup, menurut laporan Al-Arabiya, Ahad (25/2), banyak yang tinggal di bawah tanah selama sepekan terakhir untuk menghindari pengeboman terus-menerus. Sayang, mereka kehabisan bahan makanan dan air (Republika.co.id, 26/2/2018).

 

Menurut data SNHR (Syrian Network for Human Rights), sejak serangan 14 Oktober 2017 silam hingga 24 Februari 2018, Asad telah menewaskan 1121 warga sipil. Sebanyak 281 adalah anak-anak dan 171 wanita. Adapun jumlah korban sejak aksi perlawanan rakyat Maret 2011 ada 12.763 jiwa. Sebanyak 1463 adaah anak-anak dan 1127 wanita. Bahkan wilayah Ghouta terpapar 46 kali serangan senjata kimia. Sejak gerakan perlawanan rakyat 2011, Ghouta menjadi salah satu pusat perlawanan dan memiliki posisi strategis karena kedekatannya dengan ibukota Damaskus. Karena itu kawasan ini diblokade oleh Asad sejak April 2013, bahkan acap diserang dengan meriam atau roket.

 

 

Dunia Kembali Bungkam

 

Menyaksikan pembantaian umat Islam untuk ke sekian kalinya, dunia kembali bungkam. Para pemimpin dunia tak ada yang bersuara. Seolah tidak terjadi apa-apa.  PBB dan lembaga-lembaga HAM dunia juga diam. Demikian pula para penguasa Muslim. Mereka seolah-olah buta dan tuli. Padahal jelas, di mata Allah SWT, jangankan ribuan jiwa, pembunuhan satu orang saja tanpa haq, sama dengan membunuh seluruh manusia. Allah SWT berfirman:

 

مَنْ قَتَلَ نَفْسًا بِغَيْرِ نَفْسٍ أَوْ فَسَادٍ فِي الْأَرْضِ فَكَأَنَّمَا قَتَلَ النَّاسَ جَمِيعًا

Siapa saja yang membunuh satu orang, bukan karena orang itu membunuh orang lain atau membuat kerusakan di muka bumi, maka seakan-akan dia telah membunuh seluruh manusia (TQS al-Maidah [5]: 32).

 

Bahkan jika yang terbunuh adalah seorang Muslim, maka itu adalah peristiwa yang jauh lebih dahsyat dibandingkan dengan kehancuran dunia ini. Demikian sebagaimana sabda Rasulullah saw.:

 

لَزَوَالُ الدُّنْيَا أَهْوَنُ عِنْدَ اللهِ مِنْ قَتْلِ رَجُلٍ مُسْلِمٍ.

Kehancuran dunia ini lebih ringan di sisi Allah dibandingkan dengan pembunuhan seorang Muslim  (HR at-Tirmidzi dan an-Nasa’i).

 

Sampai Kapan Umat Jadi Korban?

Tragedi Ghouta di Suriah hanyalah pengulangan belaka dari ratusan bahkan ribuan tragedi yang menimpa umat Islam di seluruh dunia.  Jelas, Ghouta bukan tragedi pertama—bahkan  mungkin bukan yang terakhir—yang  menimpa umat Islam. Sebelum ini, bahkan hingga kini masih sedang berlangsung, ada tragedi pembantaian umat Islam di Myanmar (Burma). Tragedi lainnya juga masih akan terus dialami oleh kaum Muslim di Xinjiang, Cina; Kashmir, India; di Afrika, Irak dan tentu di Palestina yang telah sekian puluh tahun menderita dijajah Israel yang didukung Amerika dan Eropa.

 

Dengan seabreg penderitaan umat di berbagai belahan dunia itu, khususnya yang dialami kaum Muslim di Suriah saat ini, kita patut bertanya: Siapa yang membela? Tidak ada. Apakah PBB? Tidak. Apakah lembaga HAM dunia. Tidak. Apakah para penguasa Arab dan Muslim? Adakah dari para penguasa Arab dan Muslim itu yang berani  menjadi “lelaki” meski cuma sehari saja?  Juga tidak. Mereka tak ubahnya banci,  tak punya nyali sedikit pun;  kecuali sekadar mengutuk. Itu pun sekadar kedok untuk menutupi sikap pengecut mereka. Lebih dari itu tidak mereka lakukan, seperti mengerahkan pasukan militer untuk menghentikan serangan brutal Rusia dan rezim Bassar Asad, sang penjagal Muslim Suriah. Padahal jelas, Suriah bertetangga dengan Turki, Saudi dan negara-negara Arab lainnya.

 

Lalu mengapa para penguasa Muslim dan Arab tidak bergerak sedikitpun untuk membela warga Suriah? Mengapa mereka tidak segera mengirimkan ratusan ribu tentaranya untuk menggempur pasukan rezim Bassar Asad yang berkoalisi dengan Rusia, Amerika juga Iran? Jawabannya:

 

Pertama, inilah dampak buruk nasionalisme dan nation state. Akibat nasionalisme dan nation state, ukhuwah islamiyah hilang entah kemana. Masing-masing negeri Muslim, khususnya para penguasa mereka, hanya mementingkan diri mereka sendiri. Mereka tak peduli atas tragedi yang terjadi di Suriah, juga di sejumlah negeri Muslim lainnya seperti di Palestina, Irak, Myanmar, dll.

 

Kedua, kebanyakan para penguasa Muslim dan Arab adalah antek Barat, khususnya AS dan Rusia. Wajar jika mereka cenderung membiarkan—bahkan mendukung—kebijakan tuan-tuan mereka meski jelas-jelas dalam rangka membunuhi kaum Muslim di berbagai negeri Islam, khususnya Suriah. 

 

Sekitar dua tahun lalu Saudi memang menggagas pembentukan aliansi militer yang melibatkan 34 negara Muslim. Namun, kiprahnya tak terdengar sedikit pun saat kaum Muslim Myanmar dan kaum Muslim Suriah dibantai seperti saat ini. Mengapa? Karena sejak awal aliansi ini dibentuk dalam rangka menangkal “terorisme” dalam makna yang dikehendaki Amerika dan Barat sebagai tuan-tuan mereka; bukan untuk menghabisi teroris sejati semacam Bassar Assad, Zionis Yahudi, apalagi gembong teroris Amerika dan Rusia. Sejauh ini mereka hanya pandai mengecam dan mengutuk. Sebagian lagi diam seribu bahasa, bahkan menjalin hubungan kerjasama dengan Iran, yang notabene salah satu alat Amerika yang juga berperan dalam pembantaian kaum Muslim di Suriah.

 

 

Umat Butuh Khilafah

 

Dengan semua tragedi yang menimpa umat Islam di berbagai belahan dunia ini, umat makin membutuhkan Khilafah yang dipimpin oleh seorang khalifah. Sebabnya jelas karena, sebagaimana sabda Rasulullah saw.:

 

  إِنَّمَا الإِمَامُ جُنَّةٌ يُقَاتَلُ مِنْ وَرَائِهِ وَيُتَّقَى بِهِ

Imam (Khalifah) itu laksana perisai; kaum Muslim diperangi (oleh kaum kafir) di  belakang dia dan dilindungi oleh dirinya (HR Muslim).

 

Apa yang disabdakan Rasulullah saw. di atas dibuktikan dalam sejarah antara lain oleh Khalifah Al-Mu’tashim Billah yang sukses menaklukkan Kota Amuriyah, kota terpenting bagi imperium Romawi saat itu, selain Konstantinopel.

 

Al-Qalqasyandi dalam kitabnya, Ma’âtsir al-Inâfah, menjelaskan salah satu sebab penaklukan kota itu pada tanggal 17 Ramadhan 223 H. Diceritakan bahwa penguasa Amuriyah, salah seorang raja Romawi, telah menawan wanita mulia keturunan Fathimah ra. Wanita itu disiksa dan dinistakan hingga berteriak dan menjerit meminta pertolongan.

 

Menurut Ibn Khalikan dalam Wafyah al-A’yan, juga Ibn al-Atsir dalam Al-Kâmil fî at-Târîkh, saat berita penawanan wanita mulia itu sampai ke telinga Khalifah Al-Mu’tashim Billah, saat itu sang Khalifah sedang berada di atas tempat tidurnya. Ia segera bangkit dari tempat tidurnya seraya berkata, “Aku segera memenuhi panggilanmu!”

 

Tidak berpikir lama, Khalifah Al-Mu’tashim Billah segera mengerahkan sekaligus memimpin sendiri puluhan ribu pasukan kaum Muslim menuju Kota Amuriyah. Terjadilah peperangan sengit. Kota Amuriyah pun berhasil ditaklukkan. Pasukan Romawi bisa dilumpuhkan. Sekitar 30 ribu tentaranya terbunuh. Sebanyak 30 ribu lainnya ditawan oleh pasukan kaum Muslim. Khalifah pun berhasil membebaskan wanita mulia tersebut. Khalifah lalu berkata di hadapan wanita itu, “Jadilah engkau saksi untukku di depan kakekmu (Nabi Muhammad saw.), bahwa aku telah datang untuk membebaskan kamu.”

Semoga Allah SWT merahmati Al-Mu’tashim Billah.

 

Bagaimana dengan para penguasa Arab dan Muslim? Sekali lagi: Adakah di antara mereka yang berani menjadi “lelaki” meski hanya sehari saja? Tidak ada. Mereka semua tetap memilih menjadi banci!

 

Alhasil, sekali lagi, umat memang butuh Khilafah,  juga seorang khalifah seperti Al-Mu’tashim Billah. Semoga saja umat Islam di seluruh dunia segera memiliki memiliki Khilafah, juga pemimpin pemberani yang mengayomi seperti Khalifah Al-Mu’tashim Billah yang akan menaklukkan Amerika, Eropa, Rusia dan Cina; menyatukan berbagai negeri Islam; menjaga kehormatan kaum Muslim; dan menolong kaum tertindas.

 

Insya Allah, masa yang mulia itu akan segera tiba karena memang telah di-nubuwwah-kan oleh Rasulullah saw.:

 

ثُمّ تَكُوْنُ خِلاَفَةً عَلَى مِنْهَاجِ النُّبُوَّةِ

Kemudian akan datang kembali masa Khilafah yang mengikuti metode kenabian (HR Ahmad). []

 

Hikmah:

Rasulullah saw. bersabda:

 

«الْمُؤْمِنُ لِلْمُؤْمِنِ كَالْبُنْيَانِ يَشُدُّ بَعْضُهُ بَعْضًا»

Mukmin dengan Mukmin lainnya bagaikan satu bangunan; sebagian menguatkan sebagian lainnya. (HR Bukhari, at-Tirmidzi, an-Nasa’i dan Ahmad).

 

«لاَ تَدْخُلُونَ الْجَنَّةَ حَتَّى تُؤْمِنُوا وَلاَ تُؤْمِنُوا حَتَّى تَحَابُّوا …»

Kalian tidak masuk surga hingga kalian beriman dan belum sempurna keimanan kalian hingga kalian saling mencintai… (HR Muslim).

[Buletin Kaffah No. 30, 17 Jumada ats-Tsaniyah 1439 H – 2 Maret 2018 M]