AKIBAT ULAH MANUSIA-MANUSIA RAKUS
DAN KEBIJAKAN PRO-KAPITALIS
KHUTBAH PERTAMA
اللهُمَّ
فَصَلِّ
وَسَلِّمْ
عَلَى سَيِّدِنَا
مُحَمَّدٍ
كَانَ
صَادِقَ
الْوَعْدِ وَكَانَ
رَسُوْلًا
نَبِيًّا، وَعَلَى
آلِهِ
وَصَحْبِهِ
الَّذِيْنَ
يُحْسِنُوْنَ
إِسْلاَمَهُمْ
وَلَمْ
يَفْعَلُوْا
شَيْئًا
فَرِيًّا. أَمَّا
بَعْدُ؛
فَيَا
أَيُّهَا
الْحَاضِرُوْنَ
رَحِمَكُمُ
اللهُ،
اُوْصِيْنِيْ
نَفْسِيْ
وَإِيَّاكُمْ
بِتَقْوَى
اللهِ،
فَقَدْ فَازَ
الْمُتَّقُوْنَ.
قَالَ اللهُ
تَعَالَى:
ظَهَرَ
الْفَسَادُ
فِى الْبَرِّ
وَالْبَحْرِ
بِمَا
كَسَبَتْ
اَيْدِى
النَّاسِ
لِيُذِيْقَهُمْ
بَعْضَ
الَّذِيْ
عَمِلُوْا لَعَلَّهُمْ
يَرْجِعُوْنَ ٤١
(اَلرُّوْمُ)
Alhamdulillâhi
Rabbil ‘Âlamin, Segala puji bagi Allah Subhânahu Wa Ta’âlâ yang
telah menganugerahkan kita nikmat iman dan Islam, serta mempertemukan kita di
tempat yang diberkahi ini. Shalawat dan salam semoga senantiasa tercurah kepada
junjungan kita, Nabi Muhammad Shallallâhu ‘alaihi wasallam, beserta
keluarga, sahabat, dan seluruh umatnya hingga akhir zaman.
Bertakwalah kepada
Allah Subhânahu Wa Ta’âlâ dengan sebenar-benarnya takwa sebagaimana
firman-Nya:
يٰٓاَيُّهَا
الَّذِيْنَ
اٰمَنُوا
اتَّقُوا
اللّٰهَ
حَقَّ
تُقٰىتِهٖ
وَلَا
تَمُوْتُنَّ
اِلَّا
وَاَنْتُمْ
مُّسْلِمُوْنَ
“Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada
Allah dengan sebenar-benar takwa kepada-Nya dan janganlah kamu mati kecuali
dalam keadaan muslim.”
(QS. Âli
Imrân
[3]: 102).
Sungguh takwa adalah
benteng terakhir kita di tengah kehidupan akhir zaman saat ini. Dan sungguh,
hanya dengan takwa kita akan selamat di dunia dan akhirat.
Ma’âsyiral Muslimîn rahimakumullâh,
Tiada kata yang
patut kita ucapkan hari ini kecuali: innaalillaahi wa innaa ilaihi raaji’un.
Kabar duka menyelimuti saudara-saudara kita di Sumatera. Banjir besar menyapu
tiga provinsi, meninggalkan duka dan amarah ekologis. Di balik derasnya hujan,
terbongkar rapuhnya benteng alam yang selama ini dirusak.
Lebih dari 600
jiwa meninggal dunia dan ratusan lainnya masih hilang. Ini belum termasuk
bangunan dan infrastruktur publik yang hancur.
BMKG menyebut
pemicu utama bencana ini adalah hujan ekstrem akibat dua siklon tropis—Senyar
dan Koto—yang muncul di Selat Malaka pada 26 November selama 48 jam, sebuah
fenomena yang disebut “pertama dalam sejarah.” Namun curah hujan ekstrem
berubah menjadi petaka lantaran hutan-hutan ditebang dan gunung-gunung
digunduli. WALHI mencatat 1,4 juta hektare hutan hilang di tiga provinsi
tersebut (2016–2025).
Ma’âsyiral
Muslimîn rahimakumullâh,
Musibah bukan
sekadar peristiwa alam. Ia adalah ujian, peringatan, dan cermin bagi manusia.
Dari bencana, Islam mengajarkan agar hati kembali pada Allah dan akal kembali
merenung.
Islam
memerintahkan kaum Muslim untuk menghadapi musibah dengan keyakinan bahwa
segala sesuatu adalah ketetapan Allah Subhânahu wa Ta‘âlâ. Hal ini
ditegaskan dalam firman-Nya:
قُلْ لَّنْ
يُّصِيْبَنَآ
اِلَّا مَا
كَتَبَ
اللّٰهُ
لَنَاۚ هُوَ
مَوْلٰىنَا
وَعَلَى
اللّٰهِ
فَلْيَتَوَكَّلِ
الْمُؤْمِنُوْنَ
Katakanlah (Nabi
Muhammad), “Tidak akan menimpa kami melainkan apa yang telah ditetapkan Allah
bagi kami. Dialah Pelindung kami, dan hanya kepada Allah hendaknya orang-orang
mukmin bertawakal.”
(QS. at-Taubah [9]: 51).
Setiap musibah
juga harus disikapi dengan sabar dan tawakal, sebagaimana firman Allah Subhânahu
wa Ta‘âlâ:
اَلَّذِيْنَ
اِذَآ
اَصَابَتْهُمْ
مُّصِيْبَةٌۗ
قَالُوْٓا
اِنَّا
لِلّٰهِ
وَاِنَّآ
اِلَيْهِ
رٰجِعُوْنَ (156)
اُولٰۤىِٕكَ
عَلَيْهِمْ
صَلَوٰتٌ
مِّنْ رَّبِّهِمْ
وَرَحْمَةٌۗ
وَاُولٰۤىِٕكَ
هُمُ
الْمُهْتَدُوْنَ
(157)
(yaitu)
orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan “Innaa lillaahi wa innaa ilaihi raaji‘uun” (sesungguhnya kami adalah milik Allah dan
sesungguhnya hanya kepada-Nya kami akan kembali). Mereka itulah yang memperoleh
ampunan dan rahmat dari Tuhannya dan mereka itulah orang-orang yang mendapat
petunjuk. (QS.
al-Baqarah [2]: 156-157).
Selain sabar,
Islam juga meminta umatnya untuk senantiasa melakukan muhaasabah kala ditimpa
musibah, karena sebagian musibah terjadi akibat ulah manusia sendiri. Allah Subhânahu
wa Ta‘âlâ berfirman :
ظَهَرَ
الْفَسَادُ
فِى الْبَرِّ
وَالْبَحْرِ
بِمَا
كَسَبَتْ
اَيْدِى
النَّاسِ
لِيُذِيْقَهُمْ
بَعْضَ
الَّذِيْ
عَمِلُوْا لَعَلَّهُمْ
يَرْجِعُوْنَ
“Telah tampak
kerusakan di darat dan di laut disebabkan perbuatan tangan manusia. (Melalui
hal itu) Allah membuat mereka merasakan sebagian dari (akibat) perbuatan mereka
agar mereka kembali (ke jalan yang benar).” (QS. ar-Rûm [30]: 41).
Banjir besar di
Sumatera menjadi contoh nyata, karena kerusakan lingkungan—terutama deforestasi
masif—menjadi faktor pemicu. Data GFW menunjukkan 10,5 juta hektare hutan
hilang di Indonesia (2002–2023), termasuk hutan primer tropis yang berfungsi
menahan curah hujan.
Kerusakan
tersebut tidak terlepas dari kebijakan negara yang mengizinkan pembukaan hutan
untuk pertambangan, penebangan, dan perkebunan sawit, serta lemahnya pengawasan
terhadap tambang ilegal dan illegal logging. WALHI menyebut tujuh perusahaan
berkontribusi pada kerusakan ekologis di Tapanuli, sementara temuan KPK
menunjukkan keterlibatan oknum aparat dan pejabat dalam praktik ilegal bahkan
terkait aliran dana Pemilu. Karena itu, bencana di Sumatera bukan hanya akibat
fenomena alam, tetapi buah dari kebijakan kapitalistik yang mengorbankan
lingkungan dan menzalimi rakyat.
Ma’âsyiral
Muslimîn rahimakumullâh,
Tambang dan hutan
adalah amanah bagi umat. Pengelolaannya mencerminkan sejauh mana sebuah negara
menegakkan keadilan dan kemaslahatan rakyat. Syariah Islam menegaskan bahwa
sumber daya alam bukan milik pribadi atau korporasi, melainkan milik umum.
Dalam Islam,
kawasan tambang dan hutan adalah milik umum yang haram dikuasai swasta,
sebagaimana sabda Rasulullah ﷺ bersabda:
الْمُسْلِمُونَ
شُرَكَاءُ
فِي ثَلَاثٍ :
فِي الْمَاءِ
وَالْكَلَإِ
وَالنَّارِ ،
وَثَمَنُهُ
حَرَامٌ
”Kaum Muslim secara
bersama-sama berhak atas tiga hal: air, padang rumput dan api, dan harganya adalah haram” (HR. Ibnu Majah).
Negara bertindak
sebagai pengelola pertambangan dan hutan untuk kemaslahatan rakyat, misalnya
pengelolaan minerba, migas, atau hasil hutan seperti kertas. Penebangan atau
penambangan yang membahayakan masyarakat hukumnya haram, sesuai sabda Nabi ﷺ:
لَا ضَرَرَ
وَلَا
ضِرَارَ،
مَنْ ضَارَّ
ضَرَّهُ
اللَّهُ،
وَمَنْ
شَاقَّ شَقَّ
اللَّهُ
عَلَيْهِ
“Janganlah
membahayakan diri sendiri dan membahayakan orang lain. Siapa yang saja yang
membahayakan orang lain, niscaya Allah akan menimpakan bahaya kepada dirinya.
Siapa saja yang mempersulit orang lain, niscaya Allah akan mempersulit dirinya.” (HR al-Baihaqi, al-Hakim dan ad-Daruquthni).
Oleh karena itu,
keseriusan dan amanah dalam Analisa Mengenai Dampak Lingkungan (AMDAL) menjadi
kunci agar pengelolaan sesuai tuntunan syariah, bukan demi keuntungan
kapitalistik semata.
Khilafah
berkewajiban mengelola SDA dengan iman dan takwa, termasuk memindahkan
pemukiman demi keselamatan warga, menyediakan lahan dan infrastruktur layak,
serta melakukan kompensasi dan reboisasi untuk menjaga keseimbangan ekosistem.
Rasulullah ﷺ menegaskan tanggung jawab pemimpin:
الْأَمِيرُ
الَّذِي
عَلَى
النَّاسِ
رَاعٍ وَهُوَ
مَسْئُولٌ
عَنْ
رَعِيَّتِهِ
“Pemimpin orang
banyak adalah pengurus rakyat dan ia bertanggung jawab atas rakyatnya.” (HR. al-Bukhari).
Semua tindakan ini
adalah amanah yang harus dijalankan demi keadilan, keselamatan, dan
kemaslahatan rakyat.
Ma’âsyiral
Muslimîn rahimakumullâh,
Sebuah bangsa
tidak boleh jatuh dua kali pada lubang yang sama. Bencana adalah peringatan,
bukan sekadar peristiwa alam. Ia menuntut perubahan arah, bukan sekadar
penyesalan.
Bencana besar
yang menimpa Sumatera seharusnya menjadi momentum bagi penguasa untuk
mengevaluasi dan meninggalkan kebijakan kapitalistik yang terbukti merugikan
rakyat dan merusak lingkungan. Sudah saatnya bangsa ini menuntut perubahan
mendasar menuju kebijakan yang berpijak pada prinsip keadilan dan kemaslahatan,
sebagaimana diajarkan syariah Islam.
Penerapan syariah
Islam secara kaaffah oleh negara dalam seluruh aspek kehidupan adalah
keniscayaan untuk mencegah kerusakan berulang, karena sistem inilah yang pernah
dipraktikkan selama berabad-abad pada masa Kekhilafahan Islam dan terbukti
menjaga manusia, alam, dan peradaban. Dengan kembali pada tuntunan Allah Subhânahu
wa Ta‘âlâ, bangsa ini memiliki peluang untuk keluar dari lingkaran bencana
yang terus berulang. WalLâhu
a’lam bi ash-shawâb. []
بَارَكَ
اللهُ لِيْ
وَلَكُمْ فِى
اْلقُرْآنِ
اْلعَظِيْمِ،
وَنَفَعَنِيْ
وَإِيَّاكُمْ
بِمَا فِيْهِ
مِنَ
الْآيَاتِ
وَالذِّكْرِ
الْحَكِيمِ
وَتَقَبَّلَ
اللهُ مِنَّا
وَمِنْكُمْ
تِلاَوَتَهُ
وَإِنَّهُ
هُوَ
السَّمِيْعُ
العَلِيْمُ،
وَأَقُوْلُ
قَوْلِيْ
هَذَا
فَأسْتَغْفِرُ
اللهَ
العَظِيْمَ
إِنَّهُ هُوَ
الغَفُوْرُ
الرَّحِيْمُ
KHUTBAH
KEDUA
اَلْحَمْدُ
لِلّٰهِ عَلىَ
إِحْسَانِهِ،
وَالشُّكْرُ
لَهُ عَلَى
تَوْفِيْقِهِ
وَاِمْتِنَانِهِ،
وَأَشْهَدُ
أَنْ لاَ
اِلٰهَ
إِلاَّ اللهُ
وَحْدَهُ لاَ
شَرِيْكَ
لَهُ،
وَأَشْهَدُ
أنَّ سَيِّدَنَا
مُحَمَّدًا
عَبْدُهُ
وَرَسُوْلُهُ
الدَّاعِى
إِلَى
رِضْوَانِهِ،
اللّٰهُمَّ صَلِّ
عَلَى
سَيِّدِنَا
مُحَمَّدٍ
وَعَلَى
اٰلِهِ
وَأَصْحَابِهِ
وَسَلِّمْ
تَسْلِيْمًا
كَثِيْرًا. أَمَّا
بَعْدُ؛
فَياَ
اَيُّهَا
النَّاسُ اِتَّقُواللّٰهَ
فِيْمَا
أَمَرَ
وَانْتَهُوْا
عَمَّا نَهَى
وَاعْلَمُوْا
أَنَّ اللهَ
أَمَرَكُمْ
بِأَمْرٍ
بَدَأَ
فِيْهِ بِنَفْسِهِ
وَثَـنَّى
بِمَلآ
ئِكَتِهِ
الْمُسَبِّحَةِ
بِقُدْسِهِ،
وَقَالَ
تَعاَلَى:
إِنَّ اللهَ
وَمَلآئِكَتَهُ
يُصَلُّوْنَ
عَلىَ النَّبِى
يآ اَيُّهَا
الَّذِيْنَ
آمَنُوْا
صَلُّوْا
عَلَيْهِ
وَسَلِّمُوْا
تَسْلِيْمًا. اللهُمَّ
صَلِّ عَلَى
سَيِّدِنَا
مُحَمَّدٍ
وَعَلَى آلِ
سَيِّدِناَ
مُحَمَّدٍ،
وَعَلَى
اَنْبِيآئِكَ
وَرُسُلِكَ
وَمَلآئِكَةِ
اْلمُقَرَّبِيْنَ،
وَارْضَ اللّٰهُمَّ
عَنِ
اْلخُلَفَاءِ
الرَّاشِدِيْنَ،
أَبِى بَكْرٍ
وَعُمَرَ
وَعُثْمَانَ
وَعَلِي، وَعَنْ
بَقِيَّةِ
الصَّحَابَةِ
وَالتَّابِعِيْنَ،
وَتَابِعِي
التَّابِعِيْنَ
لَهُمْ
بِاِحْسَانٍ
اِلَى يَوْمِ
الدِّيْنِ،
وَارْضَ
عَنَّا
مَعَهُمْ
بِرَحْمَتِكَ
يَا أَرْحَمَ
الرَّاحِمِيْنَ.
اَللّٰهُمَّ
اغْفِرْ
لِلْمُؤْمِنِيْنَ
وَاْلمُؤْمِنَاتِ
وَاْلمُسْلِمِيْنَ
وَاْلمُسْلِمَاتِ
اَلاَحْيآءَ
مِنْهُمْ
وَاْلاَمْوَاتِ،
اللّٰهُمَّ أَعِزَّ
اْلإِسْلاَمَ
وَاْلمُسْلِمِيْنَ،
وَأَذِلَّ
الشِّرْكَ
وَاْلمُشْرِكِيْنَ،
وَانْصُرْ
عِبَادَكَ
اْلمُوَحِّدِيْنَ،
وَانْصُرْ
مَنْ نَصَرَ
الدِّيْنَ،
وَاخْذُلْ
مَنْ خَذَلَ
اْلمُسْلِمِيْنَ،
وَدَمِّرْ
أَعْدَاءَ
الدِّيْنِ،
وَاعْلِ كَلِمَاتِكَ
إِلَى يَوْمِ
الدِّيْنِ.
اَللّٰهُمَّ
يَا
مُنْـزِلَ
الْكِتَابِ
وَمُهْزِمَ
اْلأَحْزَابِ
اِهْزِمِ
اْليَهُوْدَ
وَاَعْوَانَهُمْ
وَصَلِيْبِيِّيْنَ
وَاَنْصَارَهُمْ
وَرَأْسُمَالِيِّيْنَ
وَاِخْوَانَهُمْ
وَاِشْتِرَاكِيِّيْنَ
وَشُيُوْعِيِّيْنَ
وَاَشْيَاعَهُمْ.
اَللّٰهُمَّ
نَجِّ
إِخْوَانَنَا
الْمُؤْمِنِيْنَ
الْمُسْتَضْعَفِيْنَ
فِي
فَلَسْطِيْنَ
وَفِي كُلِّ
مَكَانٍ. اَللّٰهُمَّ
انْصُرْ
إخْوَانَنَا
الْمُجَاهِدِيْنَ
فِي
سَبِيْلِكَ
عَلَى
أَعْدَائِهِمْ.
اَللّٰهُمَّ
إِنَّا
نَسْأَلُكَ
دَوْلَةَ
الْخِلاَفَةِ
عَلَى
مِنْهَاجِ
النُّبُوَّةِ
تُعِزُّ بِهَا
اْلإِسْلاَمَ
وَاَهْلَهُ
وَتُذِلُّ بِهَا
الْكُفْرَ
وَاَهْلَهُ،
وَ اجْعَلْنَا
مِنَ
الْعَامِلِيْنَ
الْمُخْلِصِيْنَ
بِإِقَامَتِهَا
بِإِذْنِكَ
يَا أَرْحَمَ
الرَّاحِمِيْنَ.
اللّٰهُمَّ
ادْفَعْ
عَنَّا
الْغَلَاءَ
وَاْلبَلاَءَ
وَاْلوَبَاءَ
وَالزَّلاَزِلَ
وَاْلمِحَنَ،
وَسُوْءَ
اْلفِتْنَةِ
وَاْلمِحَنَ
مَا ظَهَرَ
مِنْهَا
وَمَا
بَطَنَ، عَنْ
بَلَدِنَا
اِنْدُونِيْسِيَّا
خآصَّةً
وَسَائِرِ
بُلْدَانِ
اْلمُسْلِمِيْنَ
عآمَّةً يَا رَبَّ
اْلعَالَمِيْنَ،
رَبَّنَا
آتِناَ فِى
الدُّنْيَا
حَسَنَةً
وَفِى
اْلآخِرَةِ حَسَنَةً
وَقِنَا
عَذَابَ
النَّارِ،
رَبَّنَا
ظَلَمْنَا
اَنْفُسَنَا
وَإنْ لَمْ تَغْفِرْ
لَنَا
وَتَرْحَمْنَا
لَنَكُوْنَنَّ
مِنَ
اْلخَاسِرِيْنَ.
عِبَادَ
اللهِ ! إِنَّ
اللهَ
يَأْمُرُ
بِاْلعَدْلِ
وَاْلإِحْسَانِ
وَإِيْتآءِ
ذِي
اْلقُرْبىَ
وَيَنْهَى
عَنِ اْلفَحْشآءِ
وَاْلمُنْكَرِ
وَاْلبَغْي
يَعِظُكُمْ
لَعَلَّكُمْ
تَذَكَّرُوْنَ،
وَاذْكُرُوا
اللهَ
اْلعَظِيْمَ
يَذْكُرْكُمْ،
وَاسْأَلُوْهُ
مِنْ
فَضْلِهِ
يُعْطِكُمْ،
وَاشْكُرُوْهُ
عَلىَ
نِعَمِهِ
يَزِدْكُمْ،
وَلَذِكْرُ
اللهِ
أَكْبَرْ