Seruan Masjid

Khadimul Ummah wa Du'at

KEISTIMEWAAN BULAN RAJAB

KHUTBAH PERTAMA

اَلْحَمْدُ لله الَّذِيْ خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ وَاخْتِلَافَ اللَّيْلِ وَالنَّهَارِ لَآَيَاتٍ لِأُولِي الْأَلْبَابِ . أَشْهَدُ أَنْ لاَ اِلَهَ اِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لَاشَرِيْكَ لَهُ، شَهَادَةَ مَنْ هُوَ خَيْرٌ مَّقَامًا وَأَحْسَنُ نَدِيًّا. وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا محَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الْمُتَّصِفُ بِالْمَكَارِمِ كِبَارًا وَصَبِيًّا. اَللَّهُمَّ فَصَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَانَ صَادِقَ الْوَعْدِ وَكَانَ رَسُوْلاً نَبِيًّا، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ الَّذِيْنَ يُحْسِنُوْنَ إِسْلاَمَهُمْ وَلَمْ يَفْعَلُوْا شَيْئًا فَرِيًّا، أَمَّا بَعْدُ، فَيَا أَيُّهَا الْحَاضِرُوْنَ رَحِمَكُمُ اللهُ، اُوْصِيْنِيْ نَفْسِيْ وَإِيَّاكُمْ بِتَقْوَى اللهِ، فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ.

قَالَ اللهُ تَعَالَى :

﴿إِنَّ عِدَّةَ الشُّهُورِ عِنْدَ اللَّهِ اثْنَا عَشَرَ شَهْرًا فِي كِتَابِ اللَّهِ يَوْمَ خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالأَرْضَ مِنْهَا أَرْبَعَةٌ حُرُمٌ ذَلِكَ الدِّينُ الْقَيِّمُ فَلَا تَظْلِمُوا فِيهِنَّ أَنْفُسَكُمْ﴾

Sungguh bilangan bulan menurut Allah SWT ada dua belas bulan dalam catatan Allah pada hari ketika Allah SWT menciptakan langit dan bumi. Di antaranya terdapat empat bulan haram [suci]. Itulah agama yang lurus. Karena itu janganlah kalian menzalimi diri kalian pada bulan-bulan itu (TQS at-Taubah [9]: 36).

 

Ikhwani fiddin a’azzaniyallahu waiyyakum,

Bertakwalah kepada Allah dengan sebenar-benarnya ketakwaan. Dengan begitu, kita akan semakin mampu berpegang teguh dengan agama-Nya. Sehingga kita akan mendapatkan kebahagiaan di dunia maupun di akhirat kelak.

Jamaah yang dimuliakan oleh Allah ……..

Allah SWT telah menetapkan bulan-bulan tertentu sebagai bulan haram, yakni bulan suci yang wajib dimuliakan dan dihormati. Allah SWT berfirman:

﴿إِنَّ عِدَّةَ الشُّهُورِ عِنْدَ اللَّهِ اثْنَا عَشَرَ شَهْرًا فِي كِتَابِ اللَّهِ يَوْمَ خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالأَرْضَ مِنْهَا أَرْبَعَةٌ حُرُمٌ ذَلِكَ الدِّينُ الْقَيِّمُ فَلَا تَظْلِمُوا فِيهِنَّ أَنْفُسَكُمْ﴾

Sungguh bilangan bulan menurut Allah SWT ada dua belas bulan dalam catatan Allah pada hari ketika Allah SWT menciptakan langit dan bumi. Di antaranya terdapat empat bulan haram [suci]. Itulah agama yang lurus. Karena itu janganlah kalian menzalimi diri kalian pada bulan-bulan itu (TQS at-Taubah [9]: 36).

Nabi saw. menjelaskan empat bulan suci dalam ayat tersebut:

«إنَّ الزَّماَنَ قَدْ اِسْتَدَارَ كَهَيْئَتِهِ يَوْمَ خَلَقَ اللهُ السَّمَوَاتِ وَالأَرْضَ، السَّنَةُ اِثْنَا عَشَرَ شَهْرًا، مِنْهَا أَرْبَعَةٌ حُرُمٌ، ثَلاَثٌ مُتَوَالِيَاتٌ: ذُوْ الْقَعْدَةِ، وَذُوْ الْحِجَّةِ، وَالْمُحَرَّمُ، وَرَجَبُ شَهْرُ مُضَرّ الَّذِيْ بَيْنَ جُمَادِى وَشَعْبَانَ»

Sungguh waktu itu telah diputar sebagaimana keadaannya ketika Allah SWT menciptakan langit dan bumi. Tahun itu ada dua belas bulan, di antaranya ada empat bulan haram (suci). Tiga berurutan, yaitu Dzulqa’dah, Dzulhijjah dan Muharram; serta Rajab bulan Mudharr yang terdapat di antara Jumadi dan Sya’ban (HR Muslim).

Allah SWT menetapkan bulan-bulan tertentu sebagai bulan haram (suci). Maknanya, Allah SWT menetapkan keistimewaan, kemuliaan dan kehormatan yang ada di dalamnya wajib dijaga. Karena itu dalam khutbah Haji Wada’- Nabi saw. bersabda:

«إنَّ أَمْوَالَكُمْ وَدِمَاءَكُمْ وَأَعْرَاضَكُمْ حَرَامٌ عَلَيْكُمْ كَحُرْمَةِ يَوْمِكُمْ هَذَا، فِي شَهْرِكُمْ هَذَا وَفِي بَلَدِكُمْ هَذَا»

Sesungguhnya harta kalian, darah kalian dan kehormatan kalian adalah haram (mulia) bagi kalian sebagaimana kemuliaan hari kalian ini, pada bulan kalian ini dan di negeri kalian ini (HR Muslim).

Jamaah yang dimuliakan oleh Allah ……..

Dalam ayat di atas Allah SWT dengan tegas melarang kita melakukan kezaliman terhadap diri kita pada bulan-bulan tersebut. Jika melakukan kezaliman pada bulan-bulan lain dilarang, maka penegasan Allah SWT atas larangan melakukan kezaliman pada bulan haram ini menunjukkan larangan tersebut lebih besar lagi dosanya. Begitu juga saat kita dilarang menzalimi diri sendiri maka larangan menzalimi orang lain tentu dosanya lebih besar lagi. 

Karena itu Imam al-Baihaqi dalam kitab Syu’ab al-Îmân, jilid III halaman370, menyatakan bahwa Allah SWT telah menjadikan dosa yang dilakukan pada bulan-bulan (haram) tersebut lebih besar. Amal shalih dan pahalanya (pada bulan-bulan haram tersebut) pun sangat besar. Juga dahulu kaum Muslim menolak untuk mengeksekusi hukuman qishâsh pada bulan haram ini, hal ini sebagaimana disebutkan oleh ‘Abdu ar-Razzaq, dalam kitab Al-Mushannaf, jilid IX halaman 303.

Bahkan Imam Syafii rahimahulLâh telah melipatgandakan diyat (uang tebusan) pembunuhan karena salah (qatlu al-khatha’) yang dilakukan pada bulan haram. Beliau bersandar pada riwayat dari Ibnu Umar dan Ibnu ‘Abbas. Inilah kemuliaan bulan haram, termasuk bulan Rajab.

Begitu sekelumit kemuliaan dan kehormatan bulan haram, termasuk bulan Rajab, juga bagaimana kaum Muslim terdahulu mengagungkan bulan-bulan haram itu dan menghormati kemuliaan dan kesuciannya.

Sayang, tak sedikit dari kaum Muslim yang tidak paham kemuliaan, kesucian dan kehormatan bulan haram. termasuk bulan Rajab ini. Akibatnya, mereka menyia-nyiakan bahkan menodai kemuliaan, kesucian dan kehormatannya.

Jamaah yang dimuliakan oleh Allah ……..

Allah SWT telah menetapkan Rajab termasuk bulan suci. Allah SWT pun telah memilih Rajab sebagai momen hijrah kaum Muslim yang pertama ke Habasyah, tahun ke-5 kenabian. Allah SWT juga menjadikan Rajab sebagai momen untuk meng-isra’mikraj-kan hamba-Nya pada tahun ke-10 kenabian. Isra’ dan Mikraj adalah momen istimewa. Pasalnya, tidak saja dalam peristiwa itu Nabi saw. menerima titah kewajiban shalat, tetapi juga menerima  pengukuhan beliau sebagai pemimpin bagi seluruh umat manusia. Itulah saat beliau dititahkan menjadi imam para nabi dan rasul sebelumnya di Baitul Maqdis.

Pada bulan Rajab juga Allah SWT menetapkan momen pertemuan pertama kali Nabi saw. dengan kaum Anshar yang mempunyai kemuliaan. Melalui tangan merekalah Negara Islam pertama tegak di Madinah. Dengan itu kesucian darah, harta dan jiwa pun bisa terjaga. Jabir bin ‘Abdillah ra. menuturkan: Rasulullah saw. pernah menawarkan dakwah kepada khalayak…Baginda mengatakan, “Apakah ada seseorang yang bisa membawaku kepada kaumnya karena kaum Quraisy telah menghalangiku untuk menyampaikan firman Tuhanku?” Jabir berkata: Seorang laki-laki dari Bani Hamdan lalu mendatangi beliau. Dia berkata, “Saya.” Baginda bertanya, “Apakah kaummu mempunyai kekuatan (yang bisa melindungi)?” Dia menjawab, “Iya.” Lalu Rasul saw. bertanya lagi kepada dia, “Dari mana asalnya?” Dia menjawab, “Dari Bani Hamdan.” Pada saat berikutnya, dia pun krmbali mendatangi Rasulullah saw. seraya berkata, “Saya telah mendatangi kaumku. Saya telah memberitahu mereka. Kemudian saya akan menemui Anda tahun depan.” Baginda menjawab, “Baik.” Dia pun pergi. Lalu delegasi Anshar pun tiba pada bulan Rajab (HR al-Hakim an-Nisaburi, Al-Mustadrak, IX/497).

Jamaah yang dimuliakan oleh Allah ……..

Rajab juga telah dijadikan oleh Allah SWT momen istimewa peralihan kiblat kaum Muslim, dari Masjidil Aqsa ke Masjidil Haram.

Rasul saw. pun menjadikan Rajab sebagai momen pengiriman desatemen Abdullah bin Jahsy, yang kemudian menjadi pemicu terjadinya Perang Badar.

Bahkan Perang Tabuk, peperangan yang sangat sulit sehingga tentaranya disebut “Jaisy ‘Usyrah”, juga dilakukan pada bulan Rajab, tahun 9 H. 

Rajab juga telah dijadikan momen penting bagi generasi berikutnya. Kota Damaskus (Syam) dibebaskan oleh kaum Muslim di bawah Panglima Abu ‘Ubaidah bin al-Jarrah dan Khalid bin al-Walid radhiyalLâhu ‘anhuma pada bulan Rajab tahun 14 H/635 M. Setelah itu Perang Yarmuk, yang dipimpin oleh Khalid bin al-Walid menghadapi Romawi, terjadi pada hari Senin, bulan Rajab, tahun 15 H/636 M.

Berikutnya Khalid bin al-Walid membebaskan Hirah, Irak, juga pada bulan Rajab. Setelah menaklukkan Irak ini, Khalid kemudian melakukan Shalat Fath.

Baitul Maqdis juga berhasil direbut kembali oleh kaum Muslim pada bulan Rajab, tepatnya 28 Rajab 583 H/2 Oktober 1187 M di bawah kepemimpinan Shalahuddin al-Ayyubi setelah mereka mengalahkan pasukan salib dalam Perang Hittin. Azan dan shalat Jumat kembali dikumandangkan dan dilaksanakan di Masjid al-Aqsha, setelah 88 tahun diduduki tentara Salib.

Jamaah yang dimuliakan oleh Allah ……..

Begitulah kemuliaan Rajab di mata Islam dan kaum Muslim, dari dulu, kini hingga Hari Kiamat. Kaum Muslim dulu telah begitu rupa memuliakan dan menjaga kehormatan bulan haram termasuk Rajab dengan mempersembahkan amal-amal mulia, amal-amal spektakuler dan prestasi monumental yang dicatat dengan tinta emas sejarah untuk kemuliaan Islam dan kaum Muslim.

Sayang, kini kemuliaan Rajab yang begitu luar biasa itu telah hilang. Ini seiring dengan redup bahkan hilangnya pemahaman dan kesadaran umat akan kemuliaan bulan ini, terutama setelah Islam telah dibuang dari kehidupan. Ini terjadi setelah terjadi malapetaka besar atas umat ini. Mushtafa Kemal bersama komplotannya—la’natulLâh ‘alayhim—bersekongkol dengan Inggris dan Perancis, menghancurkan Khilafah Utsmani pada 28 Rajab 1351 H/4 Maret 1924 M.  Akibat lenyapnya Khilafah, junnah (pelindung) Islam dan umat Islam, umat Islam pun dirundung malapetaka demi malapetaka hingga sekarang seolah tak berkesudahan.

Jamaah yang dimuliakan oleh Allah ……..

Namun demikian, yakinlah dengan izin dan pertolongan Allah, semua itu akan segera berakhir. Allah SWT telah berjanji bahwa penerapan syariah Islam  akan kembali terwujud. Allah SWT telah menjanjikan, Khilafah Rasyidah yang mengikuti manhaj kenabian akan kembali tegak menerapkan syariah, melindungi umat, menjaga kemuliaan Islam serta menebarkan petunjuk dan keadilan ke seluruh dunia. Itu merupakan urusan Allah SWT dan Dia pasti akan  memenangkan urusan-Nya.

Atas izin Allah SWT, selalu  ada jamaah (thâ`ifah) di antara umat Nabi-Nya yang terus-menerus berjuang siang dan malam. Mereka berjuang dan melipatgandakan perjuangannya untuk mewujudkan penerapan syariah Islam, menegakkan kembali Khilafah ‘ala minhaj an-nubuwwah serta menjaga kemuliaan Islam dan kaum Muslim. Hal itu, selain dilandasi oleh kesadaran bahwa itu merupakan kewajiban syar’i dari Allah SWT, juga dilandasi kesadaran akan kondisi umat ini, bagaimana penderitaan yang mereka alami, serta solusi apa yang seharusnya direalisasikan.

Jamaah yang dimuliakan oleh Allah ……..

Karena itu hendaklah kita memastikan diri menjadi bagian dari barisan orang-orang yang mendapat kemuliaan dari Allah SWT itu. Caranya dengan meneguhkan dan mengokohkan tekad serta menggelorakan semangat dan berpartisipasi semaksimal mungkin sesuai potensi dan kemampuan kita dalam perjuangan untuk menerapkan syariah dan merealisasi janji Allah akan tegaknya Khilafah ‘ala minhaj an-nubuwwah. Apalagi pada bulan Rajab, bulan haram ini, yang di dalamnya pahala amal shalih dilipatgandakan. []

[]

بَارَكَ الله لِي وَلَكُمْ فِى اْلقُرْآنِ اْلعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِي وَإِيَّاكُمْ بِمَافِيْهِ مِنْ آيَةِ وَذِكْرِ الْحَكِيْمِ وَتَقَبَّلَ اللهُ مِنَّا وَمِنْكُمْ تِلاَوَتَهُ وَإِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ العَلِيْمُ، وَأَقُوْلُ قَوْلِي هَذَا فَأسْتَغْفِرُ اللهَ العَظِيْمَ إِنَّهُ هُوَ الغَفُوْرُ الرَّحِيْم

KHUTBAH KEDUA

اَلْحَمْدُ للهِ عَلىَ إِحْسَانِهِ وَالشُّكْرُ لَهُ عَلىَ تَوْفِيْقِهِ وَاِمْتِنَانِهِ. وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ اِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَاللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الدَّاعِى إلىَ رِضْوَانِهِ. اللهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وِعَلَى اَلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَسَلِّمْ تَسْلِيْمًا كِثيْرًا

أَمَّا بَعْدُ فَياَ اَيُّهَا النَّاسُ اِتَّقُوااللهَ فِيْمَا أَمَرَ وَانْتَهُوْا عَمَّا نَهَى وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ بَدَأَ فِيْهِ بِنَفْسِهِ وَثَـنَى بِمَلآ ئِكَتِهِ بِقُدْسِهِ وَقَالَ تَعاَلَى إِنَّ اللهَ وَمَلآئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلىَ النَّبِى يآ اَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا. اللهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلِّمْ وَعَلَى آلِ سَيِّدِناَ مُحَمَّدٍ وَعَلَى اَنْبِيآئِكَ وَرُسُلِكَ وَمَلآئِكَةِ اْلمُقَرَّبِيْنَ وَارْضَ اللّهُمَّ عَنِ اْلخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ أَبِى بَكْرٍ وَعُمَر وَعُثْمَان وَعَلِى وَعَنْ بَقِيَّةِ الصَّحَابَةِ وَالتَّابِعِيْنَ وَتَابِعِي التَّابِعِيْنَ لَهُمْ بِاِحْسَانٍ اِلَىيَوْمِ الدِّيْنِ وَارْضَ عَنَّا مَعَهُمْ بِرَحْمَتِكَ يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ

اَللهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَاْلمُؤْمِنَاتِ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَاْلمُسْلِمَاتِ اَلاَحْيآءُ مِنْهُمْ وَاْلاَمْوَاتِ اللهُمَّ أَعِزَّ اْلإِسْلاَمَ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَأَذِلَّ الشِّرْكَ وَاْلمُشْرِكِيْنَ وَانْصُرْ عِبَادَكَ اْلمُوَحِّدِيَّةَ وَانْصُرْ مَنْ نَصَرَ الدِّيْنَ وَاخْذُلْ مَنْ خَذَلَ اْلمُسْلِمِيْنَ وَ دَمِّرْ أَعْدَاءَ الدِّيْنِ وَاعْلِ كَلِمَاتِكَ إِلَى يَوْمَ الدِّيْنِ. اللهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا اْلبَلاَءَ وَاْلوَبَاءَ وَالزَّلاَزِلَ وَاْلمِحَنَ وَسُوْءَ اْلفِتْنَةِ وَاْلمِحَنَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ عَنْ بَلَدِنَا اِنْدُونِيْسِيَّا خآصَّةً وَسَائِرِ اْلبُلْدَانِ اْلمُسْلِمِيْنَ عآمَّةً يَا رَبَّ اْلعَالَمِيْنَ. رَبَّنَا آتِناَ فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِى اْلآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ. رَبَّنَا ظَلَمْنَا اَنْفُسَنَا وَاإنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُوْنَنَّ مِنَ اْلخَاسِرِيْنَ.

 عِبَادَاللهِ ! إِنَّ اللهَ يَأْمُرُنَا بِاْلعَدْلِ وَاْلإِحْسَانِ وَإِيْتآءِ ذِي اْلقُرْبىَ وَيَنْهَى عَنِ اْلفَحْشآءِ وَاْلمُنْكَرِ وَاْلبَغْي يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ وَاذْكُرُوا اللهَ اْلعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوْهُ عَلىَ نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرْ

Profile Masjid Sunan Ampel

Masjid Sunan Ampel, Sejarah Peradaban Islam

 

“Masjid Sunan Ampel” Sejarah Peradaban Islam – Masjid Sunan Ampel adalah masjid tertua ke-3 di Indonesia. Masjid ini dibangun oleh Raden Achmad Rachmatullah di tahun 1421, di dalam wilayah kerajaan Majapahit. Masjid ini dibangun dengan arsitektur Jawa kuno dan dengan nuansa Arab yang sangat kental. Raden Achmad Rachmatullah atau yang lebih dikenal dengan Sunan Ampel, wafat pada tahun 1481. Makamnya terletak di sebelah barat masjid. Hingga tahun 1905, Masjid Ampel adalah masjid terbesar ke-2 di Surabaya. Dulunya masjid ini menjadi tempat berkumpulnya para ulama dan Wali Allah untuk membahas tentang penyebaran isalam di tanah Jawa. Lokasi Masjid Sunan Ampel terletak di Jalan KH Mas Mansyur, Kelurahan Ampel, Surabaya Utara. Lokasi ini sangat mudah dicapai, karena dilewati oleh berbagai moda angkutan.

Di komplek pemakaman Masjid Sunan Ampel terdapat makam Mbah Sonhaji atau Mbah Bolong dan juga makam Mbah Soleh, pembantu Sunan Ampel yang bertugas membersihkan masjid. Keberadaan Kedua Makam tersebut tidak lepas dari cerita tutur dari masyarakat setempat. Di dekat makam Mbah Bolong (Mbah Sonhaji) terdapat 182 makam syuhada haji yang tewas dalam musibah jemaah haji Indonesia di Maskalea-Colombo, Sri Lanka pada 4 Desember 1974.

Komplek Makam Sunan Ampel dikelilingi tembok besar setinggi 2,5 meter. Disini Makam Sunan Ampel bersama istri dan lima kerabatnya dipagari baja tahan karat setinggi 1,5 meter, melingkar selluas 64 meter persegi. Khusus Makam Sunan Ampel dikelilingi pasir putih.

Di sekeliling masjid terdapat lima gapuro (pintu gerbang) yang merupakan simbol dari Rukun Islam. Dari arah selatan, tepatnya di Jalan Sasak terdapat pintu gerbang pertama yang bernama Gapuro Munggah. Gapuro Munggah merupakan simbol dari Rukun Islam yang kelima, yaitu Haji. Di sebelah selatan masjid terdapat Gapuro Poso (puasa). Gapuro Poso memberikan suasana pada bulan Ramadhan.

Setalah melewati Gapuro Poso, kita akan masuk ke halaman masjid. Di halaman ini tampak bangunan masjid yang megah dengan menara yang menjulang tinggi. Bangunan menara masjid ini masih berupa asli-nya sebagaimana saat didirikan oleh Sunan Ampel di abad ke 14.

Gapuro selanjutnya adalah Gapuro Ngamal (beramal). Gapuro Ngamal menyimbolkan rukun islam yang ketiga yaitu zakat. Disini orang dapat bersodaqoh, dan hasil sodaqoh dipergunakan untuk perawatan dan biaya kebersihan masjid dan makam. Bangunan berikutnya adalah Gapuro Madep. Gapuro Madep ini letaknya tepat di sebelah barat bangunan induk masjid. Gapuro madep menyimbolkan rukun islam yang kedua yaitu sholat, dengan menghadap (madep) ke arah kiblat.

Bangunan Gapuro yang kelima adalah Gapuro Paneksen, yang merupakan simbol dari rukun islam yang pertama yaitu Syahadat. Paneksen berarti ‘kesaksian‘, yaitu bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah dan Muhammad adalah utusan Allah. Gapuro Paneksen adalah pintu gerbang masuk ke makam.

Papan peringatan yang terpampang di kawasan ini menjadi panduan bagi pengunjung supaya berlaku sopan, tidak shalat di area pemakaman, dan berdoa hanya kepada Allah. Di area pemakaman juga sangat dianjurkan untuk melepas sepatu ataupun sandal, serta dilarangnya pengunjung berada di area pemakaman pada setiap waktu shalat berjamaah.

Di lingkungan bangunan Makam Sunan Ampel ini bisa di temui sumur bersejarah yang saat kini sudah disegel dengan besi. Banyak yang meyakini air sumur ini memiliki kelebihan seperti air zamzam yang ada di Mekkah. Banyak masyarakat yang minum dan mengambil untuk kemudian dibawa pulang. Memasuki area pemakaman, terdapat gentong-gentong berisi air yang berasal dari sumur untuk diminum oleh para pengunjung.

Demi untuk melestarikan lokasi bersejarah ini, Pemkot Surabaya telah menjadikan kawasan Masjid Sunan Ampel sebagai bangunan cagar budaya. Dan membangun kawasan ini sebagai wisata religi. Peninggalan bersejarah Masjid Ampel yang sampai sekarang masih tampak terawat terdapat pada 16 tiang utama masjid yang terbuat dari kayu jati. Ke-16 tiang tersebut, masing-masing memiliki panjang Tujuh Belas meter dan diameter selebar Enam Puluh centimeter serta 48 pintu yang saat ini masih terpelihara dengan baik. Tiang tersebut juga memiliki makna tujuh belas jumlah raka’at shalat dalam sehari yang merupakan tiang agama Islam.

Masjid Sunan Ampel telah mengalami perluasan sebanyak tiga kali yakni tahun 1926, 1954, dan 1972. Kini, luas salah satu masjid tua di Indonesia itu mencapai 1.320 meter persegi dengan panjang 120 meter dan lebar 11 meter.

Profile Masjid Al-Azhar

Masjid Al-Azhar (Arab: جامع الأزهر Gama `al-Azhar,” masjid yang paling bersinar adalah sebuah masjid di Kairo Islam di Mesir. Al-Mu’izz li-Din Allah kekhalifahan Fatimiyah konstruksi ditugaskan untuk ibukota baru didirikan pada tahun 970. Namanya biasanya dianggap menyinggung nabi Islam Fatimah putri Muhammad, sosok dihormati dalam Islam yang diberi judul az-Zahra ‘(“yang bersinar”). Ini adalah masjid pertama kali didirikan di Kairo, sebuah kota yang sejak mendapat julukan “kota seribu menara.” [Nb 1]

Setelah dedikasi di 972, dan dengan perekrutan oleh otoritas masjid dari 35 ulama di 989, masjid perlahan-lahan berkembang menjadi apa yang sekarang lagi menjalankan universitas tertua kedua di dunia setelah Al Karaouine. Universitas Al-Azhar telah lama dianggap sebagai institusi terkemuka di dunia Islam untuk studi teologi Sunni dan syariah, atau hukum Islam. Universitas, yang terintegrasi di dalam masjid sebagai bagian dari sebuah sekolah masjid sejak awal, dinasionalisasi dan resmi ditunjuk sebuah universitas independen pada tahun 1961, setelah Revolusi Mesir tahun 1952.

Selama yang selama sejarah milenium-lama, masjid telah bergantian diabaikan dan sangat dihormati. Karena didirikan sebagai lembaga ʿ Isma ili, Saladin dan Sunni dinasti Ayyubiyah yang didirikan dijauhi al-Azhar, menghapus statusnya sebagai masjid jemaat dan menolak uang harian untuk siswa dan guru di sekolah tersebut. Ini bergerak dibalik bawah Kesultanan Mamluk, di bawah aturan yang banyak ekspansi dan renovasi berlangsung. Kemudian penguasa Mesir menunjukkan berbeda derajat menghormati masjid dan diberikan secara luas berbagai tingkat bantuan keuangan, baik ke sekolah dan ke pemeliharaan masjid. Hari ini, al-Azhar tetap merupakan institusi yang sangat berpengaruh dalam masyarakat Mesir dan simbol Islam Mesir.

S E J A R A H

Sejarah Universitas Al-Azhar – Al-Azhar merupakan Perguruan tinggi terbesar di dunia. Awal Mula Universitas Al-Azhar adalah dari sebuah masjid yang bernama Al-Azhar yang dibangun oleh Panglima Besar Dinasti Fathimiyah yaitu Jauhar As-Shaqaly. Masjid tersebut dibangun pada tanggal 24 Jumadil Ula tahun 359 H (April, 970 M) sebagai tempat ibadah, enam tahun kemudian tepatnya pada 365 H / 976 M. mulai dibuka kegiatan belajar-mengajar dan majlis ilmu pengetahuan bermadzhab Syi’ah Ismailiyah, sehingga 12 tahun kemudian 378H / 988 M Al-Azhar telah menjadi sebuah universitas besar dan terkanal. Dalam perjalanan sejarahnya, universitas al-azhar mengalami jatuh bangun, namun al-azhar tetap mempertahankan eksistensinya sebagai lembaga islam yang sangat proaktif. Sejak mula berdirinya, study di Al-Azhar untuk semua pelajar dari seluruh dunia. Hingga kini Universitas Al-Azhar memiliki lebih dari 50 Fakultas / Jurusan yang tersebar di seluruh pelosok mesir

Mulai tahun 567 H / 1178 M. setelah berdirinya Daulah Ayyubiyah yang berorientasi ahlussunah wal-jamaah lenyaplah Dinasti Fatimiyah, bersamaan dengan itu hilang pula peranan Syi’ah di dalam universitas Al-Azhar tersebut, hingga sampai saat ini.

Pada tahun 922 H / 1517 M. Mesir berada di dalam kekuasaan Turki Utsman. Al-Azhar-pun senantiasa menjadi sentral pengembangan ilmu dan lembaga yang subur menelorkan ulama handal. Maka pada akhir kekuasaan Turki Utsmani terbentuklah sistem Masyekhakh Al-Azhar pertama, tepatnya pada tahun 1101 H / 1690 M. dan dinobatkan Syekh Al-Azhar pertama sebagai Imam agama dan panutan Ilmu pengetahuan. Sejak abad ini sistem Syekh atau Imam al-akbar merupakan ciri khusus yang digunakan dalam lembaga tersebut, bahkan dapat dikatakan suatu sistim yang mampu memelihara eksistensi Al-Azhar hingga ratusan tahun. Ada sepuluh sykeh yang berada dalam daulah ini, antara lain:

1. Syekh Imam el-Syarief Muhamad bin Abdullah Al-Kharasyi Al-Maliki.
2. Syekh Imam Ibrahim Muhammad Al-barmawi
3. Syekh Imam Muhammad al-Nasyraty Al-Maliky
4. Syekh Imam Abd el-Baqi el-Qulaeny Al-Malikiy
5. Syekh Imam Muhammad Syanan Al-Maliky
6. Syekh Imam Ibrahim Musa el-Fayoumy Al-maliky
7. Syekh Imam Abdellah Al-Syabrawi Asy syafi’i
8. Syekh Imam Muhammad Salim Al-Hifny Asy syafi’i
9. Syekh Imam Abd Raouf Muhammad el-Sujaeni Asy syafi’i
10. Syekh Imam Ahmad Abdel Monem el-damanhury


Kemudian pada akhir tahun 1220 H / 1805 M. Mesir berada di tangan Muhammad Ali. Dan Al-Azhar tetap baku menggunakan sistem Masyekhakh-nya. Selanjutnya nama-nama Imam yang menduduki kuri Masyekhakh sebagai berikut:

11. Syekh Imam Abdel-rahman Umar Al-hanafy
12. Syekh Imam Abu el-Shalah Ahmad Musa Al-Arusy Asy-syafi’i
13. Syekh Imam Abdullah el-Syarqawi Asy-syafi’i
14. Syekh Imam Muhammad al-Syanwani
15. Syekh Imam Muhammad Al-Arusy
16. Syekh Imam Ahmad Ali al-Damhuji
17. Syekh Imam Hasan Muhammad Al-’Athar
18. Syekh Imam Hasan el-Quesny
19. Syekh Imam Ahmad al-Shaim el-safty
20. Syekh Imam Ibrahim Al-bajury
21. Syekh Imam Musthafa Al-Arusy
22. Syekh Imam Muhammad al-Abbasi Al-Mahdy Al-Hanafi
23. Syekh Imam Muhammad al-Imbabi asy-Syafi’i
24. Syekh Imam Hasunah An-Nawawi Al-hanafi
25. Syekh Imam Ali Muhamad Al-Bablawi Al-Maliky
26. Syekh Imam Salim al-Bisyri Al-Maliky
27. Syekh Imam Ali Muhammad Al-Bablawi Al-Maliky (yang kedua kali)
28. Syekh Imam Abdel-rahman al-Syirbiny
29. Syekh Imam Hasunah An-Nawawi Al-hanafi (yang kedua kali)
30. Syekh Imam Salim al-Bisyri Al-Maliky (yang kedua kali)
31. Syekh Imam Muhammad Abu fadlal Al-Gizawy
32. Syekh Imam Muhammad Musthafa Al-Maragy
33. Syekh Imam Muhammad Al-Ahmady Adzawahiry
34. Syekh Imam Muhammad Musthafa Al-Maragy (yang kedua kali)
35. Syekh Imam Musthafa Abdel-Raziq
36. Syekh Imam Muhamma Ma,mun el-Syanwany
37. Syekh Imam Abdel-Majid Salim
38. Syekh Imam Ibrahim Hamrusy
39. Syekh Imam Abdel-Majid Salim (yang kedua kali)


Pada dua kepemimpinan belakangan ini Mesir tengah mengalami kegoncangan politik besar-besaran, sebagai periode baru menuju Mesir Modern, ditandai dengan terjadinya “revolusi juli 1952 M” yaitu penggulingan Gamal Abdul Naser terhadap raja Faruq “Dinasty Kheidio 10”, sekaligus peralihan sistim kerajaan kepada republik sekaligus pengembalian ibukota dari Iskandariah ke Kairo. Adapun sistem Masyekhakh Al-Azhar terus berlangsung dengan gemilang. Yaitu:

40. Syekh Imam Muhammad Al-Hadlr Husein
41. Syekh Imam Abdel Rahman Taj.
42. Syekh Imam Mahmud Syaltut
43. Syekh Imam Hasan Ma,mun
44. Syekh Imam Muhammad Al-fahhaam
45. Syekh Imam
46. Syekh Imam Gad el-haq Ali Gad el-Haq
47. Syekh Imam Muhammad Sayyed Thantahwi

HARAM MENJEGAL DAKWAH

Dakwah dan para pengembannya akan selalu diuji oleh Allah SWT dengan hadangan orang-orang yang hasad dan membenci kalimatulLâh. Para penghadang inilah yang disebut oleh Allah SWT sebagai syayâthîn. Mereka bukan saja menghadang, tetapi juga melemparkan tudingan-tudingan keji terhadap dakwah dan para pengembannya untuk menyesatkan umat. Allah SWT berfirman:

 

وَكَذَلِكَ جَعَلْنَا لِكُلِّ نَبِيٍّ عَدُوًّا شَيَاطِينَ الْإِنْسِ وَالْجِنِّ…

Demikianlah Kami telah menjadikan bagi tiap-tiap nabi itu musuh, yaitu setan-setan (dari jenis) manusia dan jin… (TQS al-An’am [6]: 112).

 

 

Imam Jarir ath-Thabari dalam tafsirnya mengatakan bahwa ujian yang disebutkan Allah SWT dalam ayat ini tidak hanya menimpa Rasulullah saw., tetap juga berlaku umum bagi orang-orang yang mengikuti beliau dalam dakwah.

 

 

Beragam Cara Menjegal Dakwah

 

Di antara upaya menjegal dan menjagal dakwah itu adalah dengan berbagai propaganda atau pemberian stigma negatif baik pada Islam maupun kepada para pejuangnya. Rasulullah saw. dan para sahabat telah mengalami kondisi demikian. Bahkan Rasulullah saw. yang mulia pernah disebut sebagai orang gila (QS al-Hijr [15]: 6), tukang sihir (QS Shad [38]: 4), penyair gila (QS Shaffat [37]: 37), pemecah-belah persatuan kaumnya, dsb.

 

Ajaran Islam juga tak lepas dari berbagai cacian. Al-Quran, misalnya, disebut sebagai ayat-ayat sihir (QS al-Muddatsir [74]: 24), kumpulan dongeng (QS al-Muthaffifin [83]: 13); juga dituding sebagai karya orang ‘ajam (non Arab), bukan kalamullah (QS an-Nahl [16]: 103).

 

Kaum Muslim yang mengikuti Rasulullah saw. pun senantiasa diejek dan disebut sebagai orang-orang tersesat. Allah SWT berfirman:

 

وَإِذَا رَأَوْهُمْ قَالُوا إِنَّ هَؤُلَاءِ لَضَالُّونَ

Jika mereka melihat orang-orang Mukmin, mereka berkata, “Sungguh mereka itu benar-benar sesat.” (TQS al-Muthaffifin [83]: 32).

 

Para tokoh musyrik Quraisy seperti Abu Jahal, Abu Lahab dan Walid bin Mughirah bekerja keras siang-malam untuk menjegal dakwah Rasulullah saw.  Abu Lahab bahkan selalu membuntuti dakwah Nabi saw. dan memprovokasi orang-orang untuk meninggalkan beliau. Abu Lahab menyebut perkataan Nabi saw. sebagai sihir, memecah-belah keluarga dan kabilah serta menghina agama nenek moyang mereka.

 

Para penentang dakwah ini pun melakukan penganiayaan secara fisik kepada Rasulullah saw. dan kaum Muslim. Mereka mengembargo kegiatan sosial dan ekonomi Nabi saw. dan para sahabat beliau. Mereka pun mengucilkan Nabi saw. dan para sahabat beliau ke lembah tandus selama tiga tahun. Sebagian sahabat, terutama yang dhu’afa, ditangkap, disiksa dan bahkan ada yang dibunuh. Yasir dan Sumayyah ra. adalah pasangan suami-istri yang menjadi syuhada pertama dalam perjuangan dakwah.

 

Rasulullah saw. pun tak lepas dari penyerangan secara fisik. Abu Lahab dan istrinya pernah menaburkan duri-duri di depan rumah Nabi saw. Abu Lahab pernah menaburkan isi perut unta ke atas kepala beliau. Abu Lahab bahkan pernah mencekik dan hampir membunuh beliau.

 

Kaum kafir Quraisy juga mengerahkan para pemudanya untuk mengepung rumah Nabi saw.. Mereka siap membunuh beliau. Namun demikian, Allah SWT menyelamatkan beliau hingga beliau bisa hijrah ke Madinah.

 

 

Tantangan Dakwah Kini

 

Tantangan para pengemban dakwah hari ini pun tak berbeda dengan apa yang pernah dialami oleh Rasulullah saw. dan para sahabat. Berbagai upaya dilakukan untuk menjegal dan membungkam dakwah, antara lain dengan cara: Pertama, mengkriminalisasi para da’i tuduhan sebagai kaum radikal, mengancam kebhinekaan, membawa ajaran yang tidak sesuai budaya lokal, dll. Tujuannya adalah agar mereka dijauhi oleh masyarakat.

 

Kedua, menangkap para pegiat dakwah juga mulai dilakukan. Sejumlah aktifis dakwah dibui dengan tuduhan melakukan ujaran kebencian dan menyebarkan hoax di media sosial. Sebaliknya, berbagai akun medsos yang terang-terangan menghina tokoh Islam, menyerang ormas Islam, juga menghina ajaran Islam lamban diproses bahkan mayoritas tak kunjung ditindak.

 

Ketiga, mengkriminalisasi ajaran Islam, terutama syariah dan khilafah. Para penentang dakwah melakukan framing terhadap dakwah penegakan syariah dan khilafah sebagai ancaman terorisme. Mantan ketua BNPT Ansyad Mbai, dalam persidangan administrasi PTUN tentang pembubaran HTI, mem-framing opini bahwa dakwah menegakkan khilafah adalah radikal dan menjadi benih terorisme.

 

Ansyad menegaskan bahwa terorisme adalah anak kandung radikalisme. Bahkan kata dia, radikalisme lebih berbahaya dari terorisme. “Seorang teroris akan dimotivasi oleh ideologinya yang radikal dan mengatasnamakan agama,” katanya. Kata dia pula, “Negara kita menghadapi darurat radikalisme apalagi dengan masuknya paham khilafah ke Indonesia,” ujar Mbai (Kriminologi.id, 1/3/2018).

 

Kriminalisasi ajaran Islam—khususnya syariah dan khilafah—dan para pengembannya, apalagi dikaitkan dengan terorisme, adalah cara berpikir yang kacau. Pasalnya, metode dakwah untuk menegakkan khilafah telah ditentukan dalam syariah Islam, yakni tidak boleh dilakukan dengan kekerasan apalagi membunuh warga tak bersalah meski atas nama dakwah. Bahkan Allah SWT berfirman:

 

…مَنْ قَتَلَ نَفْسًا بِغَيْرِ نَفْسٍ أَوْ فَسَادٍ فِي الْأَرْضِ فَكَأَنَّمَا قَتَلَ النَّاسَ جَمِيعًا…

…Siapa saja yang membunuh seseorang bukan karena orang itu membunuh orang lain, atau bukan karena dia membuat kerusakan di muka bumi, maka seakan-akan dia telah membunuh seluruh manusia… (TQS al-Maidah [5]: 32).

 

 

Dakwah Pasti Mendatangkan Berkah

 

Islam adalah agama yang menebarkan kebaikan dan keberkahan bagi masyarakat. Setiap Muslim wajib mengimani bahwa keberkahan hidup dunia dan akhirat hanya bisa diraih dengan mengamalkan dan menerapkan hukum-hukum Allah SWT, bukan hukum-hukum buatan manusia. Islam datang untuk mengeluarkan manusia dari keterpurukan hidup menuju keberkahan dan rahmat Allah SWT (Lihat: QS al-Hadid [57]: 9; QS al-Anbiya’ [21]: 107).

 

Karena itu mendakwahkan Islam—termasuk di dalamnya syariah dan khilafah—pasti bakal mendatangkan berkah dan rahmat Allah SWT. Gambaran penerapan Islam—termasuk di dalamnya syariah dan khilafah—yang mendatangkan berkah dan rahmat Allah SWT bisa dilihat dari kepemimpinan Rasulullah saw. dan Khulafaur-Rasyidin. Dua masa inilah yang seharusnya dijadikan pedoman oleh kaum Muslim dalam melihat realita kehidupan Islam yang sebenarnya,  bukan praktik keliru yang terjadi di banyak negeri kaum Muslim, apalagi yang diperagakan oleh ISIS. Nabi saw. telah bersabda:

 

فَعَلَيْكُمْ بِسُنَّتِى وَسُنَّةِ الْخُلَفَاءِ الرَّاشِدِينَ الْمَهْدِيِّينَ عَضُّوا عَلَيْهَا بِالنَّوَاجِذِ

Wajib atas kalian berpegang pada Sunnahku dan sunnah Khulafaur-Rasyidin yang mendapatkan petunjuk. Gigitlah ia dengan gigi geraham (HR Ibnu Majah).

 

Syariah dan khilafah memperlakukan semua warganya—pria-wanita, miskin-kaya, Muslim-non-Muslim—sama di hadapan syariah Islam. Kalangan non-Muslim juga berhak mendapatkan pelayanan Khilafah sebagaimana kaum Muslim. Di ruang pengadilan mereka duduk sama rendah dan berdiri sama tinggi dengan kaum Muslim. Mereka sama-sama diproses dengan hukum yang juga sama. Terjagalah harta, jiwa dan kehormatan mereka. Karena itu tak ada alasan takut pada syariah dan khilafah, apalagi menuding keduanya sebagai pemicu terorisme.

 

Haram Menjegal Dakwah

 

Meninggalkan dakwah adalah kerugian besar bagi seorang Muslim. Pasalnya, Rasulullah saw.  telah bersabda:

 

لَتَأْمُرُنَّ بِالْمَعْرُوفِ، وَلَتَنْهَوُنَّ عَنِ الْمُنْكَرِ، أَوْ لَيُسَلِّطَنَّ اللَّهُ عَلَيْكُمْ شِرَارَكُمْ، ثُمَّ يَدْعُو خِيَارُكُمْ فَلا يُسْتَجَابُ لَكُمْ

Kalian sungguh-sungguh menyerukan kemakrufan dan mencegah yang munkar atau Allah benar-benar akan memberikan kekuasaan kepada orang-orang buruk di antara kalian, lalu orang-orang baik di antara kalian berdoa, tetapi tidak dikabulkan oleh Allah (HR Ibnu Hibban).

 

 

Berdasarkan hadis di atas, meninggalkan dakwah jelas haram, apalagi menjegal dakwah, jelas haram pula. Menjegal dakwah sama artinya menghalangi negeri ini keluar dari penderitaannya dan melestarikan kesengsaraan bagi seluruh rakyat. Ini merupakan dosa besar di sisi Allah SWT, sebagaimana firman-Nya:

 

إِنَّ الَّذِينَ فَتَنُوا الْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ ثُمَّ لَمْ يَتُوبُوا فَلَهُمْ عَذَابُ جَهَنَّمَ وَلَهُمْ عَذَابُ الْحَرِيقِ

Sungguh orang-orang yang menimpakan fitnah kepada kaum Mukmin laki-laki dan perempuan, kemudian mereka tidak bertobat, maka bagi mereka azab Jahanam dan bagi mereka azab (neraka) yang membakar (TQS al-Buruj [85]: 10).

 

Menjegal dakwah sama artinya membiarkan kemungkaran terus merajalela. Manakala kemungkaran merajalela itu artinya pintu bencana terbuka bagi semua orang, termasuk orang-orang salih. Dalam hal ini, Ummu Salamah, istri Nabi saw., pernah bertutur: Aku pernah mendengar Rasulullah saw. bersabda:

 

إِذَا ظَهَرَتِ الْمَعَاصِي فِي أُمَّتِي، عَمَّهم اللَّهُ بِعَذَابٍ مِنْ عِنْدِهِ. فَقُلْتُ: يَا رَسُولَ اللَّهِ، أَمَا فِيهِمْ أُنَاسٌ صَالِحُونَ؟ قَالَ: بَلَى

Jika ragam kemaksiatan di tengah umatku telah nyata, Allah pasti akan menimpakan azab-Nya kepada mereka secara merata.” Aku (Ummu Salamah), bertanya, “Wahai Rasulullah, bukankah di tengah mereka itu ada orang-orang yang salih?” Beliau menjawab, “Benar.” (HR Ahmad). []

 

Hikmah:

 

﴿إِنَّ الَّذِينَ كَفَرُوا يُنْفِقُونَ أَمْوَالَهُمْ لِيَصُدُّوا عَنْ سَبِيلِ اللَّهِ فَسَيُنْفِقُونَهَا ثُمَّ تَكُونُ عَلَيْهِمْ حَسْرَةً ثُمَّ يُغْلَبُونَ وَالَّذِينَ كَفَرُوا إِلَى جَهَنَّمَ يُحْشَرُونَ﴾

Sungguh orang-orang kafir menafkahkan harta mereka untuk menghalangi (manusia) dari jalan Allah. Mereka akan menafkahkan harta itu, kemudian menjadi sesalan bagi mereka dan mereka akan dikalahkan. Ke dalam Jahanamlah orang-orang kafir itu dikumpulkan (QS al-Anfal [8]: 36). []

[Buletin Kaffah_31_24 Jumada ats-Tsaniyah 1439 H- 9 Maret 2018 M]

 

UPDATE INFORMASI TERBARU