Seruan Masjid

Khadimul Ummah wa Du'at

CUKUPLAH ISLAM ALA RASULULLAH ﷺ

CUKUPLAH ISLAM ALA RASULULLAH ﷺ

ULAMA WAJIB MENGOREKSI PENGUASA

ULAMA WAJIB

MENGOREKSI PENGUASA

 

KHUTBAH PERTAMA

 

الْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ، اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ الَّذِيْ أَرْسَلَ رَسُوْلَهُ بِالْهُدَى وَدِيْنِ الْحَـقِّ لِيُظْهِرَهُ عَلَى الدِّيْنِ كُلِّهِ وَلَوْ كَرِهَ الْمُشْرِكُوْنَ، أَشْهَدُ أَنْ لَا اِلٰهَ إِلَّا اللّٰه وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُوْلُ اللّٰه، اَللّٰهُـمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى اٰلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِيْنَ، أَمَّا بَعْدُ.

فَيَا عِبَادَ اللّٰه، أُوْصِيْنِيِ نَفْسِيْ وَإِيَّاكُمْ بِتَقْوَى اللهِ، فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ. قَالَ اللهُ تَعَالَى: وَلْتَكُنْ مِّنْكُمْ اُمَّةٌ يَّدْعُوْنَ اِلَى الْخَيْرِ وَيَأْمُرُوْنَ بِالْمَعْرُوْفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِۗ وَاُولٰۤىِٕكَ هُمُ الْمُفْلِحُوْنَ ۝١٠٤ (اٰلِ عِمْرَانَ) 

Alhamdulillah, kita masih dipertemukan oleh Allah di hari mulia, hari Jumat. Di tempat yang dimuliakan, masjid. Bersama orang-orang yang insya Allah dimuliakan, orang-orang bertakwa. Shalawat serta salam semoga senantiasa tercurah kepada junjungan alam Nabi Besar Muhammad saw.

Pertama dan paling utama, mari tingkatkan takwa kita kepada Allah. Taati perintah-Nya dan jauhi larangan-Nya. Allah Swt. berfirman:

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا اتَّقُوا اللّٰهَ حَقَّ تُقٰىتِهٖ وَلَا تَمُوْتُنَّ اِلَّا وَاَنْتُمْ مُّسْلِمُوْنَ

“Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dengan sebenar-benar takwa kepada-Nya dan janganlah kamu mati kecuali dalam keadaan muslim.” (QS. Âli ‘Imrân [3]: 102).

 

Ma’âsyiral Muslimîn rahimakumullâh,

Kekuasaan tidak membuat seseorang menjadi ma’shum. Seorang penguasa tetap manusia yang bisa keliru, sehingga kekuasaan bukan alasan untuk kebal dari nasihat dan kritik. Pada Sabtu, 19 September 2026, dalam Resepsi Kesyukuran 100 Tahun Pondok Modern Darussalam Gontor di Ponorogo, Pimpinan Pondok Modern Darussalam Gontor, KH. Hasan Abdullah Sahal, menyampaikan di hadapan Presiden Prabowo Subianto bahwa pemimpin harus hidup sederhana dan tidak membuka ruang bagi “cari muka” hingga “cari jabatan”. Beliau bahkan menegaskan, jika makanan, pakaian, kendaraan, atau rumahnya melebihi apa yang dimiliki para santri, dirinya boleh diprotes, dikritik, bahkan didemo. Pernyataan ini menegaskan prinsip kepemimpinan yang lebih luas: pemegang amanah, termasuk penguasa, tidak semestinya menutup pintu kritik dan koreksi.

Prinsip tersebut juga tercermin dalam pidato awal Kekhalifahan Sayidina Abu Bakar ash-Shiddiq ra.:

 فَإِنْ أَحْسَنْتُ فَأَعِيْنُوْنِيْ وَإِنْ أَسَأْتُ فَقَوِّمُوْنِيْ

“Jika aku berbuat baik, bantulah aku. Jika aku berbuat buruk, luruskanlah aku” (M. Husain Haikal, Hayaah Muhammad saw., 1/97).

Karena itu, penguasa tidak boleh menempatkan dirinya di atas kebenaran. Kritik yang benar semestinya diterima dengan lapang dada, sedangkan kritik yang keliru dapat dijawab dengan argumentasi.

 

Ma’âsyiral Muslimîn rahimakumullâh,

Ulama tidak dimuliakan karena kedekatannya dengan kekuasaan, tetapi karena ilmu, ketakwaan, dan keberaniannya menyampaikan kebenaran. Karena itu, ulama bukanlah stempel kekuasaan yang membenarkan setiap kebijakan penguasa tanpa pemeriksaan. Jika penguasa terbukti menyimpang, ulama wajib mengoreksi dan meluruskannya. Allah Swt. berfirman:

وَلْتَكُنْ مِّنْكُمْ اُمَّةٌ يَّدْعُوْنَ اِلَى الْخَيْرِ وَيَأْمُرُوْنَ بِالْمَعْرُوْفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِۗ وَاُولٰۤىِٕكَ هُمُ الْمُفْلِحُوْنَ

“Hendaklah ada di antara kalian segolongan umat yang menyerukan kebajikan dan melakukan amar makruf nahi mungkar. Mereka itulah orang-orang yang beruntung” (QS. Âli ‘Imrân [3]: 104).

Perintah amar makruf nahi mungkar mencakup penguasa. Rasulullah saw. juga bersabda,

 الدِّيْنُ النَّصِيْحَةُ

“Agama adalah nasihat”

Ketika para Sahabat bertanya, “Untuk siapa?”, beliau menjawab:

 لِلَّهِ وَلِكِتَابِهِ وَلِرَسُوْلِهِ وَلِأَئِمَّةِ الْمُسْلِمِيْنَ وَعَامَّتِهِمْ

“Untuk Allah, Kitab-Nya, Rasul-Nya, para pemimpin kaum Muslim dan seluruh kaum Muslim” (HR. Muslim).

Nasihat kepada pemimpin dapat berupa bimbingan, peringatan, koreksi, dan ajakan menjalankan amanah sesuai syariah Allah Swt. (An-Nawawi, Al-Minhaaj Syarh Shahih Muslim ibn al-Hajjaj, syarah Hadits No.55).

Kewajiban mengingkari kemungkaran juga ditegaskan Rasulullah saw.:

 مَنْ رَأَى مِنْكُمْ مُنْكَرًا فَلْيُغَيِّرْهُ بِيَدِهِ، فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِلِسَانِهِ، فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِقَلْبِهِ، وَذَلِكَ أَضْعَفُ الْإِيْمَانِ

“Siapa saja di antara kalian yang melihat kemungkaran, hendaklah ia mengubahnya dengan tangannya. Jika tidak mampu, dengan lisannya. Jika tidak mampu, dengan hatinya. Yang demikian adalah selemah-lemahnya iman” (HR. Muslim).

Penguasa tidak dikecualikan dari kewajiban ini. Bahkan Rasulullah saw. bersabda:

 أَفْضَلُ الْجِهَادِ كَلِمَةُ حَقٍّ عِنْدَ سُلْطَانٍ جَائِرٍ

“Jihad yang paling utama adalah menyatakan kebenaran di hadapan penguasa zalim” (HR. Ahmad).

Hadits ini menunjukkan tingginya kedudukan keberanian menyampaikan kebenaran di hadapan penguasa yang melakukan kezaliman.

 

Ma’âsyiral Muslimîn rahimakumullâh,

Ulama yang takut kepada Allah tidak akan gentar menghadapi kekuasaan manusia. Sejarah Islam menunjukkan bahwa nasihat dan koreksi terhadap penguasa merupakan bagian dari tradisi ulama salaf, bahkan ketika syariah Islam diterapkan. Khalifah tetap manusia yang mungkin keliru sehingga membutuhkan pengawasan dan nasihat.

Diriwayatkan, seorang Muslimah pernah mengoreksi Khalifah Umar bin al-Khaththab ra. terkait pembatasan mahar yang dinilainya keliru (Al-Qurthubi, Al-Jaami‘ li Ahkaam al-Qur’aan, 5/95; tafsir QS. an-Nisâ’ [4]: 20).

Imam Hasan al-Bashri rahimahullah juga dikenal berani mengkritik Hajjaj bin Yusuf ats-Tsaqafi yang zalim. Demikian pula Sufyan ats-Tsauri rahimahullah menentang Abu Ja‘far al-Manshur ketika menggunakan Baitul Mal untuk membiayai dirinya dan para pengikutnya menunaikan haji. Abu Muslim al-Khaulani bahkan pernah mengoreksi Khalifah Muawiyah karena menghentikan bantuan kepada kaum Muslim, dengan mengingatkan bahwa harta tersebut bukan milik pribadi penguasa (Al-Badri, Al-Islaam bayna al-‘Ulamaa' wa al-Hukkaam, hlm. 101).

Ulama dan penguasa semestinya menjadi mitra dalam menegakkan keadilan, bukan mitra dalam membenarkan kezaliman. Penguasa membutuhkan ulama yang berilmu, jujur, dan berani menyampaikan kebenaran; sementara ulama membutuhkan ruang untuk menasihati dan mengoreksi tanpa kehilangan kebebasan menyampaikan perkara yang haq. Keduanya harus berorientasi pada ridha Allah Swt. dan menyadari bahwa amanah kekuasaan maupun ilmu akan dipertanggungjawabkan di hadapan-Nya. Karena itu, kritik yang benar tidak seharusnya dianggap ancaman dan nasihat yang ikhlas tidak semestinya dibalas dengan penghinaan. Ulama tidak boleh meninggalkan amar makruf nahi mungkar hanya karena yang dinasihati adalah penguasa.

Imam al-Ghazali rahimahullah bahkan mengingatkan eratnya hubungan antara kerusakan rakyat, penguasa, dan ulama. Beliau berkata:

فَفَسَادُ الرَّعَايَا بِفَسَادِ الْمُلُوْكِ وَفَسَادُ الْمُلُوْكِ بِفَسَادِ الْعُلَمَاءِ وَفَسَادُ الْعُلَمَاءِ بِاسْتِيْلاَءِ حُبِّ الْمَالِ وَاْلجَاهِ

“Kerusakan rakyat disebabkan oleh kerusakan para penguasa. Kerusakan penguasa disebabkan oleh kerusakan para ulama. Kerusakan ulama terjadi ketika mereka dikuasai oleh kecintaan terhadap harta dan kedudukan” (Ihyaa’ ‘Uluum ad-Diin, 2/357). Karena itu, ukuran keteguhan ulama bukanlah kedekatannya dengan penguasa, melainkan keberaniannya tetap berpegang pada kebenaran; sementara kekuasaan harus digunakan sebagai amanah untuk menegakkan keadilan dan melindungi rakyat.

 

Ma’âsyiral Muslimîn rahimakumullâh,

Dengan demikian, ulama memiliki tanggung jawab untuk menasihati dan mengoreksi penguasa ketika terjadi kezaliman. Salah satu bentuk kezaliman penguasa adalah ketika mereka tidak berhukum dengan hukum yang Allah Swt. turunkan, sebagaimana firman-Nya:

وَمَنْ لَّمْ يَحْكُمْ بِمَآ اَنْزَلَ اللّٰهُ فَاُولٰۤىِٕكَ هُمُ الظّٰلِمُوْنَ

“Siapa saja yang tidak berhukum menurut wahyu yang telah Allah turunkan, mereka itulah kaum yang zalim” (QS. al-Mâ’idah [5]: 45).

Karena itu, ulama berkewajiban menyampaikan nasihat dan mengingatkan penguasa agar menjalankan amanah sesuai syariah Islam. Sebab, sebagaimana peringatan Imam al-Ghazali, kerusakan ulama dapat menjadi sebab kerusakan penguasa ketika mereka dikuasai kecintaan terhadap harta dan kedudukan hingga enggan menyampaikan kebenaran. Wallâhu a‘lam bish-shawâb.[]

 

بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِى الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الْآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ، وَتَقَبَّلَ مِنَّا وَمِنْكُمْ تِلَاوَتَهُ وَإِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا، وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ

 

KHUTBAH KEDUA

 

اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ عَلَى إِحْسَانِهِ، وَالشُّكْرُ لَهُ عَلَى تَوْفِيْقِهِ وَامْتِنَانِهِ. وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الدَّاعِى إِلَى رِضْوَانِهِ. اللّٰهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَسَلِّمْ تَسْلِيْمًا كَثِيْرًا.

أَمَّا بَعْدُ؛ فَياَ أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا اللّٰهَ فِيْمَا أَمَرَ وَانْتَهُوْا عَمَّا نَهَى، وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ بَدَأَ فِيْهِ بِنَفْسِهِ وَثَنَّى بِمَلَائِكَتِهِ الْمُسَبِّحَةِ بِقُدْسِهِ، وَقَالَ تَعاَلَى: إِنَّ اللهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا.

اللّٰهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِناَ مُحَمَّدٍ، وَعَلَى أَنْبِيَائِكَ وَرُسُلِكَ وَمَلَائِكَتِكَ الْمُقَرَّبِيْنَ، وَارْضَ اللّٰهُمَّ عَنِ الْخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ، أَبِى بَكْرٍ وَعُمَرَ وَعُثْمَانَ وَعَلِيٍّ، وَعَنْ بَقِيَّةِ الصَّحَابَةِ وَالتَّابِعِيْنَ، وَالتَّابِعِيْنَ لَهُمْ بِإِحْسَانٍ اِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ، وَارْضَ عَنَّا مَعَهُمْ بِرَحْمَتِكَ يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ.

اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ وَالْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ. اللّٰهُمَّ أَعِزَّ الْإِسْلَامَ وَالْمُسْلِمِيْنَ، وَأَذِلَّ الشِّرْكَ وَالْمُشْرِكِيْنَ، وَانْصُرْ مَنْ نَصَرَ الدِّيْنَ، وَاخْذُلْ مَنْ خَذَلَ الْمُسْلِمِيْنَ، وَدَمِّرْ أَعْدَاءَ الدِّيْنِ، وَأَعْلِ كَلِمَاتِكَ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ.

اَللّٰهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ دَوْلَةَ الْخِلاَفَةِ عَلَى مِنْهَاجِ النُّبُوَّةِ تُعِزُّ بِهَا الْإِسْلَامَ وَاَهْلَهُ وَتُذِلُّ بِهَا الْكُفْرَ وَاَهْلَهُ، وَاجْعَلْنَا مِنَ الْعَامِلِيْنَ الْمُخْلِصِيْنَ لِإِقَامَتِهَا بِإِذْنِكَ يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ.

اللّٰهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا الْغَلَاءَ وَالْبَلاَءَ وَالْوَبَاءَ وَالزَّلَازِلَ وَالْمِحَنَ، وَسُوْءَ الْفِتَنِ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ، عَنْ بَلَدِنَا إِنْدُوْنِيْسِيَا خَاصَّةً وَسَائِرِ بُلْدَانِ الْمُسْلِمِيْنَ عَامَّةً يَا رَبَّ الْعَالَمِيْنَ. رَبَّنَا آتِنَا فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِى الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.

عِبَادَ اللهِ! إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيْتآءِ ذِي الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشآءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ، وَاذْكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ، وَاسْأَلُوْهُ مِنْ فَضْلِهِ يُعْطِكُمْ، وَاشْكُرُوْهُ عَلَى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ، وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرْ.

Bahasa Daerah

Naskah Khutbah untuk bahasa lain di Indonesia
CUKUPLAH ISLAM ALA RASULULLAH ﷺ

CUKUPLAH ISLAM ALA RASULULLAH ﷺ

SOLUSI ISLAM MENGATASI KEMISKINAN

SOLUSI ISLAM

MENGATASI KEMISKINAN

 

KHUTBAH PERTAMA

 

الْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ، اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ الَّذِيْ أَرْسَلَ رَسُوْلَهُ بِالْهُدَى وَدِيْنِ الْحَـقِّ لِيُظْهِرَهُ عَلَى الدِّيْنِ كُلِّهِ وَلَوْ كَرِهَ الْمُشْرِكُوْنَ، أَشْهَدُ أَنْ لَا اِلٰهَ إِلَّا اللّٰه وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُوْلُ اللّٰه، اَللّٰهُـمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى اٰلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِيْنَ، أَمَّا بَعْدُ.

فَيَا عِبَادَ اللّٰه، أُوْصِيْنِيِ نَفْسِيْ وَإِيَّاكُمْ بِتَقْوَى اللهِ، فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ. قَالَ اللهُ تَعَالَى: وَفِيْٓ اَمْوَالِهِمْ حَقٌّ لِّلسَّاۤىِٕلِ وَالْمَحْرُوْمِ ۝١٩ (اَلذَّارِيَاتُ) 

Alhamdulillah, kita masih dipertemukan oleh Allah di hari mulia, hari Jumat. Di tempat yang dimuliakan, masjid. Bersama orang-orang yang insya Allah dimuliakan, orang-orang bertakwa. Shalawat serta salam semoga senantiasa tercurah kepada junjungan alam Nabi Besar Muhammad saw.

Pertama dan paling utama, mari tingkatkan takwa kita kepada Allah. Taati perintah-Nya dan jauhi larangan-Nya. Allah Swt. berfirman:

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا اتَّقُوا اللّٰهَ حَقَّ تُقٰىتِهٖ وَلَا تَمُوْتُنَّ اِلَّا وَاَنْتُمْ مُّسْلِمُوْنَ

“Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dengan sebenar-benar takwa kepada-Nya dan janganlah kamu mati kecuali dalam keadaan muslim.” (QS. Âli ‘Imrân [3]: 102).

 

Ma’âsyiral Muslimîn rahimakumullâh,

Ketika angka menentukan siapa yang berhak mendapat bantuan dan siapa yang tidak, kesalahan satu angka saja bisa mengubah nasib sebuah keluarga. Pemerintah membagi masyarakat menjadi 10 desil ekonomi. Desil 1–4 mendapat bantuan, sedangkan desil 5–10 dianggap mandiri. Namun, kekacauan data membuat warga miskin ada yang masuk desil atas sehingga bantuan dihentikan, sementara orang kaya, bahkan anggota DPR, ada yang masuk desil bawah. Desil ini juga direncanakan menjadi dasar pembatasan subsidi Pertalite dan LPG 3 kg bagi desil 9–10.

Jamaah Jum’at rahimakumullah, perbedaan juga terlihat pada angka kemiskinan. Pemerintah mencatat 23,85 juta orang miskin pada Maret 2025 dengan garis kemiskinan Rp609.160 per bulan atau Rp20.305 per hari. Sementara Bank Dunia menggunakan standar Rp52.500 per hari, sehingga menghasilkan angka sekitar 68,4% penduduk atau 194,6 juta jiwa. Begitu pula pengangguran: pedagang kecil, pekerja serabutan, dan pekerja paruh waktu tetap dianggap bekerja meski penghasilannya tidak mencukupi. Inilah persoalannya: dalam sistem Kapitalisme, ukuran kemiskinan bersifat relatif dan angka statistik dapat berubah sesuai standar yang digunakan, bahkan berpotensi dipakai untuk menampilkan seolah-olah kondisi rakyat lebih baik daripada kenyataannya.

 

Ma’âsyiral Muslimîn rahimakumullâh,

Kemiskinan rakyat bukan selalu karena mereka malas berusaha, tetapi bisa karena sistem yang membuat mereka sulit keluar dari kemiskinan. Rakyat miskin sulit mendapatkan pendidikan tinggi, modal usaha, dan pekerjaan layak, sementara kelompok kaya, terutama kapitalis-oligarki, lebih mudah memperoleh modal, menguasai sumber daya alam, serta mendapatkan akses kekuasaan. Akibatnya, ketimpangan semakin besar.

Pada 2025, INDEF mencatat 10% kelompok terkaya menguasai 60,2% kesejahteraan nasional, sementara pada 2026 kekayaan 50 orang terkaya mencapai Rp4.651 triliun, hampir dua kali lipat dibanding 2019 berdasarkan data Forbes yang diolah Celios. Kondisi ini merupakan dampak dari penerapan Kapitalisme dengan prinsip kebebasan kepemilikan, sementara rakyat dibiarkan bersaing dengan prinsip survival of the fittest dan negara lebih banyak berperan sebagai regulator. Bahkan berbagai bantuan seperti BPJS dan beasiswa pada dasarnya juga bersumber dari pajak yang dibayar rakyat.

 

Ma’âsyiral Muslimîn rahimakumullâh,

Jika kemiskinan adalah masalah kehidupan manusia, maka Islam tidak hanya menjelaskan siapa yang disebut miskin, tetapi juga menetapkan bagaimana kemiskinan itu harus diselesaikan.

Dalam Islam, ukuran kemiskinan bersifat jelas: seseorang disebut miskin ketika kebutuhan pokoknya—sandang, pangan, dan papan—tidak terpenuhi secara menyeluruh. Islam mewajibkan setiap laki-laki dewasa menafkahi dirinya dan keluarganya. Allah Swt. berfirman:

وَعَلَى الْمَوْلُوْدِ لَهٗ رِزْقُهُنَّ وَكِسْوَتُهُنَّ بِالْمَعْرُوْفِۗ

“Kewajiban ayah menanggung makan dan pakaian mereka dengan cara yang patut” (QS. al-Baqarah [2]: 233).

Allah juga berfirman:

اَسْكِنُوْهُنَّ مِنْ حَيْثُ سَكَنْتُمْ مِّنْ وُّجْدِكُمْ

“Tempatkanlah mereka (para istri) di mana saja kalian (para suami) bertempat tinggal menurut kemampuan kalian” (QS. ath-Thalâq [65]: 6).

Jika seseorang tidak mampu memenuhi kebutuhan keluarganya, kewajiban berpindah kepada kerabat terdekat yang mampu. Jika tidak ada kerabat yang mampu, maka negara wajib menanggung kebutuhan pokoknya. Rasulullah saw. bersabda:

مَنْ تَرَكَ مَالًا فَلِوَرَثَتِهِ وَمَنْ تَرَكَ كَلًّا فَإِلَيْنَا

”Siapa saja yang mati meninggalkan harta maka hartanya untuk ahli warisnya. Siapa saja yang mati meninggalkan keluarga yang miskin maka mereka menjadi tanggungan kami.” (HR. al-Bukhari).

Dengan demikian, dalam Islam pemenuhan kebutuhan pokok rakyat miskin bukan sekadar bantuan sukarela, tetapi merupakan kewajiban yang harus dijamin.

Untuk menjalankan kewajiban tersebut, negara memiliki Baitul Mal yang mengelola berbagai sumber pemasukan, termasuk zakat dan pengelolaan kepemilikan umum seperti sumber daya alam. Jika dana tidak mencukupi, negara dapat mengenakan dhariibah secara terbatas kepada Muslim yang mampu, dan dihentikan ketika kebutuhan telah terpenuhi. Rasulullah saw. mengingatkan:

وَأَيُّمَا أَهْلُ عَرْصَة أَصْبَحَ فِيهِمْ امْرُؤٌ جَائِعٌ فَقَدْ بَرِئَتْ مِنْهُمْ ذِمَّةُ الله تَعَالَى

“Penduduk negeri mana pun yang pada pagi hari di tengah-tengah mereka ada orang yang kelaparan, maka jaminan Allah telah lepas dari mereka.” (HR Ahmad, al-Hakim dan Abu Ya’la).

Ini menunjukkan bahwa Islam menempatkan pemenuhan kebutuhan dasar rakyat sebagai tanggung jawab yang wajib diperhatikan oleh negara dan masyarakat.

 

Ma’âsyiral Muslimîn rahimakumullâh,

Jika kita ingin mengentaskan kemiskinan sampai ke akar masalahnya, maka yang perlu dibenahi bukan hanya orang miskinnya, tetapi juga sistem yang mengatur kepemilikan dan distribusi kekayaan. Dalam konsep Khilafah dengan penerapan syariah secara kaaffah, harta milik umum seperti tambang dan hutan dikelola negara untuk kemaslahatan rakyat, bukan dikuasai segelintir individu atau korporasi. Selain itu, Islam melarang penumpukan harta (kanzul maal) sebagaimana firman Allah Swt. dalam QS at-Taubah [9]: 34, sehingga harta tidak hanya berputar di kalangan orang kaya, tetapi didorong menjadi harta produktif melalui usaha, konsumsi, infak, hibah, dan wakaf.

Jama’ah Jumat rahimakumullah, inilah gambaran bagaimana Islam menangani kemiskinan bukan hanya pada gejalanya, tetapi hingga faktor penyebabnya. Namun, konsep tersebut membutuhkan penerapan syariah Islam secara kaaffah melalui sistem pemerintahan Khilafah, sehingga tidak dapat diwujudkan secara utuh dalam sistem Kapitalisme yang berlaku saat ini. Semoga Allah Swt. memberi kita pemahaman terhadap syariat-Nya dan menunjukkan jalan yang diridai-Nya. Wallâhu a‘lam bish-shawâb.[]

 

بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِى الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الْآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ، وَتَقَبَّلَ مِنَّا وَمِنْكُمْ تِلَاوَتَهُ وَإِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا، وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ

 

KHUTBAH KEDUA

 

اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ عَلَى إِحْسَانِهِ، وَالشُّكْرُ لَهُ عَلَى تَوْفِيْقِهِ وَامْتِنَانِهِ. وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الدَّاعِى إِلَى رِضْوَانِهِ. اللّٰهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَسَلِّمْ تَسْلِيْمًا كَثِيْرًا.

أَمَّا بَعْدُ؛ فَياَ أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا اللّٰهَ فِيْمَا أَمَرَ وَانْتَهُوْا عَمَّا نَهَى، وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ بَدَأَ فِيْهِ بِنَفْسِهِ وَثَنَّى بِمَلَائِكَتِهِ الْمُسَبِّحَةِ بِقُدْسِهِ، وَقَالَ تَعاَلَى: إِنَّ اللهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا.

اللّٰهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِناَ مُحَمَّدٍ، وَعَلَى أَنْبِيَائِكَ وَرُسُلِكَ وَمَلَائِكَتِكَ الْمُقَرَّبِيْنَ، وَارْضَ اللّٰهُمَّ عَنِ الْخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ، أَبِى بَكْرٍ وَعُمَرَ وَعُثْمَانَ وَعَلِيٍّ، وَعَنْ بَقِيَّةِ الصَّحَابَةِ وَالتَّابِعِيْنَ، وَالتَّابِعِيْنَ لَهُمْ بِإِحْسَانٍ اِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ، وَارْضَ عَنَّا مَعَهُمْ بِرَحْمَتِكَ يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ.

اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ وَالْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ. اللّٰهُمَّ أَعِزَّ الْإِسْلَامَ وَالْمُسْلِمِيْنَ، وَأَذِلَّ الشِّرْكَ وَالْمُشْرِكِيْنَ، وَانْصُرْ مَنْ نَصَرَ الدِّيْنَ، وَاخْذُلْ مَنْ خَذَلَ الْمُسْلِمِيْنَ، وَدَمِّرْ أَعْدَاءَ الدِّيْنِ، وَأَعْلِ كَلِمَاتِكَ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ.

اَللّٰهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ دَوْلَةَ الْخِلاَفَةِ عَلَى مِنْهَاجِ النُّبُوَّةِ تُعِزُّ بِهَا الْإِسْلَامَ وَاَهْلَهُ وَتُذِلُّ بِهَا الْكُفْرَ وَاَهْلَهُ، وَاجْعَلْنَا مِنَ الْعَامِلِيْنَ الْمُخْلِصِيْنَ لِإِقَامَتِهَا بِإِذْنِكَ يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ.

اللّٰهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا الْغَلَاءَ وَالْبَلاَءَ وَالْوَبَاءَ وَالزَّلَازِلَ وَالْمِحَنَ، وَسُوْءَ الْفِتَنِ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ، عَنْ بَلَدِنَا إِنْدُوْنِيْسِيَا خَاصَّةً وَسَائِرِ بُلْدَانِ الْمُسْلِمِيْنَ عَامَّةً يَا رَبَّ الْعَالَمِيْنَ. رَبَّنَا آتِنَا فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِى الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.

عِبَادَ اللهِ! إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيْتآءِ ذِي الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشآءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ، وَاذْكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ، وَاسْأَلُوْهُ مِنْ فَضْلِهِ يُعْطِكُمْ، وَاشْكُرُوْهُ عَلَى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ، وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرْ.

Bahasa Daerah

Naskah Khutbah untuk bahasa lain di Indonesia
CUKUPLAH ISLAM ALA RASULULLAH ﷺ

CUKUPLAH ISLAM ALA RASULULLAH ﷺ

CUKUPLAH ISLAM ALA RASULULLAH ﷺ

CUKUPLAH

ISLAM ALA RASULULLAH ﷺ

 

KHUTBAH PERTAMA

 

الْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ، اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ الَّذِيْ أَرْسَلَ رَسُوْلَهُ بِالْهُدَى وَدِيْنِ الْحَـقِّ لِيُظْهِرَهُ عَلَى الدِّيْنِ كُلِّهِ وَلَوْ كَرِهَ الْمُشْرِكُوْنَ، أَشْهَدُ أَنْ لَا اِلٰهَ إِلَّا اللّٰه وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُوْلُ اللّٰه، اَللّٰهُـمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى اٰلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِيْنَ، أَمَّا بَعْدُ.

فَيَا عِبَادَ اللّٰه، أُوْصِيْنِيِ نَفْسِيْ وَإِيَّاكُمْ بِتَقْوَى اللهِ، فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ. قَالَ اللهُ تَعَالَى: قُلْ اِنْ كُنْتُمْ تُحِبُّوْنَ اللّٰهَ فَاتَّبِعُوْنِيْ يُحْبِبْكُمُ اللّٰهُ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوْبَكُمْۗ وَاللّٰهُ غَفُوْرٌ رَّحِيْمٌ ۝٣١ (اٰلِ عِمْرَانَ) 

Alhamdulillah, kita masih dipertemukan oleh Allah di hari mulia, hari Jumat. Di tempat yang dimuliakan, masjid. Bersama orang-orang yang insya Allah dimuliakan, orang-orang bertakwa. Shalawat serta salam semoga senantiasa tercurah kepada junjungan alam Nabi Besar Muhammad saw.

Pertama dan paling utama, mari tingkatkan takwa kita kepada Allah. Taati perintah-Nya dan jauhi larangan-Nya. Allah Swt. berfirman:

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا اتَّقُوا اللّٰهَ حَقَّ تُقٰىتِهٖ وَلَا تَمُوْتُنَّ اِلَّا وَاَنْتُمْ مُّسْلِمُوْنَ

“Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dengan sebenar-benar takwa kepada-Nya dan janganlah kamu mati kecuali dalam keadaan muslim.” (QS. Âli ‘Imrân [3]: 102).

 

Ma’âsyiral Muslimîn rahimakumullâh,

Sejak kapan Islam boleh diberi nama sesuai nama seorang penguasa? Pertanyaan ini mencuat setelah MUI dan Baznas meluncurkan buku Islam Ala Prabowo pada 26 Agustus 2025 dalam rangkaian Rapat Koordinasi Nasional Baznas di Jakarta. Setahun kemudian, buku setebal 346 halaman itu ramai diperbincangkan dan diperdebatkan, terutama karena judulnya dinilai berlebihan dan membingungkan. Buku ini memuat kumpulan tulisan tentang sisi “keislaman” Presiden Prabowo Subianto, mulai dari kehidupan pribadi, karier militer hingga kepemimpinannya sebagai kepala negara. Ditulis oleh 21 tokoh agama, akademisi, diplomat, dan politisi, buku tersebut juga menuai persoalan karena beberapa tokoh yang namanya tercantum sebagai penulis mengaku tidak pernah menulis untuk buku itu.

Yang menjadi persoalan utama bukanlah siapa presidennya, siapa saja yang menulis, atau seberapa banyak tokoh agama yang terlibat. Masalahnya terletak pada kesan bahwa Islam dapat dilekatkan pada sosok penguasa hingga melahirkan sebuah “versi” Islam. Padahal, Islam bukan milik pribadi, bukan pula identitas yang berubah mengikuti siapa yang sedang memegang kekuasaan—apalagi dalam sistem negara sekuler. Karena itu, penggunaan nama seorang penguasa sebagai bagian dari identitas Islam patut dipertanyakan secara serius.

 

Ma’âsyiral Muslimîn rahimakumullâh,

Kalau Islam benar-benar sempurna, lalu siapa yang berhak menjadi ukuran Islam: wahyu atau manusia? Kita mengenal kepemimpinan istimewa Khalifah Umar bin al-Khaththab, jihad yang sangat heroik Shalahuddin al-Ayyubi atau penaklukan agung Muhammad al-Fatih. Namun, tidak pernah ada istilah “Islam ala Umar”, “Islam ala Shalahuddin”, atau “Islam ala Muhammad al-Fatih”. Sehebat apa pun keislaman seorang Muslim, termasuk pemimpin atau ulama, tetap tidak menjadikannya ukuran bagi Islam. Tolok ukur kebenaran adalah wahyu Allah Swt., yakni al-Quran dan as-Sunnah. Allah Swt. berfirman:

اَلْيَوْمَ اَكْمَلْتُ لَكُمْ دِيْنَكُمْ وَاَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِيْ وَرَضِيْتُ لَكُمُ الْاِسْلَامَ دِيْنًا

“Pada hari ini telah Aku sempurnakan bagi kalian agama kalian, telah Aku cukupkan nikmat-Ku untuk kalian dan telah Aku ridhai Islam sebagai agama kalian.” (QS. al-Mâidah [5]: 3). Karena itu, kesalahan seorang Muslim adalah penyimpangan dari Islam, bukan bagian dari ajaran Islam.

Islamlah yang menjadi standar untuk menilai penguasa, bukan penguasa yang menjadi standar untuk menentukan Islam. Islam tidak boleh dipersonifikasikan atau ditundukkan pada kepentingan penguasa. Setiap Muslim, termasuk rakyat, ulama, ilmuwan, maupun kepala negara, wajib tunduk kepada syariah dan tidak berwenang menentukan isinya. Bahkan ketaatan kepada ulil amri tetap berada di bawah ketaatan kepada Allah dan Rasul-Nya. Allah Swt. berfirman:

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوٓاْ أَطِيعُواْ ٱللَّهَ وَأَطِيعُواْ ٱلرَّسُولَ وَأُوْلِي ٱلۡأَمۡرِ مِنكُمۡۖ فَإِن تَنَٰزَعۡتُمۡ فِي شَيۡءٖ فَرُدُّوهُ إِلَى ٱللَّهِ وَٱلرَّسُولِ إِن كُنتُمۡ تُؤۡمِنُونَ بِٱللَّهِ وَٱلۡيَوۡمِ ٱلۡأٓخِرِۚ ذَٰلِكَ خَيۡر وَأَحۡسَنُ تَأۡوِيلًا

“Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul-Nya, serta ulil amri di antara kalian. Kemudian jika kalian berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah dan Rasul-Nya jika kalian benar-benar mengimani Allah dan Hari Akhir. Yang demikian itu lebih utama dan lebih baik akibatnya.” (QS. an-Nisâ’ [4]: 59).

Islam tidak membutuhkan legitimasi dari figur mana pun. Sebaliknya, manusialah yang dinilai berdasarkan sejauh mana pikiran, ucapan, dan perbuatannya sesuai dengan Islam. Kebenaran Islam tidak bergantung pada kharisma atau kekuasaan seseorang, karena Islam adalah agama wahyu yang universal. Rasulullah saw. bersabda:

مَنْ أَطَاعَنِيْ فَقَدْ أَطَاعَ اللَّهَ، وَمَنْ عَصَانِيْ فَقَدْ عَصَى اللَّهَ

“Siapa saja yang menaati aku, sungguh ia telah menaati Allah. Siapa saja yang mendurhakai aku, sungguh ia telah mendurhakai Allah.” (HR. al-Bukhari dan Muslim).

Dengan demikian, siapa pun kedudukannya, seorang Muslim wajib menjadikan Islam sebagai ukuran dalam berpikir dan bertindak, bukan menjadikan dirinya sebagai ukuran Islam.

 

Ma’âsyiral Muslimîn rahimakumullâh,

Islam bukan ditentukan oleh siapa tokohnya, tetapi oleh siapa yang menjadi sumber kebenarannya. Islam bersumber dari wahyu Allah Swt., yakni al-Quran dan as-Sunnah, bukan dari penguasa, ulama, atau cendekiawan. Karena itu, Islam tidak boleh dinisbatkan kepada figur, apalagi dijadikan alat kepentingan politik. Kaum Muslim wajib menjadikan Rasulullah saw. sebagai teladan dalam berislam (QS. al-Ahzâb [33]: 21).

Allah juga berfirman:

قُلْ اِنْ كُنْتُمْ تُحِبُّوْنَ اللّٰهَ فَاتَّبِعُوْنِيْ يُحْبِبْكُمُ اللّٰهُ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوْبَكُمْۗ وَاللّٰهُ غَفُوْرٌ رَّحِيْمٌ

“Katakanlah, ‘Jika kalian benar-benar mencintai Allah, ikutilah aku (Muhammad), niscaya Allah mencintai kalian dan mengampuni dosa-dosa kalian. Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.’” (QS. Âli ’Imrân [3]: 31).

Dalam perspektif fiqih siyasah, pemimpin tertinggi (Imam atau Khalifah) pun wajib meneladani kepemimpinan Rasulullah saw. sebagai kepala negara di Madinah, dengan menjalankan syariah dan mewujudkan keadilan serta menjaga agama, jiwa, akal, harta, dan kehormatan masyarakat. Allah Swt. berfirman:

ثُمَّ جَعَلْنٰكَ عَلٰى شَرِيْعَةٍ مِّنَ الْاَمْرِ فَاتَّبِعْهَا وَلَا تَتَّبِعْ اَهْوَاۤءَ الَّذِيْنَ لَا يَعْلَمُوْنَ

“Kemudian Kami menjadikan kamu berada di atas suatu syariah dari urusan (agama itu). Karena itu ikutilah syariah itu dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu orang-orang yang tidak mengetahui.” (QS. al-Jâtsiyah [45]: 18).

Karena itu, Islam tidak cukup hanya dijadikan identitas pribadi, tetapi wajib diterapkan secara kaaffah dalam kehidupan sebagaimana dicontohkan Rasulullah saw. dan Khulafaur Rasyidin. Makna firman Allah Swt. dalam QS. al-Baqarah [2]: 208 adalah perintah kepada orang-orang beriman untuk menjalankan Islam secara menyeluruh dan tidak mengikuti langkah-langkah setan.

Jika kita benar-benar menginginkan kehidupan yang penuh keberkahan, jangan menjadikan manusia sebagai ukuran Islam dan jangan pula menundukkan Islam pada kepentingan kekuasaan. Kembalikan Islam kepada sumbernya: al-Quran dan as-Sunnah, lalu wujudkan ajarannya secara kaaffah dalam kehidupan. Sebab Allah Swt. telah menjanjikan:

وَلَوْ اَنَّ اَهْلَ الْقُرٰٓى اٰمَنُوْا وَاتَّقَوْا لَفَتَحْنَا عَلَيْهِمْ بَرَكٰتٍ مِّنَ السَّمَاۤءِ وَالْاَرْضِ وَلٰكِنْ كَذَّبُوْا فَاَخَذْنٰهُمْ بِمَا كَانُوْا يَكْسِبُوْنَ

“Sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pasti Kami akan melimpahkan kepada mereka keberkahan dari langit dan bumi.” (QS. al-A’râf [7]: 96).

Maka, sudah saatnya kita menempatkan Islam di atas segala kepentingan manusia dan menjadikan syariah Allah sebagai pedoman dalam seluruh aspek kehidupan. Wallâhu a‘lam bish-shawâb.[]

 

بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِى الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الْآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ، وَتَقَبَّلَ مِنَّا وَمِنْكُمْ تِلَاوَتَهُ وَإِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا، وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ

 

KHUTBAH KEDUA

 

اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ عَلَى إِحْسَانِهِ، وَالشُّكْرُ لَهُ عَلَى تَوْفِيْقِهِ وَامْتِنَانِهِ. وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الدَّاعِى إِلَى رِضْوَانِهِ. اللّٰهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَسَلِّمْ تَسْلِيْمًا كَثِيْرًا.

أَمَّا بَعْدُ؛ فَياَ أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا اللّٰهَ فِيْمَا أَمَرَ وَانْتَهُوْا عَمَّا نَهَى، وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ بَدَأَ فِيْهِ بِنَفْسِهِ وَثَنَّى بِمَلَائِكَتِهِ الْمُسَبِّحَةِ بِقُدْسِهِ، وَقَالَ تَعاَلَى: إِنَّ اللهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا.

اللّٰهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِناَ مُحَمَّدٍ، وَعَلَى أَنْبِيَائِكَ وَرُسُلِكَ وَمَلَائِكَتِكَ الْمُقَرَّبِيْنَ، وَارْضَ اللّٰهُمَّ عَنِ الْخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ، أَبِى بَكْرٍ وَعُمَرَ وَعُثْمَانَ وَعَلِيٍّ، وَعَنْ بَقِيَّةِ الصَّحَابَةِ وَالتَّابِعِيْنَ، وَالتَّابِعِيْنَ لَهُمْ بِإِحْسَانٍ اِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ، وَارْضَ عَنَّا مَعَهُمْ بِرَحْمَتِكَ يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ.

اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ وَالْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ. اللّٰهُمَّ أَعِزَّ الْإِسْلَامَ وَالْمُسْلِمِيْنَ، وَأَذِلَّ الشِّرْكَ وَالْمُشْرِكِيْنَ، وَانْصُرْ مَنْ نَصَرَ الدِّيْنَ، وَاخْذُلْ مَنْ خَذَلَ الْمُسْلِمِيْنَ، وَدَمِّرْ أَعْدَاءَ الدِّيْنِ، وَأَعْلِ كَلِمَاتِكَ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ.

اَللّٰهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ دَوْلَةَ الْخِلاَفَةِ عَلَى مِنْهَاجِ النُّبُوَّةِ تُعِزُّ بِهَا الْإِسْلَامَ وَاَهْلَهُ وَتُذِلُّ بِهَا الْكُفْرَ وَاَهْلَهُ، وَاجْعَلْنَا مِنَ الْعَامِلِيْنَ الْمُخْلِصِيْنَ لِإِقَامَتِهَا بِإِذْنِكَ يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ.

اللّٰهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا الْغَلَاءَ وَالْبَلاَءَ وَالْوَبَاءَ وَالزَّلَازِلَ وَالْمِحَنَ، وَسُوْءَ الْفِتَنِ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ، عَنْ بَلَدِنَا إِنْدُوْنِيْسِيَا خَاصَّةً وَسَائِرِ بُلْدَانِ الْمُسْلِمِيْنَ عَامَّةً يَا رَبَّ الْعَالَمِيْنَ. رَبَّنَا آتِنَا فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِى الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.

عِبَادَ اللهِ! إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيْتآءِ ذِي الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشآءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ، وَاذْكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ، وَاسْأَلُوْهُ مِنْ فَضْلِهِ يُعْطِكُمْ، وَاشْكُرُوْهُ عَلَى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ، وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرْ.

Bahasa Daerah

Naskah Khutbah untuk bahasa lain di Indonesia
CARA SYAR’I MEMBASMI KORUPSI

CARA SYAR’I MEMBASMI KORUPSI

CARA SYAR’I MEMBASMI KORUPSI

CARA SYAR’I

MEMBASMI KORUPSI

 

KHUTBAH PERTAMA

 

الْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ، اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ الَّذِيْ أَرْسَلَ رَسُوْلَهُ بِالْهُدَى وَدِيْنِ الْحَـقِّ لِيُظْهِرَهُ عَلَى الدِّيْنِ كُلِّهِ وَلَوْ كَرِهَ الْمُشْرِكُوْنَ، أَشْهَدُ أَنْ لَا اِلٰهَ إِلَّا اللّٰه وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُوْلُ اللّٰه، اَللّٰهُـمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى اٰلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِيْنَ، أَمَّا بَعْدُ.

فَيَا عِبَادَ اللّٰه، أُوْصِيْنِيِ نَفْسِيْ وَإِيَّاكُمْ بِتَقْوَى اللهِ، فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ. قَالَ اللهُ تَعَالَى:

وَلَا تَأْكُلُوْٓا اَمْوَالَكُمْ بَيْنَكُمْ بِالْبَاطِلِ وَتُدْلُوْا بِهَآ اِلَى الْحُكَّامِ لِتَأْكُلُوْا فَرِيْقًا مِّنْ اَمْوَالِ النَّاسِ بِالْاِثْمِ وَاَنْتُمْ تَعْلَمُوْنَࣖ ۝١٨٨ (اَلْبَقَرَةُ) 

Alhamdulillah, kita masih dipertemukan oleh Allah di hari mulia, hari Jumat. Di tempat yang dimuliakan, masjid. Bersama orang-orang yang insya Allah dimuliakan, orang-orang bertakwa. Shalawat serta salam semoga senantiasa tercurah kepada junjungan alam Nabi Besar Muhammad saw.

Pertama dan paling utama, mari tingkatkan takwa kita kepada Allah. Taati perintah-Nya dan jauhi larangan-Nya. Allah Swt. berfirman:

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا اتَّقُوا اللّٰهَ حَقَّ تُقٰىتِهٖ وَلَا تَمُوْتُنَّ اِلَّا وَاَنْتُمْ مُّسْلِمُوْنَ

“Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dengan sebenar-benar takwa kepada-Nya dan janganlah kamu mati kecuali dalam keadaan muslim.” (QS. Âli ‘Imrân [3]: 102).

 

Ma’âsyiral Muslimîn rahimakumullâh,

Ada pertanyaan yang terus menggelitik di benak kita: mengapa korupsi terus terjadi, padahal masyarakat sudah begitu muak dan berbagai aturan sudah dibuat untuk memberantasnya? Belakangan ini berbagai demonstrasi kembali terjadi. Di antaranya menuntut Pemerintah dan DPR segera mengesahkan Rancangan Undang-Undang Perampasan Aset, bahkan ada yang menuntut agar koruptor dihukum mati. Ini menunjukkan betapa korupsi telah menjadi persoalan besar yang merusak kepercayaan masyarakat. Islam sejak awal sudah memberikan peringatan tegas. Allah Swt. berfirman:

وَلَا تَأْكُلُوْٓا اَمْوَالَكُمْ بَيْنَكُمْ بِالْبَاطِلِ وَتُدْلُوْا بِهَآ اِلَى الْحُكَّامِ لِتَأْكُلُوْا فَرِيْقًا مِّنْ اَمْوَالِ النَّاسِ بِالْاِثْمِ وَاَنْتُمْ تَعْلَمُوْنَࣖ

“Janganlah kalian memakan harta di antara kalian dengan jalan yang batil. Jangan pula kalian menyuap hakim dengan harta agar kalian dapat memakan sebagian harta orang lain dengan jalan dosa, padahal kalian tahu.” (QS. Al-Baqarah [2]: 188).

Ayat ini melarang mengambil harta dengan cara yang batil, termasuk menggunakan uang untuk mempengaruhi orang yang memiliki kekuasaan agar mendapatkan sesuatu yang sebenarnya bukan hak kita.

Allah Swt. juga berfirman:

وَمَنْ يَّغْلُلْ يَأْتِ بِمَا غَلَّ يَوْمَ الْقِيٰمَةِۚ

“Siapa saja yang berkhianat, niscaya pada Hari Kiamat ia akan datang membawa apa yang dia khianati itu.” (QS. Âli ’Imrân [3]: 161).

Inilah ghuluul, yaitu mengambil atau menyalahgunakan harta yang diamanahkan. Maka, korupsi bukan sekadar pelanggaran hukum, tetapi perbuatan haram dan pengkhianatan terhadap amanah. Harta yang dapat disembunyikan dari manusia, tidak akan pernah tersembunyi dari Allah Swt.

 

Ma’âsyiral Muslimîn rahimakumullâh,

Korupsi bukan hanya soal orang yang tamak, tetapi juga bisa tumbuh karena lingkungan dan sistem yang membuka peluang untuk korupsi. Politik yang mahal, biaya perebutan kekuasaan, kedekatan penguasa dengan pemilik modal, transaksi kepentingan, budaya materialisme, dan lemahnya pengawasan dapat membuat jabatan berubah dari amanah menjadi alat mencari keuntungan.

Rasulullah ﷺ bersabda kepada Abu Dzar ra.:

إِنَّهَا أَمَانَةٌ، وَإِنَّهَا يَوْمَ الْقِيَامَةِ خِزْيٌ وَنَدَامَةٌ، إِلَّا مَنْ أَخَذَهَا بِحَقِّهَا وَأَدَّى الَّذِي عَلَيْهِ فِيْهَا

“Sesungguhnya jabatan itu adalah amanah. Pada Hari Kiamat ia menjadi kehinaan dan penyesalan, kecuali bagi orang yang mengambilnya dengan benar dan menunaikan kewajibannya.” (HR. Muslim).

Hadits ini menegaskan bahwa jabatan adalah amanah, bukan sarana memperkaya diri. Siapa pun yang menggunakan kekuasaan untuk kepentingan pribadi berarti telah mengkhianati amanah tersebut.

 

Ma’âsyiral Muslimîn rahimakumullâh,

Jika korupsi terus berulang, pertanyaannya bukan hanya bagaimana menghukum koruptor, tetapi bagaimana mencegah korupsi sejak awal. Islam tidak hanya mengatur hukuman setelah korupsi terjadi, tetapi juga membangun sistem yang mencegah, menutup jalan menuju korupsi, mengawasi pejabat, mengoreksi penguasa, mengembalikan harta yang diambil secara tidak sah, dan memberikan sanksi kepada pelakunya. Inilah penyelesaian yang menyeluruh.

Pertama, membentuk ketakwaan individu. Benteng pertama adalah kesadaran bahwa Allah selalu mengawasi. Allah Swt. berfirman:

يَعْلَمُ خَاۤىِٕنَةَ الْاَعْيُنِ وَمَا تُخْفِى الصُّدُوْرُ

“Allah mengetahui pandangan mata yang khianat dan apa yang disembunyikan di dalam dada.” (QS. Ghâfir [40]: 19).

Kedua, menjadikan penguasa sebagai pengurus rakyat. Rasulullah ﷺ bersabda:

مَا مِنْ عَبْدٍ يَسْتَرْعِيهِ اللَّهُ رَعِيَّةً، يَمُوتُ يَوْمَ يَمُوتُ وَهُوَ غَاشٌّ لِرَعِيَّتِهِ، إِلَّا حَرَّمَ اللَّهُ عَلَيْهِ الْجَنَّةَ

“Tidaklah seorang hamba yang Allah beri amanah untuk mengurus rakyat, kemudian ia meninggal dalam keadaan menipu rakyatnya, kecuali Allah mengharamkan surga baginya.” (HR. al-Bukhari dan Muslim). Jabatan adalah amanah, bukan kesempatan memperkaya diri.

Ketiga, melarang pejabat menerima hadiah karena jabatannya. Rasulullah ﷺ menegur Ibn al-Lutbiyyah, petugas zakat, dan bersabda: “Mengapa ia tidak duduk saja di rumah ayah dan ibunya, lalu melihat apakah ia akan diberi hadiah atau tidak?!” (HR. Muslim).

Keempat, mengawasi harta pejabat. Rasulullah ﷺ memeriksa harta Ibn al-Lutbiyyah dan mempertanggungjawabkan pemberian yang diterimanya. Ini menunjukkan bahwa pejabat tidak boleh mengelola harta publik tanpa pengawasan.

Kelima, memberikan gaji atau kompensasi yang cukup. Rasulullah ﷺ berpesan dalam sabdanya bahwa orang yang diberi tugas negara dan membutuhkan rumah, istri, pelayan, atau kendaraan, boleh mengambilnya sesuai kebutuhan;

فَمَنْ أَصَابَ سِوَى ذَلِكَ فَهُوَ غَالٌّ أَوْ سَارِقٌ

“Siapa saja yang mengambil selain itu, maka ia telah berkhianat atau mencuri.” (HR. Abu Dawud).

Keenam, masyarakat wajib mengoreksi penguasa. Allah SWT berfirman:

وَلْتَكُنْ مِّنْكُمْ اُمَّةٌ يَّدْعُوْنَ اِلَى الْخَيْرِ وَيَأْمُرُوْنَ بِالْمَعْرُوْفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِۗ وَاُولٰۤىِٕكَ هُمُ الْمُفْلِحُوْنَ

“Hendaklah ada di antara kalian segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang makruf, dan mencegah dari yang mungkar. Mereka itulah orang-orang yang beruntung.” (QS. Âli ’Imrân [3]: 104).

Ketujuh, menegakkan hukum secara tegas dan tanpa tebang pilih. Sanksi berfungsi sebagai zawajir, yaitu pencegah kejahatan. Rasulullah ﷺ bersabda:

وَايْمُ اللَّهِ، لَوْ أَنَّ فَاطِمَةَ بِنْتَ مُحَمَّدٍ سَرَقَتْ لَقَطَعْتُ يَدَهَا

“Demi Allah! Seandainya Fatimah binti Muhammad mencuri, pasti aku potong tangannya.” (HR. al-Bukhari dan Muslim). Pesannya jelas: hukum tidak boleh tajam kepada rakyat kecil tetapi tumpul kepada pejabat, orang kaya, keluarga, atau orang yang dekat dengan penguasa.

 

Ma’âsyiral Muslimîn rahimakumullâh,

Korupsi tidak cukup hanya dilawan dengan hukuman setelah kejahatan terjadi. Islam membangun pencegahan sekaligus penindakan. Korupsi dapat termasuk pengkhianatan amanah, ghuluul, suap, dan pengambilan harta secara batil, dengan sanksi ta’ziir yang ditetapkan negara sesuai syariah. Khalifah Umar bin al-Khaththab ra. bahkan pernah mengambil separuh harta pejabat yang bertambah secara mencolok dan tidak wajar selama menjabat, lalu memasukkannya ke Baitul Mal (Ibn Sa‘d, Ath-Thabaqât al-Kubrâ, 3/307).

Maka, pemberantasan korupsi harus dilakukan dari akarnya: membentuk individu yang bertakwa, membuka ruang amar makruf nahi mungkar, menjadikan kekuasaan sebagai amanah, memperkuat pengawasan, menjamin kebutuhan masyarakat dan aparat secara layak, serta menegakkan hukum yang tegas, adil, dan tanpa tebang pilih. Solusi yang menyeluruh ini membutuhkan penerapan Islam secara kaaffah dalam seluruh aspek kehidupan. Sebab, jika akar persoalannya adalah rusaknya amanah dan sistem, maka solusinya pun harus menyentuh manusia, sistem, dan hukum secara bersamaan. Wallâhu a‘lam bish-shawâb.[]

 

بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِى الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الْآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ، وَتَقَبَّلَ مِنَّا وَمِنْكُمْ تِلَاوَتَهُ وَإِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا، وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ

 

KHUTBAH KEDUA

 

اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ عَلَى إِحْسَانِهِ، وَالشُّكْرُ لَهُ عَلَى تَوْفِيْقِهِ وَامْتِنَانِهِ. وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الدَّاعِى إِلَى رِضْوَانِهِ. اللّٰهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَسَلِّمْ تَسْلِيْمًا كَثِيْرًا.

أَمَّا بَعْدُ؛ فَياَ أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا اللّٰهَ فِيْمَا أَمَرَ وَانْتَهُوْا عَمَّا نَهَى، وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ بَدَأَ فِيْهِ بِنَفْسِهِ وَثَنَّى بِمَلَائِكَتِهِ الْمُسَبِّحَةِ بِقُدْسِهِ، وَقَالَ تَعاَلَى: إِنَّ اللهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا.

اللّٰهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِناَ مُحَمَّدٍ، وَعَلَى أَنْبِيَائِكَ وَرُسُلِكَ وَمَلَائِكَتِكَ الْمُقَرَّبِيْنَ، وَارْضَ اللّٰهُمَّ عَنِ الْخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ، أَبِى بَكْرٍ وَعُمَرَ وَعُثْمَانَ وَعَلِيٍّ، وَعَنْ بَقِيَّةِ الصَّحَابَةِ وَالتَّابِعِيْنَ، وَالتَّابِعِيْنَ لَهُمْ بِإِحْسَانٍ اِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ، وَارْضَ عَنَّا مَعَهُمْ بِرَحْمَتِكَ يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ.

اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ وَالْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ. اللّٰهُمَّ أَعِزَّ الْإِسْلَامَ وَالْمُسْلِمِيْنَ، وَأَذِلَّ الشِّرْكَ وَالْمُشْرِكِيْنَ، وَانْصُرْ مَنْ نَصَرَ الدِّيْنَ، وَاخْذُلْ مَنْ خَذَلَ الْمُسْلِمِيْنَ، وَدَمِّرْ أَعْدَاءَ الدِّيْنِ، وَأَعْلِ كَلِمَاتِكَ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ.

اَللّٰهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ دَوْلَةَ الْخِلاَفَةِ عَلَى مِنْهَاجِ النُّبُوَّةِ تُعِزُّ بِهَا الْإِسْلَامَ وَاَهْلَهُ وَتُذِلُّ بِهَا الْكُفْرَ وَاَهْلَهُ، وَاجْعَلْنَا مِنَ الْعَامِلِيْنَ الْمُخْلِصِيْنَ لِإِقَامَتِهَا بِإِذْنِكَ يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ.

اللّٰهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا الْغَلَاءَ وَالْبَلاَءَ وَالْوَبَاءَ وَالزَّلَازِلَ وَالْمِحَنَ، وَسُوْءَ الْفِتَنِ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ، عَنْ بَلَدِنَا إِنْدُوْنِيْسِيَا خَاصَّةً وَسَائِرِ بُلْدَانِ الْمُسْلِمِيْنَ عَامَّةً يَا رَبَّ الْعَالَمِيْنَ. رَبَّنَا آتِنَا فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِى الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.

عِبَادَ اللهِ! إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيْتآءِ ذِي الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشآءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ، وَاذْكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ، وَاسْأَلُوْهُ مِنْ فَضْلِهِ يُعْطِكُمْ، وَاشْكُرُوْهُ عَلَى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ، وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرْ.

Bahasa Daerah

Naskah Khutbah untuk bahasa lain di Indonesia

UPDATE INFORMASI TERBARU