Seruan Masjid

Khadimul Ummah wa Du'at

PENGUASA HARAM MENYUSAHKAN RAKYATNYA

PENGUASA HARAM MENYUSAHKAN RAKYATNYA

PENGUASA HARAM MENYUSAHKAN RAKYATNYA

PENGUASA HARAM

MENYUSAHKAN RAKYATNYA

 

KHUTBAH PERTAMA

 

إِنَّ الْحَمْدَ لِلّٰهِ، نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَسَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، شَهَادَةً تُنْجِيْ قَائِلَهَا مِنَ النَّارِ. وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الْمُتَّصِفُ بِالْمَكَارِمِ كَبِيْرًا وَصَبِيًّا.

اللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ النَّبِيِّ الْأُمِّيِّ، الصَّادِقِ الْأَمِيْنِ، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ الَّذِيْنَ حَسُنَ إِسْلَامُهُمْ. أَمَّا بَعْدُ؛ فَيَا أَيُّهَا الْحَاضِرُوْنَ رَحِمَكُمُ اللهُ، أُوْصِيْ نَفْسِيْ وَإِيَّاكُمْ بِتَقْوَى اللهِ، فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ. قَالَ اللهُ تَعَالَى:

وَلَا تَأْكُلُوْٓا اَمْوَالَكُمْ بَيْنَكُمْ بِالْبَاطِلِ وَتُدْلُوْا بِهَآ اِلَى الْحُكَّامِ لِتَأْكُلُوْا فَرِيْقًا مِّنْ اَمْوَالِ النَّاسِ بِالْاِثْمِ وَاَنْتُمْ تَعْلَمُوْنَ ۝١٨٨ (اَلْبَقَرَةُ) 

Ma’âsyiral Muslimîn rahimakumullâh,

Alhamdulillah, kita masih dipertemukan oleh Allah di hari mulia, hari Jumat. Di tempat yang dimuliakan, masjid. Bersama orang-orang yang insya Allah dimuliakan, orang-orang bertakwa. Shalawat serta salam semoga senantiasa tercurah kepada Rasulullah Muhammad Shallallâhu ‘alaihi wasallam.

Pertama dan paling utama, mari tingkatkan takwa kita kepada Allah. Taati perintah-Nya dan jauhi larangan-Nya. Allah SWT berfirman:

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا اتَّقُوا اللّٰهَ حَقَّ تُقٰىتِهٖ وَلَا تَمُوْتُنَّ اِلَّا وَاَنْتُمْ مُّسْلِمُوْنَ

“Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dengan sebenar-benar takwa kepada-Nya dan janganlah kamu mati kecuali dalam keadaan muslim.” (QS. Âli Imrân [3]: 102).

 

Ma’âsyiral Muslimîn rahimakumullâh,

Marilah kita merenung sejenak dengan hati yang jernih. Di tengah tekanan global seperti gejolak energi, konflik kawasan, dan melemahnya perdagangan dunia, kondisi fiskal negara kian berat. Rakyat pun merasakan dampaknya: daya beli menurun, rupiah melemah, biaya produksi naik, dan PHK meluas. Ironisnya, selain dibebani pajak, rakyat juga harus saling menanggung kebutuhan melalui skema seperti BPJS. Kini muncul rencana pembentukan Lembaga Pengelola Dana Umat (LPDU) dengan potensi dana umat hingga Rp 1.000 triliun per tahun dari zakat, infak, sedekah, wakaf, dan lainnya. Pertanyaannya, mengapa negara semakin bergantung pada dana rakyat untuk menjalankan kewajibannya?

Padahal, negeri ini tidak kekurangan potensi, melainkan lemah dalam pengelolaan. Indonesia memiliki kekayaan SDA besar—nikel sekitar 21 juta ton, batubara lebih dari 38,8 miliar ton, serta minerba yang pernah menyumbang Rp 172 triliun dalam setahun. Namun, manfaatnya lebih banyak dinikmati segelintir pihak, sementara rakyat hanya mendapat sedikit. Di sisi lain, korupsi pada 2024 saja mencapai Rp 279,9 triliun, belum termasuk praktik “legal” yang merugikan. Bahkan disebutkan, jika korupsi tambang diberantas, tiap rakyat bisa memperoleh hingga Rp 20 juta per bulan. Ini menunjukkan, masalah utama bukan kekurangan harta, tetapi kelalaian dalam amanah pengelolaannya.

 

Ma’âsyiral Muslimîn rahimakumullâh,

Memang benar, jika dicermati dengan jujur, kondisi ini menunjukkan adanya kezaliman dalam pengelolaan urusan rakyat. Kekayaan alam yang seharusnya menjadi milik bersama justru lebih banyak dinikmati segelintir pihak, sementara rakyat tetap dibebani pajak dan berbagai pungutan, bahkan berpotensi kembali dibebani melalui skema baru. Padahal dalam Islam, penguasa adalah raa‘in (pengurus rakyat) yang wajib menjamin kebutuhan mereka. Rasulullah bersabda:

الإمَامُ رَاعٍ وَهُوَ مَسْؤُوْلٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ

“Pemimpin (kepala negara) adalah pengurus rakyat dan ia bertanggung jawab atas rakyat yang dia urus” (HR. al-Bukhari dan Muslim).

Artinya, sebagaimana dijelaskan para ulama, penguasa wajib mengurusi seluruh kemaslahatan rakyat, bukan justru memindahkan beban itu kepada mereka.

Para ulama juga menegaskan bahwa kepemimpinan adalah amanah besar, bukan sekadar kekuasaan. Imam al-Mawardi menyatakan:

الإِمَامَةُ مَوْضُوْعَةٌ لِخِلاَفَةِ النُّبُوَّةِ فِي حَرَاسَةِ الدِّيْنِ وَسِيَاسَةِ الدُّنْيَا

Imamah/Khilafah (kepemimpinan negara) ditegakkan untuk melanjutkan fungsi kenabian dalam menjaga agama dan mengatur urusan dunia.” (Al-Mawardi, Al-Ahkaam as-Sulthaaniyyah, hlm. 15).

Karena itu, penguasa wajib memastikan terpenuhinya kebutuhan pokok rakyat—pangan, kesehatan, pendidikan, keamanan, dan pekerjaan. Rakyat tidak boleh menanggung akibat dari salah urus, sebab setiap kelaparan, kebutuhan yang terabaikan, dan kekayaan publik yang tidak dikelola dengan adil akan dimintai pertanggungjawaban di hadapan Allah SWT.

Sejarah Islam pun memberikan gambaran nyata bagaimana amanah ini dijalankan. Khalifah Umar bin al-Khaththab ra. memikul sendiri gandum untuk rakyat yang kelaparan, menegaskan bahwa penderitaan rakyat adalah tanggung jawab langsung pemimpin. Pada masa Khalifah Umar bin Abdul Aziz, kesejahteraan bahkan merata hingga petugas zakat kesulitan menemukan penerima. Hal ini terwujud karena pengelolaan kekayaan yang adil, pemberantasan korupsi, kesederhanaan pemimpin, serta pengelolaan Baitul Mal yang sepenuhnya berpihak kepada rakyat.

Ma’âsyiral Muslimîn rahimakumullâh,

Sebagai agama yang sempurna dan paripurna, Islam telah memberikan solusi yang tegas agar negara tidak terus terbebani secara fiskal dan rakyat tidak terus dipaksa menanggung beban yang bukan tanggung jawabnya.

Pertama, harta tidak boleh berputar di kalangan orang kaya saja. Allah SWT berfirman:

كَيْ لَا يَكُوْنَ دُوْلَةً ۢ بَيْنَ الْاَغْنِيَاۤءِ مِنْكُمْۗ

“Agar harta itu jangan hanya beredar di antara orang-orang kaya saja di antara kalian” (QS. al-Hasyr [59]: 7).

Karena itu, sumber daya alam strategis wajib dikelola negara untuk kepentingan rakyat, bukan diserahkan kepada swasta atau asing. Rasulullah bersabda:

الْمُسْلِمُوْنَ شُرَكَاءٌ فِي ثَلاَثٍ: الْمَاءِ وَالْكَلَأِ وَالنَّارِ

“Kaum Muslim berserikat dalam tiga hal: air, padang rumput, dan api” (HR. Abu Dawud), yang mencakup seluruh sumber energi dan kebutuhan publik.

Kedua, pejabat negara wajib hidup sederhana dan tidak bermewah-mewahan, sebagaimana dicontohkan Khalifah Umar bin al-Khaththab ra., agar negara tidak terbebani fasilitas berlebihan.

Ketiga, korupsi harus diberantas total karena jelas haram. Allah SWT berfirman:

وَلَا تَأْكُلُوْٓا اَمْوَالَكُمْ بَيْنَكُمْ بِالْبَاطِلِ

“Janganlah kalian memakan harta sesama kalian dengan cara batil” (QS. al-Baqarah [2]: 188). Dengan pengelolaan yang amanah dan bersih, kekayaan negara dapat kembali kepada rakyat secara adil.

Keempat, riba wajib dihapus karena diharamkan secara tegas (QS. al-Baqarah [2]: 275) dan merusak ekonomi, bahkan dalam praktiknya negara dapat terbebani ratusan triliun rupiah hanya untuk membayar bunga utang.

Kelima, penumpukan harta harus dicegah. Allah SWT berfirman:

وَالَّذِيْنَ يَكْنِزُوْنَ الذَّهَبَ وَالْفِضَّةَ وَلَا يُنْفِقُوْنَهَا فِيْ سَبِيْلِ اللّٰهِۙ فَبَشِّرْهُمْ بِعَذَابٍ اَلِيْمٍۙ

“Orang-orang yang menimbun emas dan perak dan tidak menafkahkannya di jalan Allah, maka kabarkan kepada mereka azab yang pedih” (QS. at-Taubah [9]: 34). Dengan menerapkan prinsip-prinsip ini, kesejahteraan rakyat bukan sekadar harapan, tetapi dapat benar-benar terwujud.

 

Ma’âsyiral Muslimîn rahimakumullâh,

Karena itu, akar persoalan negeri ini bukanlah kekurangan dana, melainkan siapa yang mengelola dan dengan aturan apa negara dijalankan. Jika amanah berada di tangan yang benar dan pengelolaan dilakukan sesuai syariat Islam, niscaya kekayaan negeri ini lebih dari cukup untuk menyejahterakan seluruh rakyat. Namun sebaliknya, ketika amanah disia-siakan dan aturan Allah diabaikan, maka sebesar apa pun kekayaan yang dimiliki tidak akan pernah membawa keadilan dan kesejahteraan.

Maka ini bukan sekadar persoalan ekonomi, tetapi persoalan amanah dan pertanggungjawaban di hadapan Allah SWT. Setiap kebijakan akan dimintai hisab, setiap kelalaian akan dimintai jawaban. Sudah saatnya kita menyadari bahwa keberkahan tidak lahir dari banyaknya harta, tetapi dari ketaatan dalam mengelolanya. Allah SWT mengingatkan:

اِنَّ اللّٰهَ لَا يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتّٰى يُغَيِّرُوْا مَا بِاَنْفُسِهِمْۗ

“Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum hingga mereka mengubah apa yang ada pada diri mereka sendiri.” (QS. Ar-Ra’d [13]: 11). Wallâhu a‘lam bish-shawâb.[]

 

بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِى الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الْآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ، وَتَقَبَّلَ مِنَّا وَمِنْكُمْ تِلَاوَتَهُ وَإِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا، وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ

 

 

KHUTBAH KEDUA

 

اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ عَلَى إِحْسَانِهِ، وَالشُّكْرُ لَهُ عَلَى تَوْفِيْقِهِ وَامْتِنَانِهِ. وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الدَّاعِى إِلَى رِضْوَانِهِ. اللّٰهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَسَلِّمْ تَسْلِيْمًا كَثِيْرًا.

أَمَّا بَعْدُ؛ فَياَ أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا اللّٰهَ فِيْمَا أَمَرَ وَانْتَهُوْا عَمَّا نَهَى، وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ بَدَأَ فِيْهِ بِنَفْسِهِ وَثَنَّى بِمَلَائِكَتِهِ الْمُسَبِّحَةِ بِقُدْسِهِ، وَقَالَ تَعاَلَى: إِنَّ اللهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا.

اللّٰهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِناَ مُحَمَّدٍ، وَعَلَى أَنْبِيَائِكَ وَرُسُلِكَ وَمَلَائِكَتِكَ الْمُقَرَّبِيْنَ، وَارْضَ اللّٰهُمَّ عَنِ الْخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ، أَبِى بَكْرٍ وَعُمَرَ وَعُثْمَانَ وَعَلِيٍّ، وَعَنْ بَقِيَّةِ الصَّحَابَةِ وَالتَّابِعِيْنَ، وَالتَّابِعِيْنَ لَهُمْ بِإِحْسَانٍ اِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ، وَارْضَ عَنَّا مَعَهُمْ بِرَحْمَتِكَ يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ.

اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ وَالْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ. اللّٰهُمَّ أَعِزَّ الْإِسْلَامَ وَالْمُسْلِمِيْنَ، وَأَذِلَّ الشِّرْكَ وَالْمُشْرِكِيْنَ، وَانْصُرْ عِبَادَكَ الْمُوَحِّدِيْنَ، وَانْصُرْ مَنْ نَصَرَ الدِّيْنَ، وَاخْذُلْ مَنْ خَذَلَ الْمُسْلِمِيْنَ، وَدَمِّرْ أَعْدَاءَ الدِّيْنِ، وَأَعْلِ كَلِمَاتِكَ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ.

اَللّٰهُمَّ يَا مُنْـزِلَ الْكِتَابِ وَهَازِمَ الْأَحْزَابِ، اِهْزِمِ الْيَهُوْدَ وَأَعْوَانَهُمْ، وَالصَّلِيْبِيِّيْنَ وَأَنْصَارَهُمْ، وَالرَّأْسُمَالِيِّيْنَ وَإِخْوَانَهُمْ، وَالْاِشْتِرَاكِيِّيْنَ وَالشُّيُوْعِيِّيْنَ وَأَشْيَاعَهُمْ. اَللّٰهُمَّ نَجِّ إِخْوَانَنَا الْمُؤْمِنِيْنَ الْمُسْتَضْعَفِيْنَ فِي فَلَسْطِيْنَ وَفِي كُلِّ مَكَانٍ. اَللّٰهُمَّ انْصُرْ إخْوَانَنَا الْمُجَاهِدِيْنَ فِي سَبِيْلِكَ عَلَى أَعْدَائِهِمْ.

اَللّٰهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ دَوْلَةَ الْخِلاَفَةِ عَلَى مِنْهَاجِ النُّبُوَّةِ تُعِزُّ بِهَا الْإِسْلَامَ وَاَهْلَهُ وَتُذِلُّ بِهَا الْكُفْرَ وَاَهْلَهُ، وَاجْعَلْنَا مِنَ الْعَامِلِيْنَ الْمُخْلِصِيْنَ لِإِقَامَتِهَا بِإِذْنِكَ يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ.

اللّٰهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا الْغَلَاءَ وَالْبَلاَءَ وَالْوَبَاءَ وَالزَّلَازِلَ وَالْمِحَنَ، وَسُوْءَ الْفِتَنِ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ، عَنْ بَلَدِنَا إِنْدُوْنِيْسِيَا خَاصَّةً وَسَائِرِ بُلْدَانِ الْمُسْلِمِيْنَ عَامَّةً يَا رَبَّ الْعَالَمِيْنَ. رَبَّنَا آتِنَا فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِى الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ. رَبَّنَا ظَلَمْنَا اَنْفُسَنَا وَإنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُوْنَنَّ مِنَ الْخَاسِرِيْنَ.

عِبَادَ اللهِ! إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيْتآءِ ذِي الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشآءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ، وَاذْكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ، وَاسْأَلُوْهُ مِنْ فَضْلِهِ يُعْطِكُمْ، وَاشْكُرُوْهُ عَلَى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ، وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرْ.

Bahasa Daerah

Naskah Khutbah untuk bahasa lain di Indonesia
MERAWAT KETAKWAAN PASCA RAMADHAN

MERAWAT KETAKWAAN PASCA RAMADHAN

MERAWAT KETAKWAAN PASCA RAMADHAN

MERAWAT KETAKWAAN

PASCA RAMADHAN

 

KHUTBAH PERTAMA

 

إِنَّ الْحَمْدَ لِلّٰهِ، نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَسَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، شَهَادَةً تُنْجِيْ قَائِلَهَا مِنَ النَّارِ. وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الْمُتَّصِفُ بِالْمَكَارِمِ كَبِيْرًا وَصَبِيًّا.

اللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ النَّبِيِّ الْأُمِّيِّ، الصَّادِقِ الْأَمِيْنِ، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ الَّذِيْنَ حَسُنَ إِسْلَامُهُمْ. أَمَّا بَعْدُ؛ فَيَا أَيُّهَا الْحَاضِرُوْنَ رَحِمَكُمُ اللهُ، أُوْصِيْ نَفْسِيْ وَإِيَّاكُمْ بِتَقْوَى اللهِ، فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ. قَالَ اللهُ تَعَالَى:

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا اتَّقُوا اللّٰهَ حَقَّ تُقٰىتِهٖ وَلَا تَمُوْتُنَّ اِلَّا وَاَنْتُمْ مُّسْلِمُوْنَ ۝١٠٢ (آلِ عِمْرَانَ) 

 

Ma’âsyiral Muslimîn rahimakumullâh,

Alhamdulillah, kita masih dipertemukan oleh Allah di hari mulia, hari Jumat. Di tempat yang dimuliakan, masjid. Bersama orang-orang yang insya Allah dimuliakan, orang-orang bertakwa. Shalawat serta salam semoga senantiasa tercurah kepada junjungan alam Nabi Besar Muhammad Shallallâhu ‘alaihi wasallam.

Ma’âsyiral Muslimîn rahimakumullâh,

Pertama dan paling utama, mari tingkatkan takwa kita kepada Allah. Taati perintah-Nya dan jauhi larangan-Nya. Pesan Nabi Shallallâhu ‘alaihi wasallam;

اِتَّقِ اللهَ حَيْثُمَا كُنْتَ، وَأَتْبِعِ السَّيِّئَةَ الْحَسَنَةَ تَمْحُهَا، وَخَالِقِ النَّاسَ بِخُلُقٍ حَسَنٍ

“Bertakwalah kepada Allah di mana pun engkau berada. Iringilah perbuatan buruk dengan perbuatan baik, niscaya kebaikan itu akan menghapus (kesalahan)nya. Dan bergaullah dengan manusia dengan akhlak yang baik.” (HR. Tirmidzi).

 

Ma’âsyiral Muslimîn rahimakumullâh,

Ramadhan telah berlalu. Berbagai kenikmatan dan keutamaan yang Allah hamparkan sepanjang bulan itu kini sudah terhenti. Saatnya kita membuktikan, apakah kita sukses menjalani Ramadhan atau justru kita tak ada bedanya dengan sebelum-sebelumnya?

Setidaknya ada tiga kelompok manusia, pasca Ramadhan. Kelompok pertama, adalah  Muslim yang sebelum dan sesudah Ramadhan sama saja. Sama-sama mengabaikan ketaatan kepada Allah Subhanahu wata’ala. Inilah yang disebut oleh Allah Subhanahu wata’ala sebagai kelompok binatang ternak:

وَلَقَدْ ذَرَأْنَا لِجَهَنَّمَ كَثِيْرًا مِّنَ الْجِنِّ وَالْاِنْسِۖ لَهُمْ قُلُوْبٌ لَّا يَفْقَهُوْنَ بِهَاۖ وَلَهُمْ اَعْيُنٌ لَّا يُبْصِرُوْنَ بِهَاۖ وَلَهُمْ اٰذَانٌ لَّا يَسْمَعُوْنَ بِهَاۗ اُولٰۤىِٕكَ كَالْاَنْعَامِ بَلْ هُمْ اَضَلُّۗ اُولٰۤىِٕكَ هُمُ الْغٰفِلُوْنَ

“Sungguh, Kami benar-benar telah menyediakan untuk Neraka Jahanam kebanyakan makhluk dari kalangan jin dan manusia  (karena kesesatan mereka). Mereka memiliki hati yang tidak mereka gunakan untuk memahami (ayat-ayat Allah). Mereka memiliki mata yang tidak mereka gunakan untuk melihat (ayat-ayat Allah). Mereka pun memiliki telinga yang tidak mereka gunakan untuk mendengarkan (ayat-ayat Allah). Mereka itu seperti hewan ternak, bahkan lebih sesat lagi. Mereka itulah orang-orang yang lengah.” (QS. al-A’râf [7]: 179).


Ma’âsyiral Muslimîn rahimakumullâh,

Kelompok kedua, Muslim yang sebelum Ramadhan jauh dari Allah Subhanahu wata’ala, tapi ketika Ramadhan mereka bersungguh-sungguh mengerjakan ibadah (shaum, tadarrus dan tarawih sepanjang Ramadhan). Namun setelah Ramadhan, rangkaian amal shalih itu kembali menghilang. Ulama salafus-shalih menyebut kelompok ini sebagai “Hamba Ramadhan”. Mereka baru mau mendekati Allah hanya pada bulan Ramadhan saja. Imam Ibnu Rajab al-Hanbali rahimahulLaah berkata;

بِئْسَ القَوْمُ لَا يَعْرِفُوْنَ اللَّهَ إِلَّا فِي رَمَضَانَ، إِنَّ الصَّالِحَ الَّذِي يَتَعَبَّدُ وَيَجْتَهِدُ السَّنَةَ كُلَّهَا

“Seburuk-buruk kaum adalah yang tidak mengenal hak Allah, kecuali hanya pada  bulan Ramadhan saja. Sungguh seorang yang benar-benar shalih itu adalah orang yang istiqamah beribadah dan bersungguh-sungguh (taat kepada Allah SWT) sepanjang tahun.” (Ibnu Rajab, Lathaa'if al-Ma'aarif, hlm. 222).

 

Ma’âsyiral Muslimîn rahimakumullâh,

Kelompok ketiga, adalah Muslim yang sebelum Ramadhan memang sudah dekat dengan Allah Subhanahu wata’ala. Mereka taat menjalankan aturan Allah. Saat Ramadhan ketaatan mereka semakin bertambah. Usai Ramadhan pun mereka tetap bekerja keras menjaga ketaatan tersebut. Inilah golongan yang beruntung.

 

Ma’âsyiral Muslimîn rahimakumullâh,

Seorang Muslim yang bertahan dalam ketakwaan usai Ramadhan menunjukkan bahwa amal-amal ibadahnya selama bulan Ramadhan diterima. Sebaliknya, jika ketakwaan ikut pudar bersama berakhirnya Ramadhan, itu tanda amal-amalnya selama bulan Ramadhan tertolak. Setidaknya, itulah yang dinyatakan oleh Imam Ibnu Rajab al-Hanbali, “Kembali berpuasa (yakni puasa sunnah pada Bulan Syawal) setelah menunaikan puasa Ramadhan adalah salah satu tanda amalan puasa Ramadhan itu diterima oleh Allah Subhanahu wata’ala. Sebabnya, jika Allah menerima amalan seorang hamba, Allah akan memberi dia taufik untuk melakukan amalan shalih selanjutnya setelah itu. Sebagaimana dikatakan oleh sebagian ulama;

ثَوَابُ الْحَسَنَةِ الْحَسَنَةُ بَعْدَهَا، فَمَنْ عَمِلَ حَسَنَةً ثُمَّ أَتْبَعَهَا بَعْدَهَا بِحَسَنَةٍ، كَانَ ذٰلِكَ عَلَامَةً عَلَى قَبُولِ الْحَسَنَةِ الْأُولَى، كَمَا أَنَّ مَنْ عَمِلَ حَسَنَةً ثُمَّ أَتْبَعَهَا بِسَيِّئَةٍ، كَانَ ذٰلِكَ عَلَامَةَ رَدِّ الْحَسَنَةِ وَعَدَمِ قَبُولِهَا

“‘Imbalan (pahala) atas kebaikan adalah kebaikan selanjutnya.’ Oleh karena itu, siapa saja yang melakukan kebaikan, lalu dia ikuti dengan kebaikan selanjutnya, maka itu tanda amalan kebaikan sebelumnya diterima oleh Allah Subhanahu wata’ala. Sebaliknya, siapa saja yang melakukan kebaikan, lalu setelahnya malah dia ikuti dengan kejelekan, maka itu tanda kebaikan tersebut tertolak dan tidak diterima oleh Allah.” (Ibnu Rajab, Lathaa-if al-Ma’aarif, hlm. 388).

 

Ma’âsyiral Muslimîn rahimakumullâh,

Oleh karena itu, mari kita rawat ketakwaan, buah Ramadhan kita. Caranya;

Pertama, jadikan ridha Allah sebagai tujuan tertinggi dalam hidup ini. Ingat pesan Nabi Shallallâhu ‘alaihi wasallam:

مَنِ الْتَمَسَ رِضَاءَ اللَّهِ بِسَخَطِ النَّاسِ كَفَاهُ اللَّهُ مُؤْنَةَ النَّاسِ وَمَنِ الْتَمَسَ رِضَاءَ النَّاسِ بِسَخَطِ اللَّهِ وَكَلَهُ اللَّهُ إِلَى النَّاسِ

“Siapa saja yang mencari ridha Allah meski dia harus dimurkai oleh manusia, maka Allah akan menjaga dirinya dari gangguan manusia. Siapa saja yang mencari ridha manusia, tetapi dengan membuat Allah murka, maka Allah akan menyerahkan dirinya kepada manusia.” (HR. at-Tirmidzi dan Ibnu Hibban).

Kedua, takutlah kepada Allah Subhanahu wata’ala agar terjaga dari perbuatan maksiat.

Ketiga, terima Islam secara kaaffah dan tidak memilah-milah aturan Allah Subhanahu wata’ala. Ibadah yang khusyu’ serta berjuang demi tegaknya Islam di seluruh aspek kehidupan.

Keempat, jangan menunda-nunda pengerjaan amal shalih, terutama amal-amal yang wajib.

Kelima, berikan al-walaa’ (loyalitas) hanya kepada Allah dan Rasul-Nya, serta al-baraa’ (berlepas diri) dari orang-orang kafir.

Keenam, bersabarlah dalam ketaatan. Sesungguhnya menjadi hamba Allah yang bertakwa akan menghadapi berbagai ujian. Ingat pesan Nabi Shallallâhu ‘alaihi wasallam:

يَأْتِي عَلَى النَّاسِ زَمَانٌ القَابِضُ عَلَى دِيْنِهِ كَالْقَابِضِ عَلَى الْجَمْر

“Akan datang kepada manusia suatu zaman saat orang yang berpegang teguh pada agamanya seperti orang yang menggenggam bara api.” (HR. at-Tirmidzi).

Semoga kita semua menjadi hamba yang bertakwa, meski Ramadhan telah tiada. Aamiin.

Demikianlah yang dapat saya. Sebagai penutup, mari kita akhiri khutbah ini dengan berdoa bersama. Semoga kita semua senantiasa dianugerahi kesehatan lahir dan batin, serta keberkahan dunia dan akhirat. Semoga Allah memberi kita hidayah, inayah, dan kekuatan, sehingga kita dapat menjadi bagian dari para dai yang selalu bersungguh-sungguh menegakkan syariat Islam secara kaffah, meneladani Nabi Muhammad Shallallâhu Alaihi Wasallam hingga akhir hayat dalam keadaan husnul khâtimah. Âmîn yâ Rabbal-âlamîn.[]

 

بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِى الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الْآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ، وَتَقَبَّلَ مِنَّا وَمِنْكُمْ تِلَاوَتَهُ وَإِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا، وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ

 

 

KHUTBAH KEDUA

 

اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ عَلَى إِحْسَانِهِ، وَالشُّكْرُ لَهُ عَلَى تَوْفِيْقِهِ وَامْتِنَانِهِ. وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الدَّاعِى إِلَى رِضْوَانِهِ. اللّٰهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَسَلِّمْ تَسْلِيْمًا كَثِيْرًا.

أَمَّا بَعْدُ؛ فَياَ أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا اللّٰهَ فِيْمَا أَمَرَ وَانْتَهُوْا عَمَّا نَهَى، وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ بَدَأَ فِيْهِ بِنَفْسِهِ وَثَنَّى بِمَلَائِكَتِهِ الْمُسَبِّحَةِ بِقُدْسِهِ، وَقَالَ تَعاَلَى: إِنَّ اللهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا.

اللّٰهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِناَ مُحَمَّدٍ، وَعَلَى أَنْبِيَائِكَ وَرُسُلِكَ وَمَلَائِكَتِكَ الْمُقَرَّبِيْنَ، وَارْضَ اللّٰهُمَّ عَنِ الْخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ، أَبِى بَكْرٍ وَعُمَرَ وَعُثْمَانَ وَعَلِيٍّ، وَعَنْ بَقِيَّةِ الصَّحَابَةِ وَالتَّابِعِيْنَ، وَالتَّابِعِيْنَ لَهُمْ بِإِحْسَانٍ اِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ، وَارْضَ عَنَّا مَعَهُمْ بِرَحْمَتِكَ يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ.

اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ وَالْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ. اللّٰهُمَّ أَعِزَّ الْإِسْلَامَ وَالْمُسْلِمِيْنَ، وَأَذِلَّ الشِّرْكَ وَالْمُشْرِكِيْنَ، وَانْصُرْ عِبَادَكَ الْمُوَحِّدِيْنَ، وَانْصُرْ مَنْ نَصَرَ الدِّيْنَ، وَاخْذُلْ مَنْ خَذَلَ الْمُسْلِمِيْنَ، وَدَمِّرْ أَعْدَاءَ الدِّيْنِ، وَأَعْلِ كَلِمَاتِكَ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ.

اَللّٰهُمَّ يَا مُنْـزِلَ الْكِتَابِ وَهَازِمَ الْأَحْزَابِ، اِهْزِمِ الْيَهُوْدَ وَأَعْوَانَهُمْ، وَالصَّلِيْبِيِّيْنَ وَأَنْصَارَهُمْ، وَالرَّأْسُمَالِيِّيْنَ وَإِخْوَانَهُمْ، وَالْاِشْتِرَاكِيِّيْنَ وَالشُّيُوْعِيِّيْنَ وَأَشْيَاعَهُمْ. اَللّٰهُمَّ نَجِّ إِخْوَانَنَا الْمُؤْمِنِيْنَ الْمُسْتَضْعَفِيْنَ فِي فَلَسْطِيْنَ وَفِي كُلِّ مَكَانٍ. اَللّٰهُمَّ انْصُرْ إخْوَانَنَا الْمُجَاهِدِيْنَ فِي سَبِيْلِكَ عَلَى أَعْدَائِهِمْ.

اَللّٰهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ دَوْلَةَ الْخِلاَفَةِ عَلَى مِنْهَاجِ النُّبُوَّةِ تُعِزُّ بِهَا الْإِسْلَامَ وَاَهْلَهُ وَتُذِلُّ بِهَا الْكُفْرَ وَاَهْلَهُ، وَاجْعَلْنَا مِنَ الْعَامِلِيْنَ الْمُخْلِصِيْنَ لِإِقَامَتِهَا بِإِذْنِكَ يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ.

اللّٰهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا الْغَلَاءَ وَالْبَلاَءَ وَالْوَبَاءَ وَالزَّلَازِلَ وَالْمِحَنَ، وَسُوْءَ الْفِتَنِ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ، عَنْ بَلَدِنَا إِنْدُوْنِيْسِيَا خَاصَّةً وَسَائِرِ بُلْدَانِ الْمُسْلِمِيْنَ عَامَّةً يَا رَبَّ الْعَالَمِيْنَ. رَبَّنَا آتِنَا فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِى الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ. رَبَّنَا ظَلَمْنَا اَنْفُسَنَا وَإنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُوْنَنَّ مِنَ الْخَاسِرِيْنَ.

عِبَادَ اللهِ! إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيْتآءِ ذِي الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشآءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ، وَاذْكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ، وَاسْأَلُوْهُ مِنْ فَضْلِهِ يُعْطِكُمْ، وَاشْكُرُوْهُ عَلَى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ، وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرْ.

Bahasa Daerah

Naskah Khutbah untuk bahasa lain di Indonesia
MEWUJUDKAN IZZUL ISLAM WAL MUSLIMIN

MEWUJUDKAN IZZUL ISLAM WAL MUSLIMIN

MEWUJUDKAN IZZUL ISLAM WAL MUSLIMIN

MEWUJUDKAN IZZUL ISLAM WAL MUSLIMIN

 

KHUTBAH PERTAMA

إِنَّ الْحَمْدَ لِلّٰهِ، نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَسَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، شَهَادَةً تُنْجِيْ قَائِلَهَا مِنَ النَّارِ. وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الْمُتَّصِفُ بِالْمَكَارِمِ كَبِيْرًا وَصَبِيًّا.

اللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ النَّبِيِّ الْأُمِّيِّ، الصَّادِقِ الْأَمِيْنِ، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ الَّذِيْنَ حَسُنَ إِسْلَامُهُمْ. أَمَّا بَعْدُ؛ فَيَا أَيُّهَا الْحَاضِرُوْنَ رَحِمَكُمُ اللهُ، أُوْصِيْ نَفْسِيْ وَإِيَّاكُمْ بِتَقْوَى اللهِ، فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ. قَالَ اللهُ تَعَالَى:

اِنَّمَا الْمُؤْمِنُوْنَ اِخْوَةٌ فَاَصْلِحُوْا بَيْنَ اَخَوَيْكُمْ وَاتَّقُوا اللّٰهَ لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُوْنَ ۝١٠ (اَلْحُجُرَاتُ) 

Ma’âsyiral Muslimîn rahimakumullâh,

Alhamdulillah, kita masih dipertemukan oleh Allah di hari mulia, hari Jumat. Di tempat yang dimuliakan, masjid. Bersama orang-orang yang insya Allah dimuliakan, orang-orang bertakwa. Shalawat serta salam semoga senantiasa tercurah kepada junjungan alam Nabi Besar Muhammad Shallallâhu ‘alaihi wasallam.

 

Ma’âsyiral Muslimîn rahimakumullâh,

Pertama dan paling utama, mari tingkatkan takwa kita kepada Allah. Taati perintah-Nya dan jauhi larangan-Nya. Ingatlah, ketakwaan menentukan derajat dan kedudukan kita di hadapan Allah, sebagaimana firman-Nya;

اِنَّ اَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللّٰهِ اَتْقٰىكُمْ

“Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah adalah orang yang paling bertakwa” (QS. Al-Hujurât [49]: 13).

Allah juga berfirman:

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا اتَّقُوا اللّٰهَ حَقَّ تُقٰىتِهٖ وَلَا تَمُوْتُنَّ اِلَّا وَاَنْتُمْ مُّسْلِمُوْنَ

“Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dengan sebenar-benar takwa kepada-Nya dan janganlah kamu mati kecuali dalam keadaan muslim.” (QS. Âli Imrân [3]: 102).

Sungguh takwa adalah benteng terakhir kita di tengah kehidupan akhir zaman saat ini. Dan sungguh, hanya dengan takwa kita akan selamat di dunia dan akhirat.

 

Ma’âsyiral Muslimîn rahimakumullâh,

Kondisi dunia Islam hari ini tidak sedang baik-baik saja. Tengoklah betapa banyak kaum Muslim di dunia saat ini. Jumlahnya hampir dua miliar manusia. Tapi pertanyaannya, mengapa banyak kaum Muslim di berbagai belahan dunia tertindas? Warga Gaza berjuang sendirian dan terus dijajah oleh Zionis Yahudi laknatullah dan didukung oleh negara kafir penjajah. Darah kaum Muslim terus tertumpah di Myanmar, Xinjiang, Kashmir hingga Sudan. Iran dibombardir oleh Amerika Serikat dan Zionis Yahudi yang haus darah.

Pernahkah kita merenungkan sejenak: mengapa dunia Islam seperti ini? Jawabnya adalah karena umat Islam saat ini tercerai-berai. Terpecah-belah. Terpisah-pisah. Oleh batas-batas semu yang sengaja dibuat oleh bangsa-bangsa kafir penjajah. Kita dipisahkan oleh negara-bangsa (nation-state) dan nasionalisme sempit, yang sengaja diciptakan oleh negara-negara kafir imperialis yang licik. Akibatnya, ketika satu negeri Muslim diserang, negeri Muslim lainnya tidak mampu membela sebagai satu kekuatan. Padahal Allah Subhanahu wata’ala telah menegaskan:

اِنَّمَا الْمُؤْمِنُوْنَ اِخْوَةٌ 

”Sesungguhnya kaum Mukmin itu bersaudara” (QS. al-Hujurât [49]: 10).

Persaudaraan dalam Islam tentu bukan sekadar ada di kata-kata. Ia adalah ikatan akidah yang melampaui ras, bangsa dan batas negara.

 

Ma’âsyiral Muslimîn rahimakumullâh,

Mengapa semua ini terjadi? Ini bukan karena kita jumlahnya sedikit. Tidak sama sekali! Hanya saja, kita sungguh tak berdaya. Rasulullah Shallallâhu ‘alaihi wasallam telah memperingatkan keadaan ini jauh sebelumnya:

يُوْشِكُ الْأُمَمُ أَنْ تَدَاعَى عَلَيْكُمْ كَمَا تَدَاعَى الْأَكَلَةُ إِلَى قَصْعَتِهَا

“Hampir saja bangsa-bangsa mengeroyok kalian sebagaimana orang-orang yang lapar berebut hidangan makanan.” Para Sahabat bertanya, “Apakah karena saat itu kami berjumlah sedikit?” Beliau menjawab, “Tidak. Bahkan saat itu kalian berjumlah banyak. Akan tetapi, kalian seperti buih di lautan.” (HR. Abu Dawud).

Rasulullah SAW lalu menjelaskan akar penyebab ketidakberdayaan ini. Itulah penyakit “al-Wahn” yang telah lama menjangkiti umat ini. Al-Wahn memiliki arti:

حُبُّ الدُّنْيَا وَكَرَاهِيَةُ الْمَوْتِ

“Cinta dunia dan takut mati” (HR. Abu Dawud).

Ketika cinta dunia merasuk ke dalam jiwa, manusia mudah tunduk kepada sesama manusia. Ketika cinta dunia masuk ke dalam hati-sanubari, sebagian penguasa Muslim begitu mudah bersekutu dengan Amerika dan Zionis Yahudi. Padahal Allah Subhanahu wata’ala telah memperingatkan sejak dini:

 يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا لَا تَتَّخِذُوا الْيَهُوْدَ وَالنَّصٰرٰٓى اَوْلِيَاۤءَۘ

Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kamu menjadikan orang Yahudi dan Nasrani sebagai teman setia(-mu)” (QS. al-Mâidah [5]: 51).

Karena itu, kaum Muslim tentu tidak selayaknya menggantungkan harapan kepada lembaga-lembaga kafir internasional dan kekuatan Kapitalisme global. Termasuk kepada lembaga-lembaga ilegal, seperti Board of Peace (BoP) atau Dewan Perdamaian, yang jelas-jelas tak akan berlaku adil. Apalagi BoP ini dipimpin oleh Donald Trump, seorang penjahat internasional. Presiden dari sebuah negara imperialis global.

 

Ma’âsyiral Muslimîn rahimakumullâh,

Ingat, umat Islam pernah memiliki sejarah yang membanggakan. Saat itu kita memimpin dunia dengan penuh keadilan. Kapan itu? Saat kaum Muslim sedunia memiliki kepemimpinan global yang menyatukan. Itulah khilafah Islam. Tak ada negara musuh yang berani menyakiti umat ini. Saat itu, darah kaum Muslim terpelihara. Tanah dan harta mereka benar-benar terjaga. Kehormatan mereka pun tak ada yang berani menista.

Saat Khilafah masih berjaya, ia sanggup mengerahkan ribuan tentaranya. Hanya untuk membela kehormatan seorang Muslimah. Itu terjadi di era Khalifah al-Mu’tashim Billah. Saat itu Muslimah tersebut ditawan dan dilecehkan oleh tentara Romawi di Amuriyah. Berita itu pun sampai ke telinga sang Khalifah. Tanpa basa-basi, juga tanpa diplomasi, Khalifah al-Mu’tashim Billah segera mengerahkan pasukan dalam jumlah besar untuk menyerbu Amuriyah. Akhirnya, Muslimah itu berhasil dibebaskan. Bahkan wilayah yang dikuasai Romawi itu pun sekaligus berhasil ditaklukkan. Tak kurang dari 30 ribu pasukan Romawi tewas bergelimpangan. Sebanyak 30 ribu lainnya berhasil ditawan.(Ath-Thabari, Taariikh al-Umam wa al-Muluuk, 8/631–634; Ibnu Katsir, Al-Bidaayah wa an-Nihaayah, 10/325).

Pertanyaannya, adakah pemimpin yang seperti itu sekarang? Sudah berapa kaum Muslim yang syahid? Lihatlah, saat ada genosida di Gaza, para pemimpin dunia Islam hanya menonton dan menghitung jumlah korban. Diam seribu bahasa. Tanpa merasa berdosa.

 

Ma’âsyiral Muslimîn rahimakumullâh,

Itulah mengapa, kaum Muslim seluruh dunia harus bersatu, jika ingin kembali berjaya. Umat ini akan kuat jika kita kembali pada ajaran Islam secara sempurna. Yakni, menerapkan al-Quran sebagai pedoman hidup di segala arena dan menjadikan Sunnah Nabi dijadikan petunjuk jalan kehidupan dunia.

Sesungguhnya inilah yang Allah Subhanahu wata’ala kehendaki. Sebagaimana yang telah dinyatakan dalam Kitab Suci:

وَاعْتَصِمُوْا بِحَبْلِ اللَّهِ جَمِيْعًا وَلَا تَفَرَّقُوْا

"Berpeganglah kalian semua pada tali (agama) Allah dan jangan bercerai-berai” (QS. Âli ’Imrân [3]: 103).

Tanpa persatuan dan kepemimpinan yang satu secara global, umat Islam hanyalah kumpulan manusia yang lemah dan tak berdaya. Apalagi jika harus berhadapan dengan kekuatan adidaya Amerika. Tanpa kepemimpinan Islam level dunia, potensi kekuatan besar umat Islam yang luar biasa tak akan pernah bisa berubah menjadi kekuatan adidaya.

Selain itu, yang patuh disadari, khilafah adalah tuntutan dan kewajiban umat Islam sedunia. Rasulullah Shallallâhu ‘alaihi wasallam telah sangat jelas bersabda:

مَنْ مَاتَ وَلَيْسَ فِي عُنُقِهِ بَيْعَةٌ مَاتَ مِيْتَةً جَاهِلِيَّةً

”Siapa saja yang mati, sedangkan di lehernya tidak ada baiat (kepada seorang khalifah), maka ia mati seperti mati jahiliyah” (HR. Muslim).

Tentu kita tak mau mati seperti itu. Maka, mengembalikan kepemimpinan umat ada jalan yang harus kita lalui. Tinggalkan perbedaan. Sungguh banyak persamaan yang bisa kita satukan, demi izzul Islam wal muslimin. Semoga Allah mengabulkan. Aamiin.

Demikianlah yang dapat saya. Sebagai penutup, mari kita akhiri khutbah ini dengan berdoa bersama. Semoga kita semua senantiasa dianugerahi kesehatan lahir dan batin, serta keberkahan dunia dan akhirat. Semoga Allah memberi kita hidayah, inayah, dan kekuatan, sehingga kita dapat menjadi bagian dari para dai yang selalu bersungguh-sungguh menegakkan syariat Islam secara kaffah, meneladani Nabi Muhammad Shallallâhu Alaihi Wasallam hingga akhir hayat dalam keadaan husnul khâtimah. Âmîn yâ Rabbal-âlamîn.[]

بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِى الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الْآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ، وَتَقَبَّلَ مِنَّا وَمِنْكُمْ تِلَاوَتَهُ وَإِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا، وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ

 

KHUTBAH KEDUA

اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ عَلَى إِحْسَانِهِ، وَالشُّكْرُ لَهُ عَلَى تَوْفِيْقِهِ وَامْتِنَانِهِ. وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الدَّاعِى إِلَى رِضْوَانِهِ. اللّٰهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَسَلِّمْ تَسْلِيْمًا كَثِيْرًا.

أَمَّا بَعْدُ؛ فَياَ أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا اللّٰهَ فِيْمَا أَمَرَ وَانْتَهُوْا عَمَّا نَهَى، وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ بَدَأَ فِيْهِ بِنَفْسِهِ وَثَنَّى بِمَلَائِكَتِهِ الْمُسَبِّحَةِ بِقُدْسِهِ، وَقَالَ تَعاَلَى: إِنَّ اللهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا.

اللّٰهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِناَ مُحَمَّدٍ، وَعَلَى أَنْبِيَائِكَ وَرُسُلِكَ وَمَلَائِكَتِكَ الْمُقَرَّبِيْنَ، وَارْضَ اللّٰهُمَّ عَنِ الْخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ، أَبِى بَكْرٍ وَعُمَرَ وَعُثْمَانَ وَعَلِيٍّ، وَعَنْ بَقِيَّةِ الصَّحَابَةِ وَالتَّابِعِيْنَ، وَالتَّابِعِيْنَ لَهُمْ بِإِحْسَانٍ اِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ، وَارْضَ عَنَّا مَعَهُمْ بِرَحْمَتِكَ يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ.

اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ وَالْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ. اللّٰهُمَّ أَعِزَّ الْإِسْلَامَ وَالْمُسْلِمِيْنَ، وَأَذِلَّ الشِّرْكَ وَالْمُشْرِكِيْنَ، وَانْصُرْ عِبَادَكَ الْمُوَحِّدِيْنَ، وَانْصُرْ مَنْ نَصَرَ الدِّيْنَ، وَاخْذُلْ مَنْ خَذَلَ الْمُسْلِمِيْنَ، وَدَمِّرْ أَعْدَاءَ الدِّيْنِ، وَأَعْلِ كَلِمَاتِكَ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ.

اَللّٰهُمَّ يَا مُنْـزِلَ الْكِتَابِ وَهَازِمَ الْأَحْزَابِ، اِهْزِمِ الْيَهُوْدَ وَأَعْوَانَهُمْ، وَالصَّلِيْبِيِّيْنَ وَأَنْصَارَهُمْ، وَالرَّأْسُمَالِيِّيْنَ وَإِخْوَانَهُمْ، وَالْاِشْتِرَاكِيِّيْنَ وَالشُّيُوْعِيِّيْنَ وَأَشْيَاعَهُمْ. اَللّٰهُمَّ نَجِّ إِخْوَانَنَا الْمُؤْمِنِيْنَ الْمُسْتَضْعَفِيْنَ فِي فَلَسْطِيْنَ وَفِي كُلِّ مَكَانٍ. اَللّٰهُمَّ انْصُرْ إخْوَانَنَا الْمُجَاهِدِيْنَ فِي سَبِيْلِكَ عَلَى أَعْدَائِهِمْ.

اَللّٰهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ دَوْلَةَ الْخِلاَفَةِ عَلَى مِنْهَاجِ النُّبُوَّةِ تُعِزُّ بِهَا الْإِسْلَامَ وَاَهْلَهُ وَتُذِلُّ بِهَا الْكُفْرَ وَاَهْلَهُ، وَاجْعَلْنَا مِنَ الْعَامِلِيْنَ الْمُخْلِصِيْنَ لِإِقَامَتِهَا بِإِذْنِكَ يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ.

اللّٰهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا الْغَلَاءَ وَالْبَلاَءَ وَالْوَبَاءَ وَالزَّلَازِلَ وَالْمِحَنَ، وَسُوْءَ الْفِتَنِ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ، عَنْ بَلَدِنَا إِنْدُوْنِيْسِيَا خَاصَّةً وَسَائِرِ بُلْدَانِ الْمُسْلِمِيْنَ عَامَّةً يَا رَبَّ الْعَالَمِيْنَ. رَبَّنَا آتِنَا فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِى الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ. رَبَّنَا ظَلَمْنَا اَنْفُسَنَا وَإنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُوْنَنَّ مِنَ الْخَاسِرِيْنَ.

عِبَادَ اللهِ! إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيْتآءِ ذِي الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشآءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ، وَاذْكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ، وَاسْأَلُوْهُ مِنْ فَضْلِهِ يُعْطِكُمْ، وَاشْكُرُوْهُ عَلَى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ، وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرْ.

Bahasa Daerah

Naskah Khutbah untuk bahasa lain di Indonesia
IDUL FITRI: MOMENTUM UNTUK MEWUJUDKAN KETAKWAAN DAN PERSATUAN HAKIKI DI BAWAH KEPEMIMPINAN ISLAM

IDUL FITRI: MOMENTUM UNTUK MEWUJUDKAN KETAKWAAN DAN PERSATUAN HAKIKI DI BAWAH KEPEMIMPINAN ISLAM

IDUL FITRI: MOMENTUM UNTUK MEWUJUDKAN KETAKWAAN DAN PERSATUAN HAKIKI DI BAWAH KEPEMIMPINAN ISLAM

IDUL FITRI:

MOMENTUM UNTUK MEWUJUDKAN KETAKWAAN DAN PERSATUAN HAKIKI

DI BAWAH KEPEMIMPINAN ISLAM

 

KHUTBAH PERTAMA

 

اَلسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ

اَللهُ أَكْبَرُ، اَللهُ أَكْبَرُ، اَللهُ أَكْبَرُ

اَللهُ أَكْبَرُ، اَللهُ أَكْبَرُ، اَللهُ أَكْبَرُ

اَللهُ أَكْبَرُ، اَللهُ أَكْبَرُ، اَللهُ أَكْبَرُ

 اَللهُ اَكْبَرُ كَبِيْرًا وَالْحَمْدُ ِللهِ كَثِيْرًا وَسُبْحَانَ اللهِ بُكْرَةً وَاَصِيْلاً، لاَ اِلَهَ اِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ، صَدَقَ وَعْدَهُ، وَنَصَرَ عَبْدَهُ، وَأَعَزَّ جُنْدَهُ، وَهَزَمَ اْلأَحْزَابَ وَحْدَهُ. لاَ اِلَهَ اِلاَّ اللهُ واللهُ اَكْبَرُ، اَللهُ اَكْبَرُ وَلِلَّهِ الْحَمْدُ.

الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِيْ خَلَقَ فَسَوَّى، وَقَدَّرَ فَهَدَى، وَجَعَلَ التَّقْوَى زَادًا لِمَنْ أَرَادَ النَّجَاةَ وَالْهُدَى. نَحْمَدُهُ حَمْدَ الشَّاكِرِيْنَ، وَنَسْتَغْفِرُهُ اسْتِغْفَارَ الْمُقَصِّرِيْنَ، وَنَسْتَعِيْنُهُ اسْتِعَانَةَ الْمُضْطَرِّيْنَ.

وَنَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ الْمَلِكُ الْحَقُّ الْمُبِيْنُ، الَّذِيْ جَعَلَ شَهْرَ رَمَضَانَ مِيْدَانًا لِتَزْكِيَةِ نُّفُوْسِ المُسْلِمِيْنَ، وَتَطْهِيْرِ قُلُوْبِهِمْ، وَتَقْوِيَةِ إِيْمَانِهِمْ وَطَاعَتِهِمْ، وَجَعَلَ يَوْمَ الْفِطْرِ يَوْمَ الْجَائِزَةِ لِلصَّائِمِيْنَ وَالْقَائِمِيْنَ. وَنَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الْأَمِيْنُ، أَرْسَلَهُ اللهُ رَحْمَةً لِلْعَالَمِيْنَ، وَهَادِيًا لِلْحَائِرِيْنَ، وَإِمَامًا لِلْمُتَّقِيْنَ.

اللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَيْهِ، وَعَلَى آلِهِ الطَّاهِرِيْنَ، وَأَصْحَابِهِ الْمُكْرَمِيْنَ، وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ.

أَمَّا بَعْدُ؛ فَيَا عِبَادَ اللهِ، أُوصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ، فَإِنَّ التَّقْوَى هِيَ زَادُ الْقُلُوْبِ، وَنُوْرُ الدُّرُوْبِ، وَمِفْتَاحُ الْخَيْرَاتِ، وَسَبَبُ الْبَرَكَاتِ. وقَالَ اللهُ تَعَالَى:

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا اتَّقُوا اللّٰهَ حَقَّ تُقٰىتِهٖ وَلَا تَمُوْتُنَّ اِلَّا وَاَنْتُمْ مُّسْلِمُوْنَ ۝١٠٢ آلِ عِمْرَانَ

اَللهُ أَكْبَرُ، اَللهُ أَكْبَرُ، اَللهُ أَكْبَرُ، وَلِلَّهِ الْحَمْدُ

Jama’ah Idul Fitri rahimakumulLaah,

Alhamdulillah. Segala pujian milik Allah. Tuhan semesta alam. Semoga shalawat dan salam, Allah curahkan kepada Baginda Rasulullah Muhammad SAW; kepada keluarganya yang mulia, kepada para Sahabatnya yang utama, serta kepada siapa saja dari umatnya, yang tetap setia menjadikan beliau sebagai teladan kehidupan paripurna.

Jama’ah Idul Fitri rahimakumulLaah,

Hari ini adalah hari yang penuh dengan cahaya kemenangan. Tentu bagi kaum beriman. Hari ini langit dipenuhi takbir, bumi dipenuhi syukur, dan hati dipenuhi harapan.

Ramadhan baru saja berlalu. Seperti tamu agung yang lama dirindu. Ia meninggalkan jejak haru dan syahdu. Ia datang membawa aneka pahala. Lalu pergi meninggalkan pesan takwa. Demikian sebagaimana firman Allah SWT:

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِيْنَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُوْنَۙ

”Wahai orang-orang yang beriman, telah diwajibkan atas kalian berpuasa, sebagaimana puasa itu telah diwajibkan atas orang-orang sebelum kalian, agar kalian bertakwa.” (QS. al-Baqarah [2]: 183).

اَللهُ أَكْبَرُ، اَللهُ أَكْبَرُ، اَللهُ أَكْبَرُ، وَلِلَّهِ الْحَمْدُ

Jama’ah Idul Fitri rahimakumulLaah,

Demikianlah. Ramadhan adalah madrasah besar pembentuk takwa. Takwa tentu memiliki sejumlah tanda. Para ulama telah menjelaskan hakikat dan ciri-cirinya. Di antaranya, sebagaimana yang dinukil dari Imam Ali bin Abi Thalib ra.:

التَّقْوَى هِيَ الْخَوْفُ مِنَ الْجَلِيْلِ، وَالْعَمَلُ بِالتَّنْزِيْلِ، وَالْقَنَاعَةُ بِالْقَلِيْلِ، وَالِاسْتِعْدَادُ لِيَوْمِ الرَّحِيْلِ

”Takwa adalah takut kepada Tuhan Yang Mahaagung; mengamalkan al-Quran; merasa cukup dengan yang sedikit; dan mempersiapkan bekal (amal-amal shalih) untuk menghadapi hari saat digiring dan dikumpulkan (Hari Penghisaban).”

Dengan demikian takwa bukan sekadar rasa takut. Takwa adalah cara hidup. Takwa adalah ketika hati kita senantiasa tunduk dan jiwa kita selalu taat. Takwa adalah saat kita lebih khawatir berbuat dosa. Daripada takut miskin atau kehilangan dunia.

Lebih dari itu, takwa adalah ketika hidup kita diatur hanya oleh al-Quran yang mulia. Bukan oleh hawa nafsu manusia. Al-Quran ini tentu wajib kita amalkan secara keseluruhannya. Bukan hanya sebagiannya saja. Demikian sebagaimana yang Allah nyatakan dalam firman-Nya:

اَفَتُؤْمِنُوْنَ بِبَعْضِ الْكِتٰبِ وَتَكْفُرُوْنَ بِبَعْضٍۚ فَمَا جَزَاۤءُ مَنْ يَّفْعَلُ ذٰلِكَ مِنْكُمْ اِلَّا خِزْيٌ فِى الْحَيٰوةِ الدُّنْيَاۚ وَيَوْمَ الْقِيٰمَةِ يُرَدُّوْنَ اِلٰٓى اَشَدِّ الْعَذَابِۗ وَمَا اللّٰهُ بِغَافِلٍ عَمَّا تَعْمَلُوْنَ

”Apakah kalian mengimani sebagian al-Kitab dan mengingkari sebagian yang lain? Tidak ada balasan bagi siapa saja yang berlaku demikian, kecuali kehinaan dalam kehidupan di dunia, sementara di akhirat dia dilemparkan ke dalam azab yang sangat menyiksa. Allah tidak lengah terhadap apa saja yang kalian kerjakan.” (QS. al-Baqarah [2]: 85).

Berdasarkan ayat ini, tak layak kita hanya mengamalkan kewajiban shalat, puasa dan ibadah-ibadah ritual lainnya. Lalu kita mencampakkan kewajiban untuk menerapkan hukum-hukum al-Quran dalam berbagai perkara lainnya; seperti politik/pemerintahan, ekonomi, pendidikan, sosial, hukum pidana. Demikian sebagaimana firman-Nya:

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا ادْخُلُوْا فِى السِّلْمِ كَاۤفَّةًۖ وَّلَا تَتَّبِعُوْا خُطُوٰتِ الشَّيْطٰنِۗ اِنَّهٗ لَكُمْ عَدُوٌّ مُّبِيْنٌ

”Hai orang-orang yang beriman, masuklah kalian ke dalam Islam secara keseluruhan, dan janganlah kalian mengikuti langkah-langkah setan. Sungguh setan itu adalah musuh yang nyata bagi kalian.” (QS. al-Baqarah [2]: 208).

اَللهُ أَكْبَرُ، اَللهُ أَكْبَرُ، اَللهُ أَكْبَرُ، وَلِلَّهِ الْحَمْدُ

Jama’ah Idul Fitri rahimakumulLaah,

Di tengah Idul Fitri yang sedang kita rayakan, sepatutnya kita melontarkan pertanyaan: Apakah takwa hanya urusan pribadi saja? Atau takwa cukup hanya tampak nyata dalam shalat, zakat, puasa dan ibadah ritual lainnya?

Al-Quran memberikan jawaban yang sangat lugas bagi yang punya akal. Takwa bukan hanya ibadah personal. Takwa juga harus hadir dalam kehidupan ekonomi, hukum, pemerintahan, pendidikan dan sosial. Allah SWT berfirman:

وَلَكُمْ فِى الْقِصَاصِ حَيٰوةٌ يّٰٓــاُولِى الْاَلْبَابِ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُوْنَ

”Dalam hukum qishaash itu ada kehidupan bagi kalian, wahai orang-orang berakal, agar kalian bertakwa.” (QS. al-Baqarah [2]: 179).

Ayat ini menunjukkan bahwa penegakan hukum-hukum Allah SWT, di antaranya qishaash, juga merupakan jalan menuju takwa. Artinya, takwa tidak hanya lahir dari ibadah puasa. Takwa juga muncul dari tegaknya syariah Allah dalam kehidupan secara paripurna. Takwa tidak boleh berhenti pada diri kita. Ia juga harus mewujud nyata dalam kehidupan bermasyarakat dan bernegara.

اَللهُ أَكْبَرُ، اَللهُ أَكْبَرُ، اَللهُ أَكْبَرُ، وَلِلَّهِ الْحَمْدُ

Jama’ah Idul Fitri rahimakumulLaah,

Takwa sejati pasti melahirkan kepedulian. Orang bertakwa tidak mungkin hidup tenang ketika saudaranya kelaparan. Orang bertakwa tidak mungkin hidup nyaman ketika saudaranya kesusahan atau mengalami penderitaan. Orang bertakwa tidak mungkin diam ketika menyaksikan ragam kezaliman. Inilah yang tersirat dalam al-Quran:

وَسَارِعُوْٓا اِلٰى مَغْفِرَةٍ مِّنْ رَّبِّكُمْ وَجَنَّةٍ عَرْضُهَا السَّمٰوٰتُ وَالْاَرْضُۙ اُعِدَّتْ لِلْمُتَّقِيْنَۙ ۝١٣٣

الَّذِيْنَ يُنْفِقُوْنَ فِى السَّرَّۤاءِ وَالضَّرَّۤاءِ وَالْكٰظِمِيْنَ الْغَيْظَ وَالْعَافِيْنَ عَنِ النَّاسِۗ وَاللّٰهُ يُحِبُّ الْمُحْسِنِيْنَۚ ۝١٣٤

”Bersegeralah kalian menuju ampunan Tuhan kalian, juga menuju surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan bagi kaum yang memiliki ketakwaan, yakni: mereka yang menginfakkan harta mereka dalam kelapangan maupun kesempitan; yang bisa menahan amarah dan mudah memaafkan orang lain. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebaikan.” (QS. Âli ’Imrân [3]: 133-134).

Ayat ini menunjukkan bahwa takwa selalu melahirkan kepedulian yang otentik. Bukan malah memunculkan sikap individualistik. Apalagi egoistik. Takwa harus menciptakan masyarakat yang penuh dengan kasih sayang dan sikap empatik. Rasulullah saw. bersabda:

مَثَلُ الْمُؤْمِنِيْنَ فِيْ تَوَادِّهِمْ وَتَرَاحُمِهِمْ وَتَعَاطُفِهِمْ مَثَلُ الْجَسَدِ الْوَاحِدِ، إِذَا اشْتَكَىٰ مِنْهُ عُضْوٌ تَدَاعَىٰ لَهُ سَائِرُ الْجَسَدِ بِالسَّهَرِ وَالْحُمَّى

”Perumpamaan kaum Mukmin dalam cinta, kasih-sayang dan empati mereka adalah seperti satu tubuh. Jika satu anggota tubuh sakit, seluruh tubuh ikut merasakan demam dan tidak bisa tidur.” (HR. al-Bukhari dan Muslim).

Rasulullah saw. bahkan bersabda:

وَلَأَنْ أَمْشِيَ مَعَ أَخٍ فِي حَاجَةٍ أَحَبُّ إِلَيَّ مِنْ أَنْ أَعْتَكِفَ فِي هَذَا الْمَسْجِدِ شَهْرًا

”Sungguh aku berjalan bersama saudaraku untuk memenuhi kebutuhannya lebih aku cintai daripada beritikaf di masjid ini (Masjid Nabawi) selama sebulan lamanya.” (HR. ath-Thabarani)

 

 

Bayangkan. Itikaf di Masjid Nabawi adalah ibadah yang sangat mulia. Satu rakaat shalat di dalamnya setara dengan 1000 rakaat shalat di masjid-masjid selainnya. Namun demikian, membantu saudara-saudara dalam memenuhi kebutuhan-kebutuhan mereka, adalah jauh lebih utama dan lebih besar nilainya.

Karena itu mari kita ringankan beban sesama Muslim. Ada yang lapar, kita beri makan. Ada yang terlilit utang, kita bantu meski dengan sedikit uang. Ada yang bersedih, kita hibur dan kita buat senang. Ingat, di dalam negeri pun, di Sumatra, misalnya, saudara-saudara kita yang sudah lebih dari tiga bulan lalu tinggal di tenda-tenda sangat darurat akibat rumah-rumah mereka hancur terkena bencana, hingga saat ini masih sangat membutuhkan uluran tangan kita. Bukankah membahagiakan sesama juga menjadi jalan takwa menuju surga dan ridha Allah SWT?

اَللهُ أَكْبَرُ، اَللهُ أَكْبَرُ، اَللهُ أَكْبَرُ، وَلِلَّهِ الْحَمْدُ

Jama’ah Idul Fitri rahimakumulLaah,

Idul Fitri sejatinya bukan sekadar hari perayaan. Ia juga sekaligus hari perenungan. Hari ketika kita menengok Dunia Islam yang luas. Hari saat hati kita seharusnya bertanya dengan nada cemas: Mengapa umat Islam yang jumlahnya hampir dua miliar masih banyak yang tertindas? Mengapa saudara-saudara kita di Gaza terus dibombardir dan terus mengalami kekerasan? Mengapa darah kaum Muslim terus tertumpah di Myanmar, Xinjiang, Kashmir hingga Sudan? Mengapa jeritan mereka seolah tidak mampu mengguncang dunia dan saudara seiman? Bahkan, di dalam negeri, mengapa duka Sumatra dan sejumlah wilayah lain akibat bencana belum bisa kita hapuskan?

Mengapa semua penderitaan umat ini terus terjadi? Padahal jumlah umat Islam sangat besar dan tersebar di berbagai negeri. Padahal negeri-negeri Muslim memiliki kekayaan alam yang melimpah di sana-sini. Padahal tentara mereka—jika digabungkan—berjumlah jutaan personel, yang tentunya siap untuk mati, demi meraih surga-Nya yang abadi?

Jawabannya adalah karena umat Islam saat ini tercerai-berai. Terpecah-belah. Terpisah-pisah. Oleh batas-batas semu yang sengaja dibuat oleh bangsa-bangsa kafir penjajah. Kita dipisahkan oleh negara-bangsa (nation-state) dan nasionalisme sempit, yang sengaja diciptakan oleh negara-negara kafir imperialis yang licik. Akibatnya, ketika satu negeri Muslim diserang, negeri Muslim lainnya tidak mampu membela sebagai satu kekuatan. Padahal Allah SWT telah menegaskan:

اِنَّمَا الْمُؤْمِنُوْنَ اِخْوَةٌ

”Sesungguhnya kaum Mukmin itu bersaudara” (QS. al-Hujurât [49]: 10).

Persaudaraan dalam Islam tentu bukan sekadar ada di kata-kata. Ia adalah ikatan akidah yang melampaui ras, bangsa dan batas negara.

اَللهُ أَكْبَرُ، اَللهُ أَكْبَرُ، اَللهُ أَكْبَرُ، وَلِلَّهِ الْحَمْدُ

Jama’ah Idul Fitri rahimakumulLaah,

Harus diakui bahwa dunia hari ini sedang menyaksikan berbagai tragedi kemanusiaan yang amat parah. Negeri-negeri Muslim diserang dari berbagai arah. Iran baru saja dibombardir oleh Amerika Serikat dan Zionis Yahudi yang haus darah. Penindasan di banyak tempat pun terus dilakukan oleh bangsa-bangsa kafir penjajah. Palestina hanyalah salah satunya. Genosida Gaza adalah puncaknya.

Gaza hancur-lebur. Ribuan Muslim di sana gugur. Ribuan lainnya terusir dan dibuat lapar. Menyusul Tepi Barat yang juga sudah lama diincar. Semua itu dilakukan oleh anjing-anjing Zionis Yahudi yang bengis dan amoral. Semua itu didukung penuh oleh Amerika Serikat sebagai gembong kriminal internasional. Ironisnya, semua kengerian yang menimpa umat Islam itu pun disaksikan langsung oleh para penguasa Muslim yang sudah lama kehilangan rasa malu dan legitimasi moral.

Mengapa semua ini terjadi? Apakah karena jumlah umat Islam sedikit dan tak berarti? Tidak sama sekali! Bahkan umat Islam hari ini amat banyak jumlahnya. Lebih dari dua miliar jiwa. Hanya saja, mereka sungguh tak berdaya. Rasulullah SAW telah memperingatkan keadaan ini jauh sebelumnya:

يُوْشِكُ الْأُمَمُ أَنْ تَدَاعَى عَلَيْكُمْ كَمَا تَدَاعَى الْأَكَلَةُ إِلَى قَصْعَتِهَا

“Hampir saja bangsa-bangsa mengeroyok kalian sebagaimana orang-orang yang lapar berebut hidangan makanan.” Para Sahabat bertanya, “Apakah karena saat itu kami berjumlah sedikit?” Beliau menjawab, “Tidak. Bahkan saat itu kalian berjumlah banyak. Akan tetapi, kalian seperti buih di lautan.” (HR. Abu Dawud).

Rasulullah SAW lalu menjelaskan akar penyebab ketidakberdayaan ini. Itulah penyakit “al-Wahn” yang telah lama menjangkiti umat ini. Al-Wahn memiliki arti:

حُبُّ الدُّنْيَا وَكَرَاهِيَةُ الْمَوْتِ

“Cinta dunia dan takut mati” (HR. Abu Dawud).

Ketika cinta dunia merasuk ke dalam jiwa, manusia mudah tunduk kepada sesama manusia. Ketika cinta dunia masuk ke dalam hati-sanubari, sebagian penguasa Muslim begitu mudah bersekutu dengan Amerika dan Zionis Yahudi. Padahal Allah SWT telah memperingatkan sejak dini:

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا لَا تَتَّخِذُوا الْيَهُوْدَ وَالنَّصٰرٰٓى اَوْلِيَاۤءَۘ

”Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kalian mengambil sebagai pemimpin kalian dari kalangan Yahudi dan Nasrani (QS. al-Mâidah [5]: 51).

Karena itu kaum Muslim tentu tidak selayaknya menggantungkan harapan kepada lembaga-lembaga kafir internasional dan kekuatan Kapitalisme global. Termasuk kepada lembaga-lembaga ilegal, seperti Board of Peace (BoP) atau Dewan Perdamaian, yang jelas-jelas tak akan berlaku adil. Apalagi BoP ini dipimpin oleh Donald Trump, seorang penjahat internasional. Presiden dari sebuah negara imperial. Itulah Amerika Serikat sebagai pengusung utama ideologi Kapitalisme global. Sejak tahun 1798-2022, Amerika Serikat telah melakukan 469 kali intervensi militer ke berbagai negara secara brutal. Baik dengan atau tanpa legitimasi internasional. Seperti menduduki dan menjajah Afganistan; menciptakan kekacauan di Libya, Somalia, Sudan, Yaman, Suriah, dll; serta menyerang dan menduduki Irak dengan tudingan palsu memiliki senjata pemusnal massal.

اَللهُ أَكْبَرُ، اَللهُ أَكْبَرُ، اَللهُ أَكْبَرُ، وَلِلَّهِ الْحَمْدُ

Jama’ah Idul Fitri rahimakumulLaah,

Karena itu Idul Fitri sesungguhnya bukan sekadar hari perayaan. Ia harus menjadi hari kesadaran. Hari ketika kita menyadari bahwa umat ini pernah memiliki sejarah yang membanggakan. Hari saat kita memahami bahwa umat ini pernah memimpin dunia dengan penuh keadilan. Hari manakala kita mengerti bahwa umat ini pernah menjadi pelindung bagi bangsa-bangsa yang tertindas dan menjadi korban kezaliman.

Dulu, saat umat Islam sedunia memiliki kepemimpinan global yang menyatukan, mereka menjadi umat yang disegani dan diperhitungkan. Tak mudah bagi musuh-musuh mereka untuk melecehkan dan menistakan. Sebabnya, kaum Muslim selama berabad-abad lamanya berada dalam naungan dan perlindungan Khilafah Islam.

Saat Khilafah masih ada, darah kaum Muslim terpelihara. Tanah dan harta mereka benar-benar terjaga. Kehormatan mereka pun tak ada yang berani menista.

Saat Khilafah masih berjaya, ia sanggup mengerahkan ribuan tentaranya. Hanya untuk membela kehormatan seorang Muslimah. Itu terjadi di era Khalifah al-Mu’tashim Billah. Saat itu Muslimah tersebut ditawan dan dilecehkan oleh tentara Romawi di Amuriyah. Berita itu pun sampai ke telinga sang Khalifah. Tanpa basa-basi, juga tanpa diplomasi, Khalifah al-Mu’tashim Billah segera mengerahkan pasukan dalam jumlah besar untuk menyerbu Amuriyah. Akhirnya, Muslimah itu berhasil dibebaskan. Bahkan wilayah yang dikuasai Romawi itu pun sekaligus berhasil ditaklukkan. Tak kurang dari 30 ribu pasukan Romawi tewas bergelimpangan. Sebanyak 30 ribu lainnya berhasil ditawan (Ath-Thabari, Taariikh al-Umam wa al-Muluuk, 8/631–634; Ibnu Katsir, Al-Bidaayah wa an-Nihaayah, 10/325).

Saat Khilafah masih berdiri, kaum Muslim begitu disegani dan ditakuti. Bahkan oleh Kerajaan Romawi. Pada masa Khalifah Harun ar-Rasyid, misalnya. Sang Khalifah dikenal sebagai penguasa Muslim yang sangat tegas dan berwibawa. Ketika Kaisar Romawi Timur (Bizantium) saat itu, Nikephoros I, mengirim surat yang bernada meremehkan dan menolak membayar upeti (jizyah), Khalifah Harun ar-Rasyid segera membalas dengan surat bernada keras dan penuh ancaman, “Dari Harun, Amirul Mukminin, kepada Nikephoros, Anjing Romawi! Aku telah membaca suratmu. Jawabannya adalah apa yang akan segera kamu lihat! Bukan apa yang akan kamu dengar.” Segera setelah itu, sang Khalifah mengerahkan ribuan pasukannya untuk menyerang Romawi. Akhirnya, Romawi pun kalah dan kembali tunduk pada kekuasaan Khilafah (Al-Khathib al-Baghdadi, Taariikh Baghdaad, 8/364; Ibnu Katsir, Al-Bidaayah wa an-Nihaayah, 10/184).

Pada era Khilafah pula kaum Muslim berhasil menaklukkan Konstantinopel. Simbol kedigdayaan Romawi Timur. Bahkan ia ditaklukkan hanya oleh seorang pemimpin muda yang amat belia, namun dipuji oleh Rasulullah SAW sebagai sebaik-baiknya ksatria. Demikian sebagaimana sabdanya:

فَلَنِعْمَ الْأَمِيْرُ أَمِيْرُهَا، وَلَنِعْمَ الْجَيْشُ ذَلِكَ الْجَيْشُ

“Sebaik-baik pemimpin adalah pemimpin (penaklukan Konstantinopel) dan sebaik-baik pasukan adalah pasukan tersebut.” (HR. Ahmad dan Al-Hakim).

Pada era Khilafah pula, pemimpin umat Islam senantiasa memimpin dengan keteguhan. Pada masa Sultan Abdul Hamid II, penguasa Khilafah Utsmaniyah, misalnya, Theodor Herzl, tokoh Zionis Yahudi, pernah mau menyuap sang Khalifah dengan uang yang sangat besar jumlahnya. Tentu agar Yahudi diberi hak atas tanah Palestina. Jawaban Khalifah sangat tegas dan penuh wibawa, “Aku tidak akan menyerahkan walau sejengkal tanah Palestina! Ia bukan milikku. Ia adalah milik umat Islam!” (Muhammad Harb, Abdul Hamid II, Akhir as-Salaathiin al-Utsmaaniyyiin al-Kibaar, hlm. 123–125).

Pada masa Khilafah Utsmaniyah pula, Prancis pernah diancam oleh Sultan Abdul Hamid II. Sang Sultan mengultimatum Prancis agar segera menghentikan rencana pementasan drama berjudul “Mahomet” karya Henri de Bornier di Prancis. Pasalnya, drama tersebut menghina kemuliaan Baginda Nabi saw. Isi ancaman itu tegas: Jika penghinaan kepada Rasulullah saw. tetap dilakukan, opsi militer (jihad) sangat terbuka! Prancis pun takut. Akhirnya, Prancis membatalkan rencana pementasan drama tersebut. (Stanford J. Shaw, History of the Ottoman Empire and Modern Turkey, 1/287).

Bahkan hanya pada era Khilafah pula, penguasa Muslim pernah dengan gagah menghadapi Amerika. Pada abad ke-18, Amerika pernah terpaksa membayar upeti (jizyah) kepada Khilafah Utsmaniyah agar kapal-kapal mereka bisa melintas dengan aman di Afrika Utara (Aljazair, Tripoli, Tunis). Amerika mengakui hal ini secara resmi dalam perjanjian internasional. (Treaty of Tripoli [1796], Pasal 10) (Frank Lambert, The Barbary Wars, hlm. 45–52).

اَللهُ أَكْبَرُ، اَللهُ أَكْبَرُ، اَللهُ أَكْبَرُ، وَلِلَّهِ الْحَمْدُ

Jama’ah Idul Fitri rahimakumulLaah,

Semua kecemerlangan Khilafah ini jelas bukan dongeng yang meninabobokan. Ini adalah fakta sejarah yang tak terbantahkan. Fakta-fakta ini membuktikan satu keniscayaan: Khilafah bukan sekadar simbol. Ia adalah institusi pemerintahan Islam global. Sepanjang sejarahnya, Khilafah mampu memelihara kemuliaan Islam serta melindungi kehormatan dan darah kaum Muslim.

Akan tetapi, sejarah kejayaan kaum Muslim yang membanggakan itu tidak akan kembali hanya dengan nostalgia. Ia hanya akan kembali ketika umat Islam kembali pada ajaran Islam secara sempurna. Ia hanya akan datang lagi saat al-Quran dijadikan pedoman hidup di segala arena. Saat Sunnah Nabi dijadikan petunjuk jalan kehidupan dunia. Juga saat umat Islam kembali bersatu dalam persaudaraan yang nyata. Di bawah kepemimpinan Islam sedunia. Khilafah namanya. Bukan persatuan dan persaudaraan yang hanya sebatas retorika. Di bawah naungan nation-state atau negara-bangsa.

اَللهُ أَكْبَرُ، اَللهُ أَكْبَرُ، اَللهُ أَكْبَرُ، وَلِلَّهِ الْحَمْدُ

Jama’ah Idul Fitri rahimakumulLaah,

Mengapa kaum Muslim dulu begitu kuat dan disegani? Karena dulu mereka berada dalam naungan satu kepemimpinan duniawi. Yang menyatukan umat Islam dari berbagai negeri. Sesungguhnya inilah yang Allah SWT kehendaki. Sebagaimana yang telah dinyatakan dalam Kitab Suci:

وَاعْتَصِمُوْا بِحَبْلِ اللَّهِ جَمِيْعًا وَلَا تَفَرَّقُوْا

"Berpeganglah kalian semua pada tali (agama) Allah dan jangan bercerai-berai” (QS. Âli ’Imrân [3]: 103).

Agar persatuan kaum Muslim sedunia saat ini tak hanya sebatas retorika, mereka tentu memerlukan kembali satu kepemimpinan Islam level dunia. Itulah Khilafah yang senantiasa dirindukan kembali kehadirannya. Tanpa kehadiran kembali Khilafah, umat Islam hanyalah kumpulan manusia yang lemah dan tak berdaya. Apalagi jika harus berhadapan dengan kekuatan adidaya Amerika. Tanpa kepemimpinan Islam level dunia, potensi kekuatan besar umat Islam yang luar biasa tak akan pernah bisa berubah menjadi kekuatan adidaya.

Sejarah Islam menunjukkan bahwa persatuan dan persaudaraan hakiki umat Islam hanya ada di bawah naungan Khilafah. Di bawah satu kepemimpinan Khilafah, umat bisa menghimpun seluruh sumberdaya ekonomi yang melimpah, kekuatan militer yang tangguh, dan pengaruh politik yang tak bisa dipandang remeh. Saat tegak kembali Khilafah, umat Islam bisa kembali menegakkan kepala dengan gagah. Dunia pun bakal kembali tunduk secara sukarela dan pasrah. Musuh-musuh Islam juga tak berani membuat ulah. Inilah yang telah diisyaratkan oleh Rasulullah SAW:

إِنَّمَا الْإِمَامُ جُنَّةٌ يُقَاتَلُ مِنْ وَرَائِهِ وَيُتَّقَى بِهِ

”Sesungguhnya Imam (Khalifah) adalah perisai (pelindung). Orang-orang berperang di belakang dia dan berlindung kepada dirinya” (HR. Muslim).

Maknanya, kata Imam an-Nawawi rahimahulLaah:

أَيْ: كَالسِّتْرِ؛ لِأَنَّهُ يَمْنَعُ الْعَدُوَّ مِنْ أَذَى الْمُسْلِمِيْنَ...وَيَحْمِي بَيْضَةَ الْإِسْلَامِ

”(Imam/Khalifah itu) seperti pelindung. Sebabnya, ia menghalangi musuh untuk menyakiti kaum Muslim...serta melindungi kemuliaan Islam” (An-Nawawi, Syarh an-Nawawi ‘alaa Muslim, 6/315).

Hadits ini menggambarkan betapa pentingnya kepemimpinan Islam. Betapa urgennya Khalifah sebagai perisai dan tameng yang menjaga kaum Muslim, sekaligus sebagai permersatu seluruh kekuatan umat Islam.

اَللهُ أَكْبَرُ، اَللهُ أَكْبَرُ، اَللهُ أَكْبَرُ، وَلِلَّهِ الْحَمْدُ

Jama’ah Idul Fitri rahimakumulLaah,

Selain kebutuhan kita, Khilafah adalah tuntutan dan kewajiban umat Islam sedunia. Rasulullah SAW telah sangat jelas bersabda:

مَنْ مَاتَ وَلَيْسَ فِي عُنُقِهِ بَيْعَةٌ مَاتَ مِيْتَةً جَاهِلِيَّةً (رواه مسلم)

”Siapa saja yang mati, sedangkan di lehernya tidak ada baiat (kepada seorang khalifah), maka ia mati seperti mati jahiliah” (HR. Muslim).

Hadits ini menunjukkan bahwa membaiat seorang khalifah atau mewujudkan Khilafah bukanlah sekadar pilihan. Ia adalah kewajiban syar‘i yang sangat besar bagi umat Islam. Inilah yang ditegaskan oleh para ulama sepanjang sejarah Islam. Hal ini karena, sebagaimana yang dinyatakan oleh Imam al-Mawardi rahimahulLaah dalam Al-Ahkaam as-Sulthaaniyah:

الْإِمَامة مَوْضُوْعَةٌ لِخِلَافَةِ النُّبُوَّةِ فِيْ حِرَاسَةِ الدِّيْنِ وَسِيَاسَةِ الدُّنْيَا

Imamah (Khilafah) ditetapkan sebagai pengganti fungsi Kenabian dalam menjaga agama dan mengatur urusan dunia (Al-Mawardi, Al-Ahkaam as-Sulthaaniyyah, hlm. 3).

Imam an-Nawawi rahimahulLaah juga tegas menyatakan:

أَجْمَعَ الْعُلَمَاءُ عَلَى أَنَّهُ يَجِبُ عَلَى الْمُسْلِمِيْنَ نَصْبُ خَلِيْفَةٍ

”Para ulama telah berijmak bahwa wajib atas kaum Muslim mengangkat seorang khalifah” (An-Nawawi, Syarh Shahiih Muslim, 12/201).

Bahkan menurut Imam al-Haitami rahimahulLaah:

أَنَّ الصَّحَابَةَ رِضْوَانُ اللهُ تَعَالَى عَلَيْهِمْ أَجْمَعِيْنَ أَجْمَعُوْا عَلَى أَنَّ نَصْبَ اْلإِمَامِ بَعْدَ اِنْقِرَاضِ زَمَنِ النُّبُوَّةِ وَاجِبٌ، بَلْ جَعَلُوْهُ أَهَّمَ الْوَاجِبَاتِ حَيْثُ اِشْتَغَلُّوْا بِهِ عَنْ دَفْنِ رَسُوْلِ اللهِ

”Sungguh para Sahabat—semoga Allah SWT meridhai mereka—seluruhnya telah berijmak bahwa mengangkat imam (khalifah) setelah masa kenabian berakhir adalah kewajiban. Bahkan mereka menjadikan kewajiban ini sebagai kewajiban paling urgen. Buktinya, mereka mendahulukan memilih dan mengangkat khalifah seraya menunda sementara pemakaman Rasulullah SAW” (Al-Haitami, ash-Shawaa’iq al-Muhriqah, 1/25).

Di antara fungsi Khilafah yang paling menonjol—yang tidak mungkin diperankan oleh para penguasa sekuler dalam sistem demokrasi saat ini—adalah sebagaimana ditegaskan oleh Dr. Mahmud al-Khalidi saat mendefiniskan Khilafah:

اَلْخِلاَفَةُ هِيَ رِئَاسَةٌ عَامَّةٌ لِلْمُسْلِمِيْنَ جَمِيْعًا فِي الْعَالَمِ لِإِقَامَةِ أَحْكَامِ الشَّرْعِ وَحَمْلِ الدَّعْوَةِ اْلإِسْلاَمِيَّةِ إِلَى الْعَالَمِ

”Khilafah adalah kepemimpinan umum bagi kaum Muslim sedunia untuk menegakkan hukum-hukum syariah dan mengemban dakwah ke seluruh penjuru dunia” (Al-Khalidi, Al-Qawaa’id li Nizhaam al-Hukmi fii al-Islaam, hlm. 226).

اَللهُ أَكْبَرُ، اَللهُ أَكْبَرُ، اَللهُ أَكْبَرُ، وَلِلَّهِ الْحَمْدُ

Jama’ah Idul Fitri rahimakumulLaah,

Alhasil, marilah kita menjadikan Idul Fitri ini sebagai momentum untuk memperbaiki diri, menjadikan kita lebih peduli, serta mempererat persatuan dan persaudaraan Islam yang hakiki. Marilah kita berjuang agar kehidupan umat kembali diatur oleh syariah Allah di semua lini. Di bawah naungan sistem pemerintahan Islam sejati. Itulah Khilafah Islam yang berjalan di atas manhaj Nabi SAW, yang kehadirannya benar-benar dinanti dan dirindui.

بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ بِالْقَرْآنِ الْعَظِيْمِ وَنَفَعَنِيْ وَإِيَاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ اْلآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ وَتَقَبَّلَ اللهُ مِنِّيْ وَمِنْكُمْ تِلاَوَتَهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ.

 

KHUTBAH KEDUA

 

اَللهُ أَكْبَرُ، اَللهُ أَكْبَرُ، اَللهُ أَكْبَرُ.

اَللهُ أَكْبَرُ، اَللهُ أَكْبَرُ، اَللهُ أَكْبَرُ، اَللهُ أَكْبَرُ

اللهُ أَكْبَرْ كَبِيْرًا، وَالْحَمْدُ ِللهِ كَثِيْرًا، وَسُبْحَانَ اللهِ بُكْرَةً وَأَصِيْلاً، لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَاللَّهُ أَكْبَرُ، اللَّهُ أَكْبَرُ وَلِلَّهِ الْحَمْدُ.

اَلْحَمْدُ للهِ الَّذِيْ كَرَّمَ هَذِهِ الأُمَّةَ بِشَرِيْعَتِهِ الْكَامِلَةِ، وَخَصَّ بِهَا بِنُبُوَّةِ نَبِيِّهِ الْكَرِيْمَةِ، و اَعَزّهَا بِالْخِلَافَةِ الرَّاشِدَةِ عَلَى مِنْهَاجِ النُّبُوَّةِ.

أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللَّهُ الَّذِيْ أَعَزَّ الْإِسْلَامَ بِنُصْرَتِهِ، وَرَفَعَ الْحَقَّ بِشَرِيْعَتِهِ، وَكَشَفَ زَيْفَ الْبَاطِلِ بِنُوْرِ هِدَايَتِهِ. وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الْمُصْطَفَى؛ حَامِلَ الرِّسَالَةِ وَلِوَاءِ الْهُدَى، وَقَائِدَ مَسِيْرَةِ الْأُمَّةِ فِي الدِّيْنِ وَالْحَيَاةِ الدُّنْيَا.

صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ، مَا دَامَتِ السَّمَاوَاتُ وَالْأَرْضُ وَمَا بيْنهمَا.

 

اَللهُ أَكْبَرُ، اَللهُ أَكْبَرُ، اَللهُ أَكْبَرُ، وَلِلَّهِ الْحَمْدُ

Jama’ah Idul Fitri rahimakumulLaah,

Idul Fitri adalah hari kemenangan. Namun, kemenangan sejati bukan hanya karena kita telah menyelesaikan puasa Ramadhan. Kemenangan sejati adalah saat kita semua kembali pada ajaran Islam. Saat al-Quran bukan hanya dijadikan bacaan, tetapi juga amalkan dan diterapkan dalam seluruh aspek kehidupan. Saat Sunnah Rasulullah SAW bukan hanya dijadikan bahan kajian, tetapi juga dijadikan pedoman kehidupan. Juga saat persatuan dan persaudaraan Islam bukan hanya sekadar slogan, tetapi benar-benar mewujud dalam kenyataan.

Untuk itu, pada khutbah yang terakhir ini, marilah kita sama-sama berdoa dan memohon dengan penuh pengharapan; kepada Allah Tuhan semesta alam. Semoga Allah SWT menjadikan Idul Fitri kali ini sebagai momentum kebangkitan umat Islam di akhir zaman. Aamiin yaa Rabbal ‘aalamiin.

 

اللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ.

اللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ، الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ. اللَّهُمَّ سَلِّمْنَا وَالْمُسْلِمِيْنَ، وَعَافِنَا وَالْمُسْلِمِيْنَ، وَانْصُرْنَا وَالْمُسْلِمِيْنَ، وَقِنَا وَإِيَّاهُمْ شَرَّ مَصَائِبِ الدُّنْيَا وَالدِّيْنِ. اَللَّهُمَّ أَعِزَّ الْإِسْلَامَ وَالْمُسْلِمِيْنَ، وَأَذِلَّ الشِّرْكَ وَالْمُشْرِكِيْنَ، وَانْصُرْ إِخْوَانَنَا الْمُسْتَضْعَفِيْنَ فِي فِلَسْطِيْنَ، وَفِي السُّوْدَانِ، وَفِيْ سَائِرِ بِلاَدِ الْمُسْلِمِيْنَ، وَفِيْ كُلِّ أَرْضٍ يُظْلَمُ فِيْهَا الْمُسْلِمُوْنَ.

اللّٰهُمَّ وَحِّدْ صُفُوْفَ الْمُسْلِمِيْنَ، وَاجْمَعْ كَلِمَتَهُمْ، وارْفَعِ الظُّلْمَ عَنْهُمْ، وَاحْفَظْ دِمَاءَهُمْ، وَانْصُرْهُمْ عَلَى مَنْ عَادَاهُمْ.

اَللَّهُمَّ أَقِمْ لَنَا خِلَافَةً رَاشِدَةً عَلَى مِنْهَاجِ النُّبُوَّةِ، اَلَّتِيْ تُطَبِّقُ شَرِيْعَتَكَ كَافَّةً، وَتَجْمَعُ بِهَا شَمْلَ الْمُسْلِمِيْنَ، وَتَحْمِيْ بِهَا دِمَاءَهُمْ وَأَعْرَاضَهُمْ، وَتَحْمِلُ رِسَالَةَ الْإِسْلَامِ بِالدَّعْوَةِ وَالْجِهَادِ إِلَى الْعَالَمِيْنَ.

رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا، وَلِوَالِدِيْنَا، وَارْحَمْهُمْ كَمَا رَبَّوْنَا صِغَارًا. رَبَّنَا لَا تُزِغْ قُلُوْبَنَا بَعْدَ إِذْ هَدَيْتَنَا، وَهَبْ لَنَا مِنْ لَدُنْكَ رَحْمَةً، إِنَّكَ أَنْتَ الْوَهَّابُ. رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا ذُنُوبَنَا، وَكَفِّرْ عَنَّا سَيِّئَاتِنَا، وَتَوَفَّنَا مَعَ الْأَبْرَارِ، يَا عَزِيْزُ، يَا غَفَّارُ، يَا رَبَّ الْعَالَمِيْنَ. 

رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً، وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً، وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ. آمِيْنَ يَا رَبَّ الْعَالَمِيْنَ.

-----

عِبَادَ اللهِ، إِنَّ اللّٰهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ، وَإِيْتَاءِ ذِي الْقُرْبَى، وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ، فَاذْكُرُوا اللّٰهَ يَذْكُرْكُمْ، وَاشْكُرُوْهُ عَلَى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ.

اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ، وَلِلّٰهِ الْحَمْدُ.

وَالسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ

Bahasa Daerah

Naskah Khutbah untuk bahasa lain di Indonesia

UPDATE INFORMASI TERBARU